Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Penjelasan tentang Sokoguru bagi Sifat-Sifat Baik

Tsenzhab Serkong Rinpoche I
diterjemahkan oleh Alexander Berzin
Ulverston, Inggris, Oktober 1982
[salinan yang sudah disunting]

Sesi Empat: Cakupan Dorongan Menengah

Duka Bidang-Bidang Keberadaan yang Lebih Tinggi

Seorang insan rohani sejati, atau seorang pelaku Dharma, merupakan seseorang yang berupaya untuk mampu mendatangkan manfaat bagi masa hidup mendatang dan setelahnya. Orang seperti itu, pada tingkat awalnya, akan menahan dirinya dari sepuluh tindakan merusak, sebagai sila yang dianutnya. Ia akan melibatkan diri dalam tindakan membangun untuk memperoleh kelahiran kembali yang lebih baik, dan seterusnya. Orang seperti itu memiliki dorongan tingkat awal. Berlindung dengan mengikuti haluan aman dan positif dalam hidupnya sedemikian rupa, orang seperti itu akan benar-benar mampu mencapai kelahiran kembali sebagai manusia ataupun dewa. Namun berpuas diri dengan hasil sejauh itu saja tidaklah cukup. Itu karena sekalipun orang seperti itu terlahir kembali sebagai manusia ataupun dewa, keadaan-keadaan ini tetap jatuh pada lingkaran keberadaan gandrung, dan kebahagiaan yang dicapainya merupakan bentuk-bentuk kebahagiaan yang bersifat duniawi dan dapat punah.

Malah, semua tataran yang mereka capai ini hanyalah contoh dari duka dan masalah yang sebenarnya. Di atas dasar kelahiran kembali sebagai seorang manusia ataupun dewa, mungkin bagi kita untuk dapat terus maju dan mencapai suatu tataran cita yang tenang dan menetap, sebuah cita shamatha, sebuah ketenangan batin. Dan, di atas dasar cita yang tenang dan menetap itu, mungkin bagi kita untuk terlahir kembali pada bidang-bidang keberadaan yang lebih tinggi, salah satu dari alam yang lebih tinggi. Pada tingkat seperti itu, misalnya, jika kita terlahir kembali pada bidang rupa-rupa halus (alam rupa), kita tidak akan memiliki perasaan atau sikap mengganggu yang berhubungan dengan bidang hasrat-hasrat inderawi (alam hasrat). Demikian pula, jika kita terlahir kembali pada bidang makhluk-makhluk arupa (alam arupa), kita tidak akan memiliki perasaan dan sikap mengganggu yang berhubungan dengan bidang rupa-rupa halus. Selagi kita menanjak ke bidang yang semakin tinggi dalam berbagai alam dewa, tatarannya jadi semakin istimewa, satu dibanding lainnya. Misalnya, tanah di wilayah tempat bidang-bidang semacam itu ada terbuat dari permata. Raga dari berbagai makhluk di sana amat indah dan rupawan, dan berbagai fitur istimewa menjadi lebih menakjubkan lagi tingkat demi tingkat.

Akan tetapi, sekalipun kita terlahir pada salah satu dari bidang keberadaan yang lebih tinggi ini, dimana segala sesuatu begitu indah dan menyenangkan, kita tetap memiliki keberadaan yang gandrung. Kita masih harus mengalami samsara, permasalahan yang berulang tanpa terkendali. Contohnya, kita mungkin terlahir kembali di satu dari bidang yang lebih tinggi ini, tapi kemudian keadaan berulang tanpa terkendali itu terjadi – kita jatuh ke kelahiran kembali di bidang yang lebih rendah. Lalu, lagi-lagi kita mungkin terlahir kembali di bidang yang lebih tinggi, naik dan turun; tapi, kenyataannya, waktu kita lebih sering habis di bermacam tataran kelahiran kembali yang lebih buruk. Ini bukan keadaan yang memuaskan sama sekali, dan serupa, misalnya, dengan naik turun gedung pencakar langit: begitu kita sampai di atas, satu-satunya hal yang tersisa untuk kita lakukan adalah turun kembali.

Kita bisa lihat bahwa terlahir kembali sebagai manusia ataupun dewa bukanlah hakikatnya sama sekali dan hanya menjerat kita pada masalah yang berulang tanpa terkendali. Berdasarkan pemahaman dan kesadaran itu, rasa ragu mungkin terlintas di benak kita: bahwa mungkin tak ada gunanya mencoba terlahir kembali seperti itu, dan bahwa tak perlu kita menjaga sila menahan diri dari sepuluh tindakan merusak supaya terlahir kembali sebagai manusia ataupun dewa. Tapi, pokok intinya adalah tidak berpuas diri dengan hanya memperoleh salah satu dari kelahiran kembali yang lebih baik ini; melainkan, berkeinginan untuk mencapai kelahiran kembali seperti itu untuk mampu lebih baik dalam mendatangkan manfaat bagi yang lain dan untuk membuat kemajuan rohani yang lebih jauh. Kita tidak akan mampu melakukan kedua hal itu kecuali kita memperoleh kelahiran kembali semacam itu.

Unsur-Sebab Paling Menguntungkan dari Kelahiran Kembali sebagai Manusia

Kalau, saat kita terlahir kembali sebagai seorang manusia, kita punya umur panjang, kekuatan raga yang luar biasa, pengaruh positif yang kuat terhadap orang lain, dan sumber daya yang melimpah, hal ini akan membuat kita lebih bermanfaat bagi yang lain. Semisal kita berumur pendek, maka sekalipun kita punya minat yang mendalam terhadap laku rohani Dharma dan kita membaktikan diri kita bagi laku rohani tersebut, akan sukar sekali bagi kita untuk menyelesaikan pelatihan dan pelajaran kita sampai akhir. Kalau kita menderita penyakit atau cacat ragawi, ini pun akan melumpuhkan kita. Itu akan mungkin menghalangi kita untuk mengenakan jubah dan menjadi biksu atau biksuni; jadi amat penting dan berguna juga bagi kita untuk tetap sehat.

Lebih jauh lagi, jika kita terlahir kembali di sebuah keluarga yang baik dan kita menjadi orang yang berpengaruh, maka secara alami kita akan mampu bukan hanya mempunyai unsur-sebab yang berguna untuk membuat kemajuan bagi kita sendiri, tapi kita juga ada di kedudukan dimana orang lain akan mendengarkan kita. Kita akan mampu memberikan dukungan di sepanjang jalan rohani mereka. Oleh karena itu, jika kita ingin memiliki jenis kelahiran kembali sebagai manusia yang seperti itu, kita perlu membina berbagai sebab yang akan memunculkannya. Sebab-sebab semacam itu mencakup rasa hormat luar biasa terhadap orangtua kita dan terhadap semua orang yang memiliki keterampilan hebat dan sifat-sifat baik.

Selain itu, jika kita memiliki raga dan penampilan yang rupawan, orang lain secara alami akan tertarik pada kita. Mereka akan datang ke mana kita ada dan akan bersedia mendengar perkataan kita. Untuk memiliki hal tersebut, sebab-sebabnya adalah, misalnya, memeditasikan dan membina kesabaran dan tepa-selira sebagai kebiasaan kita, tidak pernah marah, dan membuat persembahan makanan, kembang, hiasan, dan pakaian untuk bermacam patung dan perlambangan Buddha. Demikian juga, kita perlu memberikan makanan dan pakaian bagi mereka yang amat miskin dan sakit. Dengan cara ini, kita membina sebab-sebab untuk menjadi rupawan.

Jika kita punya daya tahan tubuh dan tekad serta kekuatan batin yang baik sekali, kita akan mampu mengerjakan perbuatan-perbuatan hebat dan akan mampu menyelesaikan laku dan upaya kita sampai akhirnya nanti. Melakukan berbagai kegiatan lahir dan batin yang tak terpikirkan orang lain untuk dilakukan dan menyelesaikan tindakan tersebut sampai akhir adalah sebab untuk hal ini.

Perkataan yang dapat dipercaya juga penting untuk kita miliki, sehingga orang lain akan menanggapinya dengan sungguh-sungguh, baik yang mendengar itu manusia, dewa, atau siapapun juga. Kalau kata-kata kita dapat dipercaya, kita dapat menjadi pertolongan yang luar biasa bagi mereka. Sebab bagi hal ini adalah sikap yang amat jujur dalam segala perkataan kita, tiada pernah berdusta, tiada pernah berkata kasar, dan tiada pernah melakukan tindakan wicara yang merusak lainnya. Misalnya, mungkin saja ada dua orang yang melontarkan kata-kata yang sama persis dengan makna yang sama persis, namun orang mau mendengar yang satu tapi tidak yang lain. Perbedaannya muncul dari beragam jenis tindakan yang telah dilakukan orang tersebut di masa lalu. Orang yang dulu kerap berbohong dan melontarkan omong kosong serta ocehan tak bermutu – tak seorangpun yang akan memperhatikan perkataannya.

Ada tindakan penyebab yang membawa sifat-sifat baik ini sebagai akibatnya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membina semua sebab ini supaya terlahir kembali dengan raga manusia yang memiliki semua ciri istimewa ini. Maka adalah penting untuk melaksanakan semua tindakan penyebab ini karena, kalau kita terlahir kembali, misalnya, dalam sebuah keluarga atau kawanan penjahat atau orang-orang yang amat sangat negatif, akan sulit sekali bagi kita untuk mengatasi rintangan ini bagi laku rohani kita. Sekalipun kita sendiri memiliki berbagai sifat sempurna, penting bagi kita untuk tidak memiliki anasir-anasir lainnya yang akan menghambat kita dalam menggunakan sifat-sifat sempurna itu sepenuhnya. Untuk memunculkan akibat ini, kita perlu memanjatkan berbagai jenis doa, seperti, "Semoga aku senantiasa memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang sepenuhnya diberkahi dengan segala sifat positif dan keadaan yang bermanfaat. Di semua masa hidupku, semoga aku tidak terlahir kembali dalam keadaan-keadaan yang menghambatku dengan sejumlah besar rintangan untuk diatasi. Semoga aku senantiasa mampu menolong orang lain dan semoga aku tidak terlahir kembali sebagai seseorang yang menyebabkan sejumlah besar petaka dan masalah bagi orang lain dalam masa hidupku yang manapun itu." Inilah jenis-jenis doa yang perlu kita panjatkan supaya terlahir kembali dengan raga manusia yang mulia, yang memiliki semua sifat baik dan unsur-sebab pendukung untuk menggunakan sifat-sifat tersebut.

Tekad untuk Bebas dari Samsara

Tapi kita tidak boleh berpuas diri hanya dengan mencapai sebuah kelahiran kembali sebagai manusia dengan segala sifat baik ini. Ini karena, tidak peduli seberapa hebat hidup semacam itu, tetap saja ia mengandung masalah yang berulang tanpa terkendali. Malah, tidak peduli seberapa bagus hidup itu tampaknya, selalu saja ada masalah dan duka. Setiap keadaan berulang tak terkendali yang mungkin mendera kita saat terlahir kembali ini, keadaan-keadaan samsara, hanya berisikan masalah belaka. Penting bagi kita untuk sadar dan merenungkan hal ini: "Tidak peduli seberapa kaya aku nantinya, tidak peduli seberapa banyak hal positif yang terjadi padaku dalam hidupku, tetap saja aku harus menghadapi banyak masalah." Kalau kita memikirkan dengan amat sungguh-sungguh bermacam-ragam masalah dan duka yang ada, kita akan mengembangkan sikap yang dengannya kita ingin bebas dari semua itu. Atas dasar tekad untuk bebas dari semua masalah dan duka, kita akan berupaya mencapai suatu tataran kebebasan. Dan ini, lagi-lagi, merupakan sesuatu yang bisa kita lakukan di atas dasar kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia yang kita miliki ini.

Pokok masalah ini dibahas di naskah ini pada bait:

(5) Semarak keberadaan yang gandrung,
sekalipun ketika dinikmati,
   takkan pernah mencukupi;

Gerbang dari semua masalah,
tiada cocok untuk membuat citaku aman.
Menyadari perangkap-perangkap ini,
   aku memohon ilham,

Untuk mengembangkan minat bulat
   terhadap sukacita kebebasan.

Jebakan dan Masalah Samsara

Baris pertama, "Semarak keberadaan yang gandrung, sekalipun ketika dinikmati, takkan pernah mencukupi," mengacu pada jenis masalah pertama yang tidak bisa tidak kita hadapi, tanpa memandang kelahiran kembali seperti apa yang kita alami. Masalah bahwa tidak peduli seberapa banyak hal menakjubkan yang kita punya – tidak peduli seberapa banyak kekayaan dan kenikmatan yang kita miliki – tak seorang pun yang merasa itu cukup; ia takkan pernah mencukupi. Seperti saat kita merasa amat haus dan kita minum air garam: tak peduli seberapa banyak air garam yang kita tenggak, ia takkan pernah memuaskan dahaga kita. Sama saja dengan saat seseorang memiliki berlimpah kenikmatan dan seterusnya. Karena mereka diikat dalam keadaan samsara yang berulang tanpa terkendali, mereka tak pernah merasa bahwa mereka sudah cukup berpunya. Mereka selalu ingin lebih dan lebih lagi. Ketika seseorang mencapai satu kedudukan atau pangkat yang tinggi, mereka tidak pernah merasa itu sudah cukup tinggi; mereka selalu hendak berjuang untuk kedudukan yang lebih dan lebih tinggi lagi. Inilah keadaan yang dijumpai setiap orang: tak peduli seberapa banyak kekayaan yang mereka punya, tak peduli seberapa banyak hal yang telah mereka kumpulkan atau bina, setiap orang ingin mendapat lebih dan lebih lagi. Namun semua hal ini punah pada akhirnya. Tak peduli seberapa banyak yang kita kumpulkan atau bina, itu semua akan hancur berantakan.

Semakin banyak kita punya, semakin banyak pula masalah yang muncul darinya, seperti tertuang dalam baris: "itulah gerbang dari semua masalah." Misalnya, jika punya harta sejuta paun, kita lantas mengidap segala kekhawatiran untuk menjaganya, tidak kehilangan uang itu, dan seterusnya. Harta itu cuma memberi kita sejumlah besar kekhawatiran. Ada orang yang hanya punya lima atau enam paun, cukup untuk beli makan saja, namun mereka cukup bahagia atas hal ini. Cita mereka bebas. Sementara ada orang yang punya banyak uang, tapi mereka mendekapnya dengan amat erat dan tak mau menghabiskan atau menikmati lima atau enam paun sekalipun. Jadi semakin banyak yang kita punya, semakin banyak dan banyak masalah pula yang cenderung muncul darinya: kita jadi kikir dan seterusnya.

Dan tak peduli seberapa banyak teman atau kenalan yang kita punya di sekeliling kita, hasil akhir dari mengumpulkan teman kita bersama adalah bahwa setiap dari mereka akan pergi dan beranjak pulang. Hasil akhir dari segala sesuatu yang bersama-sama adalah bahwa ia akan terpisah dan segala hal berjalan dengan caranya sendiri. Tidak peduli seberapa tinggi kita naik, hasil alaminya adalah turun kembali. Misalnya, ketika kastil tempat kita berada ini dibangun, ia merupakan bangunan yang amat indah, dan kemudian seiring berjalannya waktu ia runtuh. Hal-hal semacam ini, seperti dikatakan di dalam naskah, " tiada cocok untuk membuat citaku aman." Tak peduli betapa menakjubkan sesuatu itu, hanya ada perangkap di dalamnya.

Ada berbagai masalah lain yang juga muncul, terlepas dari jenis tataran kelahiran kembali semacam apa yang kita alami. Ada masalah tak pernah puas. Itu sudah disebutkan tadi. Ada juga masalah tentang tak adanya kepastian dalam hidup. Orang bisa saja jadi pejabat penting, dan berada pada kedudukan yang amat tinggi; namun di akhir hidupnya, ia jatuh runtuh dan jadi miskin. Ini merupakan suatu hal yang dapat kita lihat terjadi bahkan dalam masa hidup kini seseorang. Dan demikian pula, orang yang mungkin menjadi teman di bagian awal dari kehidupan kita bisa kemudian berbalik menjadi musuh terburuk kita. Demikian pula, orang yang kita benci di awal hidup kita dan kita anggap musuh bisa berubah dan menjadi sahabat terbaik kita di kemudian hari. Jadi, dengan demikian, tidak ada kepastian perihal orang itu akan jadi kawan atau lawan. Selain itu, tidak peduli seberapa besar hasrat kita terhadap terjadinya suatu hal, atau diperolehnya suatu hal, kita kerap amat kesukaran dalam memperoleh apa yang kita mau dan yang sebaliknyalah yang terjadi. Malah, tampak seperti semua hal yang tidak kita inginkan justru mengguyur diri kita ini.

Duka Kelahiran Kembali sebagai Manusia

Bicara hanya tentang manusia dan duka yang dialaminya, ada segala macam masalah saat kita menua dan lanjut usia. Semakin kita tua, semakin buruk penyakit yang kita derita. Ini suatu hal yang dapat kita lihat jelas dengan mata kita sendiri. Ada juga duka dan masalah saat jatuh sakit. Ini juga suatu hal yang dapat kita lihat di sekeliling kita: ada banyak orang sakit. Ketika kita sendiri jatuh sakit, kita mengalami semua duka dan ketakbahagiaan karena sakit, sama seperti yang dialami orang lain.

Ada juga duka celaka yang menimpa kita pada saat kematian. Tidak peduli seberapa bagus obat atau dokter di rumah sakit tempat kita dirawat saat kematian menjemput, tak satupun bisa menolong. Pada saat itu, ketakbahagiaan dan duka yang kita alami merupakan jenis duka terburuk yang akan kita dapati. Kalau kelahiran kembali itu tak ada, tidak jadi masalah. Kematian akan jadi titik akhir, tapi faktanya tidak begitu. Kelahiran kembali itu ada. Kita harus mengikutinya.

Sebelum kita terlahir kembali, kita mati, dan segera sesudahnya, kita beranjak ke tataran di-antara, atau bardo. Di situ, jika kita telah membina sejumlah besar daya negatif, kita akan mengalami banyak hal menakutkan dan merasa ngeri dan menderita hebat. Tidak peduli seberapa banyak kita berupaya dalam hidup kita untuk membangun keamanan bendawi di sekeliling kita dengan menumpuk sejumlah besar kekayaan dan harta benda, pada saat kita mati kita harus meninggalkan semuanya itu. Kita tak bisa membawa apapun – baik itu teman, pendamping atau saudara; tak seorangpun dapat menyertai kita. Kita harus beranjak ke kurun di-antara itu sendiri. Jika seumur hidup kita membina sejumlah besar daya negatif, kurun antara akan jadi pengalaman mengerikan bagi kita. Duka yang akan kita alami di sana amatlah buruk.

Sebagai makhluk dalam kurun di-antara ini, kita akan mengambil rupa seorang manusia dengan ukuran kira-kira sebesar anak umur delapan tahun. Tataran di-antara bagi masa hidup yang ini sudah berlalu; itu terjadi sebelum kita lahir. Kurun di-antara yang akan kita hadapi setelah kematian kita ada kurun di-antara sebelum kelahiran kembali yang berikutnya. Jadi kalau kita terlahir kembali sebagai seorang manusia, maka selama tataran kurun di-antara sebelum kita mati, kita akan mengambil rupa yang mirip dengan yang akan kita miliki di kehidupan berikutnya. Ini karena tataran keberadaan kurun di-antara dan tataran keberadaan kelahiran kembali kita itu keduanya dilempar oleh karma pelempar yang sama, yang mendorong kita ke kelahiran kembali di masa depan.

Saya dari tadi bicara dalam kerangka hidup sebagai manusia di masa hidup sekarang dan terlahir kembali sebagai manusia pula di masa depan. Itu cerita baiknya. Tapi tentu saja, yang terjadi tidaklah selalu begitu. Kita dapat beranjak dari tataran kelahiran kembali yang manapun ke yang lainnya. Namun, jika kita terlahir kembali sebagai manusia lagi, pada akhir dari tataran keberadaan antara ini, kita akan harus melewati keberadaan pada saat pembuahan. Kita lantas akan mendapati diri berada di rahim seorang ibu, dan duka serta ketakbahagiaan yang akan kita dapatkan di sana amatlah pekat. Kita akan ditutup dan dikungkung di dalam sebuah ruang sempit untuk masa sembilan bulan lebih – sembilan bulan dan sepuluh hari. Kalau kita bayangkan kita ditutup sekarang ini di dalam sebuah ruang sempit tanpa jendela dan pintu selama sembilan bulan, pikirkan betapa tidak bahagianya kita – betapa kita tak suka dikungkung seperti itu selama itu. Seperti itu saja, kalau kita pikir-pikir, duka dikungkung di dalam rahim itu tak menyenangkan.

Kemudian, pikirkan semua masalah yang harus dihadapi seorang bayi. Jadi bayi itu tidak asyik: kita tak bisa bicara, tidak bisa berjalan, dan kita tak bisa menahan buang air. Kita kotor selalu dan itu tak asyik sama sekali. Lalu, begitu kita tumbuh sedikit, sebagai seorang bocah kita harus melalui masa-masa ke sekolah. Itu pun sarat akan masalah dan tidak menyenangkan.

Inilah jenis-jenis keadaan yang berulang tanpa terkendali. Kita melalui kitaran ini lagi dan lagi. Itulah samsara, keadaan berulang tanpa terkendali. Dan sekalipun kita terlahir kembali sebagai seorang manusia, kita terpaksa menjalani kitaran berulang tanpa terkendali ini lagi dan lagi. Kadangkala keadaannya baik saja dan kadangkala tidak. Faktanya, seringnya keadaan tidak baik-baik saja bagi kita. Faktanya, hidup kita hanya akan berisi masalah dan duka. Kalau kita berpunya – uang, harta benda, kawan, ketenaran, dan seterusnya – kita akan bermasalah dalam menjaga semuanya tetap kita miliki, dan kalau kita tak punya berbagai hal yang kita inginkan ini, kita akan bermasalah karena tak memilikinya dan berharap memilikinya. Pendeknya, mau yang manapun yang terjadi, kita berpunya atau tidak, kita tetap kalah; kita tetap didera masalah dan duka.

Sumber Segala Masalah Sejati

Nah, yang harus diperhatikan adalah ini: Apa sebab, apa akar, dari segala macam duka dan masalah ini? Kalau masalah itu tak punya sebab sema sekali, maka tak ada cara untuk menghilangkannya. Tapi faktanya semua masalah punya sebab. Kalau kita bertanya, "Apa akarnya atau apa yang melandasi semua masalah kita?", kita akan lihat bahwa semua masalah itu datang dari sumber segala masalah dan duka yang sejati, yaitu perilaku mendesak dan perasaan serta sikap yang gelisah kita. Rantai dari masalah kita terbentuk karena kita bertindak mendesak, dan itulah karma. Kita bertindak mendesak karena ada bermacam perasaan dan sikap, atau khayalan, yang gelisah. Dari mana datangnya ini? Semua ini muncul karena kita menanggap segala sesuatu seolah mengada dengan cara yang mustahil – misalnya, seolah segala sesuatu itu punya jati diri asli yang sejati, dapat ditemukan, dan ada dalam dirinya sendiri, yang mapan secara mandiri. Ketaksadaran atau kebodohan semacam ini, yang dengannya kita menggenggam seolah segala sesuatu itu punya jati diri sejati yang dapat ditemukan, adalah akar dari semua masalah kita. Ketika kita menanggap dengan cara demikian, hal itu menyebabkan segalanya berantakan; inilah akar dari segala masalah dan duka kita.

Buddha sendiri memutar cakra Dharma tiga kali dan mengalurkan tiga putaran penyebaran langkah-langkah pencegahan. Ini cukup dikenal. Putaran penyebaran pertama itu mengenai empat fakta yang dipandang benar oleh para makhluk berkesadaran tinggi, Empat Kebenaran yang Mulia. Dari empat fakta yang dipandang benar oleh para makhluk berkesadarman tinggi ini, oleh para arya ini, yang pertama adalah masalah atau duka yang sejati; yang kedua adalah sumber segala masalah dan duka yang sejati, yaitu perilaku mendesak dan perasaan-perasaan yang gelisah. Ini muncul dari tanggapan kita terhadap segala sesuatu, yang seolah memiliki jati diri yang sejati.

Menghindarkan Diri dari Tanggapan Jati Diri yang Sebenarnya/Sejati

Faktanya, segala sesuatu itu tak punya jati diri asli yang sejati, dapat ditemukan, dan ada dalam dirinya sendiri, yang mapan secara mandiri. Ketika kita membayangkan bahwa segala sesuatu itu punya jati diri semacam itu, padahal sebenarnya tidak, dan yakin bahwa yang kita lihat itu benar, inilah yang dimaksud di sini ketika kita bicara tentang menanggap segala sesuatu seolah punya jati diri yang sejati. Ini pengetahuan menyimpang, karena kita menanggap sesuatu yang mustahil dan tak ada sama sekali; jati diri yang sejati itu tidak ada. Mencoba menanggap segala sesuatu seolah jati diri yang sebenarnya itu ada merupakan pandangan menyimpang. Itu tidak mengacu pada sesuatu yang nyata; tidak berhubungan dengan kenyataan. Oleh karena itu, kalau kita dapat mengembangkan sebuah pemahaman bahwa jati diri yang sejati itu tidak ada, itu akan jadi lawan langsung dari ketaksadaran atau kebodohan, yang dengannya kita menanggap segala sesuatu seolah seperti apa adanya. Jadi pemahaman dan cita yang dengannya kita menyadari bahwa jati diri sejati itu tidak ada akan memutar-balikkan jenis sikap yang dengannya kita menanggap segala sesuatu seolah jati diri semacam itu ada.

Kalau kita bertanya, "Mengapa bisa pemahaman itu mempengaruhi sikap menyimpang tadi?", itu karena ketika kita telah membina kesadaran bahwa jati diri yang sejati itu tidak ada sebagai sebuah kebiasaan cita yang bermanfaat, kita akan dengan sendirinya mengenyahkan sikap ini, yang dengannya kita menanggap segala sesuatu seolah mereka ada. Itu karena keyakinan bahwa sesuatu itu ada dan kesadaran bahwa itu tidak ada dan tak pernah ada saling terpisah satu sama lain. Lewat jalan ini, kita tidak lagi menanggap segala sesuatu seolah punya jati diri yang sejati, kita tidak lagi didera perasaan atau sikap gelisah.

Sama seperti ketika kita memotong akar dari sebuah pohon, pohon itu tumbang dan daun serta cabangnya tidak lagi tumbuh. Ketika kita mengenyahkan penanggapan segala sesuatu seperti punya jati diri yang sejati, hal itu mengenyahkan 84.000 jenis perasaan dan sikap gelisah yang akan muncul dari keliru-sangka akan kenyataan ini. Dengan kata lain, karena 84.000 sikap gelisah itu semuanya muncul dari penanggapan segala sesuatu seolah punya jati diri yang sejati, ketika kita sadari bahwa hal itu tidak ada, itu mencabut dan mengenyahkan akar dari segala duka. Maka pemahaman bahwa jati diri yang sebenarnya itu tidak ada merupakan akar kebebasan yang sesungguhnya. Karenanya, kita akan mendulang manfaat besar jika membiasakan diri dengan pemahaman ini dan membinanya sebagai sebuah kebiasaan yang bermanfaat. Lantas, segala masalah dan duka kita akan berhenti.

Pasangan Pemurni dan Pengusik dalam Empat Kebenaran yang Mulia

Tataran ketika semua masalah kita telah berhenti ini, tataran tiadanya atau berhentinya masalah kita ini, dikenal sebagai "penghentian yang sejati", "gencatan yang sejati". Kalau kita bertanya, "Bagaimana masalah-masalah ini enyah; bagaimana tataran penghentian masalah yang sejati ini dicapai?", ia dicapai lewat sebuah jalan cita, yang dengannya kita memahami bahwa jati diri yang sejati dari segala sesuatu itu tidak ada. Pemahaman semacam itu merupakan jalan cita yang sejati – kebenaran mulia yang keempat. Oleh karena itu, hal yang menyebabkan berhentinya semua masalah kita adalah suatu jalan cita yang dengannya kita memiliki kesadaran pembeda yang dengannya kita melihat bahwa jati diri yang sejati itu tidak ada – dengan kata lain, kesadaran pembeda akan sunyata (kehampaan) atau ketiadaan mutlak dari jati diri yang sejati. Jalan cita yang sejati ini merupakan suatu sebab yang mengakibatkan penghentian yang sejati dari masalah-masalah kita, dan masalah tersebut tidak akan pernah berulang lagi. Jadi, jalan cita yang sejati adalah sebab dan penghentian yang sejati adalah akibat.

Tapi kita harus hati-hati membedakan jenis akibat apa penghentian yang sejati itu. Ia adalah akibat dari sebuah pemisahan, yang merupakan suatu jenis akibat khusus. Ia bukanlah jenis akibat yang dihasilkan atau dihimpun dengan sebab dan keadaan, layaknya pemerolehan dari penghentian yang sejati itu. Alih-alih, penghentian yang sejati itu sendiri adalah jenis akibat yang merupakan suatu gejala tunakeadaan yang jumud. Sebagai akibat pemisahan, ia adalah sebuah ketiadaan jumud dari suatu hal yang tidak bergantung pada sebab dan keadaan dan ia tidak akan pernah berubah.

Maka, penghentian yang sejati dan jalan cita yang sejati merupakan sisi pemurni dari empat fakta yang dipandang benar, Empat Kebenaran yang Mulia. Dan ketika kita melihat sisi pengusik dari kebenaran-kebenaran ini, ini mengacu pada dua kebenaran yang pertama. Di sini, sebab sejati dari semua masalah menjadi sebuah sebab, dan masalah yang sejati itu menjadi akibatnya.

Ada sebuah mantra yang disebut "hakikat kemunculan bergantung" (rten-'brel snyung-po) yang kerap kita daraskan: Om ye dharma hetu prabhava, hetun teshan tathagathohya vadate, teshanca yo nirodha, evam vadi maha-shramanaye svaha. Mantra itu adalah sebuah kalimat Sanskerta yang berarti: "Om, apapun gejala yang berasal dari suatu sebab, Yang Telah Mangkat telah sungguh mewartakan sebabnya; dan apapun penghentiannya telah demikian pula diwartakan oleh Sang Maha Petapa, Svaha." Mantra ini mengacu pada dua hubungan sebab dan akibat ini, di dalam Empat Kebenaran yang Mulia.

Buddha telah mencapai suatu tataran cita yang jernih sepenuhnya dan perkembangan seutuhnya – ia telah mencapai pencerahan. Begitu ia sendiri telah mencapai pencerahan, ia mengajarkan pada banyak muridnya cara untuk mencapai kebebasan dari semua duka yang mereka alami juga. Ia mengajarkan mereka empat fakta yang dipandang benar oleh para makhluk berkesadaran tinggi ini. Jika kita mengikuti ajaran dan arahan mengenai Empat Kebenaran yang Mulia ini, mungkin bagi kita untuk betul-betul mencapai suatu tataran kebebasan seperti yang dimiliki Buddha.

Menaruh Minat pada Pewujudan Kebebasan

Kita telah melihat bahwa semua masalah merupakan sesuatu yang tentunya tidak kita kehendaki, dan kita semua tentu mau memiliki kebahagiaan. Lebih lagi, kita mau memiliki jenis kebahagiaan yang langgeng dan mantap. Satu-satunya jenis kebahagiaan yang seperti itu adalah kebahagiaan mencapai tataran kebebasan – kemerdekaan dari semua duka dan masalah kita. Kita tidak hanya berminat mencapai kebebasan dari samsara, tapi juga kita yakin bahwa kebebasan itu sesuatu yang betul-betul bisa terwujud. Tapi, pencapaian suatu tataran kebebasan dari duka tidak terwujud tanpa sebab sama sekali. Alih-alih, ia terwujud pasti karena suatu sebab: sebabnya ialah memperoleh kesadaran pembeda yang dengannya kita melihat bahwa jati diri yang sejati itu sama sekali tidak ada. Kalau kita memperoleh pemahaman itu dan karenanya memunculkan sebab bagi kebebasan dengan mengembangkan kesadaran pembeda itu, kita mampu betul-betul mewujudkan kebahagiaan yang kita dambakan. Kita dapat mewujudkan tataran kebahagiaan yang langgeng, kebahagiaan dari suatu tataran kebebasan menyeluruh dari semua masalah dan duka kita. Kalau kita ingin mewujudkan tataran kebebasan ini, kita perlu mengembangkan sebuah minat yang bulat.

Bagaimana cara mengembangkan minat bulat ini? Bagaimana kita dapat betul-betul mencapai tataran ini? Pertama-tama, itu dilakukan dengan memiliki "kesadaran pembeda yang tertinggi", atau kadang disebut juga "berlatih dalam kebijaksanaan yang tertinggi". Untuk memperoleh pelatihan ini, kita perlu berlatih dalam samadi (daya pemusatan terserap) yang tertinggi terlebih dahulu. Dan, untuk memperoleh hal itu, kita perlu melatih sila tertinggi terlebih dahulu. Sila dan samadi bertindak sebagai landasan mantap untuk memperoleh kesadaran pembeda tertinggi. Pelatihan dalam sila yang tertinggi ini mensyaratkan penerapan berbagai perangkat kekang diri bagi kebebasan pribadi – sumpah-sumpah pratimoksha.

Kekang Tersumpah bagi Kebebasan Pribadi dan Pentingnya Menjaga Sila

(6) Aku memohon ilham untuk menghayati,
dengan kewaspadaan, keawasan,
Dan keterjagaan penuh, yang ditumbulkan oleh
   pikiran pendorong yang murni ini,

Laku-laku kebebasan pribadi,
Akar dari pelbagai ajaran.

Ada delapan perangkat kekang tersumpah bagi kebebasan pribadi – tiga bagi umat awam dan lima bagi mereka yang telah mengenakan jubah. Dari lima perangkat sumpah bagi orang-orang yang telah mengenakan jubah, ada perangkat bagi para biksu purna, dengan dua ratus lima puluh dua kekang tersumpah. Silsilah penahbisan bagi para biksuni purna dalam sumpah aliran Mulasarvatisvadin yang diikuti di Tibet tidak lagi ada, tapi kemudian terdapat dua perangkat kekang tersumpah bagi para biksu pemula dan biksuni pemula, dan juga perangkat sumpah bagi para biksuni prabakti. Ada lagi dua perangkat sumpah orang awam – bagi pria dan wanita awam, dan kemudian ada sumpah satu-hari. Maka, ada delapan tingkat kekang tersumpah bagi kebebasan pribadi. Yang manapun yang diikrarkan, kita mesti mengerjakannya dengan murni dan sungguh-sungguh, meski harus kehilangan nyawa sekalipun. Apapun jenis sila yang kita tekadkan dalam diri kita dan ikrarkan untuk kita junjung – sekalipun hanya mengikuti sila dalam menahan diri dari sepuluh tindakan merusak – kita mesti menjunjungnya dengan amat murni dan hati-hati. Menjaga sila dengan cara demikian inilah akar dari semua pemerolehan yang telah ditunjukkan oleh Buddha. Ia dapat memunculkan kebebasan pribadi dari siapa saja yang menjunjung berbagai kekang tersumpah ini. Oleh karena itulah ia disebut "kekang tersumpah bagi kebebasan pribadi." Itulah makna dari kata Sanskerta yang menggambarkannya, pratimoksha.

Kalau kita tidak menjaga sila atau akhlak yang baik, mustahil kita dapat terlahir kembali sebagai manusia atau bahkan sebagai dewa. Misalnya, sekalipun kita amat bermurah hati – katakanlah kita punya segudang uang dan harta benda dan kita bagi-bagikan pada ribuan orang tiap hari – tapi, kalau kita tidak jadi orang berakhlak dan menjaga sila yang baik, sebagai akibat dari kemurah-hatian kita, kita mungkin terlahir kembali dalam keadaan kaya, tapi tidak mesti sebagai manusia kaya. Kita bisa saja terlahir kembali dalam salah satu dari tataran kelahiran kembali yang lebih buruk, misalnya sebagai binatang yang kaya, seperti seekor naga (makhluk setengah-manusia setengah-ular) atau sebagai hantu kelaparan yang punya harga benda dan permata berlimpah. Ada banyak hantu kelaparan, misalnya, yang hidup di istana-istana yang terbuat dari emas. Tapi, karena kuasa sikap kikir mereka, mereka harus memotong daging mereka sendiri dan memakannya, karena tak ada makanan lainnya. Hal-hal semacam itu ada dan mewujud sebagai akibat dari sikap murah hati namun tidak bersila.

Tapi kalau kita melakukan tindakan murah hati yang sama sembari menjaga sila yang ketat, maka sebagai akibatnya kita akan terlahir kembali sebagai seorang manusia dan mampu menikmati kekayaan melimpah-ruah. Lebih jauh lagi, kita akan mampu menggunakan sumber daya yang kita punyai ini untuk terus menjadi seorang pemberi, dan membina daya positif yang semakin kuat untuk terus membuat kemajuan rohani. Jadi sikap murah hati dan perilaku bersila kita ini berbuah terus dan terus. Sementara, jika kita bermurah hati tanpa bersila, maka akibatnya kita tidak terlahir sebagai manusia, tapi dalam salah satu dari tataran kelahiran kembali yang lebih buruk. Yang telah kita lakukan hanya memberi satu akibat saja, dalam hal ini kekayaan yang mungkin kita miliki dalam tataran yang lebih buruk, dan kita tidak akan berada pada kedudukan untuk mengumpulkan daya positif yang lebih jauh di atas landasan itu.

Mengikuti sila dan berlatih secara lengkap, sampai pada rincian yang paling renik dari apa yang diajarkan Buddha, tentu saja merupakan cara terbaik untuk menjalankan Dharma. Tapi sekalipun kita tidak bisa melakukan itu, kalau kita mengikuti akar dari sila yang diajarkan oleh Buddha, kita akan terlahir kembali di antara lingkaran para pengikut dari guru menyemesta berikutnya, Buddha kelima dari laksawarsa ini, sang Maitreya. Inilah fitur istimewa yang telah ditunjukkan oleh Buddha.

Maka, sila merupakan inti atau hakikat dari seluruh laku ajaran Buddha. Untuk memperoleh kebebasan, kita perlu melatih kesadaran pembeda yang tertinggi, yang dengannya kita memahami bahwa jati diri yang sejati itu tidak ada. Untuk memperoleh hal itu, kita perlu melatih samadi yang tertinggi. Dan, untuk memperoleh hal itu, kita perlu melatih sila yang tertinggi. Itulah yang dibahas pada ayat barusan tadi.

Rangkuman untuk Cakupan Dorongan Menengah

Sekarang kita telah membuat kemajuan hebat dari titik awal kita, yaitu sebagai seseorang dengan cakupan awal. Sebelumnya, kita hanya berminat memperbaiki kehidupan kita di masa depan dan terlahir kembali sebagai manusia ataupun dewa. Tapi kini kita lihat bahwa tak peduli di manapun kita terlahir kembali, isinya hanyalah masalah yang berulang tanpa terkendali. Kita telah mengembangkan sebuah kemauan untuk memperoleh kebebasan dari segala masalah dan duka, apapun bentuknya. Inilah tingkat dorongan menengah itu, yang dengannya kita ingin memperoleh suatu tataran kebebasan dari keadaan-keadaan berulang tanpa terkendali, atau samsara.

Jika kita mengembangkan berbagai jalan cita yang ditunjukkan di sini, kita bisa memutus akar semua masalah kita. Kita bisa betul-betul mewujudkan tataran kebebasan dari makhluk yang terbebaskan. Pendeknya, jika kita memasuki semua laku yang ditunjukkan di sini dan melakukannya demi mencapai kebebasan kita sendiri dari masalah pribadi kita, itulah tingkat dorongan yang sebetulnya dari seseorang yang berada di cakupan menengah.

Kebutuhan untuk Beranjak Lebih Jauh, ke Tingkat Dorongan Lanjut

Tapi tidaklah cukup untuk bebas dari segala masalah kita saja. Pastinya, menjadi makhluk terbebaskan, seorang Arhat, dan tak memiliki perasaan atau sikap gelisah itu akan sangat menggembirakan dan menyenangkan, Kita memiliki semua macam kekuatan pencerapan luar-inderawi, lima kekuatan pancaran dan seterusnya, tapi semata-mata bebas dari semua masalah kita saja tidaklah cukup. Maka, persis seperti orang biasa yang tidak puas dengan apa yang mereka miliki, seorang pelaku rohani yang berpikir tentang keadaan bebas sendiri saja tidak akan puas dengan hal itu; tidak akan cukup.

Masalahnya di sini adalah bahwa kita tidak mampu, dalam tataran terbebaskan ini saja, untuk memenuhi tujuan-tujuan setiap orang lain, makhluk-makhluk terbatas lain, semua makhluk berindera lain. Dan bagaimana kita bisa betul-betul mampu untuk menolong setiap orang dengan cita dan raga terbatas lainnya? Satu-satunya cara agar kita mampu menolong makhluk-makhluk terbatas ini adalah jika kita sendiri menjadi bercita jernih sepenuhnya dan berkembang seutuhnya, jika kita sendiri menjadi seorang Buddha. Menjadi makhluk terbebaskan saja, menjadi seorang Arhat saja, tidaklah cukup. Sebagai seorang Arhat, kita masih tidak memiliki kemampuan untuk menolong setiap orang.

Mengapa sebagai makhluk terbebaskan kita masih tidak mampu untuk memenuhi tujuan-tujuan setiap orang lainnya? Ya, memang benar bahwa dalam tataran ini kita telah mengenyahkan semua pengaburan yang muncul dari perasaan dan sikap gelisah – kita tidak lagi memiliki perasaan dan sikap gelisah. Tapi ada seperangkat pengaburan lain di samping pengaburan perasaan. Malah sebetulnya ada dua perangkat pengaburan, dan kita belum mengenyahkan yang kedua – pengaburan pengetahuan mengenai segala hal yang dapat diketahui. Karena kita masih memiliki pengaburan mengenai segala hal yang dapat diketahui dan yang menghalangi kemahatahuan dari diri kita, kita bahkan belum memenuhi tujuan-tujuan kita sendiri dengan sempurna. Kalau kita belum melakukan itu dan mencapai tataran tertinggi yang kita sendiri dapat capai, bagaimana mungkin kita dapat mampu melakukannya untuk orang lain? Dan mengapa bisa kita belum memenuhi tujuan-tujuan kita sendiri? Itu karena sekalipun kita telah mencapai tataran kebebasan, kita masih belum mewujudkan daya tertinggi dan terpenuh kita; kita belum mencapai tataran seorang Buddha.

Makna Umum dari sebuah Hati Bodhicita yang Berbakti

Apa perlunya mencapai tataran pencerahan? Apa perlunya mencapai tataran cita jernih sepenuhnya dan perkembangan seutuhnya, tataran pemurnian sepenuhnya dan pertumbuhan selengkapnya? Alasan bagi pencapaian akan semua hal ini adalah agar mampu menolong setiap orang lain sebanyak mungkin. Ketika kita mengambangkan bakti penuh yang mengarah pada tujuan itu, tataran cita tersebut dikenal sebagai hati bodhicita yang berbakti. Maka yang kita bidik adalah tujuan-tujuan semua makhluk lain dan yang berniat kita lakukan adalah memenuhi tujuan-tujuan tersebut sebaik mungkin. Selain itu, cita kita terpusat pada pencerahan kita pribadi di masa depan, yang belum kita peroleh, tapi yang bisa kita peroleh, dan ketika kita telah memperolehnya, itu akan memampukan kita untuk memenuhi tujuan-tujuan orang lain. Kalau kita tidak memiliki hati yang berbakti yang diarahkan seperti ini, kita belum mencapai wahana cita luas Mahayana yang manapun. Sekalipun kita telah memperoleh pemahaman yang benar akan sunyata atau kenyataan, jika kita tidak memiliki hati bodhicita yang berbakti ini, kita tidak akan mampu mencapai tataran penuh dari seorang Buddha.

Hati bodhicita yang berbakti ini merupakan sesuatu yang harus kita upayakan. Mengembangkan bakti ini dengan tulus bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh secara semerta, layaknya menekan tombol saja. Jadi, pada apa hati bodhicita yang berbakti ini bersandar? Ia bersandar pada welas asih, sebagai dasar atau akarnya. Dan karena itu, welas asih yang luar biasa adalah hal utama yang harus kita meditasikan pertama sekali dan bina sebagai kebiasaan cita yang bermanfaat.

Welas Asih

Apa itu welas asih? Ia merupakan suatu tataran perhatian kasih mendalam, yang dengannya kita berharap setiap orang terbebas dari masalah atau ketakbahagiaan mereka. Itulah welas asih? Harapan bahwa setiap orang bahagia itulah yang dikenal sebagai "kasih". Dan jika kita bersikap, "Aku sendiri akan berbuat sesuatu akan hal itu; aku sendiri akan berupaya membawa kebahagiaan bagi setiap orang dan menghapuskan duka mereka," tataran cita itu disebut "keputusan istimewa". Namun sekalipun kita memiliki tataran ini, yang dengannya kita memutuskan bahwa kita sendiri akan membawa kebahagiaan bagi seitap orang dan menghapuskan semua duka mereka, faktanya, kita tidak memiliki kemampuan itu. Siapa yang punya? Hanya seorang Buddha yang tercerahkan sepenuhnya saja, seseorang yang bercita jerih sepenuhnya dan berkembang sepenuhnya, yang memiliki kemampuan itu. Maka dari itu, ketika kita membaktikan hati kita untuk mampu mencapai tataran itu agar mampu betul-betul memberi manfaat bagi setiap orang, membawa kebahagiaan bagi mereka dan menghapuskan duka mereka, itulah yang dikenal sebagai hati bodhicita yang berbakti.

Tataran keputusan istimewa dan hati yang berbakti keduanya merupakan akibat yang muncul dari welas asih yang luar biasa. Sementara itu, kasih adalah sebabnya. Penting sekali bagi kita untuk membina welas asih sebagai kebiasaan cita yang bermanfaat – dengan kata lain, memeditasikannya – karena ia akan bertindak sebagai akar yang akan mewujudkan tataran cita dan hati yang luar biasa ini. Jika kita membina welas asih sebagai kebiasaan cita yang bermanfaat, ini dengan sendirinya akan memurnikan sejumlah besar daya negatif yang sebelumnya mungkin telah kita bina.

Pengembangan Welas Asih Asanga

Dari dua perintis luar biasa ajaran-ajaran Mahayana bercita-luas, salah satunya adalah Asanga. Ia mengerahkan upaya yang begitu besar selama bertahun-tahun untuk memperoleh penyadaran sehingga ia dapat mewujudkan dan melihat langsung sosok-Buddha Maitreya. Tempatnya berundur-diri ada di dekat Wihara Nalanda, dekat sekali dengan Puncak Hering, di sebuah gua. Selama dua belas tahun ia berlatih tekun untuk mewujudkan Maitreya. Ia berlatih pertama sekali untuk tiga tahun, dan kemudian menyerah dan kembali turun, lalu ia kembali lagi ke gua itu dan melanjutkan latihannya selama tiga tahun lagi. Ia terus seperti itu, beberapa babak tiga tahunan hingga lama waktu yang ia habiskan sampai dua belas tahun.

Ketika ia turun dari gua dengan keadaan agak jengah setelah dua belas tahun tanpa hasil, ia melihat seekor anjing besar yang menderita penyakit kulit yang parah – sampai bulu di tubuh anjing itu tidak ada lagi, hanya kulit terbuka yang penuh luka saja, yang sarat dengan belatung di bagian bawah tubuhnya. Akan tetapi, anjing itu menyalak dengan garangnya. Melihat anjing yang mengalami keadaan menyedihkan ini, tumbuh welas asih dalam hati Asanga, karena bukan saja anjing itu tak berbulu lagi, tapi kulitnya penuh dengan luka parah. Dan bukan itu saja, luka-luka itu dijangkiti belatung, yang menggeliat memenuhi luka, dan tampak amat mengerikan. Jadi, digerakkan oleh welas asihnya bagi hewan malang ini, ia memutuskan untuk mencoba berbuat sesuatu. Ia pergi ke kota setempat dan mencari pisau yang tajam. Ia kembali dan hendak menyingkirkan belatung-belatung dari tubuh anjing itu, tapi ia mengusahakan jangan sampai belatung itu mati. Maka ia memotong sebagian daging tubuhnya sendiri dan menaruhnya di tanah, sebagai sumber makanan pengganti tempat ia akan meletakkan belatung yang ia singkirkan dari tubuh si anjing. Ia tidak ingin melukai belatung-belatung itu dengan menyingkirkannya dari tubuh anjing dengan jari tangannya, maka ia membungkuk dan dengan lembut ia menyingkirkan belatung itu dari luka si anjing dengan lidahnya.

Ia menutup matanya, membungkuk, dan menjulurkan lidahnya untuk mencoba menyingkirkan belatung-belatung itu, tapi ia tak pernah bisa menyentuh anjing itu. Ia membuka matanya dan melihat di depannya, di tempat anjing itu tadi berada, Maitreya itu sendiri, dengan segala kemuliaannya. Ia menjamah jubah Maitreya dan bertanya, "Aku telah berupaya keras selama dua belas tahun, berusaha memperoleh saujana akan engkau. Mengapa baru sekarang aku dapat melihat engkau?" Maitreya berkata, "Aku terus berada di sini bersamamu setiap waktu selama dua belas tahun. Hanya saja kau terlalu buta untuk mampu melihatku. Citamu terlalu samar. Tapi welas asihmu yang luar biasa telah bertindak sebagai sebab untuk menghapuskan kesamaran-kesamaran itu, sehingga sekarang kau mampu melihatku. Sebagai bukti bahwa aku telah berada tepat di depanmu selama ini, lihat di sini di bawah jubahku. Ini ludah dan ingusmu yang menumpuk selama bertahun-tahun, tepat di sini di jubahku ini."

Asanga sungguh bersuka kini karena telah betul-betul melihat Maitreya sehingga ia memanggul Maitreya di pundaknya dan beranjak ke kota, yang merupakan kota yang cukup besar, dan mengaraknya keliling sambil berteriak pada setiap orang, "Hai engkau semua, keluarlah dan lihat Maitreya yang gemilang!" Orang-orang keluar, tapi tak ada yang mampu melihat apapun di atas pundak Asanga. Mereka semua berkata, "Asanga yang malang, ia telah berupaya begitu keras dalam latihannya. Dia agaknya sudah tidak waras." Kemudian Maitreya membawa Asanga ke Tanah Suci Murni Tushita. Di sana Maitreya mengajarkan lima kitab suci Maitreya, yang kemudian di bawa Asangan kembali ke bumi. Silsilah laku meluas itu berasal dari ini.

Inilah yang ditunjukkan di sini di ayat ini:

(7) Seperti aku yang telah jatuh ke dalam samudera
keberadaan gandrung,
Begitu juga segala makhluk kelana lainnya –
mereka pernah jadi ibuku.
Melihat ini, aku memohon ilham untuk bertumbuh
ke arah tujuan bodhicita yang agung
Untuk bertanggung jawab membebaskan
   semua makhluk kelana ini.

Rangkuman

Ayat ini menggambarkan seseorang dengan cakupan dorongan tingkat lanjut. Pertama, ketika kita memiliki dorongan tingkat awal, kita berpikir tentang semua duka kematian dan terlahir kembali pada salah satu dari tataran keberadaan yang lebih buruk. Kemudian, ketika kita maju menjadi seseorang dengan dorongan tingkat menengah, kita berpikir tentang semua masalah dan duka yang terliput dalam keadaan berulang tanpa terkendali, atau samsara, dan kita mengembangkan suatu tekad untuk bebas dari semua itu: kita mengembangkan penyerahan.

Ada dua jenis tekad untuk bebas ini: ada tekad untuk bebas dari masalah yang dengannya kita berpaling dari kerajingan kita atas segala sesuatu dari masa hidup sekarang ini dan ada tekad untuk bebas yang dengannya kita berpaling dari kerajingan kita akan segala sesuatu di kehidupan mendatang. Ketika kita mengembangkan tekad untuk jenis yang kedua, di atas dasar pemikiran tentang semua masalah kita dan seperti apa jadinya jika kita bebas dari semua itu, kita kemudian membalik tekad itu dari terpusat pada diri kita sendiri ke terpusat pada semua yang lain dan kita pikirkan tentang masalah setiap orang lain pula. Tekad untuk bebas yang seperti ini akan menjadi suatu tataran tekad agar setiap orang bebas dari duka dan masalah mereka. Dengan demikian, kita mengembangkan suatu tataran welas asih yang luar biasa, yang dengannya kita berharap agar setiap orang lain bebas dari dukanya. Welas asih yang luar biasa ini akan bertindak sebagai dasar yang darinya kita dapat beranjak ke arah pemerolehan keputusan istimewa, yaitu bertanggung jawab bagi kesejahteraan orang lain dan sebuah hati bodhicita yang berbakti, yang denganya kita membaktikan diri kita untuk memenuhi tujuan-tujuan semua orang lain dan untuk mencapai suatu tataran pencerahan agar dapat melakukannya. Inilah tingkat-tingkat kemajuan yang melaluinya kita melatih diri kita.

Besok kita akan lanjut dengan pokok-pokok yang tersisa yang diacu di sini, sembari kita luaskan pembahasan mengenai ayat ini.