Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 2: Bahan Lam-rim (Bertahap) > Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim > Sesi Lima: Berbagai Alam Keberadaan dan Karma

Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim

Alexander Berzin
Morelia, Meksiko, Oktober 2008

Sesi Lima: Berbagai Alam Keberadaan dan Karma

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan kita tentang karma, tadi ada satu pokok di dalam ajaran-ajaran lingkup awal yang sepertinya saya lewatkan. Pokok tersebut adalah pembahasan duka dari tiga alam yang lebih rendah, tapi saya lebih senang menyebutnya tiga alam yang lebih buruk. Sebetulnya, kata dalam bahasa Tibet untuk istilah itu adalah tiga alam yang "jahat". Tapi, "jahat" itu agak berat mengucapkannya, maka saya sebut "lebih buruk". Tidak ada kata di sana yang berarti alam yang "lebih rendah". Tapi tidak usah kita bahas perkara asal-usul katanya. Sekarang tidak usah.

Nah, ada orang yang suka membuat corak Dharma-Sari dari alam-alam yang lebih rendah – yang terburuk...kenapa saya bilang "lebih rendah"...dari alam-alam terburuk dan malah membuat corak Dharma-Sari dari seluruh enam alam itu: Kita bisa menerima bahwa ada manusia; kita bisa menerima bahwa ada binatang; ada dari kita yang mungkin menerima bahwa ada arwah atau roh...tidak semua orang, tapi beberapa orang di beberapa budaya akan menerimanya... namun bentuk-bentuk kehidupan yang lain sedikit sukar diterima. Dan karena itu corak Dharma-Sari dari hal ini adalah bahwa alam-alam ini sesungguhnya merupakan tataran-tataran kejiwaan atau tataran-tataran batin dari manusia. Dan ada sebuah segi dari ajaran-ajaran itu, suatu pokok dari ajaran-ajaran itu, yang berkata bahwa setelah kelahiran kembali di salah satu dari alam-alam ini, maka akan ada sisa, sedikit sisa, dari jenis pengalaman di dalam kelahiran kembali sebagai manusia – kalau memang kelahiran kembali sebagai manusia yang terjadi setelahnya. Jadi ada sesuatu yang mirip dalam pengalaman manusiawi kita. Tapi ini bukan enam alam sejati. Jadi, kita sekarang harus masuk ke yang sejati.

Seperti kita lihat dalam pembahasan kita tentang Dharma sejati, segala sesuatu itu didasarkan pada sebuah pemahaman tentang kesinambungan batin, kegiatan batin yang tanpa awal dan tanpa akhir. Dan jika kita menelaah berbagai patok-ukur dari apa yang di alami dalam hal-hal seperti penglihatan dan bunyi, dan sensasi ragawi, dan kebahagiaan, ketakbahagiaan, dsb., ini merupakan berbagai patok-ukur yang dapat dialami. Ini merupakan patok-ukur yang mempengaruhi pengalaman kita, yang mewarnai pengalaman kita: minat, tak ada minat, perhatian, tak ada perhatian. Untuk tiap-tiap patok-ukur ini, kita bicara tentang suatu keseluruhan rentangan. Suatu rentangan dari minat penuh sampai ke sepenuhnya tak berminat; berperhatian penuh sampai sepenuhnya tak berperhatian; sepenuhnya marah sampai tak ada amarah sama sekali. Jadi kita melihat suatu rentangan dan yang kita alami itu berada di suatu titik di dalam rentangan itu.

Jadi, dalam hal penglihatan, misalnya, seperti ini. Ada keseluruhan rentang cahaya dan dengan piranti keras seorang manusia, raga manusia, kita hanya mampu melihat sejumlah tertentu dari rentangan itu. Jadi kita tidak mampu melihat sinar ultraviolet atau infra merah, kita harus menggunakan piranti keras mekanis untuk melihatnya. Tapi piranti keras seekor burung hantu, contohnya, mampu mencerap penglihatan yang tidak dapat kita lihat, misalnya dalam keadaan yang terlalu gelap.

Dengan piranti keras telinganya, seekor anjing dapat mendengar bunyi-bunyi dengan frekuensi yang lebih tinggi dibanding yang dapat didengar oleh telinga manusia. Dengan piranti keras hidungnya, seekor anjing mampu mengendus bau yang jauh lebih peka dan halus pada jarak yang jauh lebih luas dibanding piranti keras hidung manusia kita. Jadi cukup jelas di sini. Maka, hanya karena piranti keras dari raga manusia tidak dapat mencerap sejumlah tertentu dari suatu rentangan keterangan indera, itu tidak berarti bahwa tidak mungkin...di luar batas-batas ini...rentangan tersebut dapat dicerap. Yang dibutuhkan hanyalah piranti keras yang berbeda. Hanya karena kita tidak dapat melihat sinar ultraviolet dan infra merah tidak berarti bahwa sinar ultraviolet dan infra merah itu tidak ada.

Dan kalau kita pikirkan kesinambungan batin kita ini, yang tidak dibatasi dengan satu jenis piranti keras tertentu yang dikaitkan dengan suatu jenis raga, maka, mengapa tidak? Kegiatan batin – kegiatan batin kita – mampu mencerap yang manapun dari rentangan-rentangan ini. Jadi, bila ini perkaranya dalam rentangan penglihatan dan bunyi dan bau seperti yang baru saja kita lihat, apakah ada alasan kenapa ini bukan perkaranya dalam rentangan kenikmatan dan rasa sakit? Kalau kita bicara dalam hal sensasi-sensasi sentuhan, sensasi-sensasi ragawi itu..."sentuhan" bukan kata yang benar, bukan yang tepat. "Ragawi" jauh lebih luas maknanya dibanding sentuhan saja. Dengan piranti keras manusia, ketika rasa sakit itu terlalu deras, maka kita dengan sendirinya akan pingsan, Anda tak sadarkan diri. Itu tidak berarti bahwa rasa sakit yang lebih hebat itu tidak ada. Ini cuma karena piranti keras kita tidak mampu mencerapnya. Ia punya suatu cara-kerja keselamatan, yang langsung menutup kesadaran kita.

Begitu juga dengan...karena kita dalam pembahasan ini bisa juga bicara tentang sisi lain dari rentangan itu, yaitu kenikmatan – lawan dari rasa sakit – kita bicara tentang sensasi ragawi dari kenikmatan. Lalu, jika kita telaah secara obyektif, kita juga memiliki suatu cara-kerja di dalam piranti keras kita yang menghancurkan dan menghentikan kenikmatan ketika kenikmatan itu mencapai suatu tingkat tertentu. Kalau Anda pikirkan kenikmatan dalam pengalaman senggama, ketika kenikmatan itu mencapai suatu tingkat tertentu, orang dipacu untuk semakin dan semakin cepat, pada dasarnya, untuk mengakhirinya dengan sebuah orgasme. Sama juga dengan rasa gatal. Kalau kita telaah rasa gatal secara obyektif, rasa gatal itu merupakan kenikmatan yang dalam. Tidak sakit, tapi gatal. Ia berupa kenikmatan. Tapi ia terlalu nikmat sehingga kita harus mengakhirinya.

Ini bukan bercanda. Saya sungguh-sungguh. Selama sekian tahun, mungkin sekitar lima tahun, saya mengalami rasa gatal yang menahun. Kulit kepala dan kening saya sering sekali terasa gatal luar biasa. Dan para dokter sama sekali tidak bisa menentukan apa sebabnya. Jadi satu-satunya cara untuk bisa menghadapinya, untuk bisa hidup dengan rasa gatal itu, adalah dengan mengenali ini sebagai suatu kenikmatan, dan santai serta nikmati saja. Walau itu membutuhkan sejumlah besar daya ingat dan daya pemusatan; ketika saya mampu melakukannya, rasanya baik-baik saja. Saya tidak terganggu oleh rasa gatal itu. Tapi biasanya, kalau kita digigit nyamuk, maka rasa gatalnya keterlaluan. Kita harus menghancurkan sensasi itu. Raga kita dengan sendirinya menutup.

Jadi, kenapa tidak bisa ada piranti keras dari suatu makhluk hidup yang mampu untuk mencerap lebih jauh rentangan rasa sakit dan rentangan rasa nikmat dalam hubungannya dengan: Ada piranti keras makhluk-makhluk hidup yang mampu mengalami lebih jauh rentangan penglihatan, bunyi, dan bau? Kenapa tidak? Tidak ada alasan mantik untuk itu tidak ada. Dan demikian pula rentangan anasir batin kebahagiaan dan ketakbahagiaan. Jangan rancukan kebahagiaan dan ketakbahagiaan dengan rasa nikmat dan rasa sakit, mereka itu berbeda. Kebahagiaan atau ketakbahagiaan dapat menyertai jenis pengalaman ragawi atau pengalaman batin apapun. Kita bisa mengalami rasa sakit dari pijatan yang kuat dengan kebahagiaan luar biasa karena, ahhh, otot-otot jadi kendur. Sakit memang, tapi aku bahagia. "Kalau tak ada rasa sakit, tak ada manfaat." Aku bahagia karena aku mendapatkan pijatan yang keras dan menyakitkan ini. Aku tidak tak bahagia. Aku bahagia karena aku dipijat.

Jadi bahagia dan tak bahagia, itu merupakan patok-ukur yang berbeda dari rasa sakit dan rasa nikmat. [Namun kedua pasangan itu mirip.] Mengapa? Kita begitu tak bahagia, sehingga kita lesu-hati. Kalau Anda betul-betul merasa tak bahagia apa yang Anda lakukan? Anda bunuh diri. Jadi ada batas-batas bagi piranti keras kita dalam hal seberapa besar ketakbahagiaan yang dapat kita tanggung. Jadi mengapa tidak bisa ada ketakbahagiaan yang lebih dahsyat dan kebahagiaan yang lebih dahsyat di sisi lain dari rentangan yang melampaui rentangan yang kita, sebagai umat manusia, bisa tanggung?

Dan kalau begitu perkaranya, bahwa batas...batas-batas yang lebih jauh itu, titik-titik lajat dari rentangan-rentangan itu...dapat dicerap oleh kegiatan batin, maka yang terhubung dengan itu adalah piranti keras dari suatu raga yang sesuai, jenis raga yang sesuai, yang akan mampu mencerapnya. Dan kesinambungan batinku punya kemampuan untuk dapat mengalami apapun, seberapapun dari rentangan-rentangan ini dan membangkitkan piranti keras yang sesuai untuk mampu mencerapnya. Dan hanya karena dengan piranti keras manusiaku ini tidak mampu mencerap piranti keras dari raga yang akan mengalami rasa sakit yang amat sangat dan ketakbahagiaan yang amat sangat tidak membuktikan bahwa jenis piranti keras seperti itu tidak ada. Ia hanya berada di luar rentangan dari apa yang bisa dicerap oleh piranti kerasku – piranti keras manusiaku. Jadi apakah alam-alam dan lingkungan-lingkungan dari alam-alam ini ada nyata? Tentu. Mereka itu ada senyata alam manusia itu ada. Tidak berarti bahwa kita tidak akan mampu mencerapnya. Jadi apa?

Saya tidak ingin masuk ke dalam pembahasan kenyataan. Apa itu kenyataan apa itu sunyata dan semuanya itu. Dan omong-omong, yang saya jelaskan barusan ini adalah pemahaman saya sendiri; saya tidak mendengarnya dari siapapun atau membacanya di manapun. Tapi itu masuk akal bagi saya dan setidaknya, dari pengalaman saya sendiri, itu menolong saya untuk menganggap alam-alam lain ini dengan lebih sungguh-sungguh. Karena yang sedang saya amati di sini adalah kesinambungan batin dari kegiatan batin; dan kegiatan batin seseorang itu mampu untuk mengalami seluruh rentangan penglihatan, bunyi, rasa nikmat, rasa sakit, kebahagiaan, ketakbahagiaan. Dan fakta bahwa ada piranti keras ragawi yang sesuai untuk itu bukanlah pokok utama dari pemahaman saya mengenai hal ini. Tentu harusnya ada piranti keras yang sesuai itu, tapi itu tambahan saja. Jadi saya tidak membiarkannya ada pada alam "pembayangan", dimana saya bisa duduk dan bermeditasi dan membayangkan diri merasakan sakit yang amat sangat.

Itu sebetulnya agak sulit dibayangkan, bukan? Supaya bisa senyata seperti betul-betul merasakan sakit itu. Ini bukan cuma bicara tentang sesuatu yang dapat kita alami dalam meditasi, duka dari alam-alam yang berbeda. Tapi, yang benar saja. Coba untuk mengingat atau membayangkan seperti apa rasanya kalau gigi Anda dibor tanpa Novocaine...kebanyakan kita pernah mengalami itu. Coba bayangkan sejenak...Terasa sakit? TIDAK?! Yang benar saja. Jadi, ayolah. Kita di sini bicara tentang suatu pengalaman yang sebetulnya dari titik-titik lajat yang amat sangat pada rentangan rasa nikmat dan rasa sakit. [Bukan sekadar membayangkan atau mengingatnya.]

Jadi, ini saya rasa merupakan cara yang berguna, semoga...setidaknya itu berguna bagi saya...untuk memikirkan alam-alam yang berbeda ini. Jadi, inilah ganjarannya...saya akan menjelaskan apa arti kata "ini" tadi di kalimat saya. Ada suatu ganjaran untuk betul-betul berlindung, mengambil haluan aman. Kalau sungguh aku yakin bahwa Buddha bukan orang tolol dan segala sesuatu yang ia katakan itu berarti dan berarti untuk menolong orang lain mengatasi duka...ia tidak mengatakan suatu hal apapun yang bodoh atau tidak berkaitan...maka itu berarti bahwa aku menganggap segala sesuatu yang aku temukan dalam semua ajaran itu dengan sungguh-sungguh. Dan kalau aku tidak memahami itu, maka aku mencoba mencaritahu apa maksudnya itu? Jadi ketika Buddha bicara tentang alam-alam yang berbeda ini, ia tidak sedang bercanda. Jadi, dalam kerangka lingkup awal kita akan...tahu maksud saya kan, Dharma sejati...betul-betul menganggap sungguh-sungguh tataran kelahiran kembali yang lebih buruk ini dan aku betul-betul tidak ingin mengalaminya. Dan kemampuan kita untuk menganggapnya dengan sungguh-sungguh itu bergantung pada pemahaman kita atas apa itu kegiatan batin, apa itu kesinambungan batin dan apa itu yang lanjut selamanya? Begitu? Baik. Ini memang bukan pil yang gampang ditelan. Saya tahu itu.

Nah, sekarang karma. Kita tidak akan masuk ke kerumitan luar biasa dari karma. Kita bicara di tingkat makaryanya saja. Kita pikirkan kehidupan masa mendatang. Seberapa sungguh kita menganggap kehidupan masa mendatang? Dan apa yang kita perbuat yang akan memastikan mutu dari kehidupan masa mendatang kita? Jadi, contohnya saya...karena saya bicara di sini sedikit tentang bagaimana saya memahami bahan ini... Saya telah banyak berupaya di lingkup awal. Sulit, lingkup awal ini. Jadi saya membuat suatu situsweb besar berisi bahan Dharma. Jadi sebagian dari dorongan saya, tujuan saya, tentunya, adalah untuk memberi manfaat pada orang lain yang mungkin membacanya. Tapi harus saya akui bahwa sebagian lain dari dorongan saya adalah untuk manfaat bagi saya sendiri, karena saya berpikir bahwa kalau saya mencurahkan banyak tenaga ke dalam hal ini, saya amat kuatnya terhubung dengan ini, maka di masahidup mendatang saya akan dengan amat naluriah sejak kanak-kanak tertarik dengan bahan ini, kalau saya terlahir kembali sebagai manusia. Jadi saya berpikir...Saya mempersiapkan kehidupan masa mendatang dengan melakukan sesuatu yang akan membantu saya tertarik pada Dharma di kehidupan mendatang saya sejak usia amat dini. Saya akan menemukan situsweb ini dan...Wow!...ingin melakukannya saja.

Akan tetapi, kalau saya amati lagi, maka saya melihat bahwa saya mungkin membina sebab-sebab untuk dengan cepat terhubung kembali dengan Dharma ketika saya memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia lain. Tapi apa saya betul-betul membina sebab-sebab bagi kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia? Apa saya membodohi diri? Apa saya melakukan segurat corak Dharma-Sari dari lingkup awal, sembari berpikir bahwa kalau saya buat situsweb ini...

Jadi inilah yang harus selalu kita uji dengan tiga lingkup ini. Apa aku betul-betul memiliki ini sebagai sepenuhnya bagian dari diriku, lingkup yang aku tuju? Atau, apa aku membodohi diri dan mengabaikan beberapa bagian darinya? Dan seperti yang sudah beberapa kali saya katakan, menjadi seseorang dengan lingkup-lingkup ini mestilah mempengaruhi seluruh sikap kita terhadap kehidupan.

Jadi, kita kembali pada ajaran-ajaran: Dikatakan dengan amat jernih bahwa sebab-sebab bagi kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, sebab utamanya, adalah sila. Menahan diri dari tindakan merusak. Ada banyak bentuk sila. Sila memasuki hal-hal membangun juga, seperti meditasi, sila untuk menolong orang lain. Tapi di sini kita bicara secara khusus tentang sila menahan diri dari tindakan merusak. Nah, ada sebuah daftar berisi sepuluh tindakan merusak, dan saya tidak perlu masuk ke kadar rincian yang tinggi di sini. Maksud saya, ini hanyalah...apa istilahnya...tindakan-tindakan merusak yang paling menonjol. Masih ada banyak lagi jenis lainnya.

Jadi seberapa sungguh aku menganggap arahan mengenai menjauhi tindakan merusak ini? Nah, kita tidak bicara tentang menjadi fanatik mengenai ini...dan kaku dan seterusnya sehingga Anda tidak pernah melakukan hal merusak apapun itu...dan membayangkan Anda harus menjadi orang kudus – belum sampai ke tingkat itu. Tapi, Anda tahu kita perlu mengembangkan, mengamati apa yang sedang kita perbuat dan ketika kita mulai bertindak merusak, mengenali kerugian-kerugiannya dan, atas dasar pemahaman akan kerugian tersebut – kita tahu bahwa kita memunculkan ketakbahagiaan, pengalaman duka, pengalaman tak bahagia terhadap aku. Tidak ada jaminan apa pengaruhnya terhadap orang lain, tapi aku bisa menjamin pengaruhnya terhadap diriku di masa depan adalah ketakbahagiaan dan karena tidak ingin mengalami itu, aku menahan diri dari tindakan merusak.

Mengapa aku tidak menahan diri dari tindakan merusak? Ya, karena aku...alasan mendasar untuk itu adalah bahwa aku tidak yakin pada tingkat mendalam dari akibat berupa ketakbahagiaan dan duka dari tindakan merusak. Dan kalau aku mengalami ketakbahagiaan sekarang, duka, rasa sakit, dsb...secara khusus ketakbahagiaan yang dirincikan di sini...maka itu adalah akibat dari tindakan merusak yang sebelumnya kita perbuat. Jadi, kalau aku tidak mau terus mengalami itu, aku akan menahan diri dari perilaku merusak apapun. Dan kita harus yakin pada hubungan sebab-akibat antara perilaku merusak dan ketakbahagiaan dan hubungan sebab-akibat antara perilaku membangun dan kebahagiaan. Itu tidak mudah. Rasa percaya itu, keyakinan terhadap hubungan sebab-akibat itu di sini adalah anasir kunci, untuk betul-betul menjadi orang dengan lingkup awal. Kemudian tentu saja ada kemalasan, dsb., sekalipun kita sudah yakin. Tapi itu tingkat yang lebih lanjut.

Jadi kalau kita lihat naskah-naskahnya, cara ini dijelaskan adalah bahwa keyakinan kita...kita dapat memperoleh pemahaman kesimpulan sahih mengenai hal ini atas dasar wewenang. Dengan kata lain, kalau apa yang Buddha katakan tentang cara mengembangkan samadhi, cara mengembangkan pemahaman akan sunyata dan bahwa jika kita mengembangkannya itu akan menghapuskan perasaan-perasaan gelisah kita dan seterusnya, jika dari pengalaman pribadi kita berupaya dengan hal ini kita melihat apa yang Buddha katakan tentang semua itu benar adanya...jika apa yang Buddha katakan tentang sunyata, ajaran-ajaran mengenai sunyata, bahwa kalau aku mengembangkannya aku akan menyingkirkan perasaan-perasaan gelisahku, dan jika aku betul-betl memperoleh pahamaman itu lewat pengalamanku sebagai akhir dari perasaan-perasaan gelisah, dan jika alasan mengapa Buddha mampu menjadi tercerahkan dan mampu mengetahui semua ini pada dasarnya adalah welas asih...keinginan untuk menjadi manfaat bagi orang lain...maka tidak ada alasan Buddha berbohong pada kita tentang karma. Jadi Buddha merupakan sumber keterangan yang sahih. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa Buddha merupakan sumber keterangan yang sahih tentang karma.

Saya tidak tahu Anda bagaimana, tapi bagi saya...sekalipun saya dapat memahami mantiknya di sini...itu tidak betul-betul meyakinkan saya pada tingkat yang amat sangat dalam. Saya ingin memahaminya sedikit lebih baik lagi. Dengan kata lain, saya ingin memahami sesuatu yang lebih jauh tentang ini sehingga itu membantu saya...apa istilahnya...untuk betul-betul yakin secara naskah ajarannya. Saya tidak betul-betul yakin pada penarikan kesimpulan ini.

Jadi jelas bahwa lewat penarikan kesimpulan biasa atas dasar mantik, itu tidak dapat membuktikan akibat-akibat ketakbahagiaan dari perilaku merusak. Itu dikatakan dengan amat khusus di dalam naskah-naskah...dan Anda tidak akan mampu melihatnya melewati pencerapan yang gamblang – pencerapan yang lempang. Jadi ini membuat saya menyelidiki secara lebih mendalam untuk mencoba mendapatkan keterangan untuk mencoba memahami hubungan antara perilaku merusak dan ketakbahagiaan. Bagaimana saya dapat mengaitkan keduanya? Seperti selalu dikatakan Yang Mulia, saya mesti mendekati ini layaknya seorang ilmuwan. Jadi sekarang kita selidiki secara lebih mendalam.

Ada ajaran-ajaran bhidharma, Pokok-Pokok Bahasan Khusus Pengetahuan. Ada corak-corak yang saling berbeda tipis di berbagai aliran agama Buddha India. Ada naskah dari aliran Vaibhashika, sebuah aliran Hinayana, oleh Vasubandu. Dan ada corak Mahayana dari bhidharma oleh Asanga. Dan ada juga corak Theravada, yang juga aliran Hinayana, dari ini oleh Anuruddha. Jadi ketika kita mencari di tiap aliran-aliran pernaskahan dan tinjauan ini, apa arti tindakan merusak? Bagaimana kita memaknai perilaku merusak? Saya tidak akan picik mengenai hal ini dan pendekatannya adalah bahwa masing-masing dari aliran itu menyoroti...masing-masing dari telaah-telaah ini...menyoroti pokok bahasan ini; mereka tidak bertentangan. Jadi ada berbagai daftar yang berisi berbagai anasir batin yang selalu menyertai perilaku merusak. Kita lihat anasir-anasir batin ini, kita satukan dengan berbagai penyajian dan melihat, "Kalau aku memiliki anasir-anasir batin ini, apakah itu tataran cita yang bahagia atau tataran cita yang tak bahagia?"

Biar saya paparkan...tidak secara keseluruhan...beberapa dari fitur-fitur utama di daftar yang berisi anasir-anasir batin yang hadir menyertai perilaku merusak. Ini memberi kita gambaran yang lebih baik, yang lebih jernih, tentang apa yang kita bicarakan di sini ketika kita bicara tentang perilaku merusak. Bukan cuma tindakannya saja, tapi juga tataran cita yang ada bersama tindakan tersebut. Dengan kata lain, apa yang membuat suatu tindakan itu bersifat merusak? Mungkin sifatnya merusak, tapi maksudnya di sini bukan cuma menghasilkan ketakbahagiaan, tapi ada berbagai anasir batin yang terkait dengannya.

Jadi, kita telusuri beberapa dari anasir ini:

  • Tiadanya rasa menghargai. Ini berarti tiadanya rasa hormat bagi sifat-sifat positif atau terhadap orang-orang yang memilikinya. Bisa kita pahami, kan? Ada orang yang tidak punya rasa hormat terhadap hukum, terhadap apapun yang positif, terhadap orang-orang yang positif dan baik...tidak ada rasa hormat. [Mereka tidak menghargainya.]

  • Yang berikutnya, tiadanya rasa "keberatan", seperti itu saya terjemahkan. Yang berarti tiadanya kemauan menahan diri dari sikap atau tindakan yang kurang ajar atau yang jelas-jelas negatif; pada dasarnya ini berarti, "Aku tak peduli dengan perbuatanku." Tiadanya kemauan untuk menahan diri dari sikap atau tindakan yang jelas-jelas negatif. "Aku tak peduli dengan perbuatanku!" Apakah itu tataran cita yang bahagia atau tataran cita yang tak bahagia? Tampak seperti...aku paham bahwa kalau aku tambahkan sikap semacam ini ke dalam diriku, kita tidak akan jadi orang yang amat bahagia.

  • Keluguan. Di sini maksudnya tidak tahu atau menerima bahwa duka kasar dan ketakbahagiaan itu mengikuti tindakan merusak. Jadi, "Hei, aku bisa bertindak merusak; aku bisa melakukan apapun yang aku mau dan tak ada ganjaran buat itu." Kita lugu.

  • Kita juga bisa memiliki kemelekatan dan rasa bermusuhan. Tapi itu tidak harus ada di sana, namun bisa ada di sana. Namun, kita tahu, ketika kita amat sangat melekat dan bergantung dan seterusnya, itu bukanlah tataran cita yang bahagia. Begitu juga kalau kita merasa amat marah atau memiliki rasa permusuhan yang pekat. "Aku harus memilikinya! Aku harus memilikinya! Aku harus memilikinya!' Itu bukan tataran cita yang bahagia. Atau, "Jangan pernah tinggalkan aku! Aku tak bisa hidup tanpamu!" Itu bukan tataran cita yang bahagia juga, kan?

  • Lalu, kita lanjutkan, tiadanya martabat diri, tiadanya rasa bermartabat dalam diri. "Aku tak punya rasa bangga pada diriku." Rasa rendah diri dan semacamnya. "Aku tak punya rasa bermartabat dalam diriku." Ini kita jumpai dalam ilmu kemasyarakatan juga. Kalau Anda bilang pada sekelompok masyarakat bahwa mereka itu tak berguna dan Anda tak pernah memberi kesempatan pada mereka untuk memiliki rasa bangga pada dirinya, rasa harga diri, maka mereka merasa, "Ya, aku buat bom bunuh diri saja karena aku tak menghargai diriku. Kau telah meyakinkanku bahwa aku ini sampah." Tidak ada rasa harga diri. Hal terburuk yang bisa Anda lakukan pada sekelompok orang yang tertindas adalah mencabut martabat mereka. Jadi tidak sukar melihatnya. Rasa martabat hilang. Kita pikir kita tak berharga.

  • Dan kemudian yang berikutnya adalah tidak peduli bagaimana tindakan kita akan merembet pada orang lain. Ini mungkin watak yang sangat Asia, tapi dalam watak Asia ini kalau aku bertindak buruk, ini akan merembet pada keluargaku, kastaku, kelompok masyarakatku, dsb. Jadi aku tak peduli akan hal itu. Yang akan menyertai tindakan merusak adalah, "Aku tak peduli betapa ini akan merembet pada keluargaku; aku tak peduli betapa ini akan merembet pada bangsaku atau kaumku, atau apapun."

  • Dan anasir lain yang ditambahkan oleh Anuruddha adalah rasa keresahan. Ini merupakan lawan dari rasa puas dan damai dengan diri sendiri. Tataran batin kita tidak mantap, tidak tenang. Itu juga ada saat kita berperilaku merusak, kita tidak tenang; kita gelisah. Rasa resah ini.

Jadi kalau kita belajar tentang semua jenis anasir batin yang akan menyertai perilaku merusak, maka...kendati aku tidak dapat menarik kesimpulan secara mantik bahwa ketakbahagiaan muncul darinya...aku dapat melihat sedikit lebih jernih hubungan antara perilaku merusak ini, jenis perilaku merusak ini secara umum dicirikan oleh anasir-anasir batin dan ketakbahagiaan ini, pengaitannya jadi lebih masuk akal. Lalu aku dapat kembali ke apa yang diberikan di dalam naskah; Buddha adalah sumber sahih dari keterangan mengenai hubungan itu.

Nah, supaya lengkap saja, meski sudah lewat waktunya, tapi kalau Anda mau menyediakan waktu 10 menit lebih lama, mari kita lihat anasir-anasir batin yang menyertai suatu tataran cita membangun atau jenis perilaku membangun untuk melihat hubungannya dengan kebahagiaan. Daftarnya lebih panjang lagi, sebetulnya, menyatukan keterangan yang kita peroleh dari berbagai sumber bhiddharma ini.

  • Jadi, yang pertama ada "keyakinan terhadap fakta". Jadi, keyakinan bahwa kebahagiaan timbul dari kita yang menahan diri dari perilaku merusak; ketakbahagiaan dari perilaku merusak, dari suatu tataran cita merusak, tataran cita tak bahagia, yang tak yakin pada apapun juga. Fakta-fakta disajikan, yang benar disajikan dan, "Aku tak meyakininya!" Itu bukan tataran cita yang bagus. Di sini, jika kita disajikan dengan sesuatu yang merupakan fakta, yang bersifat benar, kita meyakininya.

  • Berikutnya, kita peduli dengan buntut-buntut atas perilaku kita pada diri kita dan orang lain.

  • Dan ada rasa "prima". Ini berarti bahwa aku merasa prima dengan diriku dan aku mampu menahan diri untuk tidak mencelakai orang lain, misalnya. Kalau kita merasa prima dengan diri kita dan kemampuan kita mengendalikan diri kita, dengan kendali-diri, itu jadi tataran cita yang lebih bahagia, bukan, dibanding tataran cita yang, "Aaa-aaa, aku betul-betul lepas kendali." Perut kita sudah penuh, masih ada satu potong kue tersisa di meja dan kita lepas kendali sehingga ya, kumakan saja. Dan setelahnya Anda merasa tidak enak. Anda merasa sedikit tak bahagia. "Oh, perutku sesak betul sekarang. Aku merasa sebah." Tapi kalau kita mampu menahan diri untuk tidak mengambil kue sepotong yang malang itu dari meja, maka kita merasa lebih enakan, seperti, "Ya, aku mampu mengendalikan diri dan tak menjadi serakus babi." Itulah tataran citanya, bukan?

  • Yang berikutnya adalah "ketenteraman". Ini yang menarik. Ini merupakan suatu tataran cita yang bebas dari kesembronoan dan ketumpulan. Ketika kita menahan diri bertindak merusak dan membentak orang lain, cita kita tidak berkelana ke sana ke mari. Dan bukan juga seperti kita ini tumpul dan tak tahu apa yang sedang kita perbuat. Jadi cita kita jernih dan tenteram. Kita tahu apa yang kita perbuat.

  • Kemudian ada rasa menghargai, rasa hormat pada mereka yang punya sifat-sifat positif dan rasa hormat terhadap sifat-sifat positif pada umumnya.

  • Dan ada rasa keberatan, kita peduli pada apa yang kita lakukan, sehingga kita menahan diri dari tindakan yang jelas-jelas negatif.

  • Dan ada ketakmelekatan, "Aku tidak melekat bahwa aku harus mengatakan ini. Aku harus membentak. Aku harus bertindak merusak."

  • Tiadanya rasa bermusuhan.

  • Nir-kekerasan.

  • Kegigihan bersukacita. Kita akan gigih untuk bertindak membangun. Apa maksudnya itu? Itu berarti bahwa tidak peduli seberapa sukar rasanya untuk tidak makan potongan kue terakhir itu, aku tidak akan memakannya. Bilang saja, "Tidak, terima kasih. Sudah cukup." [Jadi semua ini memberi kita citarasa tataran cita yang bahagia, bukan?]

Anaruddha bahkan memaparkan lebih banyak anasir batin lagi.

  • Keseimbangan cita membebaskan kita dari kemelekatan dan rasa jijik.

  • Dan ada daya ingat; daya ingat serupa perekat batin yang menjaga kita tetap berada pada suatu tataran cita tertentu.

  • Ketenangan.

  • Keterjagaan. Keterjagaan adalah lawan dari melamun atau mengantuk. Dalam bahasa Inggris pasaran kita bilang being up (melek).

  • Keluwesan. Ini adalah lawan dari kekeras-kepalaan; ia menghilangkan kekakuan, jadi tidak keras kepala. "Aku harus makan kue ini." "Tidak peduli kalau kau jadi sakit hati, aku harus bilang bajumu itu jelek sekali." Kita keras kepala. Jadi ini lawan darinya, kita luwes. Juga lawan dari kepongahan. Kepongahan bahwa, "Aku benar. Aku harus mengatakan apa yang ingin kukatakan."

  • Kebergunaan. Kebergunaan berarti suatu keadaan prima atau kesiapan untuk mampu menerapkan diri kita pada sesuatu yang bermanfaat. Ia merupakan lawan dari halangan batin (rasa ragu dalam hati)...Siap melakukan apapun yang harus dilakukan. "Aku siap menaruh tangan di lubang kakus walaupun kotor, kakusnya kotor, untuk mengambil lalat yang sedang tenggelam di lubang kakus itu. Aku sama sekali tidak ragu dalam hati." Itulah maksudnya. Betul? Kalau batin tidak terhalang sama sekali, ini jadi tataran cita yang jauh lebih bahagia. Kalau hati tidak rela, Anda jadi takut, merasa tak aman...itu bukan tataran cita yang bahagia. Maksudnya, "Memangnya kenapa, apa rupanya yang ada di kakus itu? Aku bisa cuci tangan nanti setelahnya. Nyawa lalat ini lebih penting."

[Tawa dari hadirin.]

Alex: Apa katanya?

Penerjemah: Dia bilang, "Dan di atasnya ada tahi Anda sendiri." Tapi saya bilang, tidak mesti juga.

Alex: Tidak jadi masalah. Tidak jadi masalah itu tahi siapa.

Contoh lain...kakak perempuan saya selalu menuduh saya suka menggunakan contoh-contoh yang kebangetan tapi... Misalnya ada orang yang tenggelam dan tak bisa bernapas dan kita perlu melakukan bantuan pernapasan mulut-ke-mulut, tapi orang ini jelek atau sejenis kelamin dengan kita atau apalah alasannya. Kalau saya dalam hati meragu untuk menempelkan mulut saya ke mulutnya, itu akan menghalangi kita untuk menolong orang ini. Kalau keraguan itu tidak ada, maka ada orang yang terluka atau tenggelam jadi aku berikan pertolongan napas buatan. Jadi ini maksudnya merasa prima dan siap untuk memberikan pertolongan napas buatan mulut-ke-mulut pada siapapun yang membutuhkannya. Aku sama sekali tidak ragu dalam hati. Itulah maksudnya. Omong-omong, "aku" di sini, saya tidak bicara secara khusus tentang diri saya, saya bicara tentang sebuah sikap.

  • Dan kemudian rasa kecakapan. Itu lawan dari tiadanya rasa percaya diri.

  • Kejujuran. Tidak berpura-pura bahwa kita punya sifat yang tidak kita punya dan tidak munafik dan menyembunyikan titik-titik kelemahan kita.

Jadi kita bisa paham, kalau aku tenang, bertindak dengan percaya diri, aku prima, aku tak meragu dalam hati, dan aku peduli tentang apa yang kulakukan dan aku punya rasa menghargai dan seterusnya, ini tentunya sudah tataran cita yang lebih bahagia. Jadi, oleh jenis penyelidikan inilah kemudian kita mulai memiliki kepercayaan yang semakin tinggi dalam hukum karma yang paling dasar, yaitu perilaku merusak berujung pada ketakbahagiaan dan perilaku membangun berujung pada kebahagiaan. Dan tidak jadi demikian – kaitan sebab-akibat itu tidak jadi demikian – karena Buddha mengarang-ngarangnya, mengarang-ngarang hukum itu, karena ia menciptakan segala sesuatu dan mengarang hukum ketakbahagiaan datang dari perilaku merusak dan kebahagiaan datang dari perilaku membangun. Dan bukan kebahagiaan merupakan hadiah bagi bertindak membangun dan ketakbahagiaan merupakan hukuman bagi bertindak merusak. Tapi kita memahami, dengan gaya yang jauh lebih masuk akal, kaitan antara jenis perilaku yang kita punya dan pengalaman kebahagiaan dan ketakbahagiaan kita.

Dan ketika kita memahami cara-kerja kelanjutan karma – kecenderungan dan daya dan seterusnya, dari perilaku kita – bagaimana semua itu melanjut ke dalam kehidupan masa mendatang, dari masahidup ke masahidup sehubungan dengan cita bercahaya jernih, maka kita dapat mulai memiliki rasa percaya bahwa ketika kita berperilaku baik di masahidup sekarang ini itu akan mempengaruhi pengalaman kita di masahidup-masahidup mendatang. Jadi pokok bahasan tentang bagaimana kecenderungan ini, bagaimana keberlanjutan daripadanya melanjut di kehidupan-kehidupan mendatang, itu akan kita bicarakan besok.

Tapi untuk merangkum dan menyimpulkan lingkup awal ini: Betul-betul menjadi orang yang telah mengalihrupakan diri kita pada orang dengan cakupan awal itu bukan pencapaian kecil. Kita sepenuhnya yakin kesinambungan batin kita melanjut tanpa akhir, dari masahidup ke masahidup. Dan kita sepenuhnya yakin bahwa caraku berperlaku sekarang akan mempengaruhi pengalamanku di kehidupan-kehidupan mendatang. Dan sekarang aku memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, yang berarti bahwa perilakuku tidak diatur sepenuhnya oleh naluri seperti hewan pemakan daging yang secara naluriah saja berburu dan membunuh untuk makan, atau seperti seekor anjing yang ketika birahi langsung saja lompat menunggangi anjing lain. Tapi aku punya kemampuan kecerdasan manusia untuk bisa membedakan antara mana yang bermanfaat dan mana yang mencelakai dan kemampuan untuk bertindak atas dasar pertimbangan itu. Dan kesempatan memiliki jenis kecerdasan itu tidak akan berlangsung selamanya; dengan kata lain, aku akan kehilangannya saat aku mati.

Dan setelah aku mati...tentu...aku akan terus ada. Dan aku dapat mengada atas dasar perilaku merusak di dalam bentuk-bentuk kehidupan yang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang berguna dan mana yang membuat celaka dan aku akan hanya bertindak merusak secara naluriah lagi dan lagi. Dan aku hanya akan membina lebih banyak ketakbahagiaan dan duka saja. Dan aku punya haluan aman yang ditandai dengan penghentian sejati dan cita jalan sejati. Jadi ada petunjuk dari haluan untuk menghapuskan semua duka dan sebab-sebabnya ini. Aku ingin menjadikan itu sebagai haluan langkah dan akan lama sekali untuk mencapai ini. Jadi aku harus terus memastikan bahwa aku memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia.

Dan sekalipun aku bertujuan untuk menyingkirkan perasaan-perasaan gelisah dan ketaksadaran dan semua hal lain yang ada pada kesinambungan batinku...kecenderungan-kecenderungan itu tetap ada. Sekalipun aku bertujuan mencapai penghentian sejati daripadanya, sebagai langkah awal...karena aku tidak dapat menyingkirkan ketamakan rasa bermusuhan, amarah, dan seterusnya...setidaknya ada langkah awal yang kuambil. Dan kalau perasaan-perasaan gelisah itu bangkit, aku tidak akan mewujudkannya dalam tindakan. Aku tidak akan bertindak merusak. Aku punya kemampuan untuk membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membawa celaka. Jadi kemarahannya tersulut, desakan untuk membentakmu muncul, tapi aku menyadari: bahwa itu tidak akan berguna, bahwa itu hanya akan menyebabkanku terus mengalami ketakbahagiaan. Oleh karena itu aku menahan diri.

Inilah rangka-kerja batin mendasar dari seseorang dengan lingkup awal. Kemudian apabila kita mau menambahkan di atas berbagai sebab untuk melengkapi syarat memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, maka, seperti ditunjukkan di dalam naskah-naskah, kita mesti baik hati, gigih, sabar, dan seterusnya. Dan seperti saya jelaskan lewat pengalaman pribadi saya sendiri, memiliki keterkaitan kuat dengan para guru rohani Anda, memiliki kaitan kuat dengan Dharma, dsb. sehingga kelak ketika kita memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia...kecenderungan dan kesan yang terbuat dari anasir-anasir itu – hubungan erat dengan guru dan seterusnya – akan juga matang dalam keadaan-keadaaan kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia itu.

Tambah lagi: doa, yang berarti bakti terhadap daya positif apapun, kita mau mengarahkannya pada tujuan kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, dsb. Dan ada banyak doa, “Semoga aku dilindungi dan dijaga oleh para guru mulia di seluruh masahidupku.” Di sinilah letak kecocokannya. Jadi kalau dalam masahidup sekarang ini kita betul-betul menjadi orang dengan lingkup awal, kita akan memiliki kemajuan rohani yang luar biasa dari jalan Buddha.

Jangan pikir bahwa ini adalah hal remeh, hal gampang. Yang saya maksud di sini adalah ketika kita memiliki lingkup ini, dorongan ini, pemahaman ini, keyakinan ini dengan tulus dan sepenuh-hati. Sepenuhnya ia bukan dibuat-buat, sepenuhnya ia tulus dan memadu. Ini merupakan pencapaian luar biasa. Dan seperti kita katakan tadi, kita sendiri inilah yang jadi saksi terbaik, saksi utama, untuk menilai dan menguji apakah aku tulus seperti ini atau apa aku cuma main-main saja, atau melewatkan beberapa bagian daripadanya yang tidak kusuka?

Kita akhiri di sini dengan sebuah persembahan, memikirkan apapun pemahaman, apapun daya positif yang muncul dari hal ini, semoga ia berlaku sebagai sebab bagi pencapaian dan pemerolehan yang sebetulnya dari cita jalan bertahap orang dengan lingkup awal, lingkup menengah, lingkup lanjut, dan semoga kita memperoleh pencerahan demi manfaat bagi semua.