Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 3: Bahan Lojong (Latihan Sikap) > Melatih Sikap Kita dalam Kehidupan Sehari-hari: Tak Ada yang Istimewa > Sesi Satu: Tak Ada yang Istimewa dengan Diri dan Perasaan Kita

Melatih Sikap Kita dalam Kehidupan Sehari-hari: Tak Ada yang Istimewa

Alexander Berzin
Kiev, Ukraina, November 2012

Sesi Satu: Tak Ada yang Istimewa dengan Diri dan Perasaan Kita

Pengantar

Terima kasih sekali. Saya sangat gembira bisa kembali ke sini, ke Kiev. Malam ini kita akan mulai serangkaian pembicaraan tentang melatih sikap dalam kehidupan sehari-hari, yang sebetulnya merupakan pokok yang amat luas. Hal ini berhubungan dengan cara kita mengalami hidup. Karena, saya pikir kita semua tahu, hidup itu tidak gampang-gampang amat. Banyak hal terjadi pada kita setiap waktu, dan hal-hal itu muncul dari sebuah rentangan sebab dan keadaan yang amat luas.

Misalnya, kalau dipikir-pikir, apa yang membawa Anda ke sini? Ada lalu-lintas, ada angkutan – yang berarti semua segi fisiknya – dan ada pula fakta bahwa Anda tinggal di kota ini, apapun itu minat Anda, dan mungkin apa yang terjadi di keluarga atau tempat kerja Anda hari ini. Jadi, sebagai akibat dari sejumlah besar sebab dan keadaan, kita di sini bersama, setiap orang dari latar belakang berbeda dan seperangkat sebab dan keadaan yang berbeda, yang membuat kita semua bersama.

Saat duduk di sini, kita mengalami keberadaan kita di sini, menyimak sebuah kuliah dan melihat saya dan penerjemah. Maka pertanyaannya: apa beda Anda yang melihat kami dan menyimak kami dengan kamera video yang melihat dan menyimak kami pula? Apa ada bedanya? Mungkin kamera punya ingatan yang lebih baik dari kita. Dan kamera itu ada di sini juga oleh beragam sebab dan keadaan – kamera dibuat di pabrik, ada yang beli, ada yang pasang, dsb. Jika kita telaah, perbedaannya adalah bahwa kita menyerap keterangan, tapi kita juga punya setakar rasa atas keterangan itu, setakar kebahagiaan atau ketakbahagiaan. Dan itulah sebetulnya perbedaan antara kita dan kamera video atau kita dan sebuah komputer. Komputer dan kamera tidak betul-betul mengalami keterangan yang diserapnya. Kita mengalaminya. Kita mengalaminya dengan merasakan suatu takaran tertentu dari rentangan kebahagiaan dan ketakbahagiaan yang luas ini.

Asas dasar dari kehidupan tampaknya ialah bahwa kita semua ingin bahagia dan tidak ingin tak bahagia, dan itu tentu mengilhami kita untuk bertanya, "Nah, apa kebahagiaan itu? Apa arti keinginan kita itu?" Kebahagiaan, dari sudut pandang Buddha, diartikan sebagai hal yang tidak ingin kita tinggalkan saat kita alami.

Seperti saat Anda memandang sesuatu, takaran kebahagiaannya boleh jadi sangat, sangat rendah, tapi jika kita masih memandangnya, kita tak ingin terpisah darinya. Jika kita tak bahagia karenanya – itu dimaknai sebagai pengalaman akan sesuatu yang memang ingin kita tinggalkan – kita hendak berpaling darinya. Kadangkala kita mengalami rasa hambar; kita tak ingin terpisah atau terus melekat pada sesuatu – seperti biasa-biasa saja.

Kadang-kadang, saat kita berpikir tentang kebahagiaan dan ketakbahagiaan, kita mengacu pada dua kutub ujungnya – senyum yang mengembang atau rasa pilu yang menghantam. Bukan harus hanya perasaan-perasaan yang hebat saja, karena sesungguhnya kita mengalami tiap-tiap saat kehidupan kita. Setiap saat, segala macam hal terjadi, dan seperti saya bilang tadi, hal-hal itu terjadi karena jutaan alasan dan keadaan yang bercampur-aduk. Seperti lalu-lintas di luar sana. Setiap orang yang ada di sana pasti ada di sana karena suatu alasan. Mereka mau pergi ke suatu tempat, dan mereka semua punya ceritanya sendiri-sendiri, kan? Kita pun punya cerita kita sendiri. Jadi inilah keterangan yang ada, dan suka atau tidak suka, seperti itulah cara kita mengalaminya. Bisa juga, kalau Anda melihatnya pada lingkung yang lebih luas, kita dapat menggambarkannya sebagai suasana hati, yang ceria atau muram.

Sifat dari kehidupan ini naik dan turun, naik dan turun, selalu begitu, kan? Suasana hati kita pun tidak selalu senada dengan keterangan yang masuk, dengan peristiwa yang terjadi, dengan apa yang kita kerjakan. Kita melakukan sesuatu yang biasanya kita suka, tapi karena suasana hati sedang muram, kita jadi tak bahagia. Atau kita bisa saja sedang melakukan sesuatu yang tidak selalu asyik, tidak kita senangi secara khusus – seperti melakukan gerak badan saat latihan – tapi kita bahagia; dan kita teruskan. Jadi, memang agak lucu: betapa suasana hati tidak selalu senada dengan apa yang sebetulnya sedang kita perbuat.

Selagi kita mengalami tiap-tiap saat hidup kita, kita ada sikap tertentu terhadapnya (dan inilah pokok bahasan kita di sini, sikap). Apa yang kita maksud dengan sikap? Sikap adalah cara kita menanggap sesuatu. Bisa ada banyak sekali jenis sikap yang kita miliki, dan tergantung pada jenisnya, sikap amat sangat mempengaruhi suasana hati kita. Kerapkali sikap itu diarahkan, sikap kita terhadap suasana hati kita. Nah, dalam keadaan yang biasa, tidak banyak yang benar-benar bisa kita lakukan untuk mengubah naik-turun yang selalu kita alami dalam kehidupan. Sekalipun kita menggunakan obat tertentu atau sejenisnya untuk membuat diri merasa senang, tetap saja naik dan turun itu ada, kalau kita amati jangka-panjangnya. Ketika suasana hati kita naik dan turun setiap saat dan itu bukanlah hal yang benar-benar bisa kita ubah pada tataran diri kita yang sekarang ini, yang bisa kita upayakan adalah sikap kita terhadap suasana hati kita.

Ketika kita bicara tentang melatih sikap kita, sebetulnya ada dua seginya. Segi pertama ialah mencoba membersihkan atau tak lagi bersikap merusak terhadap segala sesuatu. Merusak mungkin istilah yang terlalu keras, jadi mari kita sebut saja tak-bermanfaat. Bisa juga kita pahami dalam artian rusak-diri (dengan kata lain, sikap yang cuma akan membuat kita merasa semakin teruk). Segi kedua dari melatih sikap ini ialah melatih diri untuk memiliki pandangan yang lebih bermanfaat atas segala sesuatu.

Nah, kita tidak sedang bicara tentang hal yang biasanya disebut kekuatan pikiran positif, yang berarti jadi amat yakin – cara pikir yang seperti ini: "Segalanya menakjubkan dan segalanya luar biasa." Bisa menolong memang, tapi mungkin sedikit lugu. Supaya kita punya semacam cara ampuh untuk menghadapi sikap kita dalam cara kita mengalami hidup, kita perlu menelisik sedikit lebih dalam lagi.

Tidak Ada yang Istimewa dengan Perasaanku

Hal yang jadi pusat perhatian saya malam ini ialah sikap kita terhadap perasaan kita, terhadap tingkat bahagia dan tak bahagia ini. Masalah besarnya bagi kita, dan saya pikir sebagian besar kita mengalaminya, adalah bahwa kita membesar-besarkan kadar pentingnya perasaan kita. Kita membesar-besarkan perasaan kita dan diri kita – aku – dan cara kita merasa, dan kemudian kita mengalaminya secara dualistis. Contohnya, ada pandangan atas aku di satu sisi dan ketakbahagiaan di sisi lain, dan aku harus menamengi diriku dari ketakbahagiaan ini – aku takut padanya; aku harus menyingkirkannya. Seperti apa perasaan kita saat bersikap seperti itu? Jadi semakin teruk, kan?

Coba pikirkan itu sejenak. Apa sikap Anda saat suasana hati Anda muram dan Anda tak bahagia? Bukan pula ini berarti cuma saat Anda menangis dan sedih saja; maksud saya, ini terjadi setiap waktu. Anda duduk dan bekerja, atau menonton televisi, atau apapun itu, dan tiba-tiba: "Huh. Rasanya tak enak hati." Apa kita lalu berpikir "Aku di sini, dan sekarang suasana hati yang muram ini datang bagai awan kelam," dan kemudian kita angkat tameng kita – "Aku tak menginginkannya!" – dan kita merasa amat tak aman, kita khawatir karenanya? Anda merasakan itu? Pernah Anda alami? Coba pikirkan sejenak. Seperti: "Oh, tidak. Suasana hatiku jadi muram lagi." Begitu, kan? Lalu, "Bukan itu yang kumau." Semakin kita terpaku pada betapa teruknya hal ini, semakin parah rasanya, kan? Masalahnya di sini adalah bahwa kita membesar-besarkan apa yang terjadi dan kita memunculkan dua hal darinya – aku di sisi sini dan suasana hati yang muram di sisi sana.

Jadi, bagaimana dengan kebahagiaan? Lagi-lagi, kita cenderung mengalaminya secara dualistis – aku di satu sisi dan kebahagiaan di sisi lain. Kemudian kita takut kehilangannya, dan karena itu kita bergantung padanya; kita mencoba menggenggamnya. Kita merasa tak aman karena kita takut ia akan berlalu – kita akan kehilangannya; kita akan berhenti merasa senang. Kita jadi tak bisa santai dan menikmati saja perasaan bahagia itu. Rasa tak aman pada diri kita justru menghancurkan kebahagiaan itu, kan? Coba pikirkan itu. Saat Anda merasa senang, apa Anda merasa sedikit tak aman karenanya? Tentu, bisa saja muncul segala macam kepelikan seperti, "Aku tak pantas merasa senang," dan sebagainya. Itu kepelikan yang lebih jauh lagi.

Lucu jadinya kalau kita pikir-pikir betapa kita kadang agak seperti binatang. Anda pasti tahu cara binatang, misalnya anjing, makan. Harusnya anjing itu menikmati makanannya, tapi ia malah selalu mengawasi sekelilingnya, dan khawatir kalau-kalau ada yang akan mencuri makanannya. Pernah merasa seperti itu? Anda merasa mantap, Anda merasa bahagia, tapi Anda takut ada orang yang akan datang dan membawa pergi kebahagiaan itu dari Anda. Kemudian, "Aku tak patut berbahagia. Aku tak boleh bahagia. Orang lain akan mengambilnya dariku." Ganjil betul, kan, betapa kadang kita mirip seperti anjing yang makan tulang?

Bagaimana dengan perasaan hambar? Untuk perasaan hambar, lagi-lagi kita berpandangan dualistis: aku di satu sisi dan perasaan hambar di sisi lain; dan lagi-lagi kita membesar-besarkan kadar pentingnya perasaan hambar ini. Bagaimana kita membesar-besarkannya? Kita membesar-besarkan perasaan tak bahagia menjadi hal mengerikan yang tak kita inginkan dan perasaan bahagia jadi sesuatu yang ingin terus kita genggam dan miliki, seolah-olah keduanya begitu berharga. Perasaan hambar, kita membesar-besarkannya jadi tunarasa, tak ada rasa. Itu sering terjadi, kan? Kita merasa seolah kita tak merasakan apa-apa. Ketiadaan semata, dan hal ini membuat kita merasa seolah kita tidak hidup. Seperti apa perasaan kita jadinya? Coba pikirkan. Saat kita berpikir bahwa kita tak merasakan apa-apa, kita sebetulnya merasa tak bahagia, kan? Kita tidak begitu suka untuk tak merasakan apa-apa.

Malah, dengan masing-masing dari tiga kemungkinan tak bahagia, bahagia, dan hambar ini, saat kita membesar-besarkannya, ia akan berujung pada rasa semakin dan semakin tak bahagia dibanding awalnya. Jadi sikap kita terhadap perasaan kita itu amat sangat genting sifatnya dalam mempengaruhi pengalaman kita. Yang kita lakukan adalah kita cenderung melihat kebahagiaan atau ketakbahagiaan atau perasaan hambar yang kita alami dengan sikap "Ini sesuatu yang istimewa." Kita membesar-besarkan perasaan kita. Kita cenderung memandang diri kita sebagai sosok terpisah – ada "aku" yang terpisah dari perasaan-perasaan itu.

Misalnya, bayangkan bahwa ada saya yang duduk di sini dan Anda di sana dan ada tiga jenis makanan di depan kita. Yang satu rasanya berantakan, yang satu lezat, dan yang satu lagi hambar, sama sekali tawar. Ini ibarat perasaan tak bahagia, bahagia, dan hambar, dan ketika kita merasakan hal-hal ini, itu ibarat saat kita memakan ketiga hidangan tadi. Seolah-olah, kita bisa memilih untuk tidak makan. Anda tak bisa demikian dengan perasaan, kan? "Aku harap aku tak punya perasaan" – kemudian Anda tidak akan merasa hidup juga. Maka hal itu tak memuaskan. Lagi-lagi, pikirkan hal itu. Apa kita memiliki pandangan dualistis aku di sini dan perasaan ini, suasana hati ini, di sana?

Hal pertama yang perlu kita perbuat untuk mengubah sikap kita, memperbaikinya, ialah melatih diri kita dalam sikap "tak ada yang istimewa" ini. Ini sungguh sangat mendalam. "Tidak ada yang istimewa dengan perasaanku sekarang." Hidup berjalan naik dan turun. Kadang kita berada pada suasana hati yang ceria, kadang tidak, kadang tak satu hal hebatpun terjadi. Tak ada yang mengejutkan dengan semua itu. Tak ada yang istimewa. Dan tak ada yang istimewa denganku: "Oh, aku harus merasa seperti ini" atau "Aku tak mau merasa seperti itu." Hal pokoknya ialah melanjutkan hidup tanpa pusing dengan perasaan kita.

Kalau Anda harus merawat anak-anak Anda, misalnya, tidak peduli suasana hati Anda sedang ceria atau muram; Anda melakukannya saja. Anda sedang mengemudikan mobil Anda, atau apapun itu – Anda akan tetap bekerja terlepas dari perasaan Anda sedang baik atau buruk; Anda tetap melakukannya. Semakin kita memusatkan perhatian pada diri dan perasaan kita, sebetulnya semakin tak bahagialah kita jadinya. Bukan berarti kita hendak berhenti merasa. Bukan itu maksudnya. Kita menyadari perasaan kita, tapi kita tidak menghebohkannya. Bukan karena kita takut merasakan sesuatu.

Ada orang yang takut merasa tak bahagia karena mereka takut bahwa: "Oh, ini akan menghempaskanku." Seperti saat Anda kehilangan orang yang Anda cintai atau hal yang buruk betul terjadi dalam hidup Anda, kemudian: "Aku mau melindungi diri dari perasaan tak bahagia atas hal itu karena aku tak akan tahan." Itu sebetulnya bisa terjadi secara tak kita sadari; tidak harus berupa penghadangan perasaan secara sadar. Kita ingin membentengi diri supaya tidak merasakannya lagi, seolah perasaan itu merupakan sesuatu yang berasal dari luar. Atau "Aku tak pantas berbahagia. Segala sesuatu berjalan sempurna, tapi aku tak boleh berbahagia, karena pada dasarnya aku tak berguna." Atau yang menarik: "Aku tak bisa merasa hambar. Hatiku harus terhibur saban waktu." Anda sendiri tahu gejala tentang orang-orang yang tak jemu-jemu menempelkan iPod mereka ke telinga. Mereka harus terus-menerus mendengarkan musik karena, "Ini akan membuatku bahagia." Ini akan menghiburku," dan karena itu mereka takut akan rasa hambar yang ditawarkan keheningan. Dalam arti, kerap kita takut pada perasaan. Mengapa demikian? Karena kita menghebohkan perasaan itu; kita membesar-besarkan betapa pentingnya perasaan itu. Perasaan hanyalah bagian alami dari kehidupan. Seperti itulah kita mengalami setiap saat dalam hidup kita. Itu yang membuat kita berbeda dari kamera video. Jadi, tak ada yang istimewa. Terdengar sederhana, tapi tak sesederhana itu. Coba pikirkan itu.

Contoh Burung Liar yang Hinggap di Jendela

Jadi, kita sebetulnya butuh keseimbangan yang pelik. Kita tentu lebih menyukai kebahagiaan, tapi masih ada perasaan tak ingin menghancurkan kebahagiaan yang kita punya. Maka, kita bergantung padanya dan merasa tak aman karenanya. Dari pengalaman kita, kita tahu bahwa kebahagiaan yang kita miliki sekarang ini akan berlalu. Ia tidak akan abadi, karena naik dan turun itu sudah jadi sifat kehidupan. Kalau kita sudah tahu bahwa kebahagiaan itu tidak abadi dan akan berlalu, mengapa kita khawatir? Nikmati saja apa adanya selama waktunya.

Ada satu contoh manis yang kadang saya gunakan untuk hal ini. Bayangkan ada seekor burung liar, burung liar yang amat elok, datang ke jendela kita dan hinggap sebentar di sana. Nah, kita bisa menikmati keindahan burung itu, tapi kita tahu bahwa itu burung liar; ia akan pergi terbang lagi. Jika kita mencoba menangkapnya dan menaruhnya di sangkar, burung itu akan amat-sangat tak bahagia. Dan kalau kita mencoba menangkap burung itu dan menaruhnya di sangkar, saat mencoba menangkapnya kita akan membuatnya takut, dan burung itu akan kabur, tak kembali lagi. Tapi kalau kita santai saja dan menikmati keindahan burung itu selagi ia di sana, ketika ia pergi, mungkin ia akan kembali lagi.

Kebahagiaan itu amat mirip seperti burung tadi, kan? Bukan hanya kebahagiaan, tapi juga saat kita bersama orang-orang yang kita sukai. Ketika seseorang datang berkunjung, kita sering bersikap: "Mengapa kau tak tinggal lebih lama lagi?" bahkan sebelum mereka sempat melepas jaketnya. "Mengapa kau tak bisa tinggal lebih lama lagi? Kapan datang lagi?" Yang seperti itulah. Saya kira dengan cara seperti inilah kerap kali kita menghancurkan kebahagiaan kita.

Tak ada yang istimewa. Seekor burung hinggap di jendela kita; seorang kawan mengunjungi kita; teman-teman kita menelepon – tak ada yang istimewa. Nikmati saja selagi ada. Dan tentu ada akhirnya. Biarkan saja. Mau apa lagi? Tentu saja kita lebih suka untuk tidak tak bahagia. Tapi saat kita tak bahagia, yang harus kita lakukan ialah menerima bahwa inilah yang sedang kita alami sekarang. Tak ada yang istimewa, tak ada yang mengagetkan. Ia akan berlalu. Cobalah untuk tak memperparahnya dengan rasa takut, membesar-besarkannya, dan mencoba menepisnya. Coba pikirkan.

Apa mungkin kita bisa santai saja, merasa tenang akan perasaan kita? Jangan pula pikir bahwa merasa hambar itu berarti kita tak merasakan sesuatu apapun dan bahwa kita mati-rasa. Seperti takut akan keheningan, yang, entah bagaimana, akan membuat kita tersesat. Itu sikap yang sangat aneh, kan? Lagi-lagi kita terlalu membesar-besarkan perasaan dan diri kita – perasaanku ini sangat penting. Maka, kita perlu sungguh-sungguh menelaah diri kita dalam hal: "Apa yang kutakuti? Apa aku takut merasa tak bahagia? Apa aku takut merasa bahagia karena aku tak patut mendapatkannya? Apa aku takut merasa hambar karena tidak ada apa-apa di sana?" Apa yang kita takuti?

Saya telah mengembangkan suatu pelatihan kepekaan, dan salah satu dari isi latihannya adalah membantu orang mengatasi rasa takut akan perasaan. Yang saya minta orang lakukan – dan Anda bisa coba sendiri – ialah menggelitik tangan, kemudian mencubit tangan, dan lalu hanya menggenggam tangan Anda saja. Apa ada yang istimewa dari hal itu? Yang satu terasa menyenangkan, yang satu tidak begitu menyenangkan, dan yang terakhir terasa biasa saja, kan? Tak ada yang istimewa di situ, kan? Itu cuma perasaan, terus kenapa? Jenis sikap seperti itulah yang perlu kita kembangkan: "Terus kenapa?" "Suasana hatiku ceria. Terus kenapa? Tak ada yang istimewa." Kita tahu suasana hati kita sedang muram. Kalau ada yang bisa kita perbuat untuk memperbaikinya, bagus; kalau tidak, ya atasi saja. Malah, Anda bahkan tidak harus mengatasinya, Anda cukup lanjut saja dengan apapun yang sedang Anda kerjakan. Tapi jika kita mau mengubah cara kita mengalami perasaan, maka kita harus melihat cara-cara lain untuk mengubah sikap kita akan hal itu.

Jadi, seperti tadi saya bilang, tingkat pertama ialah "Tak ada yang istimewa. Tidak ada yang istimewa dengan perasaanku," betul? Tidak pula ada "aku" yang terpisah dari semua itu dan bahwa aku harus membentengi diriku sendiri darinya. Memang seperti inilah hidup itu jalannya.

Tak Ada yang Istimewa dengan Diriku

Tapi kini sisi lain dari "Tak ada yang istimewa dengan perasaan" ialah "Tak ada yang istimewa denganku dan perasaanku sekarang ini." Kita masuk pada pokok pembicaraan tentang peduli diri sendiri. Kita mengalami apa yang kita rasakan – bahagia, tak bahagia, dan seterusnya – dalam kerangka peduli diri sendiri. Apa maksudnya peduli diri sendiri? Maksudnya ialah sepenuhnya mementingkan diri kita sendiri saja. Kita hanya terpaku pada diri kita sendiri dan apa yang kita rasakan kini, dan kita mengabaikan orang lain: "Tak peduli apa yang mereka rasa. Aku tak bahagia."

Lagi-lagi kiatnya di sini adalah "Tak ada yang istimewa denganku dan perasaanku." Semakin sempit cita kita bergantung pada "aku", bergantung pada perasaan, sebetulnya semakin tak bahagia kita jadinya. Coba pikirkan saja. Seperti otot yang amat ketat dan tegang. Seperti itulah cita kita, ketat dan amat tegang – yang ada hanya "Aku, aku, aku, perasaanku." Jika kita membuka diri dan berpikir bahwa ada tujuh miliar manusia dan binatang yang tak terhitung jumlahnya di planet ini, perasaanku sekarang tak ada istimewanya. Setiap orang merasakan sesuatu sekarang ini. Ada orang atau binatang yang merasa bahagia, ada yang merasa tak bahagia, ada yang merasa hambar saja (mereka sedang tertidur, misalnya), dan segalanya selalu berubah bagi masing-masing makhluk. Lalu apa istimewanya aku dan perasaanku saat ini?

Seperti kemacetan parah yang terjadi di luar sana ketika kita datang kemari. Apa Anda pikir setiap orang lain yang terjebak macet itu sedang bergembira dan sungguh bahagia? Tapi semakin kita berpikir, "Aku, aku, aku. Aku di sini dan aku terjebak dan tak bisa keluar. Gawat betul!" semakin tak bahagia kita jadinya, bukan? Namun saat Anda mulai berpikir tentang setiap orang yang terjebak macet itu, cita kita jadi jauh lebih terbuka, jauh lebih santai.

Ingat saat kita datang ke sini, lalu-lintasnya macet parah, dan ada satu sisi-pinggir jalan yang semua mobil di situ hendak bergabung dengan lajur lalu-lintas di jalan besar? Mobil-mobil ini mau menyeberangi lajur kita ke lajur dengan arah berlawanan, yang juga tak bergerak, dan entah bagaimana bisa menyalip beberapa lajur di arah kita dan sampai ke sisi jalan yang satunya. Tentunya, orang-orang tak membiarkannya lewat, dan Anda berpikir, "Astaga, bagaimana caranya bisa lewat?" Mereka mulai meniti jalan mereka dan menongolkan hidung mobilnya, dan kemudian kejadiannya jadi amat menarik. Lalu ada pria di depan kita yang, meski bisa bergerak maju, sedang bicara di ponselnya dan tak memperhatikan keadaan. Pria itu tak menggerakkan mobilnya, dan mobil-mobil di belakangnya jadi amat kesal karena hal itu.

Tiba-tiba saja, Anda tidak lagi berpikir tentang: "Habis sudah, aku terjebak di kemacetan ini." Keadaan berubah jadi seperti sebuah drama, dan Anda menontonnya. Anda lalu berpikir, "Bagaimana mereka bisa cari jalan untuk lewat? Bagaimana cara mereka bisa dapat jalan?" Pada titik itu, Anda tidak lagi berpikir tentang diri Anda sendiri. Anda mengubah sikap Anda. Anda tidak menghebohkan diri Anda. Ketika kita berhenti menghebohkan diri – "Aku begitu istimewa. Akulah yang teristimewa di lalu-lintas ini" – maka cara kita mengalami keadaan pun berubah. Coba pikirkan itu.

Dahulu ada seorang lama Tibet yang luar biasa, namanya Kunu Lama, dan ia menyarankan sejenis latihan yang amat berguna bagi orang yang melaksanakannya. Sarannya: bayangkan diri kita di satu sisi dan setiap orang lain di sisi lain, dan kemudian bayangkan pula kita terpisah dari keduanya dan menjadi pengamat. Maka, Anda melihat "aku" di sebelah sini dan setiap orang lain di sebelah sana, dan "aku" di gambaran ini tidak bahagia, namun begitu pula orang lainnya. Atau Anda terjebak di kemacetan dan begitu pula semua orang lain ini terjebak di kemacetan. Sekarang, sebagai pengamat tak berpihak yang memandang keadaan ini, siapa yang lebih penting, satu orang ini atau setiap orang – satu orang yang mendesak-desak ingin berada di depan setiap orang lain atau justru seluruh kerumunan itu, seluruh kelompok itu? Anda bisa coba sendiri.

Tentu saja kelompok yang lebih besar tadi yang lebih penting dibanding satu orang ini saja, kan? Begitupun, itu tak berarti kita ini bukan apa-apa. Jika kita peduli dan prihatin dengan setiap orang, kita ini termasuk juga dalam "setiap orang" itu, kan? Hanya saja, kita tidak lebih istimewa dibanding setiap orang lainnya, khususnya dalam hal perasaan kita – bahagia, tak bahagia, dsb.

Masalahnya di sini adalah sikap peduli diri sendiri, gandrung akan "aku, aku, aku" dan "aku begitu penting". Maka saat aku tak bahagia dan aku pikir bahwa ada ketakbahagiaan ini di sana dan ada seorang "aku" yang terpisah darinya dan: "Oh, aku tak menginginkannya," itulah sikap mementingkan diri sendiri itu, bukan? "Aku, aku, aku. Aku tak mau itu." Atau kebahagiaan – yang terpaku pada: "Aku, aku, aku. Aku tak mau ada anjing yang lebih besar datang dan mencuri tulangku." "Aku, aku, aku. Aku tak merasakan apapun. Aku tak terhibur. Hatiku harus terhibur."

Masalahnya ialah sikap asyik-diri ini, sikap peduli diri sendiri ini, yang terpaku pada "aku, aku, aku" dan perasaanku yang sempit ini. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah mengubah sudut pandang ini, berpikir dalam kerangka setiap orang dan mengarahkan dorongan kita pada setiap orang: "Semoga setiap orang terbebas dari kemacetan ini." Coba pikir, bagaimana kita bisa keluar dari kemacetan? Kemacetan itu harus dihilangkan, dan kalau kemacetan itu dihilangkan, setiap orang akan bebas daripadanya, kan? Jika keprihatinan kita ada pada lingkup yang lebih besar, setiap orang, maka kita jadi lebih santai, kan? Kita tidak lagi begitu kesal dan runyam karena berada di kemacetan. Ketika kita akhirnya merasa bahagia – kita berhasil keluar dari kemacetan – jangan langsung berpikir, "Oh, aku luar biasa. Aku bisa lepas." Tapi, berpikirlah dalam kerangka setiap orang: "Ini luar biasa. Setiap orang bisa sampai ke tujuan masing-masing." Dengan begitu, kita tidak bergantung pada kebahagiaan itu seolah bakal ada orang yang akan mencuri tulang kita.

Semua ini berkaitan dengan welas asih. Welas asih adalah memikirkan ketakbahagiaan orang lain, peduli padanya seperti kita peduli pada ketakbahagiaan kita, dan bertanggung-jawab serta perhatian untuk menolong orang lain, jika kita mampu, untuk mengatasi ketakbahagiaan (meski ketakbahagiaan itu bukanlah sesuatu yang istimewa). Jangan dirudung tekanan: "Oh, betapa banyak kengerian terjadi di dunia ini." Tentu saja sudah secara alami itu yang akan terjadi, akan tetapi akan lebih baik jadinya jika setiap orang berbahagia, kan?

Saat secara sukarela Anda mengambil tanggung jawab bahwa: "Aku akan peduli pada setiap orang dan berharap setiap orang terbebas dari penderitaan mereka," saat kita secara sukarela menganut tanggung jawab itu, kita mengembangkan semangat dan rasa percaya diri yang luar biasa. Ini sering kali dibicarakan Dalai Lama. Jika kita hanya berpikir tentang diriku dan kebahagiaanku, itu tanda bahwa sebetulnya kita amat lemah. Namun, jika kita secara sukarela berpikir tentang dan perhatian pada orang lain, butuh kekuatan besar untuk itu, bukan? Itu bukan pertanda kelemahan. Itu pertanda kekuatan, dan rasa percaya diri kita tumbuh dari situ. Sikap positif tentang diri kita ini dengan sendirinya berujung pada perasaan bahagia. Jadi, bukan sikap: "Habislah aku. Aku tak bahagia," dan semacamnya. Kita prihatin pada setiap orang yang terjebak di kemacetan, dan kita sungguh berharap bahwa setiap orang dapat bebas dari kemacetan itu. Dengan membuka diri pada keadaan itu – sungguh berani kita peduli pada orang lain yang terjebak macet itu – kita jadi punya perasaan yang lebih positif atas diri kita sendiri, kan? Kita tidak lemah dan ditindas oleh kemacetan. Kita justru sangat kuat.

Inilah contoh bagaimana kita mampu mengubah sikap kita, lewat pelatihan sikap, untuk sepenuhnya mengubah mutu dari cara kita mengalami sifat alami naik dan turunnya kehidupan. Tinggal perkara melatih diri untuk melakoninya saja, yang juga membutuhkan keberanian, saya kira, untuk menyadari bahwa karena hidup ini naik dan turun, sikapku yang dulu terhadapnya akan hanya memperparah keadaan saja. Jadi tak ada yang istimewa dengan merasa naik dan turun, dan tak ada yang istimewa aku yang merasa naik dan turun. Maka biar aku ubah cara pandangku terhadapnya sehingga aku bisa memetik hasil terbaik dari keadaan yang ada.

Itulah ikhtisar dasar atau pengantar menuju pelatihan sikap. Mari renungkan itu sejenak. Kemudian nanti Anda boleh mengajukan pertanyaan.

Tanya-Jawab

Baik. Ada pertanyaan?

Peserta: Saya ingin bertanya tentang contoh kemacetan yang Anda gunakan tadi. Jika saya mencoba berpikir tentang orang lain, dan bukan hanya tentang diri saya sendiri, apa saya sebetulnya hanya menolong diri saya saja ataukah kekuatan pikiran saya juga dapat menolong yang lain?

Alex: Saya pikir, secara tak langsung, akan sangat membantu orang lain jika Anda tidak bersikap berangasan di kemacetan dan membunyi-bunyikan klakson (yang tentunya tak ada gunanya karena tak seorang pun bisa bergerak). Jika Anda lebih santai, secara tak langsung itu bisa membantu orang lain. Saat mobil di sisi-pinggir jalan itu sedang meniti dan memotong jalan Anda dan Anda tidak membuka jendela dan meneriakkan kata-kata kotor dan sumpah serapah pada orang itu, Anda berdua jadi lebih santai. Tapi pengaruh diri Anda sendiri tak bisa terlalu besar.

Peserta: Saya ingin kembali ke contoh kemacetan lalu-lintas tadi. Saat saya mengalami yang seperti itu, ada orang yang memotong jalan saya, sesaat saya merasakan kilatan amarah, dan kemudian saya mencoba berpikir tentang berbagai sebab yang membuat keadaan itu terjadi – seperti, contohnya, orang di mobil itu anaknya sakit dan dia mungkin sedang bergegas ke rumah sakit – dan kemudian saya jadi lebih tenang. Tapi masalahnya, kilatan-kilatan amarah ini melulu terjadi. Apakah mungkin itu bisa dihilangkan sepenuhnya ataukah akan terus seperti itu?

Alex: Jalan mengatasi kecenderungan dan kebiasaan marah itu memang amat panjang. Mengubah sikap kita, seperti dalam contoh yang Anda ceritakan tadi, dengan berpikir bahwa, "Mungkin orang yang terburu-buru ini punya alasan kuat untuk keterburu-buruannya" hanyalah suatu cara sementara untuk mengatasi amarah. Kita harus betul-betul masuk jauh lebih dalam lagi untuk mencabut akar amarah, yang berkaitan dengan cara kita memahami diri, cara kita memahami orang lain.

Kita cenderung mengenali diri dan mengenali orang lain hanya dengan satu kejadian kecil dalam hidup ini. Misalnya, menganggap orang di jalan raya tadi sebagai orang buruk yang mencoba menyalip jalan kita. Cuma itu saja yang kita pikirkan tentang orang itu. Kita mengenali mereka dengan satu hal yang terjadi dalam hidup mereka ini, khususnya kejadian yang melibatkan diri kita. Kemudian untuk sementara kita mengenali mereka dengan sesuatu hal lain, entah hal itu benar atau tidak. Tidak peduli apakah memang betul ada anaknya yang sakit dan ia perlu segera ke rumah sakit – kita hanya mengenali mereka dengan satu adegan yang mungkin terjadi; kita tetap memberi mereka jatidiri yang padu. Sama saja dengan mengenali aku, "aku" yang padu yang sekarang ini merasa marah, sehingga harus kulakukan sesuatu pada "aku" padu yang marah ini. Kita mengenali diri kita dengan amarah ini.

Dengan suatu cara, kita harus melonggarkannya, dan saya tidak ingin menjabarkan rincian peliknya, tapi memang jalannya panjang, dan berkaitan dengan sikap tidak mengenali diri dan mereka dengan suatu apapun. Persis seperti mengambil gambar diam seseorang atau gambar diam diri kita sendiri. Ada gambarnya, tapi diri kita bukanlah cuma satu saat yang terpotret di gambar itu, bukan? Dan Anda pun bukan satu saat yang terpotret di gambar diam itu saja. Kita harus berhenti memandang diri dan hidup kita dan orang lain seperti gambar diam itu. Segala sesuatu itu mengalir dan berubah setiap waktu, bukan? Kita pun berubah setiap waktu. Jika Anda lihat gambar Anda saat masih bayi, remaja, dan kini, akan tampak semua berubah. Ketika Anda melihat segala sesuatu sebagai gambar diam, maka Anda terjebak pada perasaan Anda pada saat gambar diam itu diambil, seolah Anda memotret perasaan dan rasa dan amarah itu. Ini semua harus dilonggarkan. Sekalipun Anda telah melonggarkannya, dan melonggarkannya sampai ke tingkat terdalam, Anda harus membiasakan diri dengannya karena kecenderungan dan kebiasaan itu akan menegang lagi, dan itu butuh pembiasaan yang kuat. Lambat-laun, mungkin kiranya bagi kita untuk tidak kena ketegangan, atau amarah, atau rasa iri, atau apapun itu lagi, karena, jika Anda lihat, sifat cita itu santai; bukan tegang.

Peserta: Apa guna semua latihan ini? Jika orang menjalani hidupnya dengan mencoba menyadari perasaannya atau tidak atau untuk tidak membuat pengenalan sempit, apa beda sebetulnya? Dan untuk apa pula?

Alex: Pada satu tingkat, itu untuk memperbaiki mutu hidup kita. Pada dasarnya kita semua ingin bahagia. Entah kita berpikir kita pantas atau tidak untuk bahagia, tetap saja dorongan dasarnya adalah untuk bahagia; itu sudah hampir seperti hal yang menubuh dalam diri kita. Jadi tingkat awalnya ialah untuk, seperti tadi saya katakan, memperbaiki mutu hidup kita dengan memudahkannya mengatasi segala sesuatu. Hidup tidak lagi perlu susah-payah.

Sementara itu, tujuan yang lebih kuat, dorongan yang lebih kuat, berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain. Kalau kita punya anak, hidup dalam sebuah keluarga, punya teman, dan seterusnya, dan kita selalu bermuram-durja dan: "Oh, habislah sudah" atau sikap semacam itu, kita amat tak mampu untuk menolong mereka, dan malah membuat mereka jadi tak bahagia. Kita mau mengatasi suasana hati kita dengan cara yang lebih bermanfaat karena itu akan mempengaruhi orang lain. Itu akan mempengaruhi keluarga saya, dan saya peduli pada mereka. Itulah alasan kita mengupayakan diri.

Peserta: Saya ingin tahu apa ini benar. Sepemahaman saya, hal utama dari pelatihan ini ialah untuk tidak gandrung dengan kebahagiaan dan bergantung padanya. Tapi, bagaimana cara kita mengatasi hal yang lebih mendasar, yaitu keinginan untuk bahagia itu sendiri? Apa kita perlu mencoba bahagia atau tidak? Jika kita lihat bahwa hidup merupakan kitaran ketakbahagiaan yang diikuti dengan kebahagiaan dan selalu berubah, apa kita perlu mencoba meraih kebahagiaan itu?

Alex: Kita memang perlu mencoba meraih kebahagiaan. Tapi saat kita memilikinya, nikmati saja apa adanya – maksudnya, bahwa kebahagiaan itu akan berlalu. Semakin santai kita dengan hal itu, semakin sering kita merasa bahagia. Namun, adakalanya kita tak merasa bahagia. Terus kenapa? Mau apa lagi? Bukan masalah. Tak ada yang istimewa.

Jadi, semakin santai kita atas hal itu dengan sikap: "Tak ada yang istimewa dengan apa yang terjadi," maka itulah cara yang lebih santai pula untuk menjadi bahagia. Pokoknya ialah kita tidak khawatir tentang hal itu. Bukannya dorongan melulu, yang agak mirip penyakit saraf, yang saya jeniskan dengan gagasan: "Aku harus terhibur. Aku harus terus mendengarkan musik karena aku takut akan keheningan atau aku takut jadi tak bahagia." Itu sebetulnya suatu tataran cita yang amat tak menyenangkan. Karena sesungguhnya kalau dipikir-pikir, seperti tadi saya katakan, bahagia itu tidak selalu bertalian dengan apa yang sedang kita perbuat – Anda bisa saja melakukan hal yang sama dan merasa bahagia atau tak bahagia atau hambar. Jadi, sebetulnya ini perkara perhatian Anda terpusat di mana.

Saya beri satu contoh. Saya sangat suka ke dokter gigi karena dokter gigi saya orangnya baik. Saya sungguh menyukainya. Hubungan kami sangat akrab – kami bercanda dan seterusnya – jadi amat menyenangkan bagi saya saat menemuinya. Nah, perhatian saya tidak terpusat pada: "Oh, aku khawatir karena nanti dia bakal mengebor gigiku dan dia akan begini begitu." Saya tidak melihat kunjungan ke dokter gigi dengan kecemasan. Saya melihatnya dengan kebahagiaan: "Wah, mantap! Aku akan bertemu kawan baikku lagi." Ini akan kita bicarakan besok, tapi pertanyaan yang bisa kita lontarkan sekarang: hal apa sebetulnya dari pengalaman itu yang menjadi titik perhatian sikap Anda? Bisa jadi pada rasa sakit yang mungkin Anda alami dalam tatacara perawatan gigi, atau Anda bisa pada, seperti tadi saya katakan, bertemu si dokter gigi, yang saya senangi.

Mungkin Anda berpikir saya sedikit ganjil, tapi saya pernah sekali cabut gigi, dan saya sepenuhnya menikmatinya. Waktu itu amat menarik karena mulut saya menganga lebar, dan segala macam benda terus dimasukkan ke dalam mulut saya. Saya mulai tertawa karena saya tak bisa membayangkan berapa banyak batang lagi yang bisa mereka masukkan sekaligus. Ingat, saya waktu itu diberi obat bius, jadi saya tak merasakan apapun. Tapi semua yang terjadi saat itu terasa amat lucu – alat ini dan alat itu, dan semua tetek-bengeknya. Saya jadi tertawa saja.

Akan berbeda sekali jika dibanding keadaan ini: biarpun Anda tak merasakan apa-apa, tapi karena Anda takut akan merasakan sesuatu, Anda jadi merasa tersiksa. Betul? Atau rasa sakit karena suntikan bius. Memang, rasanya sakit. Terus kenapa? Apa Anda lebih suka tidak disuntik bius dan didera setengah jam rasa sakit karena cabut gigi, atau lebih baik menahan sekian detik rasa sakit dari suntikan itu? Anda senang karena mendapat suntikan itu, sekalipun sakit terasa, tapi hanya untuk sejenak saja.

Segala sesuatu tergantung pada sikap Anda. Itulah pelatihan sikap. Dan bisa berhasil, sikap dapat memperbaiki mutu hidup Anda. Maksud saya, kalau Anda harus pergi ke dokter gigi untuk cabut gigi, apa Anda mau itu jadi siksaan atau jadi pengalaman yang tak parah-parah amat. Kita harus mengalaminya, tak ada cara lolos dari pengalaman itu. Jadi kita juga harus coba membuatnya menjadi pengalaman yang sebaik mungkin. Itu asas yang ada di baliknya.

Peserta: Saat saya masih kecil, saya punya pengalaman menghadapi keadaan yang keras. Saat saya perlu belajar sesuatu, misalnya, saya akan membayangkan seseorang yang punya kecakapan untuk melakukan pekerjaan berat ini, seperti salah satu panutan saya. Itu dulu cara saya mengatasi keadaan keras. Apakah ampuh atau perlu bagi kita untuk membayangkan orang yang punya semua kecakapan ini dan kemudian memikirkan seperti apa mereka akan berperilaku dalam keadaan-keadaan sukar?

Alex: Itu bisa cukup membantu. Maksud saya, itu yang sebetulnya dilakukan orang dengan guru rohani mereka; mereka membayangkan bagaimana para guru itu akan menghadapi keadaan sulit. Namun, Anda harus hati-hati betul dalam menerapkan cara ini karena jika Anda menerapkannya dengan sikap: "Mereka bisa, tapi aku tidak karena aku begitu rendah dan tak cukup baik, dan seterusnya," maka jadi batal bagusnya. Jika kita menggunakan contoh cara guru kita atau sosok lain yang mengilhami kita dalam mengatasi sesuatu, jika kita gunakan itu untuk membuat diri bangkit dan punya nyali untuk mengatasinya dengan cara kita sendiri, maka sifatnya sangat membantu. Semua itu tergantung pada sikap kita pada diri kita sendiri. Apakah aku seseorang yang bisa diangkat bangkit, atau apakah aku orang yang tak pernah cukup baik?

Lagi-lagi, memang jadinya pelik sekali. Karena di satu sisi, Anda tidak ingin gandrung akan: "Aku, aku, aku. Aku tidak akan pernah jadi cukup bagus," ini pun sikap peduli diri sendiri. Tapi di sisi lain, Anda ingin mencari-tahu: "Apa aku memang punya kemampuan untuk bertindak seperti cara guruku?" Mungkin kita memang belum punya, tapi itu arah yang bisa kita tuju. Jadi kita mencoba sebaik mungkin untuk menjadikan mereka panutan, dengan mengetahui bahwa: "Aku masih kecil." Jadi, ada perbedaan besar antara "Habislah aku. Aku tak pernah cukup baik" dan "Aku bercita-cita seperti ini, dan aku akan mencoba sebaik mungkin."

Saya pikir cukup dahulu untuk malam ini. Kita akan lanjutkan esok hari. Terima kasih.