Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Ulasan Pendek tentang Tiga Puluh Tujuh Laku Bodhisattwa

(rGyal-sras lag-len so-bdun-ma)
oleh Togmey-zangpo (Thogs-med bzang-po)

Yang Mulia Dalai Lama Keempat Belas
diterjemahkan dan dipadatkan oleh Alexander Berzin, 1983
edisi kedua yang sudah direvisi, Maret 2006

Edisi Pertama diterbitkan dalam
Yang Mulia Dalai Lama Keempat Belas. Empat Ulasan Intisari Buddha.
Dharamsala, India: Perpustakaan Karya & Arsip Tibet, 1983.

Hari Pertama: Pendahuluan

Dorongan

Di sini, hari ini, banyak orang dari berbagai tempat, bahkan Tibet, dan Anda semua datang untuk tujuan Dharma yaitu mendengarkan ajaran-ajaran. Oleh karena itu, sehubungan dengan pengembangan tekad bodhicita dan seterusnya, di sini di Bodh Gaya saya akan mengajarkan Tiga Puluh Tujuh Laku Bodhisattwa oleh Togmey-zangpo dan Tiga Jalan Asas oleh Jey Tsongkhapa. Karena kita berada di tempat yang sangat suci, kekuatan positif atau pahala yang dibangun di sini jauh lebih kuat daripada di tempat lain. Tetapi agar kekuatan positif ini manjur, kita perlu memiliki dorongan dan sikap yang sangat luas dan besar. Hal ini penting bukan hanya bagi para pendengar ajaran-ajaran, tapi juga bagi lama atau guru.

Buddha yang tercerahkan sempurna, Sang Welas Asih, memiliki raga dengan tiga puluh dua sifat utama dan delapan puluh sifat tambahan dan kecakapan wicara dengan enam puluh ciri yang mencerahkan. Lebih lanjut, citanya bebas dari segala sikap dan perasaan yang gelisah dan dari segala pengaburan, salah satunya ia selalu memiliki pengetahuan lugas nirsekat tentang sunyata dan, sekaligus, tentang semua gejala persis sebagaimana mereka berada. Buddha welas asih yang tercerahkan sempurna tersebut menunjukkan pencerahannya di sini di Bodh Gaya 2.500 tahun silam, dan kita berada di tempat istimewa ini sekarang.

Masa-masa sekarang sangat sulit dengan banyaknya perang, kelaparan, bencana, dan seterusnya. Meskipun begitu, berkat kekuatan positif yang telah kita bangun di masa kehidupan terdahulu, kita lahir di zaman dan tempat ini dan, bahkan berada dalam keadaan-keadaan susah, kita memiliki kesempatan-kesempatan berharga untuk bertemu dengan ajaran-ajaran dan para guru. Oleh karena itu, sebanyak yang kita bisa, kita perlu mencoba untuk mengamalkan apa yang kita dengar.

Namun, kita tidak boleh menganggap Dharma semata-mata doa untuk mendapatkan sesuatu. Sebaliknya, Dharma adalah sesuatu yang kita butuhkan secara pribadi untuk ditanamkan pada perbuatan. Tidak hanya berhaluan aman (perlindungan) dengan mulut kita mendaras kata-kata, tapi lebih pada menerapkan apa yang kita ucapkan ke dalam perilaku kita sehari-hari. Jadi, kita perlu menekuni ajaran-ajaran itu dan melibatkan diri kita dengan perpaduan antara kajian dan laku. Tapi pertama-tama Anda perlu mengetahui bagaimana cara melakukan ini.

Dharma adalah sesuatu yang semakin kita memasukinya, semakin bahagia kita jadinya. Ini terjadi sebagai buah dari rangkaian kekuatan positif kita (kumpulan pahala) dari berbagai tindakan membangun yang kita jalankan. Inilah alasan mengapa kita perlu menjadi pengikut Buddha tidak hanya dengan mulut kita, melainkan dengan laku kita. Ini akan menciptakan lebih banyak kebahagiaan. Maka, selagi di sini di Bodh Gaya tempat kita memiliki kesempatan berjumpa dengan Dharma, dan terutama dengan Dharma Mahayana, penting untuk coba membangun kekuatan positif sebanyak mungkin. Yang terpenting untuk ini adalah menetapkan dorongan yang tepat. Jika kita memiliki dorongan yang luas dan sangat positif, ada manfaat besar yang diperoleh. Tetapi jika kita berlatih tanpa dorongan semacam itu, ini tidak akan manjur dan tidak akan pernah cukup.

Lama pun perlu memiliki hal yang sama. Lama tidak boleh mengajar karena kebanggaan atau supaya memperoleh ketenaran dan penghormatan, atau karena iri, atau keinginan untuk bersaing dengan orang lain. Sebaliknya, dorongan tunggalnya harus memberikan manfaat kepada orang lain sebanyak yang ia bisa, menghormati semua orang di sini, semua makhluk, tanpa merendahkan siapapun. Khalayak juga tidak boleh sombong, tapi harus mendengarkan dengan saksama dan sopan untuk menerima ajaran-ajaran berharga Buddha. Jika lama dan murid-muridnya berperilaku secara pantas dan berhati-hati seperti ini, ini sangat bermanfaat dan kita semua dapat membangun banyak kekuatan positif.

Tidak peduli sikap dan perasaan gelisah apa yang kita miliki, kita perlu menerapkan obat bagi mereka dan tidak putus asa. Dengan demikian, maka perlahan-lahan kita akan dapat menyelesaikan masalah-masalah kita dan, akhirnya, bebas dari mereka selamanya. Kita akan mendapati bahwa kita berangsur-angsur meningkat setiap tahun. Karena cita pada dasarnya tidak kotor oleh sikap dan perasaan yang gelisah itu, kita bisa berhasil jika kita menetapkan cita kita untuk membersihkan dirinya sendiri. Karena duka yang kita alami disebabkan oleh ketidaktertiban atau ketidakjinakan cita kita, ini yang perlu kita obati. Tetapi ini semua tidak akan terjadi secara serentak.

Sebagai contoh, jika kita mencoba membuat orang yang sangat liar dan tidak patuh menjadi lebih tenang dan sopan, kita hanya bisa berhasil secara perlahan dan bertahap selama bertahun-tahun. Hal yang sama berlaku pada cita kita. Meskipun kita memiliki kesalahan, kita dapat meningkat secara perlahan. Kita bisa melihat gejala yang sama pada anak-anak. Awalnya, mereka tidak tahu apa-apa; mereka sama sekali tidak terdidik. Tetapi mereka melalui berbagai kelas di sekolah, tingkat pertama, kedua, dan seterusnya, dan nantinya melalui kemajuan yang bertahap ini mereka belajar dan menjadi terdidik. Sama halnya ketika kita membangun sebuah rumah, kita melakukannya tingkat demi tingkat, lantai demi lantai. Kita melakukannya secara bertahap tanpa khawatir berapa lama waktu yang diperlukan, dan maju terus melalui berbagai tingkat yang ada sampai kita menyelesaikan tugas itu. Kita perlu menerapkan sikap yang sama ketika berurusan dengan cita kita.

Untuk menetapkan dorongan, kita perlu mencoba melakukan ini sebaik mungkin, menurut tingkatan kita sendiri, dan perlahan-lahan kita akan dapat meningkatkannya melalui tahap-tahap seperti dijelaskan dalam lam-rim atau “Jalan Bertahap.” Sebagian besar dari anda tahu hal ini, tapi bagi orang-orang baru di sini saya akan menjelaskan sedikit mengenai beberapa pokok utamanya.

Menjinakkan Cita

Menjalankan laku Dharma bukanlah proses semata-mata mengganti pakaian, status, atau jumlah kekayaan yang kita miliki. Sebaliknya, ini berarti mengubah sikap kita dan menjinakkan cita kita. Tidak peduli siapa kita – bahkan saya sendiri, Dalai Lama – saya tidak bisa dianggap sebagai orang ber-Dharma kecuali cita saya telah jinak. Dan kita tidak dapat mengatakan seseorang memiliki cita seperti itu hanya karena nama yang ia miliki atau pakaian yang ia sandang; melainkan hanya karena keadaan batin dan perasaannya. Oleh karena itu, pokok yang paling penting dan utama adalah menjinakkan cita kita.

Anda semua di sini perlu memeriksa diri Anda masing-masing. Kita semua menginginkan kebahagiaan dan tidak ada yang ingin menderita. Tak seorangpun dari kita yang, jika mengalami sakit kepala, tidak ingin sembuh dari itu. Bukankah begitu? Ini berlaku baik pada sakit ragawi dan batin. Tetapi banyak tahap yang terlibat dalam menyingkirkan duka yang tidak diinginkan dan memperoleh kebahagiaan yang didambakan. Ini bukanlah sesuatu yang terjadi dalam satu waktu sekaligus. Bahkan dalam berusaha membantu atau menjinakkan binatang dan memberinya suatu kebahagiaan, kita harus melakukannya dalam tahap-tahap yang pas bagi makhluk buas itu. Misalnya, pertama-tama kita mencoba memberinya makan, kita menahan diri agar tidak menakutinya, menganiayanya dan seterusnya. Demikian pula hal yang sama berlaku pada kita, kita harus menolong diri kita sendiri secara bertahap.

Pertama-tama, kita berusaha berpikir dalam kerangka bermanfaat bagi diri kita sendiri untuk tahun ini, atau untuk tahun berikutnya. Kemudian nantinya kita meningkatkan lingkup kita berpikir dalam kerangka dua puluh tahun ke depan dan kemudian mungkin mencoba memperoleh kelahiran kembali manusia untuk masa kehidupan selanjutnya, berharap memperoleh kebahagiaan dan tidak memiliki duka dengan patokan lebih jangka panjang. Kita maju melalui tahap-tahap seperti itu. Oleh karena itu, karena kita sekarang adalah manusia, sangat penting untuk berpikir ke depan dan tidak melakukannya pada tingkat dangkal dan sementar, tapi berusaha mencapai kebahagiaan hakiki.

Dalam pencarian kebahagiaan yang lebih biasa, kita mencari pangan, sandang, papan dan seterusnya untuk tubuh kita. Tapi alasan menjadi manusia tidak hanya itu. Bahkan jika kita kaya, kita mendapati bahwa orang-orang kaya tetap bisa memiliki duka batin yang teramat banyak. Kita dapat melihat ini dengan sangat jelas di Barat. Banyak orang punya banyak uang dan kenikmatan ragawi, namun mereka juga memiliki banyak sekali masalah batin seperti depresi, cita yang gelap dan berbagai tataran menyedihkan. Bahkan, kita mendapati banyak orang di sana menggunakan obat-obatan untuk memperbaiki tataran ini. Ini menunjukkan bahwa meskipun mereka memiliki kenikmatan duniawi dan kekayaan, mereka menginginkan kebahagiaan batin sebagai hal utama selain kesenangan ragawi mereka, dan kekayaan saja tidak mendatangkan keduanya. Meskipun kita sangat sehat dan kuat, jika cita kita tidak bahagia ini tidak akan cukup. Oleh karena itu, kita butuh kebahagiaan ragawi dan batin. Mengenai hal ini, cita lebih penting, karena ini mengendalikan kita. Oleh karena itu, penekanannya adalah pada menciptakan kebahagiaan cita.

Menciptakan Kebahagiaan Batin

Tetapi apa yang menciptakan kebahagiaan cita ini? Ia datang melalui alur pikiran kita. Jika kita tidak menggunakan cita kita dan berpikir, kita tidak akan bisa menghasilkan kebahagiaan bagi diri kita. Ini bekerja dengan kedua cara itu. Misalnya, apapun perasaan gelisah kita yang paling kuat, baik itu kemarahan, hasrat, kebanggaan, kecemburuan atau apapun, semakin kita memikirkannya, semakin kita bertindak atas perasaan itu, dan semakin banyak duka kita. Jika kemarahan, misalnya, adalah perasaan gelisah kita yang terkuat, maka semakin kita marah, semakin kita tidak bahagia.

Jika kita sengit dan marah pada Tibet, misalnya, apakah kita bahagia atau tidak? Kita tidak bahagia, ini sangat jelas. Oleh karena itu, sebagai lawannya, jika kita perlu berpikir tentang kasih dan welas asih. Ini melawan kemarahan kita dan membawa ketenangan cita. Jadi, hati yang baik dan pikiran yang baik budi membawa kebahagiaan bagi kita. Karena kita semua menginginkan kebahagiaan ini dan ingin menyingkirkan duka kita, kita perlu mencoba memahami bahwa akar dari ini adalah cita.

Singkatnya, semakin kuat kemelekatan dan kebencian kita, akan semakin kuat duka kita. Semakin lemah perasaan-perasaan itu, semakin bahagia kita. Jadi, kita perlu berpikir tentang apa yang kita perlu singkirkan, apa yang kita perlu singkirkan dari cita kita. Jika kita cemburu atau iri, misalnya, apa yang terjadi? Kita semua akan mati pada akhirnya, jadi kita takkan pernah bisa mempertahankan maksud dari rasa iri kita. Seperti halnya kita takkan pernah bisa memuaskan sepenuhnya hasrat kecemburuan kita, kita takkan pernah bahagia selama kita cemburu atau iri. Hal yang sama berlaku dengan kebanggaan. Tak seorangpun menetap dalam keadaan yang sama selamanya: kita tidak bisa selalu muda dan tampak muda. Apapun yang kita banggakan, nantinya kita akan kehilangan. Jadi, kebanggaan juga merupakan keadaan cita yang sangat tidak bahagia. Jika kita berada di sebuah restoran, misalnya, dan kita iri dengan makanan enak yang dimakan oleh orang lain, apa akibatnya pada diri kita? Itu hanya membawa ketidakbahagiaan pada kita; itu jelas tidak mengisi perut kita!

Jika kita berpikir tentang diri kami sendiri, kaum Tibet, jika kita merasa marah dan iri pada kaum Cina, apakah kita bahagia? Apakah itu tataran cita yang bahagia? Pasti tidak. Pikirkan seseorang yang kegiatan utama hidupnya adalah mengumbar kemelekatan dan kebencian. Orang semacam itu mungkin menjadi sangat berkuasa, sangat terkenal; ia bahkan bisa tercatat dalam sejarah. Tapi apa yang diperoleh orang macam itu? Ia semata-mata memperoleh namanya tercatat dalam sejarah. Ia tidak menjadi bahagia; ia mati. Jadi jika kita menghabiskan seumur hidup kita mengumbar perasaan-perasaan gelisah kita, tak peduli seberapa kaya dan berkuasa kita jadinya, ini tidak akan membawa kebahagiaan bagi kita.

Jika kita berpikir tentang keadaan kita saat ini di Bodh Gaya, misalnya, kita dapat memahami hal ini secara lebih jelas. Bahkan dengan keberadaan Dalai Lama di sini, jika Anda berada di tempat suci seperti ini dan marah pada seorang pengemis atau marah pada keadaan-keadaan ragawi yang sulit, apakah Anda bahagia? Di sisi lain, ketika perasaan-perasaan gelisah Anda lemah dan Anda melakukan perbuatan positif, apakah Anda bahagia? Renungkan itu.

Tataran cita Anda bahkan memengaruhi tetangga, teman, dan anak-anak Anda. Pertimbangkan tentang keadaan keluarga, misalnya. Jika Anda sangat marah dan bertikai dengan anak-anak Anda; Anda memukul mereka, mereka menangis – ini membuat semua orang tidak bahagia, bukan? Tapi jika Anda tidak marah, jika Anda tenang, maka Anda membiarkan anak-anak bermain dan semua orang bahagia dan damai. Demikian juga dalam sebuah negara, kita medapati bahwa jika kelonggaran dan tenggang rasa dijalankan secara luas, maka semua orang akan bersama-sama mendiami kebahagiaan di tempat itu. Ini berlaku bagi perorangan, keluarga, dan negara. Semakin banyak perasaan gelisah yang ada, semakin banyak ketidakbahagiaan ada di sana; sedangkan, semakin sedikit perasaan gelisah, semakin banyak kebahagiaan.

Bagi saya sendiri, saya berpikir tentang kekurangan-kekurangan dari sikap dan perasaan yang gelisah, semua hal buruk yang mereka timbulkan pada saya, dan juga manfaat-manfaat dari tidak memilikinya. Ini sangat banyak membantu saya dalam menempatkan penekanan dalam hidup saya untuk memiliki lebih sedikit perasaan yang gelisah. Sehingga, sebagai imbalannya, kita mendapati bahwa kita bisa lebih menikmati hidup; makanan kita terasa lebih lezat dan segala sesuatu berjalan dengan baik. Akan tetapi jika cita kita penuh dengan perasaan-perasaan yang gelisah, maka, sekalipun kita melakukan meditasi, pendarasan atau apapun, kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan apapun dari mereka. Oleh karena itu, kita perlu selalu berusaha memikirkan betapa tidak menguntungkan perasaan-perasaan yang gelisah itu.

Singkatnya, jika cita kita jinak dan kita tidak memiliki sikap dan perasaan yang gelisah, maka kita menjadi sangat bahagia. Oleh karena itu, hal terbaik yang dapat terjadi sebagai hasil dari menjinakkan cita kita adalah sikap dan perasaan yang gelisah itu tidak akan muncul sama sekali. Namun jika mereka muncul, hal terbaik berikutnya yang kita dapati adalah kita tidak lagi mengumbar mereka. Sebagai contoh, paling baik jika kita tidak pernah marah; tapi apabila amarah kita bergejolak, kita tahu bahwa jika kita telah menjinakkan cita kita, kita tidak akan mengumbarnya. Kita tidak akan meninju wajah seseorang, misalnya, atau meneriakinya dengan kata-kata buruk, atau menunjukkan tanggapan kasar.

Sehingga perlahan-lahan, secara bertahap, kita mendapati bahwa perlawanan kita menjadi semakin kuat, cita kita menjadi semakin jinak dan dengan cara ini kita menjadi lebih bahagia. Oleh karena itu, sebagai pemula kita harus mencoba untuk tidak memunculkan perasaan-perasaan yang gelisah berupa kemarahan, kemelekatan dan sebagainya. Tapi seandainya mereka muncul, kita harus mencoba untuk tidak mengumbarnya. Anda mengerti? Jika kita menjinakkan cita kita, ini adalah laku Dharma, tapi jika tidak, maka itu bukanlah Dharma. Jika kita menyingkirkan seluruh perasaan yang gelisah itu, jika kita mencapai tataran penghentian sejati (gencatan) atau perdamaian, inilah Dharma yang sebenarnya.

Empat Kebenaran Mulia

Ada empat Kebenaran Mulia: duka sejati, sebab sejati duka, penghentian sejati, dan cita jalan-rintis sejati. Untuk duka sejati, kita dapat berpikir tentang berbagai jenis ketidakbahagiaan: kematian, penyakit, usia tua, dan seterusnya. Sang Buddha berkata sangatlah penting untuk menyadari duka. Apa akar dari duka ini? Akar adalah cita yang liar, dan lebih khusus lagi, itu adalah sikap dan perasaan yang gelisah. Oleh karena itu, sikap dan perasaan yang gelisah dikatakan sebagai sebab sejati atau asal-usul sejati duka, juga sebagai daya gerak karma yang muncul karena pengaruh perasaan-perasaan yang gelisah ini. Sehingga, perasaan-perasaan yang gelisah dan karma adalah sebab-sebab sejati duka. Maka, karena kita semua tidak menginginkan duka apapun dan hanya ingin menyingkirkannya, kita perlu memahami bahwa sebab duka ini adalah cita kita yang liar.

Karena kita ingin menghasilkan penghentian sejati duka itu sehingga ia tidak akan muncul lagi, yang kita perlu lakukan adalah membuat sikap dan perasaan gelisah kita berakhir di dalam dharmadhatu atau ruang sunyata. Ini dikenal sebagai nirwana penghentian sejati.

Karena ada banyak tahap dalam proses membersihkan diri kita dari sikap dan perasaan yang gelisah, atau membuat mereka berhenti selamanya, proses ini memerlukan apa yang dikenal sebagai cita-cita jalan-rintis sejati Arya atau Makhluk Mulia. Lebih tepatnya, karena selama proses menyingkirkan berbagai sikap dan perasaan yang gelisah, kita juga berupaya untuk mencapai mutu-mutu yang lebih baik, cita-cita yang menyingkirkan perasaan-perasaan gelisah dan kesalahan di satu sisi dan mencapai mutu yang baik di sisi lain dikenal sebagai cita-cita jalan-rintis sejati.

Singkatnya, ada duka sejati; ia memiliki sebab sejati; kita menginginkan penghentian sejati bagi mereka; dan untuk menghasilkannya, kita perlu mewujudkan cita-cita jalan-rintis sejati. Maka hasil dari ini adalah pencapaian penghentian, pendamaian, atau tataran nirwana, "tataran luar nestapa," dan ini memberi kita kebahagiaan abadi. Inilah yang ditunjukkan oleh Sang Buddha di sini di Bodh Gaya melalui teladannya, dan setelah itu ia mengajarkan Empat Kebenaran Mulia. Dua kebenaran yang pertama, duka sejati dan sebab-sebab sejatinya, berada pada sisi yang menyesatkan atau kotor, dan dua kebenaran kedua, penghentian sejati dan cita-cita jalan-rintis sejati, berada pada sisi yang membebaskan atau murni.

Maka kita dapat melihat bahwa dorongan untuk laku Dharma tidaklah seperti, misalnya, ketika seorang anak mendengarkan orang tuanya dan melakukan apa yang dikatakan semata-mata karena orang tuanya menyuruh untuk melakukan itu. Memasuki Dharma tidak sekadar akan mematuhi kata-kata orang tua kita seperti anak yang taat. Namun, kita memasuki laku Dharma karena kita ingin menyingkirkan duka kita dan atas alasan itu kita mengikuti petunjuk-petunjuk yang dikatakan guru untuk menjinakkan cita kita. Anda mengerti?

Tiga Permata Unggul

Banyak unsur yang terlibat dalam menyingkirkan duka. Sebagai contoh, ada duka-duka berupa laparan, dingin dan sebagainya dan, untuk menyingkirkan itu, kita mengandalkan berbagai jenis cara atau kerja. Dengan demikian, melalui kerja petani, pedagang, dan sebagainya, kita bisa menyingkirkan lapar dan dingin. Untuk duka berupa penyakit, kita mengandalkan dokter dan obat. Tapi ini hanya pertolongan sementara, bukan penyembuhan hakiki. Jika kita sakit, kita bisa mengambil obat untuk membuat kita kuat, tapi ini tidak akan menghilangkan usia tua dan kematian kita. Singkatnya, kita tidak dapat memperoleh penyingkiran hakiki bagi duka-duka berupa kelahiran, usia tua dan kematian, dengan cara-cara biasa, sekalipun beberapa cara bisa memberikan kelegaan sementara.

Banyak agama, seperti sebagian sekte Hindu, agama Kristen, Yahudi, Islam, dan sebagainya, menerima Tuhan sebagai pencipta kebahagiaan dan duka. Jika kita berdoa kepada Tuhan ini, ia akan mengaruniai kita kebahagiaan. Tapi bukan seperti ini penjelasan Buddha. Buddha mengatakan bahwa duka dan kebahagiaan kita tidak di tangan Tuhan, tapi semata-mata di tangan kita sendiri.

Tidak seperti agama-agama yang menerima hanya satu Permata Perlindungan, yaitu Tuhan, kita mengakui Tiga Permata Unggul. Buddha adalah sosok yang menunjukkan jalan tentang apa yang diterima dan apa yang ditolak. Oleh karena itu, Buddha seperti seorang guru dan bukan Tuhan pencipta. Karma atau perilaku kita adalah yang menciptakan kebahagiaan dan duka kita. Kebahagiaan berasal dari tindakan positif atau membangun. Oleh karena itu, kita perlu mencoba bertindak dalam cara ini sebanyak yang kita bisa. Di sisi lain, karena ketidakbahagiaan berasal dari tindakan merusak yang negatif, kita perlu berusaha menyingkirkan mereka sebanyak mungkin.

Yang Buddha ajarkan kemudian adalah jalan sebab dan akibat. Nasib kita terletak di tangan kita sendiri, bukan di tangan Tuhan, dan, untuk hal ini, bukan pula di tangan Buddha. Sehingga, perlindungan atau haluan aman sebenarnya adalah dalam Dharma, yang merupakan sesuatu yang kita perlu kembangkan pada kesinambungan batin kita. Dengan kata lain, dengan menyingkirkan perasaan-perasaan yang gelisah dan sebagainya dari cita kita, kita akan menyingkirkan duka kita dan meraih kebahagiaan.

Selain itu, untuk mengembangkan Permata Dharma ini pada kesinambungan cita, kita memerlukan penolong untuk memberikan contoh dan membantu dalam proses ini. Orang-orang seperti itu dikenal sebagai Permata Sangha.

Singkatnya, Buddha menunjukkan haluan aman untuk ditempatkan dalam kehidupan kita; Dharma adalah haluan aman yang sebenarnya; dan komunitas Sangha membantu menyediakan contohnya. Tidak ada satu Tuhan tunggal atau Permata Perlindungan tunggal yang akan memberi kita kebahagiaan dan menyingkirkan duka kita.

Ajaran Buddha Berdasar pada Nalar dan Laku

Dalam bahasa Inggris, "agama" sering digunakan sebagai kata untuk menerjemahkan istilah Tibet untuk Dharma. Kata agama ini mempunyai makna sebuah tata di mana Tuhan Pencipta diterima. Oleh karena itu, pada umumnya dikatakan bahwa ajaran Buddha bersifat ateistis, dan sebenarnya bukan agama. Namun, kaum Cina berkata bahwa mereka ateis, umat Buddha adalah kaum agama, dan ajaran Buddhisme adalah agama. Tetapi sebenarnya, dengan pengertian di atas, kita juga ateis.

Selain itu, kita menerima kata-kata Sang Buddha tidak berdasar pada keyakinan buta, tapi hanya setelah kita memeriksa mereka secara teliti. Jika mereka masuk akal, kita menerima, dan jika tidak, maka kita tidak menerima. Sebagai contoh, kita punya banyak bukti-bukti mantik untuk gejala-gejala seperti kelahiran kembali dan hanya setelah kita memeriksa persoalan itu kita bisa menerima mereka. Jika sesuatu dapat dibuktikan dengan mantik, maka itu bisa diterima. Tapi jika itu hanya didasarkan pada keyakinan buta; itu takkan pernah cukup. Oleh karena itu, jangan hanya mengatakan "Aku percaya." Pokok utamanya adalah menguraikan dengan mantik dan penalaran. Jika sesuatu tidak sesuai dengan nalar dan kenyataan, jangan menerimanya. Kita harus selalu mendasarkan keyakinan kita pada penalaran.

Ketika Buddha berbicara di masa lalu, ia memberikan ajaran lengkap. Tidak perlu mengubah apa yang dia katakan, menambahnya atau memperbaikinya. Ini hanya persoalan kita menjalankan apa yang dikhotbahkan Buddha. Ini tidak begitu rumit. Kita dapat memahami hal ini dari contoh obat. Dokter memeriksa pasien satu per satu dan kemudian meresepkan obat-obatan yang cocok bagi tiap-tiap pasien. Jika pengobatan itu tidak berhasil, hanya orang bodoh yang akan mengatakan bahwa kesalahan terletak pada ilmu kedokteran. Orang cerdas akan menyadari bahwa alasan obat itu tidak manjur untuknya adalah karena pelaku kedokterannya, dan bukan karena ilmu kedokteran itu sendiri. Demikian pula, hal yang sama berlaku dengan ajaran Buddha. Tidak akan yang salah dalam Tripitaka atau Tiga Keranjang, naskah ajaran-ajaran Buddha langsung. Jika kita periksa, kita akan melihat bahwa kekeliruannya tidak terletak di dalam sumber-sumber itu. Oleh karena itu, yang kita perlu lakukan adalah menjalankan laku dengan benar seperti yang dinyatakan dalam berbagai sumber itu. Anda mengerti?

Menguatkan Dorongan Mahayana

Laku utamanya adalah menjinakkan cita. Untuk ini, kita perlu mendengarkan ajaran-ajaran dan, untuk melakukannya dengan benar, kita membutuhkan dorongan yang tepat. Buddha memberikan ajaran-ajaran Hinayana dan Mahayana. Pokok utama dalam Mahayana adalah membantu orang lain. Dalam Hinayana, penekanannya adalah jika kita tidak dapat membantu orang lain, setidaknya kita tidak mencelakai mereka. Dengan demikian, penekanan dalam kedua aliran ini adalah pada bagaimana cara membantu dan bermanfaat bagi orang lain. Kita perlu belajar dari ini. Jika kita bisa membantu orang lain, kita harus melakukannya, dan jika kita tidak bisa, maka tentu saja kita jangan pernah mencelakai mereka. Tidak pernah dikatakan dalam aliran manapun bahwa kita perlu marah dengan seseorang, bukan?

Dalam ajaran-ajaran Mahayana, juga dikatakan bahwa kita harus berusaha mengabaikan kepentingan diri kita sendiri dan bekerja demi orang banyak. Ini adalah pesan Buddha, bukan? Sehingga, kita perlu memiliki hati yang murni, hangat dan baik. Dan kita perlu menetapkan tekad bodhicita sebagai dorongan kita. Tekad bodhicita kita adalah berupaya untuk meraih pencerahan agar dapat bermanfaat bagi semua makhluk. Dengan dorongan semacam ini, sekarang simaklah Tiga Puluh Tujuh Laku Bodhisattwa seperti yang tertulis di sini oleh bodhisattwa Togmey-zangpo.

Sifat-Sifat yang Ulung dari Penulis Naskah

Togmey-zangpo hidup pada masa Buton Rinpoche, yaitu dua generasi sebelum Tsongkhapa. Ia adalah seorang lama yang kebanyakan dilatih dalam aliran Sakya dan, sejak usia dini, terkenal karena memiliki minat besar dalam membantu orang lain. Saat masih anak-anak, misalnya, ia akan menentang orang-orang jika mereka tidak membantu orang lain. Akhirnya, ia menjadi biksu dan belajar dan berguru dengan berbagai lama, kebanyakan dua guru khusus. Ia berlatih sutra dan tantra dan menjadi seorang pelaku yang sangat terpelajar dan berpemahaman tinggi.

Ia paling terkenal untuk perkembangan bodhicitanya dan ini ia lakukan sebagian besar melalui ajaran-ajaran tentang menyarakan dan menukar diri dengan orang lain. Sebenarnya, jika kita mencoba berpikir tentang bodhisattwa, Togmey-zangpo adalah orang yang langsung muncul pertama dalam benak sebagai seorang teladan, bukankah begitu? Ia adalah sosok yang agung, sungguh makhluk yang istimewa. Setiap kali orang datang untuk mendengarkan ajaran-ajarannya, misalnya, mereka akan menjadi sangat lunak, diam, dan tenang.

Karena ia menulis tentang tiga puluh tujuh laku ini untuk membantu kita semua, kita perlu mencoba mengkaji ajaran-ajaran ini berulang-ulang. Kita berkata bahwa kita adalah pelaku Mahayana, tapi jika kita tidak senantiasa mengkaji laku-laku Mahayana yang sebenarnya, ini tidak akan pernah cukup. Oleh karena itu, kita perlu coba memeriksa diri kita dalam kerangka tiga puluh tujuh laku ini dan melihat apakah, pada kenyataannya, tindakan kita benar-benar sesuai dengan mereka. Di antara laku-laku itu, kita menemukan ajaran-ajaran untuk perorangan pada tiga macam lingkup dorongan, seperti dijelaskan jalan bertahap lam-rim.

Naskah

Sekarang saya hanya akan memberikan ulasan singkat pada naskah ini. Saya telah menerima garis silsilahnya dari Kunu Lama Rinpoche, Tenzin-gyeltsen, dan ia menerima ini dari Dzogchen Rinpoche di Provinsi Kham. Ini hanya sedikit latar belakang sejarah, dan salinan ini, sebenarnya, saya bawa dari Lhasa.

Sumber untuk ajaran-ajaran ini adalah Memasuki Perilaku Bodhisattwa (sPyod-'jug, Skt. Bodhisattvacharya-avatara) karya Shantidewa, Kerawang untuk Sutra-Sutra Mahayana (mDo-sde rgyan, Skt. Mahayanasutra-alamkara) karya Maitreya, dan Bunga-Rampai Mulia (Rin-chen ' phreng-ba, Skt. Ratnamala) karya Nagarjuna.

Naskah ini dibagi ke dalam tiga bagian:

  1. pada permulaannya, membangun kekuatan positif,
  2. ajaran-ajaran yang sebenarnya,
  3. kesimpulan.

Pada bagian permulaan, membangun kekuatan positif dibagi ke dalam dua bagian:

  1. sembah pembuka,
  2. ikrar untuk menggubah.

Sembah Pembuka

Bait pertama ini menyajikan bagian pertama, sembah pembuka.

Sembah pada Lokeshvara
Saya bersujud-sembah senantiasa penuh hormat,
melalui tiga gapura saya,
Kepada guru-guru unggul
dan Avalokiteshvara Sang Pelindung yang,
Melihat bahwa semua gejala tidak memiliki kedatangan dan kepergian,
Menjadikan tiap-tiap upaya untuk kemanfaatan makhluk-makhluk mengembara.

Sembah ditujukan pada Avalokiteshvara, disebut di sini sebagai Lokeshvara. Karena akar pencerahan adalah welas asih, dan karena Avalokiteshvara adalah perwujudan, sujud-sembah ditujukan kepadanya. Juga, untuk menanamkan benih dan naluri bagi kita agar dapat bertemu dan belajar Sanskerta di masa depan, penulis memberikan nama Lokeshvara dalam Sanskerta. Sujud-sembah ditujukan pada Avalokiteshvara sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari para guru dan dibuat dengan tiga gapura yaitu raga, wicara, dan cita. Alasan untuk membuat sujud-sembah tersebut adalah mutu-mutu baik dari sasaran yang dimaksud.

Apa saja mutu-mutu baik itu? Akar Mahayana adalah tujuan bodhichitta. Ini adalah cita yang ditujukan pada pencerahan dengan niat untuk mencapai dan melakukannya agar dapat memberi manfaat bagi semua makhluk terbatas. Untuk memperoleh tujuan-tujuan tersebut, kita perlu melatih enam sikap yang menjangkau-jauh, enam kesempurnaan. Sebagai hasilnya, kita mampu mencapai pencerahan yang memiliki kedua unsur ragawi dan batin, yaitu Rupakaya (Raga-Raga Rupa) dan Dharmakaya atau Raga Berkesadaran Mendalam yang Mencakup Segala, cita mahatahu seorang Buddha. Untuk mencapai kedua unsur itu, kita perlu membangun sebab-sebab yang berada dalam golongan yang sama dengan hasil-hasilnya. Jadi, kita perlu jejaring kekuatan positif untuk mencapai Raga-Raga Rupa seorang Buddha dan jejaring kesadaran mendalam (kumpulan kebijaksanaan) untuk mencapai cita seorang Buddha. Landasan untuk ini adalah dua kebenaran.

Lokeshvara adalah orang yang memahami bahwa semua gejala tidak memiliki kedatangan atau kepergian. Ketika kita memeriksa kebenaran lazim tentang hal-hal, mereka sebenarnya datang dan pergi. Namun, jika kita meneliti kebenaran terdalam tentang mereka, kedatangan dan kepergian mereka tidak ditetapkan sebagai keberadaan yang sejati dan asli. Sebagai contoh, ada hal seperti sebab dan akibat. Karena sebab-sebab tidak memiliki keberadaan yang asli – mereka tanpa keberadaan yang asli – akibat-akibat mereka pun harus tidak menjadi tanpa suatu cara mengada yang mustahil. Baik sebab maupun akibat tidak memiliki keberadaan yang asli; mereka ditetapkan sebagai saling bergantung satu sama lain. Dengan kata lain, sifat kemunculan-bergantung dari semua gejala itu ditetapkan sebagai tidak berada secara asli.

Seperti yang Nagarjuna katakan, hal-hal tidak memiliki kedatangan, kepergian, bersemayam dan sebagainya. Dengan demikian, kalimat “ Melihat bahwa semua gejala tidak memiliki kedatangan maupun kepergian” mengacu pada sunyata dan fakta bahwa sasaran sujud-sembah di sini adalah orang yang memahami atau memandang sunyata dengan pengetahuan nirsekat yang lugas. Karena segala sesuatu muncul secara bergantung, segala sesuatu menjadi tanpa keberadaan yang asli. Dan karena segala sesuatu menjadi tanpa keberadaan yang asli, segala sesuatu muncul secara bergantung oleh suatu rangkaian sebab dan akibat.

Dari sikap dan perasaan yang gelisah sebagai sebab, duka muncul sebagai akibat, dan dari tindakan membangun sebagai sebab, kebahagiaan muncul sebagai hasil. Karena kedatangan duka muncul secara bergantung dari perasaan-perasaan yang gelisah dan tindakan merusak, dan sasaran sujud-sembah di sini memahami bahwa inilah yang terjadi pada semua makhluk hidup, oleh karena itu welas asihnya ditujukan kepada mereka semata-mata untuk tujuan membantu menunjukkan pada mereka cara menyingkirkan duka mereka, untuk mengusirnya. Maka, sisi kebijaksanaan dan sisi cara ditunjukkan di sini karena kita membutuhkan keduanya bersama-sama, tanpa menghilangkan salah satunya.

Dari bait yang berguna itu, kita dapat melihat dua sisi tersebut. Lokeshvara melihat bahwa segala sesuatu menjadi tanpa keberadaan yang asli dan, karena segala sesuatu adalah tiada, ia melihat bahwa semua gejala muncul dari sebab dan akibat. Secara khusus, ia melihat bahwa duka semua makhluk muncul atau berasal dari sikap dan perasaan gelisah mereka, dan oleh karena itu ia dengan welas asih bertujuan menyingkirkan duka itu atau mengusirnya. Dengan demikian, dua sisi kebijaksanaan dan cara itu dimuliakan di sini melalui Lokeshvara. Karena ia melihat segala sesuatu sebagai tiada, ia melihat segala sesuatu sebagai sebab dan akibat. Ia memiliki welas asih bagi semua orang untuk mengeluarkan mereka dari duka mereka. Apakah Anda mengerti?

Ikrar untuk Menggubah

Bait berikut ini adalah ikrar untuk menggubah.

Para Budha yang tercerahkan secara sempurna,
sumber manfaat dan kebahagiaan,
Muncul setelah (mereka) mewujudkan Dharma suci.
Terlebih, karena pencapaian itu bergantung pada pengetahuan (mereka)
tentang laku-lakunya,
Saya akan menjelaskan laku bodhisattwa.

Buddha pertama-tama mengembangkan tujuan bodhicita untuk mencapai pencerahan agar dapat bermanfaat bagi semua orang. Kemudian, begitu ia mencapai pencerahan, tujuan tunggalnya adalah menjadi bermanfaat bagi semua orang. Ia telah menjinakkan citanya sendiri, setelah menyadari bahwa untuk itu ia harus menyingkirkan semua sikap dan perasaan gelisahnya sendiri dan bahwa inilah yang semua orang perlu lakukan agar dapat mencapai kebahagiaan sejati. Maka, Buddha mengajarkan berbagai cara untuk melakukan ini dan kita sendiri perlu menjalankan laku dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan. Jika kita menjalankan laku seperti yang ia ajarkan, kita juga akan dapat memperoleh kebahagiaan. Oleh karena itu, ayat ini mengacu pada para Buddha sebagai sumber manfaat dan kebahagiaan.

Sang Buddha sendiri pada mulanya tidak tercerahkan. Dia mengandalkan guru-gurunya, mengamalkan ajaran-ajaran mereka, dan menjinakkan citanya. Dengan cara menyingkirkan semua sikap dan perasaan gelisahnya, ia menjadi tercerahkan. Oleh karena itu, ia meraih pencapaiannya dengan menjalankan laku dan setelah mewujudkan Dharma suci.

Kita perlu coba memahami bagaimana kita memiliki raga dan cita. Ketika keinsafan mata kita melihat sesuatu, misalnya, kita tidak mengatakan bahwa keinsafan mata kita yang melihatnya, melainkan aku sendiri yang melakukan. Jika tubuh kita sakit, kita berkata bahwa aku sakit. Dampak dari ungkapan ini adalah bahwa aku adalah sebuah keinsafan cita, atau bahwa aku adalah sebuah tubuh. Tapi, tubuh kita pertama kali terbentuk di dalam rahim ibu kita dan tubuh kita berakhir ketika ia membusuk dengan kematian kita. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa “aku” sebuah tubuh.

Maka, mungkin kasusnya adalah bahwa aku adalah cita yang bergantung pada sebuah tubuh. Namun, “ aku” bukanlah rupa, bentuk, bentuk, ataupun warna. Tapi ketika kita melihat sebuah tubuh di kejauhan, berdasar pada itu kita berkata, “Oh, aku melihat temanku” dan kita menjadi sangat senang. Tapi orang itu, jika kita memeriksa dengan saksama, bukan hanya tubuhnya. Ketika kita pergi ke dokter, misalnya, dokter itu mengatakan, “Apakah tubuh Anda baik-baik saja?” tapi jelas kita bukan hanya tubuh kita. Di Amerika, di beberapa rumah sakit terkenal, kita melihat para dokter bahkan meresepkan meditasi untuk menyembuhkan pasien mereka. Maka, jelas ada suatu hubungan antara tubuh dan cita sehingga mereka memberikan jenis resep non-ragawi itu.

Lalu bagaimana dengan “aku” yang hanya cita ini? Mari kita tinjau sifat cita. Ketika kita mengetahui sesuatu, atau mengerti atau menyadari sesuatu, kita berkata, “Aku tahu hal itu.” Tapi sangat sulit untuk mengenali secara tepat apa cita itu. Pengertian cita semata-mata adalah kejernihan dan kesadaran. Ia bukan suatu hal ragawi yang memiliki warna atau bentuk. Jika kita memikirkannya, ini adalah sesuatu seperti ruang jernih, ruang amat kosong tempat semua kenampakan padam dan tempat kesadaran tentang sesuatu dapat muncul atau terbit sebagai kejernihan dan kesadaran belaka.

Maka, cita yang muncul bersamaan dengan angin, tetesan, dan seterusnya dari tubuh halus pada saat pertama pembuahan, adalah sesuatu yang memiliki sifat kejernihan dan kesadaran belaka ini. Agar gejala semacam ini muncul, ini perlu sesuatu, sebagai penyebab langsung, yang ada dalam sifat yang sama atau dalam golongan yang sama dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, perlu ada saat-saat kejernihan dan kesadaran belaka sebelumnya untuk bertindak sebagai sebab bagi saat pertama kejernihan dan kesadaran pada detik pembuhaan itu. Kita berdasar pada deretan penalaran semacam itu ketika menetapkan atau membuktikan keberadaan kehidupan-kehidupan masa lalu. Dan jika kehidupan-kehidupan masa lalu ada, ini berarti kehidupan-kehidupan masa depan juga ada.

Karena kejernihan dan kesadaran belaka yang kita miliki adalah sesuatu yang memiliki kesinambungan dan akan berlanjut di kehidupan-kehidupan masa depan, sangat penting untuk menyingkirkan kekaburan atau selubung yang berada di atasnya dan memunculkan berbagai perasaan gelisah dan duka. Dalam melepaskan mereka, kita menjadi mampu mencapai dasar asli keinsafan, yaitu kejernihan dan kesadaran belaka yang tidak kabur. Inilah yang bisa menjadi cita mahatahu seorang Buddha, Makhluk yang Sepenuhnya Tercerahkan. Maka, karena dasar dalam cita kita sendiri dan dalam cita Makhluk Tercerahkan itu, atau dalam cita mahatahu, sama saja, jenis cita kedua itu adalah sesuatu yang kita pasti bisa capai. Seorang Buddha bukanlah orang yang tercerahkan sejak awal; ia menjadi tercerahkan dengan mengandalkan berbagai sebab. Dia melepaskan dirinya sendiri (meninggalkan) apa yang perlu disingkirkan dan mencapai apa yang diperlukan untuk mencapai. Oleh karena itu, jika kita melakukan hal yang sama, kita dapat meraih pencapaian yang sama.

Demikian, naskah itu mengatakan, “ Para Budha yang tercerahkan secara sempurna, sumber kebaikan dan kebahagiaan, muncul setelah (mereka) mewujudkan Dharma suci.” Bagaimana kita bisa melakukan ini? Dijelaskan bahwa, “ Itu bergantung pada pengetahuan mereka tentang laku-lakunya.” Jadi, tidak cukup sekadar tahu tentang Dharma. Penting bagi kita untuk menempatkannya ke dalam laku dan mewujudkannya begitu kita tahu apa saja laku Dharma itu.

Saya akan mengakhiri ulasan naskah ini untuk hari ini. Apakah Anda telah mengerti semuanya? Kita perlu melatih laku sebanyak yang kita bisa. Yang kita perlu latih adalah penyerahan, bodhicita, dan sunyata. Kita perlu memeriksa diri kita dengan sangat saksama dan jujur, melihat apa watak kita, apa kecenderungan dan keinginan kita, dan kemudian melatih diri kita dalam jalan yang sesuai dengan kita.