Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 2: Bahan Lam-rim (Bertahap) > Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim > Sesi Empat: Tanya-Jawab dan Membangkitkan Kepedulian bagi Masahidup Mendatang

Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim

Alexander Berzin
Morelia, Meksiko, Oktober 2008

Sesi Empat: Tanya-Jawab dan Membangkitkan Kepedulian bagi Masahidup Mendatang

[Mari kita mulai sesi siang kita dengan pertanyaan, apabila ada.] Ya?

Pertanyaan: Ketika kita bicara tentang kelahiran kembali, apakah kita bicara tentang kelahiran kembali setelah kematian atau kelahiran kembali dalam arti bahwa kita terlahir kembali dalam tiap saat?

Alex: Kita bicara tentang setelah kematian. Tentu saja, kita jadi menghadapi suatu pertanyaan penting nan sulit, yaitu "Apa yang menjelma kembali itu? Apa yang terus lanjut dari masahidup ke masahidup." Tapi itu bukan pokok bahasan kita untuk saat ini.

Pertanyaan: Ia bingung. Mungkin bisa Anda jernihkan sedikit lagi tentang perbedaan antara atau hubungan antara cita bercahaya jernih dengan kesinambungan batin.

Alex: Ketika kita lihat kesinambungan batin, kita perlu menentukan sesuatu yang akan hadir pada setiap saat tanpa akhir, tanpa awal dan tanpa akhir. Jadi, dalam satu masahidup tertentu, ada banyak tingkat kegiatan batin dan ada banyak tingkat raga, dalam hal raga kasar, tenaga, dan seterusnya. Jika kita telaah itu dalam satu masahidup, maka kita mendapati, misalnya, bahwa dalam tingkat-tingkat kasar ini tidak ada suatu apapun yang tetap tak berubah di sepanjang masahidup kita. Tidak ada satupun dari sel tubuh kita yang sama dengan yang dulu kita punya di masa lampau, tentunya bukan sel yang kita miliki semasa masih bayi. Otak kita pasti sudah tidak sama lagi, sel-sel otak, pikiran-pikiran kita tidak lagi sama. Pemahaman kita sudah tidak sama, perasaan kita, dsb. Tak ada satupun yang tetap sama.

Jika kita timbang contoh tidur lelap dan contoh tak sadarkan diri atau di bawah pengaruh bius, maka kita dapati bahwa kita memiliki tingkat-tingkat keinsafan yang kasar, dsb., sebelum masing-masing kurun ini dan setelah masing-masing kurun kita dan tingkat-tingkat keinsafan kasar itu tidak berlanjut selama kurun ini. Anda pasti paham, kita tidak melihat apapun selagi terbius, atau tak sadar, atau terlelap tidur. Hal-hal itu tidak berlanjut. Jadi pasti ada sesuatu yang lebih halus yang mendasari tingkat-tingkat kasar keinsafan kita yang menyediakan keberlanjutan, kalau tidak bagaimana mungkin ada keberlanjutan sama sekali?

Dan kalau kita perluas perumpamaan ini sampai ke kematian, maka demikian pula, pada kematian, ia bahkan lebih disingkirkan dari yang lebih kasar dan bahwa segi-segi yang lebih halus dari cita dan raga. Dan seperti yang telah kita lihat pagi tadi, bahwa ada tingkat-tingkat cita yang lebih kasar dan seterusnya dan pengalaman yang akan mengikuti setelah saat atau kurun kematian tersebut. Jadi pasti ada tingkat terhalus dari kegiatan batin yang menyediakan keberlanjutan dari masahidup ke masahidup dan yang mewujud pada saat atau kurun kematian. Dan itu dikenal dengan tingkat bercahaya jernih. Ini merupakan suatu jenis kegiatan batin yang mempertahankan sifat intinya. Bukan seperti sel-sel tubuh kita digantikan sesuatu yang serupa tapi agak beda. Tapi, itu seperti sesuatu yang mantap terus: itu yang saya maksud dengan mempertahankan sifat intinya.

Dan ketika kita bicara tentang kesinambungan batin, kita bisa bicara dalam hal kesinambungan tataran-tataran yang lebih kasar dan yang lebih halus dan seterusnya, terus dari saat ke saat, berubah, tapi juga kita bisa bicara dalam hal suatu tingkat terhalus yang mendasari keseluruhan hal tersebut. Dan kesinambungan batin bisa dibilang merupakan suatu gabungan dari keduanya, tapi hal yang betul-betul menyediakan keberlanjutan dan ada setiap saat adalah cita bercahaya jernih terhalus ini.

Meski begitu, tingkat cita terhalus itu tidak selalu mewujud. Mewujud dalam arti giat dan secara giat mengambil sasaran-sasaran. Ketika tingkat-tingkat cita yang lebih kasar itu giat maka tingkat cita terhalus itu tidak giat, tapi ia tetap ada. Dan ketika tentu saja ada banyak tafsir dan penjelasan berbeda tentang apa maksud mewujud dan tidak mewujud dan apa sebetulnya yang sedang terjadi di situ. Ada pembahasan besar tentang itu dan ada banyak tafsir.

Juga ketika kita bicara tentang kesinambungan ini, atau cita bercahaya jernih ini, maka secara umum ketika kita bicara tentang cita, kita bicara tentang kegiatan batin, kita tidak sedang bicara tentang organ tubuh yang melakukan ini, entah itu hal yang bendawi maupun tidak. Kita bicara tentang kegiatan batin itu sendiri. Dan kegiatan batin ini dapat digambarkan dari dua sudut pandang: [1] Kita dapat menggambarkannya dari sudut pandang pengalaman – pengalaman subyektif. Jadi itulah biasanya sisi batinnya. [2] Dan kita bisa menggambarkannya dari sudut pandang sisi ragawinya, yaitu berkaitan dengan tenaga, dalam arti tingkat yang amat halus. Kita tidak bicara tentang tingkat-tingkat lebih kasar seperti persinggungan kimiawi atau persinggungan listrik di dalam otak. Kita bicara di tingkat yang lebih halus. Kalau bicara di tingkat otak yang lebih kasar, Anda bisa menggambarkan suatu peristiwa batin dari sudut pandang pengalaman subyektif atau dari sudut pandang hal-hal kimiawi dan kelistrikan yang terjadi di dalam otak, itu sama saja. Jadi tenaga terhalus itu, yang merupakan cara lain untuk melihat cita bercahaya jernih, juga merupakan sesuatu yang keberlanjutannya tak terputus. Jadi cita bercahaya jernih, yang ada sendiri-sendiri di masing-masing kita, bersifat subyektif – kita tidak bicara tentang "cita bersifat semesta", dari sudut pandang Buddha, tidak ada hal semacam itu. Jadi cita bercahaya jernih dan kesinambungan tenaga terhalus, angin tenaga, inilah yang akan menyediakan keberlanjutan bukan hanya di dalam keadaan samsara, yang tidak berawal, tapi juga ia berlanjut sampai ke kebebasan dan pencerahan sebagaimana layaknya seorang Buddha. Yang akan kita miliki adalah keberlanjutan lebih jauh dari cita bercahaya jernih dan tenaga terhalus.

Ada pertanyaan lain?

Pertanyaan: Ia merasa ragu. Anda bilang di satu sisi bahwa ketika akibat itu hadir, sebabnya telah berhenti. Tapi masih juga Anda berkata ada semacam kelanjutan dari tindakan karma apapun. Jadi bagaimana kita mencocokkan dua hal itu?

Alex: Itu pertanyaan yang amat rumit. Ada begitu banyak jenis sebab yang dirincikan di dalam telaah Buddha. Di satu daftar, ada dua puluh jenis sebab yang ditelaah, contohnya di dalam naskah bhidharma dari Asanga. Jadi ada sebab yang hadir pada saat akibat terjadi dan ada yang tidak. Misalnya, unsur-unsur yang merekayasa raga saya adalah suatu sebab dari raga saya tapi unsur-unsur ini hadir bersamaan dengan adanya raga saya. Jadi ketika kita bicara tentang sebab pemeroleh, seperti benih yang tumbuh jadi tunas, maka sebab pemeroleh itu berhenti ada, ketika hasilnya terberikan.

Nah, ada suatu jenis sebab lain yang dikenal sebagai "sumber kelahiran". Contohnya adalah, misalnya, rahim seorang ibu yang melahirkan bayi. Itu adalah sumber dari kelahiran si bayi. Tapi rahim si ibu terus ada setelah bayi tersebut dilahirkan dan dapat pula menghasilkan bayi-bayi lagi. Contoh lainnya: oven dan roti.

Nah, ketika kita bicara tentang kecenderungan-kecenderungan karma...atau ini juga diterjemahkan ke dalam kata "benih", tapi saya akan menghindari kata benih karena sedikit membingungkan – dan juga terlalu bendawi karena sebetulnya kecenderungan-kecenderungan ini tidak bersifat bendawi – kecenderungan-kecenderungan karmanya adalah sebab pemeroleh dari akibatnya dan juga sumber kelahiran dari akibat tersebut. Alasan mengapa ini amat berarti, dan pertanyaan Anda memunculkan hal ini, dan itu pertanyaan bagus sekali, adalah bahwa suatu kecenderungan karma membangkitkan lebih dari satu hasil. Ada contoh yang diberikan di dalam naskah tersebut, misalnya, seseorang meledek seorang biksu dengan sebutan "keledai" dan orang ini dilahirkan kembali lima ratus kali sebagai seekor keledai... seekor keledai atau monyet, maksud saya kita tidak sering meledek orang dengan sebutan "monyet", biasanya kita ledek mereka keledai, setidaknya dalam bahasa Inggris. Jadi, satu kecenderungan karma bisa membangkitkan banyak akibat dan banyak kecenderungan karma bisa membangkitkan satu akibat. Ini salah satu asas karma.

Jadi, kita bicara tentang benih karma, kecenderungan karma yang tentu saja berlanjut dari saat ke saat, sampai ke saat kemudian ketika ia membangkitkan sebuah pematangan – kalau ia punya daya untuk membangkitkan banyak pematangan – maka segi darinya yang merupakan suatu sebab pemeroleh bagi akibat tersebut selesailah sudah. Akan tetapi, segi darinya, segi-segi lebih besar daripadanya yang menjadi sumber kelahiran untuk membangkitkan lebih banyak pematangan, itu akan terus berlanjut dan akan ada pada saat yang sama dengan pematangan akibat pertama. Dan ketika kecenderungan karma ini telah berhenti membangkitkan semua akibat-akibat yang dapat dibangkitkannya, maka ia akan berhenti mengada, baik sebagai suatu sebab pemeroleh maupun sebagai suatu sumber kelahiran.

Maaf jawabannya rumit tapi pertanyaan Anda juga tidak gampang. Satu hal dapat berlaku sebagai berbagai jenis sebab untuk suatu hal lain. Malah, ia dapat berlaku sebagai berbagai jenis sebab lain bagi berbagai jenis akibat, jadi memang agak rumit. Jadi pengertian lengkap dari sebab dan akibat, khususnya dalam hal karma, selalu dijelaskan sebagai yang paling rumit dan paling sulit untuk dipahami secara keseluruhan. Hanya seorang Buddha yang sepenuhnya memahaminya. Mengapa? Karena ketika kita bicara tentang hubungan sebab-akibat di antara segala sesuatu, setiap hal yang berubah itu berkaitan secara sebab-akibat, dari masa tanpa awal ke masa tanpa akhir. Segala sesuatu, dengan suatu cara, saling-terhubung secara sebab-akibat. Jadi hanya cita mahatahu seorang Buddha sajalah yang dapat melihat kaitan-kaitan ini.

[Akhir dari pertanyaan.]

Kita tadi membahas pemeragaan atau bukti mengapa kegiatan batin tidak berawal dan tidak berakhir. [Dan kita di sini bicara tentang masing-masing dan tiap-tiap kesinambungan batin, bukan sekadar secara umum saja. Di sini, hal yang paling berkaitan dengan tingkat perkembangan kita ini, perkembangan Buddhawi, perkembangan kerohanian kita, adalah keyakinan bahwa kesinambungan batin kita tidak berawal dan tidak berakhir.] Jadi tentu saja ada kehidupan masa lampau dan ada kehidupan masa mendatang. Dan jenis kehidupan, bentuk kehidupan, dari masing-masing kelahiran kembali tentu saja akan berbeda-beda. Ini tentunya merupakan tingkat kasarnya. Tapi tingkat tenaga terhalus, kegiatan batin, kegiatan bercahaya jernih, akan terus berlanjut. Namun, bentuk dari kelahiran kembali dan jenis kemampuan kegiatan batin – kegiatan batin dari seekor cacing tidak akan sekuat kegiatan batin dan kemampuan batin otak manusia tentunya – dan berbagai jenis kebiasaan yang dihubungkan dengan berbagai bentuk kehidupan – ketika kita bahagia apakah kita akan mengibas-ngibaskan ekor seperti anjing atau apakah kita akan mengungkapkannya dengan cara yang berbeda – dan semua itu akan dipengaruhi oleh karma. Dengan kata lain, dengan perilaku jenis apa yang kita miliki dulu dan kelanjutan karma yang tersisa setelahnya, setelah tindakan-tindakan itu. Jadi tidak ada jati-diri tetap bagi aku. Jati diri di sini maksudnya mengenali diri pada suatu masahidup tertentu yang kita miliki. Itu berbeda dari keseorangan. Kita mempertahankan keseorangan kita. Aku tidak menjadi kamu. Tapi aku tidak punya jati diri tetap sebagai orang Meksiko, Jerman, sebagai manusia, sebagai ayam, sebagai laki-laki atau perempuan. Oleh karena itu, saya dapat mengalami kelahiran kembali dalam berbagai jenis rupa. Itu semua tergantung pada cara saya bertindak.

Nah, saya ada kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia. Aku bukan ayam. Aku tidak akan mati kelaparan. Bagi sebagian besar kita, aku tidak cacat parah. Aku tidak berada di keadaan yang tidak memiliki ajaran-ajaran Buddha atau keadaan melanggar hukum atau bersifat terlarang. Dengan begitu ada meditasi dan lingkup awal dari kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, yang masuk akal kalau kita pertimbangkan bahwa ada sejumlah besar kemungkinan lain mengenai bisa jadi apa kita di masahidup sekarang ini. Dan mengingat seluruh, apa istilahnya, jenis daya karma yang kita punya, maka, seperti dikatakan salah seorang guru saya, Geshe Ngawang Dhargyey, paling baik bagi kita untuk menganggap diri sedang berada dalam liburan singkat dari alam-alam yang lebih rendah – dan masa liburan kita ini sudah hampir berakhir. Jadi, selagi kita berada di liburan singkat ini, jangan habiskan waktu hanya berfoto ria di alam manusia dan sudah begitu saja. Kita mesti memanfaatkan penuh keuntungan memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia.

Dan yang menjadi keuntungan atau manfaat terbesar dengan menjadi manusia adalah bahwa kita punya kecerdasan. Kesadaran pembeda – untuk mampu membedakan antara apa yang bermanfaat untuk dijalankan dan apa yang merugikan atau lebih baik dihindari. Hanya sebagai manusialah kita punya kesadaran pembeda untuk mengetahui itu. Dan kematian akan datang sewaktu-waktu. Jadi, kalau kita tidak punya keyakinan teguh bahwa akan ada kehidupan berikutnya setelah kematian, maka kematian itu akan jadi akhirnya. Selesai sudah. Jadi tidak begitu berarti kalau kita punya kesadaran akan kematian.

Jadi kita anggap dengan sungguh-sungguh fakta bahwa aku punya kesempatan luar biasa ini dan perangkat luar biasa berupa kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia ini dan ini pasti akan berakhir dan aku tak tahu kapan, dan kemudian aku akan terus lanjut. Jadi, pertanyaannya adalah: Terus apa? Kalau kita berpikir dalam kerangka kesinambungan batin yang tanpa awal dan tanpa akhir, jumlah waktu dalam masahidup sekarang ini sangatlah pendek. Sekalipun kita hanya berpikir dalam kerangka masahidup semesta ini dari masa terjadinya ledakan besar (Big Bang) sampai semesta meluas menuju kepunahan atau menciut menuju kepunahan – setiap beberapa tahun para ilmuwan berubah pikiran mengenai hal itu – lama masahidup sebagai manusia ini tidak ada artinya. Amat sangat pendek. Oleh karena itu, wajarlah, masuk akallah, bahwa ada jauh lebih banyak waktu setelah kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia ini dibanding kurun masahidup yang pendek ini, dan jadi masuk akal bila kita lebih peduli pada kurun waktu yang jauh lebih panjang ini. Pastinya, sisa dari masahidup yang sekarang ini merupakan bagian dari yang akan datang, jadi kita mesti sedikit memperhatikannya juga. Tapi keseluruhan pokok dari lingkup awal ini adalah menitik-beratkan perhatian utama dan minat kita pada kehidupan-kehidupan masa mendatang.

Nah, saya rasa kita mulai memahami Dharma sejati. Kita yakin pada kelahiran kembali. Dan jika kita yakin akan hal itu, kini kita harus menganggapnya dengan sungguh-sungguh. Dan jika kita betul-betul menanggapnya dengan sungguh-sungguh, kemuliaan kehidupan manusia yang sekarang ini kita miliki jadi menjulang jauh lebih tinggi. Betapa luar biasa bahwa aku memiliki kesempatan ini, kebebasan ini, untuk betul-betul mengupayakan diriku untuk...apa istilahnya... memperbaiki keadaan-keadaanku, bila kita istilahkan dalam ungkapan sederhana. Dan kalau aku betul-betul menghargai kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia ini, apa yang aku inginkan di masa depan? Aku ingin untuk bisa memiliki kelahiran kembali seperti ini lebih banyak lagi.

Jadi ada ajaran-ajaran mengenai haluan aman, bahwa kalau kita berjalan di haluan Buddha, Dharma, dan Sangha, itu berarti haluan aman bagi penghentian sejati atas kesinambungan batinku, penghentian itu belum lagi terjadi. Penghentian sejati, dan cita jalan sejati yang membimbing kita ke sana...kita belum lagi mengembangkannya...tapi jika aku berjalan dengan haluan itu, maka itu akan melindungiku dari tataran-tataran kelahiran kembali yang lebih buruk karena aku sungguh tidak menginginkannya, aku ngeri padanya. Untuk betul-betul berjalan di haluan itu dan mencapai penghentian sejati dan cita jalan sejati ini, aku akan membutuhkan lebih banyak kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, lagi dan lagi. Ada kemungkinan aku tidak akan mencapai penghentian sejati dan cita jalan sejati di dalam masahidupku yang sekarang ini. Jadi, lebih baik aku memastikan bahwa aku terus memiliki kehidupan manusia yang mulia ini sehingga aku dapat terus berjalan dengan haluan aman.

Ketika kita membaca di dalam lam-rim bahwa di sini kita mengarah pada salah satu tataran kelahiran kembali yang lebih baik, entah itu sebagai manusia atau sebagai salah seorang dari para dewa, maka kita harus memahami mengapa dinyatakan bahwa kehidupan manusia yang mulia itu demikian pentingnya. Ini berkaitan erat dengan suatu pokok yang amat rumit dari sebuah naskah yang berjudul Abhisamayalamkara, Kerawang atau Hiasan Perwujudan oleh Maitreya. Dan di sana, ada satu pokok yang merupakan sebuah daftar dari apa yang disebut sebagai dua puluh Sangha, Sangha berarti arya Sangha. Dan ada banyak tingkat cita yang darinya kita dapat memperoleh sebuah penghentian sejati, cita jalan sejati – dengan kata lain, bahwa kita dapat memperoleh apa yang biasa disebuh sebagai "jalan melihat" – artinya jalan cita melihat, suatu cita yang memiliki pengetahuan nirsekat dari enam belas segi empat kebenaran mulia. Dengan kata lain, kita bisa mencapai tataran seorang arya, yang berart kita menjadi Sangha, arya Sangha, dengan berbagai jenis tingkat cita yang terpusat.

Jadi, di antara berbagai tingkat samadhi ini...ini kerap dibahas dalam kerangka, mungkin Anda sudah pernah dengar, dhyana – berbagai dhyana, tingkat-tingkat kemantapan batin seperti yang saya jelaskan...dan berbagai tingkat ini berhubungan dengan berbagai tingkat alam dewata. Jika kita melekat dengan yang manapun dari tataran-tataran kemantapan batin ini, maka kita akan terlahir kembali di dalam alam dewa yang berhubungan dengannya dan kita jadi memiliki naluri yang amat kuat untuk mencapai jenis kemantapan batin itu lagi. Oleh karena itu, jika kita terlahir kembali di dalam salah satu dari alam dewa ini, secara dalilnya, adalah mungkin bagi kita untuk...sekali lagi di dalam alam dewa ini...mengembangkan tingkat kemantapan batin ini yang akan memampukan kita...kalau kita membina naluri-naluri lain dari sejumlah besar laku...memperoleh tataran seorang arya, dari tingkat cita tersebut. Karena hal itulah kita bicara dalam kerangka menuju kelahiran kembali yang lebih baik, entah sebagai manusia atau sebagai salah satu dari para dewa ini – bukan cuma karena para dewa itu punya banyak kesenangan dan kenikmatan.

Pokoknya adalah bahwa ketika kita berpikir dalam kerangka haluan aman, kita mengarah pada tataran arya ini dan melebihinya...penghentian sejati dan cita jalan sejati...lalu, meskipun secara dalilnya kita mungkin untuk mencapai hal itu dari kelahiran kembali sebagai seorang dewa...jadi itu termasuk di sini...kita sungguh-sungguh menuju kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, karena itu akan menjadi cara termudah untuk mencapai tataran arya, cara yang paling mendukung. Jadi keseluruhan tujuan untuk memperoleh kelahiran kembali yang lebih baik itu sama sekali bukanlah tujuan seorang umat non-Buddha yang ingin masuk surga, tapi merupakan tujuan yang sesuai dengan ajaran Buddha. Dengan kata lain, kita ingin bisa terus memiliki suatu dasar, suatu dasar kerja, yang darinya kita dapat mencapai kebebasan dan pencerahan.

Kemudian, langkah berikutnya adalah: Bagaimana aku mencapai kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia di kehidupan mendatang? Ini membawa kita ke seluruh pembahasan tentang karma sebagai pokok di dalam lingkup awal. Dan untuk benar-benar berbuat sesuatu tentang kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia kita mesti...untuk mencapainya...kita harus menahan diri dari tindakan merusak dan, alih-alih, melakukan tindakan membangun. Jadi apa yang butuh kita yakini untuk ini? Maksud saya, bisa saja "Aku betul-betul berminat untuk memperoleh kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia di masa depan, tapi, ah, jangan suruh aku berhenti bertindak merusak." Jadi, kita harus yakin, dan ini yang sulit, bahwa perilaku merusak akan berujung pada ketakbahagiaan...matang dalam wujud ketakbahagiaan...dan perilaku membangun matang dalam wujud kebahagiaan.

Pernah Anda tanya diri Anda mengapa demikian? Kalau kita betul-betul yakin bahwa bertindak merusak itu berakibat ketakbahagiaan dan derita dan duka, kita tidak akan bertindak merusak – tapi kita tidak betul-betul yakin. Dan begitu kita yakin, maka kita harus juga yakin pada suatu cara-kerja yang akan memungkinkan terjadinya pematangan ketakbahagiaan atau kebahagiaan ini pada suatu selang dari begitu banyak masahidup. Dengan kata lain, ada suatu selang waktu yang panjang antara saat kita bertindak merusak dan saat akibatnya matang. Jadi itu lagi-lagi masuk dalam kesinambungan batin tanpa akhir. Jadi, ini akan kita bahas setelah jeda kopi. Tapi saya harap Anda memahami betapa dalamnya lingkup awal ini dan betapa dalam pemahaman kita harusnya agar bisa betul-betul menjadi orang dengan lingkup awal. Ini tidak mudah. Inilah Dharma sejati.