Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim

Alexander Berzin
Morelia, Meksiko, Oktober 2008

Sesi Dua: Keyakinan pada Dharma

Kemarin kita sudah memulai pembahasan kita mengenai lam-rim dan kita melihat bahwa istilah "lam-rim" dalam bahasa Tibet berarti jalan cita bertahap. Secara lebih khusus, tataran-tataran cita yang berlaku sebagai jalan untuk memampukan kita mencapai pencerahan. Dan ini dibagi ke dalam tiga lingkup jenis orang. Lingkup awal, menengah, dan lanjut. Pranata tersebut pertama sekali dirumuskan oleh seorang mahaguru dari India, bernama Atisha, yang berperan dalam penyebaran Dharma kedua dari India ke Tibet. Ia menuliskan ini dalam, atau menyajikannya, dalam sebuah naskah yang berjudul Suluh bagi Jalan Menuju Pencerahan. Dan dari Atisha kita menelusuri aliran Kadam, yang kemudian terpecah dan disatukan serta dibentuk-ulang oleh Tsongkhapa. Ini kemudian menjadi aliran Gelug. Tapi aliran Kadam ini mempengaruhi banyak aliran Buddha Tibet lainnya. Malah, saya rasa bisa kita bilang semua aliran lainnya, karena lojong utamanya datang lewat silsilah-silsilah Kadam. "Lojong" berarti latihan sikap, latihan cita. Saya tidak suka istilah "latihan cita" karena terdengar seolah kita hanya berlatih samadhi saja. Padahal bukan hanya itu. Lojong adalah latihan yang jauh lebih luas, yang menyentuh tataran perasaan juga. Jadi, misalnya, dalam aliran Kagyu bila kita lihat Gampopa, yang berperan amat besar dalam pengembangan begitu banyak aliran Kagyu, lalu ia dikenal sebagai sang guru agung yang menggabungkan aliran-aliran Kadam dan mahamudra. Dan Atisha menurunkan gagasan atas bagan ini dari sebuah baris dalam Memasuki Perilaku Bodhisattwa karangan Shantidewa. Di situ Shantidewa menulis, "Raga manusia yang mulia dengan kesenggangan dan pengayaan yang sulit ditemukan ini dapat memenuhi tujuan-tujuan setiap orang." Kemudian Atisha menguraikan "setiap orang" sebagai tiga tingkat orang, orang-orang dalam tiga lingkup. Jadi inilah asal-usul dari cara merumuskan bahan ini.

Kita menelusuri dengan amat ringkas sebuah tinjauan dari bahan yang terkandung di dalam penyajian lam-rim. Dan kita melihat bahwa tercakup di sana pokok-pokok bahasan berupa hubungan yang sehat dengan seorang guru rohani, kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, kematian dan ketaktetapan, duka dari tiga alam yang lebih buruk dalam berbagai tataran kelahiran kembali, perlindungan dan haluan aman, yang mencakup seluruh sifat Buddha, Dharma, dan Sangha, dan keseluruhan pembahasan mengenai karma dan mengenai menjauhkan diri dari perilaku merusak. Semua bahan tersebut adalah ajaran-ajaran lingkup awal.

Pada lingkup menengah, ada duka dari tiga alam kelahiran kembali yang lebih baik atau tertinggi; duka samsara atau kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali, pada umumnya; penyajian perasaan-perasaan gelisah dan anasir-anasir batin di dalam lingkung empat kebenaran mulia, sebab duka sejati; lalu sebuah penjelasan terperinci yang lebih khusus lagi mengenai bagaimana perasaan-perasaan gelisah dan sebab duka sejati ini betul-betul membangkitkan kebenaran mulia yang pertama, yaitu duka sejati. Jadi itulah dua belas tautan kemunculan bergantung. Kemudian tiga latihan tertinggi dalam sila, samadhi, dan kesadaran pembeda atau kebijaksanaan sebagai cara untuk keluar dari samsara, memperloleh kebebasan – dengan keseluruhan rangka-kerja batin penyerahan. Hal tersebut membentuk lingkup dorongan menengah. Lalu ada sedikit pembahasan tentang sumpah-sumpah kewiharaan yang masuk dalam pembahasan ini juga dalam hal sila tertinggi.

Kemudian untuk lingkup lanjut, ada ajaran-ajaran mengenai berbagai cara mengembangkan tujuan bodhicita. Jadi kita punya meditasi sebab dan akibat tujuh bagian yang dimulai di atas dasar keseimbangan batin tapi sebenarnya nomor satu dari yang tujuh ini adalah mengenali setiap orang sebagai yang pernah menjadi ibu kita di suatu masahidup sebelumnya; lalu penyajian cara kedua yang menyetarakan dan menukar sikap terhadap diri dan orang lain, yang mencakup laku tonglen, memberi dan menerima. Tsongkhapa menyajikan tatacara meditasi sebelas-bagian untuk menggabungkan dua cara mengembangkan tujuan bodhicita. Kemudian ada penyajian tentang pengambilan sumpah-sumpah bodhisattwa dan apa yang merupakan sumpah-sumpah bodhisattwa itu. Lalu ada laku enam sikap menjangkau-jauh, atau enam kesempurnaan, dan empat jalan mengumpulkan murid. Dan sebagai bagian dari pemaparan enam sikap menjangkau-jauh, ada sebuah penyajian yang amat sangat luas mengenai kemantapan batin menjangkau-jauh, atau samadhi, yang dijelaskan dalam kerangka ajaran-ajaran mengenai cara mengembangkan shamatha, tataran cita yang tenang dan tetap. Penjelasan kesadaran pembeda menjangkau-jauh dalam kerangka ajaran-ajaran cara mengembangkan vipashyana, sebuah tataran cita yang tanggap luar biasa dan di dalam beraneka-ragam cara mengembangkan tataran vipashyana tersebut, khususnya dalam hal memusatkannya pada sunyata, yang berarti seluruh ajaran mengenai sunyata. Nah, ini semua ada di dalam ajaran-ajaran lingkup lanjut.
Jadi kita bisa lihat dari peninjauan ini bahwa ajaran-ajaran lam-rim mencakup sejumlah besar bahan, yang kesemuanya akan maktub dalam ranah ajaran-ajaran sutra, bila kita membaginya dalam kerangka sutra dan tantra. Dan kecakapan, kecakapan dalam suatu tingkat tertentu, dalam semua hal ini merupakan persyaratan mutlak bagi laku tantra. Laku tantra ada di atas dasar ini dan setiap orang dalam semua aliran Tibet sepakat mengenai pokok ini.

Dan tentunya bila waktu yang ada hanya akhir pekan seperti ini, mustahil kita masuk ke rincian seluruh ragam pokok isian lam-rim seperti yang baru saya sebutkan satu per satu tadi. Ada banyak naskah yang menyajikan bahan ini, dan panjangnya berbeda-beda. Dan naskah-naskah itu punya jumlah kutipan kitab suci yang berbeda-beda dari sumber-sumber India yang menyokong ajaran dan arahan atas semua pokok ini. Dan kita menemukan naskah-naskah ini dalam aliran Kadam dan juga dalam aliran Gelug dalam begitu banyak ragam, dan masing-masing ragam punya fitur-fitur istimewanya sendiri dan bagian-bagian lain yang merupakan pengulangan tegas atas apa yang muncul dalam naskah-naskah sebelumnya. Contohnya, corak dari Dalai Lama Kelima memberikan panduan pribadi mengenai meditasi yang amat banyak. Corak terbesarnya ditulis oleh Tsongkhapa, dengan Penyajian Akbar atas Tingkat-Tingkat Bertahap, atau Lam-rim chen-mo, dalam bahasa Tibetnya. Ia memberikan, dengan jumlah yang luar biasa, rincian persis mengenai shamatha dan vipashyana.

Nah, saya rasa penting sekali untuk menyadari bahwa semua bahan yang diliput dalam isian lam-rim ini ada juga dalam seluruh aliran Buddha Tibet. Satu-satunya hal yang berbeda adalah kerangka yang digunakan dalam menyusun penyajian bahan tersebut. Jadi, misalnya, dalam Gampopa, seorang mahaguru Kagyu pada masa mula, ia punya dua cara menyajikan bahan ini. Dalam karangan Perhiasan Permata Kebebasan karyanya, ia membagi bahan ini dalam hal sebab, yang merupakan pembahasan atas sifat-Buddha dan ini, meski tidak dibahas secara gamblang dalam corak-corak Kadam dan Gelug, merupakan suatu hal yang tentu saja sesuai dalam bahan tersebut. Kemudian, berdasarkan pada sebab ini, Gampopa berkata bahwa dasar penyokongnya adalah kelahiran kembali sebagai manusia yang mulia, dan kemudian ia menyebut bersandar pada guru rohani sebagai syaratnya. Dan ia lalu menyebut arahan-arahan dari guru rohani itu sebagai caranya – semua ini untuk mencapai hal yang sama persis dengan yang ada dalam lam-rim: tiga tujuan – kelahiran kembali yang lebih baik, kebebasan, dan pencerahan. Kemudian ia menyusun cara-cara ini dalam kerangka mengatasi empat halangan. Ini mengingatkan kita pada penyajian Sakya atas bahan yang sama, mengatasi empat jenis pelekatan. Kemudian penyajian lain yang diberikan Gampopa adalah penyajian yang disebut dengan istilah "empat dharma Gampopa".

Lalu ada juga penyajian-penyajian yang mengatur bahan ini menurut dasar, jalan, dan hasil, misalnya penyajian dalam Kagyu Drigung. Jadi kita temukan di dalam aliran Sakya sebuah corak yang serupa dari hal itu, yang disebut saujana tak murni, saujana pengalaman, dan saujana murni. Kita punya beberapa penyajian yang menggabungkan empat dharma Gampopa dengan tiga lingkup, yang lain yang menggabungkan empat tema atau dharma Gampopa secara terpisah dari empat pelekatan, sehingga ada suatu penyajian campuran dalam kerangka-kerangkanya. Dan kemudian dalam penyajian-penyajian lain, ini diatur menurut empat persiapan umum. Atau di dalam naskah lam-rim Patrul, Kata-Kata Guru Sempurnaku, ia bicara dalam kerangka empat persiapan luaran, persiapan dalaman, enam persiapan dalaman, dsb. Semua itu mencakup bahan yang sama persis, perbedaannya hanya terletak pada rancangannya saja. Jadi penting sekali untuk tidak berpandangan picik mengenai bahan ini atau berpikir bahwa corak yang sedang kupelajari ini adalah satu-satunya corak, dan tentu saja, yang terbaik. Beberapa kutipan dari sumber-sumber berbahasa India mungkin sedikit berbeda; beberapa arahan pribadi mengenai cara-cara meditasi mungkin sedikit berbeda; beberapa rincian mungkin sedikit, amat sedikit, berbeda. Tapi utamanya kita mesti bilang bahwa semua itu sama.

Kita juga melihat kemarin bahwa adalah mungkin untuk memahami pranata lam-rim juga di dalam lingkung empat kebenaran mulia. Dan saya juga menyebutkan bahwa yang amat penting – untuk benar-benar mengembangkan diri kita menjadi orang yang sepenuhnya menunggal dengan tingkat-tingkat dorongan ini – adalah dengan menjadi yakin atas kesahihan tujuan-tujuan ini. Dengan kata lain, adalah mungkin untuk mencapai tujuan-tujuan ini dan adalah mungkin bagi ku untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Inilah yang kita tarik dari dua hal. Jenis pendekatan ini, penekanan atas apa yang barusan saya katakan, berasal dari dua pokok. Yang satu adalah tiga jenis kepercayaan, sebagaimana istilah itu biasanya diterjemahkan. Saya mendapati itu bukan terjemahan yang baik dari "keyakinan pada apa yang benar", "keyakinan pada fakta". Kita tidak sedang bicara tentang "Aku percaya pasar saham akan membaik besok" – karena aku tak betul-betul tahu. Atau aku percaya pada Sinterklas – karena Sinterklas tidak ada. Kita sedang bicara tentang keyakinan pada sesuatu yang memang benar. Dan bukan sekadar percaya pada sesuatu yang mungkin tak bisa kupahami, tapi kuyakini.

Nah, saya tidak tahu apa saya bisa mengingat istilah-istilah terjemahan persis yang saya pakai untuk ini, tapi ada yang disebut dengan jenis keyakinan yang memurnikan. Dengan kata lain keyakinan pada sesuatu yang, dengan meyakininya, ia memurnikan cita kita atau menetapkan cita kita dari sikap-sikap gelisah apapun terhadapnya. Jadi ia menenangkan cita dari, misalnya, keplin-planan, keraguan, ketakutan yang muncul dari rasa gentar pada kebebasan dan pencerahan. Maksud saya seperti, "Siapa yang bisa melakukan ini?" Atau kemelekatan, "Oh, wah!" Ini luar biasa sekali!" dan Anda membesar-besarkannya dan jadilah, "Aku harus mendapatkannya untukKU, untukKU, untukKU!" Jadi keyakinan itu menenangkan hal tersebut. Dan ini diperoleh atas dasar jenis keyakinan kedua, yaitu rasa percaya yang berdasar pada nalar. Dengan kata lain, tujuan tersebut – bahwa mencapai kebebasan dan pencerahan, dsb. – bersifat nalariah. Tujuan tersebut masuk akal. Ia beralasan. Ia bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Dan jenis keyakinan ketiga adalah keyakinan dengan sebuah harapan. Dengan kata lain, "Aku yakin bahwa ini mungkin dan aku yakin bahwa aku mampu melakukannya dan karena itu aku berharap mencapainya." Jadi kita bisa lihat dari tiga jenis keyakinan ini, keyakinan pada sesuatu yang benar, yang merupakan fakta, bahwa amat penting untuk yakin bahwa tujuan-tujuan ini masuk akal dan adalah mungkin untuk betul-betul memperolehnya dan aku mampu memperolehnya. Dan dalam memperoleh kepercayaan itu, cita kita menjadi tenang atau murni dari rasa takut, rasa ragu, rasa terlalu melebih-lebihkan dan seterusnya – rasa iri pada orang lain yang telah mencapainya, rasa pongah karena "Oh, aku telah mencapainya!"

Segi lain dari ajaran-ajaran yang menggaris-bawahi pentingnya rasa yakin bahwa adalah mungkin untuk mencapai tujuan-tujuan kelahiran kembali yang lebih baik, kebebasan, dan pencerahan ini adalah kajian enam belas segi dari empat kebenaran mulia. Ketika kita bicara tentang seorang arya, atau "makhluk mulia", seseorang yang memiliki pengetahuan nirsekat bukan hanya atas sunyata, tapi cara pemaknaannya adalah pengetahuan nirsekat atas enam belas segi dari empat kebenaran mulia – itulah maknanya. Tentu saja sunyata termasuk di antara yang enam belas ini. Tapi segi-segi lain daripadanya, dan saya tidak akan menyajikan daftar yang berisi enam belas segi itu, tapi itu merupakan suatu pokok yang amat penting untuk dipelajari, menandakan kepercayaan pada fakta bahwa adalah mungkin untuk mencapai sebuah penghentian sejati; bahwa hal seperti itu memang ada; dan bahwa sebab-sebabnya betul-betullah merupakan sebab-sebabnya – sebab-sebab duka sejati; dan bahwa cita jalan betul-betul akan mengenyahkan sebab-sebab duka ini. Jadi berbagai segi ini menjelaskan hal itu.

Saya menyebutkan rincian-rincian ini hanya untuk menggambarkan apa yang saya utarakan kemarin, mengenai pentingnya dan manfaat dari mencoba memadukan lebih banyak lagi segi ajaran-ajaran Dharma yang memperkokoh dan memperdalam pemahaman kita atas masing-masing pokok di dalam Dharma. Karena jika kita betul-betul berlindung, jika kita betul-betul mengambil haluan aman dalam hidup kita, yang ditandai dengan Buddha, Dharma, dan Sangha, maka kita betul-betul ingin melakukannya, berjalan dengan haluan itu. Apa haluan permata Dharma? Kebenaran mulia yang ketiga dan keempat – penghentian sejati dan jalan cita sejati atas kesinambungan batin seorang arya. Itulah maknanya dan Anda harus mengetahui itu. Kebenaran mulia yang ketiga dan keempat tidak mengada sendiri di langit sana. Keduanya ada atas dasar kesinambungan batin. Ia merupakan penghentian, penghapusan duka dan sebab-sebabnya dari suatu kesinambungan batin secara tetap. Dan cita jalan, pemahaman yang akan mendatangkan hal ini dan yang akan berujung pada penghentian itu – dan itu, tentunya, ada di atas suatu kesinambungan batin. Dan para Buddha adalah mereka yang telah mencapai penghentian-penghentian sejati dari cita jalan sejati ini sepenuhnya, dan arya Sangha telah mencapai sebagian daripadanya – beberapa saja, bukan seluruh isi rangkaiannya.

Jadi seberapa sungguh aku berlindung? Inilah pertanyaannya. Apa cuma bla-bla-bla dan mencukur rambut dan memakai nama Tibet? Bukan begitu. Atau apakah aku berlindung pada Kelinci Paskah? Dan berlindung, seperti saya katakan tadi, adalah sebuah haluan aman. Jadi aku akan menuju haluan ini. Jadi aku harus berada di haluan sesuatu yang kuyakini ada. Anda harus meyakini ini. Dengan demikian kita meyakini sesuatu yang berupa fakta. Aku harus percaya penghentian sejati dan jalan sejati itu ada dan ada orang yang telah benar-benar mencapainya dan aku mampu mencapainya dan ada tingkat-tingkat bertahap sebagai cara untuk mencapainya, bahwa Buddha telah benar-benar mengajarkannya. Dan aku akan menuju haluan tersebut karena aku percaya bahwa itu memang ada; itu memang benar. Dan kalau kita bicara tentang bodhicita, maka kita bertujuan untuk tidak tanggung-tanggung mengikuti haluan ini untuk menjadi Buddha untuk membawa manfaat bagi setiap orang.

Maka itu, haluan aman pada awalnya betul-betul berada dalam lingkung kebebasan. Jadi ketika kita mengulang sebuah seloka berbahasa Tibet tentang, misalnya, dorongan, dalam mana kita pertama-tama berlindung atau mengambil haluan aman Buddha, Dharma, dan Sangha sepenuhnya menuju pencerahan dan kemudian dengan daya positif memberi dan seterusnya mencapai pencerahan demi manfaat bagi semua makhluk, bagian pertama itu, bagian berlindung itu, berkaitan dengan tujuan kebebasan dan bagian kedua, bagian bodhicita, bertujuan bagi pencerahan. Jadi kita mau melewati tingkat-tingkat itu.

Maka, untuk merangkum yang saya katakan di sini, keseluruhan dasar untuk menjadi seseorang dengan lingkup awal, menengah, dan kemudian lanjut adalah keyakinan yang amat mendalam bahwa tujuan-tujuan ini mungkin dicapai, bahwa tujuan-tujuan ini ada dalam kerangka perlindungan, ada orang lain yang bersifat-Buddha yang telah mencapainya, dan bahwa aku pun mampu mencapainya juga. Dan inilah jalan yang akan membimbing kita menuju kepercayaan dalam hal itu. Segala sesuatu di dalam lam-rim harus dipahami di dalam lingkung menuju kebebasan dan pencerahan. Inilah yang membuat laku apapun menjadi laku ajaran Buddha dalam lingkung haluan aman, perlindungan. Yang membedakan agama Buddha dengan yang non-agama Buddha adalah perlindungan. Kalau kita tinggalkan itu, maka lingkung awal menjadi sesuatu yang amat umum ditemui di hampir setiap agama. Aku mau beroleh kelahiran kembali yang lebih baik, aku mau masuk surga. Itu tidak khas Buddha, kan?

Terdapat begitu banyak laku dalam tidak hanya alam lam-rim tapi juga di dalam sutra dan tantra yang juga terdapat di dalam aliran-aliran non-Buddha. Tentunya penyerahan pun ada dalam begitu banyak aliran. Ada arahan lengkap untuk mencapai shamatha dan vipashyana di dalam banyak aliran non-Buddha India – tidak dipusatkan pada sunyata, tapi pasti cara-cara untuk mencapai tataran cita itu ada di sana. Cara-cara tersebut sama-sama dimiliki. Dan tentu saja ada corak-corak Hindu dari tantra yang berupaya dengan cakra, saluran, dan tenaga. Lalu apa yang membuat laku-laku seperti ini menjadi laku Buddha? Kasih dan welas asih? Tidak. Kita menemukan itu hampir di setiap agama. Mengandalkan seorang guru rohani? Tidak. Anda menemukan ini juga dalam banyak aliran lain. Mengikuti sila? Tidak. Menjadi seorang biksu atau biksuni? Tidak. Kita dapati ini ada dalam banyak aliran lain. Melakukan upacara, melakukan puja? Tidak. Anda menemukan ini dalam setiap agama.

Lalu apa yang membuatnya jadi laku Buddha? Anda membacanya di setiap naskah – perlindungan. Dan itu bukan pernyataan sepele. Bukan soal ayahku lebih kuat dari ayahmu, maka Buddha-ku lebih bagus dari tuhanmu. Perlindungan. Haluan aman. Maksudnya tentang kebenaran mulia yang ketiga dan keempat. Tentang sebuah penghentian sejati dari duka setelah menghapuskan sebab-sebabnya selamanya dan cita jalan sejati yang akan membimbing ke sana. Dengan kata lain, kebebasan sejati. Agama-agama India lain bicara tentang kebebasan tapi bukan kebebasan sepenuhnya, bila ditinjau dari sudut pandang Buddha. Masih ada semacam perasaan gelisah. Masih ada masalah. Dan ini bukan sekadar kebebasanku lebih bagus dari kebebasanmu, hanya karena itu punyaku. Hanya karena ayahku, Buddha-ku bilang begitu. Harus berdasar pada keyakinan akan...kebenaran mulia. Bahwa ini merupakan kebebasan sejati. Bahwa ini merupakan sebuah penghentian sejati dan, untuk memahami itu, kita meyakininya atas dasar alasan sedemikian rupa sehingga cita kita dimurnikan dari perasaan dan sikap gelisah mengenai hal ini. Kita tidak congkak karenanya. Kita tidak melekat padanya. Kita tidak punya keraguan tentangnya, tapi bukan dalam arti keras kepala dan berpikiran tertutup. Dan kita tidak akan picik dan iri pada orang lain dan bersaing dengan orang lain atas dasar perasaan gelisah. Begitu? Aku percaya bahwa demikianlah, ini benar dan aku akan melakukannya. Jadi itulah jenis keyakinan ketiga dengan sebuah harapan bahwa itu mungkin dan aku akan melakukannya. Kemudian segala sesuatu di dalam lam-rim mulai masuk akal.
Sebelum saya masuk ke dalam telaah yang lebih terperinci mengapa mungkin bagi kita untuk memperbaiki kehidupan-kehidupan masa depan, mengapa mencapai kebebasan itu mungkin, mengapa memperoleh pencerahan itu mungkin, siapa tahu ada pertanyaan mengenai apa yang telah kita cakup sejauh ini.

[Hening sembari menunggu pertanyaan.]

Mungkin, karena kita telah mencakup begitu banyak bahan jadi pertanyaan tidak langsung segera muncul, baik kiranya kita duduk selama beberapa menit untuk mencerna, kalau bisa, sedikit dari hal-hal yang telah kita bahas dan nanti kita lihat apa ada pertanyaan yang muncul. Saya rasa pertanyaan utama yang perlu kita ajukan pada diri kita adalah, "Apakah pendekatanku terhadap Dharma Buddha merupakan pendekatan "Dharma-Sari" – bahwa pada dasarnya aku mau memperbaiki keberadaan samsaraku di masahidup sekarang ini lewat cara-cara Dharma?" ataukah "Apakah sebetulnya aku mencoba mengikuti Dharma sejati?" Yang berarti, "Seberapa besar aku percaya pada kehidupan di masa mendatang, apakah aku betul-betul meyakininya, dan apakah aku memberi perhatian untuk memastikan bahwa mereka itu baik adanya?" Dengan kata lain, "Sesungguh apa aku menganggap kehidupan di masa mendatang? Dan apakah ada kuketahui apa sebetulnya arti kebebasan atau arti pencerahan?" dan "Apakah aku berpikir bahwa itu betul-betul mungkin dan apakah aku berpikir aku betul-betul mampu mencapainya?"

Tolong ingat, kalaupun Dharma-Sari yang jadi minuman kita, tak perlu ada rasa bersalah karenanya. Tak perlu ada penghakiman semacam itu. Dharma-Sari itu baik adanya. Dharma-Sari, malah, kalau kita jujur, merupakan titik dimana sebagian besar orang Barat memulai dan harus memulai mengingat latar belakang kita. Satu-satunya hal yang sungguh penting di sini adalah bahwa kita mengetahui bahwa keduanya ini merupakan minuman yang berbeda, Dharma-Sari dan Dharma sejati, kita tidak merancukan keduanya. Dan bahwa kita punya – jika kita berupaya dengan Dharma-Sari – rasa hormat bagi Dharma sejati; kita mengakui bahwa itulah Dharma sejati dan kita berharap bahwa suatu hari nanti kita akan mampu mengupayakannya. Karena, kalau kita kembali ke telaah dorongan kita; kita perlu tahu apa tujuannya; kita perlu yakin bahwa itu ada dan kita bisa mencapainya.

Akan tetapi, punya rasa emosional yang menarik kita untuk betul-betul ingin mencapainya itu merupakan suatu langkah yang lebih jauh. Aku bisa yakin bahwa kebebasan itu mungkin dan memahaminya, tapi aku memiliki setumpuk halangan untuk betul-betul mengupayakannya. Jadi setelah yakin bahwa itu ada dan bahwa itu mungkin dicapai, kemudian kita betul-betul harus berupaya dengan keseluruhan daya dorong perasaan yang akan benar-benar membuat kita menanggalkan beban dan betul-betul mengupayakannya. Jadi untuk beralihrupa dari Dharma-Sari ke Dharma sejati, kita akan harus berupaya dalam dua matra. Yang pertama adalah pemahaman dan yang kedua adalah segi perasaan, dan keduanya tidak bisa diabaikan. Keduanya sama-sama penting. Ketika saya bicara Dharma-Sari dan Dharma sejati di sini, kita juga, tentunya, bicara tentang lam-rim-Sari dan lam-rim sejati.

Jadi mari kita gunakan beberapa saat untuk merenungkan dengan jujur tataran cita kita sendiri dan cara kita sendiri dalam mendekati jenis bahan seperti ini, dan juga agama Buddha secara umumnya.

[Jeda singkat sebelum lanjut.]

Seperti bisa Anda lihat, pokok utama saya di sini dalam hal cara saya mendekati bahan ini – dan seperti saya katakan di awal, saya juga bicara dalam kerangka pengalaman saya sendiri – adalah bahwa hal paling penting di sini adalah betul-betul mengembangkan tiga lingkup dorongan ini. Bagaimana Anda melakukannya dan laku-laku yang Anda perbuat, itu datang setelahnya. Hal yang pertama adalah memiliki tujuan itu. Menjalankan laku tanpa tujuan itu bakal seperti, istilahnya, melakukan latihan menarik dan berguna dalam hidup, tapi bukan hal yang sejatinya. Ini mengapa istilah yang digunakan di lam-rim ini amat berarti. Ia menyangkut si "orang"-nya. Orang seperti apa aku ini? Apa aku orang yang cuma peduli dengan kekayaan dan asmara dan seterusnya dalam masahidup sekarang ini? Apa aku orang yang betul-betul berpikir tentang kehidupan masa mendatang dan memastikan bahwa kehidupan tersebut tidak akan jadi lebih buruk sehingga aku dapat memiliki kesempatan berkelanjutan untuk pengembangan kerohanian? Apa aku orang yang berupaya mengatasi kebebasan – dan kebebasan, tolong diingat, adalah kebebasan dari kelahiran kembali – kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali. Dharma-Sari adalah kebebasan dari masalah. Yang sejati adalah kebebasan dari masalah kelahiran kembali, samsara. Apa aku betul-betul orang yang mengarah pada pencerahan untuk membawa manfaat mutlak untuk setiap makhluk di alam semesta? Sampai ke serangga-serangganya. Segala sesuatunya. Dengan setara! Itu luas sekali. Itulah yang disebut "Mahayana", wahana cita yang luas. Jadi, tujuan-tujuan ini, lingkup-lingkup ini memaknai orang seperti apa aku ini. Itu pernyataan yang amat berarti. Itu pasti membentuk hidupku jauh lebih penuh lagi, jauh lebih serba-mencakup dibanding kewarga-negaraanku, pekerjaanku, jenis kelaminku – dibanding apapun! Jadi, itulah yang berkaitan dengan lam-rim. Orang seperti apa kita ini?

Baik. Jadi mari kita lihat: Orang seperti apa aku ini? Apa sesungguhnya hal terpenting yang membentuk hidupku, apa yang kuperbuat dengan hidupku? Kecuali kita mengajukan pada diri kita pertanyaan-pertanyaan semacam ini dengan sungguh-sungguh, maka kajian kita atas Dharma sama saja dengan kajian kita atas apa aja. Hanya sekadar suatu hal yang menarik saja. Mungkin ada gunanya sedikit. Tapi, ya, seperti belajar cara memperbaiki mobil. Menarik; berguna; tapi tidak membentuk hidupku sepenuhnya.

Baik. Berupaya untuk menjadi tiga jenis orang ini dalam urutan yang bertahap – itu baru membentuk hidup namanya! Jadi mari kita renungkan itu sejenak. Kira-kira lima menit.

[jeda lima menit]

Kita ingat sebuah baris dari Latihan-Sikap Tujuh-Pokok atau lojong, dimana Geshe Chekawa berkata, "Ambil yang utama dari dua jenis saksi." Ambil yang utama. Ini berarti bahwa dari mereka yang mampu sebagai saksi menilai tingkat dorongan kita, tingkat perolehan rohani kita, utamanya orang lain dan diri kita sendiri, yang betul-betul tahu di mana kita berada, tingkat yang telah kita capai, adalah diri kita sendiri. Kita tahu, kita jujur pada diri kita sendiri dan yang benar saja? Apa aku betul-betul sedang berupaya membebaskan setiap serangga di alam semesta atau tidak? Kita mendaraskan dengan begitu gampangnya, "Semoga aku memperoleh pencerahan bagi manfaat seluruh makhluk berindera." Apa ada orang yang betul-betul seperti itu? Pernahkah kita memikirkan apa maksud sebetulnya? Jadi, kitalah yang bisa menjadi penilai terbaik bagi diri kita sendiri. Tapi tanpa rasa bersalah atau tanpa penghakiman di satu pihak, tapi tanpa kepasrahan juga di pihak lain. Kepasrahan itu maksudnya, "Baik, di situlah aku...jadi ya sudah!" Tanpa sikap, "Ya, di sinilah aku, tapi aku ingin mencoba lebih jauh lagi." Dan tentu saja bukan dengan kecongkakan yang membuat kita berpikir, "Seperti inilah aku adanya. Aku orang pemarah dan lekas naik darah, jadi baiknya semua orang membiasakan diri dengan itu."

Jadi, apa ada pertanyaan? Kita ada waktu dua menit sebelum jeda minum teh.

Pertanyaan: Bisa tolong beritahu saya tentang dua jenis saksi ini?

Alex: Penjelasan lebih lanjut tentang dua jenis saksi? Saksi itu artinya kalau kita, katakanlah kita bertanya, "Apa aku siap untuk menjalankan laku yang ini atau jenis laku yang itu?" Ya, kita bisa saja bertanya pada guru kita, "Apa saya sudah siap?" atau kita bisa menilai diri sendiri, "Apa aku betul-betul siap untuk ini?" Nah, tentu kita bisa meminta nasihat guru kita. Tak ada yang bilang bahwa kita jangan bertanya pada guru kita. Tapi, "Sudahkah aku mengatasi sikap mementingkan diri sendiri?" Apa itu kita tanyakan pada orang lain atau apa kita nilai sendiri?

Nah, ini jadi sedikit lebih rumit. Itu pertanyaan yang bagus sekali. Karena kadang kita tidak betul-betul sadar tentang cara kita bersinggungan dengan orang lain dan kita butuh umpan-balik. Tapi sukar menemukan seseorang yang bisa objektif dalam memberi kita umpan-balik, "Apa aku bersikap mementingkan diri sendiri dalam hubungan kita?" Ya, orang itu punya agenda perasaan mereka sendiri. Jadi, memang bagus mencari tanggapan dari orang lain, tapi pada akhirnya kitalah hakim terbaik yang bisa menilai kita bertindak dengan sikap mementingkan diri sendiri atau tidak. Jadi, berdasar pada laporan mereka, kemudian kita menilai diri kita, "Apa itu benar? Apa itu tidak benar?" dsb. Karena saya pikir pada akhirnya lebih mudah bagi kita untuk objektif atas diri kita sendiri dibanding orang lain. Karena kita mengenal diri kita lebih baik. Kita punya lebih banyak keterangan tentang diri kita.
Anda ada pertanyaan?

Pertanyaan terjemahan: Jadi, ia punya dua pertanyaan. Satu: "Saya sibuk sekali. Saya tak punya waktu untuk meresapi semua ini sehingga saya meragu. Saya bingung sekali. Kalau saya berupaya jadi orang berguna untuk mereka yang dekat dengan saya, mungkin dengan niat menolong lebih banyak orang kelak, tapi sekarang ini di masahidup yang ini saya tak punya waktunya. Bukankah itu cukup untuk membangun pahala agar memperoleh kelahiran kembali yang lebih baik?" Itu pertanyaan yang pertama.

Alex: Secara umum, ya. Sebab utama bagi kelahiran kembali yang lebih baik, kebahagiaan dan kelahiran kembali yang lebih baik, adalah menjauhkan dan menahan diri dari perilaku merusak. Jadi memang tidak mutlak harus semua orang, tapi sebanyak orang yang kita bisa. Selain itu, sebanyak mungkin menjalankan laku enam sikap menjangkau-jauh: baik hati dengan keluarga kita, bersabar, gigih, dsb., tertib untuk, misalnya, bangun pagi dan merawat bayi Anda atau apa saja...dan juga sembahyang. Anda harus betul-betul menginginkan kelahiran kembali luar biasa yang lebih lanjut, yang berarti bahwa Anda harus berpikir bahwa...yakin bahwa itu mungkin – bahwa itu ada. Itu semua dijelaskan sebagai tiga sebab untuk kelahiran kembali yang lebih baik. Jadi, menjalankannya di lingkungan keluarga dan teman-teman Anda itu sempurna.

Pertanyaan terjemahan: Dan pertanyaan kedua adalah: "Tampaknya bertolak-belakang bagi saya. Kalau saya menuju dan kemudian memperoleh kebebasan, maka ketika saya memperoleh kebebasan, saya tidak bisa menolong siapapun lagi karena saya sudah terbebaskan.

Alex: Ya, sebagai seorang makhluk terbebaskan – arhat adalah makhluk terbebaskan – ada dua cara pencapaian ke-arhat-an. Yang satu adalah cara Mahayana: Bahwa aku mencapai kebebasan di jalan untuk menjadi Buddha. Jadi aku melihatnya hanya sebagai sebuah batu loncatan. Dan cara yang lain: Aku menuju kebebasan sebagai tujuan akhir. Tapi dari sudut-pandang Mahayana, sekalipun aku membidik kebebasan sebagai tujuan akhir dan kita mencapainya dengan tataran cita tersebut, tetap saja masih mungkin kita, istilahnya "dibangunkan" atau dirangsang dari kepasrahan kita untuk berupaya bagi makhluk lainnya. Dengan kata lain, cara pengungkapannya secara teknis adalah kita dapat mengembangkan bodhicita baik sebelum menjadi seorang arhat maupun sesudah menjadi arhat.

Pertanyaan Anda menggaris-bawahi satu pokok yang amat penting di sini, yaitu bahwa mudah sekali untuk melekat pada kebebasan karena terasa menyenangkan sekali bebas dari duka. Hal yang sama juga terjadi dengan begitu hanyut dalam meditasi. Rasanya luar biasa. Jadi kalau kita sadar sebelumnya akan bahaya-bahaya ini, maka secara batin kita siap untuk tidak terusik atau melekat pada manfaat-manfaat mencapai kebebasan dan kita akan terus maju. Kalau kita ini bodhisattwa sejati, kita bahkan tidak akan mau libur dalam kebebasan selama dua-pekan sebelum melanjutkan ke jalan bodhisattwa...

Penerjemah: Kita tidak mau apa?

Alex: Liburan dua pekan, untuk bersantai di tanah suci murni sebelum kita kembali bekerja menolong yang lain.

Alex: Pertanyaan terakhir sebelum rehat teh.

Pertanyaan terjemahan: Jadi, itu tadi lebih mirip tinjauan daripada pertanyaan. Anda bicara tentang halangan perasaan. Jadi ia berkata bahwa ia sedang berupaya menjadi manusia yang lebih baik dan ia selalu berupaya menuju arah itu dan menggunakan Dharma, dsb., dan baru-baru ini ia menerima kabar buruk tentang suatu penyakit dan ia kehilangan minat pada segalanya termasuk minat pada Dharma: "Apa ini betul-betul bisa berhasil? Apa ini betul-betul menolongku? – Aku meragukannya. Jadi ada penolakan yang amat kuat dan itu membuatku berpikir 'apa ini?' Apa itu berarti bahwa aku harus berupaya lebih keras dengan diri sendiri atau apa aku harus menggali lebih dalam ke ajaran-ajaran atau, apa yang terjadi ini?"

Alex: Ya, ketika kita mendapati adanya penolakan perasaan di situ, maka kita perlu menggali lebih dalam pada telaah kita mengenai apa kebingungannya di sini, apa yang menyebabkannya. Dan kalau di sini kita biarkan sampai tingkat umumnya saja, yang lumrah dengan semua ajaran Buddha aliran India, sebabnya adalah keyakinan pada "aku" yang dapat diketahui dari dirinya sendiri. Kebingungan adalah tentang aku yang menawarkan penolakan. Dapat diketahui dari dirinya sendiri. Di sinilah kita mulai, menurut berbagai aliran, untuk membongkarnya. Aku yang dapat diketahui dari dirinya sendiri. Ia itu "aku" yang bisa diketahui hanya dari dirinya sendiri, seperti, "Aku tidak mau mencapai pencerahan; aku tidak mau menolong orang lain; aku tidak mau berupaya bagi orang lain." Seolah ada "aku" yang tidak ingin kita menjalankan laku.

Apakah cita yang tidak mau menjalankan laku? Apakah kemalasan yang tidak mau menjalankan laku? Apa yang tidak mau menjalankan laku? Ya, kita berpikir dalam kerangka "aku" – "Aku" tidak mau menjalankan laku. Tapi "aku", "aku" hanyalah apa yang dicapkan pada atau disematkan pada suatu cita dan kemalasan dan rasa takut dan rasa tidak aman dan semua jenis anasir-anasir batin ini. Dengan begitu, kalau kita ingin, apa istilahnya, mengacu pada keseluruhan medan cita dan seluruh anasir batin dan perasaan dan rasa tak aman dsb., kita bisa mengacunya dalam kerangka "aku". Aku tidak mau menjalankan laku.

Tapi "aku" tersebut tidaklah mengada sendiri; ia tidak bisa diketahui semata atas dirinya sendiri. Ia hanya bisa diketahui dalam lingkung hal-hal lain ini. Jadi, kalau kita berpikir dalam kerangka, "Ya, apa yang bisa kuperbuat untuk mengubah keadaan?"...kalau kita berpikir dalam kerangka "aku" yang dapat diketahui dalam dirinya sendiri, maka entah bagaimana kita ingin menentang atau menghentikan si aku itu tadi. Seolah aku bisa berteriak pada diriku, "Ayolah, berhenti bertindak seperti itu," atau menghukum atau memaksa diriku, kemudian aku bisa membuat diriku ini menjalankan laku. Tak bisa begitu. Itu berdasar pada salah-kaprah terhadap "aku".

Jadi penting sekali untuk mengarahkan penawar kita pada tataran ini – bukan pada "aku" yang dapat diketahui dari dirinya sendiri, karena ia tidak ada, tapi mengarahkannya ke berbagai anasir batin – anasir-anasir batin gelisah – yang padanya "aku" dicapkan. Jadi, yang perlu Anda upayakan, dan kini ada cara-cara sempurna untuk ini, adalah menghadapi rasa takut, rasa tak aman, berupaya dengan semua hal yang menjadi dasar bagi pencapan "aku", bahwa aku tidak mau menjalankan laku. Kemudian kita punya suatu dasar tataran cita dengan rasa semangat, dsb. yang kepadanya kita capkan "aku" yang mau menjalankan laku. Inilah cara kita menerapkan telaah sunyata. Tidak cendekiawan sekali memang. Tidak begitu sulit. Hanya perkara pemahaman cara Anda menerapkannya dalam suatu sikap praktis, apa yang mereka bicarakan. Mereka tidak bicara tentang beberapa konsep filsafati nirwujud yang aneh nan janggal. Bicara tentang sesuatu yang amat praktis.

Jadi, kita rehat sejenak dan kemudian nanti kita lanjutkan.