Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 2: Bahan Lam-rim (Bertahap) > Penjelasan tentang Sokoguru bagi Sifat-Sifat Baik > Sesi Tiga: Rincian Lebih Lanjut tentang Haluan Aman dan Sebab-Akibat Berperilaku

Penjelasan tentang Sokoguru bagi Sifat-Sifat Baik

Tsenzhab Serkong Rinpoche I
diterjemahkan oleh Alexander Berzin
Ulverston, Inggris, Oktober 1982
[salinan yang sudah disunting]

Sesi Tiga: Rincian Lebih Lanjut tentang Haluan Aman dan Sebab-Akibat Berperilaku

Tinjauan

Kita perlu mencanangkan dorongan yang benar, yaitu bahwa kita mau menjadi manfaat bagi semua makhluk dan mencapai suatu tataran pencerahan supaya mampu melakukan hal tersebut. Dengan dorongan ini, dengarkanlah ajaran-ajaran tentang Sokoguru bagi Sifat-Sifat Baik dengan keinginan tulus untuk melaksanakannya demi tujuan ini.

Kemarin, kita membahas cara memiliki ikatan sepenuh hati yang benar terhadap seorang guru rohani atau "bakti-Guru", yang merupakan akar dari jalan rintis cita. Kita juga sudah membahas dasar karya sempurna dari kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia dengan segala jeda dan anasir pengayanya dan betapa sukarnya untuk memperoleh hal tersebut. Ada delapan jeda dan sepuluh pengaya, dan kelahiran kembali sebagai manusia yang kita punya sebagai dasar karya hadir lengkap dengan semua hal itu.

Umumnya, kelahiran kembali sebagai manusia itu amat sukar diperoleh. Segera setelah kita lahir sebagai manusia, kita tidak langsung dapat berjalan. Butuh lebih dari setahun baru kita memperoleh kemampuan itu. Hewan mampu berjalan hampir segera setelah lahir. Hewan dapat melakukannya karena makhluk ini telah terlahir kembali sebagai hewan untuk kali yang tak terhitung, maka mereka punya naluri hewan yang sangat kuat. Fakta bahwa bayi manusia tidak mampu berjalan tegak seperti manusia dewasa ketika mereka lahir merupakan pertanda bahwa langka sekali mereka terlahir sebagai manusia sebelumnya, dan bahwa mereka memiliki naluri yang lemah untuk berjalan layaknya manusia.

Buddha Shakyamuni, segera setelah ia lahir dalam rupa manusia, mampu berjalan tegak sebanyak tujuh langkah. Ini hasil dari terlahir sebagai manusia sebanyak ratusan kali secara berturut-turut pada masa hidup sebelumnya. Oleh karena itu, ia mampu berjalan langsung layaknya seorang manusia. Demikian pula, melalui semua kelahiran kembali sebagai manusia ini, ia telah menghimpun sebab-sebab yang lengkap untuk memiliki tubuh dengan tiga puluh dua ciri ragawi besar dan delapan puluh ciri ragawi kecil dari seorang Buddha.

Maka pokok pertamanya adalah mengenali delapan belas anasir jeda dan pengaya yang kita punya, lantas menyadari betapa sukarnya untuk memperoleh dasar karya kelahiran kembali sebagai manusia dengan semua hal tersebut. Kemudian kita bisa pikirkan tentang betapa pentingnya dasar karya itu dan tujuan-tujuan hebat apa saja yang dapat dipenuhi dengannya: yaitu, bahwa kita dapat mencapai pencerahan. Kita perlu renungkan sosok Milarepa yang ternama itu. Ia mencapai pencerahan dalam masa hidup yang dimilikinya saat itu di atas dasar karya yang ia punya – tubuh manusia yang mulia.

Tubuh kita pun sama. Tak ada bedanya. Jadi, dengan dasar karya yang sesempurna itu, kita perlu berjuang untuk menjalankan langkah-langkah rohani Dharma sebanyak yang kita bisa, sampai hayat meninggalkan badan kita. Kita tak boleh menunda laku rohani karena kita tak pernah tahu kapan kita akan mati. Waktu kematian itu sepenuhnya tak pasti. Oleh karena itu, kita perlu membuat keputusan pasti untuk menjalankan Dharma secepatnya.

Kemarin, kita membahas semua pokok penting mengenai kematian dan ketaktetapan ini. Kita melihat bahwa tak ada keadaan yang senantiasa jumud dan bahwa setelah kematian terjadi kita mesti terlahir kembali. Kita juga telah melihat bahwa jikalau kita membina daya negatif yang luar biasa dari kelakuan merusak dan negatif, kita akan terlahir kembali di dalam alam yang lebih buruk. Kita perlu pikirkan tentang semua masalah dan derita yang akan kita alami di alam-alam semacam itu, dan merasa ngeri sekali serta mau menghindar dari kelahiran kembali dalam keadaan demikian itu. Lantas kita dapat pikirkan berbagai hal yang dapat memberi kita haluan aman dalam hidup kita sehingga kita dapat terhindar dari keadaan sulit semacam itu. Setelah mengetahui perihal Tiga Permata Langka yang Mulia yang menawarkan haluan tersebut, kita kemudian membahas segala cara untuk memperoleh haluan aman dan benar darinya untuk kita taruh di dalam kehidupan kita melalui perlindungan di dalamnya. Itu yang kita bahas kemarin.

Kita juga perlu sadar akan alasan dan sebab bagi tindakan kita mengikuti haluan aman tersebut. Yang pertama ialah kengerian atas apa yang dapat terjadi di kehidupan mendatang kita tanpa haluan tersebut. Yang kedua adalah keyakinan penuh atas kemampuan hal-hal perlindungan ini untuk memberikan haluan aman bagi kita agar terhindar dari kelahiran kembali yang lebih buruk. Selain itu, jika kita berlindung dalam sikap Mahayana bercita-luas, kita perlu berwelas asih terhadap semua makhluk sebagai sebab dorongan tambahannya. Saat kita mempercayakan diri kita sepenuhnya seperti itu, dengan semua hal ini sebagai sebabnya, itulah yang disebut dengan mengambil haluan aman dalam kehidupan, atau berlindung.

Cara Berlatih dalam Pengambilan Haluan Aman dalam Kehidupan

Begitu kita mengambil haluan aman, penting bagi kita untuk melatih diri dengan berbagai pokok yang diperlukan untuk betul-betul menerapkan haluan tersebut dalam kehidupan kita. Ketika kita mengambil haluan aman dari para Buddha, cara berlatihnya demikian ini. Saat kita melihat perlambangan makhluk-makhluk tercerahkan, jangan kita mencibirnya, dengan berkata bahwa matanya lengkok, wajahnya tampak ganjil, atau semacamnya. Kita tidak boleh berlaku tidak hormat. Demikianlah, kita menganggap semua perlambangan para Buddha layaknya kita menganggap para Buddha itu sendiri. Jadi, daripada mencibir sang Buddha, kita bisa perbincangkan seniman atau patungnya. Kita bisa bilang bahwa si seniman tidak begitu mahir, tapi cukup sampai situ saja. Selain itu, kita tidak boleh menjual patung-patung Buddha. Pun kita tak boleh berlaku tak hormat terhadap berbagai perlambang raga, wicara, dan cita dari makhluk yang tercerahkan. Baiknya kita tidak melangkahinya atau menaruh sesuatu di atasnya.

Juga, ketika kita mengambil haluan aman dari para Buddha, kita berjanji untuk tidak mengarahkan haluan kita pada dewa-dewi duniawi, seperti Brahma atau Indra, karena mereka tidak mampu memberi kita haluan yang aman dan benar. Mengandalkan mereka itu ibarat bersandar pada sebentang tirai. Serupa dengan yang digambarkan kemarin, cerita tentang putra para dewata yang datang pada Indra untuk menolongnya lepas dari kesukaran dan Indra berkata, "Aku tak mampu memberimu haluan aman untuk keluar dari kesukaranmu. Satu-satunya yang mampu adalah sang Buddha."

Ketika kita mengambil haluan aman dari langkah-langkah pencegahan, atau Dharma, penting bagi kita untuk berlaku amat sangat hormat terhadap segala perlambangannya, seperti naskah dan pustaka suci, dan tidak menaruh suatu apapun di atasnya. Boleh jadi ada keadaan ketika lembar-lembar suatu naskah yang kita baca terhembus angin, misalnya, dan kita perlu menaruh sesuatu di atasnya. Tapi, di luar hal itu, kita tak boleh seenak perut menaruh apa saja di atas buku-buku kita, seperti tasbih atau apapun itu.

Anda sekalian sadar akan berbagai adat ajaran Buddha mengenai pustaka-pustaka dan mengikutinya dengan baik dan benar. Itu bagus sekali. Naskah-naskah tidak boleh ditempatkan begitu saja di atas lantai, tapi harus dialasi dengan semacam kain atau sesuatu yang bersih. Hal yang sama berlaku pula untuk gambar dan patung Buddha. Apabila kita amat sangat hormat pada semua perlambangan Buddha dan ajaran-ajaran Dharma, ini penting nilainya sebab hal tersebut membina daya positif yang luar biasa besar. Juga, jangan kita membalik halaman buku dengan menjilat ujung jari untuk membasahinya. Kalaupun kita mesti membasahi ujung jari, tempatkan semangkuk kecil air di dekat kita dan gunakanlah itu. Selain itu, kita perlu menerapkan sikap menghargai yang sama untuk hal-hal semacam kata-kata yang dicetak. Suratkabar dan berbagai bahan cetak lainnya merupakan wahana untuk mampu menyebarkan Dharma. Penting bagi kita untuk menunjukkan rasa hormat yang luar biasa pada kata-kata cetak yang muncul dalam rupa apapun. Jadi, kita mestinya tidak menggunakan suratkabar, misalnya, untuk membungkus sampah atau mengelap lantai atau membersihkan kotoran. Jangan pula kita membuang suratkabar ke kakus atau tempat-tempat kotor; kita mesti membuangnya dengan sikap hormat.

Ketika kita mengambil haluan aman dari langkah-langkah pencegahan, pokok lebih lanjut yang perlu kita ikuti adalah tidak menyakiti makhluk hidup lain.

Ketika kita mengambil haluan aman dari masyarakat Sangha, kita mesti memperlakukan seluruh anggota masyarakat wihara tersebut dengan penuh hormat dan, contohnya, tidak memanggil mereka dengan nama ejekan.

Menyesuaikan Perilaku Kita Menurut Hukum Karma

Pokok terpenting dari pengambilan haluan aman dalam hidup kita adalah berhati-hati sekali melaraskan perilaku kita sesuai dengan hukum sebab-akibat berperilaku, atau hukum karma. Kita perlu melihat bahwa dari tindakan membangun dan gemilang, kita membina daya positif dan hal itu memunculkan pengalaman bahagia kita. Kalau kita bertindak merusak di bawah pengaruh desakan suram dan kelam, daya negatiflah yang terbina. Hal itu memunculkan pengalaman tak bahagia, permasalahan, dan duka dalam diri kita. Oleh karena itu, pokok utama dari pengambilan haluan aman dalam hidup kita adalah menuntun hidup ini dengan kesadaran akan akibat-akibat dari perilaku kita, dan bertindak sesuai dengan kepatutan.

Ada empat pokok tentang hukum perilaku karma dan akibat-akibatnya, yaitu anasir-anasir: (1) kepastian, (2) peningkatan, (3) bahwa kalau kita tidak melakukan sebab bagi suatu akibat, kita tidak akan menemui akibat tersebut, dan (4) kalau kita melakukan suatu tindakan tertentu, maka tindakan itu tidak akan sia-sia, ia akan menghasilkan suatu akibat.

Kemarin, kita membahas tentang anasir kepastian dan anasir peningkatan. Kalau kita bertanya apa anasir berikutnya dari hukum perilaku karma dan akibat-akibatnya, jawabannya adalah bahwa kalau kita tidak melakukan suatu tindakan tertentu, maka kita tidak akan menjumpai akibat dari tindakan itu.

Di antara enam belas tetua yang mapan dan mantap, kadang kala disebut juga sebagai "enam belas Arhat", di masa hidup Buddha, ada satu yang bernama Kanakavatsa (gNas-brtan gSer-be'u). Begitu ia lahir, seekor gajah yang kotorannya terbuat dari emas datang mendekati dan tetap berada di sisinya senantiasa. Alasan kenapa gajah yang selalu buang air emas ini selalu berada di sisinya adalah karena, di kehidupan sebelumnya, Kanakavatsa terlahir di masa Buddha Kashyapa (Sangs-rgyas 'Od-srung). Buddha Kashyapa menggunakan gajah sebagai tunggangannya. Selama masa hidup itu, ia memberikan sehelai daun emas pada gajah tersebut dengan penuh rasa hormat, dan sebagai akibat daya positif yang ia bina dengan membuat persembahan itu, ia terlahir kembali di masa Buddha Shakyamuni dan, segera setelah ia lahir, seekor gajah yang kotorannya terbuat dari emas segera menghampirinya.

Raja wilayah tempat ia lahir bernama Ajatashatru (rGyal-po Ma-skyes dgra). Tamak akan emas cuma-cuma itu, ia menginginkan gajah ini, dan ia memerintahkan orang-orang untuk membawa hewan itu padanya. Tapi setiap kali sampai di halaman istananya, gajah itu secara ajaib melesap ke bawah tanah dan muncul kembali di sisi si anak tadi. Raja melakukan hal ini tiga kali dan hal yang sama terjadi pada tiap kalinya. Alasan bagi kejadian ini, dan pokok yang dilukiskan di sini, adalah karena raja tersebut tidak memiliki daya karma yang benar: ia tidak pernah mengumpulkan sebab-sebab untuk menikmati kekayaan yang diberi gajah tersebut sebagai akibatnya, sementara si anak kecil tadi iya. Hukum perilaku dan akibat-akibatnya itu tak dapat dibayangkan, dan seorang raja sekalipun tak punya kuasa untuk mengubahnya.

Pokok berikutnya ialah bahwa jika kita telah melaksanakan suatu tindakan tertentu, tindakan tersebut tidak akan sia-sia; akibatnya akan datang. Ini ditunjukkan di sini oleh fakta bahwa anak kecil yang menjadi satu dari enam belas Arhat ini telah mengumpulkan sebab-sebab untuk mampu memiliki gajah yang senantiasa berada di sisinya tersebut. Oleh karena itu, persembahan daun emas pada gajah Buddha Kashyapa di masa lalu itu bukanlah tindakan tanpa arti: tindakan itu memunculkan akibat ini. Lebih lagi, ketika Kanakavatsa tumbuh besar, ia meninggalkan kehidupan keluarganya, mengenakan jubah, dan akhirnya menjadi makhluk terbebaskan, seorang Arhat. Maka, mengingat hal ini, kita perlu memutuskan bahwa kita akan mencoba untuk melakukan tindakan membangun yang paling kecil sekalipun. Kita tak perlu menganggap tindakan positif apapun terlalu kecil, karena, pada akhirnya, ember bisa penuh karena diisi tetes-tetes air.

Dengan demikian, kita memantapkan hati untuk membina daya positif dengan jenis tindakan membangun apa saja yang mampu kita kerjakan dan untuk menghindari tindakan negatif atau merusak yang paling tipis sekalipun. Kita jangan membodohi diri dengan berpikir bahwa apapun yang kita perbuat tidak jadi masalah, karena kalau kita tidak hati-hati, tindakan merusak yang kecil sekalipun bisa jadi malapetaka. Jika kita menepuk dan membunuh seekor nyamuk dengan jahatnya, dan kita tidak mengakui bahwa yang kita perbuat itu salah dan keliru, daya negatif yang kita bina dari tindakan ini melipatganda keesokan harinya, menjadi sama dengan daya yang terbina saat kita membunuh dua ekor nyamuk. Di hari berikutnya, ia berlipat lagi menjadi empat dan, dalam kurun setahun jika kita tetap tidak mengakui, dengan jujur dan terbuka, bahwa perbuatan kita itu keliru, dan kita melakukan berbagai tindakan untuk memurnikan diri kita dari daya negatif itu, ia akan membina daya negatif yang jumlahnya sukar dipercaya, hanya dari tindakan membunuh seekor nyamuk itu saja.

Dari tindakan menepuk nyamuk dengan tangan kita saja, misalnya, akibat yang matang dapat berupa terlahir kembali di salah satu neraka dengan tubuh serupa gergasi. Kita akan mendapati diri kita berdiri di antara dua gunung besar dan kita sendiri pun akan dilumat di antara dua gunung itu. Kedua gunung itu kemudian memisah; kita hidup lagi; lalu dilumat sekali lagi, terus-menerus. Ini akan berlangsung sampai daya negatif yang kita bina telah habis semua.

Pokok dari hal ini adalah bahwa kita mesti berjanji untuk menghindari tindakan-tindakan negatif dan mencoba sebaik mungkin untuk mengerjakan tindakan positif dan membangun apapun yang kita bisa, tak peduli sekecil apapun tindakan itu kelihatannya. Inilah pokok utamanya, hal utama yang telah ditunjukkan oleh para Buddha. Kita bicara tentang ajaran dan laku utama yang ditunjukkan oleh para Buddha dan inilah yang utama: bertindak secara membangun dan menghindari perilaku merusak.

Memperoleh Keyakinan dalam Ajaran Buddha tentang Sebab dan Akibat Berperilaku

Pokok-pokok tentang hukum sebab dan akibat berperilaku ini dibahas di dalam berbagai naskah kitab suci, misalnya, dalam karya-karya kuno seperti Sutra yang Bijak dan yang Bodoh (mDdo mdzangs-blun, Skt. Damamuko-nama-sutra) dan yang lainnya dari kumpulan kata-kata Buddha yang diterjemahkan, Kangyur (bKa'-'gyur). Jilid-jilid karya-karya kumpulan ini dinomori dengan huruf-huruf Tibet, dan jilid-jilid yang dinomori dengan SA, HA, dan SHA berisikan sejumlah besar bahan mengenai pokok-pokok ini. Akan sangat berfaedah jika kita mempelajarinya.

Semua ragam pokok ini – misalnya, bahwa jika kita bertindak dengan sikap membangun, maka sejenis keadaan bahagia tertentu akan mengikuti sebagai akibatnya; sementara jika kita bertindak dengan sikap merusak maka sejenis masalah atau ketakbahagiaan tertentu akan mengikuti sebagai akibatnya – semua hal ini dapat kita jumpai di naskah-naskah kitab suci. Pokok-pokok tersebut kita terima secara mutlak, karena amat sangat sukar dibuktikan sendiri melalui mantik belaka.

Kalau kita pikirkan lebih jauh lagi, kita perlu mempertimbangkan dengan baik siapa yang mengajarkan pokok-pokok karma ini, siapa pengarangnya, sumber dari kewenangan kitab suci tersebut. Jika sumbernya merupakan Buddha yang bercita jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya, orang semacam itu tidak mungkin berbohong. Lebih lanjut lagi, bagaimana kita memantapkan keyakinan dan kepercayaan kita terhadap wewenang kitab suci dari yang telah dikatakan Buddha tentang hukum-hukum perilaku karma dan akibat-akibatnya? Kita lihat beberapa hal lain yang telah dikatakan Buddha di dalam tiga kumpulan ajaran serupa-keranjang darinya – Tripitaka. Ada kumpulan ajaran serupa-keranjang mengenai cara untuk menjadi jinak (Vinayapitaka), mengenai tema-tema laku (Sutrapitaka), dan mengenai pokok-pokok pengetahuan khusus (Abhidharmapitaka).

Coba pertimbangkan pokok masalah yang ditemukan dalam ajaran-ajaran Buddha mengenai tema kesadaran pembeda bercakupan luas (penyempurnaan kebijaksanaan), Sutra-Sutra Prajnaparamita. Dalam pembahasan mengenai sunyata (kehampaan) ini, tiadanya segala cara mengada yang mustahil, kita melihat seluruh garis nalar yang sahih yang membuktikan bahwa semua cara mengada yang mustahil dan khayali itu tidak ada sama sekali. Dengan merenungkan garis-garis nalar ini, kita akan bisa yakin, atas dasar mantik, bahwa segala sesuatu yang dikatakan Buddha tentang sunyata atau kenyataan itu sesungguhnya benar. Atas dasar itu, kita memperoleh keyakinan dan kepercayaan yang kuat dan mantap bahwa Buddha merupakan sumber keterangan yang sahih. Atas dasar keyakinan itu, kita juga dapat merasa yakin bahwa ia merupakan sebuah sumber keterangan yang sahih tentang hukum perilaku dan akibatnya dan bahwa segala hal yang dikatakannya mengenai perihal karma adalah benar. Atas dasar itu, kita akan merasa yakin untuk memanutkan perilaku kita, bahkan yang terkecil sekalipun, selaras dengan segala hal yang ia katakan tentang sebab dan akibat berperilaku.

Contohnya, Buddha berapa bahwa jika kita bertindak dalam sikap membangun dengan melaksanakan sepuluh jenis perilaku membangun, akibat yang akan matang adalah sebuah kelahiran kembali sebagai manusia ataupun dewa. Kita kemudian akan melihat segala hal yang Buddha katakan tentang kenyataan dalam ajaran-ajarannya mengenai kesadaran pembeda bercakupan luas atas sunyata. Ketika kita menyadari lewat mantik bahwa segala hal yang ia katakan tentang kenyataan itu benar, kita terapkan fakta tersebut pada pernyataan Buddha lainnya tentang kenyataan, yaitu bahwa jika kita bertindak secara membangun, kita akan terlahir sebagai manusia ataupun dewa. Dengan demikian, keyakinan akan tumbuh dalam diri kita di atas dasar yang benar, bahwa pernyataan ini pun benar.

Ada saja orang yang berkata, "Tentu saja kita dapat melihat bahwa ada manusia, tapi tidak ada dewa dan konyol sekali kalau kita berkata bahwa ada makhluk neraka dan hantu kelaparan." Mereka berkata bahwa mereka dapat membuktikan bahwa beberapa hal itu tidak ada hanya karena mereka tidak pernah melihatnya. Tapi jika kita semata-mata menyatakan bahwa bukti dari tidak adanya suatu hal itu adalah bahwa kita belum pernah melihatnya, itu penalaran yang buruk. Di sisi lain, yakin bahwa akibat dari tindakan-tindakan positif dan membangun adalah sebuah kelahiran kembali sebagai manusia atapun dewa, dan akibat dari tindakan-tindakan negatif dan merusak adalah kelahiran kembali pada tataran keadaan yang lebih buruk sebagai makhluk neraka, hantu kelaparan, dan seterusnya, hal ini merupakan sesuatu yang punya dasar yang benar – sumber dari keterangan ini adalah Buddha yang tercerahkan sepenuhnya. Oleh karena itu, adalah benar untuk sepenuhnya yakin bahwa apa yang dikatakan Buddha itu benar, karena ia merupakan sumber keterangan dan wewenang yang sahih. Atas dasar itu, kita memutuskan untuk memanutkan perilaku kita selaras betul dengan apa yang Buddha katakan, karena segala hal yang ia katakan, sampai pada rinciannya yang terkecil, tentang hukum perilaku karma dan akibat-akibatnya adalah benar dan sesungguhnya.

Cara untuk melaksanakan pokok ini dalam tindakan kita sehari-hari adalah dengan melihat diri kita secara jujur dan mencoba mengenali saat-saat ketika kita bertindak dalam yang manapun dari sepuluh cara merusak tersebut. Segera setelah kita perhatikan bahwa kita sedang bertindak merusak, kita harus menghentikan tindakan tersebut. Demikian juga, kita perlu menelaah diri kita ketika kita melakukan tindakan-tindakan membangun dan mendorong diri kita ke arah itu. Inilah cara utama untuk menjalankan laku; inilah titik awalnya.

Sejak dahulu kala, kita telah terbiasa bertindak secara merusak. Jadi, tidak peduli apapun yang kita perbuat, kita akan mendapati bahwa, tentu saja, naluri, kebiasaan, dan kecenderungan untuk bertindak merusak itu akan meliputi diri kita. Hal-hal itu akan muncul dengan kuatnya. Tapi yang perlu kita lakukan adalah maju perlahan dan gigih. Pelan-pelan, kita akan mampu membina kebiasaan membangun yang lebih banyak lagi. Ketika kita melatih diri dan membersihkan diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk ini, kita akan mendapati bahwa perlahan-lahan kecenderungan kita untuk bertindak secara gelap dan merusak akan berkurang. Kecenderungan kita untuk bertindak secara gemilang dan membangun akan meningkat. Pada akhirnya, kita akan selalu bertindak secara membangun dan positif.

Contoh dari Geshe Pen Kungyel

Perhatikan istilah "membina dan membersihkan", yang digunakan untuk menggambarkan berbagai laku persiapan. Yang kita bina adalah bermacam kebiasaan dan daya membangun dan positif, dan yang kita bersihkan dari diri kita adalah semua kecenderungan negatif kita. Kalau saya ceritakan beberapa kisah dari kehidupan Pen Kungyel (Phen rKun-rgyal), mungkin akan bisa membantu; ceritanya amat menarik.

Pernah ada seoran guru yang baik, seorang Geshe, dari aliran Kadam di Tibet yang nama aslinya Pen Kungyel, yang berarti Raja Penyamun dari Penpo. Kemudian, ketika ia menjadi seorang pelaku rohani, ia mengambil nama Geshe Tsultrim-gyelwa (dGe-bshes Tshul-khrims rgyal-ba) sebagai nama Dharma. Nama tersebut artinya "pembimbing rohani berjaya dengan tertib-diri berbudi pekerti". Tapi, sebelum ia menjadi seorang pelaku rohani, saat ia masih menyandang nama lamanya, ia merupakan seorang penyamun jahat dan telah bertindak dengan kejam sekali. Ia juga memiliki sebuah ladang yang mengelilingi rumahnya, seluas kira-kira empat puluh are. Ia juga selalu melakukan hal-hal negatif selagi bekerja di tanahnya, dan demikianlah ia disebut "orang dengan empat puluh are masalah".

Suatu hari ia mendaki gunung di dekat rumahnya, dan di sana ia bertemu dengan seorang pedagang keliling yang, karena tidak tahu bahwa orang yang ia temui adalah Pen Kungyel, bertanya padanya, "Apakah penyamun jahat Pen Kungyel ada di sekitar sini?" Pen Kungyel membalas, "Aku Pen Kungyel." Pedagang itu jadi amat takut dan terhenyak sampai jatuh dari kudanya dan terguling ke bawah gunung. Pen Kungyel amat terharu akan hal ini dan berpikir, "Kalau bunyi namaku saja bisa punya kuasa sebegitu buruknya; ini benar-benar parah! Aku benar-benar telah membina daya negatif yang luar biasa karena ini!" Dengan demikian, ia lalu mengembangkan rasa sesal yang amat sangat akan tindakan-tindakannya dulu dan memutuskan untuk meninggalkan jalan hidup penyamunnya.

Ia sepenuh hati mengikatkan dirinya dengan seorang guru rohani, dan bekerja serta menjalankan laku dengan amat kerasnya. Laku utamanya adalah mencoba meninggalkan sepuluh tindakan merusak dan menjalankan laku sepuluh tindakan membangun. Ia mencatat perbuatannya tiap hari. Ia punya sepotong arang, dan kalau ia melakukan suatu hal negatif atau merusak, ia akan menggoreskan tanda hitam di atas sebuah batu. Ia juga punya sepotong kapur putih dan setiap kali ia melakukan sesuatu yang positif atau membangun, ia akan menggambar sebuah tanda putih. Ia melakukan penilaian seperti itu, seperti sebuah hitung-hitungan. Awalnya, ada lebih banyak tanda hitam tiap hari, dan hampir tidak ada tanda putih sama sekali; tapi lambat-laun tanda hitamnya jadi semakin sedikit. Tanda putihnya terus meningkat jumlahnya sampai pada akhirnya tiap hari ia hanya menggambar tanda putih saja.

Pada awalnya ketika ia melatih diri seperti ini, saat ternyata ada lebih banyak tanda hitam dibanding yang putih di penghujung hari, ia akan meremas tangan kirinya dengan tangan kanannya, dan membentak dengan marah sekali. Ia bilang, "Pen Kungyel! Kau dulu manusia buruk busuk, dan masih juga berkelakuan kotor. Itu sama sekali tidak baik!" Dengan begitu, ia memarahi dirinya sendiri begitu ganasnya karena telah bersikap negatif dan merusak pada hari itu. Tapi kemudian, selagi ia lanjut menjalankan laku dan perhitungan catatannya di akhir setiap harinya, seperti seorang pedagang di sebuah kedai yang menghitung pemasukan saat akan tutup di penghujung hari, lambat-laun ia menggambar jauh lebih banyak tanda putih. Maka ia akan menggenggam tangan kanannya dengan tangan kiri dan menyelamati dirinya sendiri sambil berkata, "Sekarang kau betul-betul seorang Geshe Tsultrim-gyelwa, ia yang berjaya dengan sila (tertib-diri berbudi pekerti)! Bagus sekali!" Begitulah cara ia menyelamati dirinya sendiri.

Dengan menjadi seorang pelaku rohani yang luar biasa, namanya menyebar luas sekali. Suatu hari ia pergi ke kota untuk mencari sedekat dan masuk ke sebuah rumah untuk menerima makanan. Ada sekeranjang daun teh di dekat pintu dan, karena naluri mencurinya sangat kuat dan kental, ia dengan sendirinya menjulurkan tangan untuk mengambil segenggam daun teh. Ia menangkap basah dirinya sendiri dan, merenggut tangannya yang satu dengan tangan yang lain, ia berteriak pada nyonya rumah, "Kesini cepat, Ibu, aku menangkap seorang pencuri!"

Lain waktu, selagi ia tinggal di gubuk meditasinya, ia menerima sebuah pesan bahwa pendermanya akan datang berkunjung di hari berikutnya. Ia bangun amat awal di pagi itu, membersihkan dan menyapu gubuknya dengan amat baik, dan menata persembahan yang amat indah di altarnya. Ia duduk dan menelaah dorongannya, karena ini cara lumrah dalam menjalankan laku. Setelah kita menata altar kita di pagi hari, ketika kita mulai babak meditasi, kita duduk dan menelaah dorongan atas perbuatan kita. Ketika ia duduk dan menelaah motivasinya dan berpikir, "Mengapa aku harus capek-capek menyapu bilikku dan membersihkannya dengan amat baik pagi ini dan menata persembahan yang begitu indah?" ia mendapati bahwa ia sebetulnya berada di bawah pengaruh perhatian-perhatian duniawi atas hal-hal fana. Ia telah mengerjakan semua persiapan apik ini untuk mencoba membuat pendermanya terkesan. Ketika ia menyadari bahwa hal ini merupakan jenis dorongan yang amat buruk, ia bangkit dan beranjak ke pintu, tempat ia menaruh tempat sampah yang menampung semua abu dari perapian. Ia mengambil segenggam abu dan melemparkannya ke atas altar dan menyerakkan seisi ruangan. Ia kemudian jadi begitu terkenal, sebagai "Geshe Tsultrim-gyelwa, ia yang berjaya dengan sila, yang melemparkan abu ke wajah perhatian-perhatian duniawi."

Lain waktu, seseorang sedang membagikan susu asam pada sekelompok pelaku rohani. Ia sedang duduk di belakang, dan selagi susu asam itu dibagikan secara bergilir ke semua orang lain, ia memperhatikan bahwa setiap orang di depan mengambil banyak sekali susu asam untuk dimakan. Ia menjadi amat kesal pada orang-orang di depan yang melahap sebagian besar susu asam yang dihidangkan. Ia mula mengira-ngira apa masih ada nanti yang tersisa ketika gilirannya untuk makan tiba, dan dengan demikian ia mengembangkan pikiran-pikiran negatif atas apa yang sedang terjadi di situ. Ketika orang yang menghidangkan susu asam itu akhirnya tiba di tempatnya, Pen Kungyel menyadari perbuatannya. Ia membalikkan mangkuknya dan berkata, "Terima kasih, saya sudah makan susu asam saya dengan melihat orang-orang di depan sana!"

Pen Kungyel selalu berkata bahwa ia adalah seorang pelaku rohani yang sederhana. Caranya menjalani laku rohaninya adalah bahwa ketika ia mendapati dirinya bertindak secara negatif dan merusak, ia menjadi kesal dan amat was-was; sementara ketika ia bertindak secara positif dan membangun, ia akan santai. Ia dulu berkata, "Inilah cara laku rohaniku."

Maka, pokok utamanya adalah bahwa sebagai pelaku Dharma kita harus selalu mengawal cita kita. Kita mesti senantiasa memeriksa sikap kita, cara kita bertindak. Inilah perhatian utama yang mesti kita miliki. Kita harus mencoba untuk tidak suka mencampuri urusan orang. Kita seharusnya jaga diri kita sendiri saja dan memeriksa cara kita berperilaku. Ini adalah suatu hal yang disebutkan pula oleh Shantidewa yang luar biasa. Ini digambarkan dalam naskah kita pada ayat berikut:

(4) Seperti bayangan pada raga,
Aku memohon ilham untuk selalu menjaga
Menghindarkan diriku dari tindakan
   paling remeh sekalipun

Yang akan membina sebuah jaringan kekeliruan
   dan untuk menyempurnakan
Setiap perbuatan yang akan membina sebuah
   jaringan
daya yang membangun.

Saat dikatakan di sini, "Aku memohon ilham untuk selalu menjaga," itu berarti sebuah ilham untuk tidak bertindak dalam sikap yang liar dan tunacita. Misalnya, dalam hal tindakan-tindakan raga kita, untuk memastikan bahwa kita tidak cuma menghabiskan waktu dengan minum, merokok, madat, dan seterusnya – bertindak dalam sikap yang amat liar tak terkendali. Dalam hal wicara kita, untuk mengawasi perkataan kita dan tidak membiarkan saja mulut kita meracau sesukanya, mengatakan apa saja yang melintas di dalam benak kita. Demikian juga, dalam hal cita kita, untuk memastikan bahwa kita tidak membiarkan saja cita kita meyimpang ke garis pikir negatif, keinginan untuk mencelakai orang lain atau iri atau apapun itu. Ini artinya kita mesti amat berhati-hati dan memastikan bahwa kita tidak bertindak dengan sembrono. Ini merupakan hal yang juga ditunjukkan oleh guru besar Chandrakirti di dalam naskahnya, Madhyamakavatara (dBu-ma-la 'jug-pa), Sebuah Tambahan bagi (karya Nagajurna "Bait-Bait Akar mengenai) Jalan Tengah." Di situ, Chandrakirti memberi penekanan berat pada pengawalan perilaku kita sehingga bersih dari kesepuluh tindakan merusak.

Pentingnya Menjaga Sila yang Ketat

Ketika kita amati semua laku mengenai perilaku bersila dan kita mencoba menghindari tindakan merusak apapun dan selalu bertindak secara positif dan membangun, kita melihat bahwa laku semacam itu berjalan di bawah tujuan pelatihan bagi seseorang yang berada pada tingkat dorongan awal. Nah, kita jangan sampai menanggalkannya sembari kita membuat kemajuan dalam laku rohani kita dan berpikir, "Ini cuma jenis laku yang remeh untuk para pemula, dan aku tak mau ambil pusing tentangnya." Alih-alih, menjaga sila yang ketat itu mesti menjadi landasan yang mantap yang kita canangkan bagi jenis apapun dari laku rohani yang kita jalani di hari depan. Ibarat berdiri di atas dua kaki kita – sila yang ketat membentuk suatu landasan kuat untuk tempat kita berjalan.

Kalau kita mengerdilkan dan memandang rendah laku sila untuk tidak bertindak merusak dan senantiasa mencoba positif dan membangun, dan berkata bahwa hal ini tidak begitu perlu, dan kalau, di atas hal itu, kita mencoba mengkaji sunyata atau, di atas hal itu, kita mencoba membaktikan hati kita dengan sebuah tujuan bodhicita atau, di atas hal itu, kita mencoba untuk masuk ke dalam laku tersembunyi tantra, itu tidak akan berhasil. Tidak akan berhasil. Kita harus memiliki dasar sila sebagai kaki-kaki untuk berdiri dan hanya dengan itulah kita lanjut melangkah; kita tak bisa melakukannya tanpa dasar ini. Dahulu, ada seorang Geshe luar biasa yang amat terpelajar dari Mongolia, dan ia tinggal di Wihara Sera. Ketika satu orang kaya datang dan meminta pengajaran tentang sunyata padanya, ia berkata, "Lupakan sunyata. Berjagalah agar tidak jadi seperti pencuri!"

Amat sangat penting bagi kita untuk mengikuti pelatihan sila ini dan menghindari tindakan yang bersikap merusak ini. Anda sekalian punya guru rohani yang luar biasa di sini dan seharusnyalah Anda meminta mereka memberi ajaran atau arahan lebih lanjut tentang perilaku karma dan akibat-akibatnya. Secara khusus, tanyakan pada mereka tentang apakah jenis-jenis tindakan membangun dan merusak itu, dan jalankan laku yang pertama serta hindari yang kedua sebisa mungkin. Kalau Anda menjalankan laku rohani Anda dengan amat baik lewat cara ini, Anda dapat menghindar dari kejatuhan ke tataran kelahiran kembali yang lebih buruk. Di atas dasar itu, Anda akan mampu untuk memperoleh sebuah kelahiran kembali sebagai manusia ataupun dewa. Kemudian Anda akan mampu untuk terus memiliki kelahiran kembali yang lebih baik dalam hidup demi hidup Anda. Anda akan mampu bekerja dengan sikap ini dan mencapai tataran tercerahkan dari seorang Buddha. Hal itu tidaklah sukar-sukar amat.

Ada sepuluh tindakan membangun dasar dan sepuluh tindakan merusak dasar. Kita mesti mencoba waspada akan semua tindakan itu dan awas terhadap perbuatan kita. Kita perlu jadi seperti Pen Kungyel, si guru luar biasa tadi, dalam hal memeriksa diri, dan dengan demikian kita akan berkembang. Pen Kungyel pernah bilang, "Waktu aku masih jadi penyamun dan mengikuti cara hidup lamaku, aku berladang di atas tanah empat puluh are. Aku berburu; aku menangkap ikan; aku menjarah kereta-kereta para pedagang yang lewat di tempat tinggalku. Tetap saja, aku tak bisa mendapatkan cukup untuk kumakan. Aku tak bisa memenuhi kebutuhan. Sekarang, saat aku telah meninggalkan semua kekhawatiran akan segala hal-hal bendawi dan duniawi, aku punya lebih dari cukup dan orang-orang selalu memberiku lebih dan lebih lagi – lebih dari yang mungkin dapat kugunakan." Ia menambahkan ini: "Sebelumnya, mulutku sukar mendapat suapan cukup makanan, sekarang makanan itu yang sukar mendapat mulut yang cukup mampu mengunyahnya!"

Oleh karena itu, kita mesti menggunakan dengan benar apa yang kita punya, seperti membuat persembahan dengan milik atau kekayaan apapun yang kita punya. Kita jangan membiarkannya sia-sia. Kita jangan cuma mementingkan diri sendiri dengan mencoba memperoleh cukup makanan untuk mulut kita. Kita harus mencoba untuk tidak berkutat pada pemuasan hasrat sementara kita saja. Kalau cuma begitu, sama saja dengan anak ayam yang berjalan kesana-kemari, mencoba mencari cukup makanan untuk mulutnya, atau sama seperti seekor tikus kecil saja. Kalau kita ini seorang pelaku rohani yang tulus, kita tidak perlu khawatir akan mati kelaparan. Hal seperti mati kelaparan itu belum pernah ada terdengar sama sekali, di antara ratusan ribu pelaku rohani.

Jadi, setelah menemukan dasar sempurna dari kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia yang kita miliki ini, penting bagi kita untuk menjalankan laku dengan patut dan memanfaatkan dengan baik kelahiran kembali tersebut. Alasannya adalah bahwa kita ingin bahagia dan kita tak ingin mengalami masalah ataupun duka. Sebab-sebab kebahagiaan dijelaskan di sini dalam hal bertindak secara membangun. Sebab-sebab ketakbahagiaan dan masalah pun dijelaskan di sini dalam hal bertindak secara merusak dan negatif. Oleh karena itu, karena kita ingin bahagia, kita perlu bertindak dengan cara yang memungkinkan kita membina sebab-sebab bagi kebahagiaan itu.

Kerugian Semua Kelahiran Kembali Samsarawi yang Berulang Tanpa Terkendali

Sekalipun menjalankan laku bersila ini dapat menghindarkan kita dari kelahiran kembali pada tataran yang lebih buruk, dan kita dapat terlahir kembali sebagai manusia ataupun dewa, kita tidak boleh berpuas diri hanya karena itu saja. Tidak peduli kita terlahir kembali ke dalam keadaan samsara yang berulang tanpa terkendali seperti apapun, hal itu hanya akan berujung pada masalah dan duka yang lebih lanjut saja. Tidak ada keadaan berulang tanpa terkendali yang sungguh-sungguh membahagiakan dan aman. Ketika kita mencapai tingkat pemahaman ini, ibaratnya kita lanjut ke tingkat berikutnya atau naik kelas di sekolah. Ini dibahas di dalam ayat berikut, yang berbunyi:

(5) Semarak keberadaan yang gandrung,
sekalipun ketika dinikmati,
   takkan pernah mencukupi,

Gerbang dari semua masalah,
tiada cocok untuk membuat citaku aman.
Menyadari perangkap-perangkap ini,
   aku memohon ilham

Untuk mengembangkan minat bulat
   terhadap sukacita kebebasan.

Sebelumnya kita telah bicara tentang mencoba menghindari segala keadaan bermasalah dari terlahir kembali di salah satu tataran yang lebih buruk. Kini kita meluaskan cakupan kita dan berpikir dalam hal segala jenis keadaan berulang tanpa terkendali dalam keberadaan samsarawi gandrung kita. Tidak peduli seberapa indah keadaan itu tampaknya, beragam macam benda, kedudukan, dan kenikmatan yang kita miliki takkan pernah mencukupi. Semua itu hanya akan menurunkan lebih banyak masalah dan kesukaran. Oleh karena itu, kita mencoba untuk mengembangkan tekad untuk bebas sepenuhnya dari segala masalah dan perkara. Inilah artinya penyerahan. Atas dasar tekad untuk bebas ini, kita tambahkan satu minat lagi: untuk mencapai tataran kebebasan. Inilah cakupan dorongan yang dijelaskan di dalam ayat ini.

Dasar dari semua hal ini, pertama-tama, adalah adanya landasan yang kokoh – yaitu, sebuah ikatan sepenuh hati dengan guru rohani kita – dan kemudian berpikir tentang dasar karya sempurna dari kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia dengan segala jeda dan pengaya yang kita miliki. Kita perlu mengenali dan menghargai kesempatan-kesempatan ini dan betapa sukarnya semua ini dijumpai. Lalu, kita perlu berpikir tentang kematian dan betapa tidak ada satu keadaan pun yang tetap jumud. Kesempatan-kesempatan ini akan hilang, dan setelah mati kita dapat terlahir kembali pada salah satu keadaan yang lebih buruk. Merenungkan segala duka dan masalah mengerikan yang akan kita hadapi di sana, kita kemudian mencari haluan yang aman dan benar untuk menghindarinya. Cara mengambil haluan aman penyerahan itu adalah dengan memanutkan perilaku kita dalam kerangka hukum perilaku karma dan akibat-akibatnya. Semua hal ini sudah kita dibahas.

Kita akan lanjutkan pembahaAsan kita tentang ayat ini di babak berikutnya.