Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 2: Bahan Lam-rim (Bertahap) > Mengikuti Dharma dan Menghindari Penderitaan

Mengikuti Dharma dan Menghindari Penderitaan

Tsenzhab Serkong Rinpoche I
New Delhi, India, December 7, 1979
diterjemahkan oleh Alexander Berzin, disunting oleh Nicholas Ribush
direvisi sedikit oleh Alexander Berzin, 2003.

Mengenali Penderitaan

Kata Dharma dalam bahasa Sansekerta atau chö (chos) dalam bahasa Tibet mempunyai arti menahan atau menopang. Apa yang ditopang atau dipertahankan? Pelenyapan penderitaan dan pencapaian kebahagiaan. Dharma melakukan ini bukan hanya untuk kita tetapi untuk semua makhluk hidup juga.

Penderitaan yang kita alami ada dua tipe: penderitaan yang segera terlihat oleh kita sebagai manusia dan yang tidak bisa kita lihat tanpa kekuatan adi-inderawi. Penderitaan yang pertama meliputi rasa sakit yang terlibat dalam proses kelahiran, ketidaknyamanan karena terserang penyakit, kesengsaraan karena beranjak tua dan penuaan, dan rasa takut akan kematian.

Penderitaan yang ada setelah kematian tidak terlihat oleh orang biasa. Kita mungkin berpikir setelah kita mati, kita akan terlahir kembali sebagai manusia. Bagaimanapun juga, pemikiran seperti ini tidak penting karena tidak ada alasan yang masuk akal bagi kita untuk menanggap perkembangan seperti itu akan terjadi dan demikian juga dengan pemikiran bahwa setelah mati kita tidak akan dilahirkan kembali sama sekali.

Sangat sulit untuk mengetahui bentuk kelahiran kembali yang akan kita dapatkan kelak karena hal ini berada di luar jangkauan pengetahuan kita saat ini. Jika kita menghasilkan karma positif selama hidup ini maka kita akan mendapat bentuk kelahiran kembali yang menyenangkan di masa depan. Sebaliknya, jika kita banyak menghasilkan karma negatif, kita tidak akan mendapat kelahiran kembali yang menyenangkan, namun akan mengalami kesulitan yang hebat di alam-alam rendah. Ini pasti. Kelahiran kembali bekerja dengan cara demikian. Jika kita menanam biji gandum maka yang tumbuh adalah tanaman gandum. Jika kita menanam beras maka yang tumbuh adalah padi. Demikian juga dengan menghasilkan karma negatif maka itu sama saja dengan menanam benih kelahiran kembali di salah satu dari tiga alam rendah sebagai makhluk penghuni neraka, hantu kelaparan atau hewan.

Ada empat keadaan atau alam neraka berbeda (alam-alam tanpa kegembiraan): panas, dingin, berdekatan dan berkala. Untuk pembagian lebih lanjut, neraka panas dibagi lagi menjadi delapan. Neraka panas tingkat pertama dikenal sebagai Neraka Pembaruan. Neraka ini secara relatif bisa dibilang sebagai salah satu yang paling sedikit penderitaannya. Untuk memahami tingkatan penderitaan di neraka ini, rasa sakit yang dirasakan oleh orang yang terperangkap dalam kebakaran besar akan terasa ringan dibandingkan dengan kesengsaraan yang dialami oleh makhluk yang berada di neraka panas tingkat pertama. Tiap tingkat neraka di bawah Neraka Pembaruan akan bertambah hebat derajat kesengsaraannya.

Meskipun penderitaan para makhluk penghuni neraka dan hantu kelaparan tidak terlihat oleh kita namun penderitaan para hewan bisa terlihat dengan mata kita. Jika kita ingin tahu apa yang terjadi kalau kita terlahir kembali sebagai hewan maka kita bisa melihat hewan di jalanan dan binatang beban di sekitar kita di India dan berpikir seperti apa rasanya mempunyai kondisi seperti mereka. Dharma adalah apa yang menahan dan melindungi kita dari penderitaan di alam-alam rendah ini.

Segenap cakra kelahiran kembali, keseluruhan dari kehidupan berulang yang tak terkendali (samsara), mempunyai sifat dasar penderitaan. Dharma adalah apa yang menjaga kita dari semua penderitaan samsara. Selain itu, Dharma Mahayana, ajaran dari Wahana Besar, membawa perlindungan tidak hanya bagi kita namun untuk semua makhluk terbatas juga.

Mengambil Haluan Aman Perlindungan

Dalam ajaran Buddha, kita sering mendengar tentang Tiga Permata Perlindungan – Buddha, Dharma, dan Sangha. Yang pertama dari ketiga ini meliputi semua makhluk yang tercerahkan sepenuhnya, yang mengajarkan Dharma. Buddha Shakyamuni, yang memutar cakra Dharma untuk pertama kalinya di Varanasi dengan mengajarkan empat kebenaran mulia, adalah yang paling penting bagi kita. Yang terakhir dari empat kebenaran – jalan benar – adalah Dharma yang dipraktekkan untuk mencapai pembebasan. Inilah sasaran perlindungan haluan aman yang dinamakan Permata Dharma.

Latihan Dharma memerlukan dua hal: mengenali akar dari penderitaan samsara dan mencabut akar ini. Apa akar dari kehidupan berulang? Akar itu adalah penggenggaman akan konsep diri yang sejati dan konsep keberadaan sejati dari perwujudan. Kita perlu untuk mengembangkan penolakan terhadap penggenggaman tersebut yang membawa penderitaan bagi kita semua. Kita harus mengembangkan pemahaman tentang penangkal racun dari penggenggaman akan adanya keberadaan yang sejati. Penangkal racun ini adalah kebijaksanaan (kesadaran yang membedakan) akan ketiadaan diri atau ketiadaan identitas. Pemahaman ketiadaan diri inilah yang akan membebaskan kita dari penderitaan.

Penderitaan yang kita alami dalam samsara tidak terjadi tanpa sebab. Penderitaan tersebut disebabkan oleh perasaan dan sikap yang gelisah (khayalan) serta karma yang diciptakan oleh perasaan dan sikap yang gelisah itu. Akar dari semua perasaan dan sikap yang gelisah serta karma adalah pengenggaman akan adanya diri. Ketika kita memahami hal ini, kita menginginkan penangkal racun untuk pengenggaman akan adanya diri. Mengapa kita belum mengembangkan penangkal racun itu dalam kesinambungan cita kita? Mengapa kita tidak memahami ketiadaan diri? Ada satu alasannya yaitu kita tidak benar-benar cukup sadar akan kematian dan ketidaktetapan.

Kematian dan Ketidaktetapan

Satu-satunya hal yang didapat dari kelahiran adalah kematian. Kita pasti akan mati. Tidak ada makhluk hidup yang hidupnya tidak berakhir dengan kematian. Banyak orang mencoba banyak cari untuk mencegah kematian, tetapi hal itu mustahil. Tidak ada obat yang bisa menghindarkan kita dari kematian.

Dengan hanya berpikir, "Saya akan mati," bukanlah cara yang benar untuk merenungkan kematian. Tentu saja, setiap orang akan mati, tapi hanya berpikir seperti belaka tidak cukup kuat. Itu bukanlah cara yang tepat. Begitu juga dengan hanya memikirkan fakta bahwa kita akan terurai dan merosot, bahwa tubuh kita akan membusuk, tidaklah cukup. Apa yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya untuk mencegah kehancuran kita.

Jika kita berpikir tentang rasa takut yang akan tiba pada waktu kematian dan tentang bagaimana caranya untuk melenyapkan rasa takut itu, maka meditasi kematian kita akan menjadi ampuh. Orang-orang yang mengumpulkan banyak sekali karma negatif semasa hidup akan menjadi begitu ketakutan pada saat menjelang kematian. Mereka menangis, air mata mengalir ke pipi mereka, air liur keluar dari mulut mereka, mereka mengeluarkan kotoran dalam pakaian mereka dan mereka benar-benar kewalahan. Hal-hal tersebut merupakan tanda yang jelas akan penderitaan yang terjadi pada waktu kematian yang disebabkan oleh rasa takut karena tindakan-tindakan negatif yang dilakukan semasa hidup.

Lain halnya jika kita semasa hidup menahan diri dari melakukan tindakan-tindakan negatif, maka kita akan mudah menghadapi kematian. Pengalaman tersebut akan terasa menyenangkan seperti seorang anak yang pulang ke rumah orang tuanya. Jika kita sudah memurnikan diri kita, kita bisa mati dengan bahagia. Dengan menahan diri dari melakukan sepuluh tindakan negatif dan membudidayakan kebalikannya, sepuluh tindakan membangun, kematian kita akan nyaman dan sebagai hasilnya kita tidak perlu untuk mengalami kelahiran kembali dalam kondisi yang menderita. Bisa dipastikan kita akan terlahir kembali dalam keadaan yang lebih beruntung. Dengan menanam benih dari tanaman obat maka kita mendapatkan pohon dengan keampuhan untuk mengobati, dengan menanam benih dari pohon beracun, kita hanya akan mendapatkan buah yang membahayakan. Jika kita menanam benih dari tindakan yang membangun dalam kesadaran kita, maka kita akan mengalami kebahagiaan dalam kelahiran kembali di masa depan. Kita akan mempunyai keadaan jiwa dan raga yang menguntungkan. Ajaran mendasar dari Dharma ini – hindari tindakan merusak dan membudidayakan tindakan yang membangun – tidak hanya diberikan di dalam ajaran Buddha namun juga di banyak agama lain termasuk agama Kristen.

Bagaimana cara kita merenungkan kematian dan ketidaktetapan? Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dengan hanya berpikir, "Saya akan mati," tidaklah begitu bermanfaat. Kita perlu berpikir, "Jika saya sudah melakukan salah satu saja dari sepuluh tindakan merusak, saat kematian saya akan menghadapi ketakutan dan penderitaan yang teramat sangat, dan sebagai hasilnya saya akan berpindah menuju kelahiran kembali yang penuh dengan ketidakberuntungan. Di lain pihak, jika selama hidup, saya menghasilkan daya positif (pahala), maka saat kematian saya tidak akan mengalami rasa takut atau penderitaan dan akan terlahir kembali pada keadaan yang lebih menguntungkan" Itu adalah cara yang benar untuk merenungkan kematian.

Meditasi ini tidak melulu hanya pikiran yang suram dan pesimis seperti, "Saya akan mati dan tidak ada hal yang bisa saya lakukan". Lebih baik kita berpikir apa yang akan terjadi saat kita mati. "Kemanakah saya akan pergi setelah kematian? Sebab-sebab macam apa yang telah aku hasilkan? Bisakah saya membuat kematian saya menyenangkan? Bagaimana caranya? Bisakah saya membuat kelahiran kembali saya di masa depan menyenangkan? Bagaimana caranya?"

Ketika merenungkan kelahiran kembali di masa depan, kita perlu mengingat bahwa tidak ada tempat di dalam samsara yang bisa diandalkan. Tidak peduli raga apa yang kita ambil, raga itupun akhirnya akan meninggal. Dalam sejarah kita mengetahui ada orang-orang yang hidup sampai seratus atau bahkan seribu tahun. Tetap saja, tidak peduli seberapa menakjubkan kisah tersebut, tidak ada kejadian tentang seseorang yang tidak mati. Jenis raga apa pun yang kita dapatkan adalah sasaran kematian.

Tidak juga kita bisa pergi ke suatu tempat di mana kita bisa lolos dari kematian. Tidak peduli di manapun kita berada, ketika saatnya telah tiba, kita tetap akan mati. Tidak ada obat, mantra atau latihan yang akan membantu. Operasi bedah mungkin bisa menyembuhkan beberapa penyakit tertentu yang ada di tubuh kita tetapi tidak ada yang bisa mencegah kematian.

Tidak peduli apa jenis kelahiran kembali yang kita dapat, itu tetap menjadi sasaran kematian. Prosesnya terjadi terus menerus. Merenungkan efek jangka panjang akan tindakan kita dan bagaimana proses dari kelahiran, kehidupan, kematian dan kelahiran kembali yang terjadi secara terus menerus akan membantu kita menghasilkan banyak karma positif.

Meskipun terkadang kita membuat rencana untuk mepraktekkan Dharma, kita biasanya berencana untuk melakukannya besok atau lusa. Bagaimanapun juga, tidak ada di antara kita yang tahu kapan kita akan mati. Jika kita punya jaminan bahwa kita akan hidup untuk seratus tahun, maka kita bisa dengan bebas mengatur latihan kita. Tetapi tidak ada sedikitpun kepastian kapan kita akan mati. Menunda latihan kita merupakan hal yang sangat bodoh. Beberapa manusia mati di dalam rahim sebelum mereka lahir, yang lain mati saat bayi sebelum mereka belajar berjalan. Tidak masuk akal jika kita merasa pasti akan berumur panjang.

Raga kita sangat rapuh. Jika raga ini terbuat dari batu atau besi, mungkin mereka bakal memberikan perasaan kukuh. Tetapi jika kita amati, kita akan melihat bahwa raga manusia itu sangat lemah. Sangat mudah untuk terjadi hal yang tidak beres. Ini seperti sebuah arloji rumit yang terbuat dari bagian-bagian kecil yang tak terhitung banyaknya. Raga ini tidak bisa dipercaya. Ada banyak keadaan yang bisa menjadi penyebab kematian kita: keracunan makanan, gigitan seekor serangga kecil, atau bahkan tusukan duri beracun. Kondisi-kondisi kecil seperti itu bisa membunuh kita. Makan dan minuman yang kita gunakan untuk memperpanjang hidup kita dapat menjadi keadaan yang mengakhiri hidup kita. Tidak ada kepastian sama sekali kapan kita mati, atau keadaan apa yang menjadi penyebab kematian kita.

Bahkan jika kita merasa yakin bahwa kita bakal hidup selama seratus tahun, banyak tahun dalam rentang tersebut sudah berlalu dan kita belum menyelesaikan banyak hal. Kita mendekati kematian seperti seorang pria yang tidur dalam gerbong kereta sehingga tidak sadar bahwa semakin lama dia semakin mendekati tujuan. Sedikit yang bisa kita perbuat untuk menghentikan proses ini. Kita hanya terus-menerus semakin dekat kepada kematian.

Tidak peduli berapa banyak uang, perhiasan, rumah atau pakaian yang kita kumpulkan semasa hidup, tidak akan membuat perbedaan apapun pada waktu kematian kita. Ketika kita mati, kita akan pergi dengan tangan kosong. Benda sekecil apapun itu tidak bisa kita bawa. Raga sendiripun harus ditinggalkan. Raga dan cita berpisah dan cita melanjut sendiri. Bukan hanya mustahil untuk membawa benda-benda milik kita, kita bahkan tidak bisa membawa raga kita.

Karma

Apa yang menyertai kesadaran setelah kematian? Jika kita harus meninggalkan raga kita, teman-teman kita dan semua milik kita, apakah ada bantuan atau apapun juga yang menyertai kesadaran kita menuju kehidupan selanjutnya?

Ada sesuatu yang mengikuti kesadaran setelah kematian: warisan karma (benih karma) yang kita kumpulkan dalam kehidupan ini. Jika kita telah melakukan salah satu saja dari sepuluh karma negatif, sebuah warisan karma negatif atau hutang karma akan menyertai arus kesinambungan cita selagi mereka menuju kelahiran kembali yang berikut. Dengan membunuh makhluk lain, mencuri kepunyaan orang lain, menikmati pelecehan seksual, warisan karma negatif dari tindakan-tindakan merusak lewat raga tersebut akan tersimpan di cita. Dengan berbohong, menghina orang lain dan menyebabkan perpecahan diantara orang-orang, melukai orang lain dengan kata-kata, atau berbicara tanpa makna, hutang karma negatif dari tindakan negatif lewat ucapan tersebut akan mengikuti kita pada waktu kematian. Jika kita mempunyai banyak pikiran serakah, sering mengingini kepunyaan orang lain; jika kita punya niat jahat pada orang lain, mengharap mereka disakiti atau celaka; atau jika kita mempunyai pandangan keliru seperti "tidak ada kehidupan lampau atau berikut," "tidak ada hal seperti sebab dan akibat," "tidak ada hal seperti haluan aman perlindungan," tindakan-tindakan negatif lewat cita ini akan menghasilkan warisan karma negatif yang akan mengikuti dan mengarahkan cita kita menuju kelahiran kembali yang berikut.

Hal yang sebaliknya juga berlaku. Jika kita melakukan tindakan yang positif dan berpaling dari perbuatan negatif, warisan karma dengan energi positif akan menyertai arus-arus cita kita dan menghasilkan keadaan yang lebih baik untuk kehidupan kita yang mendatang.

Ketika kita sungguh berpikir tentang situasi kita, kita akan memutuskan untuk berusaha dengan segenap cara untuk menghasilkan karma positif dan melenyapkan hal yang berlawanan. Kita perlu untuk berusaha membersihkan diri kita dari sebanyak mungkin negatifitas, tidak meninggalkan bahkan hutang karma yang paling kecil sekalipun untuk dibayar di kehidupan mendatang.

Kita perlu melihat seperti apakah tipe reaksi yang bisa terjadi dalam hukum sebab dan akibat. Ada kisah tentang seseorang yang punya banyak sekali sifat baik tetapi kasar dalam tutur katanya. Dia memaki orang lain dengan berkata, "Kamu berbicara seperti seekor anjing." Sebagai akibatnya, dia sendiri terlahir kembali sebagai seekor anjing sebanyak lima ratus kali. Tindakan yang kelihatannya sepele bisa berakibat besar.

Begitu juga, tindakan positif yang sangat kecil bisa berakibat besar. Ada kisah tentang seorang anak kecil yang memberi persembahan sederhana kepada Buddha dan sebagai akibatnya, dia terlahir kembali sebagai raja Ashoka yang agung, yang mendirikan ribuan tugu peringatan Buddha dan melakukan tindakan luhur yang tak terhitung banyaknya.

Penyerahan dan Welas Asih

Merenungkan berbagai jenis tindakan merusak yang telah kita lakukan dan akibatnya adalah cara yang sangat berguna untuk memastikan kesejahteraan dan kebahagiaan kita. Jika kita berpikir akan penderitaan yang akan kita alami sebagai akibat dari keburukan kita sehingga kita memunculkan keinginan yang sangat kuat untuk tidak mengalami kesengsaraan seperti itu, berarti kita telah mengembangkan apa yang dinamakan "penyerahan".

Memperkenalkan diri kita sendiri dengan pemikiran seperti ini adalah salah satu bentuk dari meditasi. Pertama, kita perlu mengembangkan kewaspadaan akan penderitaan kita; lalu kita perlu meluaskan kewaspadaan ini kepada semua makhluk hidup. Pikirkan bagaimana semua makhluk tidak ingin menderita namun masih terperangkap dalam bahaya penderitaan. Pemikiran seperti ini akan menuntun kita pada rasa welas asih. Kalau kita tidak berkeinginan untuk bebas dari penderitaan kita sendiri, bagaimana kita bisa menginginkan makhluk lain untuk terbebas dari penderitaan mereka sendiri? Kita bisa mengakhiri segala penderitaan kita, namun ini pun tidak benar-benar bermanfaat. Kita perlu memperluas keinginan ini untuk semua makhluk hidup yang juga menginginkan kebahagiaan. Kita bisa melatih cita kita dan mengembangkan keinginan agar setiap orang sepenuhnya berpisah dengan penderitaannya. Pemikiran seperti ini lebih luas dan bermanfaat.

Mengapa kita perlu memperhatikan makhluk hidup lain? Karena kita menerima begitu banyak hal dari makhluk lain. Misalnya, susu yang kita minum berasal dari kebaikan sapi dan kerbau, baju hangat yang melindungi kita dari kedinginan dan angin berasala dari wol domba dan kambing dan seterusnya. Itu hanyalah beberapa alasan mengapa kita perlu untuk berusaha menemukan cara yang bisa melenyapkan penderitaan mereka.

Tidak peduli apa jenis latihan yang kita lakukan – penjapaan mantra atau berbagai jenis meditasi – kita perlu untuk tetap membawa pemikiran, "Semoga yang saya lakukan ini bermanfaat untuk semua makhluk." Hal ini akan secara alami membawa manfaat untuk kita juga. Situasi dalam hidup kita sehari-hari bisa memberi kita pengertian akan hal ini. Sebagai contoh, jika seseorang sangat egois dan hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri, dia tidak akan disukai oleh orang lain. Di sisi lain, seseorang yang sangat baik hati dan selalu berpikir untuk membantu orang lain biasanya disukai oleh setiap orang.

Pemikiran yang perlu dikembangkan dalam arus kesadaran kita adalah, "Semoga setiap orang bahagia dan tidak ada yang menderita." Kita harus berusaha untuk menjadikan hal ini sebagai bagian dalam pikiran kita dengan cara mengingatnya terus menerus. Hal ini bisa sangat bermanfaat. Para makhluk di masa lampau yang mengembangkan pemikiran seperti ini, sekarang mereka adalah para Buddha, bodhisattwa, atau orang suci; semua pria dan wanita yang sungguh-sungguh agung di dunia mendasarkan dirinya pada hal ini. Betapa indahnya jika kita membangkitkannya untuk diri kita sendiri!

Karma Menyakiti Orang Lain untuk Melindungi yang Kita Cintai

Pertanyaan: Apakah kita dianjurkan untuk tidak mempertahankan diri ketika seseorang berusaha menyakiti kita?

Rinpoche: Pertanyaan ini menyangkut pokok persoalan yang sangat luas. Jika seseorang memukul kepala anda dengan pentung atau tongkat, tanggapan yang terbaik adalah bermeditasi bahwa anda mengalami hal ini karena akibat tindakan buruk anda di masa lalu. Pikirkan bagaimana orang ini membolehkan warisan karma tersebut matang sekarang ketimbang di waktu lain di masa depan. Anda perlu merasa bersyukur karena dia telah melenyapkan hutang karma negatif ini dari kesinambungan cita Anda.

Pertanyaan: Bagaimana jika seseorang menyerang istri atau anak saya yang ada di bawah perlindungan saya? Apakah saya akan membela mereka? Akankah itu akan menjadi sebuah tindakan negative untuk dilakukan?

Rinpoche: Karena melindungi istri dan anak Anda adalah tugas dan tanggung jawab Anda, maka Anda harus berusaha untuk melakukannya dengan cara yang semahir mungkin. Anda perlu bertindak dengan cerdas. Yang terbaik adalah melindungi mereka tanpa melukai si penyerang. Dengan kata lain, Anda perlu menemukan cara untuk melindungi mereka yang mana tidak menimbulkan kerugian apapun.

Pertanyaan: Dia bisa menyakiti anak-anak saya, tetapi saya tidak boleh menyakiti dia? Bukan itu adalah tugas kita untuk membela anak-anak kita dari tindakan biadab dan kejam? Haruskah kita hanya menyerahkan kehidupan kita begitu saja?

Rinpoche: Untuk menangani situasi seperti ini dengan mahir, Anda membutuhkan keberanian yang luar biasa. Ada sebuah kisah tentang kehidupan lampau Buddha sebagai pengemudi kapal yang pergi ke laut bersama kelompok yang berjumlah lima ratus orang dalam rangka mencari harta karun. Ada seorang pria dalam kelompok ini yang sangat tamak, dan untuk mencuri semua permata buat dirinya sendiri, dia berencana untuk membunuh lima ratus orang itu. Bodhisattwa (Buddha Shakyamuni dalam kehidupan lampau) sadar akan hal ini dan jika situasi ini dibiarkan berlanjut, maka seorang pria akan membunuh lima ratus orang. Oleh karena itu, dia mengembangkan keberanian yang sangat besar untuk menyelamatkan lima ratus orang dengan cara membunuh pria itu, dan bersedia memikul tanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Jika Anda bersedia dilahirkan kembali di neraka supaya bisa menyelamatkan yang lain, maka Anda memiliki kebenarian yang luar biasa. Jadi Anda dapat melakukan tindakan ini seperti Buddha sendiri juga lakukan.

Pertanyaan: Dalam kondisi itu, apakah membunuh dikatakan sebagai tindakan negatif?

Rinpoche: Nagarjuna menulis dalam Surat kepada Teman bahwa jika seseorang melakukan keburukan untuk melindungi orang tuanya, anaknya, ajaran Buddha, atau Tiga Permata perlindungan, dia tetap harus menghadapi konsekuensinya. Perbedaannya ada pada sadar tidaknya Anda akan konsekuensinya dan bersedia untuk memikulnya untuk melindungi istri dan anak Anda tanpa pamrih. Jika Anda melukai musuh maka Anda akan mengalami kelahiran kembali yang menderita. Bagaimanapun juga, Anda perlu menghadapi hal ini dengan berpikir, "Saya akan mengambil penderitaan itu untuk diri saya sendiri sehingga istri dan anak saya tidak perlu menderita."

Pertanyaan: Jadi menurut ajaran Buddha, hal itu masih merupakan tindakan negatif?

Rinpoche: Melindungi istri dan anak Anda adalah tindakan positif yang membangun, tetapi melukai musuh adalah tindakan negatif dan merusak. Anda harus bersedia untuk menerima konsekuensi keduanya.

Pertanyaan: Rinpoche berkata bahwa jika seseorang melakukan karma negative, maka dia akan menderita di masa mendatang, tetapi jika seseorang melakukan hal yang baik, kebahagiaan akan mengikutinnya. Bisakah tindakan baik ini menuntun kepada keselamatan yang sepenuhnya dalam artian tidak mengalami kelahiran kembali lagi?

Rinpoche: Jika Anda ingin mencapai keselamatan, Anda harus mengikuti ajaran seutuhnya dan dengan tepat. Misalnya, jika Anda mengikuti jalan Kristen, Anda harus mengikuti ajaran Kristus dengan sempurna. Barulah keselamatan dalam Kristen itu memungkinkan. Yesus sendiri tidak bisa menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita; kita sendiri yang harus melakukan sesuatu. Kalau tidak begitu, mengapa Yesus menyuruh untuk tidak berbuat dosa? Kalau kita mengikuti dengan benar apa yang Yesus ajarkan, saya pikir keselamatan dalam Kristen itu mungkin. Kalau kita mengikuti dengan benar ajaran Buddha, "keselamatan" dalam Budda – pembebasan – adalah mungkin.