Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 2: Bahan Lam-rim (Bertahap) > Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim > Sesi Tiga: Cita Tak Bermula dan Tak Berakhir

Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim

Alexander Berzin
Morelia, Meksiko, Oktober 2008

Sesi Tiga: Cita Tak Bermula dan Tak Berakhir

Baik, mari kita mulai. Ada satu pokok lagi yang perlu ditambahkan ke dalam bahasan kita tentang Dharma-Sari dan Dharma sejati. Ketika kita mengupayakan jalan bodhisattwa, kita mencoba untuk mengatasi sikap mementingkan diri sendiri dan berkepedulian hanya untuk orang lain saja. Akan tetapi, kita tidak akan mengatasi perasaan dan sikap gelisah kita sampai kita menjadi seorang arhat, seorang makhluk terbebaskan. Oleh karena itu, saat menjalankan laku di jalan bodhisattwa sebelum menjadi seorang arhat, kita tentunya akan memiliki sikap mementingkan diri sendiri. Jadi hal itu sudah pasti. Kita akan memiliki sikap mementingkan diri sendiri. Tidak perlu merasa bersalah akan hal tersebut. Tapi pokoknya adalah bahwa kita berupaya mengatasi sikap tersebut. Kita mencoba menghapuskannya dan mencoba menitik-beratkan kepedulian kita pada orang lain. Oleh karena itu, kita mesti makul (realistis) mengenai jalan bodhisattwa ini.

Jadi, kini kita mengalihkan telaah yang sama ke sikap hanya peduli pada masahidup sekarang ini saja atau peduli pada masahidup mendatang, kebebasan, dan pencerahan. Dengan kata lain, pada Dharma-Sari – peduli hanya pada masahidup sekarang ini saja – atau Dharma sejati – peduli pada tujuan-tujuan dari tiga lingkup tadi. Jadi, tidaklah makul bila berpikir bahwa kita tidak akan berkepedulian pada hal apapun di masahidup sekarang ini. Ketika kita bicara tentang Dharma-Sari dan Dharma sejati, bukan berarti keduanya saling bertolak-belakang dan terpisah. Ada suatu kesinambungan antara keduanya. Dan kepedulian pada masahidup sekarang ini, setidaknya bagi kita orang Barat, tampak menjadi tingkat nol yang perlu kita miliki, dan atas dasar itu ada tingkat satu, dua, dan tiga dari lam-rim. Persis seperti ada tingkat nol dari keseimbangan batin yang di atasnya ada meditasi sebab dan akibat tujuh-bagian untuk bodhicita. Kita butuh tingkat nol itu. Mengapa? Karena ada begitu banyak orang, dan saya yakin kita semua tahu contoh untuk ini, yang bahkan tidak berpikir untuk mencoba berupaya atas diri mereka sendiri dan memperbaiki diri sendiri di masahidup sekarang ini. Mereka amat membutuhkan terapi dan mereka bahkan tidak berpikir untuk melakukan sesuatu seperti itu, apalagi berpaling pada Dharma-Sari. Jadi kita membutuhkan langkah Dharma-Sari, dan seperti sikap peduli diri sendiri lawan peduli pada orang lain, kita mencoba untuk lambat-laun menghilangkan kepedulian utama kita yang sekadar untuk masahidup sekarang ini dan meningkatkan kepedulian kita bagi hidup masa mendatang. Tapi selalu ada semacam kepedulian bagi masahidup sekarang ini. Seperti yang dikatakan oleh Dalai Lama, "50/50" – 50% untuk masahidup sekarang ini, 50% untuk masahidup mendatang dan setelahnya.

Sekarang, kita selami Dharma sejati. Kita kembali lagi ke empat kebenaran mulia. Dan empat kebenaran mulia itu adalah duka, sebab bagi duka, penghentian duka dan sebab-sebabnya, dan cita jalan sejati yang membimbing kita menuju ke sana. Jadi dimana letak empat kebenaran mulia? Letak keempatnya ada pada kesinambungan batin seseorang. Dan dengan demikian jika kita melihat empat fakta, empat hal yang benar, dalam kerangka kesinambungan batin, maka duka itu mesti terjadi di atas suatu kesinambungan batin dan jenis duka sejati yang ketiga itu adalah dasar gugusan yang berulang tanpa terkendali – masahidup dan masahidup, yang membentuk dasar bagi dua jenis duka pertama, ketakbahagiaan dan kebahagiaan kita yang biasanya.

Gugusan: secara umum ini maksudnya raga dan cita. Keduanya hadir bersama dengan perasaan gelisah dan karma yang membangkitkan duka: duka muncul dari sana. Keduanya setiap saat bercampur dengan hal-hal ini dan keduanya – kecuali kita berbuat sesuatu tentangnya – akan tetap begitu-begitu saja. Dan ketika kita bicara tentang lima gugusan, kita bicara tentang apa yang merekayasa tiap saat dari pengalaman kita dari saat ke saat. Kita tidak bicara tentang suatu "benda" seperti cita kita, seolah itu memang suatu benda. Sebab-sebab sejati itu adalah ketaksadaran, ketaksadaran akan sebab dan akibat dan ketaksadaran akan cara kita mengada dan cara segala sesuatu mengada. Ketika kita tidak sadar akan sebab dan akibat, sebab dan akibat berperilaku, maka kita bertindak secara merusak. Dan ketika kita tidak sadar akan kenyataan, maka kita bertindak secara merusak atau secara membangun namun tercampur dengan kebingungan. Atau kita bertindak secara hambar, seperti menggaruk kepala, tapi tercampur dengan kebingungan: "Ah gatal sialan ini...seperti monster yang menghisapku saja – Aku harus menyingkirkannya." Ia bercampur dengan kebingungan sekalipun hanya tindakan sehambar menggaruk kepala kita saja. Jadi ketaksadaran ini memunculkan perasaan gelisah, kita bertindak di atasnya, hal-hal seperti karma, dsb. Dan di atas seluruh cara-kerja itu, sebab-sebab sejati ini terkandung di dalam gugusan-gugusan, tiap saat...terkandung di dalamnya...yang merekayasa tiap saat pengalaman kita. Dan yang ada di sini adalah hubungan sebab dan akibat. Sebab dalam perasaan gelisah dan tindakan yang berdasar pada perasaan gelisah itu dan akibat selama saat duka yang mengikutinya. Pengalaman duka adalah bagian dari gugusan kita dari saat itu. Jadi ada cara-kerja sebab dan akibat yang terjadi di mana? Di atas kesinambungan batin pengalaman kita. Jadi inilah sisi gelisah dari empat kebenaran mulia, dua yang pertama.

Sisi memurnikan dari empat kebenaran mulia adalah dua kebenaran mulia yang kedua. Kita mengembangkan cita jalan sejati agar memahami kenyataan, begitu ungkapan sederhananya. Jadi itu terjadi di atas kesinambungan batin sebagai bagian dari gugusan-gugusan yang merekayasa tiap saat pengalaman sehingga kita memiliki pemahaman tersebut. Dan akibatnya bukanlah penghentian sejati itu sendiri, karena – ini jadi rumit tapi kesinambungan batin itu tidak pernah ternodai oleh masalah-masalah ini awalnya – "awalnya" bukan ungkapan yang tepat – tapi, yang jelas tidak pernah ternodai oleh ini, oleh hal-hal ini. Tapi kita akan jenguk lagi hal itu nanti, itu pokok bahasan yang luas dan dalam sekali yang akan kita bicarakan mungkin siang ini. Tapi, akibat dari cita jalan sejati ini adalah pemerolehan penghentian-penghentian sejati, bukan penghentian-penghentian sejati itu sendiri. Ada perbedaan teknisnya. Pokoknya adalah bahwa pada sisi yang membebaskan ada juga rangkaian sebabnya, hubungan sebab-akibat antara cita jalan sejati dan pemerolehan penghapusan atau penghilangan atau penghentian atau penjauhan diri kita dari dua kebenaran mulia yang pertama.

Jadi apa yang sudah kita punya sejauh ini? Ada letak dan dasar bagi empat kebenaran mulia, yaitu kesinambungan batin seseorang yang memiliki rangkaian saat, yang isinya berkaitan dengan hubungan sebab dan akibat. Tidak begitu sulit dipahami atau dihubungkan dengan pengalaman kita – kalau kita berpikir pada tingkat yang amat sederhana, contohnya kalau kaki saya terantuk meja, maka peristiwa itu akan diikuti oleh pengalaman rasa sakit. Isi dari dua saat itu terhubung secara sebab dan akibat.

Nah, pertanyaannya adalah: "Apa batas-batas bagi hubungan sebab dan akibat ini?" "Batas" bukan kata yang tepat persis; saya coba mencari istilah yang lebih jitu. Seberapa jauh jarak yang bisa ada, dalam hal waktu, antara sebab dan akibatnya? Kita perhatikan ada semacam jarak dalam hidup biasa kita ini antara tindakan-tindakan sebab dan akibatnya. Saya menanam uang di pasar saham dan bertahun-tahun setelahnya saya mendulang banyak uang atau saya kehilangan banyak uang. Bukan, seolah tepat pada saat berikutnya, saya langsung dapat uang banyak atau kehilangan uang banyak. Bukan seolah, kaki kita terantuk meja dan kemudian, segera di saat berikutnya, kita merasakan sakit. Jadi itu pertanyaannya: "Apakah ada suatu batas pada jarak waktu yang mungkin ada antara sebab dan akibat?" Malah, itulah salah satu hukum karma, bahwa tidak ada batas pada jarak waktu antara suatu sebab dan akibatnya. Bahwa pada suatu waktu sebab itu akan...maksudnya, apapun yang telah kita perbuat, itu akan matang dalam bentuk akibat, kecuali kita memurnikannya.
Jadi, ini membawa kita pada pokok bahasan: "Apakah kesinambungan batin ini terbatas hanya pada masahidup ini atau apakah ada yang lebih dari itu, baik sebelum dan sesudahnya?" Dan keraguan langsung hadir dalam cita kita tentang hal ini karena para ilmuwan medis sekalipun tidak mampu betul-betul menentukan dan memutuskan apa saat pasti ketika kesinambungan batin dari masahidup sekarang ini dimulai dan kapan saat pasti kematian terjadi dan masahidup ini berakhir. Semua pertanyaan tentang aborsi, kontrasepsi, dsb. – kapan hidup ini bermula dan apakah Anda mati ketika otak mati; ketika Anda mengalami gagal jantung? Kapan sebetulnya Anda mati? Para ilmuwan tidak bersepakat atas hal itu. Dan tentu perpanjangan dari pertanyaan ini adalah: "Apakah hanya ada satu kehidupan mendatang di surga atau neraka atau, apakah itu akhirnya, atau apakah akan lebih jauh dari itu?" Meskipun, kalau kita lihat di kebanyakan agama, pasti ada surga dan neraka. Biasanya, ah, Anda akan di sana selamanya! Begitu terus selamanya. Jadi, pertanyaan yang sebenarnya adalah: "Kapan kesinambungan batin ini bermula?" Apa ia diciptakan pada satu titik tertentu atau tidak?

Jadi kini kita punya pertanyaan tentang suatu awal dan suatu akhir pada hubungan sebab-akibat ini. Jadi itu tentu saja memunculkan keseluruhan pokok bahasan mengenai kesunyataan sebab dan akibat. Bisakah suatu akibat muncul tanpa sebab sama sekali? Apakah ia muncul dari dirinya sendiri? Bagaimana munculnya? Itu merupakan suatu telaah dan pengujian yang amat terperinci dari kesunyataan sebab dan akibat dalam ajaran Buddha. Jadi kalau segala sesuatu itu muncul dari kekosongan, maka apapun bisa terjadi pada saat kapanpun. Jadi kalau tidak ada maksud apapun dari hal yang terjadi pada diri kita, bahkan hubungan antara kaki terantuk meja sebagai sebab bagi rasa sakit yang kita alami, saat berikutnya itu jadi tidak sahih. Dan jika akibat sudah ada pada ketika sebab terjadi, dengan kata lain, segala sesuatu muncul dari dirinya sendiri, seperti contohnya segala sesuatu itu sudah ditentukan terlebih dahulu, hanya masalah mewujudnya saja, jadi ia sudah ada di sana, maka tidak masuk akal bahwa segala sesuatu itu tidak tetap dan berubah dari saat ke saat dan dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada saat sebelumnya, karena ini cuma perkara segala hal yang sudah ada; cuma masalah mewujud atau tidaknya saja. Seolah seluruhnya ini terjadi sekaligus. Kalau setiap hal itu telah ditakdirkan maka itu semua... maksud saya, yang namanya waktu itu jadi tidak ada. Dan, itu sebetulnya aneh. Kalau Anda berpikir dalam kerangka takdir, itu artinya segala sesuatu di masa lalu, kini, dan depan terjadi pada saat yang sama.

Maka untuk menjadi orang di lingkup awal untuk berupaya memperbaiki masahidup mendatang, memastikan – maksud saya memperbaiki masahidup mendatang, sebetulnya yang sedang diacu adalah memastikan bahwa kita terus memiliki kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia sehingga kita dapat lanjut di jalan rohani. Tapi agar bisa yakin terhadap hal itu, kita mestilah yakin pada kelahiran kembali. Kesinambungan batin yang tanpa awal dan tanpa akhir dan cara kerjanya dalam hal... dan untuk yakin pada hal itu kita mesti yakin betapa sebab dan akibat sebetulnya ada dan bekerja. Juga dari sudut pandang kemunculan bergantung, kalau kita ambil suatu gejala, kalau kita melihatnya secara bergantung dari yang muncul sebelumnya, kita akan menyebut gejala itu sebagai akibat. Kalau kita melihatnya secara bergantung dari apa yang mengikutinya, kita akan menyebutnya sebab. Jadi keberadaan sesuatu sebagai sebuah sebab atau sebagai sebuah akibat itu bergantung pada kesinambungannya. Pengalaman saya hari ini adalah akibat dari pengalaman saya kemarin dan merupakan sebab bagi pengalaman saya esok hari. Jadi tidak ada yang mengada dari sisinya sendiri secara mandiri sebagai sebuah sebab atau sebagai sebuah akibat. Ia hanya menjadi sebab atau akibat dalam hubungannya dengan apa yang muncul sebelumnya dan apa yang terjadi setelahnya. Jadi, mungkinkah ada sesuatu seperti saat kematian, yang merupakan akibat dari sesuatu sebelumnya, yang juga bukan sebab dari sesuatu yang muncul setelahnya? Telaah kita mengenai kesunyataan sebab dan akibat menyentuh titik ini.

Nah biar saya coba jelaskan dengan cara Yang Mulia Dalai Lama menjelaskan ini – yang, baiknya Anda yakini, tidak sederhana. Dan, mungkin agak mengejutkan bagi beberapa kita, argumennya di dasarkan pada pengalaman yang disokong oleh nalar. Yang, lagipula, merupakan cara Buddha – kita melihat dua sisinya, sisi pengalaman dan sisi nalar. Yang dua ini mesti berbarengan.

Baiklah, kita mulai: Kalau kita berpikir tentang gejalan luaran, ada yang disebut dengan sebab pemeroleh dan keadaan yang muncul bersamaan. Sebuah sebab pemeroleh itu adalah hal yang darinya kita memperoleh akibat. Itu mengapa ia disebut sebab pemeroleh. Dan ketika kita memperoleh akibat, sebab tersebut tidak lagi ada. Dan sampai pada pengertian tertentu, sebab pemeroleh itu beralihrupa – meski orang bisa menelaah itu lebih rinci lagi – ke dalam akibat. Seperti misalnya, sebiji benih merupakan sebab pemeroleh bagi setangkai tanaman. Ketika tanamannya sudah ada, tunas yang matang misalnya, maka benihnya sudah tidak lagi ada. Benih telah beralihrupa menjadi tunas. Nah, itu sering diterjemahkan sebagai sebab bendawi. Itu amat sesat-pikir. Kita tidak sedang bicara tentang unsur-unsur dari benih dan unsur-unsur dari tanaman. Kita tidak sedang bicara tentang unsur-unsur. Jadi, ada sebab pemeroleh, yaitu benih.

Tapi kemudian ada juga keadaan-keadaan yang muncul dan berjalan secara bersamaan; Anda butuh air dan sinar matahari, dsb. Itulah gejala luarannya. Jadi, ada satu saat sebagai sebab pemeroleh, ada saat berikutnya sebagai akibatnya – kendati tentu saja tidak terjadi secara semerta. Benih itu tidak secara semerta berubah menjadi tunas. Maksud saya itulah mengapa keseluruhan pertanyaan mengenai alihrupa ini jadi sedikit janggal. Tapi kita bisa paham bahwa ada dua saat – sebab dan akibat. Padahal keadaan-keadaan yang bertindak bersamaan, tanah misalnya, juga masih di situ. Air masih di situ.

Nah, kita kembali ke pokok bahasan kita di sini, yaitu kesinambungan batin. Ketika kita bicara tentang kesinambungan batin, kita bisa bicara tentang apa yang diketahui sebagai keinsafan utama dan anasir-anasir batin. Nah, mengenai keduanya secara umum, maka ada, contohnya – oh, saya mestinya menyebutkan perbedaannya: Keinsafan utama hanyalah hal yang menyadari sifat inti dari sesuatu. Jadi, menyadari sesuatu sebagai sebuah penglihatan, atau sebuah bunyi, atau sebuah bau, atau sebuah rasa, atau sebuah sensasi ragawi, atau semacam gejala batin. Jadi yang kita maksud di sini adalah keinsafan netra, keinsafan rungu, dsb. Dan anasir-anasir batin tersebut menyertai ini dan – dengannya kita bicara dalam kerangka sifat yang berbeda – disebut sifat guna. Dalam bahasa Tibet, ini dua kata yang berbeda. Bahasa Tibet untuk yang pertama, sifat inti, adalah "ngo-bo". Bahasa Tibet untuk yang kedua adalah "rang-bzhin". Jadi sifat guna itu semacam hubungan perasaan dengan sasarannya; marah padanya, melekat padanya, bahagia karenanya, tak bahagia karenanya, tertarik padanya, bosan dengannya, memusatkan perhatian padanya, tidak memusatkan perhatian padanya, dsb., jadi ada semacam guna, ia memiliki sifat guna dalam arti cara menghubungkan diri dengan sasarannya.

Nah, secara umum untuk kedua ini, ketika kita melihat keadaan-keadaan yang memunculkannya, kita harus tambahkan sedikit lagi. Jadi ada yang disebut dengan keadaan pumpun. Dengan kata lain, gejala batin tersebut perlu dipumpunkan (dipusatkan) pada sasarannya: pandangan, bunyi, pikiran, apapun itu. Kemudian kita membutuhkan keadaan pengendali, yang akan mengendalikan jenis pengetahuan apa dia. Jadi keadaan pengendali ini adalah sel-sel indera kita: indera mata, indera telinga, dan seterusnya. Dengan mengandalkan keadaan itu, perangkat inderawi ini, itulah yang mengendalikan jenis pengetahuannya nanti. Ia akan berupa pengetahuan penglihatan, berupa pengetahuan bunyi, atau pengetahuan batin. Kita tidak bicara tentang organ, organ inderawi...atau organ kasar seperti mata atau bola mata atau sesuatu semacam itu. Kita bicara tentang sel-selnya, sel batang dan sel kerucut, Anda pasti tahu, sel-selnya, atau pengindera, istilahnya – dan tentu bukan juga daya-daya pengindera. Sel-sel ini berupa benda-benda ragawi, seperti saraf atau apapun yang mampu menerima sejenis keterangan tertentu. Dan ini tidak begitu ganjil juga dari sudut pandang Barat. Mesti ada semacam pembeda dalam saraf-saraf ini yang mampu untuk mengalihrupakan keterangan netra ke dalam denyut-denyut listrik yang masuk ke otak atau denyut-denyut rungu ke denyut-denyut listrik yang masuk ke otak. Jadi, itulah yang mengendalikan jenis pengetahuan apa dia jadinya. Apakah mendengar atau melihat?

Nah, keadaan ketiga yang dibutuhkan pengetahuan adalah hal yang disebut dengan keadaan pendahulu yang segera. Ini hanya gejala batin, untuk pengetahuan [cara-cara menyadari suatu sasaran. Dan ini bukan hanya di dalam pengetahuan inderawi saja, ini ada di dalam pengetahuan batin juga.] Gejala luaran [sebagai sasaran pengetahuan, seperti meja misalnya] tidak memiliki ini. Dan keadaan pendahulu yang segera inilah, yang mengacu pada saat pendahulu segera akan pengetahuan, yang memungkinkan keberlanjutan sifat inti dari pengetahuan. Akan saya jelaskan.

Seperti, misalnya – mungkin ini bukan perumpamaan yang tepat tapi – elektron dari listrik yang ada dahulu di dalam kabel memungkinkan keberlanjutannya berlanjut pada listrik yang menjalar di sepanjang kabel. Ia memungkinkannya berlanjut ke pengetahuan itu. Dalam arti, meski ini tidak tepat persis, bisa kita katakan bahwa ia adalah hal yang memungkinkan keberlanjutan keadaan hidup, suatu saat sebelum keadaan hidup, untuk melanjutkan daya dalam saat keadaan hidup berikutnya. Tidak persis seperti itu memang, tapi saya rasa ini seumpama.

Jadi ketika kita bicara tentang sifat inti di sini, kita bicara tentang sifat inti dalam kerangka hanya menjadi pengetahuan saja. Bukan dalam kerangka menjadi yang netra atau yang rungu. Kemudian, keadaan pendahulu yang segera itu seperti, ia tampak seperti sebab pemeroleh dari saat pengetahuan berikutnya. Ini tidak dirincikan di dalam naskah dan Yang Mulia menduga-duga dan berkata bahwa itu dapat dianggap sebagai sebab pemerolehnya. Dengan kata lain, hal yang memunculkan saat berikutnya dan yang berakhir ketika ia telah memunculkan saat berikutnya tersebut. Jadi ia beralihrupa ke dalam saat berikutnya, seperti benih yang menjadi tunas.

Jadi jika kita melihat pengetahuan biasa kita, maka satu saat pengetahuan indera, katakanlah misalnya melihat suatu wujud netra dari benda di tangan saya ini, yang bersifat nirsekat, kemudian itu menjadi sebab pemeroleh bagi saat berikutnya, yang akan berupa pengetahuan batin nirsekat atas sasaran ini dan itu akan menjadi sebab pemeroleh bagi saat berikutnya, yang berupa pengetahuan batin bersekat atas sasaran ini. "Bersekat" berarti bahwa saya mengetahui atau memandangnya lewat suatu sekat kelompok. Itu artinya bersekat. Tidak mesti berarti dengan semacam bunyi batin dari suatu kata, hanya sekat kelompok saja dan di sini sekat kelompoknya adalah "kertas" – "sehelai kertas".

Pengetahuan bersekat itu penting. Dengan kata lain, ia memungkinkan saya untuk melihat benda putih persegi di tangan saya ini dan benda putih persegi di atas meja itu keduanya sebagai helaian kertas-kertas. Dan saya kemudian tahu ini harus diapakan, bagaimana cara menggunakannya. Kalau tidak ini...apa ini? Benda putih persegi – terima kasih banyak. Benar. Kita tidak bilang, "Beri aku benda putih persegi, aku mau menuliskan sesuatu." Baik, jadi ada serangkaian sebab pemeroleh dan akibatnya, serangkaian jenis pengetahuan yang berbeda-beda.

Nah, kita alihkan itu ke telaah anuttarayoga tantra dan di dalam anuttarayoga tantra kita bicara tentang berbagai tingkat kehalusan pengetahuan atau cita, dan [kesemua tingkat itu terjadi] saat keinsafan semakin tidak bersandar pada dasar ragawi dari tubuh kita. Dan ada delapan atau sepuluh tingkat kehalusan, tergantung tata tantranya, tapi tidak ada bedanya. Tingkat terhalus disebut cita bercahaya jernih, pengetahuan bercahaya jernih. Ketika kita mati, kesinambungan batin itu menarik diri dari ketergantungannya pada raga, raga kasar ini, secara bertingkat sampai tidak lagi bergantung pada tubuh ragawi. Lalu ada cita bercahaya jernih dalam bentuk sepenuhnya. Proses turun ke tingkat terhalus ini juga terjadi ketika kita tidur nyenyak atau ketika kita tidak sadarkan diri, dan juga kita bisa mencapai penarikan – atau pelarutan, kadang seperti itu diistilahkan – dari kesinambungan batin, dari cita, dari pengetahuan seperti ini dalam meditasi. Malah, dalam meditasi kita bahkan bisa sampai ke tingkat terhalus sepenuhnya dari cita bercahaya jernih, dan bukan sekadar mendekati tingkat itu saja, dalam kisaran daripadanya, seperti dalam tidur atau keadaan tidak sadar.

Nah, ada rangkaian jalan masuk dari delapan tingkat ini, dalam mana kita semakin halus dan halus memasuki cita bercahaya jernih. Dan kemudian ada rangkaian balik dalam mana, setelah berada di tingkat terhalus, kita keluar darinya, kembali ke tingkat kita yang biasa. Itulah rangkaian balik dari delapan tingkat itu. Jadi, kalau dalam pengalaman tidur dan tak sadar, dan khususnya dalam pengalaman meditasi, kita menemukan bahwa masing-masing dari pengetahuan-pengetahuan batin dalam rangkaian masuk ini merupakan sebab pemeroleh dari yang berikutnya, sebab pemeroleh untuk rangkaian masuk: tiap saat adalah sebab pemeroleh yang beralihrupa ke dalam saat berikutnya. Dan demikian pula kita menemukan, setelah tataran bercahaya jernih itu, tataran bercahaya jernih dan tiap-tiap tataran berikutnya dalam rangkaian balik juga memiliki hubungan yang sama – bahwa ia merupakan sebab pemeroleh untuk saat berikutnya. Dan juga cita bercahaya jernih itu sendiri – kini kita kembali ke telaah sunyata kita – merupakan suatu akibat yang bergantung pada apa yang hadir sebelumnya, tapi juga merupakan suatu sebab, sebab pemeroleh, untuk apa yang hadir setelahnya di dalam rangkaian balik. Dan kita mengalami ini dalam hidup kita sehari-hari, seperti dalam fakta bahwa kita bangun dari tidur dan kita sadar dari keadaan tidak sadarkan diri. Dan kalau kita mengalami ini dalam meditasi, apabila kita benar-benar seorang pelaku meditasi tingkat lanjut yang turun sampai ke tingkat bercahaya jernih – bukan hanya mendekatinya saja – dan bahwa kita keluar darinya, kemudian yang terjadi adalah bahwa cita bercahaya jernih dari kematian adalah akibat dari saat terakhir dalam rangkaian masuk itu, yang berlaku sebagai sebab pemeroleh untuk cita bercahaya jernih dari kematian itu, dan cita bercahaya jernih dari kematian merupakan sebab pemeroleh untuk saat pertama dari rangkaian balik dalam hal yang kita sebut bardo.

Itulah bukti kehidupan masa mendatang dalam ajaran Buddha. Sungguh amat mendalam. Saya mendengar ini hanya dari Yang Mulia. Saya tidak pernah mendengar orang lain manapun memberikan pemeragaan seperti itu. Ini menggabungkan bukti pengalaman dan bukti mantik. Jadi mari kita cerna itu sejenak.

[Jeda untuk perenungan.]

Nah, biar saya tambahkan beberapa pokok di sini. Mungkin ini sedikit lebih rumit. Tapi ini untuk menambahkan kelengkapannya saja. Yang baru saya jelaskan sejauh ini barulah pemeragaan kelanjutan pengetahuan, kelanjutan kesinambungan batin. Betul? Dari dasar keadaan pendahulu yang segera, yang berlaku sebagai sebuah sebab pemeroleh untuk mempertahankan sifat inti dari suatu gejala sebagai sebuah pengetahuan, kegiatan batin, kita harus melihat cara-kerja sebab-akibat untuk apa yang mempertahankan sifat guna, bukan sifat inti, dari cita. Dengan kata lain, kita sekarang bicara tentang isi dari pengetahuan itu.

Nah, kita lihat lagi sebab pemeroleh pada tingkat yang berbeda. Ada telaah karma dan kelanjutan karma, istilahnya: yang tersisa setelah kita melakukan suatu tindakan. Karena, ada suatu jeda antara tindakan dan akibatnya dalam pembahasan karma. Dengan suatu cara, kita perlu kelanjutan di sini. Cara Anda mengaitkan saat dari sebab dengan saat dari akibat, yang bisa jadi terjadi di banyak kehidupan mendatang setelahnya. Jadi, pertama-tama kita bicara tentang kecenderungan, kecenderungan-kecendenderungan karma...kadang diterjemahkan dengan kata "benih". Kecenderungan karma merupakan sebab pemeroleh bagi pengalaman kebahagiaan dan ketakbahagiaan. Jadi, dari suatu tindakan merusak, kecenderungan karma darinya akan menghasilkan ketakbahagiaan. Dari suatu tindakan membangun, kecenderungan karma darinya akan menghasilkan kebahagiaan.
Tapi di sini kita harus membedakan antara sebab pemeroleh dan keadaan pendahulu yang segera. Begitu sebab pemeroleh, dimaksud di sini dengan kecenderungan atau benih, itu matang, maka ia selesai sudah. Ia tidak akan terus membangkitkan ketakbahagiaan atau kebahagiaan biasa selamanya, seperti keadaan pendahulu yang segera yang akan menghasilkan suatu kesinambungan tanpa akhir dari kegiatan batin semata. Itu berbeda.

Ada juga kecenderungan perasaan gelisah. Dan kecenderungan perasaan gelisah akan matang, lagi-lagi, ke dalam pengalaman amarah, atau pengalaman kemelekatan, dsb., sebagai bagian dari saat pengetahuan itu, suatu sebab pemeroleh. Nah, kecenderungan-kecenderungan karma merupakan gejala hambar, hambar sepenuhnya; bukan membangun pula merusak. Tapi, berbagai saat dari pengalaman kita akan bersifat membangun atau merusak. Jadi ada segi lain dari kelanjutan karma, yang saya terjemahkan ke dalam istilah "daya karma". Jadi ada daya positif dan daya negatif. Sayangnya, ini biasanya diterjemahkan sebagai "pahala" dan "dosa". Dan ini dapat bersifat membangun atau merusak dan itulah sebab pemeroleh bagi membangun atau merusaknya saat pengetahuan kita.

Selain itu, menurut – sekarang kita harus masuk ke tata ajaran India – tata Vaibhashika dan tata Prasangika menurut Gelug – harus saya akui bahwa saya tidak tahu apakah aliran Tibet yang lain juga menyertakan ini dalam penyajian Prasangika – tapi ada juga bentuk tak-mengungkap sebagai bagian dari kelanjutan karma untuk tindakan-tindakan karma yang berupa tindakan ragawi atau wicara, yang dimulai ketika kita mengawali tindakan tersebut dan berakhir, dan terus berlanjut setelah kita menyelesaikan tindakan itu, dan akan berlanjut selama kita punya niat untuk mengulangi jenis tindakan itu. Kalau kita bersumpah, "Aku tidak akan pernah melakukan itu lagi," maka bentuk tak-mengungkap itu tadi hilang. Ia merupakan suatu bentuk yang amat sangat halus, bukan terbuat dari atom. Ia disebut tak-mengungkap karena ia tidak mengungkapkan dorongan awal yang dengannya ia dijalankan.

Nah, meskipun saya belum membaca atau mendengar ini, dalam naskah-naskah apapun atau dari para guru saya, lewat telaah saya sendiri, dari perenungan saya, tampak bagi saya bahwa bentuk tak-mengungkap ini merupakan sebab pemeroleh bagi bentuk tindakan itu. Dengan kata lain, bentuk tindakan ragawi dan bentuk bunyi dari tindakan wicara. Ini jadi masuk akal kalau Anda tidak lagi...kalau Anda berjanji untuk tidak mengulangi tindakan itu lagi, maka bentuk halus daripadanya tidak akan lagi menjadi bagian dari kesinambungan batin Anda. Tapi itu telaah saya sendiri. Maksud saya, apa bentuk dari memukul seseorang? Memukul itu berbentuk gerakan, mengacungkan tangan dengan sikap tertentu dan menggerakkannya dengan tenaga, menyentuhkannya pada seseorang, atau bentuk dari membentak seseorang: menghasilkan suara keras; kita tidak sedang bicara tentang cara-cara khusus melakukannya tapi bentuk umumnya saja. Pasti ada alasan mengapa Tsongkhapa menerima ini dan menyatakan ini dan Vaibhashika menyatakan ini juga. Pasti ada semacam guna istimewanya. Jadi itu masuk akal bagi saya. Inilah sebab-sebab pemeroleh untuk hal yang muncul sebagai akibat daripadanya, tapi semua ini bukanlah sebab-sebab pendahulu segera, tidak akan berlangsung selamanya. Begitu ia matang – maka habislah ia. Dan semua itu tidak menghasilkan akibat secara berkelanjutan, hanya kadang kala saja. Kadang kala Anda marah, kadang kala Anda tidak marah.

Lalu, ada jenis kelanjutan lainnya, yang disebut "kebiasaan". Ada kebiasaan – baik kebiasaan karma maupun kebiasaan perasaan gelisah. Ini merupakan jenis kelanjutan karma yang berbeda karena ia memberikan hasil yang berkelanjutan, setiap saat, dan itulah bedanya. Akibatnya adalah bahwa ia menyebabkan cita membuat suatu wujud dari keberadaan yang mapan sejati – maksudnya, bentuk atau cara mengada yang mustahil. Kita akan kembali sini nanti karena dalam pembahasan mengenai pemahaman kesinambungan batin ini, untuk memiliki lingkup awal, untuk menjadi orang dengan lingkup awal, kita mesti yakin bahwa kesinambungan batin itu memiliki kelanjutan tanpa akhir atas dasar keseluruhan cara-kerja dari sebab pemeroleh bagi tiap saat pengetahuan secara umum, sama dengan keadaan pendahulu segera yang merupakan saat pendahulu pengetahuan yang akan menghasilkan saat pengetahuan lain lagi. Dan untuk menjadi orang lingkup menengah kita harus yakin bahwa kecenderungan karma, kecenderungan perasaan gelisah, daya karma, bentuk-bentuk tak-mengungkap, semua ini bukanlah bagian dari sifat inti cita. Oleh karenanya mereka dapat dihilangkan. Itu mengapa kebebasan itu mungkin. Dan untuk menjadi orang dengan lingkup lanjut kita harus yakin bahwa kebiasaan perasaan gelisah dan kebiasaan karma juga bukan merupakan bagian dari sifat inti dari kesinambungan batin. Mereka juga bisa dihilangkan dan karenanya kemahatahuan dan pencerahan itu mungkin.

Inilah wilayah-wilayahnya, meski sangat sukar untuk dipahami. Tapi ini merupakan cara-cara untuk meyakinkan diri kita bahwa tiga tujuan lam-rim itu mungkin diperoleh, dan bahwa aku mampu memperolehnya, dan oleh karenanya kita bisa berupaya mengembangkan daya perasaan yang akan mendorong kita untuk betul-betul berupaya mencapai tujuan-tujuan ini – bahwa kita yakin itu mungkin. Tapi kita akan harus masuk sedikit lebih dalam lagi ke penelaahan jenis-jenis gejala apa saja yang sebetulnya merupakan kecenderungan, apa yang merupakan kebiasaan, dan bisakah semua itu dihilangkan, dsb.

Jadi, mari kita akhiri di sini dan kita jeda untuk makan siang sembari sedikit memikirkan semua ini dan kita akan mulai sesi siang kita dengan penyediaan waktu tanya-jawab mengenai hal ini.