Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Dari Dua Kebenaran, Empat Kebenaran; dari Empat Kebenaran, Tiga Permata Mulia

Alexander Berzin
Kiev, Ukraina, Mei 2012

Sesi Satu: Dua Kebenaran

Pendahuluan

Terima kasih atas perkenalan yang indah ini. Saya sungguh senang bisa kembali ke Kiev. Kuliah malam ini diiklankan sebagai Awal Berputarnya Cakra Dharma, tapi sebenarnya saya ingin berbicara tentang satu unsur dari ajaran-ajaran utama yang Buddha ajarkan pertama kali.

Empat Kebenaran Mulia

Buddha hidup kira-kira dua ribu lima ratus tahun yang lalu di India, dan ia mengajarkan amat banyak macam hal karena ia memiliki banyak murid yang berbeda-beda dan ia selalu mengajar dengan cara yang paling pas agar mereka paham. Tapi hal pertama yang ia ajarkan adalah tentang wawasan dasar tentang bagaimana ia menjadi tercerahkan, dan ini berarti yang ia ajarkan adalah empat kebenaran mulia. Ini adalah fakta-fakta sesungguhnya tentang kehidupan yang orang-orang awam tidak akan melihatnya sebagai fakta, tapi makhluk-makhluk berkesadaran tinggi yang telah melihat kenyataan akan melihat bahwa fakta-fakta itu benar. Kita akan berbicara tentang hal ini secara lebih rinci besok, tapi sekadar menyebutkan empat kebenaran itu adalah:

  • Buddha berbicara tentang apa jenis-jenis duka yang dialami oleh setiap orang dalam kehidupan.
  • Apa sebab-sebab duka itu?
  • Lalu ia mengajarkan bahwa adalah mungkin bagi kita untuk benar-benar menyingkirkan masalah-masalah itu, untuk mencapai penghentian duka-duka itu sehingga mereka takkan pernah berulang kembali.
  • Dan kemudian ia mengajarkan tentang pemahaman yang akan membawa penghentian itu karena ini akan menyingkirkan sebab-sebab duka.

Inilah susunan dasar dari apa yang diajarkan Buddha, sehingga ia menyajikan itu lebih dulu.

Ketika kita melihat empat kebenaran mulia ini, mereka tidak berdiri secara terpisah dari hal lain, tapi ada dasar untuk itu, dan kemudian ada sesuatu yang akan mengikuti jika kita benar-benar memahami empat kebenaran ini. Jadi pada dasarnya, dalam kalimat yang sangat sederhana, dasar bagi empat kebenaran yang Buddha lihat, empat fakta kehidupan tersebut, adalah kenyataan.

Jika kita ingin meringkas ajaran Buddha dengan satu kata, maka seperti yang dikatakan salah seorang teman saya (ia juga adalah seorang guru Buddha), bahwa satu kata itu adalah realisme. Dengan kata lain, jika kita bisa melihat kenyataan, jika kita bisa memahami kenyataan dan menerimanya tanpa citra tentang hal-hal mustahil yang tidak nyata, maka kita akan mampu menghadapi masalah-masalah kita; kita akan mampu menghadapi keadaan-keadaan dalam hidup secara makul. Jadi ajaran-ajaran tentang kenyataan merupakan dasar bagi empat kebenaran itu, dan kenyataan memiliki beberapa tingkat tentang bagaimana hal-hal sebenarnya ada, bagaimana mereka bekerja, bagaimana mereka berjalan dalam kehidupan.

Jadi Buddha mengajarkan tentang hal itu.

Tiga Permata Mulia

Dan kemudian dari empat kebenaran mulia itu yang menjadi sangat jelas, yang muncul dari itu, adalah haluan mana yang hendak kita tempatkan dalam hidup kita untuk mengatasi duka dan masalah. Dan ini terangkum pada apa yang disebut dalam jargon Buddha Tiga Permata Mulia, biasanya dikenal dengan tiga kata Sanskerta: Buddha, Dharma, dan Sangha. Dan untuk menempatkannya ke dalam bahasa yang sederhana:

  • Dharma mengacu pada tujuan yang kita perjuangkan, tujuan untuk menyingkirkan masalah-masalah kita.

  • Buddha adalah orang-orang yang telah mencapai itu dan yang mengajarkan bagaimana kita melakukannya.

  • Dan Sangha kelompok orang-orang yang mengikuti ajaran-ajaran tersebut dan telah mencapai suatu tingkat keberhasilan tapi belum mencapai tujuan akhir.

Doa untuk Tujuh Belas Guru Nalanda

Yang Mulia Dalai Lama menulis sebuah naskah yang sangat indah yang merupakan permohonan ilham dari tujuh belas guru Buddha dari wihara Buddha India yang paling besar ini, yang menyerupai sebuah universitas. Nalanda namanya. Ini adalah universitas yang paling terkenal. Universitas ini dijalankan seperti wihara, dan bertahan selama sekitar seribu tahun – saya tidak yakin pada angka ini, tetapi sekitar seribu tahun – dan universitas ini menghasilkan guru-guru hebat dari aliran Buddha ini. Dalai Lama menulis (ini seperti doa): "Berilah aku ilham untuk mengikuti jejak-jejak langkahmu," semacam ini. Pada akhir bait-bait ini, satu bait kepada tiap-tiap guru besar ini, Dalai Lama menulis beberapa bait lagi. Dan yang saya hendak sajikan di akhir pekan ini pada dasarnya adalah ulasan pada salah satu bait itu, yang pada dasarnya merangkum apa yang baru saja saya jelaskan tentang kenyataan dan tentang empat kebenaran mulia dan Tiga Permata, haluan yang kita ingin masuki. Tiga Permata ini kadang-kadang disebut Tiga Perlindungan. Perlindungan berarti bahwa inilah haluan yang kita ingin masuki – bahwa jika kita memasuki haluan itu, kita akan menyelamatkan diri kita dari duka dan masalah.

Inilah bait itu:

Dengan mengetahui makna dua kebenaran, yang merupakan landasan, bagaimana segala hal patuh,

Patuh berarti bagaimana mereka ada, bagaimana mereka bekerja. Dengan kata lain, jika kita mengetahui kenyataan.

Dan baris kedua:

Kita menjadi yakin bahwa, melalui empat kebenaran, kita terus memasuki namun juga bisa mejungkalkan kelahiran kembali kita yang berulang tak terkendali.

Dengan kata lain, jika kita memahami kenyataan maka melalui empat kebenaran tersebut kita akan memahami bagaimana kita melanggengkan masalah-masalah kita tetapi juga bagaimana kita bisa menyingkirkan mereka.

Lalu baris ketiga:

Dihasilkan oleh pengetahuan yang sah, maka keyakinan kita bahwa Tiga Perlindungan itu benar menjadi teguh

Ingat bahwa Tiga Perlindungan ini berbicara tentang tujuan sebenarnya yang dapat kita capai – dengan kata lain, penghentian akhir dari semua masalah kita sehingga mereka tidak pernah kembali lagi – dan pemahaman yang akan menghasilkan hal itu.

Nah, jika Anda ingin mengamalkan jalan Buddha, Anda mengarah pada suatu tujuan, jelas. Lalu bagaimana Anda tahu bahwa tujuan itu mungkin untuk dicapai? Apakah itu hanya suatu kisah rekaan? Apakah itu cerita yang bagus, atau apakah itu memang fakta? Banyak orang akan berjuang mencapai tujuan hanya berdasar pada kepercayaan: "Guruku berkata begitu. Dan aku mau percaya, jadi aku percaya." Dan cara itu bisa berhasil bagi banyak orang, tapi ini tidak selalu menjadi laku yang paling teguh. Seringkali yang terjadi adalah, setelah sekian lama menjalani laku, Anda mulai mempertanyakan apa yang Anda lakukan, karena memang sangat sulit untuk menyingkirkan kemarahan dan sikap mementingkan diri sendiri dan kemelekatan, dan hal-hal semacam itu, yang merupakan sumber masalah sebenarnya, sehingga kemajuannya sangat lambat. Dan kemajuan tidak pernah lurus. Ia selalu berjalan naik dan turun. Ada hari-hari ketika ia berjalan lebih baik dibanding hari-hari lain. Sehingga jika Anda menjalani laku hanya berdasarkan kepercayaan, Anda bisa patah semangat karena seolah-olah Anda tidak mengalami kemajuan. Lalu Anda berkata, "Apakah benar-benar mungkin mencapai tujuan itu?"

Itulah mengapa bait ini mengatakan, "Dihasilkan oleh pengetahuan yang sah." Dengan kata lain, Anda benar-benar memahami, berdasar pada mantik dan akal sehat, bahwa sebenarnya mungkin bagi Anda untuk mencapai tujuan, bahwa tujuan itu benar-benar ada. Maka keyakinan Anda tentang tujuan itu, dan bahwa mungkin untuk mencapainya, dan bahwa ada orang-orang yang telah mencapainya – keyakinan Anda dalam hal itu sangat teguh, bahwa ini adalah fakta, ini benar. Dan Anda percaya ini memang benar bukan hanya karena ini termaktub dalam buku bahwa ini benar, bahwa ini terjadi, tapi Anda percaya bahwa ini benar, Anda yakin bahwa ini benar, berdasar pada fakta bahwa itu berasal kenyataan – dari dua kebenaran, dan kemudian empat kebenaran, dan kemudian tujuannya, Tiga Perlindungan.

Dan kemudian baris keempat:

Ilhami saya untuk menanamkan akar cita jalan-rintis yang menuntun menuju kebebasan.

Biasanya Anda menanam benih, tetapi di sini kita menanam akar; ini tidak disebut benih. Dan itu berarti bahwa susunan ini – dua kebenaran, empat kebenaran, Tiga Perlindungan – kemudian menjadi akar bagi semua jalan rohani, bagi semua yang berasal dari itu, karena kemudian seluruh laku Anda berdasar pada keyakinan. Anda memahami apa yang Anda lakukan, Anda memahami bahwa mungkin untuk mencapai tujuan itu, dan Anda memahami apa tujuan itu.

Inilah bait yang hendak saya jelaskan. Dalam tiga sesi kita, saya bermaksud untuk menjelaskan satu baris dalam satu sesi, satu baris dalam sesi lain, dan kemudian dua baris terakhir dalam sesi terakhir. Saya pikir itulah susunan yang harus diikuti. Dan seperti yang saya katakan, saya pikir ini adalah pokok yang sangat penting dan pendekatan yang sangat penting untuk ajaran Buddha. Karena jika kita akan mengikuti jalan rohani, saya pikir sangat penting untuk yakin bahwa ini makul; ini bukanlah suatu angan-angan sempurna yang kita miliki dengan sepenuh perasaan tapi benar-benar mustahil. Jika kita yakin bahwa apa yang kita lakukan dalam kehidupan rohani kita adalah makul, maka kita dapat menempatkan perasaan yang sehat ke dalamnya. Kita butuh keseimbangan pada dua hal itu: pemahaman ini dan kemudian suatu perasaan (welas asih, semangat, dll., kesabaran).

Dua Kebenaran

Kebenaran yang Lazim atau Nisbi

Baris pertama ini berbicara mengenai dua kebenaran. Ini mengacu pada apa yang disebut kebenaran nisbi atau kebenaran lazim – itu satu tingkat – dan kemudian ada kebenaran terdalam. Ada banyak penyajian tentang ini, tapi saya akan mengikuti penyajian yang digunakan oleh Dalai Lama untuk menjelaskan hal ini. Ketika kita berbicara tentang dua kebenaran, kita berbicara tentang dua fakta sejati tentang segala sesuatu, tentang kenyataan dari segala sesuatu. Jadi satu adalah tingkat permukaan, dan satunya adalah tingkat terdalam.

Lalu apakah tingkat permukaan? Ini adalah bahwa segala sesuatu bersifat nisbi. Ini berbicara tentang sebab dan akibat. Kita tentu punya penyajiannya dalam ilmu fisika, dan saya pikir sebagian besar orang akan menerima fisika. Ilmu ini berbicara tentang benda-benda ragawi. Anda tahu, Anda mendorong bola dan bola itu bergerak. Ini adalah fisika sederhana, sebab dan akibat. Dan itu tentu saja bisa menjadi sangat berseluk-beluk dalam penjelasannya tentang bagaimana hal-hal ragawi terjadi.

Jika Anda melihat masalah-masalah ekonomi, Anda melihat pemanasan global, Anda melihat perang – jika Anda melihat semua masalah ini, jelas bahwa mereka tidak datang dari satu sebab saja, mereka terjadi bukan tanpa sebab, dan mereka tidak datang dari sebab-sebab yang tidak berhubungan, tapi semua keadaan itu muncul secara bergantung pada amat banyak unsur yang berbeda. Dan bukan hanya apa yang terjadi pada saat ini melainkan juga apa yang terjadi di masa lalu. Benar, kan ? Seperti di negara ini, di Ukraina, Anda tidak bisa memisahkan keadaan saat ini dengan Soviet masa lalu, misalnya. Dan Anda tidak bisa memisahkan apa yang terjadi dari perang dunia dan semua hal itu. Seluruh keadaan ekonomi di dunia dan segala sesuatu yang berkembang dipengaruhi oleh semua hal yang terjadi di sepanjang sejarah, sehingga Anda tidak dapat mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah semata-mata kesalahan satu orang atau satu kejadian. Segala sesuatu muncul secara bergantung pada satu jejaring besar sebab dan keadaan. Ini adalah kenyataan, bukan?

Atau jika Anda melihat dalam kerangka kejiwaan: jika Anda punya masalah dalam keluarga, maka lagi-lagi Anda tidak bisa mengatakan masalah itu berasal hanya dari satu sebab atau tanpa sebab, tapi semua orang dalam keluarga memberi andil dalam pola sebab-akibat terhadap masalah dalam keluarga itu. Dan tiap-tiap anggota keluarga itu tidak terpisah dari lingkungan pekerjaan dan sekolah mereka dan semua orang yang memengaruhi mereka. Dan keadaan keluarga itu tidak terpisah dari masyarakat dan masalah-masalah ekonomi dalam masyarakat itu atau tata politik dalam masyarakat itu. Hal-hal tersebut juga turut memengaruhi masalah itu.

Jadi ketika seseorang mulai berpikir dalam kerangka makul tentang ini, Anda melihat bahwa semua hal saling berkaitan, semua hal memengaruhi semua hal lain, jadi segala sesuatu yang terjadi merupakan akibat dari jejaring besar sebab dan keadaan yang berseluk-beluk. Itulah kenyataan.

Nah, kalau ini kejadiannya pada benda-benda ragawi dan katakanlah masalah-masalah dunia atau ekonomi atau masalah-masalah keluarga, lalu bagaimana melihat pada taraf perorangan pada masing-masing diri kita? Bagaimana dengan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan? Apakah itu memiliki sebab? Apakah itu muncul tanpa sebab (kadang-kadang saya merasa bahagia, kadang-kadang saya tidak merasa bahagia, dan tidak ada cara untuk mengetahui apa yang saya akan rasakan pada menit berikutnya)? Lalu apakah itu terjadi tanpa sebab? Atau apakah itu terjadi semata-mata karena apa yang saya lakukan, bahwa kadang-kadang saya merasa bahagia dan tidak bahagia? Ya, itu tidak masuk akal, bukan? Saya bisa saja makan makanan yang sama pada dua hari yang berbeda, dan di satu hari, saya merasa bahagia memakannya dan di hari lainnya saya tidak merasa bahagia memakannya, jadi itu bukan berasal dari makanan. Saya bisa saja bersama orang yang paling saya kasihi dan tetap saja kadang-kadang merasa bahagia, kadang-kadang merasa tidak bahagia. Dan saya bisa saja menjadi kaya dan segala sesuatunya berjalan baik, dan saya tetap saja bisa tidak bahagia. Lalu dari mana kebahagiaan dan ketidakbahagiaan ini berasal? Apakah ia dikirim oleh suatu makhluk lebih tinggi yang menekan sebuah tombol – kadang-kadang Anda akan merasa tidak bahagia dan kadang-kadang Anda akan merasa bahagia, dan bermain-main dengan tombol itu? Maaf, saya tidak bermaksud menghina. Saya membawanya ke keekstreman yang konyol.

Tapi jika segala sesuatu yang kita alami – seperti menggerakkan benda-benda ragawi, atau Anda mengulurkan tangan Anda ke dalam api dan terbakar dan sakit – semua hal ini mengikuti hukum sebab dan akibat, maka apakah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan saya juga mengikuti hukum sebab dan akibat yang bisa dipahami? Inilah pertanyaannya. Dan inilah sebenarnya pokok utama tentang kenyataan ketika kita berbicara tentang kebenaran nisbi. Ini adalah sebab dan akibat dalam kerangka perilaku kita, dalam kerangka kebahagiaan, ketidakbahagiaan, dsb. (saya berbicara dalam lingkung khusus ajaran ini. Inilah penekanannya ketika kita berbicara tentang kebenaran yang pertama dari dua kebenaran itu. Dalam lingkung-lingkung lain, hal-hal lain akan ditekankan.)

Ini membawa kita memasuki ajaran-ajaran dasar Buddha tentang karma. Lalu, apa penjelasan tentang karma? Ini adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dipahami. Ada beberapa penjelasan dan banyak kesalahpahaman tentang karma. Untuk menjelaskannya dalam bahasa yang sangat sederhana, karma berbicara tentang perilaku kompulsif. Yang terjadi adalah tindakan-tindakan kita, baik tindakan-tindakan positif maupun negatif, cenderung bersifat kompulsif: Aku merasa ingin membentakmu, dan kemudian secara kompulsif aku membentak. Aku merasa ingin pergi ke kulkas untuk mengambil sesuatu untuk dimakan, dan secara kompulsif aku beranjak. Atau aku merasa ingin mencoba menjadi orang yang paling sempurna, paling baik, dan secara kompulsif aku bertindak seperti itu. Jadi ini bisa saja negatif, netral, atau positif.

Aku merasa ingin melihat ke dalam untuk memastikan apakah bayiku sehat karena aku sangat khawatir, dan kemudian secara kompulsif aku terus-menerus menengok, terus-menerus memeriksa, bahkan lebih dari yang diperlukan atau yang disarankan demi kesehatan. Anda tahu, orang tua yang selalu bertanya kepada anaknya, "Apakah kamu baik-baik saja? Apakah semuanya baik-baik saja?" Ini bisa membuat anak itu tidak tahan. Tapi ini berasal dari sikap kompulsif. Orang tua secara kompulsif khawatir, dan karena itu, dengan niat baik, mereka secara kompulsif bertanya. Jadi itu bisa positif, atau negatif (secara kompulsif berteriak pada anak itu).

Lalu dari mana sikap kompulsif ini muncul? Dan apa dampaknya? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam ajaran-ajaran tentang karma. Dan penjelasan Buddha adalah bahwa kita bertindak dengan cara tertentu, kita bertindak berdasarkan sikap kompulsif ini, dan ini membangun kebiasaan-kebiasaan tertentu; ini memberi dampak pada kesinambungan batin kita (dengan kata lain, pada setiap detik pengalaman kita setelah itu).

Tentu saja kita dapat menjelaskan ini pada tingkat ragawi, bahwa jalur-jalur saraf, rangkaian-rangkaian syaraf, terbentuk, dan kemudian itu menjadi pola, kebiasaan, pada perilaku. Ajaran Buddha tentu tidak menyangkal itu, tetapi ajaran Buddha lebih berbicara tentang sisi pengalaman dari ini. Jadi kita membangun kebiasaan tertentu, kecenderungan tertentu, dan kemudian keadaan-keadaan yang berbeda akan memicunya, lalu hasilnya adalah Anda merasa ingin mengulangi tindakan itu – dan kemudian sikap kompulsif itu (karma yang sebenarnya) muncul, dan Anda mengulanginya – dan Anda masuk ke dalam keadaan di mana hal-hal yang sama terjadi pada Anda. Anda tahu, bagaimana orang-orang akan seringkali berada dalam hubungan yang tidak sehat secara perasaan, dan itu akan berakhir, tapi kemudian mereka masuk ke dalam hubungan lain dengan jenis pola yang sama. Mereka menemui seseorang yang akan menghasilkan jenis pola yang sama dalam diri mereka. Mereka tampaknya hampir tertarik pada orang-orang yang akan kembali membuat hubungan yang tidak sehat. Anda tahu, selalu jatuh cinta dengan orang yang tidak terjangkau, yang tidak mungkin Anda miliki sebagai pasangan. Itulah yang seringkali terjadi. Dan kemudian Anda jatuh cinta dengan orang lain lagi yang tidak terjangkau.

Itulah salah satu unsur karma, sikap kompulsif ini, dan ini jelas merupakan jenis hubungan bersebab: Anda bertindak dalam cara tertentu dengan sikap kompulsif, dan ini membangun kecenderungan untuk mengulanginya, sehingga keadaan-keadaan yang berbeda akan memicunya dan hal ini akan berulang. Jadi sekali lagi kita memiliki hukum sebab dan akibat. Saya pikir itu cukup mudah untuk diterima jika kita lebih berpikir tentang hal itu, untuk menerima bahwa itu benar.

Tapi bagaimana dengan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan? Ini juga dijelaskan dalam kerangka karma: jika kita bertindak secara kompulsif bercampur dengan perasaan-perasaan yang gelisah, yang kemudian mengakibatkan kita bertindak secara merusak, ini pada akhirnya akan membawa pada pengalaman ketidakbahagiaan. Sedangkan jika kita bertindak secara membangun, yang berarti tidak berada di bawah pengaruh perasaan-perasaan yang gelisah, misalnya dengan kesabaran dan kemurahan hati sebagai lawan dari bertindak secara merusak dengan kemarahan, maka pada akhirnya kita akan mengalami kebahagiaan. Sebenarnya ini menjelaskan yang sebaliknya: jika Anda mengalami ketidakbahagiaan, itu karena perilaku yang merusak; jika Anda mengalami kebahagiaan, itu karena perilaku yang membangun. Itulah cara agar pokok ini dapat dipahami secara lebih tepat. Jadi apakah ini bisa dimengerti?

Pertama-tama, meskipun saya mengatakannya secara sangat singkat, kita perlu memahami perbedaan antara perilaku yang membangun dan merusak. Perbedaan antara keduanya adalah bukan dititikberatkan pada akibat yang ditimbulkannya pada orang lain. Sebagai contoh, Anda bisa menjadi pembunuh; Anda sangat marah kepada seseorang, dan Anda menyayat mereka dengan pisau. Itu bersifat merusak. Di sisi lain, Anda bisa menjadi dokter bedah, dan Anda menyayat tubuh orang dengan pisau untuk melakukan pembedahan yang akan menyelamatkan nyawa mereka. Jadi jelas tindakan menyayat seseorang dengan pisau bukanlah unsur penentu apakah tindakan itu merusak atau membangun. Itu semua tergantung pada dorongannya, tataran cita yang menyertai tindakan itu. Jadi jika tindakan itu bercampur atau didorong oleh perasaan-perasaan yang gelisah – terutama adalah kemarahan, kemelekatan dan keserakahan, keluguan, kecemburuan, kesombongan, mementingkan diri sendiri, hal-hal semacam ini – maka itu bersifat merusak, sekalipun jika Anda tengah melakukan sesuatu di mana tindakan itu sendiri baik. Jika Anda memijat seseorang karena Anda ingin merangsang hasrat perkelaminannya karena Anda memiliki gairah besar, itu bersifat merusak. Jika Anda memijat seseorang untuk membantu kesehatan mereka, itu bersifat membangun. Dan tindakan yang membangun adalah tindakan yang sepenuhnya bebas dari perasaan-perasaan yang gelisah tersebut.

Sekarang, bagaimana kita memahami hubungan antara ketidakbahagiaan dan perilaku yang berdasar pada perasaan-perasaan yang gelisah dan hubungan antara kebahagiaan dan perilaku yang sepenuhnya bebas dari perasaan-perasaan gelisah itu? Ini adalah pertanyaan yang sangat menarik. Dan itu adalah pertanyaan yang sangat penting karena inilah yang dibicarakan Buddha. Ia berbicara tentang bagaimana cara menyingkirkan ketidakbahagiaan dan duka, dan ia mengatakan bahwa Anda harus menyingkirkan sebab-sebabnya. Jadi di sini kita memiliki uraian Buddha tentang sebab-sebab, dan sekali lagi saya berpikir bahwa kita bisa memahami ini pada tingkat ragawi dan juga pada tingkat pengalaman.

Ketika Anda mengalami kemarahan, misalnya, apakah Anda tenang? Apakah tenaga Anda tenang? Tidak tenang, bukan? Tenaga Anda terganggu. Apakah Anda bahagia saat mengalami kemarahan? Saya pikir tidak ada orang yang akan berkata mereka senang saat mengalami kemarahan atau perasaan-perasaan yang gelisah lainnya. Jika Anda benar-benar meninjau dan mengamati tenaga Anda ketika Anda merasa sangat serakah, Anda tidak tenang; Anda tidak nyaman. Ketika Anda sangat melekat dan Anda sangat kehilangan seseorang, Anda tidak nyaman. Tenaga Anda sangat terganggu. Sedangkan jika cita kita tenang, dan kita tidak merasakan kemarahan atau keserakahan atau mementingkan diri sendiri atau hal-hal semacamnya, dan kita hanya berusaha untuk bersikap baik dan sebagainya, tenaga kita jauh lebih tenang, bukan? Mengamati ini sangatlah berguna karena dengan begitu Anda bisa menjadi sedikit lebih yakin tentang ini. Ketika Anda buncah tentang suatu hal, jantung Anda berdetak lebih cepat; Anda buncah. Jadi buncah berarti tenaga Anda, perasaan Anda, dan segenap tataran cita Anda buncah. Ini tidak tenang. Anda tegang, tertekan.

Jadi jika kita memikirkan bagaimana perilaku kompulsif, terbentuknya kebiasaan-kebiasaan, berhubungan dengan terbentuknya sambungan-sambungan saraf – jika kita berpikir demikian, jika itu masuk akal, saya pikir (saya tidak tahu apakah ini benar secara ilmiah) ada sebuah jalur, jalur saraf, yang terbentuk dari jenis jalur tenaga yang terganggu. Dan di sisi lain: jika kita membentuk sambungan-sambungan saraf ini dari tindakan-tindakan yang lebih positif, meskipun ini mungkin membawa pada perilaku kompulsif (seorang perfeksionis yang kompulsif, jenis semacam ini), ini bisa lebih tenang, tenaga kita tidak terganggu. Saya menyederhanakan. Saya meninggalkan pokok-pokok tertentu. Anda bisa mencoba untuk menjadi seorang perfeksionis atas dasar mementingkan diri sendiri – "Aku harus menjadi yang terbaik," dan sebagainya – maka ini adalah jenis lain dari tenaga yang terganggu. Tapi saya pikir pola-pola tenaga yang terganggu atau tenaga yang lebih tenang barangkali merupakan dasar ragawi bagi tataran cita yang bahagia atau tidak bahagia dalam kaitannya dengan sambungan-sambungan saraf, jalur-jalurnya, kebiasaan-kebiasaan yang kita bangun. Jadi saya pikir ada suatu dasar ragawi yang kita bisa bicarakan.

Dan kita di sini berbicara tentang akibat jangka panjangnya, bukan hanya akibat langsungnya. Anda mungkin terganggu oleh nyamuk, Anda benar-benar kesal, Anda benar-benar marah, dan Anda memukulnya dan membunuhnya dan Anda merasa bahagia: jenis rasa "Ah, kena kau!" Jadi kita tidak berbicara tentang apa yang secara langsung Anda alami dari tataran cita yang terganggu dan perilaku yang merusak, tetapi kita berbicara tentang akibat-akibat jangka panjang ketika kita berbicara tentang karma dalam ajaran Buddha. Bahkan kita berbicara dalam kerangka banyak masa kehidupan.

Inilah kebenaran nisbi, bahwa pada dasarnya segala sesuatu muncul secara bergantung pada banyak sebab dan keadaan, termasuk tataran umum cita kita (tidak hanya apa yang kita ingin lakukan melainkan juga apakah kita bahagia atau tidak bahagia). Mengerti? Inilah salah satu unsur dari kenyataan – baris dalam bait di sini menyebutnya landasan – cara di mana segala sesuatu mengada, berjalan, bekerja.

Kebenaran Terdalam

Kita memiliki dua kebenaran. Kebenaran kedua ada pada tingkat yang lebih dalam, dan ini mengatakan bahwa meskipun hal-hal mungkin tampak ada dan berjalan dengan cara yang mustahil karena pencitraan-pencitraan kita, cara mustahil di mana mereka mengada tidak sesuai dengan kenyataan. Itulah yang disebut dengan istilah teknis kehampaan, yang bukanlah istilah yang mudah. Kehampaan pada dasarnya mengatakan bahwa hal-hal tidak mengada dalam cara yang mustahil. Bagaimana bisa? Jadi kenyataan yang sesuai dengan hal mustahil yang kita citrakan, itu tidak ada. Tidak ada hal semacam itu.

Satu contoh sederhana, contoh klasik. Seorang anak berpikir bahwa ada sesosok makhluk raksasa di kolong tempat tidurnya. Sebenarnya yang berada di kolong tempat tidurnya adalah seekor kucing, tapi anak itu membayangkan kucing itu adalah makhluk raksasa. Dan karena anak itu percaya bahwa di kolong tempat tidurnya itu sebenarnya adalah makhluk raksasa, anak itu sangat ketakutan, jadi ini memiliki akibat. Tapi itu mustahil. Tidak ada makhluk raksasa. Jadi kehampaan adalah suatu ketiadaan. Ini berarti ketiadaan makhluk rakasa sesungguhnya yang sesuai dengan khayalan anak itu. Tapi buang pencitraan itu dan ada seekor kucing di kolong tempat tidur; jadi tidak benar bahwa di sana tidak ada apa-apa.

Jadi kita membayangkan, karena kebiasaan, bahwa hal-hal mengada dengan cara mereka benar-benar muncul kepada kita. Kita hanya menyadari apa yang berada tepat di depan mata kita atau apa yang kita benar-benar rasakan saat itu. Misalnya saya merasa tidak bahagia sekarang, dan tampak seolah-olah itu muncul dengan sendirinya – tanpa sebab, tidak berhubungan dengan hal lain apapun, saya semata-mata tidak bahagia; saya tidak tahu mengapa. Saya merasa bosan. Saya merasa hampa. Saya tidak bahagia. Dan ini tampak tidak berhubungan dengan apa yang kita lakukan atau dengan orang-orang yang bersama kita. Hanya serta-merta saya merasa hampa; saya merasa tidak bahagia (ini tidak harus selalu dramatis; ini bisa saja terjadi pada tingkat rendah). Lalu bagaimana ini muncul? Ini muncul seolah-olah tanpa sebab. Tapi itu mustahil. Itu tidak sesuai dengan kenyataan. Itulah kebenaran terdalam. Mengerti?

Kebenaran lazim menyatakan bahwa segala sesuatu muncul, termasuk ketidakbahagiaan atau kebahagiaan saya, karena sebab dan akibat. Itulah kenyataannya, tapi bagi saya tidak tampak seperti itu. Dan kebenaran terdalamnya adalah bagaimana ia tampak bagi saya tidak sesuai dengan kenyataan; itu adalah pencitraan tentang sesuatu yang mustahil. Dan ini benar-benar amat sangat mendalam jika Anda memikirkannya.

Sebagai contoh, Anda membentak saya. Kita memiliki hubungan yang baik, tapi tiba-tiba Anda membentak saya; Anda marah kepada saya. Dan bagaimana saya memandang itu? Itu tampak bagi saya sebagai "Ah, kamu marah! Kamu tidak mengasihiku lagi," dan kita benar-benar menjadi amat sangat buncah. Karena itulah yang tampak oleh saya, Anda membentak saya. Tapi itu tidak sesuai dengan kenyataan. Anda membentak saya tidak timbul tanpa sebab, tanpa berhubungan dengan hal lain. Yang terjadi adalah saya kehilangan pandangan pada segenap hubungan yang saya miliki dengan Anda, semua waktu lain yang saya habiskan bersama Anda, semua interaksi yang telah kita lalui. Satu-satunya hal yang terlihat dan yang tampak ada adalah Anda membentak saya. Tapi itu bukan satu-satunya; Anda lupa ada lingkung luasnya, gambaran besar keseluruhannya. Juga, saya bukan satu-satunya dalam hidup Anda. Anda memiliki kehidupan di luar saya, dan Anda mungkin pergi bekerja dan sesuatu yang buruk terjadi dalam pekerjaan, atau mungkin Anda memiliki masalah dengan orang tua Anda, atau... Anda terpengaruh orang lain yang berinteraksi dengan Anda. Kehidupannya tidak tidak hanya saya. Itulah kebenaran terdalam – kehampaan – bahwa apa yang kita citrakan adalah mustahil, tidak sesuai dengan kenyataan. Kenyataan sebenarnya yang sesuai dengan itu tidak ada, sama sekali tidak ada, tidak pernah ada, mustahil, tidak ada hal semacam itu. Kata untuk kehampaan sama dengan nol dalam bahasa Sanskerta.

Karena hal-hal tidak mengada secara terpisah dari semua hal lain, maka sebab dan akibat berlaku. Benar? Anda hanya bisa memiliki sebab jika ada akibat. Jika tidak ada akibat, bagaimana bisa ada sebab? Hanyalah sebab yang bertalian dengan fakta bahwa ada akibat, dan hanyalah akibat yang bertalian dengan fakta bahwa ada sebab. Jadi karena hal-hal tidak mengada secara terpisah – atau seperti yang kadang-kadang saya gambarkan, terbungkus rapat di dalam plastik – hal-hal berinteraksi, dan sebab dan akibat berlaku.

Jadi bait itu mengatakan bahwa dua kebenaran tersebut – di satu sisi kebenaran nisbi bahwa segala sesuatu bekerja dengan sebab dan akibat, dan kebenaran terdalam bahwa hal-hal tidak mengada dalam cara yang mustahil dengan terpisah dari hal-hal lain – saling mendukung satu sama lain. Dan bait itu mengatakan bahwa inilah landasannya. Dengan cara inilah segala sesuatu bersemayam. "Bersemayam” – ini adalah kata yang berarti bagaimana hal-hal mengada, bagaimana mereka bertahan, bagaimana mereka bekerja, bagaimana mereka berjalan. Kata ini memiliki semua makna tambahan tersebut. Dan landasan berarti itu adalah landasan bagi apa yang akan muncul selanjutnya. Atas dasar dua kebenaran inilah, melihat kenyataan, Buddha kemudian memahami empat kebenaran.

Itulah penjelasan dasar dari baris pertama bait ini. Dan seperti saya katakan, pembahasannya sangat mendalam. Ini tidak berbicara tentang sesuatu dengan mudah. Oleh karena itu saya pikir, sebelum kita sampai pada sesi pertanyaan, mengapa kita tidak mengambil kurang-lebih satu menit untuk memikirkan tentang apa yang kita telah bahas.

Jika kita sepakat bahwa dunia ragawi bekerja atas dasar sebab dan akibat – bahwa saya menendang bola dan karenanya bola itu bergerak, dan bukan bola itu bergerak tanpa sebab, sama sekali tidak berhubungan dengan apapun, sehingga itu mustahil (itu tidak sesuai dengan kenyataan) – apakah ada alasan mengapa sebab dan akibat seperti itu, dua kebenaran itu, juga berlaku pada tataran-tataran cita saya, perilaku saya, apa yang saya rasa, bahagia dan tidak bahagia? Inilah hal yang perlu dirinci dalam dalam diri seseorang. Apakah ada alasan mengapa bukan ini yang terjadi? Dan jika bukan ini kejadiannya, lalu bagaimana cara kerjanya? Mengapa saya merasa bahagia kadang-kadang? Mengapa saya merasa tidak bahagia kadang-kadang? Mengapa saya kompulsif seperti ini atau kompulsif seperti itu? Saya senang dengan tanpa penjelasan, atau apa? Kita mungkin tidak tahu sebabnya. Maksud saya, itu ada dalam empat kebenaran. Tapi ini kenyataan, semata-mata fakta bahwa ada suatu sebab, dan mustahil hal-hal muncul tanpa sebab atau dari sebab yang tidak berkaitan atau hanya dari satu sebab.

Saya akan memberi sebuah contoh yang sangat mudah tentang apa yang salah. Anda pergi ke pertandingan sepak bola, dan tim Anda kalah. "Yah, timku kalah karena aku ada di sana." Jelas itu adalah sebab yang tidak berhubungan, dan itu mustahil, tapi orang yang sangat rendah diri bisa berpikir seperti itu. Saya memikirkan orang yang benar-benar berpikir seperti itu.

Baiklah, mari kita luangkan waktu sejenak untuk berpikir tentang dua kebenaran ini. Apakah sebenarnya kenyataan?

Pertanyaan dan Jawaban

Kelahiran Kembali

Peserta: Apakah mungkin membuktikan bahwa ada kehidupan masa lalu dan masa depan hanya dengan menggunakan mantik, tanpa ilmu agama dan sebagainya?

Alex: Ada bukti-bukti tentang kehidupan masa lalu dan masa depan. Ini berhubungan pertama-tama dengan mengenali apa yang sebenarnya dibahas dengan kehidupan masa lalu dan masa depan kehidupan. Yang dibicarakan adalah tentang kesinambungan kegiatan batin, arus kelestarian kegiatan batin perorangan, di mana satu waktu dari kegiatan batin itu – atau dengan kata lain mengalami – muncul secara bergantung pada waktu sebelumnya dan mengikuti jenis urutan sebab-akibat (misalnya saya mengalami makan, dan kemudian saya mengalami kenyang).

Jadi pertanyaannya sebenarnya adalah: Dapatkah arus kesunambungan ini memiliki awal atau akhir, sebuah awal yang mutlak dari ketiadaan dan kemudian sebuah akhir di mana ia menjadi tiada? Seperti zat dan energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan melainkan hanya berubah bentuk, demikian pula arus kegiatan batin perorangan tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Jika Anda mengikuti fisika dalam kerangka zat dan energi, maka jika Anda menemui hukum kekekalan zat dan energi, tidaklah masuk akal bahwa sebelum Ledakan Besar tidak ada apa-apa. Sehingga para ilmuwan mulai berpikir dalam kerangka "Ya, pasti ada alam semesta dan hal-hal sebelum itu." Jadi tidak ada awal. Karena jika tidak ada apa-apa sebelumnya, bagaimana suatu ketiadaan menjadi sesuatu? Ini secara mantik sangat sulit. Jika sesuatu sebenarnya adalah tiada, bagaimana bisa ini menjadi sesuatu, dan bagaimana bisa sesuatu menjadi tiada? Dan kemudian ada segala macam pembahasan: Dapatkah kegiatan batin Anda berasal dari sumber lain, sebuah sumber luar, seperti tubuh Anda berasal dari tubuh orang tua Anda? Apakah kegiatan batin berasal dari kegiatan batin orang tua Anda? Ya, itu akan sangat sulit untuk ditunjukkan.

Jadi itulah beberapa penjelasan mantik tentang kehidupan masa lalu dan masa depan. Ini berhubungan dengan kesinambungan, kelestarian. Dan kelestarian dipelihara oleh sebab dan akibat; tidak ada hal padu yang berlanjut dari waktu ke waktu tanpa berubah. Jika Anda berpikir tentang itu, setiap sel dalam tubuh Anda berubah sejak Anda bayi sampai sekarang, namun Anda melihat gambar bayi Anda dan Anda berkata, "Itu aku." Semuanya telah berubah, bagaimana bisa Anda mengatakan, "Itu aku"? Ini berdasar pada sebab dan akibat, urutan sejak waktu itu sampai sekarang.

Peserta: Teman saya yang berpaham duniawi mengatakan bahwa ketika saya lahir, maka cita saya juga lahir. Cita ada di dalam otak, bukan? Dan ketika saya mati, otak saya akan hilang, dan cita saya juga akan menghilang. Bagaimana kita meyakinkan orang macam ini?

Alex: Yah, pertama-tama: Mengenai otak, kapan otak berkembang di dalam janin? Pada titik mana ia bermula? Anda tahu, ajaran Buddha tidak menyangkal bahwa ada dasar ragawi untuk aku dan dasar ragawi untuk mengalami segala sesuatu. Ajaran Buddha tidak menyangkalnya. Tentu saja ada otak, ada kegiatan saraf, dan semua itu. Kapan itu bermula adalah pertanyaan lain, dalam kerangka satu masa kehidupan tertentu. Namun ajaran Buddha niscaya menerima bahwa ada dasar ragawi. Tidak ada pertentangan dengan sains dalam hal ini.

Namun ajaran Buddha berbicara tentang pengalaman pribadi yang dialami secara perorangan dan subjektif. Mengalami ini berbeda dari dasar ragawi. Jadi Anda bisa berbicara tentang satu kejadian – seperti merasakan suatu perasaan – Anda bisa menggambarkan itu dari sudut pandang ragawi, atau Anda bisa menggambarkan kejadian yang sama dari sudut pandang pengalaman. Mereka tidak bertentangan; mereka hanya menggambarkan satu kejadian dari dua sudut pandang yang berbeda. Dan unsur pengalaman itu disokong oleh tenaga yang amat sangat halus selain tingkat yang lebih kasar dari otak dan tata saraf dan sebagainya. Jadi ketika kita berbicara tentang kesinambungan dari kehidupan masa lalu sampai kehidupan sekarang dan kehidupan sekarang sampai kehidupan masa depan, inilah yang terus lestari. Jadi ada beberapa dasar ragawi pada hal ini, tingkat tenaga dari hal ini.

Lalu bagaimana cara membuktikan bahwa apabila otak mati, masih ada pengalaman lebih lanjut? Ini cukup sulit, jelas. Telah ada banyak kejadian, bahkan telah diselidiki secara ilmiah, dengan orang-orang yang mencapai tingkat perwujudan yang sangat tinggi dalam aliran Tibet, bahwa ketika mereka mati – ketika setiap dokter mengatakan bahwa mereka sudah mati – mereka tetap berada dalam meditasi, tubuh mereka tidak menjadi kaku, mereka tidak jatuh atau semacamnya. Mereka tetap berada dalam meditasi. Ini bisa sampai dua minggu atau lebih. Dan kemudian ketika meditasi mereka selesai, tubuh mereka ambruk. Beberapa kejadian berlangsung selama satu tahun. Memang, sulit untuk menemui orang yang sedang sekarat dan berkata, "Biarkan aku meletakkan elektroda-elektroda ini di otakmu, dan sekarang matilah untukku sehingga aku bisa menilai apa yang terjadi." Tapi ada beberapa petunjuk bahwa ada sebuah unsur pengalaman yang terjadi pada tingkat yang jauh lebih halus bahkan setelah otak berhenti bekerja dan tata saraf berhenti bekerja.

Jadi ajaran Buddha akan mengatakan bahwa kegiatan batin kasar tidak lagi berlangsung ketika tubuh sudah mati, ketika otak sudah mati. Sehingga Anda tidak lagi melihat atau mendengar atau berpikir secara bersekat. Itu berakhir. Tetapi dalam tingkat yang amat sangat halus, disebut cita yang jernih, orang hanya memusat pada kenyataan secara nirsekat, secara lugas.

Mengalami Kenyataan Sejati

Peserta: Apakah mungkin kita mengalami sifat hakiki dari kenyataan ini, kenyataan sejati ini, di mana kita sama sekali tidak memiliki wawasan yang keliru? Apakah mungkin untuk mengalaminya secara langsung, atau apakah itu hal yang mustahil?

Alex: Tidak, tidak, itu mungkin – inilah yang akan kita bicarakan dalam penyajian berikutnya – karena ada kenyataan, dan meskipun hal-hal tidak tampak seperti keberadaan mereka sebenarnya, adalah mungkin untuk menyingkirkan sebab-sebab penyimpangan itu. Inilah pertanyaan dasarnya. Kegiatan batin yang dengannya kita mengalami sesuatu dan mengetahui sesuatu, apakah dengan sifat dasarnya sesuatu akan menyimpangkan kenyataan? Atau mungkinkah itu dapat bekerja tanpa penyimpangan, tanpa pencitraan itu? Itulah mengapa kenyataan adalah landasannya, dasarnya.

Nah, atas dasar itu kita mengerti – yang akan kita bahas besok – bahwa ketika ia menyimpang, itu menyebabkan masalah dan duka dan ketidakbahagiaan, dan bahwa mungkin bagi kita untuk menyingkirkan semua penyimpangan itu dan kemudian tak ada lagi masalah. Jadi begitu Anda memahami itu, Anda akan mengerti bahwa tujuan itu dapat dicapai, bahwa cita mampu melakukan itu. Maka Anda memiliki haluan ini, perlindungan ini, dan sekarang Anda dapat bertujuan untuk itu seraya menjadi yakin bahwa itu benar-benar mungkin untuk dicapai. Semua dibangun pada fakta bahwa ada kenyataan dan adalah mungkin untuk mengalaminya.

Tapi kita memerlukan latihan yang amat sangat panjang untuk membiasakan diri dengan kenyataan, untuk meruntuhkan penghalang-penghalang batin. Oleh karena itu Anda perlu meditasi. Meditasi adalah cara untuk membiasakan diri kita dengan itu, membangun kebiasaan yang lebih bermanfaat, sehingga ketika bertemu seseorang Anda terbiasa melihat mereka tidak hanya dalam cara mereka muncul di depan mata Anda, tetapi Anda menyadari sepenuhnya bahwa mereka dulunya adalah seorang bayi, dan mereka memiliki masa kanak-kanak, dan semua hal itu dan semua pengaruhnya, dan mereka mungkin akan menjadi tua – melihat seluruh lingkung besarnya, melihat segala sesuatu saling terkait. Tapi Anda harus melatih diri Anda untuk melakukan itu. Tidak perlu Anda melihatnya, tapi Anda memahaminya, Anda memahami segala sesuatu tentang orang itu – seluruh masa lalunya, apa saja kemampuannya – karena itu semua saling terkait. Awalnya tentu saja Anda tidak mengetahui rinciannya, tapi itu tidak masalah. Hanya agar menyadari bahwa di sana ada semua masa lalu dan semua pengaruh pada orang ini dan bahwa akan ada masa depan, itu sudah amat banyak membukakan Anda pada kenyataan.

Jika Anda melihat seorang bayi, Anda tidak hanya melihat bayi itu sebagai bayi: ia calon orang dewasa, dan semua yang saya lakukan sekarang akan memengaruhi bagaimana bayi ini menjadi dewasa. Anda melihat keseluruhan gambarannya. Kenyataan.

Ada lagi? Baiklah, jika tidak, maka terima kasih banyak.

Anda punya pertanyaan? Anda lihat, saya bisa mengatakan bahwa karena saya berkata "Terima kasih banyak," itu menyebabkan Anda mengajukan pertanyaan, yang jelas adalah konyol.

Peserta: Ini sepertinya keadaan yang cukup lucu. Cita kita menciptakan citra-citra, dan cita itu sendiri menderita karena citra ini. Mengapa cita kita membuat segala sesuatu menjadi begitu berseluk-beluk?

Alex: Anda lihat, ini dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah perangkat keras kita (jika Anda berpikir dalam kerangka perumpamaan komputer): Anda hanya bisa melihat melalui dua lubang di depan wajah Anda ini; Anda tidak bisa melihat di belakang kepala Anda. Jadi perangkat keras ini membatasi. Hal-hal pun sangat membingungkan. Contoh klasiknya adalah sebuah suara yang ada di dalam kepala kita, yang merupakan pencipta kekhawatiran: "Oh, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang orang pikir tentang diriku?"dst., dst. Sehingga rasanya seperti ada aku kecil bersemayam di dalam kepala kita, yang adalah mustahil. Tidak ada aku kecil itu. Jika Anda membedah otak, Anda tidak dapat menemukan aku kecil duduk khawatir di sana, berbicara sepanjang waktu. Tapi rasanya seperti itu. Yang terjadi adalah otak meletup sedemikian rupa, sehingga ada suara tertentu memengaruhi jenis-jenis banyak hal, dan itulah yang terjadi. Tidak ada aku tersendiri duduk di dalam berbicara. Ini membingungkan – ini disebut kenampakan yang menipu – itu karena perangkat keras ini. Tetapi perangkat keras ini bukanlah sebab terdalam. Ini pada dasarnya karena kebiasaan yang tak memiliki awal. Ini semata-mata karena kita sangat terbiasa dengan itu. Tidak ada awal. Ia langgeng.

Dan inilah yang kita akan bicarakan besok, bagaimana keseluruhan cara kerja duka ini melanggengkan dan bagaimana Anda keluar darinya. Langkah pertama adalah berhenti memercayai segala sampah yang dicitrakan oleh cita kita. Dan Anda berhenti memercayainya ketika Anda benar-benar yakin bahwa itu tidak sesuai dengan kenyataan: tidak ada aku kecil duduk di dalam kepalaku.

Saya beranikan diri untuk berkata "Terima kasih banyak," atau akankah itu menimbulkan pertanyaan lain? Kalau begitu, terima kasih banyak, dan mudah-mudahan apapun pemahaman yang kita peroleh dari sesi ini masuk semakin dalam dan semakin dalam dan menghasilkan suatu kesan positif yang akan bermanfaat bagi kita semua.