Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Alihrupa Diri melalui Tingkat Bertahap Lam-rim

Alexander Berzin
Morelia, Meksiko, Oktober 2008

Sesi Satu: Dharma-Sari

Akhir pekan ini kita akan membahas lam-rim. Kita biasanya mendengar istilah Tibet ini diterjemahkan sebagai jalan bertahap...jalan bertahap menuju pencerahan. Tapi ini bukan tentang jalan sungguhan, seperti yang bisa Anda jalani. Melainkan, kata yang diterjemahkan sebagai "jalan" ini sebetulnya berarti suatu tataran cita yang berlaku layaknya sebuah jalan yang membimbing kita ke suatu tempat, dalam hal ini menuju pencerahan. Jadi saya menyebutnya cita berupa jalan yang menjadi hal-hal yang ingin kita kembangkan. Dan supaya mencapai pencerahan, kita perlu mengembangkannya dalam urutan tahap tertentu. Dan ia berupa, atau diatur maksud saya, dalam kerangka tiga tingkat besar. Masing-masing tingkat tentu memiliki banyak anak-bagian. Dan ini sungguh betul mengenai suatu keseluruhan tataran cita. Ia merupakan kerangka kerja batin yang bercakupan amat luas. Ia disebutkan dalam rangka tiga jenis orang. Dan orang-orang ini merupakan orang yang punya jenis dorongan tertentu dalam hidup. Dan kita sedang mencoba mengembangkan diri menjadi jenis orang ini dengan jenis kerangka kerja batin pendorong ini. Saya tidak menggunakan kata "dorongan" di sini secara sederhana. Tapi ketika kita mendengar kata dorongan dibahas dalam ajaran Buddha, yang diacunya adalah, seperti tadi saya katakan, sebuah kerangka kerja batin pendorong. Ia merupakan keseluruhan kerangka kerja batin. Dan ia terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah sebuah tujuan. Sebuah tujuan yang kita miliki dalam hidup. Dan yang kedua adalah hal yang kita, sebagai orang Barat, biasanya pikir sebagai dorongan, yaitu latar perasaan yang membawa kita pada tujuan ini.

Nah, ketika kita bicara tentang tiga tingkat ini, tiap tahap dibangun di atas tahap sebelumnya, jadi ia bersifat tumpukan. Jadi bukan kita jalani yang pertama lalu kita berhenti menjalaninya dan kemudian kita lanjut ke yang kedua. Tapi, kita jalani yang pertama...lalu kita jalani yang pertama dan yang kedua...kemudian kita jalani yang pertama dan yang kedua dan yang ketiga sekaligus. Dan mutlak penting bagi kita untuk mengembangkan diri dan memiliki kerangka kerja pendorong ini sesuai urutannya. Tak bisa kita lewatkan yang manapun. Kalau Anda lewatkan yang manapun, Anda tidak jadi memiliki tataran cita yang dijabarkan di sini.

Jadi kalau kita melihat pada pranata dasar dari tiga kerangka kerja pendorong bertahap atau bertingkat ini, pertama-tama kita, sebagai orang yang masuk pada cakupan awal, bertujuan untuk memperbaiki kelahiran kembali kita di masa depan. Karena kita sungguh was-was dan tak mau sama sekali memiliki kelahiran kembali yang lebih buruk.

Pada tingkat menengahnya, kita bertujuan mencapai kebebasan dari kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali – sepenuhnya. Sekaligus. Dan perasaan pendorong di baliknya adalah rasa jijik sepenuhnya pada semua duka yang ada di dalamnya. Karena itu, kita memiliki, yang biasanya diterjemahkan sebagai, “penyerahan”, yaitu tekad untuk bebas dari hal tersebut – yang menyiratkan kemauan untuk meninggalkannya.

Dan pada tingkat yang lanjut, kita bertujuan memperoleh pencerahan dan kita didorong oleh rasa kasih dan welas asih, dengan memikirkan semua orang lain dan betapa mereka memiliki jenis duka dan masalah yang serupa dan kita mau untuk mampu menolong mereka mengatasi hal itu.

Baik. Jadi, bagus sekali. Inilah pranatanya. Bagi kebanyakan kita, ini tidak banyak berarti. Tapi ada banyak buku dan bahan yang tersedia mengenai hal ini sekarang, sehingga mudah sekali untuk menemukan pembahasan mengenainya.

Sekarang biar saya kaitkan sedikit dengan riwayat pribadi saya sendiri, tentang bagaimana saya mengetahui pokok ini dan mempelajarinya. Alasannya adalah karena saya diminta di akhir pekan ini untuk mengajar tentang Pokok-Pokok Singkat dari Cita Jalan Bertahap, yang merupakan naskah lam-rim pendek dari Tsongkhapa. Tapi, naskah ini masih terlalu panjang, sekalipun merupakan corak yang telah disingkat, untuk bisa ditelusuri seloka demi seloka dalam satu akhir pekan saja. Dan karena itu kami putuskan bahwa saya hanya akan bicara tentang pokok-pokok singkat dari lam-rim tanpa betul-betul mengacu pada naskahnya dan bagaimana saya berhubungan dengannya selama bertahun-tahun, yang mungkin akan berguna bagi Anda.

Jadi, saya pertama sekali berjumpa dengan pokok bahasan ini empat puluh tahun yang lalu ketika saya masih belajar bahasa Tibet di sekolah pascasarjana Universitas Harvard. Dan sebagai bagian dari pelajaran bahasa Tibet, kami membaca beberapa halaman dari naskah besar lam-rim karangan Tsongkhapa, Lam-rim chen-mo. Namun saya tidak tahu sama sekali maksud seluruh naskah itu atau seluruh rentang lam-rim dan apa yang dicakupnya, tidak tahu sama sekali. Ini sebelum satupun dari naskah-naskah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lain, bahkan sebelum Perhiasan Permata Kebebasan karya Gampopa diterjemahkan. Jadi pokok ini agaknya tidak diketahui.

Saya pergi ke India pada tahun 1969 untuk melakukan penelitian untuk disertasi PhD saya dan sekalipun saya awalnya bermaksud untuk menulis tentang suatu pokok tantra yang amat lanjut tingkatnya, saya segera mendapati bahwa ini muskil untuk dilakukan, meski guru besar saya telah menganjurkan saya untuk mengerjakan pokok tersebut. Dan para guru Tibet yang telah saya hubungi dan yang saya ajak kerjasama di India menganjurkan agar saya mengkaji lam-rim. Jadi begitulah. Karena itu satu-satunya hal di daftar hidangan, saya putuskan untuk menyantapnya.

Saya mempelajari lam-rim dan menulis disertasi mengenai adat lisannya karena saya bahkan tidak tahu bahwa ada banyak naskah mengenai hal itu. Jadi, kepada saya pokok tersebut dijelaskan secara lisan oleh guru saya dan saya menyebutnya adat lisan mengenai lam-rim. Jadi ini masa yang sangat menggembirakan di India. Itu terjadi sebelum datangnya gelombang budaya hippie. Waktu itu Carlos Costaneda sedang menulis buku-bukunya. Dan demikianlah beberapa dari kami orang Barat yang ada di India sana bersama orang-orang Tibet merasa kami sedang berada dalam petualangan yang serupa dengan yang dilakoni Carlos Castaneda, menemukan ajaran-ajaran rahasia, istimewa, dan bertuah. Itu merupakan petualangan besar dan amat sangat menggembirakan.

Cara saya mengkaji lam-rim merupakan cara yang tradisional sekali. Yang berarti bahwa kepada saya disajikan suatu pokok bahasan atau suatu pokok dalam lam-rim. Saya tidak tahu apa yang akan datang berikutnya. Jadi itu artinya Anda harus memusatkan perhatian pada tiap pokok secara sendiri-sendiri saat ia muncul dan mencernanya sebelum memperoleh keseluruhan gambarnya. Saya diberitahu bahwa ini merupakan pokok bahasan yang perlu dikaji lagi dan lagi, karena tiap kali Anda mengkajinya, kemudian Anda kembali ke awal dan mencocokkannya dengan apa yang telah Anda pelajari kemudian di dalam tingkat-tingkat ini. Semakin Anda dapat mencocokkannya bersama-sama, keseluruhan gambaran itu, semakin jelas dan mudah jadinya untuk betul-betul mengembangkan tataran-tataran cita yang sedang dibahasnya.

Atas dasar fakta itulah saya mulai mengembangkan gagasan menjelaskan ajaran-ajaran tersebut dalam kerangka jejaring. Jaringan dalam arti bahwa setiap pokok terhubung dengan pokok lainnya di dalam ajaran tersebut, sehingga kesemuanya terjejaring dengan amat rumitnya. Semakin banyak hubungan yang Anda ketahui dan yang bisa Anda buat, semakin dalam pemahaman Anda. Jaringan seluruh pokok ajaran ini berkaitan tidak hanya dengan lam-rim tapi dengan segala sesuatu dalam ajaran-ajaran Dharma.

Wawasan lain yang saya pikir bisa berguna dalam memahami pokok yang sedang coba saya buat ini adalah wawasan mengenai keterpaduan. Jadi seluruh ajaran dan seluruh pokok ajaran berpadu bersama. Anda dapat memadukannya. Dan bukan sekadar bahwa kita memadukan seluruh ajaran satu sama lain, tapi kita harus memadukannya dengan seluruh ragam segi dari diri kita sendiri, dari hidup kita. Dan lagi-lagi, citra jaringan disinggung di sini karena semua pokok yang berbeda-beda dari lam-rim dan Dharma secara umum saling berhubungan, atau pada akhirnya, secara penuh, mesti berhubungan dengan seluruh macam segi dari diri kita dan hidup kita sendiri. Ketika kita telah berhasil dalam melakukan ini, maka kita telah betul-betul – kita istilahkan setidaknya dalam bahasa Inggris, kita telah memadukan Dharma di dalam diri kita.

Pokok pentingnya pemaduan ajaran-ajaran Dharma dengan diri kita ini secara khusus masuk akal dalam hal pengembangan tiga tingkat dorongan ini. Jadi, kita lihat ajaran-ajaran lam-rim dan ketika kita memperoleh gambaran mengenainya, kita pada awalnya akan memahaminya pada tingkat yang saya namai "Dharma-Sari". Ini berbeda dengan Dharma "sejati", yang merupakan perumpamaan yang diambil dari perbedaan antara "Nutrisari" (merek minuman sari buah) dengan sari buah sejati (yang asli). Jadi Dharma-Sari adalah corak ajaran-ajaran Dharma yang dipahami hanya dalam lingkup pengembangan masahidup yang sekarang ini. Kita pada dasarnya mencoba untuk membuat hidup samsara dari kehidupan sekarang sedikit lebih baik dengan menggunakan Dharma agak mirip dengan cara sebuah penyembuhan (terapi). Ini bagus sekali, bisa berguna dalam lingkung ini. Tidak ada yang salah dengan hal itu selama kita tidak merancukannya dengan Dharma "sejati" dan berpikir bahwa inilah semua yang dibicarakan Dharma. Kalau kita jujur dengan diri kita, kita akan mengakui, setidaknya pada diri kita sendiri – mungkin tidak pada orang lain di sanggar Dharma – tapi setidaknya pada diri kita sendiri, bahwa sebetulnya kita menjalankan Dharma-Sari.

Baik. Jadi, apa corak Dharma-Sari dari lam-rim? Saya tentu saja, pada awalnya, minum Dharma-Sari – itu minuman saya. Ya, lihat saja ajaran-ajarannya. Pertama-tama, dikatakan bahwa akar dari jalan, akar dari seluruh hal ini adalah mengandalkan guru rohani. Baik, jadi saya punya seorang guru rohani di India; saya beruntung sekali. Tentu butuh bertahun-tahun sampai saya paham apa arti kata "akar". Seperti kebanyakan orang, saya salah mengartikan kata "akar" sebagai "awalan", yaitu titik Anda memulainya. Mengapa? Karena di situ, ia merupakan awalan dari penyajian lam-rim. Tapi bukan itu citra "akar" sebuah tanaman. Tanaman tidak mulai tumbuh dari akar. Tanaman tumbuh dari biji. Akar adalah alat tanaman menyerap kebutuhan makanan. Akar memberi tanaman kemantapan karena ia mengokohkan tanaman itu dan melaluinyalah tanaman dapat tumbuh karena asupan makanan diperoleh dengan menggunakannya. Jadi demikian pula, bersandar dengan benar pada seorang guru rohani akan mengokohkan kita sehingga kita tidak hanyut dalam kelana maya ganjil tentang Dharma dan menjaga kita tetap tumbuh lurus sehingga kita tidak melenceng dari ajaran-ajaran yang sebetulnya dan berbuat kesalahan. Dan seperti akar yang menjangkarkan tanaman sehingga tidak tumbang terhempas. Dari guru rohanilah kita memperoleh ilham yang memberi kita tenaga untuk mampu tumbuh di atas jalan dan tentunya menjadi orang yang melaluinya kita memperoleh ajaran dan penjelasan. Meski kita juga bisa memperolehnya dari buku-buku, tapi buku-buku ditulis oleh para guru.

Nah, sekarang kita masuk ke ajaran-ajaran lingkup awal. Yang pertama dibahas adalah kehidupan manusia yang mulia yang kita miliki dan mengamati diri. Saya amati diri saya sendiri: ya, saya cukup beruntung karena punya begitu banyak kesempatan untuk belajar. Dan kemudian kita pikirkan tentang kematian dan ketaktetapan, bahwa kesempatan di kehidupan ini tidak akan berlangsung selamanya. Baik, saya bisa memahaminya. Saya ingin sekali menggunakan kemampuan saya, saya muda, dengan kekuatan, kecerdasan, dan seterusnya, untuk tumbuh. Jadi saya bisa memahaminya dengan mudah.

Kemudian ajaran berlanjut ke pembahasan tentang tataran kelahiran kembali yang lebih buruk yang bisa muncul di kehidupan di masa depan, neraka dan seterusnya. Nah, sekarang kita mulai mendekatinya seperti seorang ahli antropologi yang mempelajari cerita rakyat, "Oh, menarik sekali...ini yang mereka yakini..." sip, balik halamannya, lanjut lagi. Dan kemudian ada ajaran tentang perlindungan, yang lama-kelamaan saya sadari dan pelajari bukan hanya hal pasif seperti, "Oh, selamatkan aku, selamatkan aku." Tapi berarti menempatkan haluan aman dalam kehidupan kita. Baiklah, mengikuti sang Buddha, Dharma, dan Sangha – saya tidak sungguh-sungguh memahami apa sesungguhnya, walaupun saya punya satu daftar yang memuat semua sifatnya. Tapi apa maksudnya? Maksudnya, ya, mengikuti ajaran Buddha. Saya tahu itu bermakna lebih dari sekadar mengenakan benang merah di leher saya. Tapi tidak sungguh paham seluk-beluk mendalam dari apa makna sebetulnya. Tapi, baik, saya ambil perlindungan di haluan aman ini.

Dan kemudian datanglah ajaran-ajaran karma, yang pada dasarnya berarti menghindari perilaku merusak. Dan walaupun disajikan dalam hal menjauhi perilaku merusak supaya terhindar dari kelahiran kembali yang lebih buruk yang menjadi akibatnya, ya, titik jualnya tidak betul-betul terletak di situ. Itu cuma memberi kesan: jadilah orang baik, jangan sakiti siapapun, jangan bertindak merusak, jangan bertindak atas dasar amarah, keserakahan, keluguan, dan seterusnya. Jadi, ya, saya bisa terima itu semua. Dan saya bisa lihat bahwa itu akan membuat saya jadi lebih bahagia dalam hidup. Jadi itulah corak Dharma-Sari yang sempurna dari cakupan awalnya. Harap diingat, saat itu saya tidak menyadari bahwa itu Dharma-Sari. Saya pikir saat itu inilah maksud semuanya.

Nah, sekarang kita masuk ke lingkup menengah. Dalam lingkup menengah kita melihat duka samsara yang bersifat umum, yaitu duka dari kelahiran kembali yang lebih baik. Nah, bagian mengenai alam-alam dewata lagi-lagi menjadi pelajaran lain dalam ilmu antropologi. Tapi penggambaran mengenai duka samsara yang bersifat umum jauh lebih berkaitan; selalu gusar, tak pernah memperoleh apa yang diinginkan, dst. Ini cukup menakjubkan dan mendalam untuk dipikirkan. Kemudian lingkup menengah lanjut membicarakan tentang telaah dari semua anasir batin dan semua perasaan gelisah dan betapa perasaan gelisah inilah yang menyebabkan permasalahan kita. Dan ini merupakan bagian paling menarik dari pembahasan lam-rim – memahami darinya bagaimana permasalahan dan kesulitan perasaan itu muncul, apa saja anasir-anasirnya, apa saja sebab-sebabnya, bagaimana permasalahan berkembang dalam diri kita... Ini luar biasa. Ini jauh lebih baik dari pelajaran ilmu kejiwaan manapun yang pernah saya peroleh. Saya tidak benar-benar paham bahwa yang dibicarakan di situ sebetulnya adalah apa yang mendorong terjadinya kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali. Bukan seperti itu cara saya memahaminya, tapi saya memahaminya pada tingkat Dharma-Sari: bahwa seperti inilah berbagai permasalahan perasaan dan kejiwaan muncul dalam diri saya. Amat berguna, amat bermanfaat.

Kemudian datang lagi dua belas tautan kemunculan bergantung. Ini rumit sekali. Walaupun secara lugas dikatakan bahwa ini menggambarkan cara kerja kelahiran kembali, saya harus bilang bahwa saya tidak betul-betul meresapi bahwa itulah pokok utamanya. Saya mencoba memahaminya dalam kerangka kehidupan ini. Karena, ya pada tingkat ini, tingkat Dharma-Sari ini, sukar untuk menanggapi kehidupan dan kelahiran kembali di masa depan dengan sungguh-sungguh. Itu bukan bagian dari adat kita; saya tentu tidak tumbuh besar dengannya. Tapi saya berpikiran terbuka. Saya tidak menolak kehidupan masa depan. Saya meragu justru pada gagasan kelahiran kembali. Dengan kata lain, saya berkata, "Baiklah, untuk sementara terima saja dan lihat apa yang muncul selanjutnya. Dan kalau yang muncul selanjutnya masuk akal dan berguna, maka bisa jadi kelahiran kembali itu mungkin, bahwa itu betul-betul ada...tapi tidak tahu juga..."

Kemudian saya masuk pada pokok bahasan tentang penyerahan. Saya paham ini berarti bukan sesederhana "Aku harus menyerahkan segalanya dan tinggal di gua." Saya paham sampai sejauh itu...Saya tidak membuat kesalahan itu. Sebaliknya, saya paham bahwa itu bermaksud tekad untuk bebas dari samsara, dari segala duka ini. Dan tentu saya bersedia untuk, atau setidaknya ingin, menyerahkan atau meninggalkan duka dan permasalahan yang saya miliki di masa itu. Saya tentu punya beberapa masalah perasaan seperti orang muda lainnya. Dan saya pastinya ingin bebas dari sebab-sebab permasalahan itu. Tapi saya memahami ini mungkin pada tingkat yang permukaan saja. Ya, menakjubkan sekali rasanya bila tidak pernah marah lagi. Pasti hebat kalau bisa melupakan amarah dan keserakahan dan segala macamnya. Apa itu berarti bahwa ketika makanan kegemaran saya terhidang di atas meja, saya bersedia untuk menyerahkan keserakahan saya, yang dengannya saya berkeinginan untuk makan sebanyak yang saya bisa? Nah, itu pertanyaan lain lagi.

Kita beranjak dari penyerahan dan hal berikutnya adalah tiga pelatihan yang tertinggi sebagai cara untuk bebas dari samsara. Jadi ketiganya berupa pelatihan dalam sila, samadhi, dan kebijaksanaan yang tertinggi, yang berarti kesadaran pembeda. Untuk membedakan kenyataan dengan khayalan. Ini masuk akal dan masih nyambung dengan saya, jadi boleh saja. Itulah cakupan menengah yang secara mendasar dipahami pada tingkat Dharma-Sari dari keinginan untuk menghapuskan permasalahan perasaan saya. Ajaran Buddha menjelaskan dengan amat baik tentang bagaimana permasalahan ini muncul dan memberikan arah yang sangat bagus tentang seperti apa upaya untuk mengatasinya.

Nah, sekarang kami siap untuk beranjak ke lingkup lanjut. Kini kami baca tentang betapa pertama-tama kami perlu memiliki keseimbangan batin atas setiap orang. Baik, itu cocok sekali dengan gerakan-gerakan hak-hak sipil, dan semacamnya, ya seperti kebebasan perempuan dan seterusnya dan kemudian, hei, keseimbangan batin. Boleh. Setiap orang setara. Perihal meluaskan sikap itu sampai pada nyamuk dan kecoa, ya, coba – coba lanjut dulu ke pokok berikutnya. Atau, malah baiknya saya beritahu saja bagaimana saya menghadapinya. Saya ini penggemar berat cerita fiksi ilmiah, khususnya Star Trek. Dan saya tinggal di India, tanah para serangga. Seperti yang biasa saya guyonkan, iklan perjalanan ke India harusnya berbunyi, "Kalau kau suka serangga, kau akan cinta India." Jadi saya memandang serangga-serangga ini seperti makhluk asing dari dunia lain dan kalau saya bertemu makhluk asing dari dunia lain dan makhluk itu punya enam kaki dan sayap atau semacam itulah, jahat sekali rasanya kalau cuma ingin menginjak atau menepuknya saja. Jadi saya sedikit berdamai dengan serangga-serangga, selama mereka tidak masuk ke kamar tidur saya. Kalau mereka ada di kamar tidur saya, saya menyebutnya rupa-hidup yang tak dapat diterima dan mereka harus pergi. Tapi waktu itu saya telah menjadi umat Buddha yang baik dan benang merah telah terkalung di leher saya dan saya akan menangkap serangga-serangga itu. Saya jadi mahir, kalau mereka hinggap di dinding saya jebak dengan cangkir kemudian saya sisipkan selembar kertas di bawah mulut cangkir itu dan saya bawa serangga itu keluar. Malah, saya bahkan belajar dari kawan-kawan Tibet saya cara menangkap lalat saat ia terbang. Meskipun kawan-kawan Tibet saya biasanya melakukan ini untuk senang-senang saja. Mereka akan main-main dengan lalat dan mereka akan menangkapnya, mengguncangnya di tangan mereka dan membiarkan lalat itu terbang dan kemudian mereka menonton lalat yang terbang dalam keadaan mabuk dan tertawa terbahak-bahak. Saya tidak secanggih itu. Saya bawa lalat itu keluar.

Jadi setelah keseimbangan batin, kemudian kita berpikir bahwa setiap orang lain pernah menjadi ibu kita. Ini agak ganjil, tapi hubungan saya dengan ibu saya cukup baik sehingga itu tidak terlalu sukar. Lalu lanjut sampai ke berbagai tingkatnya dan dibicarakan juga tentang kasih, welas asih, keinginan agar setiap orang bahagia dan tidak menjadi tak bahagia. Jadi, maksud saya, kasih itu adalah tema masa hippie, jadi ini baik sekali. Dan bertanggung jawab untuk menolong orang lain, ya ini pun bagus juga. Ini bagian dari gerakan kebebasan sipil. Anda memikul tanggung jawab dan untuk bisa betul-betul menolong setiap orang Anda harus menjadi seorang Buddha. Apa maksudnya itu, mana saya tahu. Ada berbagai sifat, tapi itu yang "terbaik", jadi mari bidik yang terbaik. Ya, menjadi seorang Buddha mungkin dapat menolong setiap orang lebih lagi dibanding ikut arak-arakan hak sipil. Meski demikian, bukan merendahkan barisan hak sipil sebagai tindakan tiada guna, tapi di sini ia memberi saujana yang lebih luas tentang bagaimana Anda bisa menolong orang lain. Tapi mungkin, citra seorang Buddha bercampur dengan citra Superman.

Kemudian datang ajaran-ajaran mengenai enam kesempurnaan, yang saya sebut "sikap-sikap menjangkau-jauh", sebagai cara menjadi seorang Buddha. Semua ini masuk akal sekali. Berbaik hatilah, milikilah sila, bersabarlah, gigihlah, siapa yang bisa mencelanya? Itu sempurna sudah. Dan kemudian ada ajaran-ajaran mengenai daya pemusatan, yang teramat rinci. Menakjubkan melihat betapa rincinya ajaran itu. Dan kemudian ada ajaran-ajaran mengenai sunyata, yang sukar dimengerti tentunya tapi amat sangat luar biasa dan merupakan hal yang sudah pasti ingin saya selami lebih dalam lagi. Dan saya melihat bahwa semakin dalam saya selami, semakin mampu saya menghapuskan khayalan-khayalan tentang bagaimana saya mengada, bagaimana setiap orang mengada.

Dan saya sangat menyukai sumpah-sumpah bodhisattwa karena itu menunjukkan segala hal penyebab kesukaran yang mesti dihindari dalam berhubungan dengan orang lain. Ini saya rasa amat hebat karena saya mengalami begitu banyak kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, jadi itu merupakan buku panduan tentang apa yang mesti dihindari – sempurna. Dan bodhicita saya paham juga, ya, bertujuan menjadi seorang Buddha untuk menolong setiap orang. Tak ada yang lebih dalam dari itu. Tampak cukup sederhana. Jadi atas dasar ini, jenis pemahaman dalam menelusuri lam-rim ini, tingkat yang sudah amat lanjut. Di sini di tingkat lanjut saya akan mencoba menolong setiap orang, saya akan mengasihi setiap orang, kita semua setara, dan saya akan mencoba menjadi yang terbaik, mencoba menjadi seorang Buddha.

Lalu saya dapat sedikit pengantar menuju tantra dan di sini dikatakan bahwa Anda bisa melakukannya di masahidup yang sekarang ini, jadi itu memastikan bahwa saya tidak benar-benar harus memikirkan tentang kehidupan mendatang dan semua tetek-bengeknya. Semuanya di masahidup yang sekarang ini, Dharma-Sari yang sempurna. Jadi saya pikir di titik inilah banyak dari kita berakhir, setelah melakukan kajian awal terhadap lam-rim. Dan saya pikir bahwa kalau kita akan mengkajinya lebih mendalam lagi, apa artinya itu? Itu berarti bahwa mempelajari daftar yang berisi delapan ini dan sepuluh itu, dan seterusnya dan kalau kita mempelajari semua daftar ini maka kita telah memperdalam pemahaman kita atas lam-rim. Ya, bagus sekali kalau belajar semua rincian ini. Sudah pasti akan membantu memperdalam pemahaman kita. Tapi kita masih berada pada tingkat Dharma-Sari.

Jadi kemudian setelah beberapa saat mengkaji dan mengkaji begitu banyak hal lain dalam Dharma – dan, omong-omong, saya menetap di India. Saya kembali hanya untuk menyerahkan disertasi saya tapi pada dasarnya India jadi rumah saya selama dua puluh sembilan tahun – dan saat saya mengkaji lebih banyak lagi dan saya mulai mencoba menyatukan banyak hal, seperti yang dinasihatkan guru saya, selalu ditekankan bahwa cara Buddha mengajar sungguh merupakan cara terbaik mewartakan Dharma. Dan bagaimana Buddha mengajar? Buddha mengajar empat kebenaran mulia dan mengajar dalam pranata empat kebenaran mulia. Jadi jangan terlalu congkak dengan berpikir bahwa kita bisa berbuat lebih baik dari sang Buddha. Untuk itu saya mulai mencoba mengikuti nasihat itu dan menyatukan lam-rim dengan empat kebenaran mulia.

Ya, empat kebenaran mulia, mungkin Anda semua sudah mengetahuinya. Tapi ringkas saja, bicara tentang fakta sejati, empat fakta yang benar. Ini adalah fakta-fakta yang dilihat para arya, makhluk arya, biasanya diterjemahkan sebagai "yang mulia" – mereka yang memiliki pengetahuan nirsekat tentang sunyata atau kenyataan – lihat sebagai empat hal yang benar. Itulah yang dibahas di sana. Inilah fakta. Inilah yang benar. Jadi, mereka yang belum melihat kenyataan, secara nirsekat, tidak akan benar-benar menganggap ini sebagai yang benar.

Jadi yang pertama adalah [1] duka. Buddha menunjukkan tingkat duka yang berbeda-beda dan ini benar, ini sesungguhnya adalah duka. Ya, mungkin Anda tidak berpikir bahwa semua itu duka. Orang umum, orang biasa yang menganggapnya duka seperti kebahagiaan biasa kita. Tapi kalau Anda lihat lebih dalam, ini sesungguhnya merupakan wujud-wujud duka. Ya, karena tak pernah cukup, tak pernah memuaskan, tak pernah langgung, dst., dst.. Kemudian Buddha menunjukkan [2] sebab-sebab duka dan berkata bahwa inilah sesungguhnya sebab-sebab tersebut. Anda mungkin tidak beranggapan demikian tapi inilah sesungguhnya sebab-sebab tersebut – ia benar adanya. Dan kemudian ia menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk memunculkan penghentian, biasanya diterjemahkan sebagai [3] sebuah gencatan dan itu artinya penghentian, berhenti selamanya. Anda mungkin tidak berpikir bahwa mungkin untuk menghentikan duka ini selamanya, mengenyahkannya selamanya, tapi ini benar adanya. Sungguh mungkin, itu benar, inilah penghentian yang sebenarnya. Itulah penghentian sejati. Bukan penghentian sementara, tapi sungguh berhenti, selesai selamanya. Dan ini ada cita jalan – jangan pikir itu sekadar jalan saja, ingat bahwa itu cita jalan – inilah [4] suatu tataran cita yang, jika Anda kembangkan, akan menghapuskan duka dan sebab-sebabnya dan benar-benar mampu memunculkan penghentian sejati serta sebab-sebabnya.

Jadi inilah empat kebenaran sejati dalam bentuknya yang sederhana. Dan ada gunanya bila kita lihat tiga lingkup lam-rim dalam empat kebenaran sejati. Jadi, dengan menggunakan pranata tersebut, kita melihat ajaran-ajaran cakupan awal. Duka sejati di sini adalah tataran-tataran kelahiran kembali yang terburuk. Ada tiga jenis duka sejati. Dukanya duka yang secara umum merupakan ketakbahagiaan, ketakbahagiaan yang dapat menyertai rasa pengetahuan, penglihatan, pendengaran, rasa sakit, ketakbahagiaan, rasa tak bahagia apapun atau dapat pula menyertai suatu tataran batin. Kalau kita memahaminya seperti itu, maka itu luas sekali, mencakup jenis duka dan dengan demikian, seperti dicontohkan oleh duka tataran-tataran yang lebih rendah dan sebab darinya, adalah bertindak merusak. Penghentian sejati dari hal itu adalah penghentian kelahiran kembali yang lebih buruk, yang artinya: memiliki kelahiran kembali yang lebih baik. Dan jalan sejati yang akan membimbing ke sana ialah, pertama-tama, perlindungan, haluan aman dalam hidup, dan betul-betul mengikuti ajaran-ajaran Dharma dan contoh-contoh Buddha dan arya sangha penghindaran perilaku merusak. Jadi inilah lingkup awal di dalam empat kebenaran yang mulia. Sekalipun telah dikaji dan diketahui bahwa sebab sejati dari perasaan-perasaan gelisah adalah ketaksadaran yang mendasarinya dan seterusnya di sini yang kita bicarakan adalah bahkan ketika perasaan-perasaan gelisah itu muncul, jangan wujudkan dalam tindakan. Jadi saya bisa saja masih marah pada Anda, tapi saya akan tutup mulut dan tidak membentak atau berkata kotor karena saya paham bahwa kalau saya membentak dan berkata kotor, itu hanya akan menyebabkan lebih banyak ketakbahagiaan, lebih banyak permasalahan. Jadi tentu itulah pemahaman yang lebih mendalam dari lingkup awal.

Nah, sekarang kita lanjut ke lingkup menengah. Dan di sini duka sejati merupakan dua jenis kedua dari duka yang ditunjukkan Buddha, duka akan perubahan, yang berarti jenis kebahagiaan kita yang biasa yang menyertai rasa indera atau tataran batin. Dan ini jadi masalah karena itu tak langgeng; tak pernah memuaskan. Ia berubah menjadi ketakbahagiaan; kita tak pernah tahu kapan ia akan berubah... Kita makan makanan yang begitu kita nikmati. Dan kalau ini benar, maka semakin banyak kita makan semakin bahagialah kita jadinya. Tapi sudah pasti ketika kita mencapai suatu titik tertentu, semakin banyak kita makan maka kita jadi sakit, rasanya menyakitkan.

Juga, yang merupakan duka sejati di sini, lebih penting lagi pada lingkup menengah ini adalah jenis ketiga dari duka. Ini disebut "duka pemengaruh serba-mencakup" (the all-encompassing affecting suffering). Ungkapan bahasa Inggrisnya memang sedikit ganjil. Saya tahu itu. Sifatnya serba-mencakup. Jadi ia mengacu pada setiap saat dari keberadaan kita dan ia mempengaruhi segala sesuatu yang kita alami, ia memunculkan dua jenis duka yang pertama. Jadi ia mempengaruhi dan memunculkannya. Dan ini mengacu pada anasir-anasir gugusan yang berulang tanpa terkendali dari pengalaman kita. Jadi maksudnya raga dan cita kalau kita pahami secara sederhana dan serbaneka anasir batin dan hal-hal yang merekayasa tiap saat dari pengalaman kita. Yang berlangsung dari saat ke saat, bukan cuma di masahidup sekarang ini saja, tapi di seluruh masahidup yang ada. Semua itu berasal dari perasaan-perasaan gelisah dan karma yang terbina olehnya dan semua itu mengandung lebih banyak perasaan gelisan dan karma dan akan terus berkelanjutan lebih lama lagi. Kesemua itu kemudian membentuk dasar bagi lingkung yang di dalamnya kita mengalami dua jenis duka pertama: ketakbahagiaan dan kebahagiaan yang biasa – yang naik dan turun setiap waktu – kebahagiaan dan ketakbahagiaan; dan ini berulang dan tentu saja kita tidak tahu sama sekali apa kita akan merasa bahagia atau tidak bahagia pada saat berikutnya. Jadi itulah duka sejati di sini, pada tingkat menengah ini.

Sebabnya adalah perasaan-perasaan gelisah dan karma yang terbina olehnya. Dan pada tingkat yang lebih dalam, ia merupakan ketaksadaran kita atas bagaimana kita ada dan orang lain ada dan segala sesuatu ada. Ini biasanya diterjemahkan sebagai "kebodohan" tapi saya keberatan dengan terjemahan itu karena itu menyiratkan bahwa kita bodoh. Tidak berarti bahwa kita bodoh. Ada dua tafsir untuk makna kata tersebut – entah itu kita memang tidak tahu bagaimana kita mengada atau kita memahaminya dengan cara yang terbalik. Tapi tentu itu tidak berarti bahwa kita bodoh. Jadi itulah sebab sejati dari kelahiran kembali kita yang berulang tanpa terkendali dalam samsara. Itulah maksud samsara dan penghentian sejati dari hal tersebut adalah kebebasan dan jalan sejati yang membimbing kita ke sana adalah tiga pelatihan yang lebih tertinggi. Jadi sila dan samadhi yang tertinggi, kesadaran pembeda yang tertinggi. Jadi itulah lingkup menengah seperti yang disajikan dalam kerangka kebenaran yang mulia.

Kemudian jika kita lihat lingkup lanjutnya, duka sejati itu mengacu di sini pada kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali dari setiap orang, bukan aku saja. Jadi, tiga jenis duka sejati untuk setiap orang dan kita harus memasukkan di sini ketidakmampuan saya untuk dapat menolong mereka mengatasi ini. Dan sebab-sebab sejati dari duka setiap orang lain tentu saja sama dengan sebab-sebab yang sebenarnya dari duka saya sendiri pada tingkat menengah. Tapi jika saya melihat hal yang menjadi sebab sejati dari ketidakmampuan saya untuk dapat menolong mereka sebaik mungkin, ya, pada satu tingkat kita dapat mengenalinya sebagai sikap mementingkan diri sendiri, kepedulian saya tentang diri saya sendiri saja, ya, memang itu ada. Walaupun kalau kita pikirkan sedikit lebih dalam, kita harusnya sudah menanggalkannya pada tingkat menengah, dalam hal perasaan gelisah dan memasukkannya di sana.

Saya mesti bilang bahwa sedikit sulit untuk memahami bagaimana kita akan peduli diri sendiri saja kalau pada faktanya kita telah menghapuskan semua perasaan gelisah kita. Sukar dipahami kalau kita telah menghapuskan kemelekatan terhadap diriku sendiri dan kalau aku telah mengenyahkan keluguan tentang keadaan orang lain, bagaimana mungkin aku masih mementingkan diri sendiri, peduli diri sendiri saja. Sekalipun kita bilang, "Ya, aku hanya peduli pada diriku sendiri karena aku pikir aku tidak betul-betul bisa menolong setiap orang; aku pikir aku tidak mampu betul-betul menjadi seorang Buddha," masih bisa dibantah bahwa itu pun suatu wujud keluguan. Biar saya ulangi: Jika kita berpikir bahwa "Aku tidak mampu menjadi seorang Buddha" maka...dan untuk alasan itu aku hanya peduli pada hal pembebasan diriku saja, saya rasa hal itu juga dapat dibantah sebagai wujud keluguan, keluguan dari sifat-Buddha.

Tapi bagaimanapun juga kita bisa menaruh sikap peduli diri sendiri sebagai sebab sejati di sini. Tapi lebih penting lagi, kita perlu menaruh di sini fakta bahwa cita kita membuat segala hal tampak dalam cara-cara yang mustahil. Cita kita membuat segala hal tampak seolah mereka betul-betul mapan, betul-betul ada dari sisinya sendiri. Nah, tanpa masuk pada rincian mengenai hal itu – saya tahu itu bisa terdengar seperti jargon – tapi cita kita membuat segala hal tampak, sederhananya, seolah mereka ada oleh dirinya sendiri, terangkum di dalam plastik. Karena itu, kita tak bisa melihat kesaling-kaitan segala sesuatu. Khususnya dalam hal hubungan-hubungan sebab dan akibat. Jadi kita tidak mampu melihat semua sebab mengapa seseorang bisa seperti apa ia adanya dan mengapa mereka mengalami semua masalah yang mereka alami sekarang. Dan kita tidak bisa memperkirakan semua akibat yang akan muncul dari mengajarkannya ini dan itu. Karena ketika kita lihat orang itu, yang tampak hanyalah orang yang di hadapan kita dan kita pikir itulah itu. Mereka ada saja di situ, oleh diri mereka sendiri, mandiri dari seluruh hubungan yang mereka punya, dari semua sebab dan semacamnya dan kita tidak tahu sama sekali apa akibat dari apapun yang kita ajarkan pada orang ini. Jadi, karena itu kita tidak tahu cara terbaik untuk menolong mereka. Itulah sebab dari ketidakmampuan kita untuk menolong setiap orang – fakta bahwa cita kita membuat segala hal tampak ada dalam cara yang mustahil ini, seolah mereka ada oleh dirinya sendiri saja.

Penghentian sejati dari hal itu adalah tataran mahatahu dari seorang Buddha; seorang Buddha mampu melihat kesaling-kaitan segala sesuatu. Oleh karena itu, ia tahu apa yang betul-betul menjadi masalah bagi orang ini, apa saja semua anasir yang telah mempengaruhinya, dan apa cara terbaik untuk menolong orang ini. Apakah jalan sejati yang akan membimbing kita ke sana? Jawabannya, pemahaman akan sunyata, tapi bukan cuma dengan daya penyerahan di baliknya, tapi dengan daya bodhicita. Jadi kita butuh keduanya: penyerahan dan bodhicita, sebagai daya dari cita yang memahami sunyata. Tentu saja untuk mengembangkan bodhicita kita perlu mengembangkan keseimbangan batin, kasih, welas asih, dsb. – enam sikap menjangkau-jauh dan semua ajaran yang dapat kita temukan di dalam lingkup lanjut ini. Jadi, bagaimana menyatukan empat kebenaran mulia bersama tiga lingkup tersebut?

Orang mungkin bisa berpikir, ya, pintar juga. Baik, sekarang saya telah memahami sedikit lebih dalam tentang tiga lingkup ini – tapi apa saya sudah betul-betul melampaui Dharma-Sari? Mungkin belum. Setidaknya belum di suatu tingkat perasaan. Saya baru memahami cara kerja Dharma-Sari di masahidup sekarang ini jauh lebih mendalam. Lebih mendalam dari sekadar mengetahui isi daftar-daftarnya. Jadi agar benar-benar mampu untuk memadukan tiga tingkat rangka-kerja batin pendorong ini, untuk benar-benar meyakininya, untuk benar-benar berlaku dalam sikap seperti itu, maka kita harus kembali ke pengertian kita atas dorongan. Ingat, ada dua segi. Ada tujuan. Apa yang kita tuju? Dan apa perasaan yang menggerakkan kita untuk mencapai tujuan itu? Dan untuk mengarah ke tujuan itu merupakan sebuah keharusan. Kalau kita hendak tulus, kita tidak hanya paham tahu dengan jelas apa tujuan itu sebenarnya dan apa maknanya, tapi juga yakin teguh bahwa tujuan itu mungkin dicapai. Kalau kita tidak yakin bahwa tujuan itu mungkin dicapai dan selain itu, bukan cuma berkata "Ya, Buddah memang bisa mencapainya, tapi aku tidak" – jadi kita perlu yakin bahwa bukan hanya itu bisa dicapai, tapi bahwa aku bisa mencapainya.

Ketika kita yakin bahwa mencapai tujuan itu adalah hal yang mungkin dan aku mampu mencapai tujuan ini maka kita bisa dengan tulus membidiknya sebagai sasaran kita. Kalau tidak, itu cuma main-main namanya. Cuma harapan kosong saja. Pokok ini berasal dari penyajian Nagarjuna dalam tinjauannya atas bodhicita, yang di dalamnya ada dikatakan bahwa mereka yang punya kecerdasan tajam akan mengembangkan bodhicita terlebih dahulu, yang mengacu pada pemahaman akan sunyata. Lalu setelahnya, bodhicita nisbi, yaitu penujuan ke pencerahan agar dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Karena ketika Anda mengembangkan bodhicita terdalam lah, dengan kata lain pemahaman akan sunyata, baru Anda yakin bahwa kebebasan dan pencerahan itu mungkin. Dan kemudian Anda mampu mengembangkan bodhicita nisbi, keinginan untuk mencapainya agar menjadi manfaat bagi orang lain. Jadi itu untuk mereka yang punya kemampuan tertajam. Dan bagi mereka yang kemampuannya lebih biasa, pertama Anda kembangkan keinginan untuk mencapai pencerahan untuk menjadi manfaat bagi orang lain – bodhicita nisbi – dan kemudian perlahan-lahan Anda kembangkan bodhicita terdalam, pemahaman akan sunyata, sebagai cara atau pemahaman yang akan betul-betul membawa kebebasan dan pencerahan. Jadi, Nagarjuna kemudian berkata, "Aku akan menjelaskan tinjauan bodhicita ini dari sudut pandang mereka yang punya kecerdasan tertajam." Oleh karena itu ia menjelaskan bodhicita terdalam terlebih dahulu.

Jadi, inilah yang perlu kita terapkan kembali ke lam-rim untuk betul-betul mengembangkan Dharma "sejati". Kita harus yakin bahwa kelahiran kembali itu ada, yang berarti yakin bahwa kesinambungan batin itu tidak berpangkal dan tidak berujung dan karenanya kita hendak bertujuan memperoleh kelahiran kembali yang lebih baik. Karena kesinambungan batin ini akan terus berlanjut, kita yakin penuh terhadapnya. Kemudian kita harus, pada lingkup menengah, pertama-tama yakin penuh bahwa kebebasan itu mungkin, yang berarti pemahaman bahwa penghentian sejati – kebenaran mulia yang ketiga – dari perasaan gelisah, ketaksadaran, dan karma itu ada. Jadi itu berarti kita harus yakin akan kemurnian kesinambungan batin. Ia tidak ternoda, sebagai bagian dari sifatnya, oleh ketaksadaran, perasaan gelisah, dan seterusnya. Dan pada lingkup lanjut kita mesti yakin bahwa pencerahan itu mungkin. Dengan kata lain, kembali pada telaah empat kebenaran yang mulia tadi, bahwa mengenyahkan pembuatan wujud yang keliru itu mungkin terjadi. Bahwa ini pun merupakan sebuah noda yang lekas berlalu. Membuat wujud cara mengada yang mustahil itu bukan bagian dari sifat cita. Bahwa cita, kesinambungan batin, murni dari hal itu juga.

Jadi inilah yang perlu kita upayakan agar betul-betul memadukan dan menyatukan tiga lingkup ini ke dalam diri kita – sebuah keyakinan bahwa tiga tujuan ini mungkin diperoleh dan aku bisa memperolehnya. Dan kalau Anda pikir-pikir, apa yang baru saja kita bicarakan ini? Kita sudah bicara tentang ajaran-ajaran mengenai sifat-Buddha. Dan Gampopa dalam Permata Hiasan Kebebasan karyanya memulai dengan hal itu. Bahwa inilah yang memampukan keseluruhan proses ini. Jadi Gampopa memberi petunjuk persis pada apa yang baru saja kita bicarakan dengan langkah terakhir ini. Tentu, kita harus mengisi sejumlah besar kedalaman ajaran yang lebih lagi atas sifat-Buddha pada apa yang disajikan Gampopa dalam naskahnya. Tapi ia menunjukkan pentingnya pemahaman ini di awal agar benar-benar dapat mengembangkan semua jalan cita lain yang mengikutinya, pada tingkat yang tulus. Dan bagaimana ini biasanya digambarkan? Ya, kita perlu memahami sifat-Buddha untuk memberi kita semangat. Bahwa itu mungkin. Jadi inilah persisnya yang dibicarakan Nagarjuna. Pembuluh dari ilham tersebut tentulah sang guru, guru rohani.

Jadi inilah begitu banyak hal yang perlu dipadukan dalam pembahasan lam-rim. Jadi, kita akan akhiri di sini untuk malam ini. Dan kemudian esok saya hendak mulai pembahasan mendalam tentang bagaimana kita menjadi yakin bahwa kesinambungan batin kita tidak berawal dan tidak berakhir, bahwa kebebasan itu mungkin, dan bahwa pencerahan itu mungkin. Ini, menurut saya, adalah pokok-pokok paling inti untuk benar-benar mendapatkan lam-rim "sejati", bukan hanya corak "Dharma-Sari" dari lam-rim.

Saya rasa ini sudah agak larut dan ada dari Anda yang harus menggunakan sarana angkutan umum, yang saya tahu pasti sulit jika sesi kita berlangsung terlalu larut. Jadi tidak akan ada sesi tanya-jawab untuk malam ini. Tapi besok, saat waktu kita lebih banyak, kita akan buka kesempatan untuk pertanyaan.

Jadi, mari kita akhiri dengan sebuah persembahan. Kita pikirkan bahwa apapun pemahaman, apapun daya positif yang muncul dari ini, semoga itu merasuk semakin dan semakin dalam dan berlaku sebagai sebab bagi pencapaian kita akan pencerahan untuk mampu memberi manfaat bagi semua.

Terima kasih.