Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Pengantar Umum Menuju Ajaran-Ajaran Lingkup Awal dari Jalan Bertahap (Lam-rim)

Tsenzhab Serkong Rinpoche I
diterjemahkan oleh Alexander Berzin
disunting oleh Samaya Hart
Huizen, Belanda, Mei 1980
[Salinan yang disunting sedikit dari sebuah rekaman yang tidak lengkap]

Hari Kedua: Karma dan Perlindungan

Lanjutan untuk Tidak Menggunakan Bahasa Hasutan

Kemarin, kita bicara tentang tindakan merusak kelima, yaitu menggunakan bahasa hasutan. Perbincangan kita sudah mencakup tiga tindakan tubuh yang merusak dan tindakan pertama untuk bagian wicara. Kita kemarin membahas tindakan wicara merusak yang kedua, menggunakan bahasa hasutan.

Landasan bagi bahasa hasutan ialah sekelompok orang yang akur atau tidak akur dalam berhubungan. Alasan mengapa ada dua landasan adalah karena Anda bisa menyebabkan sekelompok orang yang akur jadi terpisah, dan demikian juga, sekelompok orang yang sudah tidak akur jadi tambah parah. Niat yang termasuk di sini adalah sebuah dorongan, sebuah sikap yang gelisah, dan pengenalan. Pengenalan ialah pandangan tepat dan sebenarnya tentang status di antara berbagai orang yang Anda ajak bicara. Sikap yang gelisah dapat berupa kemelekatan, amarah, atau kebodohan cita-buta. Sementara itu, membuat orang-orang yang tidak akur jadi tak mampu berdamai, atau orang-orang yang akur jadi terpecah-belah, adalah dorongannya.

Tindakannya dapat berupa jenis wicara apapun, baik itu benar atau tidak. Kata-kata manis atau jahat sama-sama bisa. Ada banyak cara. Kesimpulan tindakannya adalah ketika Anda telah betul-betul menyebabkan pemecah-belahan yang parah antara mereka, ketika ada sekat atau jurang pemisah antara mereka.

Tidak Berbicara Kasar

Tindakan wicara merusak berikutnya adalah berbahasa keras dan kasar, melontarkan kata-kata kejam. Ini pun melibatkan sebuah landasan, sebuah niat, sebuah tindakan, dan sebuah kesimpulan. Landasannya adalah seseorang yang telah melukai Anda atau telah melukai teman atau saudara Anda, dan yang Anda rasa akan menyakiti mereka lagi di masa depan. Jadi Anda sangat marah pada mereka. Niat yang termasuk di sini adalah dorongan untuk betul-betul mengatakan sesuatu yang kasar. Kata-kata yang terucap bisa jadi benar atau tidak. Jenis kata-kata kasar apapun bisa berlaku di sini. Contohnya, memanggil orang yang cacat jasmani dengan sebutan “si pengkor” merupakan pernyataan yang benar, tapi kejam. Memanggil seseorang yang tidak bercacat jasmani dengan sebutan “si pengkor” adalah contoh wicara kasar yang salah. Kata-kata yang menyenangkan dan menyebalkan sama-sama bisa dipakai. Anda bisa menyebut seseorang itu cebol, dan mengolok-oloknya. Anda bisa berkata pada seseorang yang berkulit gelap, dengan kata-kata merdu, tapi bermaksud menyindir, “Kulitmu cerah, ya!” Atau Anda dapat mengolok-olok orang miskin dengan mengatakan betapa kayanya mereka. Jika ada orang yang bukan seorang Buddha, Anda dapat menyindirnya dengan memanggilnya Sang Buddha. Itulah cara kejam untuk berbicara pada orang dengan memakai kata-kata yang terdengar manis. Tindakan itu tergenapi ketika orang tersebut betul-betul memahami apa yang Anda katakan.

Tidak Bicara Omong Kosong

Tindakan wicara merusak berikutnya adalah bicara omong kosong, mengatakan hal-hal yang tak bermakna. Ini pun melibatkan sebuah landasan, niat, tindakan, dan kesimpulan. Landasannya dapat berupa wicara tak bermakna dan tak berguna, apapun jenisnya. Seterusnya mirip dengan yang telah kita bahas tadi, kecuali untuk kesimpulannya. Tak seorangpun yang betul-betul harus memahami apa yang telah Anda katakan. Betul-betul mengatakan suatu hal bodoh, suatu hal tak bermakna, saja sudah cukup untuk menggenapi tindakannya. Misalnya, membaca karya khayal tak bermakna keras-keras akan masuk dalam kelompok bicara omong kosong, dimana hal tersebut dilakukan tanpa tujuan sama sekali.

Tidak Berpikiran Loba

Jenis-jenis tindakan merusak berikutnya bersifat batin. Yang pertama adalah pikiran-pikiran loba, pikiran-pikiran yang dengannya kita hendak memiliki apa yang dipunyai orang lain. Sasarannya berupa milik orang lain apapun bentuknya, uang mereka, harta mereka, hal-hal bendawi mereka, rumah mereka, dsb. Bisa jadi apa aja. Jenis pikirannya seperti ini: Anda lihat semua benda itu dan hendak memilikinya juga. Tindakannya tergenapi ketika Anda betul-betl memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mencoba mendapatkan apa yang dimiliki orang lain ini.

Tidak Berpikiran Dengki

Tindakan merusak kesembilan adalah berpikiran dengki atau berharap orang lain ditimpa bahaya. Landasan yang termasuk di sini sama seperti pada bahasa keras dan kasar, yaitu: seseorang yang telah menyakiti Anda atau saudara atau teman Anda, yang Anda rasa akan menyakiti mereka lain, dan yang membuat Anda marah. Dorongannya dapat berupa perasaan ingin menonjok atau memukul orang lain itu, atau melukai mereka dengan suatu cara. Tindakannya genap pada tingkatan batin, ketika Anda betul-betul memutuskan untuk bertindak atas dasar pikiran dengki itu. “Akan kudatangi orang ini dan kutonjok mukanya," atau "Aku tak tahan kalau tak membanting orang ini."

Tidak Berpikir dengan Pandangan Menyimpang

Mengenai pikiran dengan pandangan menyimpang, landasan yang terlibat haruslah sesuatu yang juga menyimpang. Inilah tindakan menyangkal sesuatu yang benar. Misalnya, bersikeras bahwa tidak ada kehidupan di masa mendatang manakala sebetulnya ada kehidupan di masa mendatang itu, atau bersikeras bahwa tidak ada hal-hal seperti hubungan antara sebab dan akibat, atau bersikeras bahwa kebahagiaan tidak berasal dari tindakan positif dan membangun. Semua ini adalah contoh-contoh berpikir dengan pandangan menyimpang, menyangkal hal yang benar.

Desakan (Karma) dan Jalan-Rintis bagi Desakan (Jalan Karma)

Ada berbagai pokok yang dapat Anda selidiki lebih jauh. Ketujuh tindakan merusak dari tubuh dan wicara adalah sejenis desakan, dan juga jalan-rintis bagi desakan itu. Sementara, tiga jenis tindakan merusak yang bersifat batin merupakan jalan-rintis bagi desakan, tapi bukan desakan itu sendiri. Makna karma yang sebetulnya adalah desakan untuk berbuat sesuatu. Desakan itu sendiri merupakan sebuah sikap batin sekunder, dan sebetulnya bukan jalan-rintis dari desakan. Ini sebuah pembedaan teknis, yang dapat dikaji lebih jauh.

Besok-besok, ketika ada seorang Geshe terampil hadir di sini, hal ini bagus untuk ditanyakan. Bermacam pertanyaan lain tentang benda-benda angkasa atau sejenisnya itu tidaklah berapa dalam. Jika Anda menjalankan laku dan mendaraskan mantra dan seterusnya, setelah beberapa saat jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan jadi jelas bagi Anda tanpa harus menanyakannya pada orang-orang terpelajar. Dalam hal pertanyaan tentang bulan dan seterusnya, akan terjawab jelas dengan membaca dan mempelajari naskah-naskah. Saya hanya menjelaskan hal-hal kecil di sini. Tidak ada cukup waktu untuk masuk sampai rinci pada semua soalan ini.

Bobot Tindakan

Ada juga perbedaan dalam hal berat atau ringannya tindakan. Saat seseorang yang hari-hari terbiasa melakukan hal-hal merusak, misalnya seorang jagal, melakukan tindakan merusak yang kecil sekalipun, bobot tindakannya bisa jadi sangat berat. Misalnya, dari sifatnya, bicara omong-kosong adalah yang paling ringan dari kesepuluh tindakan merusak, tapi ketika kita selalu melakukannya, karena kekerapannya itu, ia jadi lumayan berat. Ibaratnya, sekalipun kertas-kertasnya tipis, kalau ditumpuk sedemikian banyaknya, pasti akan jadi terasa berat. Lebih jauh lagi, jika Anda melakukan perbuatan dengan niat yang sangat kuat, tindakan itu pun jadi lebih berat. Demikian pula, jika Anda melakukan sebuah tindakan negatif atau merusak, dan Anda tidak merasa menyesal atau tidak melaksanakan satupun dari empat daya untuk memurnikan diri Anda, daya negatif yang Anda bina lumayan berat.

Daya-daya positif yang dapat dibina dengan bertindak membangun bisa juga bersifat sangat berat atau lemah. Kalau Anda tidak marah, daya positifnya tetap kuat. Jika sasaran tindakan positif Anda adalah seorang guru rohani, orangtua Anda, atau Tiga Permata, daya positifnya jadi sangat berat. Demikian pula, kalau Anda melakukan sesuatu yang negatif atau merusak terhadap mereka, daya negatif yang terbina sangat berat.

Ketika kita pikirkan pokok-pokok ini, yang harus kita lakukan adalah memutuskan untuk melakukan semua jenis tindakan positif dan membangun yang terkuat dan terberat, dan menghindari tindakan-tindakan negatif yang terberat pula. Jika Anda punya besi dan emas yang sama jumlahnya, Anda pasti ingin menambah jumlah emasnya, bukan besinya. Demikian pula, dalam hal daya-daya positif dan negatif ini, jika Anda memiliki dua jumlah yang setara beratnya, Anda pasti ingin mempertahankan daya yang positif dan melepaskan yang negatif.

Mengenai penyajian tiga tindakan raga negatif dan empat tindakan wicara negatif, urutan pertama dari tindakan-tindakan inilah yang terberat. Yang lain setelahnya bersifat lebih ringan. Karena setiap orang teramat sangat menghargai hidup mereka, maka membunuh adalah tindakan raga merusak yang paling berat, sementara mengambil milik orang lain dengan mencurinya lebih ringan, dan perilaku perkelaminan yang menyimpang dengan orang lain jadi yang paling ringan di antara ketiganya. Sama juga dengan tindakan wicara merusak. Yang paling berat adalah berbohong dan kemudian menggunakan bahasa hasutan; berbahasa kasar itu lebih ringan dan bicara omong-kosong itu yang paling ringan. Untuk tindakan batin merusak, justru sebaliknya. Yang pertama yang lebih ringan dan yang setelahnya yang lebih berat. Dari ketiganya, berpikiran loba itu yang teringan, lalu berpikiran dengki itu lebih berat, dan berpikir dengan pandangan-pandangan menyimpang itu yang terberat.

Tidak melakukan satupun dari sepuluh tindakan merusak ini dan mencoba melakukan sepuluh tindakan yang membangun itu amat penting. Dulu, ada seorang Geshe dari Mongolia yang sangat terampil dan terpelajar. Ia merupakan seorang guru mulia yang menjadi kepala biara salah satu perguruan tinggi tantra. Saya sendiri menerima ajaran-ajaran darinya. Suatu kali seorang bangsawan datang dan bertanya pada mahaguru ini tentang kehampaan. Guru tersebut berkata, “Lupakan kehampaan, berhentilah jadi pencuri.” Ini karena ia sadar bahwa bangsawan ini merampok uang rakyat. Beberapa anggota masyarakat ningrat mungkin kadang-kadang memberi persembahan bagi para anggota wihara, tapi mereka juga kerap mendulang uang dengan cara memeras rakyat dan menyimpan sebagian besar hasilnya untuk diri sendiri.

Dengan ini, berat-ringannya bobot berbagai tindakan sudah kita bahas.

Akibat-Akibat dari Tindakan

Akibat matang yang muncul dari semua tindakan merusak ini sama: kelahiran kembali di salah satu tataran terburuk sebagai makhluk neraka, hantu, atau binatang. Ada dua jenis akibat menurut sebabnya. Ada akibat-akibat yang berhubungan dengan sebabnya dalam hal pengalaman Anda, dan ada pula yang berhubungan dengan sebabnya dalam hal perilaku naluriah Anda. Ini dibahas kemarin ketika kita membicarakan tindakan membunuh. Akibat yang berhubungan dengan sebabnya dalam hal pengalaman Anda berupa hidup yang singkat dan sarat penyakit.

Akibat dari berbahasa keras dan kasar adalah bahwa orang lain selalu membentak dan mengucapkan hal-hal jahat pada Anda, dan Anda selalu harus mendengarkan bahasa-bahasa jahat ini. Akibat dari bicara omong-kosong adalah bahwa tak seorangpun akan mendengarkan apa yang mesti Anda katakan. Tak ada yang memperhatikan Anda, atau menganggap kata-kata Anda dengan sungguh-sungguh. Kalau orang selalu mendengarkan apa yang Anda katakan, itu adalah hasil dari tindakan tidak beromong-kosong. Jika Anda memiliki pikiran-pikiran loba yang kuat, akibatnya adalah bahwa Anda akan menjadi orang dengan kemelekatan dan hasrat yang hebat. Sebagai akibat dari pikiran-pikiran dengki, Anda akan menjadi orang yang bersifat sangat bermusuhan dan pemarah. Akibat dari berpikiran menyimpang adalah bahwa Anda akan menjadi orang yang bercita-buta dan bodoh.

Akibat yang berhubungan dengan sebabnya dalam hal perilaku naluriah Anda untuk tiap-tiap tindakan merusak ini adalah bahwa sedari kecil Anda akan secara naluriah terbawa untuk mengulangi tindakan-tindakan ini. Seperti dijelaskan kemarin, hasil menyeluruh dari tidak membunuh adalah bahwa negeri tempat Anda lahir akan menjadi negeri dimana makanannya sangat kaya dan berkhasiat. Demikian juga, obat-obatannya akan sangat manjur. Akibat menyeluruh dari mencuri, mengambil apa yang tidak diberikan, adalah bahwa di negeri tempat Anda lahir tanam-tanamannya akan jelek sekali. Hasil buminya miskin, hujannya jarang, banyak debu, dan seterusnya. Akibat dari kelakuan seksual yang tak pantas adalah bahwa negara tempat Anda lahir itu sangat kotor dan jorok, sebuah tempat kotoran dan sampah berserakan.

Akibat dari berbohong adalah bahwa ketika Anda menanami lahan, misalnya, tak ada hasil yang sesuai dengan rencana Anda. Akibat dari bahasa yang menghasut adalah bahwa di negeri tempat Anda lahir datarannya sangat tidak landai; akan ada banyak lembah dan jurang yang dalam. Akan sukar sekali pergi ke mana-mana. Akibat berbahasa keras dan kasar, negeri itu akan banyak duri dan batunya dan lingkungannya keras sekali. Sebagai akibat bicara omong-kosong, tanaman yang Anda budidayakan akan amburadul. Anda akan panen di waktu yang keliru di tahun itu, dan tak ada yang tumbuh tepat waktu.

Akibat menyeluruh dari pikiran-pikiran loba adalah bahwa segala sesuatu di negeri Anda dengan cepat runtuh, hal menyenangkan apapun yang Anda punya langsung berantakan. Akibat menyeluruh dari kedengkian adalah bahwa negeri Anda akan didera banyak penyakit dan wabah. Mahaguru Rinpoche, Padmasambhava, memprakirakan bahwa di masa depan akan ada banyak penyakit baru yang sebelumnya tak punya nama dan bahwa tidak akan ada obat atau penyembuhnya, dan ini tak lain karena pikiran dengki dan benci yang amat kuat. Kita tahu ini benar belaka. Banyak penyakit modern menjangkiti umat manusia. Akibat menyeluruh dari pandangan-pandangan menyimpang adalah bahwa sumber-sumber daya negara Anda akan terkuras habis. Sebuah negara mungkin pernah punya persediaan air, pohon, tambang, kekayaan, minyak, dsb. yang melimpah, tapi semua ini terkuras habis.

Hasil menyeluruh dari tindakan-tindakan membangun adalah kebalikan dari semua ini. Karena tidak membunuh, sebuah negara akan memiliki obat-obatan yang sangat ampuh dan manjur, dan juga makanan yang kaya dan bergizi. Anda dapat mencaritahu sisa akibat menyeluruh dari tindakan-tindakan membangun ini hanya dengan mencari kebalikan dari akibat-akibat menyeluruh dari tindakan-tindakan merusak.

Kekuatan Daya

Juga, ada perbedaan kekuatan bagi daya yang dibina dengan berbagai tindakan menurut empat patok-ukur unsur. Pertama, ada yang disebut medan, yang mengacu pada orang yang menjadi sasaran tindakan; lalu landasan, yang mengacu pada keadaan orang yang melakukan tindakan; hal yang terlibat dalam tindakan tersebut; dan kemudian tataran cita yang terlibat.

Mengenai patok ukur yang pertama, medan tindakan, tindakan-tindakan itu menjadi sangat kuat ketika diarahkan pada Tiga Permata dan para guru rohani. Tindakan juga menjadi sangat kuat ketika diarahan pada mereka yang sama dengan para guru rohani atau lama, dan itu mengacu pada orang-orang yang memberitahu Anda apa yang positif dan apa yang negatif. Siapapun yang memberi Anda nasihat sahih itu sama seperti seorang guru rohani atau lama. Demikian pula, para orangtua merupakan medan yang sarat daya bagi tindakan, karena tak peduli jenis tindakan apa yang Anda lakukan langsung terhadap mereka, entah positif atau negatif, tindakan itu jadi sangat kuat. Sekalipun Anda hanya memberi pertolongan kecil pada orang-orang itu, tetap saja tindakan itu membina daya positif yang sangat kuat. Sekalipun Anda hanya bertindak sedikit negatif dan merusak terhadap mereka, hal itu membina daya negatif yang luar biasa besar.

Untuk landasan, jika seseorang telah mengambil sumpah, maka tindakan-tindakan mereka jadi bersifat sangat kuat. Atas landasan telah mengangkat sumpah, baik itu orang awam, biksu pemula, atau seorang biksu atau biksuni yang sudah sepenuhnya ditahbiskan, tindakan-tindakan positif atau negatifnya menjadi lebih kuat. Khususnya jika Anda melakukan semacam tindakan membangun di atas landasan hati bodhicita yang berbakti, hati yang dibaktikan pada orang lain dan untuk pencapaian pencerahan, tindakan itu menjadi amat sangat kuat dan ampuh. Jika Anda memulai hari dengan berpikir, “Puji syukur aku masih hidup pagi ini. Karena aku sudah bangun, aku akan membaktikan hatiku pada orang lain dan untuk pencapaian pencerahan. Aku akan sepositif dan semembangun mungkin,” maka apapun yang Anda lakukan sepanjang hari akan digiring oleh daya dari niat kuat Anda, bahkan meski Anda tidak selalu sepenuhnya sadar akan hal itu. Jadi, amat penting untuk memulai hari dengan niat yang sangat positif seperti itu. Kuatnya daya tergantung pada niatnya.

Contoh tadi adalah contoh pokok keempat. Mundur sedikit, contoh untuk pokok ketiga, yaitu hal yang terlibat, adalah sebagai berikut: Tentang kemurahan hati, jika Anda memberi ajaran dan langkah-langkah kerohanian pada orang lain, dayanya akan jauh lebih kuat dibanding sekadar memberi mereka hal-hal yang bersifat bendawi. Pokok keempat, tentang kekuatan yang ditentukan oleh tataran cita yang terlibat, telah disebutkan tadi. Misalnya, jika Anda membuat persembahan hanya sekuntum bunga dengan tujuan mendatangkan manfaat bagi makhluk-makhluk yang tak terbatas jumlahnya, daya positif yang terbina menjadi sebanding luasnya. Maka penting untuk membentuk niat positif yang amat kuat pada awal dari segala perbuatan Anda. Yaitu, pada awal dari tiap tindakan penting sekali Anda memiliki hati bodhicita dan harapan bahwa perbuatan Anda akan membawa manfaat bagi semua makhluk hidup. Demikian pula di penghujung hari, penting sekali untuk betul-betul membaktikan daya positif yang telah Anda bina selama sepanjang hari, dengan mempersembahkannya bagi pencapaian pencerahan agar mampu membawa manfaat bagi setiap orang.

Dengan begitu, niat yang Anda tetapkan di pagi hari dan persembahan yang Anda berikan pada malamnya amat sangat penting. Jika sebelum beranjak tidur Anda menetapkan niat untuk menjadi sangat positif dan membangun, dan mencoba berupaya sebesar mungkin bagi kemaslahatan orang lain di hari berikutnya, sepanjang malam itu akan jadi sangat positif karena hal tersebut akan terlaksana dengan niat yang kuat ini. Jika Anda melewati siang dan malam Anda dengan cara sepositif dan semembangun ini, Anda akan betul-betul mampu menyelesaikan jalan pelatihan kerohanian dan menghidupi hidup yang sempurna.

Delapan Sifat Baik yang Matang dari Hidup Manusia yang Mulia

Saat berpikir tentang menjaga diri dari sepuluh tindakan merusak ini, Anda perlu menimbang kenyataan bahwa Anda mampu mencapai hidup manusia mulia sekarang ini sebagai hasil tindakan-tindakan membangun Anda di masa lalu. Agar mampu mencapai pencerahan dengan cara yang paling tepat-guna dan mudah, diperlukan sebuah landasan manusia, tubuh manusia, yang lengkap memiliki delapan sifat baik yang matang. Delapan sifat ini yaitu: berumur panjang; berpenampilan jasmani yang menyenangkan; berlatar belakang keluarga atau kasta lahir yang sangat baik; berkecukupan; memiliki wicara yang meyakinkan, sehingga apa yang Anda katakan dapat dipercaya; berdaya dan berpengaruh; dan bertubuh sangat kuat, punya daya tahan hebat dan cita yang sangat kuat atau tekad yang hebat. Yang terakhir, berjenis kelamin laki-laki. Ini karena antara pria dan wanita, seringkali keadaan membuat pria lebih mudah membaktikan diri pada laku Dharma – setidaknya seperti itulah adatnya dulu.

Masing-masing dari hal ini punya guna. Dengan umur panjang, Anda akan betul-betul mampu menyelesaikan semua pembelajaran dan laku Anda. Jika Anda rupawan, orang lain akan tertarik pada Anda, dan akan menghampiri dan mendengarkan perkataan Anda. Jika Anda seseorang dari keluarga bangsawan, maka orang lain secara alamiah akan mendengarkan perkataan Anda, mereka akan mengikuti saran-saran Anda. Jika Anda berkecukupan, orang lain akan tertarik pada Anda, dan Anda akan punya sumber daya dan kemampuan untuk melakukan berbagai macam hal-hal positif. Jika wicara Anda meyakinkan, orang lain akan mendengarkan perkataan Anda dan mempercayai Anda. Jika Anda punya pengaruh dan kuasa, orang akan mengikuti dan menerima apa yang Anda katakan. Jika Anda terlahir kembali sebagai seorang pria, maka Anda akan menghadapi lebih sedikit halangan dan rintangan dalam laku Anda. Jika Anda sangat kuat, maka Anda akan punya kemampuan untuk mengerjakan tugas-tugas besar, seperti Milarepa yang membangun menara sembilan lantainya.

Masing-masing dari sifat-sifat baik ini punya sebuah sebab. Sebab dari umur panjang adalah tidak membunuh, menyelamatkan kehidupan berbagai makhluk, merawat yang sakit dan mengobati mereka yang membutuhkan. Sebab bagi terlahir rupawan adalah membuat persembahan lampu mentega kepada Tiga Permata, membuat persembahan berupa sandang, perhiasan, dan hiasan kepada orang lain, dan tidak marah atau cemburu. Sebab bagi terlahir kembali di sebuah keluarga atau golongan sosial yang baik adalah dengan selalu hormat pada para guru rohani dan orangtua, juga pada orang yang sangat terpelajar dan punya sifat-sifat baik luar biasa. Tidak congkak, tapi rendah hati dan penuh rasa hormat, menjadi sebab lainnya. Sebab untuk menjadi kaya adalah memberikan apapun yang dibutuhkan, pangan, sandang, uang, dan seterusnya, pada mereka yang membutuhkan, bahkan walau tidak diminta sekalipun. Sebab untuk memiliki wicara yang dapat dipercaya adalah dengan tidak melakukan tindakan wicara yang merusak: berdusta, berkata kasar, menghasut, atau membual. Sebab untuk menjadi sangat berpengaruh dan kuat adalah dengan berdoa pada Tiga Permata, khususnya untuk memiliki semua sifat-sifat baik dan menjadi berpengaruh. Sebab untuk terlahir kembali sebagai laki-laki adalah dengan tidak mengebiri hewan, bersukacita atas kekuatan dan kemampuan yang dimiliki manusia untuk laku tak-tersela, dan mendaraskan nama-nama dan puja-puji bodhisattwa seperti Manjushri dan Maitreya. Sebab untuk berkekuatan lahir dan batin yang hebat adalah dengan mengerjakan hal-hal yang tak mampu atau tidak dirasa mampu untuk dikerjakan orang lain.

Penting pula untuk mencoba memanjatkan doa agar terlahir kembali dengan kehidupan manusia yang lengkap memiliki semua sifat ini, dan mengerjakan berbagai tindakan positif-membangun yang menjadi syarat adanya semua sifat itu. Jika Anda memiliki tubuh dan hidup semacam itu, maka penting untuk menggunakannya dengan sikap membangun, karena andai Anda menggunakan hidup Anda untuk menjadi orang yang merusak dan negatif, akibatnya jadi semakin parah. Penting pula untuk berdoa genap dan lengkap untuk memperoleh jenis kehidupan manusia yang Anda nantinya mampu Anda gunakan untuk tujuan-tujuan positif. Jika Anda ingin melakukan meditasi untuk membina kebiasaan-kebiasaan cita yang baik, coba pikirkan tentang semua ragam sifat yang Anda punya, dan bersukacitalah serta bergembiralah karenanya. Dan rengkuh hakikat hidup ini dan buat hidup jadi berarti dengan semua kesempatan ini. Jangan sia-siakan; gunakan untuk memaslahatkan kehidupan masa depan. Ketika Anda memperoleh penyadaran seperti itu, itulah tingkat dorongan yang awal.

Anda semua berada di sini saja telah menunjukkan bahwa Anda sudah sadar: menghabiskan waktu dengan bekerja saja tidaklah cukup. Anda luangkan waktu datang ke sini dan mendengarkan ajaran-ajaran rohani. Ini tanda bahwa Anda telah punya penyadaran jenis yang kecil. Anda datang ke mari samasekali didasari kesadaran akan sesuatu. Jangan pikir penyadaran atau wawasan itu artinya Anda bisa terbang, atau mampu menetakkan jejak kaki Anda pada sebuah batu. Kalau itu benar, orang-orang seperti saya ini, yang telah menjalankan laku selama lebih dari enam puluh tahun, pasti akan memiliki kekuatan semacam itu. Jangan pula pikir bahwa ada saja kesaktian apa pun yang bisa didapat dari hal ini. Ada orang-orang yang melakukan berbagai meditasi angin-tenaga dan latihan pernapasan, yang secara gaib mampu melayang dan mampu bergerak di udara. Itu tak ada istimewanya. Sungguh-sungguh tidak berbuat satupun tindakan merusak itu merupakan pencapaian yang jauh lebih sukar.

Perlunya Menahan Diri dari Tindakan-Tindakan Merusak sebagai Persiapan bagi Tantra

Ketika Atisha diundang ke Tibet, raja alim Jangchub-wo (Byang-chub ‘od) memintanya untuk mengajar tentang sebab dan akibat. Raja berkata, “Tolong jangan beri kami pengajaran yang sangat mendalam dan rumit tentang tantra.” Ini sangat menyenangkan hati Atisha. Betul-betul menerima ajaran-ajaran tantra dan pembayatan dan seterusnya memang akan menanamkan naluri dan benih yang sangat baik dalam diri kita. Bila Anda berkesempatan melakukannya, itu akan menjadi perbuatan yang sangat membangun. Anda sangat beruntung andai mampu melakukannya. Akan tetapi, cara mendekat ke ajaran tantra adalah dengan menjalankan laku-laku pada tingkat mula, yaitu: tidak bertindak merusak. Lalu atas dasar itu, lanjut ke tingkat-tingkat dorongan yang lebih luas, dan lambat-laun mengembangkan hati bodhicita yang berbakti – hati yang sepenuhnya melibat orang lain, dan mencapai pencerahan untuk mampu menolong mereka. Jika Anda memasuki laku tantra atas dasar itu, itu akan jadi cara yang cepat dan ampuh untuk mencapai pencerahan.

Tantra, langkah-langkah tersembunyi untuk melindungi cita, adalah wahana laku terkait akibat. Ajaran-ajaran sutra, tema-tema laku yang lazim, itu terkait sebab. Anda tak dapat benar-benar mendekati wahana yang berkenaan dengan akibat kecuali Anda telah memahami wahana yang berkenaan dengan sebab; Anda tak bisa memperoleh akibat tanpa sebab. Jika Anda mulai atas dasar wahana yang berkenaan dengan sebab, dan kemudian lanjut ke wahana yang berkenaan dengan akibat, wahana tantra sekuat-berlian ini jadi wahana yang sangat cepat dan ampuh untuk mencapai pencerahan.

Semisal setelah tahu bahwa cara-cara tantra merupakan jalan cepat mencapai pencerahan, dan Anda langsung mau dapat pemberdayaan dan segera menjalankan lakunya, jalan Anda akan sangat sukar. Ibaratnya, walaupun pesawat terbang itu terbang sangat cepat di langit, Anda tak bisa naik ke pesawat di tengah-tengah penerbangan. Satu-satunya cara untuk menaiki pesawat cepat itu adalah dengan menjalani semua langkah permulaannya, seperti beli tiket, melewati beacukai, berjalan melalui lorong bandara, tangga, naik bus antar-jemput, naik tangga pesawat, dst. Anda menghampirinya tahap demi tahap. Jika Anda ingin naik wahana cepat menuju pencerahan, penting sekali untuk melewati langkah-langkah pertama ini. Yaitu, penting bagi kita untuk tidak melakukan sepuluh tindakan merusak. Dari situ, Anda akan memiliki pendekatan yang mantap dan kokoh menuju wahana cepat tadi.

Sekalipun penjelmaan Manjushri, Chenrezig, dan Maitreya sendiri yang hadir dan bicara langsung pada Anda, ajaran inilah yang juga akan mereka berikan pada Anda. Jika Anda telah melatih diri dan melakukannya dengan baik, semua arahan yang sangat dalam dan bermakna ini akan siap diberikan. Jika Anda tidak mulai atas dasar belajar tentang cara untuk tidak bertindak merusak, bukan hanya Anda tidak akan mampu memperoleh ajaran dari Manjushri dan Maitreya, Anda bahkan tidak akan mampu melihat mereka atau memiliki pandangan yang benar atas mereka. Jika Anda melakukan hal-hal ini dengan sangat baik, akan ada waktunya ketika Anda benar-benar akan bertemu dengan makhluk-makhluk luar biasa ini secara langsung, muka temu muka.

Ada tiga bersaudara, yang merupakan murid Atisha dan muridnya Dromtonpa (‘Brom-ston-pa). Salah satunya bernama Puchungwa (Phu-chung-ba). Ia selalu menjalankan laku meditasi yang sangat mendalam. Ia menjalankan laku meditasi dengan begitu dalamnya selama sembilan tahun, tanpa asupan makanan yang lazim dimakan manusia. Ia tinggal di gunung-gunung, mengumpulkan kotoran-kotoran dari kawanan hewan. Kotoran-kotoran hewan itu mengandung tsampa (bulir jewawut) yang belum dicerna. Ia akan memasak dan menjadikannya sup. Suatu kali ia turun gunung dan pergi ke Lhasa untuk melihat patung-patung mahakarya yang terkenal di wihara-wihara utama. Ketika ia akan memasuki kota, ia melihat Dua Puluh Satu Tara berjalan di sampingnya. Ia berkata pada mereka, “Aku seorang biksu dan tidak patut bagi kalian semua wanita untuk memasuki kota bersamaku.” Mereka menjawab, “Kau tak perlu khawatir. Orang lain tak dapat melihat kami.” Ketika ia pergi ke Lhasa dan melihat semua patung-patung mahakarya di wihara-wihara itu, mereka berbicara padanya.

Ketika ia pertama sekali pergi untuk undur-diri di gunung, ia menggulung rumput-rumput yang tumbuh di padang, dan membakarnya sebagai persembahan dupa. Karena telah membuat persembahan yang begitu berhati-murni pada masa awal kehidupannya, dalam hidupnya kemudian ia mampu membuat persembahan dupa yang terbuat dari zat-zat obat yang sangat berharga. Satu batang dupa itu nilainya setara kira-kira enam ratus dolar.

Berupaya dan Bertindak

Ada berbagai pengelompokan mengenai karma dan perilaku. Beberapa tindakan diupayakan dan kemudian betul-betul dilakukan; beberapa tidak dibina, tapi betul-betul dilakukan; beberapa dibina dan tidak dilakukan; dan beberapa tidak diupayakan ataupun dilakukan. Pokok-pokok ini perlu kalian tulis. Pokok-pokok tersebut berisi hal-hal yang sangat menarik dan penting untuk dipelajari sehingga besok-besok ketika ada guru lain di sini Anda bisa bertanya lebih rinci lagi. Untuk kali ini, akan terlalu banyak waktu habis jika kita perbincangkan rinciannya.

Niat dan Tindakan

Mungkin terjadi: niatnya bajik tapi tindakannya tidak; niatnya tidak tapi tindakannya bajik; niat dan tindakannya sama-sama tidak bajik; dan niat dan tindaknnya sama-sama bajik. Kalau bisa, baiknya niat dan tindakannya sama-sama bajik atau mulia. Sebagai contoh untuk niat bajik tapi tindakan tidak, ketika Anda mencoba mengajarkan sesuatu pada seseorang dan mereka tidak paham, walau niat Anda adalah untuk menolong mereka, dalam tindakannya Anda mungkin memukul atau memarahi mereka. Contoh untuk tindakan bajik tapi niat tidak, Anda mencegah seseorang mencapai sesuatu dengan mengusik mereka – contohnya, dengan mengajak mereka wisata atau tamasya atau melakukan hal-hal menyenangkan yang akan menghabiskan waktu mereka sehingga mereka tak mencapai apa yang mereka inginkan. Tindakan Anda bajik, tapi niat Anda tidak. Untuk tindakan dan niat yang sama-sama bajik, ada banyak sekali contohnya.

Akibat yang Berbahaya dan Bermanfaat

Empat sekelompok lainnya adalah sebagai berikut: Ada tindakan-tindakan yang mula-mula tampak bermanfaat tapi lama-lama berbahaya; yang mula-mula berbahaya tapi lama-lama bermanfaat; yang mula-mula dan lama-lama bermanfaat, dan yang mula-mula dan lama-lama berbahaya. Kalau sesuatu itu mula-mula dan lama-lama bermanfaat, Anda harus melakukannya. Jika sesuatu itu mula-mula berbahaya tapi lama-lama bermanfaat, Anda juga dapat melakukannya. Jika sesuatu itu awalnya bermanfaat tapi lama-lama berbahaya, lebih baik jangan dilakukan. Jika sesuatu itu tak bermanfaat sama sekali dalam jangka pendek dan panjang, jangan lakukan. Anda semua sangat cerdas dan jeli, jadi Anda pasti dengan cepat dapat memahami semua hal ini.

Empat Asas Tindakan

Empat sekelompok lainnya adalah sebagai berikut: kepastian tentang tindakan-tindakan; titik tanjak tindakan-tindakan dan akibat-akibatnya; jika Anda tidak melakukannya maka Anda tidak mendapat dampaknya; dan jika Anda melakukannya maka tidak akan sia-sia, akan ada akibatnya.

Unsur kepastian maksudnya bahwa kalau Anda melakukan sesuatu yang membangun, akibatnya pasti berupa kebahagiaan. Dan jika Anda melakukan sesuatu yang negatif atau merusak, akibatnya pasti penderitaan, permasalahan, atau ketakbahagiaan. Misalnya, kalau Anda menanam padi, Anda takkan memanen kacang. Unsur tanjak itu dapat digambarkan lewat hal yang terjadi ketika Anda menanam sebenih jagung: Anda menuai sejumlah besar jagung. Sebuah tindakan positif menghasilkan sejumlah besar kebahagiaan, sementara secuil tindakan merusak berbuntut setumpuk masalah.

Berikut ini contoh untuk unsur kepastian. Ada orang membangun sebuah stupa – sebuah tugu pusaka. Salah seorang pekerja bangunan itu menghadapi banyak kesukaran dengan pekerjaannya, ia selalu mengeluh. Ketika stupa selesai dibagun, ia melihatnya dan berkata, “Setelah semuanya, kebaikanlah yang jadi,” dan merasa sangat bahagia. Ia menggunakan upahnya untuk membeli sebuah lonceng istimewa yang ia persembahkan untuk dipasang di puncak stupa. Pada masa hidup Buddha, ia terlahir kembali sebagai orang yang dikenal dengan nama Suara Indah. Ia bersuara merdu, tapi tubuhnya buruk sekali, kerdil dan cacat. Akan tetapi, suaranya indah sampai-sampai hewan-hewan di dekatnya akan berhenti untuk mendengarnya bersenandung. Suatu kali, seorang raja datang mengunjungi Buddha. Ia mendengar suara indah dari biksu tersebut dan meminta untuk menemuinya. Buddha berkata, “Lebih baik Anda tidak bertemu dengannya.” Tapi raja bersikeras sehingga Buddha mengajaknya untuk bertemu biksu tadi. Ketika raja melihat betapa jelek dan cengkongnya biksu itu, dan bertanya mengapa di tubuh itu ada suara yang begitu indah, Buddha menjelaskan kehidupan masa lalu si biksu.

Berikut ini beberapa contoh untuk unsur tanjak. Seseorang berkata pada seorang biksu, “Suaramu kayak anjing!” Sebagai akibatnya, ia sendiri terlahir kembali sebagai seekor anjing sebanyak lima ratus kali. Anda harus hati-hati, jangan memaki orang lain, atau mengasari dan mencela mereka, karena hanya dengan sedikit salah kata saja kesalahan Anda bisa membawa malapetaka.

Di antara para murid Buddha, satu yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya adalah Shariputra (Sha-ri’i bu). Jauh sebelum kehidupannya yang sekarang, ia pernah terlahir sebagai pengantar surat. Suatu kali ia bermalam di sebuah wihara yang memiliki lukisan dinding para Buddha yang sangat indah. Ketika ia menyalakan pelita untuk memperbaiki sepatunya, ia bisa melihat gambar dari semua Buddha tersebut. Akibatnya, ia terlahir kembali dengan tingkat kesadaran yang amat luar biasa.

Unsur berikutnya tentang karma adalah kalau Anda tidak melakukan sebuah tindakan, Anda tidak akan mengalami akibatnya. Tapi, jika Anda melakukan sebuah tindakan, tinggal tunggu saja akibatnya datang. Akan tetapi, jika Anda melakukan sesuatu yang positif, kemarahan dapat menghancurkan daya positif yang telah Anda bina, dan jika Anda melakukan sesuatu yang negatif, jika Anda jujur mengakui bahwa itu salah dan kemudian menjalankan empat kekuatan tandingan, Anda dapat memurnikan diri dari daya negatif tersebut. Di samping itu, Anda pasti mengalami akibat perbuatan Anda. Kemarahan dapat sepenuhnya menghancurkan kemampuan daya positif Anda untuk bertindak sebagai akar bagi kebahagiaan. Cara kerjanya mirip dengan ketika Anda memapar film yang terbuka pada mesin sinar-X di bandara; sinar itu akan menghancurkan dan menghapus gambar pada film tersebut.

Dahulu ada seorang ratu, Tsunmo Sangmo (bTsun-mo sNgo-bsangs-mo) yang bertamasya bersama para dayangnya. Ketika mereka sedang bertamasya ada seonggok belukar dengan sebuah sarang berisi beberapa anak burung pegar. Ratu dan pelayannya membakar semak, dan membunuh semua burung itu untuk iseng saja, tapi ada satu dayang yang tidak berada di sana karena mengambil air. Kemudian, di masa hidup Buddha, ratu tersebut terlahir kembali sebagai seorang pria yang menjadi biksu dan mencapai tataran seorang arhat dengan beragam macam kekuatan sakti. Dayang tadi juga terlahir pada masa yang sama, dan ia juga menjadi biksu tapi tidak mencapai tingkat arhat. Sebagai akibat dari daya yang terbina dari tindakan-tindakan masa lalu mereka, suatu hari, rumah yang mereka tinggali dilalap api. Sang arhat yang dulu merupakan ratu itu masih memiliki sisa-sisa daya negatif dari tindakan masa lalunya, dan tak mampu menggunakan kekuatan saktinya untuk menyelamatkan diri. Ia mati terbakar. Ini merupakan contoh untuk unsur bahwa daya tertentu yang pernah Anda bina tidak akan sia-sia, Anda akan mengalami akibatnya. Biksu yang dahulu menjadi dayang itu mampu lolos dari jebakan api lewat sebuah saluran air di rumah itu. Ini contoh betapa perbuatan yang tidak Anda lakukan tidak akan membawa akibat bagi Anda.

Pertanyaanpun muncul: Bagaimana mungkin seorang arhat masih memiliki sisa daya negatif? Ini dapat dipahami lewat cara Anda menjalankan berbagai kekuatan tandingan untuk memurnikan diri. Jika kekuatan tandingan tersebut diterapkan baik dan benar betul, mungkin saja Anda dapat memurnikan diri sepenuhnya dari daya-daya negatif. Tapi jika tidak, maka bisa jadi ada sedikit daya negatif atau ketakmurnian yang tersisa.

Meyakini Kebenaran Ajaran-Ajaran tentang Karma

Inilah pokok bahasan yang sempurna: karma, hukum perilaku dan akibatnya. Anda dapat membaca lebih banyak tentangnya dalam sebuah sutra yang berjudul Sutra Orang Bijak dan Orang Tolol (mDdo mdzangs-blun, Skt. Damamuko-nama-sutra). Berbagai catatan di naskah itu menyenangkan sekali untuk dibaca. Anda memperoleh keyakinan penuh atas semua hal tentang sebab dan akibat ini berdasar pada kewenangan kenaskahan. Ini bukan sesuatu yang bisa Anda buktikan dengan logika murni saja.

Jika Anda bertanya mengapa kita bisa berkeyakinan penuh pada kewenangan kenaskahan Buddha, jawabannya berdasar pada pemikiran tentang apa yang Buddha katakan perihal kehampaan, kenyataan. Ajaran-ajaran itu benar belaka. Kalau Anda pikir-pikir, Anda bisa membuktikan semua yang ia katakan lewat logika. Jika Anda bisa penuh meyakini dasar logika bahwa yang Buddha katakan tentang kenyataan itu benar, maka, atas dasar itu, Anda bisa juga penuh meyakini bahwa yang ia katakan tentang sebab dan akibat pun benar.

Jika Anda benar-benar berbuat seperti yang dinasehatkan Buddha: Mengembangkan hati yang baik dan hangat, membaktikan hati Anda bagi orang lain dan untuk mencapai pencerahan, dan Anda mengembangkan bodhicita, maka, sungguhlah semuanya akan berjalan lancar bagi Anda. Jika Anda pikirkan perkataan Buddha tentang kehampaan, dan lewat semua aliran penalaran, Anda mendapati bahwa hal itu logis dan benar sepenuhnya melalui kekuatan logika. Atas dasar pokok-pokok tersebut, Anda bisa yakin pada hal-hal lain yang Buddha katakan. Sebaliknya, jika Anda tidak melewati jalan ini, sukar bagi Anda untuk betul-betul yakin pada perkataan Buddha. Jika Anda membaca naskah-naskah seperti Sutra Orang Bijak dan Orang Tolol, Anda akan berpikir bahwa itu cuma kumpulan dongeng atau cerita rekaan. Ketaatan penuh pada hukum karma, hukum perilaku dan akibatnya, itu sangat penting.

Berlindung – para Buddha

Semua pokok tentang menjalani hidup menurut hukum perilaku dan akibatnya ini adalah pokok utama untuk dilatih ketika Anda berlindung, yaitu ketika Anda menetapkan arah aman dan benar dalam hidup. Untuk betul-betul berlindung Anda harus memiliki sumber yang mampu menyediakan arah aman tersebut. Ada tiga sumber bagi arah aman. Apa saja?

Siswa: Buddha, Dharma, dan Sangha.

Rinpoche: Apa itu Buddha?

Siswa: Tidak tahu.

Rinpoche: Buddha adalah seseorang yang bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya. Bercita-jernih adalah sukukata pertama dari kata untuk Buddha dalam bahasa Tibet. Itu berarti bahwa ia telah memurnikan citanya dari segala gangguan dan sikap-sikap gelisah. Berkembang sepenuhnya adalah sukukata kedua. Itu berarti bahwa ia telah sepenuhnya memperoleh semua sifat baik dan kesadaran penuh atas segala hal sehingga ia berkembang sampai pada tataran yang paling tinggi yang mungkin ada.

Kedatangan para Buddha di Dunia Ini

Pada mulanya, para Buddha membaktikan hati mereka sepenuhnya untuk mampu membawa manfaat bagi semua makhluk terbatas. Mereka bertekad bulat untuk mampu bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya agar dapat melakukan ini. Ini cara mereka mengembangkan hati bakti bodhicita. Mereka tidak hanya membaktikan hati mereka dengan cara ini, mereka berupaya selama lebih dari tiga miliar lelaksawarsa untuk membina daya positif yang akan memampukan mereka mencapai tataran ini.

Pada permulaan sebuah lelaksawarsa, rentang-hidup manusia itu sekitar semilyar tahun. Kata harfiah dalam bahasa Tibet untuk hal ini adalah “tak terhitung”. Ini tidak berarti tak berhingga; tetap berhingga, tapi tak dapat dihitung. Tiap seratus tahun, rentang-hidup tersebut berkurang setahun, sehingga pada akhirnya rentang-hidup itu jadi sepanjang sepuluh tahun saja. Kemudian meningkat lagi setahun tiap abadnya, sampai mencapai delapan ribu tahun. Kemudian lagi-lagi turun sampai sepuluh. Naik dan turun seperti ini sebanyak delapan belas kali, membuatnya setara dengan satu lelaksawarsa menengah. Saat melewati sebuah kurun-waktu dari tahap-tahap ini, rentang-hidup tersebut melalui dua puluh lelaksawarsa menengah saat semesta sedang teduh, atau sedang mantap dalam satu keadaan tertentu. Kemudian sebuah kurun dua puluh lelaksawarsa menengah lainnya muncul, yaitu lelaksawarsa kehancuran, saat semesta hancur dan luluh-lantak. Ini terjadi, misalnya, dengan kemunculan tujuh matahari menyala selama tujuh hari, dan menghanguskan segalanya di dunia. Lalu ada dua puluh lelaksawarsa menengah lagi ketika semesta ini kosong, diikuti dengan dua puluh lelaksawarsa menengah lain ketika semesta mulai dibentuk, diawali dari mandala angin, atau ranah eter. Seluruh prosesnya memakan waktu delapan puluh lelaksawarsa menengah, yang setara dengan satu maha-lelaksawarsa. Kalau Anda kalikan ini dengan semiliar tahun, Anda akan mendapatkan jumlah semilyar maha-lelaksawarsa. Buddha membina daya positif ini untuk ketiganya ini untuk betul-betul menjadi bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya.

Ada berbagai maha-lelaksawarsa gelap dan terang, ketika seorang Buddha benar-benar datang ke semesta. Maha-lelaksawarsa yang kita hidupi ini adalah sebuah maha-lelaksawarsa terang, yang disebut “lelaksawarsa mujur”. Dalam lelaksawarsa mujur ini, seribu Buddha akan datang sebagai guru semesta. Tiga Buddha guru semesta pertama datang ketika rentang-hidup manusia sepanjang enam puluh ribu tahun, empat puluh ribu, dan dua puluh ribu. Saya tidak yakin betul dengan angka-angka ini, saya harus memeriksanya di naskah untuk memastikannya. Nah, pada saat rentang-hidup itu mencapai seratuslah guru semesta keempat datang ke semesta ini, yaitu Buddha Shakyamuni. Itu terjadi pada saat rentang-hidup mulai menurun.

Ketika rentang-hidup naik dari sepuluh kembali ke delapan puluh ribu, akan muncul raja-raja semesta yang memiliki roda kewenangan, para kaisar cakrawartin. Ada empat jenis raja semesta: yang memegang roda kewenangan emas, perak, tembaga, dan besi. Ketika Buddha datang, ada orang yang bisa hidup selama seratus tahun. Sekarang jarang sekali ada orang yang berusia di atas seratus tahun. Rentang-hidup perlahan-lahan menurun. Pada akhirnya akan mencapai sepuluh, dan kemudian rentang-hidup itu akan naik lagi, pelan-pelan, untuk kurun-waktu yang panjang. Saat mencapai delapan puluh ribu, Buddha Maitreya akan muncul.

Sifat-Sifat Raga Buddha

Kita dapat mengenali makhluk-makhluk seperti Shakyamuni dan Maitreya sebagai contoh para Buddha yang bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya. Para Buddha memiliki berbagai jasad atau raga. Ada raga kesadaran mendalam yang mencakup segala hal (jnanadharmakaya). Ada berbagai bentuk raga seorang Buddha (rupakaya). Di dalamnya termasuk raga-raga purnaguna (Sambhogakaya) dan raga-raga pancaran (Nirmanakaya). Raga-raga kesadaran mendalam yang mencakup segala hal merupakan sesuatu yang hanya para Buddha sendiri yang tahu di antara mereka. Hanya para bodhisattwa arya ke atas yang benar-benar mampu melihat raga-raga purnaguna. Yang pencapaiannya masih di bawah itu tak dapat bertemu mereka.

Mengenai raga-raga pancaran atau nirmanakaya, ada raga pancaran maha tinggi, raga pancaran sebagai seorang seniman, dan raga pancaran sebagai sesosok orang. Raga pancaran maha tinggi adalah sesuatu yang dapat dilihat dan ditemui makhluk biasa. Sekalipun makhluk biasa dapat melihat raga pancaran maha tinggi, untuk betul-betul dapat melihatnya, mereka harus memiliki karma yang sangat murni, tindakan dan daya yang sangat murni. Andaikata tidak, orang biasa macam kita tidak dapat betul-betul melihat raga pancaran maha tinggi dengan tiga puluh dua tanda utama dan delapan puluh fitur teladannya. Karena raga pancaran maha tinggi telah menunjukkan sikap berlalu ke pelepasan akhir, atau telah menunjukkan parinirvana, mereka tak ada di sekitar kita untuk kita lihat.

Raga-raga pancaran maha tinggi memiliki tonjolan mahkota (ushnisha) di atas kepala mereka. Mereka memiliki jejak roda Dharma yang sangat membekas di tapak tangan mereka. Bahu mereka tinggi layaknya bahu singa. Sekarang ini petugas berseragam memiliki tanda pangkat di bahu mereka, kan? Bisa jadi mereka adalah raga pancaran maha tinggi. Kuku mereka berwarna tembaga, dan warna ini bukan warna polesan. Bibir mereka sangat merah, tanpa harus digincu. Ada seikal rambut putih di tengah alis mereka; rambut ini jika ditarik takkan pernah tercabut, dan semakin panjang. Jika Anda mempelajari naskah-naskah agung, Anda akan tahu apa arti tanda besar dan kecil ini. Selain itu, raga mereka sepenuhnya diselimuti lingkaran cahaya. Inilah cahaya yang dapat mengatasi benderangnya cahaya manapun, tak peduli seberapa jauh letaknya. Contohnya, para dewa punya lingkar cahaya dan sinarnya amat gemilang, tapi dibanding lingkar cahaya seorang Buddha, lingkar cahaya mereka layaknya lilin kecil disanding lampu pendar.

Sifat-Sifat Wicara Buddha

Ada enam puluh sifat istimewa untuk wicara Buddha. Contohnya, ketika seorang Buddha berbicara, hadirin di sebelah depan tidak mendengar suaranya terlalu lantang, dan hadirin di sebelah belakang tidak mendengar suaranya terlalu lemah. Semua orang mendengarnya dengan derajat kelantangan yang setara. Demikian pula, kalau hadirin terdiri dari orang-orang dari berbagai negara, Buddha cukup berbicara dengan satu bahasa, dan semua orang dapat memahaminya dalam bahasa mereka sendiri-sendiri. Tidak butuh terjemahan.

Sifat-Sifat Cita Buddha

Mengenai cita tercerahkan seorang Buddha, ada dua puluh satu kelompok pemahaman dan kesadaran, yang sepenuhnya tidak tersentuh kerancuan (kebijaksanaan tak tercemar). Ini pokok yang sangat luas. Salah satu kelompoknya adalah tiga puluh tujuh unsur yang memandu menuju tataran termurnikan. Ada pula delapan belas sifat yang tidak dimiliki para Arhat yang lebih rendah dan seterusnya. Terdapat dua puluh satu kelompok, masing-masing dengan anakbagiannya sendiri.

Semua sifat ini, seperti fitur ragawi utama dari seorang Buddha, adalah hasil dari sejumlah besar daya positif yang harus dibina lebih dari tiga miliar lelaksawarsa. Sekalipun raga pancaran maha tinggi dari seorang Buddha datang ke hadapan kita, karena kita tidak memiliki karma murni, kita tidak memiliki daya-daya murni, kita tidak akan mampu melihatnya. Mengenai tubuh-raga-raga pancaran sebagai sosok orang, inilah yang bisa betul-betul kita lihat dan temui. Misalnya, ada Yang Mulia Dalai Lama, yang merupakan Avalokitesvara. Ia adalah raga pancaran dari seorang Buddha dalam rupa sosok manusia. Meski demikian, dulu ada beberapa Geshe yang, ketika Yang Mulia duduk di tahta, tak mampu melihatnya. Sungguh beruntung kita yang mampu untuk betul-betul melihat Yang Mulia.

Ini contoh raga pancaran dalam rupa seorang seniman. Ada seorang raja dari para pemusik surgawi yang merasa bahwa ialah pemusik terbaik di alam semesta. Ia amat sombong dan pongah. Ia main kecapi dengan seribu dawai. Buddha menjelma diri menjadi seorang seniman, seorang pemusik, dan menantang sang raja dalam sebuah sayembara musik. Mereka akan melepas satu dawai sekali waktu dari kecapi mereka untuk melihat siapa yang mampu terus memainkan kecapi. Akhirnya tinggal satu dawai tersisa. Lalu Buddha melepaskan dawai terakhir dari alat musiknya dan tetap melantunkan nada merdu. Ketika raja melepaskan dawai terakhirnya, ia tak mampu membunyikan nada apapun, karena itu kesombongannya mengempis. Inilah contoh dari raga pancaran sebagai seorang seniman.

Permata Buddha

Ketika kita bicara tentang perlindungan Buddha, Anda perlu pikirkan makhluk berkembang jernih sebagai bentuk manapun dari raga-raga ini. Dalam lakunya, penting bagi kita untuk mengenali semua ragam perlambangan para Buddha, seperti lukisan dan gambar di sini ini, sebagai para Buddha yang sebenarnya. Ketika kita menjalankan laku, ada lima jalan cita yang sebenarnya. Yang pertama disebut jalan cita menumpuk. Ada tiga tingkatannya: kecil, menengah, dan besar. Saat Anda betul-betul mencapai jalan cita menumpuk yang besar, Anda akan mampu mendengar dan menerima ajaran-ajaran dari semua ragam lukisan dan perlambangan Buddha ini. Ada dikatakan bahwa manakala kita bertemu macam-ragam lukisan dan perlambangan Buddha, kalau kita melakukannya dengan cara yang benar, maka itu akan mendatangkan lebih banyak manfaat dibanding bertemu Buddha yang sebenarnya. Oleh karenanya, penting kiranya bagi kita untuk amat teliti. Sekarang ini Anda jumpai banyak gambar Buddha dan makhluk-makhluk tercerahkan dicetak di mana-mana, di suratkabar dan lain sebagainya, dan jika Anda tidak berhati-hati dalam memperlakukan dan memandang perlambangan Buddha ini, kesukaran akan menanti Anda.

Permata Dharma

Permata Dharma mengacu pada semua sifat cita tercerahkan dari seorang Buddha. Inilah perlindungan Dharma yang sebenarnya. Ketika kita menjalankan laku, kita perlu menganggap semua ragam naskah-naskah kitab suci sebagai Permata Buddha yang sebenarnya. Penting bagi kita untuk memperlakukan beragam huruf dan tulisan yang menjadi wahana pengungkapan Dharma, dalam abjad manapun, dengan hormat. Jangan bungkus sampah dengan suratkabar. Itu sangat menghina dan negatif. Penting bagi kita untuk menghormati kata-kata yang tercetak.

Demikian pula, ketika naskah-naskah Dharma Anda berupa lembar-lepas, saat ada angin kencang bertiup, dan Anda harus mencegah lembaran-lembarannya menghambur, maka bolehlah sebuah tasbih diletakkan di atas lembaran-lembaran itu. Tapi kalau tidak, jangan taruh apapun di atas kitab-kitab. Begitu pula, ketika Anda membalik halamannya, jangan basahi jari dengan liur. Tapi, kalau memang Anda harus membasahi jari, taruh semangkuk kecil air bersih di sampingnya dan celupkan jari Anda ke dalam mangkuk itu. Penting pula untuk menyampuli kitab-kitab supaya tidak menyentuh permukaan telanjang. Demikian pula, jangan menginjak kitab. Meletakkan kitab di atas patung atau rak itu dibolehkan, tapi jangan taruh patung di atas kitab.

Permata Sangha

Permata Masyarakat Niat (Sangha) adalah makhluk berkesadaran tinggi atau arya manapun, seseorang yang telah memiliki pengetahuan nirsekat atas kehampaan atau kenyataan. Secara umum, empat biksu yang telah sepenuhnya ditahbiskan itu sudah bisa membentuk sebuah sangha. Kurang satu saja, tidak bisa. Ketika kita menjalankan laku, kita perlu menganggap siapapun yang mengenakan jubah ordo Buddha sebagai Sangha yang sebenarnya.

Permata Buddha adalah ia yang betul-betul memberikan ajaran, dan menuntun ke haluan yang aman dalam kehidupan. Permata Dharma adalah sumber sebenarnya dari haluan yang aman, ia adalah perlindungan yang sebenarnya; saat Anda menjalankan semua langkah-langkah kerohanian ini, ia akan benar-benar menyediakan haluan yang aman dan benar dalam kehidupan. Permata Sangha adalah orang-orang yang menolong Anda dan rekan-rekan Anda dalam meniti hidup dengan haluan yang benar. Akan lebih mudah dipahami kalau saya jelaskan lebih terang.

Dahulu ada seorang anak dewa yang bernama Stiramati (Bro-gros brtan-pa). Ia merupakan seorang dewa di Surga Tiga Puluh Tiga Dewa. Segalanya indah belaka di sana. Semua terbuat dari batu-batu mulia. Tak ada kotoran atau kenistaan. Betul-betul suci-noda. Dewa ini hidupnya bahagia sempurna dan tak pernah mengalami penderitaan atau permasalahan. Menjelang ajal, karangan bunga yang ia kenakan layu dan mati, dan badannya mulai menebar bau menyengat. Semua temannya sesama dewa tak mau lagi berdekatan dengannya. Di antara teman-temannya, hanya mereka yang sungguh amat tabahlah yang akan mendekatinya. Yang lain hanya berdiri di kejauhan sambil melihatnya. Dewa ini punya kemampuan untuk melihat bahwa semua daya positif yang telah ia bina sampai sekarang itu tandas, dan bahwa kini, sebagai akibat dari daya negatif yang tersisa dalam dirinya, ia akan terlahir kembali dalam salah satu tataran kelahiran kembali yang paling buruk. Ia melihat bahwa ia tidak hanya akan jatuh pada salah satu tataran kelahiran kembali yang paling buruk, tapi juga setelah itu ia akan terlahir kembali sebagai seekor babi. Terpikir demikian, ia mengalami penderitaan batin terparah yang bisa dibayangkan. Tak ada siksa batin yang lebih dahsyat dari yang dialami oleh dewa itu.

Ia lalu menemui raja para dewa, Indra (byGya-byin), dan memohon pertolongan darinya. Ia memohon diberi semacam cara yang bisa ia pakai untuk lolos dari nasibnya itu. Indra berkata, “Maaf, aku tidak tahu cara menghindarinya. Tapi aku akan bawa engkau menemui sang Buddha. Ia pasti punya cara terbaik.” Ia lalu menemui Buddha dan Buddha memberinya arahan dewi Ushnisha Vijaya (rNam-rgyal-ma). Dewi ini adalah satu dari tiga dewa-dewi umur panjang. Ia memiliki raga berwarna putih dengan tiga wajah dan delapan lengan. Dewa tadi menjalankan semua laku yang diwajibkan padanya. Ketika ia mati, dia bukan hanya tidak terjatuh ke tataran kelahiran kembali yang lebih buruk, tapi juga terlahir kembali dalam surga yang lebih tinggi dari sebelumnya, yang dikenal dengan nama Tushita (dGa’-ldan, Ganden), Surga Kenikmatan. Indra sendiri tak mampu melihatnya karena ia hanya dapat melihat surga-surga yang sepadan atau lebih rendah dari tingkatannya. Saat ia bertanya pada Buddha di mana dewa tadi terlahir kembali, Buddha memberitahunya bahwa ia terlahir kembali di Surga Tushita.

Lewat contoh ini, kita dapat lihat bahwa Buddha adalah guru, ia yang betul-betul menunjukkan haluan yang aman untuk ditempuh. Hal yang sebenarnya memberi haluan aman bagi si dewa tadi adalah laku yang dijalankannya, yaitu laku Ushnisha Vijaya. Inilah contoh Permata Dharma. Sosok yang menolongnya untuk menemukan dan menempuh haluan ini dalam kehidupannya adalah raja para dewa, Indra. Maka Indra adalah contoh Permata Sangha.

Nasihat Simpulan

Jika Anda hendak bermeditasi tentang suatu hal, membina kebiasaan cita yang baik, Anda perlu membayangkan Yang Mulia Dalai Lama hadir di hadapan Anda, mewakili semua Buddha, dan memohon ilham daripadanya. Ucapkan OM MANI PEME HUNG, dan bayangkan cahaya memancar darinya, memurnikan Anda dari segala daya negatif.

Untuk pokok-pokok laku terapan yang perlu Anda coba anut dalam perilaku Anda sehari-hari, yang utama adalah bahwa saat Anda bangun di pagi hari, niatkan dengan teguh: “Hari ini aku akan jadi orang positif dan membangun dan aku akan mencoba berbuat hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.” Di penghujung hari, Anda perlu memikirkan semua hal positif yang telah Anda perbuat dan kemudian mempersembahkan daya yang telah terbina tersebut demi kemaslahatan setiap orang, dan demi tercapainya tataran kejernihan cita yang seutuhnya dan perkembangan yang sepenuhnya supaya mampu mendatangkan kebaikan bagi sesama. Pokok bahasan tentang perlindungan ini sangat penting. Besok akan saya paparkan lebih banyak tentang hal ini.

Ada pertanyaan untuk pemaparan saya hari ini?

Siswa: Apa itu Dharmakaya?

Rinpoche: Dharmakaya adalah cita mahatahu seorang Buddha yang mencakup segalanya. Seperti dijelaskan, ada dua puluh satu kelompok jenis-jenis khusus dari kesadaran mendalam yang tak tercemar kerancuan. Sepuluh kekuatan, empat tataran kebebasan dari rasa takut dan seterusnya termasuk ke dalam hal ini. Semisal kita membahasnya dengan rinci, banyak sekali waktu yang dibutuhkan. Ini bahasan yang amat luas. Tapi sebagai contoh, sepuluh kekuatan yang dimiliki seorang Buddha adalah misalnya, mengetahui ganjaran yang cocok atau tak cocok untuk berbagai tindakan, mengetahui akibat yang mengekori semua tindakan, mengetahui jalan kerohanian yang akan menuntun setiap orang pada tujuan mereka dan seterusnya.

Untuk empat hal yang sama sekali tidak ditakuti seorang Buddha: ia tidak takut menyatakan bahwa ia telah meninggalkan semua kesalahan, tidak takut mengatakan bahwa ia telah memperoleh semua sifat positif yang bisa diperoleh, dsb. Tidak masalah seberapa ramai hadirin yang dihadapinya, ia mampu mengatakan tanpa takut, dengan keyakinan penuh, bahwa ia tahu segalanya. Ada seorang brahmana bernama Kapila (Ser-skya) yang pergi berkeliling desa-desa, dan memungut sebiji beras dari tiap desa yang dikunjunginya, sambil membuat catatan khusus untuk tiap-tiap biji beras itu. Ia membawa sekeranjang besar biji-biji beras ini ke depan Buddha dan berkata, “Engkau tahu segalanya. Apakah engkau tahu dari mana biji-biji beras ini berasal?” Buddha menjawab, “Ya.” Lalu Buddha memberitahunya dari mana tiap biji beras itu berasal, sampai habis semua isi keranjang tadi.

Pada masa hidup Buddha, banyak pohon-pohon raksasa yang tumbuh. Lagi-lagi, seorang brahmana hendak menguji sang Buddha, jadi ia mendatangi satu pohon dan menghitung semua daunnya. Perlu beberapa bulan sampai terhitung semua. Kemudian ia menjumpai Buddha dan berkata, “Engkau sungguh pandai. Engkau tahu segalanya. Ada berapa banyak daun yang dimiliki pohon ini?” Segera saja Buddha mampu memberinya angka yang tepat.

Sukar bagi Anda untuk mampu membaca pikiran saya, dan demikian pula, sukar bagi saya untuk mampu membaca pikiran Anda. Tapi tidak mungkin untuk mengetahui pikiran seorang Buddha, seperti apa isinya. Bahkan para bodhisattwa yang memiliki cita tingkat-kesepuluh, tingkat paling tinggi, tak bisa tahu seperti apa cita seorang Buddha itu. Jika Anda ingin sungguh mempelajari berbagai sifat dan segi jnanadharmakaya, raga kesadaran mendalam seorang Buddha yang melingkupi segalanya, Anda perlu mempelajari salah satu naskah oleh Maitreya yang berjudul Kerawang Perwujudan (mNgon-rtogs rgyan, Skt. Abhisamaya-alamkara). Bab kedelapan mencakup pokok bahasan ini dengan amat terperinci. Kalau Anda sungguh tidak mengetahui semua sifat baik seorang Buddha, sukar sekali untuk sepenuhnya yakin pada Buddha. Ada contoh dari Tibet yang terlintas di pikiran saya.

Di Tibet, pemangku Tahta Ganden merupakan kedudukan yang sangat tinggi. Orang yang menduduki tahta tersebut dianggap sebagai seorang lama yang amat mulia. Kemanapun ia pergi, ia selalu dinaungi payung berwarna emas. Saya bertanya pada Rinpoche apa ia sungguh-sungguh terus dipayungi kemanapun ia pergi, dan Rinpoche bilang saya jangan bego, tentu ia tak perlu payung ketika ke kamar kecil. Suatu hari, seorang wanita tua sedang mengunjungi Wihara Ganden, ketika pemangku Tahta Ganden berjalan dalam iring-iringan. Seorang biksu yang berdiri di sampingnya berkata, “Lihat, ada pemangku Tahta Ganden.” Karena ia pikir pemangku Tahta Ganden itu adalah payung, ia menjura dengan amat hormat dan berkata, “Aku berlindung di bawah pemangku Tahta Ganden.” Setelah iring-iringan itu lewat, wanita tadi berpaling pada biksu itu dan berkata, “Mengagumkan ya biksu tua yang berjalan di bawah pemangku Tahta Ganden tadi?”

Jadi, kita harus mampu mengenali dengan yakin betul apa sesungguhnya seorang Buddha itu. Mari kita akhiri di sini untuk hari ini.

[Rekaman untuk hari-hari berikutnya dari wacana ini hilang.]