Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Mengatasi Kegandrungan Karma dengan Sila

Alexander Berzin
Berlin, Jerman, September 2012

Sesi Satu: Tingkat Pertama dari Sila

Pendahuluan

Pokok pembicaraan kita untuk hari ini – saya menyebutnya Mengatasi Kegandrungan Karma dengan Sila. Kita di sini membahas tentang hubungan antara karma dan sila, dan pokok utama tata tertib dan budi pekerti adalah untuk mengatasi karma. Semua ini sesuai di dalam lingkung yang dikenal sebagai empat kebenaran mulia:

  • Buddha mengajarkan bahwa kita memiliki banyak sekali duka.
  • Duka ini muncul dari sebab-sebab.
  • Ada keadaan di mana semua duka dan sebab-sebabnya bisa hilang selamanya.
  • Dan ini dapat dicapai melalui jalan-rintis pemahaman yang benar pada kenyataan, budi pekerti, dan seterusnya.

Ini adalah susunan yang Anda temukan secara umum dalam filsafat dan pemikiran atau agama India, tapi Buddha menyebut pokok-pokok ini duka sejati, sebab-sebab sejati, penghentian sejatiduka, dan jalan sejati yang mengarah ke penghentian itu (sehingga ia mengatakan bahwa jalan-jalan lain tidak cukup mendalam). Dan ini dianggap benar oleh kaum arya, makhluk-makhluk yang berkembang dan berkesadaran tinggi yang telah melihat kenyataan.

Sangat menarik bahwa mereka menggunakan istilah arya. Itu adalah nama dari orang-orang yang datang sekitar lima ratus tahun sebelum Buddha dan membawa Weda dan menaklukkan India dan seterusnya. Jadi mereka adalah kaum penakluk. Jadi yang ia katakan adalah bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sekadar melihat apa duka-duka sejati dan sebab-sebabnya, dst, tapi mereka telah mengatasi semua itu, jadi mereka adalah yang berjaya. Ini adalah istilah yang digunakan di seluruh peristilahan Buddha.

Karma adalah salah satu sebab utama duka – ini adalah salah satu sebab sejati dari duka sejati – dan ini memerlukan sila untuk mengatasinya. Sangat penting untuk memahami apa itu karma. Jika kita melihat pada kata Sanskerta, ini berasal dari akar kr, yang berarti "melakukan" (seperti kata dharma berasal dari kata dhr, "melindungi"). Maka kemudian Anda menambahkan akhiran pada kata ini, ma, dan Anda mendapatkan "yang bertindak" atau "yang menggerakkan tindakan" (sebagaimana dharma berarti "yang melindungi kita, melindungi kita dari duka").

Jadi karma adalah yang menggerakkan kita untuk bertindak dan memunculkan duka, dan Dharma adalah yang akan melindungi kita dari duka. Itu artinya karma bukanlah tindakan-tindakan itu sendiri. Meskipun Anda memiliki masalah yang sulit di sini, masalah yang membingungkan, karena ini diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet dengan kata yang berarti "tindakan" (las). Kebanyakan guru Tibet ketika mereka berbicara tentang karma akan menerjemahkan ini dengan terjemahan Tibet, sehingga Anda mendapatkan gagasan bahwa karma berarti tindakan-tindakan itu sendiri, tapi kemudian ini menjadi sangat membingungkan. Jika sebab sejati duka adalah tindakan kita, maka yang Anda perlu lakukan adalah berhenti melakukan apapun, dan kemudian Anda akan bebas. Jadi itu tidak masuk akal.

Jadi yang kita bicarakan di sini mengenai karma adalah kegandrungan yang menggerakkan kita untuk bertindak, berbicara dan berpikir dalam cara-cara yang bercampur dengan kebingungan. Ada kebingungan tentang bagaimana kita ada, bagaimana orang lain ada, dan apa itu kenyataan. Jadi karena kita bingung tentang siapa kita dan apa yang terjadi di dunia, maka kita bertindak dalam cara-cara yang sangat gandrung. Cara-cara gandrung ini dapat bersifat negatif secara gandrung, seperti selalu membentak dan kejam kepada orang-orang dan sebagainya. Atau ini bisa berupa secara gandrung bertindak positif, seperti misalnya menjadi perfeksionis, perfeksionis yang neurotik, atau "Aku harus menjadi baik" dan kemudian menjadi sangat gandrung tentang itu, atau "Semuanya harus bersih," seluruh gejala sebagai seorang perfeksionis. Ini sebenarnya menghasilkan banyak duka, meskipun ini adalah bertindak dalam cara yang sangat positif.

Jadi kita tidak berbicara tentang berhenti bertindak secara positif. Kita berbicara tentang menyingkirkan kegandrungan yang neurotik di balik itu. Itu adalah sebab duka. Di balik perfeksionisme itu adalah kebingungan tentang bagaimana kita ada. Kita berpikir tentang diri kita sebagai “aku, aku, aku” besar yang padu dan kemudian “aku” ini harus sempurna, harus baik. Dan mengapa? Agar ayah atau ibu akan menepuk-nepuk kepalaku dan menyebutku anak baik? Maksud saya, apa yang ada di balik ini? Seperti perkataan salah satu guru saya, "Lalu apa yang harus kita lakukan? Mengibas-ibaskan ekor kita seperti anjing?"

Tiga Tingkat Sila

Kita berupaya untuk menyingkirkan karma, kegandrungan inilah yang merupakan salah satu sebab, salah satu sebab sejati dari duka kita. Kita mengupayakan ini dalam tahap-tahap menurut lam-rim Mahayana. Lam-rim adalah istilah Tibet yang berarti "tahap-tahap bertingkat jalan Dharma." Dan Mahayana adalah ranah ajaran Buddha, bidang ajaran Buddha, aliran ajaran Buddha, di mana ini berkembang – awalnya pada jangkauan yang amat sangat kecil di India tetapi meluas dan berkembang pesat di Tibet. Dan lagi – saya memelajari banyak bahasa Asia, jadi saya selalu berusaha untuk tepat dengan bahasa-bahasanya – ketika ini diterjemahkan sebagai jalan bertahap, ini tidak benar-benar berbicara tentang sesuatu yang Anda tapaki, melainkan tentang tataran-tataran cita, tingkat-tingkat pemahaman, dan pengembangan batin seperti sebuah jalan yang akan membawa kita ke tujuan. Cara mengembangkan diri kita ini dibangun langkah demi langkah. Dan apa yang kita lakukan pada dasarnya memperluas lingkup dorongan kita, tujuan kita, sasaran kita, dan sebagainya, langkah demi langkah. Jadi yang kita akan lihat adalah bagaimana dalam setiap langkah itu kita bekerja untuk mengatasi karma dengan sila. Ini terlibat dalam semua tahap tersebut.

Saya harus mengatakan secara sangat ringkas bahwa tiga tingkat itu adalah

  • Berupaya untuk mengatasi kelahiran kembali yang lebih buruk sehingga kita terus memiliki kelahiran kembali yang lebih baik. Kita tidak sekadar ingin mencapai kelahiran kembali yang lebih baik, melainkan kelahiran kembali dengan kehidupan manusia yang mulia.
  • Dan kemudian pada tingkat kedua, kita ingin mengatasi kelahiran kembali seluruhnya. Anda mungkin telah mendengar istilah samsara ini. Samsara merujuk pada kelahiran kembali yang berulang tak terkendali. Dari sudut pandang Mahayana, kita berlanjut selamanya, kekal, bahkan setelah menjadi seorang Buddha pun kita terus ada (inilah penyajian Mahayana). Tapi yang kita ingin atasi adalah kelahiran kembali yang gandrung berulang tak terkendali yang berisi semakin banyak dan semakin banyak duka dan masalah. Jadi di sini kita bermaksud mencapai kebebasan dari hal itu.
  • Dan kemudian pada tingkat ketiga, kita bertujuan untuk mencapai tataran di mana kita mampu membantu orang lain untuk bebas dari ini, yang berarti menjadi seorang Buddha, makhluk mahatahu, jadi kita memahami (di antara hal-hal lain) karma semua orang sehingga kita tahu cara terbaik untuk membantu mereka.

Jadi karma terlibat di dalam semua bidang tersebut.

Berupaya untuk Mengatasi Kelahiran Kembali yang Lebih Buruk

Mari lebih dulu kita tinjau mengatasi kelahiran kembali yang lebih buruk. Ketika Buddha berbicara tentang duka sejati atau masalah sejati – duka kadang-kadang merupakan istilah yang sedikit janggal – kita di sini berupaya untuk mengatasi terutama jenis pertama dari masalah atau kesulitan yang kita hadapi, dan ini adalah pemahaman biasa kita pada kata duka, seperti ketidakbahagiaan, kepedihan, hal-hal buruk yang terjadi pada kita, dan sebagainya. Jadi duka ragawi dan batin – inilah yang kita hendak atasi.

Kelahiran kembali yang lebih buruk akan dipenuhi dengan duka yang benar-benar mengerikan. Jika kita membayangkan lahir sebagai ikan di laut yang berenang kesana-kemari, dan kemudian tiba-tiba seekor ikan yang lebih besar datang dan menggigit kita jadi dua, atau serangga yang dimakan oleh serangga yang lebih besar, dan hal-hal seperti itu, ini bukanlah kemungkinan yang menyenangkan. Ini bukan hal yang kita ingin alami, bukan? Atau Anda tahu bagaimana binatang selalu mengawasi sekeliling untuk memastikan tidak ada binatang lebih besar mendekat dan mengambil makanannya, gambaran buruk dan ketakutan ini? Atau membayangkan ayam-ayam di tempat yang Dalai Lama sebut "penjara ayam" di mana mereka tidak dapat bergerak dan mereka hanya dibesarkan untuk dimakan di McDonald's, yang separuhnya dibuang di tempat sampah (dan ajaran Buddha menjelaskan keadaan-keadaan yang jauh lebih buruk, tapi kita tidak perlu membahas itu sekarang). Jadi kita ingin menghindari hal itu, kita benar-benar tidak menginginkan itu, dan yang kita ingin capai adalah kebahagiaan. Semua orang ingin bahagia; tak seorangpun ingin tidak bahagia. Itu adalah aksioma dasar dalam ajaran Buddha. Dan apa yang kita bicarakan di sini hanyalah kebahagiaan lazim kita (kita akan berbicara lebih banyak tentang itu ketika kita sampai pada lingkup kedua).

Apakah sebab sejati dari ketidakbahagiaan dan duka nestapa ini? Karma negatif adalah sebab utamanya. Ini adalah kegandrungan untuk bertindak dalam cara-cara merusak yang dihasilkan oleh, dan disertai dengan, perasaan-perasaan yang gelisah. Ini adalah hal yang sangat penting untuk dipahami, bahwa ketika kita berbicara tentang perilaku merusak atau perilaku negatif, kita tidak berbicara tentang tata budi pekerti yang berdasarkan pada hukum, baik kita berbicara tentang hukum yang berasal dari asal-usul ketuhanan maupun hukum negara yang dibuat oleh pemerintah. Dalam jenis-jenis tata budi pekerti itu, untuk menjadi orang yang berbudi pekerti pada dasarnya kita harus menjadi pengikut yang taat, baik warga negara maupun pengikut agama, dan mematuhi hukum-hukumnya. Dan tentu saja bersamaan dengan hukum, maka ada keadaan tidak bersalah dan bersalah, dan penghakiman. Jadi ini sama sekali bukanlah wawasan budi pekerti Buddha.

Di sini kita berbicara tentang tata budi pekerti yang berdasar pada kebingungan. Saya perlu memerinci hal itu. Ketika kita bertindak secara merusak, ini bukan karena kita tidak patuh, melainkan sebaliknya kita hanya bingung tentang kenyataan. Itulah mengapa kita bertindak secara merusak. Seperti misalnya menempelkan tangan Anda ke api atau di atas kompor yang panas. Ini bukan karena kita tidak mematuhi hukum yang mengatakan, "Jangan meletakkan tanganmu ke api." Anda meletakkan tangan Anda di atas kompor panas itu pada dasarnya karena Anda tidak tahu bahwa itu panas – Anda tahu, seperti salah satu dari kompor listrik itu. Anda tidak tahu. Kebingungan. Kita bingung. Kita tidak tahu bahwa apabila kita bertindak dalam cara tertentu, itu akan menghasilkan masalah.

Saya mengatakan sesuatu kepada Anda, dan saya tidak tahu bahwa itu akan menyakiti rasa Anda. Saya mengatakan itu bukan karena saya jahat. Saya hanya tidak menyadari bahwa itu akan menyakiti rasa Anda, saya bingung. Atau kita bisa saja secara sengaja mengatakan itu untuk menyakiti Anda, tapi itu juga bingung tentang kenyataan orang lain – bahwa orang itu adalah manusia, sama seperti kita; ia ingin bahagia; ia tidak ingin tak bahagia. Dan jika ia bertindak secara tak patuh terhadap kita, itu karena ia bingung.

Jadi ketika kita bertindak secara merusak, ini disebabkan oleh, dan disertai dengan, suatu perasaan yang gelisah. Apakah perasaan yang gelisah? Apakah artinya? Itu adalah perasaan yang ketika ia muncul membuat kita kehilangan kedamaian cita dan membuat kita kehilangan pengendalian diri. Itu sangat menarik. Itu adalah pengertian yang sangat baik dan berguna. Kita biasanya bisa merasakan bahwa ketika kita merasa gugup dan kita tidak memiliki ketenangan cita dan kita bertindak secara gandrung, suatu perasaan gelisah ada di balik itu.

Lalu apa perasaan-perasaan gelisah kita yang utama? Ada rumpun kemelekatan, hasrat mendamba dan keserakahan. Kita melebih-lebihkan mutu positif dari sesuatu, sepenuhnya mengabaikan atau mengingkari mutu-mutu negatifnya, dan

  • Jika kita tidak memilikinya, kita menginginkannya. Itulah hasrat mendamba.
  • Jika kita memilikinya, kita tidak ingin melepaskannya. Itulah kemelekatan.
  • Dan bahkan jika kita memilikinya, kita tidak puas; kita ingin lebih. Itulah keserakahan.

Ini tataran cita yang gelisah, bukan? Ini mencegah kita menikmati apapun.

Dan kemudian kita memiliki kemarahan. Ada banyak taraf kemarahan.

Dan keluguan, keluguan tentang akibat perilaku kita pada diri kita sendiri dan pada orang lain. Seperti menjadi seorang penggila kerja, memaksakan diri terlalu banyak. Kita lugu bahwa itu akan merugikan kesehatan kita, keluarga kita, dan seterusnya, jadi ini sangat merusak diri sendiri. Atau kita selalu terlambat dan tidak menepati janji-janji kita dengan orang lain. Ini lugu, berpikir bahwa itu tidak menyakiti orang lain dan mereka tidak akan merasakan itu. Jadi itu adalah perilaku merusak.

Hal-hal tersebut adalah tataran cita yang menyebabkan kita kehilangan ketenangan cita dan pengendalian diri. Dan mereka menyertai kegandrungan itu untuk bertindak secara merusak, seperti bekerja terlalu keras atau berkata, "Jangan pernah meninggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu," hal semacam ini. Ini sangat merusak, bukan? Ada perasaan yang gelisah di balik itu dan kegandrungan untuk selalu mengatakan itu, untuk selalu bertindak dengan cara itu. Mereka muncul bersamaan. Itu menyebabkan masalah-masalah kita, duka kita. Itu merusak. Kita tidak bahagia.

Dan selain itu, perilaku merusak disertai oleh beberapa tataran cita lebih lanjut yang juga menyebabkan kita bertindak dalam cara yang gandrung, cara yang secara gandrung merusak:

  • Pertama, kita tidak memiliki rasa hormat terhadap mutu-mutu baik dan terhadap mereka yang memilikinya.
  • Kita tidak memiliki pengendalian diri untuk menahan diri kita dari bertindak secara negatif.
  • Kita tidak memiliki martabat diri yang bersusila. "Aku sangat menghargai diriku sendiri sehingga aku tak akan bertindak seperti itu." Harga diri adalah hal yang sangat penting. Jika Anda memiliki harga diri, Anda tidak akan merangkak kepada seseorang dan memohon kepadanya, "Jangan tinggalkan aku" dan seterusnya. Anda memiliki rasa martabat diri. Tapi di sini Anda tidak memilikinya, ketika Anda berperilaku secara merusak.
  • Dan yang keempat adalah kita tidak peduli tentang bagaimana tindakan kita tercermin pada orang lain. Misalnya jika Anda pergi berlibur dan Anda membuat kegaduhan, selalu mabuk dan berbicara keras dan memberantakkan kamar hotel dan sebagainya, ini akan memberikan nama buruk pada wisatawan Jerman, misalnya. Jadi Anda tidak peduli bagaimana tindakan ini akan tercermin pada saudara sebangsa Anda.

Jadi ini adalah rumpun lain dari sikap-sikap yang menyertai perilaku gandrung merusak ini.

Jadi kita memerlukan sila untuk menahan diri dari tindakan-tindakan negatif. Dan kita memperoleh sila itu dengan menghilangkan satu unsur yaitu kebingungan – dengan kata lain, kita memahami sebab dan akibat perilaku. Dengan kata lain, kami memahami bahwa apabila kita bertindak dalam cara-cara yang merusak ini, jika kita membiarkan diri kita dikendalikan oleh perasaan-perasaan gelisah kita, itu hanya akan menghasilkan banyak sekali ketidakbahagiaan dan masalah bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Sangat penting untuk dipahami di sini bahwa pada dasarnya yang kita bicarakan sekarang adalah tentang tingkat pertama dari perilaku berbudi pekerti, yakni pengendalian diri. Dan pengendalian diri tidak didasarkan pada keinginan untuk menjadi patuh dan warga negara yang baik atau pengikut agama yang baik, melainkan kita melatih pengendalian diri karena kami memahami bahwa jika kita bertindak sepenuhnya tanpa kendali, itu akan menghasilkan banyak masalah. Ini saya pikir adalah hal yang sangat penting untuk ditekankan dalam penyajian tentang ajaran Buddha, dalam pemahaman kita tentang ajaran Buddha. Jika budi pekerti kita didasarkan pada kepatuhan, maka kita tahu dari pengalaman sehari-hari bahwa orang-orang memberontak terhadap keharusan untuk patuh, keharusan untuk menaati hukum-hukum, terutama jika Anda adalah remaja. Atau kita berpikir bahwa bagaimanapun kita bisa menghindari hukum. "Kita bisa lari dari hukum," kita berkata dalam bahasa Inggris. Kita tidak akan tertangkap. Sedangkan di sini budi pekerti semata-mata didasarkan pada pemahaman, jadi pemberontakan sebenarnya bukan sebuah persoalan.

Tentu saja tidak mudah untuk memahami hubungan antara perilaku merusak dan ketidakbahagiaan dan duka, sehingga Anda mungkin tidak memercayai itu, yang dalam hal ini Anda akan berkata, "Ya, budi pekerti ini konyol." Tapi pada satu tingkat, ketika Anda memiliki suatu pengalaman hidup, Anda melihat bahwa jika Anda selalu bertindak dalam cara-cara negatif, Anda bukan orang yang sangat bahagia. Orang lain tidak menyukai Anda, bukan? Mereka takut pada Anda. Mereka takut bertemu Anda karena Anda mungkin marah pada mereka: "Aku takut untuk berbicara denganmu karena kamu mungkin meledak." Jadi dari pengalaman kita, kita dapat memahami bahwa hanya pada tingkat yang sangat dasar dan dangkal, bertindak secara negatif dan merusak membawa ketidakbahagiaan.

Itu adalah pokok yang menarik karena tentu saja kita bisa bertindak dalam cara merusak dan merasa sangat bahagia dengan itu. Seperti misalnya ada nyamuk mendengung di seputar wajah Anda ketika Anda mencoba untuk tidur, dan Anda memukulnya dan membunuhnya, dan Anda merasa, "Yeah, kena kau!" dan Anda benar-benar bahagia. Tapi jika Anda memikirkan hal itu, Anda selalu berada dalam tataran ketakutan bahwa ada nyamuk lain akan datang, karena cara Anda berurusan dengan sesuatu yang mengganggu Anda adalah membunuhnya, bukan? Jadi Anda tidak mencari penyelesaian yang damai. Penyelesaian yang damai jika Anda berada di tempat dengan banyak nyamuk adalah kelambu, atau memasang kasa di jendela.

Jadi pengartian dari perasaan gelisah yang menyertai perilaku merusak ini sangatlah membantu dalam lingkung ini. Pengartian dari perasaan-perasaan merusak yang menyertai perilaku merusak – -perasaan-perasaan yang gelisah – persis sama dengan arti dari kata gelisah. Kita kehilangan ketenangan cita, dan kita kehilangan pengendalian diri. Itu bukan tataran cita yang bahagia, bukan?

"Aku cemas dan takut nyamuk lain akan datang dan mengganggu tidurku." Anda tidak memiliki ketenangan cita, dan Anda tidak memiliki pengendalian diri untuk santai dan pergi tidur, karena Anda takut. Dan cara kita bertindak itu adalah gandrung, bukan? Gandrung yang neurotik, seolah-olah Anda hendak melompat dari tempat tidur, mengenakan topi lebar yang biasa dipakai orang Inggris ketika mereka melakukan safari di Afrika, dan sekarang Anda berada di safari, berburu di dalam kamar untuk melihat apakah ada nyamuk lain.

Itulah lingkup pertama, berupaya untuk mengatasi kelahiran kembali yang lebih buruk dengan melatih pengendalian diri berbudi pekerti sehingga ketika kita hendak bertindak dalam cara yang negatif, kita tidak melakukannya. Mengerti? Sekarang, mari kita meluangkan waktu sejenak untuk mencerna hal itu, memikirkan itu dari pengalaman kita sendiri.

Ini adalah jenis meditasi yang ditekankan – ditekankan oleh Yang Mulia Dalai Lama – ditekankan dalam ajaran-ajaran Tibet sebagai hal yang amat sangat berguna. Dan ini kadang-kadang diterjemahkan sebagai meditasi perincian, tapi saya mendapati bahwa kata perincian mungkin sedikit menyesatkan, sedikit terlalu teknis. Jadi saya menggunakan istilah teknis lain sebagai gantinya: meditasi pencermatan. Mencermati berarti mencoba melihat ini dalam hidup Anda. Dengan kata lain, kita mencoba melihat dalam hidup kita suatu pokok tertentu dalam ajaran-ajaran, mencoba memeriksa kehidupan kita dan melihat, "Ah, ya. Aku mengerti bahwa ketika aku bertindak secara merusak, ini sangat gandrung, dan ada banyak kemelekatan atau banyak kemarahan di baliknya. Dan apa hasilnya? Aku sebenarnya sangat menderita." Anda mencoba membenarkan itu dengan melihat itu dalam pengalaman Anda sendiri. Jadi dengan mencermati hal ini, dengan melihat hal ini, kita menjadi semakin dan semakin yakin bahwa hal ini adalah benar. Dan hanya berdasarkan pada kepercayaan itu bahwa ini adalah kenyataan hidup, keyakinan ini bahwa ini adalah kenyataan hidup, bahwa kita akan benar-benar mulai mengubah perilaku kita. Ini adalah rupa meditasi yang sangat penting karena kata meditasi dalam bahasa aslinya berarti "membangun kebiasaan yang bermanfaat." Ini adalah makna dari istilah Tibetnya (sgom), "membangun kebiasaan yang bermanfaat." Dan istilah Sansekertanya (bhavana) berarti "membuat sesuatu benar-benar terjadi" – dengan kata lain, membuat perubahan nyata dalam diri kita.

Baik, kita akan beristirahat selama lima menit.