Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 3: Bahan Lojong (Latihan Sikap) > Melatih Sikap Kita dalam Kehidupan Sehari-hari: Tak Ada yang Istimewa > Sesi Tiga: Tak Ada yang Istimewa dengan Hal-Hal Selintas dalam Kehidupan dan Rangka-Kerja Bersekat untuk "Tak Ada yang Istimewa"

Melatih Sikap Kita dalam Kehidupan Sehari-hari: Tak Ada yang Istimewa

Alexander Berzin
Kiev, Ukraina, November 2012

Sesi Tiga: Tak Ada yang Istimewa dengan Hal-Hal Selintas dalam Kehidupan dan Rangka-Kerja Bersekat untuk "Tak Ada yang Istimewa"

Ulasan

Kita tadi membahas penerapan makarya dari pelatihan sikap, dan kita lihat bahwa salah satu asas besarnya ialah bahwa kita tak membesar-besarkan – tak ada yang istimewa dari – perasaan bahagia, tak bahagia, atau hambar yang kita alami, dan kita tak membesar-besarkan aku, bahwa aku amat istimewa dan perasaanku amatlah penting dibanding perasaan orang lain. Maka kesimpulannya: kita lanjut saja dengan hidup kita. Jika kita mengistimewakan aku yang menghadapi hidupku, seolah hidupku itu sesuatu yang terpisah dari aku dan aku harus menjalaninya, itu sungguh aneh, kan? Aku dan perasaanku, yang sebetulnya takut kurasakan, sehingga aku harus menamengi diriku dari perasaan-perasaan tak menyenangkan. Perasaan itu hanyalah bagian dari, ibaratnya, film kehidupan yang sedang diputar.

Delapan Hal Selintas dalam Kehidupan

Nah, ada pula isian dari kehidupan kita. Sama saja, kita tak perlu membesar-besarkannya. Ada sebuah daftar yang berisi delapan hal selintas dalam kehidupan. Daftar ini salah satu dari hal-hal penting dalam ajaran Buddha, dan ia mengikuti asas yang sama: segala sesuatu itu naik dan turun.

Untung dan Rugi

Kadangkala kita untung, kadangkala kita rugi. Bisa jadi untung atau rugi secara keuangan – kadang kita memperoleh uang, kadang kita kehilangan uang. Kadang kita mendapat atau membeli sesuatu yang baik sekali (artinya untung), tapi kadang rusak (artinya rugi). Lagi-lagi, asasnya sama: tak ada yang istimewa dengan hal itu. Tentu, kadang kita menang, kadang kita kalah. Seperti bermain saja, permainan anak-anak, bermain kartu – kadang Anda menang, kadang Anda kalah. Terus kenapa? Tak ada yang istimewa.

Jadi kita perlu mengingatkan diri kita untuk tidak seperti anak kecil yang menangis saat kalah dan "Pokoknya aku harus menang!" Mengapa Anda selalu harus menang? Itu sama saja seperti harapan bahwa setiap orang akan menyukaiku. Ada satu perkataan yang amat berguna dalam ajaran Buddha: "Tidak semua orang menyukai Buddha, jadi kita mau berharap apa – setiap orang akan menyukai kita?" Nyatanya tidak semua orang akan menekan tombol "suka" di laman Facebook kita. Ketika ada orang yang tak menyukai kita, mau apa? Itu lumrah.

Nah, untung dan rugi. Saat kita berhubungan dengan seseorang, lambat-laun hubungan itu akan berakhir. Masih ingat perumpamaan tentang burung liar yang hinggap di jendela kita? Ia hinggap sejenak, tapi ia burung yang bebas. Ia akan terbang. Sama saja dengan hubungan kita dengan orang lain. Jika kita mencoba merenggut dan bergantung padanya dan: "Jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak dapat hidup tanpamu," itulah pasti malah membuatnya lari, kan? Sekalipun Anda tetap bersama sampai seumur hidup, salah satu dari Anda, tak diragukan lagi, akan meninggal terlebih dahulu. Kita dapat teman, kita kehilangan teman – tak ada yang istimewa dengan hal itu. Seperti itulah jalannya hidup. Bukan berarti bahwa kita tidak merasa bahagia ketika kita punya teman atau tidak merasa tak bahagia ketika ada yang mati dan meninggalkan kita, tapi kita tidak sampai terlalu bahagia atau terlalu tak bahagia – kita tak membesar-besarkannya.

Menarik untuk melihat diri kita sendiri dalam keseluruhan gejala untung dan rugi ini, dan cara kita menanggapinya. Contohnya diri saya. Saya cukup gandrung dengan situsweb saya. Situsweb saya itu cukup padat mengisi pikiran dan kegiatan saya sepanjang hari. Kami punya program statistiknya, jadi saya tahu setiap hari – dan saya bisa menyaksikannya sepanjang hari – berapa banyak orang yang mengunjungi situsweb itu. Jika terjadi peningkatan, dengan jumlah tertentu di situ, rasanya menyenangkan. Jika angkanya tidak mencapai yang seharusnya atau yang saya pikir yang seharusnya, maka rasanya tak begitu menyenangkan. Itu untung dan rugi.

Menarik pula bahwa saya ternyata merasakan kebahagiaan dengan kadar yang rendah sekali. Bukan hal yang dahsyat. Beberapa minggu yang lalu kami mencapai enam ribu kunjungan dalam sehari, yang rasanya seperti, "Wah, enam ribu. Banyak sekali." Namun, kebahagiaan dari hal itu amat sepele. Maksud saya, bukan apa-apa; tak jadi apa-apa. Anda merasa, "Oh, bagus itu. Sekarang apa? Apa lagi yang baru?" Kemudian di lain hari, angkanya turun sampai, katakanlah, empat ribu lima ratus, dan "Oh, tak begitu banyak yang melihatnya hari ini," jadi agak mengecewakan. Tapi pengalaman saya ialah bahwa naik dan turunnya angka itu amat sangat kurang menonjol, dan tentunya tak langgeng; tipis saja. Yang tampak lebih penting ialah sikap asyik-diri, yang saya akui, untuk melihat statistiknya setiap waktu. Itu tampaknya lebih kuat. Ajaran Buddha berkata bahwa, sikap asyik-diri itu lebih kuat dari keasyikan terhadap segala hal lain karena ia begitu naluriah, berpikir tentang aku. Dan pengalaman itu tak mewujud ke dalam: "Oh, aku hebat" – atau "Tak ada yang sayang padaku" ketika tak cukup banyak orang yang melihat – tapi yang jadi perkara tetaplah sikap asyik-diri ini.

Nah, saat Anda pikirkan contoh Anda sendiri, dan tentunya Anda mungkin tak menghadapi masalah yang sama dengan saya, ada miripnya dengan pengalaman Anda jika amat gandrung dengan Facebook atau SMS: Berapa SMS yang kudapat hari ini? Berapa banyak "Suka" yang aku dapat hari ini? Berapa sering aku ingin memeriksa Facebook-ku? Berapa sering Anda mengambil ponsel dari dalam saku dan melihat apa ada yang masuk? Dulu, saat kita belum punya jenis komunikasi internet, hal yang sama terjadi dengan tukang pos. "Apa ada surat untukku hari ini?" Dan, ternyata tak ada. "Ah, tak ada yang suka padaku." Atau, yang datang ternyata surat reklame, dan Anda tak mau itu. Sikap "tak ada yang istimewa" ini bisa membantu Anda untuk hal yang seperti itu juga. Dan dari pengalaman saya sendiri, hal tersebut pas dengan ajaran Buddha pula, bahwa naik dan turun perasaan bahagia ("Wah! Senangnya. Aku dapat dua puluh "Suka" hari ini untuk sarapanku") atau perasaan tak bahagia ("Ah! Ada yang bilang 'Tak suka'"), naik dan turunnya perasaan itu jadi semakin menipis. Kita beroleh keseimbangan batin yang lebih atas hal itu. Tapi yang lebih sukar adalah sikap asyik-diri yang ingin selalu memeriksa apa ada yang masuk ini.

Yang sedang coba saya gambarkan di sini ialah bahwa ketika kita berupaya mengubah sikap kita, mencoba memperbaiki sikap kita, kita menempuh jalan yang lambat dan panjang. Upaya kita tidak akan mengubah segala sesuatu begitu cepatnya, dan cara berubahnya pun perlahan, bukan seperti kereta-cepat perasaan. Yang lebih panjang lagi adalah jalan mengubah perasaan penting-diri ini, bahwa penting sekali berapa banyak pesan yang aku dapat di Facebook atau berapa banyak SMS aku dapat hari ini. Itu butuh waktu lebih lama. Lebih sukar lagi mengatasi sikap asyik-diri.

Dan amat menarik saat Anda mulai memandang diri Anda dengan cara yang lebih makul (realistis), yaitu bahwa: "Aku telah menjadi budak komputer dan ponselku, dan aku ini budak karena aku selalu harus melihatnya. Aku selalu harus memeriksa berapa banyak orang yang menanggapiku. Mengapa aku jadi budak?" Menarik, bukan? Saya melihat orang-orang di kereta bawah tanah atau di bus yang ponselnya harus selalu ada di tangan, jadi mereka selalu menggenggamnya. Mengapa? Kalau dipikir-pikir, jawabannya adalah karena sikap penting-diri ini, sikap peduli diri sendiri ini. Rasa tak aman ada di baliknya, kan? Sikap batin: "Aku tak ingin melewatkan sesuatu." Mengapa? Mengapa itu begitu penting? Beberapa hal mungkin penting – kita tak bilang bahwa tak ada yang penting – tapi kita melebih-lebihkan pentingnya untuk terus-menerus terhubung, terus-menerus daring (online). Itu merupakan suatu hal yang amat menarik untuk dikaji untuk kebaikan perasaan kita sendiri, kan?

Jadi inilah delapan hal fana yang naik dan turun dalam kehidupan kita: kadang kita menang, kadang kalah. Itu pasangan yang satu, yang pertama.

Hal-Hal yang Berjalan Baik dan yang Berjalan Buruk

Pasangan yang kedua ialah bahwa kadang segala sesuatu berjalan baik, kadang berjalan buruk. Nah, ini dapat dipahami pada berbagai macam tingkat, tapi sekali lagi, "tak ada yang istimewa". Kadang hari baik, dan kadang berbagai rintangan mendera dan orang-orang menyusahkan kita, dan seterusnya. Itu biasa. Mau apa lagi? Kadang tenaga kita gahar, kadang pudar. Kadang kita rasa sehat, kadang kita meriang. Terus kenapa? Kita hadapi saja, tanpa merasa takut – "Oh, nanti aku meriang" – dan ingin menamengi diri, karena itu tameng diri Anda selalu terangkat dan Anda menolak semuanya. Lalu Anda merasa amat sangat tidak aman, dan itulah tataran cita yang amat tak bahagia itu.

Pujian dan Kecaman

Kemudian, pasangan yang berikutnya ialah pujian dan kecaman. Kadang orang memuji kita, kadang orang mengecam kita. Bagaimana kita menghadapi hal itu? Lagi-lagi, tak semua orang menyukai sang Buddha; tak semua orang memuji sang Buddha. Ada yang amat mengecamnya; sepupunya amat mengecamnya

Saya kembali akan menggunakan contoh saya sendiri. Saya dapat surel sebagai tanggapan bagi situsweb saya, dan kadang isinya pujian – dan saya boleh bilang sebagian besar memang berisi pujian ("Oh, ini sungguh membantu," dst.) – dan sesekali ada pula kecaman atas suatu hal di situ. Nah, tentu saja Anda bisa seperti naik kereta-cepat perasaan: Anda dapat surel yang bilang, "Oh, ini telah mengubah hidup saya, dan menakjubkan rasanya," lalu Anda merasa, "Wah, hebat betul aku ini!" Lalu ada yang bilang, "Situs Anda jelek," sehingga Anda merasa amat terpuruk. Sebetulnya yang saya dapati ialah bahwa lama-kelamaan yang lebih mudah dihadapi adalah pujian yang tak membuat Anda terlalu gembira dan Anda tak sampai ke ujung kutub, "Aku tak pantas mendapatkannya. Kalau mereka tahu aslinya aku, mereka takkan menyukaiku," terus seperti pikiran kekanak-kanakan itu. Contohnya, mungkin mereka bilang, "Ini hal terbaik yang pernah saya baca!" Saya malah anggap itu tak begitu mengganggu. Yang lebih mengganggu ialah kecaman.

Yang saya maksud itu ketika Anda melatih diri Anda sendiri, dari pengalaman saya, lebih mudah untuk menghadapi pujian dibanding kecaman. Ketika saya bicara tentang berlaku berlebihan menanggapi pujian, saya bukan bicara tentang ujung kutub perasaan: "Aku tak pantas menerimanya. Kalau mereka tahu aslinya aku, mereka takkan menyukaiku. Pujian mereka cuma buat-buatan saja." Kita tak sampai ke ujung kutub yang itu. Kecaman itu lebih sukar untuk dihadapi, jadi cobalah kaji hal itu. Mengapa lebih sukar? Saya pikir jika Anda sedang mengupayakan diri dalam pelatihan sikap ini, titik beratnya bukan bahwa mereka tak menyukaiku – bukan penekanan berlebihan pada si "aku" – tapi yang tinggal ialah bahwa aku membuat mereka tak bahagia, dan Anda berpikir lebih tentang ketakbahagiaan mereka dan ketakpuasan yang menyebabkan mereka menulis kecaman itu. Sehingga orang harus mencoba menghindar terseret ke ujung kutub perasaan bersalah; bahwa aku membuat mereka tak bahagia – "Aku tak berguna. Buruknya aku ini" – tapi untuk berpikir dari sudut pandang mereka. Jika aku dapat melakukan sesuatu untuk membantu penyelesaian masalah itu, sekalipun hanya berupa permintaan maaf, seperti: "Saya akui bahwa ini mungkin menyusahkan Anda. Saya sungguh minta maaf. Bukan begitu niat saya," itu pun sudah cukup. Dan itu bukan dalam kerangka pikir "Aku ini jahat" dan merasa bersalah; tapi dalam kerangka pikir orang lain. Maka, dalam hal mengubah pusat perhatian Anda dari peduli diri sendiri ke peduli orang lain, tidak 100% langsung bergeser, tapi perlahan penekanannya beralih ke orang lain. Dan hal itu paling kuat terasa saat Anda tampaknya telah membuat orang lain menderita.

Jadi, kerangka pikirnya tidak harus situsweb dan surel yang masuk atau sejenisnya saja, tapi hubungan yang biasa kita jalani dengan orang lain setiap hari. Kadang mereka bahagia bersama kita; kadang tidak. Dan lebih mudah untuk menghadapi mereka saat bahagia – tapi tidak sampai merasa: "Oh, aku luar biasa" atau "Aku tak pantas mendapatkannya." Itu sedikit lebih mudah dibanding sisi satunya, yaitu ketika mereka sedang mengecam atau berlaku mengecam pada kita.

Nah, tentu ada orang yang amat sukar dihadapi, yang selalu mengecam kita, selalu negatif terhadap kita. Sekali lagi, sikap kita terhadap mereka: Apa yang kita kenali dalam diri mereka? Apa kita mengenali bahwa mereka merupakan orang yang amat sukar dan tak menyenangkan? Atau kita mengenali mereka sebagai orang yang amat tak bahagia? Anda mungkin pernah berurusan dengan seseorang, atau beberapa orang, yang seperti itu dalam hidup Anda, orang-orang yang selalu saja berkeluh-kesah. Ada yang seperti itu dalam hidup saya. Mereka menelepon Anda, atau mau bersama Anda, mau keluar makan siang bersama Anda, atau seperti itulah, dan Anda tahu bahwa, saat bersama, 100% mereka akan bicara tentang diri mereka sendiri dan berkeluh-kesah. Anda bisa jadi amat sangat tak senang dan jengkel karenanya: "Uh, orang ini lagi." Anda tak selalu bisa bilang, "Tidak, aku sedang sibuk" dan seterusnya.

Jadi, kalau itu tanggapan kita, kita hanya berpikir tentang aku dan betapa tak menyenangkan buatku bersama orang ini dan mendengarkan mereka berkeluh-kesah. Sekali lagi, ubahlah sikap dan pandangan kita: orang ini berkeluh-kesah melulu karena mereka sungguh-sungguh tak bahagia... dan memang benar begitu. Orang yang saban hari mengeluh juga biasanya amat kesepian, karena tak ada yang mau bersama mereka. Maka, kalau kita harus bersama mereka, luangkan waktu bersama mereka, entah itu teman kita, atau orang lansia – seringnya memang orang lansia, bahkan saudara kita, mengeluh saban waktu – dan tumbuhkanlah sedikit timbang rasa untuk mereka. Pengalaman bersama mereka takkan jadi mengerikan karena Anda berpikir dalam kerangka diri mereka, bukan diriku.

Jadi begitulah pujian dan kecaman ini.

Mendengar Kabar Baik dan Kabar Buruk

Kemudian, pasangan keempat adalah mendengar kabar baik dan kabar buruk. Sama saja: segala sesuatu itu naik dan turun. Empat pasang ini sebetulnya saling tumpang-tindih, dan asas "tak ada yang istimewa" berlaku untuk tiap-tiap dari delapan hal ini. Tak ada yang istimewa dengan kabar baik, tak ada yang istimewa dengan kabar buruk. Itu cuma hal yang akan terjadi dalam hidup kita. Akan naik dan turun. Tidak gampang, tapi kita bisa melatih diri kita. Dan cara kita melatih diri untuk mampu menghadapi hal-hal ini, seperti saya katakan tadi, ialah dengan memahami asas "tak ada yang istimewa" ini. Coba pikirkan itu sejenak.

Baik. Ada orang yang menolak melakukan jenis pelatihan ini. Mereka bilang bahwa mereka suka berada dalam kereta-cepat perasaan karena kalau tidak mengalami naik dan turun ini, kita tak benar-benar hidup. Maka mari kita telaah: apa sikap seperti itu dapat membantu kita? Pertama-tama, entah itu kita berada di dalam kereta-cepat perasaan atau tidak, kita tetap hidup. Jadi, pendapat itu agak konyol, ya? Namun, apa yang terjadi saat kita berada di dalam kereta-cepat perasaan ini? Kereta-cepat perasaan – saat kita berada di dalamnya, kita tidak berpikir secara masuk akal, kan? Karena kita tenggelam dalam perasaan, jadi kita tak dapat berpikir jernih. Kalau kita lebih tenang, walau hidup kita jadi tidak sedahysat itu – dahsyat dalam arti: "Oh, ini terjadi, dan itu terjadi," dan seterusnya – kita mampu berpikir lebih jernih dan menghadapi masalah dengan cara yang lebih baik. Ketika Anda benar-benar tak bahagia dan marah pada seseorang, Anda bisa melontarkan kata-kata yang bakal Anda sesali. Jadi, memiliki cita yang lebih berimbang dan berimbang dalam perasaan di sini bukan berarti tak berperasaan sama sekali, tapi berarti memiliki perasaan yang membuat kita tetap mampu berpikir jernih. Dan tentang setiap orang yang ingin bahagia, kebahagiaan yang damai dan tenang ini jauh lebih mantap dibanding kebahagiaan heboh "Oh, astaganaga!"

Rangka-Kerja Bersekat untuk "Tak Ada yang Istimewa"

Sekarang, satu hal lagi yang ingin saya bahas bersama Anda ialah dasar bagi sebuah sikap. Dasar bagi sebuah sikap terhadap sesuatu itu pada dasarnya ialah sebuah rangka-kerja bersekat. Apa itu pikiran bersekat? Ini amat penting untuk dipahami. Pikiran bersekat artinya memandang segala sesuatu atau mengalami segala sesuatu lewat sebuah golongan, dan golongan tersebut dapat berupa "sesuatu yang istimewa". Kita seperti punya semacam kotak batin; saya mengalami sesuatu, dan saya taruh pengalaman itu ke dalam kotak batin "sesuatu yang istimewa."

Nah, kita begitu terus setiap waktu. Itu cara kita untuk bisa memahami dan mencerna segala sesuatu. Paham? Ada kotak batin "wanita". Aku lihat orang ini dan kutaruh dia di dalam kotak batin "wanita". Dengan demikian, kita mampu menggolongkan segala sesuatu, dan beragam hal yang kita alami bisa ditaruh ke dalam bermacam kotak batin. Misalnya, orang-orang yang sama yang kita taruh ke dalam kotak batin "pria" atau "wanita" dapat pula kita taruh ke dalam kotak batin "orang muda" dan "orang tua" atau "rambut pirang" atau "rambut gelap". Maksud saya, ada banyak kotak di situ, kan?

Nah, pada kenyataannya, segala sesuatu itu tidak mengada dalam kotak-kotak, kan? Ini memang hal yang amat sukar untuk dipahami dan dicerna betul. Misalnya, kita bisa taruh seseorang dalam kotak "orang jahat", tapi tak ada orang yang mengada hanya sebagai orang jahat saja, karena jika mereka hanya berada di kotak itu dan jika mereka benar-benar mengada di dalam kotak itu, maka setiap orang akan memandang mereka sebagai orang jahat, dan mereka sudah seperti itu sejak masih bayi.

Penggolongan ini, kotak batin ini, membantu kita untuk memahami segala sesuatu. Sikap kita terhadap orang lain amat sangat ditentukan oleh jenis kotak batin yang jadi tempat kita menaruh segala sesuatu. Namun, kita harus tetap ingat bahwa kotak-kotak batin ini sungguhlah hanya sebuah bangunan batin semata. Pada kenyataannya – kalau saya boleh gunakan istilah ini – tak ada kotak sama sekali, kan? Inilah kotak-kotak batin yang, melaluinya, kita memandang segala sesuatu.

Nah, bagaimana kita mengenali dan menempatkan segala hal ke dalam jenis kotak batin yang ini dan bukan jenis kotak batin yang itu? Kita melakukannya atas dasar fitur dari hal tertentu yang kita pikir amat khas dibanding hal lain. Bisa kita sebut sebagai ciri penentu. Itu istilah yang teknis untuk hal itu. Tapi, itu berupa fitur tertentu. Seperti, misalnya, apa fitur untuk menaruh hal-hal ke dalam kotak "segi empat"? Pastinya, harus punya empat sisi. Hal-hal yang punya empat sisi yang sama, itulah fitur atau ciri penentunya. Maka itu, kita menaruhnya pada kotak batin "segi empat." Kita punya kata-kata yang kita hubungkan dengan kotak-kotak ini.

"Persegi" mungkin golongan yang agak sederhana, tapi bagaimana dengan golongan "orang menjengkelkan"? Apa fitur pada sisi orang tersebut yang membuat kita memandangnya dalam kotak "kau orang yang menjengkelkan"? Itu pertanyaan yang amat menarik, bukan? Apa sebetulnya yang menjengkelkan itu? Coba pikirkan. Apa yang sama-sama dimiliki oleh lalat yang berdengung di sekitar wajah Anda dan orang ini sehingga Anda memandang keduanya menjengkelkan dan Anda menaruh mereka ke dalam kotak "menjengkelkan"?

Peserta: Keduanya membuat saya lepas dari keseimbangan saya dan tataran seimbang saya.

Alex: Persis. Saya pun akan menjawab seperti itu. Ada sesuatu tentang perbuatan mereka yang membuatku kehilangan keseimbanganku atau kedamaian citaku, tataran citaku yang tenang. Sebetulnya itu semua dimaknai dalam kerangka aku, bukan dalam kerangka mereka, karena yang saya anggap menjengkelkan belum tentu Anda anggap demikian. Kalau Anda berpikir dalam kerangka menyebabkanku kehilangan kedamaian citaku, itu juga bakal jadi sesuatu yang jadi sumber ketertarikanku, dan itu membuatku uring-uringan. Maka, jengkel ini pun amat menarik. Cara kita menentukannya dan menaruhnya ke dalam kotak terpaku sepenuhnya pada diri kita sendiri.

Kita punya banyak sekali perasaan. Nah, perasaan yang satu ini mulai jadi menarik (mungkin malah sudah menarik). Kita punya kotak batin "bahagia". Bagaimana Anda menaruh hal-hal ke dalam kotak "bahagia"? Aku bahagia. Bisakah Anda benar-benar mengatakannya? Maksud saya, hal itu sukar sekali. Anda bahagia? Ada yang tanya, "Anda bahagia?" dan Anda bahkan tak tahu mau jawab apa. Jika Anda tanya diri Anda, "Aku bahagia?" – aku bahkan tak tahu apa maksudnya sebenarnya, kan? Jadi, apa itu ciri penentu keadaan bahagia? Kita ingin sekali bahagia, tapi kita bahkan tak tahu arti kebahagiaan. Janggal, kan? Makna kebahagiaan ialah sesuatu yang, ketika Anda alami, Anda tak ingin terpisah darinya; Anda ingin ia berlanjut. Setidaknya dalam kepustakaan Buddha itulah maknanya, jadi kita sedikit terbantu di sini.

Nah, sekarang Facebook. Mengapa Anda menaruh hal-hal tertentu ke dalam golongan, atau kotak, "Suka"? Apa ciri dari sesuatu itu, yang mengilhami Anda untuk menaruhnya ke dalam kotak "Suka" dan kemudian menekan tombolnya? Coba pikirkan itu. Agak sukar untuk diungkapkan dengan kata-kata, kan? Mengapa aku menyukainya? Mungkin karena hal itu membuatku tersenyum atau merasa senang. Tapi, jika kita harus melihatnya hal itu-itu saja, dan tak ada lainnya, sepanjang hari, kita takkan menyukainya lagi, kan? Jadi sangat aneh, kan? Itu membuatku bahagia. Kita sudah lihat bahwa itu juga merupakan hal yang sukar ditentukan artinya.

Dan ketika Anda bicara tentang pikiran bersekat, yang juga menarik ialah bahwa kita punya suatu citra batin yang mewakili golongan tersebut. Contoh yang selalu saya gunakan adalah golongan "anjing". Saat Anda berpikir tentang anjing, Anda punya semacam gambaran batin tentang anjing, kan? Dan saya yakin setiap orang membayangkan anjing dengan gambaran batin yang berbeda-beda. Sama saja dengan citra batin apa yang bagi kita mewakili orang cantik, orang seksi (sudah kita dapat contohnya tadi: tentang siapa yang dianggap seksi oleh babi dan oleh kita). Jadi sudah jelas bahwa setiap orang punya gambaran batin yang mewakili golongan itu.

Nah, apa yang mewakili "Suka", sesuatu yang saya sukai? Itu lebih sulit. Kadang kita bilang begitu, kan? "Ini jenis hal yang kusuka. "Ini jenis gaya yang kusuka. "Ini jenis makanan yang kusuka. "Ini jenis film yang kusuka. Kita bicara seperti itu, kan? "Wanita itu bukan tipeku" atau "Pria itu bukan tipeku." Apa yang mewakili yang kusuka? Apa kita membandingkan pengalaman kita, katakanlah apa yang Anda lihat di Facebook, dengan suatu citra yang Anda suka, dan kemudian jika cocok, Anda menerima hal itu ke dalam kotak "sesuatu yang kusuka"? Tapi semua itu berasal dari sisi cita kita. Bukan berasal dari hal yang jadi sasarannya. Kalau berasal dari hal yang jadi sasaran rasa suka kita, kalau ada sesuatu di dalam hal itu yang membuatnya dapat disukai, setiap orang harusnya suka juga, kan? Jadi, semua itu bertumpu pada cara pandang kita. Coba cerna itu sejenak.

Sekarang kita lanjut ke langkah berikutnya, dan langkah berikutnya itu ialah kotak "sesuatu yang istimewa". Apa yang membuat sesuatu itu istimewa? Apakah sesuatu di dalam hal yang jadi sasaran anggapan istimewa kita itu? Atau apa kita punya suatu kotak batin "sesuatu yang istimewa", kita tentukan sendiri dan atas dasar kotak batin dan citra batin yang mewakilinyalah kita menganggap sesuatu itu istimewa? Apa yang membuat sesuatu itu istimewa? Anda lihat, inilah dasar dalil dari "tak ada yang istimewa". Tak ada yang istimewa dari sisi hal yang jadi sasaran anggapan istimewa kita itu. Yang ada ialah gagasanku, kotak batin "istimewa"-ku. Seperti saringan yang kupakai untuk melihat segala sesuatu: yang ini istimewa atau yang itu istimewa.

Anda mulai berpikir, "Bagaimana aku menentukan sesuatu itu istimewa?" Mungkin jawabannya adalah karena hal itu khas: "Ini sungguh lukisan istimewa" atau "Hidangan ini istimewa." Tapi bukankah segala sesuatu itu khas? Tak ada dua hal yang sama persis. Tak ada dua hal yang sama persis, kan? Tiap kubis di tumpukan kubis itu adalah kubis yang khas. Kubis yang ini bukanlah kubis yang itu. Mereka serupa, kan?

Lalu kita berpikir, "Tapi, segala sesuatu itu harus beda. Supaya istimewa, harus beda." Nah, seberapa beda harusnya? Ada yang biasa ada yang istimewa, terus bagaimana Anda menarik garis antara: "Ini biasa" dan "Ini istimewa"? Apakah lebih khas, lebih istimewa dari itu? Dan di mana Anda tarik garisnya? Bagaimana cara Anda memutuskannya? Ada banyak jawaban yang bisa kita munculkan.

Mungkin kita bisa bilang, harus baru. Baru bagiku, atau bagi semesta ini? Biasanya kita menentukan arti segala sesuatu itu dalam kerangka aku, dan setiap pengalaman yang kita miliki itu baru, kan? Hari ini, aku tak mengalami hal yang sama dengan yang aku alami kemarin. Hari ini bukanlah kemarin. Jadi, artinya, semua itu istimewa, yang juga bermakna bahwa tak ada yang istimewa. Semuanya khas, semuanya beda, semuanya sendiri-sendiri, jadi tak ada yang istimewa. Dan jika kita bilang bahwa hal itu istimewa karena kita menyukainya, yang kita sukai itu berubah sepanjang waktu, dan jika kita terlalu banyak mengalaminya, kita tak menyukainya lagi, jika kita terlalu lama memilikinya, kita bosan.

Jadi inilah hal-hal yang kita upayakan, yang kita pertimbangkan, untuk menolong kita mengatasi kecanduan kita dalam menaruh segala sesuatu ke dalam kotak "istimewa". "Yang kurasakan sekarang amat penting." Mengapa amat penting? Mengapa Anda menaruhnya di kotak "penting"? Jadi, yang perlu kita coba lakukan ialah untuk tidak melihat segala sesuatu dalam kotak-kotak batin yang tak perlu.

Beberapa kotak batin memang berguna sekalipun kita tahu bahwa segala sesuatu tidak mengada dalam kotak-kotak batin itu. Misalnya, kita tak dapat memahami bahasa tanpa kotak-kotak batin. Orang-orang membuat bunyi yang berbeda-beda. Bunyi satu orang yang mengucapkan sebuah kata dibanding bunyi orang lain dengan suara dan kelantangan yang berbeda yang mengucapkan kata yang sama – bagaimana kita memahami bahwa mereka mengatakan kata yang sama? Anda dapat memahaminya hanya karena Anda punya kotak batin kata tersebut. Anda tak dapat memahami orang-orang bicara kalau Anda tak punya kotak-kotak batin kata-kata ini, kan? Semua bunyi yang berbeda-beda ini sebetulnya cocok di kotak yang sama untuk kata yang diucapkannya.

Maka, kita tak bisa seenaknya membuang semua kotak-kotak batin itu. Akan tetapi, beberapa kotak batin tertentu sungguh tak membantu sama sekali, seperti "sesuatu yang istimewa", karena hal itu amat subyektif. Saat Anda mulai sungguh mengkajinya, apa yang kita pikir istimewa itu, semua ada di sikap kita, kan? Dan kita bahkan tak bisa benar-benar menentukan arti apa itu istimewa. Apa yang membuatnya istimewa? Sesungguhnya tak ada yang membuatnya istimewa.

Jadi dengan demikian, kita tidak sekadar memakai kendali-diri dan tertib-diri kita untuk mengatakan, "Aku tidak akan memandang segala sesuatu sebagai istimewa" karena hal itu amat sukar dilaksanakan. Tapi, lewat pemahaman, kita bisa melihat bahwa sesungguhnya tak ada yang istimewa. Keistimewaan itu hanyalah suatu bangunan batin belaka. Baik.

Mengapa Kita Berbagi Perasaan di Jejaring Sosial?

Ada satu pokok lagi yang hendak saya bahas sedikit. Cara lain yang menunjukkan bahwa kita anggap perasaan kita itu istimewa ialah dengan berpikir bahwa orang lain harus mengetahuinya; orang lain harus ikut tahu perasaan kita di jejaring sosial kita. Coba mulai kaji hal itu, mengapa kita memiliki sikap bahwa: "Perasaanku ini istimewa, dan setiap orang harus mengetahuinya." Jadinya akan sangat menarik. Apa Anda sungguh berpikir bahwa setiap orang itu sungguh tertarik pada perasaan Anda? Apa kita begitu pentingnya sehingga setiap orang tertarik?

Sungguh ganjil, kan, gejala yang memperlihatkan para bintang film atau bintang pop beserta jutaan orang yang mengikuti kicauannya hanya untuk tahu apa perasaan mereka tentang hal ini dan itu? Mengapa? Anda peduli betul? Ini gejala yang amat aneh sebenarnya. Entah bagaimana, seolah mengalaminya sendiri, kita merasa bahwa kita itu sama pentingnya dengan orang ini, Lady Gaga atau Justin Bieber atau seseorang seperti mereka. Kita ingin ikut berbagi perhatian yang mereka peroleh dari dunia. Tapi apa kita sungguh berpikir bahwa setiap orang begitu tertarik pada apa yang kita rasakan? Tetap saja, seperti didesak-desak, kita harus mengumumkannya pada dunia di Facebook, dan kita amat tertarik pada berapa banyak orang yang menyukainya. Sungguh lika-liku keakuan yang terlalu kalau kita bilang kita memasangnya di laman kita sebab kita sungguh percaya bahwa setiap orang di dunia ini tertarik. Bisa juga kita berkilah, "Aku ingin membaginya karena mungkin itu bisa membuat mereka bahagia," tapi siapa sebetulnya yang sedang kita bodohi?

Semakin dalam dan dalam Anda mulai mengkajinya, yang Anda temukan ialah bahwa kita merasa bahwa bila kita dapat memajangnya di jejaring sosial kita, seolah hal itu menjadi nyata; dan jika kita tidak mengutarakannya, jika kita tidak memajangnya, itu malah tampak tak begitu nyata. Coba pikirkan itu. "Jika aku mengkicaukannya atau aku meng-SMS-kannya atau aku memajangnya di Facebook, ia jadi nyata. Jika tidak, ia akan menghilang sekejap mata; ia tidak sungguh nyata." Tapi, bagaimana bisa itu membuatnya nyata? Tindakan itu tidak membuatnya nyata. Mengkicaukannya di Twitter tidak membuatnya jadi lebih nyata, kan? Seolah kita ingin meneguhkannya dan membuatnya padu, tapi kita tak mampu – saat itu telah berlalu, kan? Inilah rasa tak aman yang mendasar itu, betul? "Ah, aku harus meneguhkannya, jadi aku harus mengkicaukannya; aku harus memajangnya."

Lalu Anda mulai mengkajinya lebih dalam. Saat Anda mengkajinya lebih dalam, seolah kita sedang mencoba memapankan ke-ada-an kita. Kita hidup di dunia dimana setiap hal berubah begitu cepatnya, dan tampak seolah yang kita perbuat itu begitu tak berarti dibanding dengan segala sesuatu yang sedang terjadi. Jadi, bagaimana caraku memapankan ke-ada-anku? Dari sudut pandang dunia, aku sepenuhnya tak penting, hanya satu dari tujuh miliar orang. Jadi untuk memapankan bahwa aku ini penting, bahwa aku ada, aku harus memajang segala sesuatu yang kurasakan, pada sebuah jejaring sosial. Descartes berkata, "Aku berpikir maka aku ada." Jadi sekarang ini "Aku berkicau atau ber-SMS, maka aku ada." Nah, tentu saja tidak semua orang seperti ini dan memiliki sikap batin semacam ini, tapi jika Anda lihat kecenderungannya di dunia, persentase orang yang kecanduan jejaring sosial dan pesan singkat ini semakin besar dan besar.

Kemudian Anda harus mengkajinya, khususnya jika Anda mencandu hal ini, yang berarti mengubah sikap Anda terhadap hal ini. Ingat, kita bicara tentang membersihkan sikap. Ubahlah sikap Anda terhadap hal ini. "Tak mungkin ini bisa membuktikan atau memapankan ke-ada-anku. Tentu saja aku ada. Aku tak harus mengkicaukannya untuk bilang, 'Hai, aku di sini. Aku ada'." Anda itu memang ada. Jadi, tak perlu merasa tak aman akan hal itu. Anda tak perlu membuktikan apapun. Itu suatu waskita yang amat mendalam untuk kita peroleh. "Aku tak perlu membuktikan apapun. Aku di sini. Aku ada. Aku hidup." Anda tidak perlu membuktikannya kepada dunia, karena sebetulnya itu hanya akan mengusik kelanjutan hidup Anda, dan hal itu menjadi gangguan besar karena kemudian Anda menjadi budak dari ponsel Anda. Paham? Aku bukan hanya ada, tapi semakin banyak "Suka" yang kupunya, semakin berharga aku. Tetapi aku meragukannya. "Apa mereka sungguh-sungguh menyukainya, atau mereka hanya asal tekan tombol saja?" Jadi semua hal ini sarat akan rasa tak aman, dan itulah ketakbahagiaan itu, kan? Sikap yang lebih menguntungkan ialah terus melanjutkan hidup kita dan mencoba membantu sesama sebisa kita, mencoba untuk tidak mencelakakan mereka semampu kita. Lanjut saja seperti itu.

Pelatihan Sikap lewat Pemahaman Pikiran Bersekat

Pelatihan sikap, pembersihan sikap, punya banyak sekali tingkatan yang dapat kita upayakan. Kita dapat memandang segala sesuatu lewat golongan batin yang berbeda-beda, kotak batin yang berbeda-beda – ganti saja kotaknya. Alih-alih memakai kotak batin "orang tukang mengeluh yang menjengkelkan", kita pandang orang itu dalam kotak batin "orang tak bahagia yang kesepian", dan kemudian itu mengubah seluruh cara kita menghadapi orang tersebut karena kita menyadari bahwa tak ada satu hal pun yang mengada dengan sendirinya dalam diri orang itu, yang membuat mereka tampak menyebalkan atau ini dan itu. Sikap kita atas cara kita memandang merekalah yang mempengaruhi cara kita mengalami diri mereka dan menghadapi mereka.

Dan beberapa golongan batin itu memang sama sekali tak membantu, contohnya: golongan "istimewa". "Ini orang yang istimewa. Ini saat yang istimewa." Anda pernah berpikir betapa semena-mena jadinya saat kita renungkan makna Tahun Baru atau hari libur atau hari lahir atau semacamnya? "Hari ini begitu istimewa." Apa yang membuatnya istimewa? Orang memutuskan bahwa itu istimewa. Tak ada yang secara khusus istimewa pada tanggal 1 Januari. Bahkan secara ilmu angkasa hal itu tak punya kaitan dengan apapun. Bumi mengelilingi matahari. Tak ada awalan, bahwa: "Ah, inilah hari pertama dari tahun ini." Yang Anda sebut sebagai "pertama" itu sepenuhnya asal saja. Yang pertama itu tak ada. Setiap budaya punya Tahun Baru-nya sendiri-sendiri, jadi apanya yang istimewa? Tak ada yang istimewa. Semisal Anda bagian dari suatu budaya dan setiap orang di situ merayakannya, boleh saja. Anda tak harus jadi tukang gerutu – "Oh, bodohnya," – tapi Anda tak perlu pula jadi kelewat riang dan membesar-besarkannya.

Jadi, kalau kita memahami sifat dasar dari cara kerja pikiran bersekat ini dan golongan-golongan dan kotak-kotak batin dan ciri atau fitur penentu ini – jika kita memahami semua itu, maka kita bisa menggunakannya. Gunakan ketika bisa menolong kita, dan tinggalkan saat tak membantu sama sekali. Inilah beberapa asas yang ada dalam pelatihan sikap.

Kita punya sedikit waktu untuk tanya-jawab, tapi mungkin kita boleh hening sejenak untuk mencerna sedikit apa yang telah kita bicarakan. Tidak gampang memang memahaminya.

Baik. Ingatlah bahwa mengubah sikap, memperbaikinya, itu butuh dorongan (alasan kita mau melakukannya) dan butuh banyak latihan. Dalam meditasi, kita harus dengan sadar mencoba memandang segala hal dengan sikap yang beda, sikap yang lebih bermanfaat. Semakin terbiasa kita dengan hal ini lewat latihan yang berulang-ulang, semakin alamilah ia muncul dalam hidup sehari-hari kita. Kita hanya perlu mengingatkan diri kita dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa saat kita merasa tak bahagia: "Hei, yang kupikirkan itu cuma aku, aku, aku."

Ada yang mengundang kita makan, kita datang, dan ternyata makanannya tidak kita suka. Kita jadi amat tak senang: "Aih, aku tak suka ini." Tapi kemudian kita pikirkan orang yang mengundang kita, orang yang membuatkan hidangan itu. Mereka tidak berniat membuat sesuatu yang tak kita suka. Niat mereka adalah untuk membuat makanan yang enak untuk kita. Dengan begitu, dengan melihatnya dari sisi orang yang mengundang kita, sekalipun kita tidak menyukai makanan itu, kita bisa cicipi sedikit, tapi kita tak membesar-besarkannya, dan kita jadi tidak terlalu menderita.

Pelatihan sikap adalah sebuah jalan yang amat panjang, tapi jalan yang amat berharga untuk ditempuh.

Tanya-Jawab

Sekarang, ada pertanyaan?

Peserta: Apakah jalan kita tempuh ini ada ujungnya? Apa kita bertujuan untuk memperoleh suatu hasil? Dan jika hasil semacam itu tak ada, mengapa kita harus melakukannya?

Alex: Hasil akhirnya, atau tujuannya, bisa ada pada berbagai tingkatan. Salah satu tujuannya adalah untuk memperoleh pembebasan dari perasaan-perasaan gelisah. Itu jika kita lihat dari sisi kita sendiri. Atau, tujuan yang diniatkan sesungguhnya ialah supaya mampu menolong orang lain dengan lebih baik lagi. Kalau saya terus-menerus bersikap negatif dan perasaan saya naik dan turun, hal itu bakal menjadi satu rintangan besar dalam menghadapi orang lain dan mencoba membantu mereka.

Bahkan pada tingkat yang amat duniawi, semisal Anda dokter atau seorang pelayan atau wiraniaga di sebuah toko yang mencoba melayani orang lain, seseorang yang mencoba menolong orang lain, Anda tak boleh kalah oleh perasaan-perasaan gelisah atau perasaan "Suasana hatiku kacau" atau hal-hal semacamnya. Semisal ada pelanggan terakhir di hari itu, alih-alih merasa suntuk – "Oh, aku sudah capek. Aku sungguh sedang tak ingin menghadapi mereka," dan seterusnya – Anda berpikir, "Pelanggan pertama dan pelanggan terakhir di hari ini, kedua-duanya ingin dibantu. Tak ada bedanya." Dengan memikirkan orang lain, cobalah hadapi mereka sebaik yang Anda bisa. Atau cobalah membayangkan diri berada di kedudukan mereka: "Kalau aku ini pasien terakhir si dokter hari ini, bukankah aku pun menginginkan perhatian dan kepedulian yang sama dengan yang diberikan pada pasien pertama? Tentu saja begitu."

Tentu, ketika kita lihat hal ini secara lengkap dalam cara Buddha, titik akhirnya ialah menjadi seorang Buddha sehingga Anda mampu menolong setiap orang sebanyak mungkin. Begitupun, pada tingkat kita yang biasa ini, ada banyak jenis manfaat yang dapat kita peroleh. Tapi yang penting ialah untuk tidak membesar-besarkan tujuan itu dan tidak membesar-besarkan aku yang di sini ini mencoba mencapai tujuan ini dan perasaan "Aku tak cukup mampu" atau segala macam lika-liku perasaan yang mungkin kita lalui. Sekali lagi, jangan membesar-besarkannya. Kalau Anda berpikir, "Oh, tujuan ini sukar, dan tak mungkin. Aku takkan pernah bisa mencapainya," maka jadinya akan betul-betul sulit.

Ada pertanyaan lain?

Peserta: Anda tadi menyebutkan istilah pikiran bersekat dan juga istilah lain, pikiran nirsekat. Bisa tolong jelaskan sedikit tentang hal itu?

Alex: Kata pikiran itu kata yang susah. Kita pakai saja istilah kegiatan batin. Pikiran bersekat atau kegiatan batin bersekat adalah cara pandang terhadap berbagai hal secara bergolong-golongan, atau lewat kotak-kotak batin. Dan, hal ini tidak terbatas hanya pada pikiran lisan saja. Banyak orang yang berpikir bahwa pikiran bersekat itu hanyalah suara yang berbunyi di dalam kepala kita dan jika Anda dapat mengheningkan suara itu, maka Anda jadi nirsekat. Bukan begitu perkaranya. Bahkan binatang sekalipun, cita mereka berjalan lewat golongan-golongan: "anakku" untuk si ayam, atau "kandangku" untuk si sapi, "tuanku" untuk si anjing. Nirsekat itu pada dasarnya ialah bahwa kita menyerap keterangan tapi kita tak menaruhnya dalam kotak. Meski begitu, ini bukan berarti Anda tak tahu apa keterangan-keterangan itu. Ini memang amat sukar untuk dipahami. Saat orang bicara tentang tanggapan pancaindera kita, tanggapan pancaindera itu nirsekat, tapi hanya berlangsung sepersekian detik saja.

Anda bisa bayangkan hal ini secara kasarnya saja. Saya lihat Anda. Dengan melihat saja, saya tahu bahwa Anda pria, bukan wanita. Nah, dari situ ini jadi menarik. Apa ciri yang membantu saya menandai apa yang pria dan apa yang wanita? Saat kita taruh ini ke dalam kotak batin kita, kotak batin itu punya citra batin yang jadi acuannya. Jika Anda memikirkan seorang pria atau seorang wanita, Anda punya semacam citra batin yang mewakili seperti apa seorang pria atau wanita harusnya terlihat menurut seperti apa Anda pikir pria dan wanita itu seharusnya terlihat. Dalam artian, dalam hati saya membandingkan Anda dengan citra batin ini dan mengamatinya cocok apa tidak. Nah, ingat, ini terjadi dalam hitungan sepersekian detik, secara tak sadar.

Jangan pikir bahwa, jikalau itu nirsekat, itu berarti bahwa Anda tak tahu apa-apa, bahwa Anda tak mengenali apapun. (Mengenali bukan kata yang tepat betul, sebab mengenali itu berarti mengenal kembali. Jadi, lagi-lagi ada pembandingan di sini.) Anda tahu apa adanya hal-hal itu. Seorang Buddha itu nirsekat. Seorang Buddha tahu apa adanya setiap hal itu, tapi tak mencocokkannya ke dalam kotak-kotak batin. Coba pikirkan itu. Ketika Anda memandang segala hal lewat kotak batin, di situ ada pengharapan, kan, bahwa hal-hal itu akan tetap tinggal di kotak itu? Contohnya, "anjing baik", dan Anda berharap bahwa anjing itu akan baik pada Anda dan tidak menggigit Anda. Saat Anda nirsekat, Anda tak berpengharapan sama sekali. Maksud saya, Anda tahu itu anjing, anjing itu bisa menggigit, anjing itu bisa ini dan itu, tapi Anda tidak membekukannya ke dalam sebuah kotak, sebuah golongan, seolah semua hal itu ada di dalam kotak.

Itu sedikit penjelasan, setidaknya, menurut pemahaman saya sekarang. Saya tak bisa bilang itulah pemahaman yang terdalam. Saya yakin bukan.

Peserta: Kami akan mencoba mencerna semua keterangan yang Anda beri pada kami selama sekitar setahun atau setengah tahun sampai kunjungan Anda berikutnya. Selagi itu, mungkin ada orang yang akan meminta nasihat pada kami. Bagaimana seharusnya kami menghadapi orang itu, dan apa yang bisa kami nasihatkan? Haruskah kami mencoba menyebutkan semua jenis pelatihan sikap yang Anda bicarakan ini – seperti "tak ada yang istimewa" dan seterusnya – atau haruskah kami membiarkan saja mereka melalui jalan hidup mereka sendiri dan memperoleh pengalaman mereka sendiri?

Alex: Saya pikir semuanya bergantung pada tingkat minat yang orang itu punya dan kemampuan yang mereka miliki untuk memahaminya. Yang akan Anda jelaskan pada seorang anak kecil dan seorang dewasa itu agaknya akan berbeda. Asas umum yang kita ikuti ialah jelaskan segala sesuatu secara umum terlebih dahulu. Kemudian jika orang tersebut sungguh berminat, maka ia akan bertanya lagi untuk penjelasan yang lebih teperinci. Jadi, jangan langsung banjiri mereka dengan terlalu banyak keterangan. Itu hal yang harus saya ingat ketika saya mengajar.

Begitupun, ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu untuk satu orang, dimana Anda dapat menyesuaikan sesuatu itu dengan kepentingan atau selera orang tersebut, dan melakukannya untuk sekelompok orang. Kalau dengan sekelompok orang, ya... Seperti cara Dalai Lama mengajar. Di awal-awal, ia akan memberikan sesuatu yang amat umum sehingga seluruh hadirin akan mampu memahaminya. Akan tetapi, ia turut pula menyertakan sesuatu yang sungguh pelik dan teperinci untuk hadirin yang lebih terpelajar. Jadi, jika Anda berhadapan dengan kelompok besar dan isinya orang-orang yang beragam, maka Anda coba beri sedikit hal yang akan bermanfaat bagi tiap jenis orang yang hadir di situ.

Tapi, yang paling penting, kita tidak sok. Kita tidak berpura-pura bahwa kita paham lebih dalam dari yang sebenarnya atau bahwa kita sudah berada pada pencapaian atau peraihan dengan tingkat yang lebih tinggi dari yang sebetulnya. Katakan saja, "Seperti ini tingkat pemahamanku. Jika Anda ingin yang lebih mendalam, coba lihat sumber yang lain." Dan jika Anda tidak tahu jawabannya dan tidak tahu cara menjawabnya, akui saja; jangan asal mengarang. Ada berbagai sumber yang dapat Anda sarankan pada orang-orang: ada situsweb saya, ada banyak buku, ada banyak guru lain, dan seterusnya. Masing-masing dari kita ini tentu punya batasan, tapi jika kita tulus dan tidak berpura-pura, maka kita tidak membodohi orang lain. Asasnya ialah supaya mereka menyelidiki lebih jauh untuk melihat, "Yang dikatakannya itu masuk akal atau tidak?"

Saya pikir kita bisa akhiri sampai di sini. Saya haturkan banyak-banyak terima kasih. Terima kasih.