Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Mengatasi Kegandrungan Karma dengan Sila

Alexander Berzin
Berlin, Jerman, September 2012

Sesi Dua: Dua Tingkat Lain dari Sila

Berupaya Mengatasi Kelahiran Kembali yang Lebih Buruk (Tinjauan)

Kita melihat bahwa pada tingkat pertama, lingkup awal perkembangan rohani kita di sini, kita mengamalkan sila untuk menahan diri dari perilaku merusak. Benar? Di sini kita mengupayakan perilaku itu. Kita belum sampai pada mengupayakan perasaan dan sikap. Itu tingkat berikutnya. Jadi kita menuju pada kelahiran kembali yang lebih baik, yang merupakan kebahagiaan lazim jika kita hanya melihat dalam ranah karma, dan kita berpindah ke tujuan itu karena kita benar-benar sangat takut memiliki semakin dan semakin banyak duka dan ketakbahagiaan. Dan kita mengerti bahwa ada cara untuk menghindari lebih banyak ketakbahagiaan dan duka, yang pada dasarnya untuk melatih pengendalian diri dan tidak bertindak dalam cara merusak ketika kita merasa ingin melakukannya; Anda tidak bertindak karena daya gerak hati. Seperti yang saya katakan, kita belum membahas perasaan. Itu tingkat berikutnya. Ketika Anda merasa ingin bertindak dan Anda mulai melihat daya gerak itu, tempat kegandrungan ada di sana, jangan lakukan itu. Itu adalah sesuatu yang tak begitu sulit untuk dikenali. Maksud saya, Anda harus sedikit melambat, tapi itu tak begitu sulit untuk dikenali.

Bayangkan ketika Anda duduk dan mencoba bekerja, dan Anda bosan atau merasa gatal dan sebagainya, dan tiba-tiba daya gerak muncul untuk pergi ke kulkas atau menelepon seseorang atau beralih ke Facebook atau semacamnya di komputer. Anda lihat ketika rasa itu muncul, daya gerak itu untuk melakukannya, dan kemudian, "Oh, tidak. Ini hanya akan membuatku semakin tak bahagia. Aku tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaanku," dll., dan Anda tidak melakukannya. Kita berbicara tentang tingkat tata tertib ini. Aku tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaanku, itu adalah duka; itu adalah masalah. Jadi aku tidak akan memeriksa, untuk kesepuluh kalinya dalam satu jam terakhir, akun Facebookku .

Berupaya Mengatasi Kelahiran Kembali Seluruhnya

Sekarang tingkat berikutnya adalah tingkat berupaya mengatasi kelahiran kembali seluruhnya, kelahiran kembali yang berulang tak terkendali – ingat itulah makna samsara – tanpa terkendali terus berulang lagi dan lagi dan lagi, dan Anda tak bisa menghentikannya. Dan di sini yang kita cari adalah unsur kedua dan ketiga dari duka sejati, atau masalah-masalah sejati, yang Buddha tunjukkan. Ini mengacu pada, pertama-tama, duka perubahan dan kemudian duka yang serba-merembes.

Duka perubahan. Ini mengacu pada kebahagiaan biasa kita. Istilah teknisnya adalah kebahagiaan yang tercemar. Ini tercemar dengan, ternoda dengan, atau bercampur dengan kebingungan. Ini bercampur dengan kebingungan dalam kerangka bagaimana ini muncul dan juga ketika kita mengalaminya. Ini adalah kebahagiaan lazim kita, yang memiliki banyak masalah yang berhubungan dengannya. Masalah-masalah itu dikarenakan kebahagiaan kita tidak bertahan dan tidak pernah memuaskan – kita selalu ingin lebih – dan jika kita memiliki terlalu banyak kebahagiaan yang terlalu lama, kita menjadi bosan atau itu berubah menjadi duka.

Misalnya Anda berada di luar di bawah matahari. Rasanya sangat menyenangkan untuk sementara waktu, tapi Anda tidak ingin tinggal di bawah terik matahari selamanya. Setelah beberapa saat itu terlalu banyak, dan Anda harus berteduh. Atau orang terkasih Anda membelai tangan Anda, mengelusnya seperti ini. Nah, jika ia melakukan itu selama tiga jam, tangan Anda akan sangat, sangat sakit. Jadi, begitulah, jenis kebahagiaan biasa ini memiliki beberapa masalah di dalamnya.

Jenis kebahagiaan biasa ini adalah hasil dari bertindak dalam cara-cara yang membangun dan positif tapi masih bercampur dengan kebingungan, seperti pada contoh menjadi seorang perfeksionis neurotik. Itu contoh yang sangat baik. Anda tahu, seseorang yang perfeksionis dengan rumah yang bersih. Mereka senang untuk sementara waktu karena rumahnya bersih, tapi kemudian, ya, mereka tidak puas dan, "Aduh. Aku harus membersihkannya lagi." Jadi kebahagiaan itu tidak bertahan, bukan? Anda selalu ingin lebih. Itu harus lebih baik, lebih bersih.
Kemudian jenis duka atau masalah yang ketiga disebut masalah yang serba-merembes, dan ini adalah kenyataan bahwa kita – ini terutama mengacu pada kelahiran kembali – bahwa kita memiliki jenis tubuh dan cita yang secara sendirinya akan menghasilkan masalah dan kesulitan.

Pikirkan hal ini. Dengan tubuh macam ini, tak mungkin Anda bisa berjalan tanpa menginjak sesuatu dan membunuhnya. Tak mungkin Anda bisa makan tanpa serangga atau hewan lain dibunuh pada waktu makanan itu dibuat, bahkan meskipun Anda seorang vegetarian. Dan kita memiliki jenis tubuh yang bisa sakit. Kita memiliki jenis tubuh dan cita yang bisa lelah. Anda harus beristirahat. Anda harus selalu makan. Anda harus mencari nafkah. Itu tidak mudah, bukan? Anda dilahirkan kembali, dan kemudian Anda menjadi bayi. Sungguh mengerikan. Anda tidak dapat mengungkapkan diri Anda. Anda tak bisa melakukan apa-apa sendiri. Anda harus mempelajari segala sesuatu dari awal lagi. Itu benar-benar membosankan, bukan? Dan Anda harus melakukan itu lagi dan lagi tak terhitung. Pergi ke sekolah lagi. Apakah Anda ingin pergi ke sekolah lagi berjuta-juta kali?

Inilah masalah serba-merembes yang kita alami hanya dengan memiliki jenis kelahiran kembali yang berulang-ulang ini, bahkan jika Anda dilahirkan kembali dalam tataran yang jauh lebih baik, katakanlah dengan kelahiran kembali manusia yang mulia. Seperti yang mereka katakan, jika Anda tidak punya kepala maka Anda tidak akan mengalami sakit kepala. Itu sedikit konyol. Tapi dalam kejadian apapun, yang kita ingin capai adalah kebebasan dari hal ini.

Jadi kita ingin mencapai jenis kebahagiaan yang tidak bercampur dengan kebingungan, jenis kebahagiaan yang akan bertahan, yang kita takkan merasa, "Oh, aku ingin lebih" dan seterusnya. Dan ini adalah jenis kebahagiaan yang beda. Ini adalah kebahagiaan yang Anda alami karena bebas dari sesuatu. Sebuah contoh sangat kecil yang sedikit mirip tapi tidak sama: Anda memakai sepatu yang sangat sempit sepanjang hari, dan di akhir hari itu Anda melepas sepatu Anda, dan ada rasa kelegaan ini. "Ah, aku bebas dari pembatasan dan rasa sakit di kakiku ini." Itu adalah jenis kebahagiaan yang beda, bukan? Kita berbicara tentang rasa lega karena bebas dari pikiran-pikiran neurotik, bebas dari kekhawatiran, segala macam hal ini. Anda tak perlu merasa khawatir lagi. Atau merasakan ketidakamanan. Bukankah itu indah? "Sungguh lega. Aku tak lagi merasa tidak aman."

Ini hanyalah sedikit petunjuk dari apa yang sedang kita bicarakan ketika kita berbicara tentang kebebasan – kebebasan dari segala jenis duka, semua duka sejati ini. Dan untuk melakukan ini kita harus mengatasi semua karma, baik positif maupun negatif. Jadi kita harus mengatasi kegandrungan untuk bertindak bahkan dalam cara-cara yang positif. Tak ada yang salah dengan kebersihan dan berusaha melakukan hal-hal dengan baik. Masalahnya adalah ketika itu adalah hal yang gandrung dan neurotik. Itulah yang Anda harus singkirkan.
Baik. Jadi ketika kita bertindak dalam cara-cara yang positif, ada perasaan-perasaan positif yang menyertainya:

  • Kelepasan. Kelepasan adalah kita tidak melekat pada apapun dan seterusnya. Jika Anda memilikinya, sangat baik. Jika Anda tidak memilikinya, ya, tak apa-apa. Betul? Jadi itu adalah lawan dari kemelekatan.
  • Dan kemudian perasaan lainnya adalah tidak ingin merugikan.
  • Atau peka terhadap akibat perilaku kita pada diri kita sendiri dan orang lain.

Itu adalah perasaan-perasaan positif. Dan kemudian kita memiliki unsur-unsur batin lain yang menyertai perilaku positif atau membangun:

  • Menghargai mutu-mutu baik dan mereka yang memilikinya.
  • Pengendalian diri untuk menahan diri kita dari bertindak secara negatif.
  • Rasa martabat-diri yang bersusila. Jadi kita memiliki penghargaan terhadap diri kita sendiri dan apa yang kita rasa, menghargai rasa-rasa kita.
  • Peduli pada bagaimana tindakan kita tercermin pada orang lain.

Tak satupun dari hal-hal di atas adalah pengacau. Mereka semua baik. Mereka menemani perilaku positif dan membangun. Kita tidak ingin menyingkirkan mereka. Tapi pengacaunya di sini adalah sikap yang gelisah. Dan untuk mengatakannya dalam bahasa yang sederhana, mungkin tidak begitu sederhana, ini adalah berpegang pada "aku" yang padu. Sebagai contoh, ada "aku" padu yang harus baik, yang harus sempurna. "Aku harus baik. Aku harus membantu. Aku harus berguna."

Anda tahu sebuah contoh, contoh sederhana, tentang orang tua yang mempunyai anak-anak yang sudah dewasa dan mereka masih ingin dibutuhkan, mereka ingin berguna, jadi mereka menawarkan nasihat dan bantuan bahkan ketika anak-anak mereka tidak menginginkannya. Ini gandrung karena mereka memiliki rasa "aku" yang padu dan "Aku hanya berharga, aku hanya ada, jika anak-anakku masih membutuhkan aku." Jadi perasaannya di sini adalah positif. Mereka menawarkan nasihat dan bantuan dan seterusnya karena mereka mengasihi anak-anak mereka. Mereka ingin berbuat baik. Mereka ingin membantu. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi pengacaunya adalah sikap tentang diri mereka sendiri, tentang "aku”: "Aku hanya orang yang berharga dan seterusnya jika anak-anakku masih membutuhkan aku."

Inilah yang akan menyebabkan unsur neurotik, unsur kegandrungan, dari menawarkan bantuan bahkan ketika itu sama sekali tidak perlu dan tidak tepat. Dan Anda dapat merasakan jika Anda mengalami hal ini karena sekali lagi perasaan yang gelisah dan sikap yang gelisah adalah kata yang sama, dan artinya sama. Jadi sikap dan perasaan itu, mereka gelisah; mereka menyebabkan kita kehilangan kedamaian cita dan kehilangan pengendalian diri, keduanya. Jadi ketika Anda adalah orang tua itu dan Anda merasakan hal ini, apa unsur yang Anda bisa rasakan akibat tidak memiliki kedamaian cita? "Aku hanya berharga, aku hanya bernilai sebagai orang tua, jika aku bisa melakukan sesuatu untuk anak-anakku." Sebuah rasa ketidakamanan. Anda merasa tidak aman. Bukankah begitu? Mereka tidak aman, sehingga mereka selalu harus memaksakan diri mereka ke dalam urusan anak-anak mereka, bagaimana mereka membesarkan anak-anak mereka. Jadi di sini tidak ada kedamaian cita, dan jelas mereka tidak memiliki pengendalian diri, meskipun ada perasaan-perasaan positif berupa kasih dan perhatian dan sebagainya. Dalam hal inilah kita memerlukan sila untuk mengatasinya.

Di sini pada tingkat kedua, kita berpikir utamanya dalam kerangka berupaya untuk kepentingan kita sendiri. Karena apa yang kita alami adalah meskipun kita mungkin bahagia ketika melakukan sesuatu yang baik bagi anak-anak kita dan mereka menghargainya, itu berubah dan kemudian kita harus melakukannya lagi. Semakin dan semakin banyak masalah muncul karena kita terlalu memaksa, sehingga kebahagiaan itu tidak bertahan. Dan kemudian anak-anak membentak kita: "Oh, tinggalkan aku sendiri. Jangan mendikteku," hal semacam ini. Jadi, kebahagiaan yang awalnya kita rasakan dengan membantu mereka dengan sangat cepat berubah menjadi ketidakbahagiaan. Mereka tidak senang dengan apa yang kita lakukan. Dan rupa sederhana dari duka yang serba-merembes adalah bahwa segala sesuatu berlanjut dan berulang lagi dan lagi dan lagi, dan Anda tidak punya kendali terhadap hal itu. Orang tua tidak bisa menghentikan diri mereka sendiri dari turut campur dengan dorongan yang baik, kasih, tapi mereka merasa tidak aman.

Jadi di sini kita menjalankan sila pada dasarnya demi kepentingan kita sendiri sehingga kita tidak akan tak bahagia dengan semua ini, sehingga kita tidak memiliki kebahagiaan biasa dan pengulangan ini. Dan di sini pada tingkat ini, sasaran dari sila yang kita terapkan adalah perasaan-perasaan yang gelisah, sikap-sikap yang gelisah, pegangan pada "aku" yang padu ini. Ini bukan berarti kita ingin berhenti membantu, bukan berarti kita ingin berhenti mengasihi anak-anak kita, tapi yang kita ingin hentikan adalah ketidakamanan neurotik ini, pegangan pada "aku" yang padu ini dan seterusnya yang ada di balik itu.

Jadi kita memiliki tingkat awal, di mana kita berupaya menertibkan tindakan-tindakan kita, pengendalian diri pada tingkat itu. Dan di sini kita mengupayakan tingkat lebih dalam atau tingkat lebih halus dalam kerangka pengendalian diri dengan tidak bertindak karena sikap dan perasaan yang gelisah ini. Karena, ingat, kita memiliki dua sebab sejati mendasar dari masalah-masalah kita, yaitu karma dan sikap dan perasaan yang gelisah, atau kegandrungan dan sikap dan perasaan yang gelisah, dan mereka muncul bersama-sama. Perasaan-perasaan yang gelisah. Sebagian bersifat merusak, dan sebagian, meskipun positif, bisa bercampur dengan kebingungan sehingga itu tetap menimbulkan masalah.

Satu contoh yang bagus adalah kasih. Kasih. Pengartian Buddha untuk kasih adalah "keinginan agar orang lain bahagia dan memiliki sebab-sebab kebahagiaan terlepas dari apa yang mereka lakukan." Tapi itu bisa bercampur dengan kebingungan. Itu bisa bercampur dengan kemelekatan – "Jangan pernah tinggalkan aku," "Mengapa kamu tidak meneleponku?" "Kamu tidak mengasihiku lagi?" – dan ketidakamanan dan hal-hal semacam itu. "Aku butuh kamu" – aku, aku, aku – kita di sini hanya berpikir dalam kerangka apa yang kudapatkan darimu karena "aku butuh kamu." Saya mungkin tetap ingin orang lain bahagia – tapi bahagia dan tidak pernah meninggalkanku, dan meneleponku setiap hari. Jadi kasih bukanlah masalahnya. Masalahnya adalah kemelekatan dan "aku" besar di balik semua itu yang bisa bercampur dengannya. Itu adalah tingkat menengah, tingkat kedua. Kita menggunakan tata tertib untuk mencoba mengatasi tingkat yang lebih pada sikap perasaan dan batin ini.

Tingkat ketiga, tingkat lanjut... Ya, mungkin sebelum kita masuk ke tingkat ketiga, mengapa tidak kita meluangkan lagi beberapa menit untuk mencerna? Mencoba untuk melihat ini dalam kehidupan kita sendiri, yang berarti melihat dengan diri kita sendiri. Seperti yang mereka katakan, jangan menghadapkan cermin Dharma ke arah orang lain dan hanya berusaha melihat masalah pada orang lain (misalnya orang tua kita), tapi arahkan itu pada diri Anda sendiri. Cobalah melihat dalam kehidupan Anda sendiri, dalam pengalaman Anda sendiri – bahkan ketika Anda bertindak secara positif – jenis masalah yang ditimbulkannya jika Anda bertindak secara neurotik itu. Dan mencoba untuk mengenali "aku" besar yang padu di balik semua itu – "Aku harus sempurna. Aku harus baik. Aku harus bisa membantu. Aku harus dibutuhkan dan berguna" – dan mengenali masalah-masalah yang dibawanya.

Ingat bahwa tak ada yang kita harus buktikan. Saya tidak perlu membuktikan bahwa saya orang baik. Saya tidak perlu membuktikan bahwa saya orang bersih dan sempurna dan sebagainya. Tak ada yang harus dibuktikan. Atau apakah "aku bersih maka aku ada"? Anda tahu, seperti "aku berpikir maka aku ada." "Aku sempurna maka aku ada." Hanya karena kita merasa tidak aman tentang aku, aku, aku, bahwa kita merasa harus membuktikan bahwa kita baik; kita harus membuktikan bahwa kita berguna. Anda tidak perlu membuktikan apapun. Pikirkan itu. Apa yang kita coba buktikan dengan menjadi sesempurna itu, dengan menjadi sebaik itu, dengan menjadi sebersih itu, dengan menjadi seproduktif itu? Itulah rahasianya. Tidak ada perlu dirasa tidak aman, dan tak ada yang harus Anda buktikan. Lakukan saja! Bantulah orang lain dan seterusnya. Anda tidak perlu membuktikan apapun.

Maksud saya, jelas tidak mudah hanya menggunakan sila untuk mengatakan, "Berhenti merasa tidak aman. Jangan merasa tidak aman." Jelas tidak semudah itu. Ini perlu pemahaman bahwa ketidakamanan itu berdasar pada kebingungan dan kebingungan itu tidak berdasar pada apapun. Kita tidak harus membuktikan apapun. Jelas menggunakan pengendalian diri saja tidaklah cukup. Kita tak bisa hanya mengatakan, "Berhenti merasa tidak aman" dan hanya menggunakan pengendalian diri kita tak lagi merasa tidak aman lagi, pengendalian diri untuk tidak merasa tidak aman. Jadi kita juga memerlukan pemahaman.

Apa hal yang membuat kita merasa tidak aman? Mitos, mitos bahwa jika aku produktif dan berguna dan sebagainya, maka aku ada. Jika tidak, aku tak lagi ada? Itu cukup aneh, bukan? Lalu apa yang harus kubuktikan dengan menjadi seorang penggila-kerja yang fanatik? Jika aku ingin membantu orang lain, baik; bantulah orang lain. Tetapi jangan gandrung dengan itu. Inilah masalahnya. "Jika aku tidak memenuhi target harianku, maka aku benar-benar merasa sengsara. Dan jika anak-anakku membuat gaduh dan mengganggu pekerjaanku, maka aku panik karena aku tak cukup produktif." Ini yang kita harus hentikan.

Baik, itulah lingkup menengah.

Berupaya Mencapai Tataran di mana Kita Bisa Membantu Semua Orang Terbebaskan

Lingkup lanjut adalah mengatasi ketidaktahuan kita pada karma orang lain. Kita ingin membantu orang lain. Dan bahkan jika kita telah memperoleh kebebasan – jadi kita bebas dari karma (kita tak lagi gandrung, kita tidak bertindak dalam cara merusak, dan bahkan kita tidak memiliki dorongan gandrung neurotik untuk bertindak dalam cara membangun ketika itu tidak tepat) – masalahnya sekarang adalah meskipun kita memiliki keinginan yang kuat untuk membantu orang lain, kita tidak tahu apa cara terbaiknya. Kita tidak tahu semua alasan Karma dan latar belakang mengapa semua orang menjadi seperti diri mereka saat ini. Dan kita benar-benar tidak tahu apa akibat yang akan muncul dari apapun yang kita ajarkan pada mereka. Dan tak hanya apa yang kita ajarkan pada mereka memiliki akibat pada orang itu sendiri, tapi orang itu akan berinteraksi dengan banyak orang lain, jadi apapun perubahan yang terjadi dari apa yang kita ajarkan pada orang ini, itu akan berpengaruh tidak hanya pada orang ini melainkan pada siapapun yang berinteraksi dengannya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dari apa yang saya ajarkan. Jadi kita sangat terbatas dalam bagaimana kita bisa membantu orang lain.

Pertama-tama, kita perlu bekerja dengan tata tertib, tidak sekadar bersikap tak acuh dan puas dengan "Wow, sekarang aku bebas dari duka. Aku akan duduk di sini dan bermeditasi dan bersukacita dan bahagia sepanjang waktu." Kita membutuhkan tata tertib itu untuk berupaya lebih lanjut untuk orang lain. Anda lebih dulu mendapatkan sedikit rasa ini ketika Anda sangat, sangat berhasil dalam meditasi: Anda duduk di sana, cita Anda bebas dari pengembaraan dan kebodohan, penuh sukacita (tidak dalam cara yang gelisah, tapi Anda benar-benar merasa damai), dan Anda sangat puas, dan sungguh gemilang berada di sana dalam tataran cita ini. Dan jika Anda benar-benar unggul, Anda dapat tinggal dalam tataran ini untuk waktu yang sangat lama. Jika Anda terbebaskan Anda dapat menetap seperti itu selamanya.

Lalu apa yang mengeluarkan Anda dari itu? Maksud saya, Anda tidak memiliki jenis tubuh ini, jadi Anda tidak akan lapar atau hal-hal seperti itu. Tapi yang membangkitkan Anda adalah pikiran-pikiran tentang orang lain. Benar, kan? "Bagaimana bisa aku hanya duduk di sini dengan sukacita dan gemilang, sementara semua orang sengsara?" Kita perlu tata tertib dan budi pekerti untuk mengatasi pikiran yang hanya mementingkan kesejahteraan kita sendiri, dan kita perlu tata tertib untuk memikirkan orang lain dan bekerja demi orang lain.

Sekarang, sangat penting bahwa ini muncul sebagai langkah setelah kita berupaya untuk kepentingan kita sendiri. Jika kita berpikir hanya untuk membantu orang lain tapi kita masih sengsara dan neurotik dan sebagainya, itu akan membuat masalah dalam membantu orang lain. Kita akan menjadi marah dengan mereka karena mereka tidak menuruti saran kita dan mereka tidak membuat kemajuan yang cukup. Atau kita menjadi melekat pada mereka, dan kita menjadi sangat cemburu jika mereka pergi ke guru lain. Atau, bahkan lebih buruk, jika kita menjadi tertarik secara perkelaminan kepada mereka itu akan membuat banyak masalah dalam membantu orang ini.

Jadi kita perlu berupaya untuk diri kita sendiri lebih dulu. Dan ini bukan berarti kita harus menjadi terbebaskan, terbebaskan sepenuhnya – itu akan membutuhkan waktu lama – sebelum kita benar-benar mencoba membantu orang lain, tapi kita jangan mengabaikan upaya pada diri kita sendiri dalam proses berupaya untuk orang lain. Kita seditaknya menyadari pentingnya mengatasi kemarahan dan kegandrungan kita sendiri dan sebagainya. Kita membutuhkan tata tertib untuk mengatasi sikap mementingkan diri sendiri, berpusat pada diri sendiri, dan kita harus berupaya untuk mengatasi pembatasan-pembatasan cita yang mencegah kita menjadi mahatahu, tahu-segala.

Kita tidak mahatahu, karena kita tidak melihat gambaran utuhnya; kita tidak melihat bagaimana segala sesuatu saling berkaitan. Seperti apapun yang terjadi, itu terjadi sebagai hasil dari perpaduan banyak, banyak, banyak, banyak sebab dan keadaan, dan semua sebab dan keadaan itu pun memiliki sebab dan keadaan sendiri untuk terjadi. Dan cita kita sekarang terbatas: kita tidak dapat melihat gambar keseluruhannya; kita tidak melihat segala sesuatu yang terlibat. Dan yang lebih buruk lagi adalah kita berpikir bahwa hanya satu sebab menghasilkan akibat, terutama ketika kita berpikir bahwa sebab itu adalah aku. Seolah-olah ketika orang lain ini sedih dan sebagainya, itu adalah salahku; itu semata-mata karena apa yang kulakukan. Ini tidak sesuai dengan kenyataan. Apapun yang terjadi pada orang-orang, seperti yang saya katakan, adalah hasil dari banyak sekali sebab, bukan semata-mata karena apa yang kulakukan. Yang kulakukan memang berperan – kita tidak menyangkal itu – tapi tidak berarti bahwa seluruh hal itu hanya karena satu sebab. Atau kita mencoba membantu seseorang, dan kita berkata, "Ya, sebab dari masalahmu hanyalah karena kamu tidak mendapatkan pendidikan yang baik." Ini terjadi ketika kita mengecilkannya ke satu sebab. Atau "Masalahmu adalah karena orang tuamu melakukan ini atau itu ketika kamu masih anak-anak." Jadi kita tidak melihat gambar keseluruhannya. Ini jauh, jauh lebih besar dari itu.

Jadi kita perlu pemahaman yang jauh, jauh lebih baik daripada yang kita miliki sekarang. Dan masalahnya adalah cita kita mencitrakan penggolongan-penggolongan, seperti kotak-kotak, dan kita membagi-bagi segala sesuatu ke dalam kotak-kotak ini, memisahkan mereka dari hal-hal lain seolah-olah mereka ada secara lepas dari segala hal lain, dan kita percaya bahwa ini sesuai dengan kenyataan. Jadi kita tidak benar-benar melihat saling-keterkaitan dan saling-ketergantungan dari segala sesuatu. Kita menempatkan hal-hal dalam kotak: "Ini adalah sebabnya. Ini buruk. Ini baik." Kita memasukkannya ke dalam kotak-kotak. Ya, bukan seperti ini bagaimana hal-hal mengada. Hal-hal tidak ada secara terpisah dari hal-hal lain. Kita memerlukan tata tertib untuk memahami itu meskipun itu mungkin rasanya tidak sesuai dengan kenyataan.

Contoh sederhana. Anda di rumah sepanjang siang, dan pasangan Anda datang rumah, dan ia tidak bicara pada Anda; ia hanya lewat dan berbaring. Dalam cita kita, kita memasukkan itu ke dalam kotak "Ia tidak mengasihiku lagi. Ia pasangan yang buruk. Ia tidak baik," dan seterusnya. Benar? Di balik itu tentu saja adalah “aku” besar, karena aku ingin bicara dengannya – aku ingin, aku ingin, aku ingin – aku ingin sesuatu darinya. Hanya karena kita menempatkan ia ke dalam kotak ("Sekarang kamu pasangan yang buruk"), kita tidak melihat saling-keterkaitannya – bahwa ia mungkin mengalami hari yang sulit di kantor; ini mungkin terjadi padanya, itu mungkin terjadi padanya, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Seberapa sering hal-hal tampak seperti itu bagi kita? Seseorang pulang ke rumah, dan seolah-olah ia muncul begitu saja – bahwa tak ada yang terjadi pada orang itu sebelumnya, dan sekarang semuanya bermula sejak saat ia memasuki pintu. Benar? Dan jika orang yang ada di rumah sedang mengurus anak-anak mereka – Anda pulang ke rumah, dan bagaimana hal itu tampak? Bahwa mereka ada di sana begitu saja, segar, seolah-olah tak ada yang terjadi pada mereka sebelumnya sepanjang siang itu. Maksud saya, jika kita berpikir tentang hal itu, tentu saja tidak seperti itu. Kita berbicara tentang bagaimana cita Anda membuatnya tampak. Cita kita membuat itu tampak seolah-olah interaksi kita bermula dari sini, sejak saat ini, dan tak ada yang terjadi sebelumnya. Itu ada dalam kotak. Inilah yang kita harus atasi, untuk kita sadari bahwa ini tidak sesuai dengan kenyataan.

Atau kita menempatkan seseorang di dalam kotak "pasanganku," dan kita tidak mempertimbangkan fakta bahwa ia memiliki hubungan dan pertemanan dengan banyak, banyak orang lain selain aku. Ia adalah pasanganku; ia ada di kotak "pasanganku." Jadi ia harus ada untukku setiap kali aku menginginkannya karena itulah satu-satunya keberadaan dirinya. Ia adalah pasanganku. Kita tidak berpikir bahwa ia punya kewajiban dengan orang tuanya, punya teman-teman lain, punya kegiatan-kegiatan lain. Tidak. Ia hanya ada dalam satu kotak ini. Dan yang mengerikan adalah ini terasa seolah-olah adalah kenyataan, dan kita percaya bahwa ini sesuai dengan kenyataan. Dan jelas atas dasar itu, kita punya kemelekatan dan kita marah jika ia harus pergi dan menemui orang lain dan sebagainya.

Inilah tingkat lanjut yang untuk mengupayakannya kita membutuhkan tata tertib. Kita membutuhkan tata tertib untuk menyadari bahwa cara cita kita membuat hal-hal tampak dalam kotak-kotak tidak sesuai dengan kenyataan – ini tak masuk akal – dan mencoba untuk melihat gambaran besarnya.

Penerapan

Jadi ada tiga tingkat sila dalam hubungannya dengan karma:

  • Tata tertib untuk menahan diri dari perilaku merusak yang gandrung.
  • Kemudian tata tertib untuk mengatasi sikap-sikap dan perasaan-perasaan gelisah yang ada di balik semua perilaku gandrung kita, negatif maupun positif.
  • Dan kemudian tata tertib untuk mencoba mengatasi keterbatasan-keterbatasan pada bagaimana cita kita membuat hal-hal tampak. Benar? Tata tertib untuk berhenti berpikir dalam cara-cara sempit, menempatkan hal-hal di dalam kotak-kotak. Dan tata tertib untuk tidak puas dan tak acuh semata-mata dengan keadaan kita sendiri sehingga kita dapat memahami karma orang lain dan membantu mereka untuk mengatasinya.

Mari kita gunakan beberapa menit terakhir ini untuk mencoba mengenali (ini adalah meditasi percermatan) bagaimana kita cenderung menempatkan hal-hal ke dalam kotak-kotak – bahwa cita kita membuat hal-hal tampak berada di dalam kotak-kotak, terasing dari segala hal lain.

Orang-orang di ruangan ini. Anda melihat mereka. Seolah-olah mereka tidak datang dari manapun; mereka muncul di sini begitu saja, dan tidak tampak bagi kita apa yang terjadi di rumah mereka pagi ini, apakah mereka punya anak, apakah sulit untuk sampai di sini – tak satupun dari hal itu tampak bagi kita. Jadi karena itu, kita tidak tahu bagaimana suasana hati mereka, dan saya tidak tahu apa akibat ucapan saya bagi mereka. Mereka mungkin sangat lelah atau jengkel atau buncah karena apa yang terjadi tadi pagi, atau mereka kurang tidur, atau... Bagaimana saya tahu? Tampak seolah-olah mereka muncul begitu saja; mereka duduk di sini. Benar?

Jadi ketika tampak seolah-olah orang-orang muncul begitu saja tanpa latar belakang, bagaimana Anda bisa tahu cara terbaik untuk membantu mereka? Bagaimanapun kita tak semestinya percaya pada kenampakan itu dan akhirnya bisa membawa cita kita berhenti membuat hal-hal tampak seperti itu. Kemudian, bahkan pada tahap ini – bahkan jika saya tak tahu apa yang terjadi pada Anda pagi ini – setidaknya saya menghargai kenyataan bahwa sesuatu terjadi pada Anda pagi ini. Dan jika saya benar-benar tertarik, saya akan bertanya. Dan kita tidak mengartikan tertarik seperti dalam melakukan penelitian ilmiah. Kita berbicara tentang kepedulian nyata karena – kasih dan welas asih – saya ingin Anda bahagia dan tidak tak bahagia.
Jadi cobalah mengenali bagaimana cita kita menciptakan kenampakan-kenampakan yang menipu itu, dan betapa kenampakan-kenampakan itu membatasi ketika kita percaya bahwa mereka sesuai dengan kenyataan, dan bagaimana itu menyebabkan masalah.

Baik, terima kasih.