Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Mengatasi Kegandrungan Karma dengan Sila

Alexander Berzin
Berlin, Jerman, September 2012

Sesi Tiga: Cara Kerja Karma

Pagi ini kita sudah melihat pada bagaimana karma dan sila terlibat dengan tiga lingkup lam-rim, jalan bertahap. Jadi jika kita hendak berupaya mengatasi karma, membebaskan diri kita dari kegandrungan dalam perilaku kita, kita perlu mengetahui bagaimana karma bekerja. Ada beberapa penjelasan yang sangat rinci mengenai bagaimana karma bekerja yang kita temukan dalam kepustakaan Buddha. Pada umumnya, kita memiliki penjelasan yang Anda temukan dalam aliran Pali dan penjelasan-penjelasan yang Anda temukan dalam aliran Sanskerta. Keduanya adalah dua bahasa India kuno. Yang akan saya jelaskan adalah dari aliran Sanskerta. Aliran Theravada mengikuti versi Pali. Dan dalam aliran Sanskerta juga ada dua versi, jadi saya akan mencoba menyajikan perbedaan-perbedaan yang kita temukan dalam keduanya (tapi tanpa terlalu banyak penekanan pada itu, karena ada banyak kesamaan yang mereka akui bersama).

Ketika kita menemukan beberapa penjelasan yang berbeda tentang gejala-gejala seperti karma dalam ajaran Buddha, penting untuk tidak mendekatinya dari sikap yang kita warisi dari pemikiran kitabiah – satu Tuhan, satu kebenaran (hanya satu yang benar; yang lainnya salah) – melainkan tiap-tiap penjelasan memandang karma dari sudut yang berbeda dan membantu kita memahaminya dengan menjelaskannya dalam cara yang berbeda-beda. Semua penjelasan itu berguna agar kita mampu mengatasi duka. Itu adalah tujuan utuhnya.

Merasa Ingin Melakukan Sesuatu

Dalam Sanskerta aliran abhidarma – abhidharma adalah jenis kepustakaan yang membahas karma – dalam kerangka menjelaskan apa yang kita alami, kita akan mulai dengan kata rasa ini. Ini adalah kata yang sangat sulit karena dalam bahasa-bahasa Barat memiliki begitu banyak arti. Di sini saya tidak menggunakan rasa dalam arti merasa bahagia atau tidak bahagia. Saya menggunakannya dalam arti Barat yang berarti apa yang Anda rasa ingin lakukan, apa yang ingin Anda lakukan. Ya, saya tidak tahu apakah Anda mengucapkan itu dalam bahasa Jerman. Anda mengatakan itu dalam Bahasa Inggris. Jika Anda tidak mengatakan itu dalam bahasa Jerman, bagus. Ini membingungkan dalam bahasa Inggris. “Aku hendak melakukan itu.” Kata sebenarnya dalam bahasa Tibet (‘dod-pa) adalah kehendak, hasrat untuk melakukan sesuatu.

Jadi dalam kehidupan sehari-hari kita merasa ingin melakukan sesuatu, kita merasa ingin mengatakan sesuatu, kita merasa ingin memikirkan sesuatu. Dan mengapa kita merasa ingin melakukan itu? Ini didukung oleh banyak hal.

  • Ini didukung oleh unsur-unsur sebab di tempat kita berada – misalnya cuaca, orang-orang yang bersama kita, waktu di hari itu, dll.
  • Ini juga dipengaruhi oleh apakah kita merasa bahagia atau tidak bahagia. “Aku merasa tidak bahagia, jadi aku ingin pergi melakukan hal lain,” hal semacam ini.
  • Dan juga karena kecenderungan-kecenderungan masa lalu untuk bertindak atau berbicara atau berpikir dalam cara-cara tertentu.
  • Dan suatu perasaan pendorong akan ada di sana. “Aku merasa ingin membentakmu karena aku marah atau tidak bahagia.”
  • Dan unsur-sebabnya. Anda baru saja mengatakan sesuatu yang buruk pada saya. Saya marah dan saya tidak bahagia dan Anda mengatakan sesuatu yang buruk pada saya, dan kecenderungan saya adalah berteriak ketika seseorang mengatakan sesuatu yang buruk pada saya, jadi itu mendukung perasaan ini – Aku merasa ingin membentakmu – mengatakan sesuatu yang sungguh buruk.
  • Dan ada juga sebuah pegangan pada “aku” yang padu. “Aku, aku, aku. Kamu mengatakan sesuatu yang buruk padaku,” rasa yang besar dan kuat tentang “aku.” “Beraninya kamu mengatakan itu padaku?”

Jadi semua itu, perpaduan dari semua itu, terlibat dengan rasa ingin melakukan sesuatu – mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu, memikirkan sesuatu. Benar? Berpikir bisa saja berencana “Apa yang bisa kukatakan untuk menyakitimu?” Jenis cara berpikir semacam ini.

Kegandrungan untuk Melakukannya

Lalu, berdasarkan hal itu, munculah karma batin, dan ini adalah kemunculan kegandrungan. Kegandrungan di sini adalah suatu desakan batin (sems-pa) yang menarik kita pada pikiran untuk melakukan apa yang kita rasa ingin lakukan (baik secara sadar maupun bawah sadar). Ini menarik kita ke arah tindakan ragawi maupun wicara. Dan ini disertai dengan perasaan pendorong atau pegangan.

Jika kita benar-benar memperlambat hal-hal yang kita peka untuk amati dalam meditasi, kita dapat membedakan langkah-langkah ini. Biasanya semua ini terjadi secara sangat, sangat cepat. Itulah mengapa kita harus memperlambatnya.

Mari menggunakan contoh: saya merasa ingin membentak Anda. Jadi pada dasarnya saya ingin membentak Anda. Dan kemudian kegandrungan itu muncul, kegandrungan yang kemudian akan membawa kita ke tindakan membentak. Dan tentu kemarahan dan lainnya pun akan terus berlanjut dalam langkah ini.

Melakukan Tindakan

Kemudian kita mendapatkan baik karma ragawi maupun karma wicara, dan untuk ini kita memiliki dua penjelasan (seperti yang sudah saya katakan bahwa ada dua versi atau aliran Sanskerta).

Penjelasan pertama adalah bahwa kita masih berbicara tentang desakan batin, kegandrungan, yang menarik kita untuk benar-benar memulai tindakan itu, melanjutkannya, dan akhirnya menghentikannya (kita berhenti membentak; kita tidak membentak seumur hidup). Jadi di sini ada perbedaan antara apa yang disebut desakan pendorong dan desakan sebab-akibat (dengan kata lain, saya berpikir untuk membentak Anda; dan kemudian pada waktu sama ketika saya mulai membentak, ini membawa saya untuk memilih kata-kata). Dan perasaan yang menyertai ini, dan menyertai semua tahap tindakan ini, bisa sangat berbeda. Ini dapat berubah.

Bayi Anda sedang tidur, misalnya, dan banyak nyamuk di dalam kamar, dan mungkin bayi Anda akan digigit dan bahkan terkena malaria jika Anda berada di daerah malaria. Sehingga perasaan yang membuat Anda melakukan tindakan itu bisa jadi kasih sayang kepada si bayi. “Aku akan membunuh nyamuk-nyamuk itu untuk melindungi bayiku.” Tetapi kemudian ketika Anda benar-benar hendak memukul nyamuk-nyamuk itu dan Anda benar-benar melakukannya, ada banyak kemarahan di sana. Di sana pasti ada banyak kebencian pada nyamuk itu; kalau tidak Anda tak akan melakukannya. Anda benar-benar ingin membunuhnya. Anda tidak ingin sekadar menakut-nakutinya; Anda ingin membunuhnya. Jadi perasaan Anda telah berubah.

Sebenarnya sangat menarik jika Anda benar-benar memperlambat segala sesuatunya untuk melihat bagaimana tataran perasaan Anda dapat berubah. Sebagai contoh, jika Anda menginjak seekor kecoak, pada awalnya mungkin adalah, “Oh, aku tidak ingin ada kecoak di tubuh bayiku.” Dan kemudian “Grr, aku benar-benar ingin membunuh kecoak ini.” Dan kemudian Anda menginjaknya dan “Yek!” ada semacam rasa jijik pada apa yang Anda lakukan, melihat kekacauan yang ada di situ. Dan kemudian Anda mungkin berhenti karena “Oh, aku tidak tega.” Perasaan Anda berubah-ubah selama kejadian itu. Jadi semua itu memengaruhi kuatnya kegandrungan yang mendasari tindakan Anda dan akan memengaruhi hasil yang terjadi karenanya.

Itu adalah salah satu penjelasannya – bahwa baik itu secara batin, wicara, maupun ragawi, karma adalah tataran batin. Karma adalah desakan batin, kegandrungan yang bersifat batiniah. Jadi sangat penting untuk tidak mencampuradukkan karma (kegandrungan) dengan perasaan, baik perasaan positif atau negatif. Mereka tidak sama. Tak ada yang merupakan keduanya. Karma itu sendiri adalah – saya tetap menggunakan kata kegandrungan – seperti magnet yang menarik kita tanpa terkendali untuk berpikir bertindak, bertindak, terus bertindak, dan berhenti. Itu satu penjelasan.

Penjelasan kedua adalah bahwa…, yang saya barusan gambarkan adalah karma batin, bukan? Masih akan ada perbedaan antara berpikir untuk melakukan sesuatu, benar-benar melakukannya, melanjutkannya, dan berhenti. Masih ada perbedaannya. Tapi karma ragawi sekarang mengacu pada bentuk kegandrungan dari tindakan-tindakan kita. Ada kegandrungan pada bentuknya. Kita dapat “Grr!” memukul seperti ini, atau kita dapat memukul dengan sangat lembut. Ada macam atau rupa kegandrungan dari tindakan kita, yang diambil raga kita ketika melakukan tindakan itu. Atau dalam kerangka tindakan-tindakan lisan, itu adalah bunyi gandrung dari suara kita. Itu adalah bunyinya. Jadi ini mengacu pada nada suara yang kita gunakan. Ada kegandrungan pada nada suara kita yang kasar dan memekik, atau yang lemah dan lembut.

Pada dasarnya apa yang kita kuatkan di sini, atau luaskan, adalah berbagai unsur dari rupa-rupa kegandrungan. Ada hal batiniah yang gandrung, ada cara gandrung pada tindakan-tindakan kita, ada nada suara gandrung yang kita gunakan, dan seterusnya. Pikirkan hal itu sejenak sembari menunggu pesawat itu melintas. Dapatkah Anda memikirkan contoh-contohnya?

Satu contoh yang bagus. Orang yang terus-menerus mengetukkan jari-jari mereka di meja, atau ketika berbicara mereka menggebrak meja untuk memberi penegasan dan seterusnya? Ini adalah bentuk kegandrungan dari tindakan mereka. Ini gandrung. Dan sebagian orang, apapun yang mereka katakan, ada nada yang bernafsu pada suara mereka. Semua ini adalah apa yang berkaitan dengan karma ketika kita berbicara tentang karma dalam aliran ini. Itulah karma. Yaitu kegandrungan.

Peserta: Anda bisa duduk di suatu tempat dan kemudian berpikir tentang menginginkan sesuatu dari kulkas, dan kemudian Anda pergi ke sana, membukanya, dan mengambil sesuatu. Atau Anda mungkin sudah berada di dapur, dan kulkas itu telah terbuka, dan kebetulan Anda melihat sesuatu yang Anda ingin makan. Apakah itu perbedaan yang Anda ingin jelaskan?

Alex: Bukan, kedua kejadian itu dapat diuraikan dalam cara yang sama. Baik Anda melihat kulkas itu terbuka maupun tidak melihat kulkas itu terbuka, itu adalah unsur-unsur sebab yang akan menyertai, pertama-tama, keinginan (“aku ingin minum”) dan kemudian juga desakan untuk beranjak dan mengambil minuman. Nah, beranjak untuk mengambil minuman melibatkan berjalan ke dapur, atau itu hanya melibatkan mengambilnya begitu saja dari kulkas yang terbuka. Itu sama.

Dan ada unsur kegandrungan ketika Anda mengambilnya dan membanting pintu kulkas, atau Anda menutupnya dengan sangat lembut, dan sebagainya. Ada unsur gandrung pada bagaimana Anda melakukannya, dan ini mengungkap – ini disebut bentuk pengungkap – dorongan di balik itu atau tataran cita Anda di balik itu. Ada suatu kemarahan atau kebencian saat Anda membanting pintu kulkas itu, atau “Ooh!” Anda harus berlari dan mengambilnya, jenis hal ini.

Juga ada rupa bukan pengungkap, tapi itu sedikit rumit. Saya tidak ingin masuk terlalu dalam mengenai hal itu. Hal terdekat tentang itu yang ada dalam cara berpikir kita adalah getaran halus. Ada getaran tentang cara kita bertindak yang berlanjut sesudah itu. Jadi ini adalah kegandrungan bawah sadar yang masih ada di sana sesudah itu, sebuah kegandrungan. Ketika kita berbicara tentang seseorang yang memiliki mutu kegandrungan pada dirinya, inilah yang dimaksud dengan getaran itu. Getaran sangat halus ini adalah perihal cara pengungkapan terdekat yang dapat kita pikirkan. Tak begitu banyak di ruangan ini – dalam diri Anda; ini adalah tentang orangnya. Mungkin Anda berkata “Aku adalah orang yang sangat gandrung.” Tapi, saya tidak melakukan apapun saat ini. Tetapi kegandrungan apa yang kita bicarakan yang mencirikan saya sebagai orang yang gandrung? Ini tingkat yang sangat halus. Dalam bahasa Inggris kadang-kadang ada kerancuan. Saya tidak tahu bahasa Jermannya. Orang yang gandrung dan orang yang menuruti gerak hati, keduanya berbeda. Kedua kata itu tampak sama dalam bahasa Inggris. Kita tidak hanya berbicara tentang menuruti gerak hati, bahwa Anda hanya melakukan apapun yang muncul dalam benak Anda. Gandrung berarti Anda tidak memiliki kendali atas apa yang Anda lakukan, dan Anda mengikuti pola tertentu secara berulang dan berulang dan berulang lagi, seperti mengetukkan jari-jari Anda di meja.

Daya-Daya dan Kecenderungan-Kecenderungan untuk Hasil Karma

Apa yang terjadi setelah tindakan itu selesai adalah ia meninggalkan akibat tertentu pada kesinambungan batin kita. Dan kita memiliki daya negatif (sdig-pa, Sanskerta. papa) maupun daya positif (bsod-nams, Sanskerta. punya). Ini adalah kata-kata yang diterjemahkan sebagai pahala atau dosa. Keduanya saya dapati sebagai terjemahan yang sangat, sangat menyesatkan. Dari tindakan-tindakan yang merusak terdapat daya negatif, dari tindakan-tindakan yang membangun terdapat daya positif, dan selain itu kita memiliki kecenderungan-kecenderungan negatif atau positif. Jika kita menerjemahkan kata itu secara harfiah, itu adalah benih karma (sa-bon, Sanskerta. bija).

Peserta: Bersediakah Anda menyebutkannya secara cepat dalam Sanskerta?

Alex: Kita berbicara tentang punya dan papa untuk daya, dan kita berbicara tentang vasana (kebiasaan ajek karma) untuk benih.

Tidak begitu mudah memahami perbedaan antara keduanya, antara daya dan kecenderungan, karena mereka bersama-sama menimbulkan hasil-hasil karma. Daya adalah sesuatu yang dikenal sebagai sebab-sebab kematangan, seperti buah di pohon yang ketika cukup matang bisa dimakan. Jadi buah itu tumbuh perlahan-lahan hingga matang dan memunculkan hasilnya. Jadi daya-daya ini terbangun sampai mereka cukup matang untuk memunculkan hasil, seperti buah yang matang. Dan kecenderungan-kecenderungan ini adalah apa yang dikenal sebagai sebab penghasil, sesuatu yang darinya Anda memperoleh atau mendapatkan hasilnya, seperti benih untuk menghasilkan tunas atau adonan mentah untuk mendapatkan sepotong roti. Jadi sedikit banyak ini adalah sesuatu yang berubah menjadi hasilnya. Jadi keduanya, daya dan kecenderungan itu, berkerja sama untuk membuahkan hasil. Daya-daya dibangun, berjejaring satu sama lain. Dan benihnya adalah sesuatu yang akan berubah menjadi hasil. Nah, jejaring daya – yang disebut kumpulan pahala dan sebagainya – mereka berjejaring satu sama lain, mereka saling menguatkan, sampai hasil itu muncul. Dan benihnya, kecenderungan, adalah sesuatu yang kemudian berubah menjadi hasil tersebut. Mengerti?
Perbedaan lainnya adalah bahwa tindakan itu sendiri sudah berperan sebagai daya untuk mengalami hasilnya. Misalnya, Anda membentak seseorang. Membentak itu sendiri sudah merupakan, sebagai unsur dari itu, daya untuk membentak lagi. Saat Anda membentak, ada daya untuk Anda akan melakukannya lagi. Tetapi hanya ketika tindakan itu selesai maka akan ada kecenderungan untuk mengulangi tindakan itu.

Jadi terdapat perbedaan tipis, dan ada banyak perbebedaan-perbedaan lainnya. Ini sangat berseluk-beluk. Tetapi ketika Anda semakin dan semakin mendalami, Anda mendapati sebuah penjelasan yang sangat terperinci tentang bagaimana hal-hal terjadi dalam pengalaman kita.

Baik. Mari kita sejenak merenungkan hal itu. Jika saya bertindak dalam cara tertentu, terdapat pola tertentu yang saya miliki, dan pasti terdapat daya untuk mengulanginya, dan juga terdapat kecenderungan bahwa saya harus bertindak dengan cara itu. Ini adalah ketika kita bertindak secara gandrung. Bagaimana itu bisa bersifat gandrung? Ini bersifat gandrung karena ini muncul lagi dan lagi dan lagi, tanpa kendali. Dan semakin sering kita bertindak seperti itu, ada daya yang lebih kuat untuk mengulanginya, dan di sana terdapat kecenderungan bahwa saya melakukan itu. Semakin kuat daya itu, semakin cepat kita akan membentak lagi. Tapi kita akan memerlukan unsur sebab untuk benar-benar membentak lagi. Baiklah. Apakah Anda mulai mendapatkan gambarannya?

Misalnya, saya seringkali mudah marah, dan saya membentak orang-orang, dan ada kegandrungan tentang itu yang hampir seperti getaran pada diriku yang dapat orang-orang rasakan jika mereka sangat peka – yakni “Ooh, aku harus berhati-hati ketika aku bersama orang ini karena ia sangat mudah marah.” Dan Anda akan berkata dalam menggambarkan saya bahwa saya punya kecenderungan mudah marah dan membentak. Dan selalu ada daya bahwa saya akan benar-benar membentak. Dan ketika saya membentak, ada unsur gandrung pada suara saya yang kasar dan sangat buruk. Dan ada kegandrungan bahwa jika Anda mengatakan hal buruk, maka saya merasa ingin mengatakan hal buruk pada Anda sebagai balasannya. Dan kegandrungan itu menarik saya untuk benar-benar membentak.

Kita sedang menggambarkan cara kerja karma, bagaimana ia bekerja. Anda tidak perlu mengingat dan memahami semuanya sekarang. Ini rumit. Tapi cukup dengan mengerti bagaimana karma bekerja dan selik-beluknya di sini, betapa berseluk-beluknya karma. Dan yang kita akan coba lakukan dalam mawas diri (ada jenis meditasi khusus yaitu mawas diri) adalah mencoba mengenali hal-hal ini dalam diri kita – memperlambat segala sesuatu dan mengenali hal-hal ini. Lalu kita dapat mengupayakan mereka. Apa saja kecenderungan saya? Apa pola yang saya ikuti secara gandrung? Dan ingat kita berbicara tentang positif maupun negatif, membentak atau menjadi perfeksionis.

Bagaimana Daya-Daya dan Kecenderungan-Kecenderungan Matang

Baik. Sekarang kematangan. Ketika unsur-unsur sebab sudah lengkap, maka daya-daya dan kecenderungan-kecenderungan ini membawa kita mengalami satu hal atau lebih. Sangat penting untuk memahami bahwa kita tidak berbicara tentang daya-daya karma yang membawa hal-hal yang kita alami. Mereka menghasilkan pengalaman kita atas mereka.
Sebagai contoh, apabila saya tertabrak mobil, kecenderungan-kecenderungan karma saya tidak menciptakan mobil itu, dan mereka tidak menciptakan mobil itu bergerak – dari sudut pandang mobil itu – dan menabrak saya. Itu adalah tanggung jawab si pengemudi. Yang terlibat dengan Karma saya adalah fakta bahwa saya mengalami ditabrak. Apakah Anda melihat perbedaannya? Kita berbicara tentang apa yang saya alami. Karma saya tidak menciptakan cuaca. Saya mengalami cuaca.

Peserta: Apakah kita berbicara lebih tentang kenyataan kejiwaan daripada kenyataan yang berhubungan dengan, katakanlah, ilmu saraf atau fisika?

Alex: Ia mengatakan bahwa kita berbicara lebih mengenai hubungan sebab-akibat kejiwaan daripada hubungan sebab-akibat ragawi. Saya tak akan menggunakan kata kejiwaan. Saya akan menggunakan pengalaman.

Peserta: Saya menganggap ini adalah pokok yang sangat penting, bukankah demikian?

Alex: Ya. Kejiwaan berhubungan dengan perasaan-perasaan yang menyertainya. Itu hal lain. Di sini kita berbicara tentang semata-mata pengalaman saya melihat sesuatu, pengalaman saya atas cuaca, pengalaman saya basah ketika saya pergi keluar. Karma saya tidak menciptakan hujan. Di satu sisi hujan itu tentu bertanggung jawab karena saya menjadi basah. Tapi juga fakta bahwa saya pergi keluar, bahwa saya mengalami pergi keluar, itu juga bagian dari mengapa saya basah. Apakah Anda mengerti maksud saya?
Hal-hal muncul dari amat banyak sebab yang berbeda-beda. Karma hanya bertanggung jawab untuk pengalaman saya atas hal itu, apa yang terjadi pada saya. Jelas air hujan bertanggung jawab atas saya menjadi basah, tapi itu adalah sebab lahiriah. Ada suatu alasan mengapa saya pergi keluar di bawah hujan, dan sebuah pola dan kegandrungan tertentu bahwa saya lupa membawa payung, itulah mengapa saya basah. Itulah unsur karmanya. Saya selalu melupakan payung saya; saya selalu meninggalkannya di restoran dan sebagainya. Sehingga, karena itu, saya mengalami pergi keluar dan menjadi basah. Tentu saja air hujan itu yang membuat saya basah. Itu hal lain. Itu tingkat lain. Anda melihat perbedaannya di sini, tentang apa yang kita bicarakan? Dan ada kebiasaan gandrung di sana. Kita tidak memiliki kendali terhadap hal itu. Baik. Kita mengalami banyak hal, tergantung pada unsur-unsur sebabnya. Kita memberikan unsur sebab bahwa ini hujan.

Apa yang Sebenarnya Kita Alami?

Jadi apa yang kita alami? Kita mengalami sebuah perasaan senang atau tidak senang. Itu sangat menarik karena bisa saja segala macam hal menyenangkan terjadi di sekitar kita dan masih merasa tak bahagia. Kita mungkin dapat melakukan hal yang sama dua kali, dan kali pertama melakukannya kita merasa bahagia, dan kali lainnya kita tidak merasa bahagia. Ini berasal dari karma, kecenderungan-kecenderungan dan daya-daya karma.

Kita mengalami keadaan-keadaan tertentu yang khusus untuk diri kita sendiri. Kita mengalami melihat sesuatu atau mendengar sesuatu, dan kita mengalami berbagai perasaan bersamaan dengan itu. Jadi itulah mengapa Anda menonton tindakan kekerasan atau kita menonton film jenis ini atau film jenis itu... Itu contoh yang sangat bagus. Jelas karma saya tidak menciptakan film itu, namun secara gandrung saya selalu ingin menonton film-film kekerasan atau saya selalu pergi menonton film-film seksi. Jadi karena kecenderungan dan daya itu, saya mengalami melihat sebuah film kekerasan dan berbagai perasaan yang kita akan alami kala itu.

Ketiga, dalam keadaan-keadaan tersebut kita dapat mengalami keinginan untuk mengulangi tindakan-tindakan sebelumnya. Jadi itu akan berupa – yang telah kita bicarakan di awal – saya merasa ingin membentak Anda. Saya merasa ingin memeluk Anda. Apa yang Anda rasa ingin lakukan? Apa yang Anda ingin lakukan? Ini adalah bagian dari kematangan karma. Ini adalah apa yang Anda rasa ingin lakukan, apa yang Anda ingin lakukan. Karma tidak matang karena karma. Pertama-tama yang mematangkan adalah keinginan untuk melakukan sesuatu. Kemudian muncullah kegandrungan, unsur karma untuk melakukan yang kita inginkan. Pertama-tama muncul keinginan. Itulah yang mematangkan. Apa yang Anda ingin lakukan ? Saya ingin membentak. Jadi itu muncul dari kecenderungan dan daya ini.

Kemudian, keempat, dalam beberapa keadaan lain kita mengalami hal-hal yang terjadi pada kita sama seperti apa yang kita lakukan terhadap orang lain. Jadi dari membentak – dari kecenderungan dan kebiasaan untuk membentak – kita mengalami orang lain membentak kita. Jika kita menipu orang lain, kita mengalami orang lain menipu kita. Jika kita tak setia kepada pasangan kita, maka kita mendapati pasangan kita akan tak setia kepada kita.

Ini tidak selalu mudah untuk dipahami, tapi sangat menarik untuk menguraikan ini dalam diri kita sendiri. Seperti misalnya bahasa yang memecah-belah, mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain untuk memisahkan dari teman-teman mereka. Jadi unsur ini adalah kita mengalami teman-teman meninggalkan kita, persahabatan kita tidak bertahan, persekutuan kita dan sebagainya tidak bertahan; orang-orang meninggalkan kita. Kita menyebabkan orang lain berpisah, dan kita mengalami bahwa hubungan kita sendiri pun tidak bertahan. Anda dapat memahami hal itu pada tingkat karma tapi juga memahaminya pada tingkat kejiwaan. Ketika saya selalu mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain kepada Anda, teman saya, terutama ketika saya mengatakan hal-hal buruk tentang teman-teman Anda kepada Anda, apa yang Anda pikirkan? Anda akan berpikir, “Apa yang ia katakan tentangku di belakangku?” Jadi tentu saja kita akan mengalami persahabatan itu berakhir. Ketika kita berpikir secara lebih mendalam tentang hubungan-hubungan sebab-akibat karma ini, mereka mulai masuk akal.
Kita mengalami hal-hal yang terjadi pada kita sama seperti apa yang kita lakukan. Kita berbicara tentang apa yang “kualami.” Kita tidak berbicara tentang orang lain melakukan itu. Mengapa mereka melakukan itu adalah karena alasan-alasan mereka sendiri.

Lalu kemungkinan lainnya adalah kita mengalami hal-hal bersama orang lain, berada dalam jenis-jenis lingkungan atau masyarakat tertentu dan cara mereka memperlakukan kita. Seperti dilahirkan, atau hidup, di sebuah tempat yang sangat berpolusi atau di sebuah tempat yang tak banyak polusi. Kita mengalami hidup dalam masyarakat di mana banyak terjadi kecurangan dan penipuan, atau kita hidup dalam masyarakat di mana orang-orangnya sangat jujur. Ini adalah sesuatu yang kita alami bersama orang lain. Atau mutu dari sesuatu. Jika Anda berada dalam sebuah masyarakat di mana mutu dari segala sesuatunya sangat rendah – makanannya tidak bernilai gizi, barang-barang yang dibuat sangat mudah rusak, hal-hal semacam ini – atau di sebuah tempat di mana segala sesuatunya bermutu tinggi.

Itulah semua hal yang kita alami – mengalami rasa bahagia, rasa tak bahagia – kita mengalami melihat banyak hal, hal-hal yang terjadi pada kita, dan semua itu bersama-sama akan menjadi unsur sebab di mana kita pun merasa ingin mengulang pola-pola perilaku kita sebelumnya. Dan jika kita melakukan keinginan itu, ada kegandrungan. Bahkan seringkali rasanya seolah-olah kita tak mempunyai keputusan, kita bahkan tidak menganggap bahwa kita bisa mengambil keputusan. Dan hanya “Aku merasa ingin membentakmu” dan kemudian secara gandrung kita membentak, lalu kita mengulang pola itu. Kita merasa ingin berteriak, dan meskipun kita dapat membuat keputusan untuk tidak melakukan rasa itu, hal-hal terjadi begitu cepat sehingga kita secara gandrung membentak begitu saja. Kita mengulang pola itu dan menguatkan daya untuk membentak lagi dan lagi. Karena di sana ada kecenderungan, dan ada sebuah kegandrungan tertentu tentang bagaimana kita bicara dan kegandrungan tertentu tentang siapa diri kita. Demikianlah bagaimana karma bekerja.
Luangkan waktu sejenak untuk mencerna itu.