Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Melatih Sikap Kita dalam Kehidupan Sehari-hari: Tak Ada yang Istimewa

Alexander Berzin
Kiev, Ukraina, November 2012

Babak Dua: Kecanduan Jejaring Sosial dan Pesan Singkat

Ulasan

Kita lanjutkan pembahasan kita tentang cara melatih dan memperbaiki sikap kita dalam kehidupan sehari-hari. Ini satu ajaran yang menyebar amat luas di Tibet, ajaran Buddha Tibet, dan ada tersedia banyak naskah yang membicarakan pokok bahasan ini dalam rincian yang dalam. Anda bisa menemukan beberapa dari kumpulan naskah itu, kuliah dan terjemahan, di situsweb saya. Dalam seminar kita di akhir pekan ini, saya tidak akan membahas naskah-naskah ini secara teperinci – Anda bisa membacanya (dalam bahasa Rusia juga). Saya disarankan untuk membicarakan cara menerapkan hal ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Semalam kita memulai pembahasan secara umum tentang apa sebetulnya yang kita hadapi di sini. Yang kita hadapi ialah pengalaman kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita menjalani tiap-tiap saat hidup kita. Kitalah yang mengalaminya; orang lain tidak. Sekalipun kita siarkan segala sesuatunya di Facebook dan Twitter, tetap saja kita yang mengalaminya, bukan orang lain.

Sebetulnya ini pokok yang amat menarik, bahwa akhir-akhir ini begitu banyak orang yang hampir – saya rasa saya harus gunakan kata kecanduan pada pesan singkat (SMS) dan memasang segala macam perasaan dan perbuatan mereka seharian di Facebook dan Twitter. Kemudian kita bertanya, "Apa beda antara membaca perkara kehidupan sehari-hari orang lain dan kehidupan sehari-hari kita sendiri?" Ada sedikit jarak, kan, antara pengalaman kita atas hidup kita sendiri dan apa yang orang lain alami dalam hidup mereka, khususnya ketika pengalaman itu diutarakan lewat beberapa kata saja.

Walau kita dapat berbelarasa dengan orang lain dan peristiwa yang dialaminya, itu tidak sama dengan perasaan bahagia, atau tak bahagia, atau hambar yang kita miliki saat menjalani pengalaman kita sendiri. Inilah yang harus kita hadapi dalam hidup sehari-hari, tingkat yang paling mendasar. Kadang kita merasa baik, kadang tidak merasa baik. Kadang kita merasa bahagia, kadang tidak merasa bahagia. Kadang tampak seolah kita tidak merasa apa-apa, hambar saja. Walaupun kita ingin bahagia, suasana hati kita naik dan turun setiap waktu, dan suasana hati tampak tidak senada atau sesuai dengan apa yang sedang kita lakukan. Bahkan saat kita sedang tidak melakukan apapun, suasana hati kita naik dan turun, dan kita tampaknya tak punya kendali kuat atas hal itu, kan? Saat kita bicara tentang pelatihan sikap, kita bicara tentang cara memetik hasil terbaik dari sebuah keadaan sembari kita melalui tiap saat dari hidup kita dan mengalami apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita kerjakan.

Kita telah bahas dua pokok utama yang amat penting dalam cara kita menghadapi kehidupan kita. Yang pertama ialah sikap membesar-besarkan kadar pentingnya perasaan kita. Kita menghebohkan perasaan tak bahagia, sehingga kita membuatnya tambah parah. Karena kita merasa tak aman dengan perasaan bahagia, kita menghancurkannya. Ketika kita merasa hambar, kita ketakutan karena mengira bahwa kita matirasa. Kita jadi khawatir, dan itu membuat kita jadi tak bahagia. Kita tidak puas dengan hanya merasa sangat tenang atau santai; sesuatu harus terjadi setiap waktu – jenis perasaan yang membikin kita ingin hiburan melulu, musik melulu, dan seterusnya. Atau, orang-orang ini, yang menyalakan televisi pada saat mereka bangun dan membiarkannya menyala sepanjang hari, walau tak ditonton, karena mereka takut akan keheningan. Mereka butuh sejenis rangsangan. Itu membuat mereka merasa hidup.

Saya punya bibi yang tidur dengan televisi menyala. Televisinya menyala dua puluh empat jam sehari. Dan dia suka membiarkan televisinya menyala saat dia tidur karena kalau dia berguling di tidurnya dan merasa masih ada cahaya tipis di malam hari, itu berarti televisinya masih menyala. Jadi dia takut betul akan keheningan. Aneh sekali, bukan? Dan bukan hanya aneh – itu bahkan menyedihkan.

Tidak Ada yang Istimewa dengan Perasaanku

Asas pertama untuk menghadapi sikap kita dan mencoba memperbaiki sikap kita terhadap naik dan turunnya kehidupan ini adalah dengan tidak mengistimewakannya: "Tak ada yang istimewa dengan aku yang kadang-kadang merasa sangat bahagia. Kadang aku merasa baik saja. Kadang hanya tenteram dan tenang. Tak ada yang istimewa dengan itu." Seperti ombak di samudera saja. Kadang ombaknya tinggi, kadang Anda berada di cekungan antara dua ombak, kadang samuderanya tenang – bukan masalah. Itu memang sifat samudera, kan? Tentu saja, kadang ada badai, ombak-ombaknya luar biasa besar, dan air bergolak kencang. Namun, kalau kita pikirkan samudera secara keseluruhan, dari kedalaman sampai ke permukaannya, hal itu tidak begitu mempengaruhi kedalaman laut, bukan? Itu cuma sesuatu yang terjadi di permukaan sebagai akibat dari sebab-sebab cuaca dan segala anasir yang mempengaruhi cuaca. Bukan masalah. Bukan kejutan pula.

Cita kita ini seperti samudera, dan akan amat membantu jika kita bersikap bahwa di permukaan kita boleh jadi mengalami ombak naik-turun perasaan bahagia, tak bahagia, perasaan ini dan itu, tapi di kedalaman diri kita tak terganggu sama sekali. Nah, itu bukan berarti bahwa kita tidak mencoba memiliki tataran cita yang lebih tenang atau bahagia. Tentu hal itu lebih kita sukai dibanding badai tadi, kan? Hanya saja, ketika badai perasaan dan rasa yang parah terjadi, kita tidak melihatnya sebagai wujud gergasi. Kita menghadapinya saja sebagaimana ia adanya.

Banyak orang mencoba memperbaiki diri dengan cara-cara Buddha. Mereka berupaya bertahun-tahun dan tampaknya mengalami kemajuan: untuk tidak terlalu sering marah, tidak iri atau jahat pada orang lain. Lalu, setelah bertahun-tahun mencoba membina kebiasaan yang lebih berfaedah ini, mereka kembali lagi menjalani hidup yang dipenuhi amarah, atau mereka jatuh cinta pada seseorang dan jadi tergantung atau melekat padanya, atau mereka melalui huru-hara perasaan sekali lagi. Masalahnya di sini ialah mereka jadi patah semangat. Sumber dari patahnya semangat mereka ialah bahwa mereka lupa akan pendekatan "tak ada yang istimewa" ini. Kecenderungan dan kebiasaan kita ini amat sangat dalam, begitu mengakar dan butuh banyak sekali waktu dan upaya untuk mengatasinya. Untuk sementara kita bisa membereskannya, tapi kecuali kita sungguh-sungguh mencari sampai ke akar mengapa kita marah, lambat-laun hal itu akan kambuh lagi. Saat kambuh lagi, asasnya ialah untuk tidak menghebohkannya: "Bukan sesuatu yang istimewa. Aku belum lagi jadi makhluk yang terbebaskan. Aku belum lagi jadi Buddha, jadi tentu saja kadangkala amarah dan kemelekatan muncul lagi. Kadang-kadang aku tidak merasa bahagia, dan kadang suasana hatiku tidak ceria, kadang aku tak ingin berbuat apa-apa atau membantu orang lain. Tentu saja, itu alami. Bukan masalah, bukan sesuatu yang istimewa." Saat kita membesar-besarkan kadar pentingnya hal itu dan mengistimewakan serta membuatnya jadi mengerikan, kita jadi mandeg, kan?

Maka gagasannya di sini ialah bahwa saat kita memahami dan yakin betul bahwa tak ada yang istimewa dengan pengalaman atau perasaanku, sekalipun itu berupa waskita yang luar biasa atau sejenisnya, kita hadapi saja. Seperti, katakanlah, jari kaki Anda menghantam meja saat Anda berjalan ke sebuah ruangan gelap, dan Anda merasakan sakit. Mau apa lagi? Tentu saja rasanya sakit kalau jari kaki kita terantuk. Pastinya kita perlu periksa apa ada tulang yang retak atau semacamnya. Maka periksalah, tapi kemudian Anda lanjut. Bukan masalah. Jangan heboh karenanya – jingkrak-jingkrak dan berharap ibu kita datang dan menciumnya sehingga sakitnya reda. Inilah cara kita mencoba menjalani hidup dengan lebih nyaman, tak begitu bergolak. Kita jadi bisa lebih tenang, apapun yang terjadi dan apapun yang kita rasakan.

Tak Ada yang Istimewa dengan Diriku

Selain melebih-lebihkan dan mengistimewakan perasaan bahagia dan tak bahagia yang kita alami, kita juga membesar-besarkan kadar pentingnya aku, dan itulah sebetulnya pokok utama dari ajaran-ajaran pelatihan-sikap ini. Titik berat utamanya ialah bahwa permasalahan kita, kesukaran kita dalam kehidupan, berasal dari hal yang saya sebutkan kemarin: peduli diri sendiri. Itu berarti bahwa kita gandrung akan dan selalu terpaku pada aku, dan diri kita sajalah yang kita pedulikan. Jadi di situ ada segi untung-diri sendiri atau keakuan, apapun perbedaan antara dua istilah itu, dan sikap mementingkan diri sendiri dan sikap asyik-diri. Ada banyak sekali cara untuk menggambarkan sikap ini dan segala sesuatu yang menyertainya.

Pada pokoknya, saat kita menjadikan diri kita sesuatu yang istimewa dan seseorang yang istimewa, inilah sumber sebenarnya dari permasalahan kita. Kita pikir, "Aku ini amat penting. Karena itu, perasaanku juga amat penting." Jika kita begitu ambil pusing dengan "aku, aku, aku", tentu saja kita khawatir tentang: "Sekarang aku merasa tak bahagia," "Sekarang aku merasa bahagia, tapi aku merasa tak aman karenanya," "Sekarang aku merasa tenang dan hambar." Itu karena kegandrungan kita akan diri kita sendiri.

Mengapa Kita Berbagi Perasaan di Jejaring Sosial?

Dalam ajaran Buddha, kita selalu bicara tentang menghindar dari dua kutub, dan memilih jalan tengah. Kutub pertama ialah menghebohkan segala sesuatu – "aku, aku, aku," dan perasaanku. Aku harus menyiarkannya kepada dunia karena setiap orang peduli. Sebetulnya, tak ada yang peduli apa sarapanku pagi ini atau apa aku menyukainya atau tidak. Entah bagaimana, kita justru berpikir itu amat penting. Anda tekan tombol "Suka" pada laman Facebook. Tampak amat palsu, bukan? Sebetulnya ini perkara yang amat menarik untuk dikaji. Mengapa saya menekan tombol "Suka"? Mengapa saya peduli dengan berapa banyak orang yang menyukai sarapan saya pagi ini? Dan itu membuktikan apa? Itu hal menarik untuk dipikirkan. Coba Anda pikirkan hal itu sejenak sekarang.

Peserta: Saya pikir mungkin itu karena orang-orang amat jarang bercakap-cakap; karena itu mungkin mereka sekadar ingin berbagi saja dengan orang lain.

Alex: Saya kira ada rasa kesepian di situ, sehingga mereka ingin berbagi dengan orang lain. Begitupun, seringnya hal itu mengasingkan Anda dari orang lain karena alih-alih berhubungan langsung, Anda melakukannya pada lingkungan internet atau ponsel, yang Anda pikir lebih terlindungi.

Yang saya sarankan untuk Anda amati ialah: mengapa kita merasa bahwa kita harus berbagi perasaan kita? Di satu sisi, kita seperti berpikir bahwa setiap orang sungguh peduli dan penting kiranya orang lain mengetahui apa sarapanku tadi dan apa aku menyukainya atau tidak – tentu saya menggunakan contoh konyol – dan jika yang suka itu sedikit, aku kemudian merasa amat tak bahagia. Kita seperti membuat si aku dan perasaanku ini kelewat penting, kan? Pula, kita membuat pendapat orang lain atas perasaanku itu jadi kelewat penting. Alih-alih, dengan percaya diri – "Baik, ini yang kurasakan sekarang. Terus kenapa?" – dan melanjutkan hidup, kita malah mengirim SMS ke seluruh teman kita, sambil berpikir kita ini begitu penting sehingga mereka akan betul-betul meninggalkan kegiatannya untuk membaca SMS kita dan melihat tentang sarapan kita di laman Facebook. Bukankah itu sebuah pelebih-lebihan atas kadar pentingnya diri kita ini? Di situ pula ada rasa tak aman. Sehingga, ini jadi tataran cita yang tak begitu damai, kan? Lalu, kita terus-menerus memeriksa: "Aku tak ingin melewatkan suatu apapun. Apa yang kulewatkan?" Ini gejala yang amat menarik dan merupakan satu perkara yang punya titik positif, tapi juga memunculkan masalah.

Tapi bukan itu pokok yang ingin saya buat. Pokoknya ialah menghindar dari dua kutub itu. Kutub pertama ialah bahwa aku menghebohkan diri dan perasaanku, sehingga kemudian setiap orang harus tahu, bukan urusan mereka peduli atau tidak, karena kita pikir mereka seharusnya peduli sebab kita ini begitu penting. Kutub yang kedua ialah pengabaian perasaan sepenuhnya: "Aku ini bukan apa-apa."

Ada saat-saat dimana memang penting bagi kita untuk berbagi dengan orang lain tentang perasaan kita, seperti ketika kita sedang tidak bahagia dengan hubungan kita dengan seseorang. Jadi, dalam hubungan antarpribadi, kita perlu mengatakannya dan tidak memendamnya saja saat ada suatu kebutuhan tertentu untuk orang yang satunya, seandainya ia kurang peka, untuk mengetahui perasaan kita: "Yang kau katakan tadi sangat menyakitiku." Namun, lakukanlah itu secara seimbang, tanpa berlebihan pula tanpa penyangkalan. Kita pun mencoba untuk memahami dalam keadaan semacam itu, secara khusus saya maksudkan tentang hubungan antarpribadi, bahwa kita bukan satu-satunya orang dalam hubungan itu – ada orang yang satunya lagi – sehingga perasaan orang tersebut sama pentingnya (meski tidak untuk dilebih-lebihkan pula).

Jadi, saat kita bicara tentang pelatihan sikap, salah satu seginya ialah bahwa yang berperan di sini bukan hanya sikap saya saja, tapi sikap semua orang yang terlibat dalam perkara itu. Dengan kata lain, sudut pandang saya bukanlah satu-satunya, kan? Itulah salah satu dari asas-asas yang digunakan dalam terapi keluarga. Anda pertemukan seisi keluarga itu, dan tiap anggota keluarga mengutarakan pengalaman mereka atas suatu perkara di rumah. Maka, jika orangtua saling bertengkar, mereka jadi tahu dari si anak betapa hal itu mempengaruhinya dan seperti apa si anak mengalami hal ini. Jika tidak, mereka mungkin tidak menyadarinya. Sudut pandang mereka bukanlah satu-satunya hal yang terjadi dalam susunan permasalahan di dalam keluarga itu.

Berbagai Cara Mengatasi Sikap Peduli Diri Sendiri

Titik berat utama dalam cara lazim penyajian pelatihan sikap ini adalah dengan mencoba mengatasi sikap peduli diri sendiri, sikap asyik-diri ini, dan dengan membuka diri untuk memikirkan orang lain. Kemarin saya telah paparkan beberapa saran yang bisa kita gunakan untuk memulainya. Salah satu caranya adalah dengan membayangkan suatu keadaan dengan kita di sisi sini, orang lain di sisi sana, dan kita berpikir, "Apa orang yang satu ini lebih penting dari semua orang lainnya?" Kemarin kita gunakan contoh terjebak di kemacetan. "Apa aku lebih penting dari setiap orang lain yang terjebak di dalam kemacetan ini sehingga aku harus sampai ke tujuanku dan aku tak peduli dengan nasib yang lainnya?"

Hal yang penting di sini ialah bahwa ketika kita membuka diri untuk memikirkan orang lain yang terjebak di kemacetan, hal itu berdasar pada kenyataannya. Kenyataannya ialah bahwa setiap orang memang terjebak di kemacetan itu. Kenyataannya bukanlah hanya aku saja yang terjebak, kan? Jadi, saat kita bicara tentang memperbaiki sikap kita, yang kita maksudkan ialah memperbaikinya atas dasar kenyataan – melihat apa kenyataannya dan menyesuaikan sikap kita dengan kenyataan itu. Menarik sekali mengingat salah satu kawan saya, seorang guru Buddha juga, pernah berkata bahwa Anda dapat menyimpulkan pendekatan Buddha hanya dengan satu kata, dan kata tersebut ialah nyata (realisme).

Lantaran cara beberapa orang menyajikan ajaran Buddha, beberapa orang berpikir bahwa segala sesuatunya mencakup pengejawantahan khayali dan upacara, dan segala macamnya, yang pada dasarnya ibarat meniti jalan ke Dunia Disney Buddha. Tapi sama sekali bukan itu inti utama dari ajaran Buddha. Semua itu ada – bukan kita mau menyangkal bahwa hal-hal itu merupakan bagian dari pelatihan Buddha – tapi mereka adalah cara untuk mencoba lebih sesuai dengan nyata (realisme). Saat menggunakan berjenis-jenis cara ini, orang jadi paham apa beda antara kenyataan dan khayalan, dan orang mulai paham kekuatan pembayangan.

Kita ini manusia. Apa yang membedakan kita dari binatang? Ada banyak hal yang bisa kita ajukan memang, tapi yang betul-betul mencolok ialah bahwa kita memiliki kekuatan kecendekiaan dan kita memiliki kekuatan pembayangan. Kita mampu menggunakan keduanya jika kita pelajari caranya, jika kita pahami nilainya, dan kemudian belajar menggunakannya. Contoh sederhana saja: Misalnya, kita memiliki kemelekatan dan hasrat seksual yang pekat dengan seseorang. Ada banyak cara mengatasi hal itu, karena itu memang bisa amat sangat mengganggu. Sikap kita dalam hal ini ialah apa yang bisa kita ubah, dan kita bisa mengubahnya dengan menggunakan kecendekiaan dan pembayangan kita.

Maksudnya menggunakan pembayangan itu bukan berarti membayangkan bahwa kita mengatasinya dengan: "Aku adalah seorang dewa Buddha dengan sekian lengan dan wajah dan kaki, dan begitu pula orang itu." Itu cuma satu cara untuk melihat tingkat lebih dalam dari diri orang lain. Segala wajah dan lengan dan kaki itu mewakili berbagai segi cita dan daya yang dimiliki orang. Anda tidak secara harfiah berpikir lewat sosok-sosok khayalan ini.

Di tingkat lain, kita dapat menggunakan kecendekiaan dan pembayangan kita. Seorang guru Buddha dari India, Aryadewa, mengutarakannya dengan amat menarik. Ia berkata, "Kalau seekor babi merasa pasangan seksnya begitu menarik, apa yang membuat pasangan kita istimewa?"Dengan kata lain, sifat menarik secara seksual itu sepenuhnya muncul dari cita orang yang melihat – bukan sesuatu yang secara lahir tertanam pada sasaran ketertarikan itu – karena kalau tidak, si babi tadi seharusnya menganggap pasangan kita amat cantik dan menarik, dan kita pun seharusnya melihat pasangan si babi itu menarik. Jadi, secara cendekia, hal itu benar. Dan dengan pembayangan kita, kita bayangkan babi itu, dan itu pun jadi masuk akal. Tak ada yang istimewa dengan seseorang yang kita lihat amat menarik. Aku melihat orang jenis ini yang menarik, dan orang ini melihat orang jenis itu yang menarik. Seperti di rumah makan: ada yang mau ini dari daftar hidangan, ada yang mau itu dari daftar hidangan. Terus kenapa? Tak ada yang istimewa.

Sebetulnya jadi sangat menarik ketika Anda melebarkan cara pandang ini. Mengapa setiap orang harus suka mengerjakan segala sesuatu seperti caraku mengerjakannya? Sikap asyik-diri dan peduli diri sendiri inilah yang berada di balik perasaan itu, sehingga: "Carakulah yang tepat, dan itu benar" dan kita lalu jengkel dengan seseorang yang mengatur meja kerja mereka atau map komputer mereka, atau sejenisnya, dengan cara berbeda: "Salah itu. Jelek sekali caranya." Lalu kita jadi orang yang gila kendali – kita harus mengendalikan cara orang lain mengerjakan segala sesuatu, dan harus dilakukan dengan cara kita – itu justru membuat kita jadi merasa tak aman, kan? Kita selalu saja tegang: "Oh, bukan begitu caranya!" Itu bukan berarti bahwa kita membiarkan kekacauan amburadul terjadi saat orang bekerja untuk kita, tapi Anda mengakui bahwa ada berbagai cara untuk mengerjakan sesuatu, persis seperti ada berbagai sumber ketertarikan seksual. Tidak berarti bahwa hanya milik kitalah yang ada.

Manakala kita membaca atau mendengar tentang pelatihan sikap ini, yang titik berat utamanya ialah untuk berhenti berasyik-diri dan selalu peduli pada orang lain, saya tidak berpikir bahwa kita harus bertindak sejauh: "Sekarang aku berupaya untuk kemaslahatan setiap makhluk di semesta ini." Tentu saja bisa kita bawa sampai sejauh itu, seperti dalam contoh yang saya gunakan kemarin: "Aku salah satu dari tujuh milyar manusia di planet ini dan dari binatang dan serangga yang tak terhitung jumlahnya. Setiap orang dapat merasa bahagia, tak bahagia, atau hambar saja. Jadi, tak ada yang istimewa denganku." Kita berpikir tentang perasaan kita dalam lingkung setiap orang, dan kemudian cita kita jadi jauh lebih terbuka, bukan cita "aku, aku, aku" yang tertutup itu. Ambil contoh, pemanasan global. Kita pertimbangkan betapa hal itu akan mempengaruhi setiap orang; bukan hanya diriku saja. Dengan begitu, lingkup kita jadi lebih lebar, dan akan ada lebih banyak tenaga yang betul-betul terlibat di dalamnya, jika kita berpikir dalam kerangka setiap orang sekarang dan selanjutnya.

Tapi, seperti yang sudah saya bilang, kita tidak harus berpikir pada tingkatan penuh seperti itu untuk melakukan perubahan, perubahan yang bermanfaat, dari sikap peduli diri sendiri, ke sikap peduli orang lain. Kita dapat melakukan hal ini pada ukuran yang lebih bersahaja seperti yang saya jelaskan tadi, bahwa sikap kita terhadap segala sesuatu, cara kita mengalaminya – "Bukan hanya aku seorang dalam hubungan ini. "Bukan hanya aku seorang di dalam keluarga ini," dan seterusnya. Pedulilah pada kelompok yang lebih besar. Mungkin bukan setiap orang di semesta ini, tapi mulailah pada jangka yang lebih besar, bukan sedangkal tombol "Suka" di Facebook atau sebaris huruf lewat SMS, tapi pertemuan pribadi sungguhan dengan orang lain.

Nah, tentu saja ini terbatas. Kita bisa menjangkau jauh lebih banyak orang di jejaring sosial dibanding di kehidupan sehari-hari kita. Itu benar. Tapi masalah timbul ketika jejaring sosial maya menggantikan segala jenis persinggungan atau hubungan pribadi – atau lebih tepatnya antarpribadi. Alhasil, Anda sedang bersama seseorang, tapi Anda tak benar-benar bersamanya karena Anda melulu mengirim SMS ke orang lain. Ini gejala yang amat lumrah terjadi sekarang, dan bukan hanya mempengaruhi orang-orang muda atau remaja saja, tapi ada dicatat juga bahwa anak-anak merasa amat sangat diabaikan karena orangtua mereka terus-menerus SMS-an dan tak memperhatikan mereka lagi.

Berbagai Cara Melakukan Pelatihan Sikap

Ada banyak tingkatan melakukan pelatihan sikap ini. Tidak perlu sampai melibatkan jenis laku yang amat ganjil, tapi cukup kita gunakan kecendekiaan kita untuk melihat apa yang makul. Dan yang makul ialah bahwa kita bukanlah satu-satunya orang di semesta ini, dan kita bukanlah orang terpenting di semesta ini, tapi kita merupakan salah satu dari sekian banyak orang dan sekian banyak makhluk di semesta ini (bukan berarti kita bukan apa-apa). Lalu, kita gunakan pembayangan kita untuk menumbuhkan belarasa. Bagaimana Anda memahami masalah orang lain? Bagaimana Anda memahami cara orang lain mengalami segala sesuatu? Dengan menggunakan pembayangan, kan?

Maka itu, dua segi ini, kecendekiaan dan pembayangan, merupakan alat luar biasa yang kita punya dan dapat kita latih. Kita latih kecendekiaan kita dengan mantik, dan kita latih pembayangan kita dengan hal-hal seperti pengejawantahan. Anda membutuhkan kedua-duanya, kedua sisi itu. Anda perlu memahami apa tujuan dari melatih kedua-duanya. Tujuannya bukanlah untuk membikin diri Anda jadi sebuah komputer, pada sisi kecendekiaan, dan di sisi lainnya bukan pula kita bertujuan meraih medali emas Olimpiade karena mampu mengejawantahkan segala jenis rincian renik khayali tersebut. Dari sudut pandang Buddha, kita ingin melatih dua hal ini, pada satu titik, untuk mengatasi kesukaran dan permasalahan dalam hidup kita sendiri, dan pada lingkup yang lebih luas lagi untuk mampu membantu yang lain melakukan hal yang sama. Untuk itu kita perlu memiliki lingkup cita yang amat sangat luas, yang dengannya kita dapat memahami dan berbelarasa dengan setiap orang atas segala sesuatu yang telah terjadi pada mereka dan yang sedang terjadi pada mereka dan yang boleh jadi terjadi selanjutnya. Keduanya, kecendekiaan dan pembayangan, tercakup di dalamnya, kan?

Jadi, pelatihan sikap itu punya berbagai tingkatan, dan dapat dibawa ke kehidupan sehari-hari kita dengan berbagai cara pula. Tingkat yang paling sederhana, setidaknya sepemahaman saya, ialah tingkat "tak ada yang istimewa" ini. Tak ada yang istimewa dengan apa yang sedang terjadi. Setiap saat sepanjang sejarah, orang-orang mengeluh, "Inilah masa-masa terburuk, dan generasi mudanya sungguh buruk dan bobrok." Kalau Anda periksa catatan susastra sepanjang waktu, setiap orang mengatakan hal ini. Jadi, tak ada yang istimewa dengan masa kita ini. (Saya pernah mengikuti kursus kesusastraan di perguruan tinggi yang memusatkan perhatiannya pada pelacakan tema ini dalam sejarah sastra: "Inilah masa terburuk, dan generasi mudanya bobrok atau bangkrut." Dari masa Yunani kuno sampai ke sini, setiap sastrawan mengatakannya.) Tak ada yang istimewa dengan apa yang sedang terjadi, tak ada yang istimewa dengan diriku, dan tak ada yang istimewa dengan perasaanku. Semuanya mengalir terus dan terus dan terus, dikemudikan oleh sebab dan keadaan yang tak berhingga jumlahnya, yang saling-singgung satu dengan lainnya. Kita hanya perlu menghadapinya saja dengan cara sebermanfaat mungkin, dengan menggunakan kecendekiaan dan pembayangan kita, pembayangan untuk berbelarasa dengan yang lain.

Sekarang baiknya kita rehat dahulu. Nanti kita lanjutkan lagi.