Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Ajaran Utama Buddha Tibet > Tingkat 2: Bahan Lam-rim (Bertahap) > Pengantar Umum Menuju Ajaran-Ajaran Lingkup Awal dari Jalan Bertahap (Lam-rim) > Hari Pertama: Guru-Guru Rohani, Hidup Manusia yang Mulia, Kematian dan Ketaktetapan

Pengantar Umum Menuju Ajaran-Ajaran Lingkup Awal dari Jalan Bertahap (Lam-rim)

Tsenzhab Serkong Rinpoche I
diterjemahkan oleh Alexander Berzin
disunting oleh Samaya Hart
Huizen, Belanda, Mei 1980
[Salinan yang disunting sedikit dari sebuah rekaman yang tidak lengkap]

Hari Pertama: Guru-Guru Rohani, Hidup Manusia yang Mulia, Kematian dan Ketaktetapan

[Rekaman permulaan kuliah ini hilang; karenanya, salinan ini tidak lengkap]

Hubungan yang Sehat dengan Guru Rohani

Penting bagi murid untuk menelaah dan memeriksa lama dengan sangat teliti sebelum belajar padanya. Jangan ikut-ikut hanya karena lama tersebut menyampaikan ajaran yang tenar. Anda harus menelaah lama tersebut dengan sangat teliti. Ada dikatakan dalam sebuah naskah, bahwa butuh sekitar dua belas tahun bagi guru dan murid untuk saling memeriksa dan menentukan apa keduanya dapat membangun hubungan yang cocok. Walau demikian, dua belas tahun itu waktu yang panjang, dan ada banyak kekurangannya kalau sampai selama itu.

Ambil contoh, seorang mahaguru Sakya yang diundang ke Cina untuk mengajar sang kaisar. Kaisar itu menelaahnya selama sembilan tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk belajar padanya. Setelah sembilan tahun, ia memintanya untuk mengajar. Ketika guru itu bertanya, “Mengapa Anda menunggu sembilan tahun sebelum meminta saya mengajar?” sang kaisar berkata, “Saya memeriksa Anda selama ini.” Guru itu membalas, “Sekarang saya akan menelaah Anda selama sembilan tahun lagi!” Pada kenyataannya, ia tidak pernah mampu mengajar sang kaisar. Kalau Anda menunggu terlalu lama, hal itu dapat terjadi.

Tentang bagaimana menelaah seorang lama belakangan ini, pokok pertama dapat diramu dari dua pertanyaan berikut: Jenis perasaan seperti apa yang Anda alami ketika pertama sekali bertemu dengan guru tersebut? Apa cita Anda dengan segera menjadi sangat bahagia, ataukah tak terjadi apa-apa? Juga, ketika Anda mendengar nama guru tersebut untuk pertama kalinya, apakah Anda merasa bahagia, atau tidak? Pokok kedua, ketika Anda pertama kali pergi untuk menemui guru tersebut, apa ia ada, atau tidak? Kadangkala, ketika orang pergi untuk menemui seorang guru untuk pertama kali, guru itu tidak ada di tempat. Itu bukanlah pertanda baik. Pokok ketiga adalah menyimak apa yang dikatakan orang lain tentang guru rohani tersebut, dan mendengarkan berbagai pendapat. Sekalipun memang sulit bagi guru-guru rohani untuk memiliki semua prasyarat yang memadai, pokok utamanya adalah bahwa mereka harus punya hati yang sangat hangat dan baik, sebuah perhatian penuh kasih bagi setiap orang, dan mereka harus pula jujur.

Penting sekali kiranya untuk melakukan telaah yang memadai pada guru rohani atau lama sebelum belajar padanya. Jangan langsung girang ketika Anda mendengar bahwa ada lama yang datang, lalu Anda ikut tanpa pikir panjang. Sikap semacam itu tidak patut sama sekali. Tapi begitu Anda menambatkan diri sepenuh hati pada seorang guru rohani, tidak patut lagilah Anda untuk ragu-ragu dan menelisik guru itu.

Dahulu, para penerjemah dan orang-orang dari Tibet, seperti si penerjemah hebat Marpa, melalui banyak kesukaran untuk mengumpulkan emas untuk pergi ke India dan menemui guru-guru rohani. Milarepa, yang belajar pada Marpa, harus membangun menara sembilan-lantai dengan tangannya sendiri. Ia mengusung batu-batu di pundaknya, dan menderita rasa sakit yang tiada tara. Ia mengalami derita yang luar biasa. Bahkan setelah ia membangun menara itu, Marpa belum mau memberi pembayatan atau satu pun ajaran. Marpa memiliki murid lain bernama Ngog Choku-dorjey (rNgog Chos-sku rdo-rje) yang memohon pembayatan Cakrasamwara. Ia tinggal di tempat yang berjarak sehari penunggangan kuda. Ketika menara itu selesai, istri Marpa, Dagmeyma (bDag-med-ma) melahirkan seorang putra bernama Darma-dodey (Dar-ma mdo-sde). Untuk merayakan kelahiran putranya, sekaligus merayakan selesainya Milarepa membangun menara sembilan-lantai itu, Marpa mengirim pesan pada Ngog Choku-dorjey. Isinya: bahwa ia akan memberikan pembayatan Cakrasamwara, dan bahwa ia harus datang untuk itu.

Ketika Ngog Choku-dorjey tiba, ia membawa semua benda miliknya sebagai persembahan bagi Marpa. Di antara miliknya itu, ia punya seekor kambing yang patah kakinya dan tak bisa berjalan. Ia tak membawa kambing tersebut. Marpa berkata, “Apa masalahnya? Kau tak membawa kambing yang lain? Aku susah-payah ke India tiga kali untuk memperoleh ajaran-ajaran ini, dan ini adalah pembayatan yang sangat berharga. Kau harus pulang dan membawa kambing itu.” Ketika Marpa memberikan pembayatan Cakrasamwara, istri Marpa, Dagmeyma, iba hati pada Milarepa dan membawanya untuk diikutkan dalam pembayatan itu. Marpa mengambil sebilah tongkat besar dan mengusir Milarepa sembari memarahinya, dan tak mengizinkannya untuk menerima pembayatan tersebut. Istri Marpa terus meminta Marpa untuk membiarkan Milarepa tinggal dan menerima pembayatan itu.

Marpa akhirnya setuju untuk memberikan pembayatan pada Milarepa, karena rasa welas asih yang ia miliki bagi istrinya. Alasan mengapa Milarepa mengalami rintangan semacam itu adalah karena Marpa mencapai pencerahan dengan cara menjalani sejumlah besar kesukaran agar bisa belajar pada Naropa di India, dan Naropa telah menjalani sejumlah besar kesukaran dan kesulitan agar bisa belajar pada gurunya, Tilopa. Pencerahan tidak datang dengan gampangnya. Untuk meraih pencapaian yang sama, Milarepa harus menjalani berbagai kesukaran juga.

Marpa berkata,”Saat Milarepa melayaniku, aku selalu sangat kasar dan keras padanya. Tapi, sebagai hasilnya, ia akan mampu mencapai pencerahan pada kehidupan ini. Ia telah mengerjakan hal-hal yang begitu sulit seperti membangun menara itu.” Tapi Marpa memang merasa iba pada istrinya, yang menunjukkan welas asih yang begitu besar bagi Milarepa, dan ia mengizinkannya untuk menerima pembayatan. Setelah pembayatan, Milarepa harus pergi dan melakukan sejumlah besar meditasi dan latihan supaya dapat mencapai pencerahan pada masahidup yang sedang dijalaninya itu. Tapi, dikarenakan ia menjadi seorang pelayan yang sangat setia bagi Marpa, ia mampu mencapai pencerahan – tapi begitupun, masih harus menjalani kesukaran-kesukaran bermeditasi di gua-gua.

Langkanya Kesempatan Bertemu Dharma

Kalau kita tempatkan semua ini pada lingkung masa kini, ada banyak negara-negara besar di dunia ini dimana kata Dharma bahkan terdengar pun tidak. Bahkan tidak ada sebuah perlambang raga, wicara, dan cita para Buddha walau sebesar jari sekalipun. Kalaupun ada, semua itu tidak diperlakukan sebagai hal-hal suci, dan tidak diperlakukan dengan mulia. Di negara-negara ini, setiap orang telah sepenuhnya hanyut dalam usaha melancarkan segala sesuatu bagi masahidup ini, dan setiap orang mengerahkan tenaga mereka ke dalam diri mereka sendiri. Dengan demikian, mereka membodohi diri dengan berpikir bahwa hanya inilah satu-satunya hal dalam kehidupan. Atas dasar itu mereka ingin mencapai kemajuan bendawi yang luar biasa, membangun jalan-jalan raya dan mengerjakan segala macam hal. Tak peduli betapa menakjubkan segala yang mereka perbuat itu, tak peduli seberapa banyak kemajuan bendawi yang mereka peroleh, hal tersebut hanya menciptakan lebih dan lebih banyak masalah, ketakbahagiaan, dan ketakpuasan. Anda sekalian mengetahui hal ini. Buddha Shakyamuni sendiri terlahir di sebuah keluarga ningrat. Ia merupakan putra seorang raja, dan memiliki sejumlah besar harta. Ia melihat bahwa ini semua tak punya hakikat, maka ia meninggalkannya dan, lewat semua usaha kerasnya, ia mencapai pencerahan.

Anda sekalian juga telah melihat bahwa menghabiskan seluruh hidup dengan mengejar hal-hal bendawi untuk kebahagiaan hidup ini saja tidak punya hakikat atau arti yang besar. Karena itu, Anda telah berpaling pada perkara-perkara rohani Dharma, dan saya pikir ini baik sekali. Tentang apa saja yang terlibat dalam perkara-perkara rohani ini, ada berbagai langkah dan laku yang akan membawa manfaat pada kehidupan-kehidupan Anda di masa depan dan setelahnya. Cara-cara terbaik untuk itu pertama sekali diajarkan di India, dan kemudian menyebar ke Tibet.

Kemudian muncul keadaan-keadaan yang tak tertahankan di Tibet, dan tak lagi mungkin untuk melakukan Dharma di sana. Kami merasa bahwa menjalani kehidupan tanpa laku rohani Dharma itu tidaklah setimpal, maka kami meninggalkan Tibet sebagai pengungsi. Kami datang ke negara-negara seperti ini, dan di sini kami bertemu dengan orang-orang seperti Anda yang memiliki minat besar pada Dharma dan perkara-perkara rohani, dan yang tidak mengetahui bahasa Tibet. Karena minat besar dan niat besar Anda untuk melakukan Dharma-lah kami menjelaskannya sebaik yang kami bisa.

Kalau Anda lihat saya sebagai contoh, di Tibet, sebagian besar laku ajar saya saya jalani bersama para lama dan guru dari aliran Gelug. Begitupun, saya juga telah menerima ajaran-ajaran dari berbagai lama dan guru dari aliran Sakya, Kagyu, dan Nyingma. Jika dijumlah seluruhnya, saya telah belajar pada lima puluh tiga guru rohani. Saya sangat ingin melihat kelanjutan ajaran-ajaran Dharma tidak merosot dan hilang begitu saja. Anda semua memiliki minat untuk belajar Dharma. Oleh karena itu, saya mencoba mengajar orang-orang seperti Anda dengan perasaan untuk mencoba menjadi manfaat bagi Anda.

Anda telah melihat bahwa terlibat hanya pada segala hal dalam masahidup ini saja tidak ada hakikat kuatnya. Anda semua berminat belajar langkah-langkah rohani ini, dan Anda tidak mengetahui bahasa Tibet. Akan sukar sekali bagi Anda. Saya sudah tambah tua, dan kalau tidak diajarkan, Dharma tidak akan lagi tersedia. Oleh karena itu, meskipun saya tidak mengetahui semua hal sepenuhnya, saya telah mencoba menjelaskan ajaran-ajaran sutra dan tantra pada Anda sebaik yang saya bisa.

Mungkin sekali Anda memiliki keragu-raguan. Anda mendengar bahwa meminta ajaran, mengajukan permohonan, itu boleh dilakukan dengan selang waktu tiga tahun. Anda tahu bahwa berkali-kali meminta pembayatan itu lazim terjadi sebelum benar-benar diberikan dan bahwa tidak patut jika pembayatan diberikan langsung pada permohonan pertama. Jadi, kita mungkin ragu tentang mengapa ajaran-ajaran dan pembayatan-pembayatan diberikan langsung pada saat ini. Kalau saya, saya berpikir dalam kerangka tidak ingin ajaran-ajaran dan silsilah-silsilah ini menghilang. Karena Anda semua punya minat dan niat luar biasa menjalani laku, dan saya sendiri semakin tua, saya setuju untuk memberikan ajaran-ajaran dan pembayatan-pembayatan ketika diminta, tanpa membuat yang meminta menunggu lama. Saya melakukan ini dengan pikiran membawa manfaat bagi orang lain.

Makna Dharma dan Tiga Tingkat Laku Dharma

Apa artinya Dharma? Dharma adalah langkah-langkah pencegahan yang akan bermanfaat bagi kehidupan-kehidupan orang di masa depan dan seterusnya. Apapun usaha yang Anda lakukan untuk memperbaiki segala hal bagi masahidup ini – makanan dan minuman yang baik dan rumah yang bagus – tak satupun dari hal itu yang bisa dianggap sebagai sebuah langkah pencegahan (Dharma). Semua itu bukanlah laku rohani. Kalau Anda ingin segala hal lancar bagi Anda dalam masahidup ini, dan memberikan upeti seratus ribu gulden Belanda dalam bentuk emas pada seorang pejabat, itu tak dapat dianggap sebuah langkah pencegahan. Anda berpikir bahwa kalau Anda beri seratus ribu gulden emas, Anda akan dapat sejuta sebagai gantinya. Itu namanya jualan; bukan laku kerohanian. Kalau Anda melakukan tindakan kecil saja, seperti memberikan sepotong roti pada seekor binatang, dengan niat bahwa hal tersebut akan membawa kebahagiaan bagi Anda di masahidup yang akan datang, inilah langkah pencegahan itu; inilah laku rohani itu.

Ada berbagai tingkat dan lingkup langkah-langkah pencegahan untuk memperbaiki kehidupan-kehidupan masa depan dan seterusnya. Kalau Anda mengambil langkah-langkah pencegahan agar Anda sendiri bahagia di masahidup yang akan datang, ini merupakan sebuah laku Hinayana bercita-sahaja. Kalau Anda mengambil langkah-langkah pencegahan untuk membawa kebahagiaan bagi setiap orang di kehidupan-kehidupan mendatang, ini merupakan laku Mahayana bercita-luas. Oleh karena itu, yang terbaik adalah selalu berupaya dengan mencoba membuat segala hal lebih baik dan menolong semua makhluk dengan cita terbatas, semua makhluk berindera.

Setiap orang memiliki gagasan yang berbeda tentang bagaimana menjadi bahagia, dan setiap orang memiliki cara yang mereka ikuti untuk mencapai kebahagiaan. Demikian pula, ada banyak cara laku dalam mengejar kehidupan masa depan. Di antara semua ini, perlu kiranya kita menjalankan laku dengan keinginan agar setiap orang bahagia – bagi seluruh makhluk terbatas tanpa terkecuali. Jenis dorongan yang paling tidak harus Anda miliki adalah dorongan agar Anda tidak terjatuh ke jenis kelahiran kembali yang lebih rendah di kehidupan-kehidupan mendatang. Untuk itu, Anda mempelajari laku meninggalkan sepuluh tindakan merusak – sepuluh tindakan tak-luhur. Seseorang yang mengajar Dharma akan memulai dengan menjelaskan bagaimana menghindari tindakan-tindakan merusak agar terhindar dari kelahiran kembali dalam tataran yang lebih buruk.

Ada banyak jenis laku rohani dan agama, dan semuanya bertujuan mendatangkan kebahagiaan, dan meringankan atau menyingkirkan permasalahan, penderitaan, dan ketakbahagiaan. Dalam ajaran Buddha, ada tiga cara utama yang berlaku. Yang pertama adalah laku menghindari sepuluh tindakan merusak untuk mencegah terlahir kembali dalam tataran yang lebih buruk. Kemudian yang berikutnya adalah tiga latihan istimewa untuk memampukan Anda keluar dari permasalahan yang berulang tanpa terkendali – samsara. Cara laku yang ketiga adalah dengan melaksanakan semua jenis laku untuk mencapai pencerahan, supaya mampu mendatangkan manfaat bagi setiap orang. Inilah tiga tingkat laku tersebut.

Mencapai Kebahagiaan

Saat saya mengajar Dharma, niat saya adalah untuk mampu menanamkan pada Anda berbagai cara untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Saya tidak mengajar dengan niat untuk menjadikan semua orang Gelugpa dengan mengajarkan Dharma Gelugpa. Saya bahkan tidak mengajar dengan gagasan bahwa setiap orang harus jadi penganut agama Buddha. Apa yang ingin saya jelaskan atau beritahukan pada Anda, karena Anda tidak ingin tak bahagia, adalah bahwa semua permasalahan dan penderitaan Anda datang dari tindakan negatif Anda. Dan bahwa jika Anda berhenti bertindak negatif, Anda tidak akan mengalami lebih banyak permasalahan dan penderitaan lagi. Kalau Anda ingin menjadi bahagia, karena kebahagiaan merupakan hasil dari bertindak secara membangun, Anda harus bertindak secara membangun. Inilah hal yang harus saya beritahukan pada Anda. Setiap orang itu sama dalam pengertian setiap orang ingin bahagia, dan tidak ada orang yang ingin tak bahagia dan punya masalah. Setiap orang menginginkan kebahagiaan seluar biasa mungkin dan yang akan berlangsung selamanya.

Tentang mampu untuk mendatangkan tataran kebahagiaan yang berumur-panjang, yang akan berkelanjutan terus-menerus, dan merupakan tingkat kebahagiaan paling hebat yang mungkin ada, itu hanya dapat didatangkan dengan mencapai tataran Buddha yang tercerahkan sepenuhnya. Mencapai tataran ini artinya menjadi bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya, dan mencapai tingkat tertinggi dari segala daya. Mengenai cara menjadi Buddha bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya pada masahidup yang sekarang ini, cara-cara untuk mencapai itu dijelaskan dalam ajaran-ajaran tantra. Semua ini adalah langkah-langkah tersembunyi untuk melindungi cita. Mengenai jenis orang yang sungguh-sungguh dapat menjalani berbagai laku semacam itu, kita semua memiliki landasan untuk mampu melakukannya. Kita punya landasan hidup manusia ini.

Walaupun kita memiliki landasan cita dan tubuh manusia, cara terbaik untuk benar-benar menggunakannya untuk menjadi tercerahkan pada masahidup kita yang sekarang adalah dengan menjalani sejenis laku seperti yang dijalani oleh Milarepa yang luar biasa. Ia habis-habisan mengerahkan seluruh tenaganya, dari lubuk hatinya, untuk melalui kesukaran apapun yang perlu dilalui untuk bisa tercerahkan. Karena kita tidak bersedia untuk membuat tekad sebulat itu, dan karena kita tidak bersedia untuk melalui kesukaran luar biasa itulah maka kita tidak mampu bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya dalam masahidup kita yang sekarang ini. Kalau kita melihat Milarepa sebagai contoh, ia harus melalui kesukaran-kesukaran yang bukan kepalang dan melakukan sejumlah besar kerja keras bahkan hanya untuk bisa diberi arahan atau ajaran. Setelah itu, atas dasar laku tantra, ia mampu mencapai daya terpenuhnya dan menjadi seorang Buddha pada masahidupnya saat itu juga. Anda semua sangat beruntung, karena pada kenyataannya, Yang Mulia, seorang makhluk yang sepenuhnya tercerahkan, pernah hadir di Barat ini. Ia telah memberi pembayatan pada Anda sekalian, dan Anda benar-benar beruntung karena bisa menerima pembayatan tersebut. Bahwa Anda cukup beruntung untuk menerima pembayatan tersebut menandakan Anda telah memiliki keberuntungan untuk menjadi bejana yang pantas untuk menerimanya.

Sadar Penuh Akan Kematian dan Ketaktetapan

Jika Anda tanya dari titik mana Anda mulai menjalani laku Dharma, titik pertamanya adalah tidak membodohi diri dengan sepenuhnya hanyut dalam lika-liku masahidup ini. Kalau Anda tanya mengapa kita membodohi diri dengan cuma berkutat pada hal-hal masahidup saat ini, alasannya adalah karena kita tidak sadar penuh pada kenyataan bahwa kita akan mati. Kita tidak sadar penuh akan kematian dan ketaktetapan, kenyataan bahwa tak satupun keadaan dalam hidup ini yang tetap mantap atau bertahan selamanya. Pertama, amat sangat penting untuk berpikir tentang dan menjadi sadar penuh akan kematian dan ketaktetapan.

Kalau saja Anda bisa melenyapkan kematian dengan tak mendengarkan apapun tentangnya, karena Anda tak suka, itu akan menyenangkan sekali. Tapi, suka tidak suka, kematian akan mendatangi siapapun. Ketika mau datang, Anda akan mengalami sejumlah besar ketakbahagiaan, permasalahan, dan penderitaan. Hanya masalah waktu, tak ada cara mencegahnya. Yang bisa Anda cegah adalah semua ketakbahagiaan dan penderitaan ketika kematian benar terjadi pada Anda. Jika Anda menjalani laku mencoba bertindak semembangun dan sepositif mungkin, dan menahan diri dari sepuluh tindakan negatif sebisa mungkin, dan Anda menjalani hidup dengan cara ini, maka saat Anda bertambah tua Anda akan jadi lebih dan lebih bahagia. Anda tidak akan tak bahagia dan berada dalam tataran cita yang buruk ketika mati. Inilah titik dimulainya seluruh laku Dharma. Lebih jauh, ada berbagai macam cara yang termasuk dalam berbagai tema laku sutra dan dalam aliran-aliran abadi laku ilahi tantra (tantra-tantra). Dalam kuliah-kuliah berikutnya, saya akan menjelaskan sedikit tentang perbedaan-perbedaannya.

Jika Anda ingin bermeditasi, membina kebiasaan cita yang berfaedah, hal pertama untuk dipikirkan adalah, karena kita telah lahir, tak ada yang lain selain kematian pada akhirnya. Inilah luaran alami dari kelahiran kita ke dunia ini. Anda akan membina sebuah tataran cita yang sangat berfaedah jika Anda waspada dan sadar penuh akan kenyataan bahwa, suatu hari, Anda akan mati, dan jika Anda menanggapi hal itu dengan sungguh-sungguh. Ketika Anda sungguh-sungguh memikirkannya, hal yang terpikir adalah bahwa kalau saya menghabiskan semua waktu cuma untuk bekerja menumpuk segala macam benda dan hal selama masahidup ini, pada saat maut menjemput semua ini takkan menolong sama sekali. Dari semua benda yang telah saya tumpuk, tak ada yang bisa saya bawa. Itulah sesuatu yang Anda bina sebagai kebiasaan cita yang kuat.

Hidup Manusia yang Mulia

Anda juga akan membina sebuah kebiasaan cita yang sangat baik jika Anda mencoba bergembira atas kenyataan bahwa Anda memiliki hidup manusia yang sungguh mulia sekarang ini. Anda perlu berpikir bahwa itu merupakan buah dari seluruh hal positif yang telah dilakukan pada masahidup yang lampau. Anda perlu bergembira dan merasa sangat bahagia tentang apa yang telah Anda lakukan pada masa lalu untuk menghasilkan hidup manusia yang mulia ini. Di atas landasan hidup manusia ini, adalah mungkin untuk menjalani seluruh langkah pencegahan, atau Dharma, yang akan memampukan kita untuk terlahir kembali pada kehidupan di masa mendatang dalam tataran dan keadaan yang sangat bahagia. Kita dapat melakukannya sekarang di atas landasan karya yang kita miliki.

Tentu saja, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencapai daya terpenuh kita dan menjadi seorang Buddha yang bercita-jernih seutuhnya dan berkembang sepenuhnya dalam masahidup kita saat ini. Inilah sesuatu yang dapat kita kerjakan di atas landasan hidup mulia yang kita miliki sekarang ini. Oleh karena itu, penting sekali untuk belajar menghargai hidup manusia yang mulia yang Anda miliki ini, dan untuk bergembira dan merasa bahagia atas semua kemungkinan yang Anda punya untuk mencetak kemajuan. Anda bermeditasi, berpikir bahwa di atas landasan hidup manusia yang Anda punya sekarang, Anda betul-betul dapat menghindarkan diri dari harus jatuhnya Anda ke tataran-tataran kelahiran kembali yang lebih buruk di masa depan. Dengan demikian, Anda betul-betul mampu menghindarkan diri dari keharusan mengalami lagi permasalahan yang berulang tak terkendali dan ketakbahagiaan samsara. Anda betul-betul mampu menggapai daya terpenuh Anda, mencapai tataran pencerahan seorang Buddha, dan mampu mendatangkan manfaat bagi setiap orang. Anda bermeditasi dulu untuk mencoba membina kebiasaan cita yang berfaedah, kewaspadaan akan seluruh kemungkinan ini, dan merasa bahagia karenanya.

Apa cara bicara saya ini dapat membantu Anda? Apa Anda lebih suka kalau saya mengajar dengan cara lain?

Para siswa: Tidak.

Kalau Anda sekalian telah mengetahui semua ini, saya dapat jelaskan dengan sikap yang berbeda. Tapi jika ini sesuatu yang Anda anggap berfaedah, saya dapat lanjut menjelaskannya seperti ini. Biarpun Anda telah mengetahui semua ini, penting sekali untuk mendengar dan menyimak ajaran-ajaran lagi dan lagi. Mungkin Anda tahu semua ini, dan ketika Anda mendengarkan ajaran Anda sadar bahwa gurunya sedang menjelaskan ini sekarang, dan berikutnya ia akan menjelaskan ini, dan kemudian contoh ini yang akan ia pakai. Tapi biarpun kata-katanya sama, seorang murid bisa memiliki pemahaman yang berbeda; tingkat pemahamannya akan berubah. Ketika Anda menyimak ajaran, jangan cuma menyimak cuma dengan berpikir bahwa Anda mampu mengumpulkan keterangan, tapi justru Anda harus menyimaknya supaya betul-betul melakukan apa yang Anda dengar. Itu pokok utamanya.

Ketakberartian Upaya demi Pencapaian-Pencapaian untuk Masahidup Saat Ini Saja

Ini cerita tentang Geshe Langri-tangpa (Glang-ri thang-pa). Selama masahidupnya, ia hanya tiga kali tertawa. Dalam persembahan mandala-nya, ia menaruh sepotong pirus yang sangat besar. Suatu kali ia melihat lima tikus. Salah satunya telentang dengan batu pirus itu di atas perutnya, dan empat tikus lainnya menyeretnya, masing-masing dengan satu kaki tikus yang telentang tadi di mulut mereka. Ketika ia melihat itu, ia tertawa. Biar bagaimanapun, kemampuan memperoleh hal-hal bendawi bukanlah pencapaian hebat. Bahkan binatang seperti tikus pun mampu mengumpulkan benda-benda.

Mahaguru ini tertawa kedua kalinya ketika ia melihat seseorang yang akan dihukum mati keesokan harinya menghabiskan malam terakhirnya dengan memperbaiki sepatunya. Kali ketiga ketika ia melihat beberapa orang di sebuah padang rumput memunguti batu untuk membangun sebuah perapian. Salah satu dari mereka melihat sesuatu yang tampak seperti sebuah batu dengan rumput di atasnya dan kemudian menggalinya ke luar tanah dan rupa-rupanya itu kepala seekor gergasi yang berbaring di tanah. Seperti bisa kita lihat, bukanlah suatu ketakjuban walau kita mampu mencapai segala hal dalam masahidup ini. Menjadi orang yang berminat pada laku rohani yang akan bermanfaat bagi kehidupan masa depan dan seterusnya itulah pencapaian yang lebih hebat.

Ketika kita memiliki hidup manusia yang mulia yang dengannya kita perani minat semacam itu, kita harus merasa sangat bahagia karenanya. Umumnya, jika kita memiliki seratus ribu gulden di bank, kita merasa sangat bahagia. Tapi dengan uang itu, Anda tidak dapat menghindar dari kelahiran kembali dalam tataran yang lebih buruk, dan Anda tidak dapat membeli tataran pencerahan. Di atas landasan hidup manusia yang mulia ini, kita betul-betul dapat menggapai tataran tercerahkan seorang Buddha. Oleh karena itu, kita patut bergembira atas apa yang kita miliki. Tentu saja, hal terbaiknya adalah meneladani Milarepa yang luar biasa dan meninggalkan semua perhatian kita pada masahidup saat ini, dan hanya membaktikan diri kita secara utuh untuk menjadi tercerahkan pada masahidup ini. Tapi untuk jadi seperti itu sangat sulit bagi seluruh pelaku Dharma. Kalau kita tak bisa seperti Milarepa dan sepenuhnya meninggalkan semua hal dalam masahidup ini, kita setidaknya bisa bersikap tidak begitu hanyut dan terbuai dengan hal-hal dalam masahidup ini.

Misalnya, kita bisa mencoba mengembangkan sikap yang dengannya kita dapat melihat bahwa segala macam benda milik kita itu tidak ada hakikatnya sama sekali, karena ketika kita mati, bagaimanapun juga kita tidak akan memilikinya lagi. Jadi, bisa dibilang, semua itu sudah jadi milik orang lain. Kalau kita berpikir demikian, kita tidak begitu kuat dikuasai oleh apa yang kita miliki. Kita menggunakan apa yang kita miliki untuk laku rohani, seperti memberi pada mereka yang membutuhkan.

Biarpun Anda bersikap tak begitu hanyut atau terperangkap pada hal-hal dari kehidupan ini, jika, sebagai hasil dari hal-hal positif yang telah Anda lakukan di masahidup lampau, Anda terlahir dalam keadaan berkecukupan dan kaya harta, hal itu jangan cuma dibuang-buang dan disia-siakan. Titik-ujung yang satunya lagi adalah melekat erat pada apa yang Anda punya, dan tak pernah bersedia berpisah dari apapun. Ini berbahaya karena kalau Anda begitu melekat erat pada milik Anda, Anda bisa terlahir kembali sebagai hantu kelaparan. Inilah beberapa hal untuk Anda pertimbangkan dalam hal bagaimana Anda menjalani sebuah laku rohani Dharma.

Kenyataan bahwa kita telah memiliki kesempatan untuk bertemu Yang Mulia Dalai Lama, yang betul-betul seorang Buddha yang tercerahkan, dan kenyataan bahwa kita punya minat pada hal-hal kerohanian merupakan buah dari kerja keras positif yang telah kita lakukan dalam jumlah besar pada masahidup-masahidup kita di waktu lampau, yang membina daya positif yang besar pula. Maka di atas landasan hidup manusia yang mulia ini, kita harus bekerja amat keras untuk mencapai sebuah hati bodhicita yang berbakti, dan untuk mencoba mencapai tataran tercerahkan seorang Buddha. Kita telah begitu keras berusaha pada masahidup lampau untuk sampai sejauh ini dan untuk memiliki hidup manusia yang mulia ini, maka kita harus berpikir tentang apakah kita mau harus melakukannya terus-menerus. Karena kita sudah sampai sejauh ini, kita harus habis-habisan, dan mengembangkan hati bodhicita berbakti ini dan betul-betul mencapai pencerahan. Karena pencerahan di atas landasan hidup saat ini itu mungkin dicapai, penting bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan hidup ini.

Kalau Anda punya sepotong emas seukuran tangan, Anda tidak akan membuangnya saja, kan? Kalau Anda mengambil potongan emas ini dan melemparkannya ke dalam sungai lalu berdoa agar mendapat sepotong emas lagi, akan sukar sekali keinginan itu jadi nyata. Tidak menjalani laku rohani apapun dalam masahidup ini, menyia-nyiakan hidup kita, dan kemudian berdoa supaya diberi masahidup manusia yang mulia lagi di hari depan itu sama saja dengan perumpamaan tadi. Kalau Anda bertanya, “Apa saja macam-macam jenis langkah pencegahan yang betul-betul dapat saya jalani?" jawabannya: ada banyak hal yang bisa dilakukan. Biar saya jelaskan beberapa dari hal-hal ini.

Tidak Mencabut Nyawa yang Lain

Hal pertama mencakup tindakan-tindakan tubuh Anda. Jangan bunuh makhluk apapun. Untuk betul-betul membunuh seseorang, empat hal perlu dilengkapi. Landasan tindakan membunuh itu mungkin, contohnya, seekor domba. Niat atau pikiran melibatkan dorongan dan pengenalan. Anda bisa membunuh dari tiga jenis dorongan: karena hasrat, karena amarah dan kebencian, atau karena kebodohan. Contoh membunuh karena hasrat itu, misalnya, menyembelih seekor hewan karena hasrat makan daging. Atau Anda marah dan membenci sesuatu begitu dalam sehingga Anda membunuhnya. Cara Anda membunuh karena keluguan dan kebodohan cita-buta adalah hanya karena tak tahu apa-apa saja. Ada orang yang mengurbankan banyak hewan untuk persembahan darah bagi dewa-dewa; demikian pula, beberapa orang merasa bahwa ketika mereka sakit, jika mereka mengurbankan seekor hewan, itu akan menyembuhkan sakit mereka. Mengenai pengenalan, kalau Anda punya niat untuk membunuh seekor domba dan ada dua hewan di sana, yang satu kambing dan yang satu domba, agar tindakan itu bulat, Anda harus membunuh domba, bukan kambingnya.

Mengenai tindakan sebetulnya yang masuk dalam tindakan membunuh, beberapa orang membunuh hewan dengan mencekiknya, dengan menindihkan sesuatu pada mulut atau hidung si hewan agar tak bisa bernafas. Ada juga yang menancapkan tangan mereka ke dalam tubuh hewan dan menarik keluar isi perut hewan itu. Ada pula yang menggorok leher hewan tersebut. Agar tindakan membunuh domba itu betul-betul rampung, domba harus sampai kehilangan nyawanya; hidupnya berakhir.

Ada empat jenis hasil. Jenis hasil pertama yang menyertai adalah hasil matang. Hasil matang dari membunuh adalah kelahiran kembali entah sebagai makhluk neraka, sebagai hantu, atau sebagai seekor binatang. Bahkan ketika kelahiran kembali itu berakhir dan Anda terlahir kembali sebagai manusia lagi, hasil-hasil dari tindakan sebelumnya itu masih belum selesai. Ada hasil-hasil lebih jauh yang mirip dengan sebabnya dalam hal pengalaman kita. Sebagai hasil dari memperpendek atau menghabisi nyawa orang lain, Anda sendiri akan memiliki hidup yang amat pendek yang akan diisi dengan penyakit. Ada juga hasil yang mirip dengan sebabnya dalam hal perilaku naluriah. Sebagai akibat dari membunuh, ketika Anda terlahir kembali sebagai seorang manusia, bahkan sedari masa kanak-kanak Anda akan menjadi orang yang sangat kejam yang selalu menikmati tindakan membunuh makhluk-makhluk lain. Kemudian ada akibat menyeluruh, yang melibatkan seluruh wilayah atau kelompok orang yang terbunuh. Pada wilayah tempat Anda lahir segalanya berkemampuan rendah untuk mempertahankan hidup. Makanannya sangat buruk dan tak mencukupi; obat-obatan tidak berdaya-guna atau manjur, dsb.

Kalau Anda lihat semua kerugian dan kelemahan yang menyertai tindakan membunuh ini, dan alhasil Anda memutuskan untuk tidak membunuh, maka Anda menghindarkan diri dari tindakan membunuh, itulah tindakan membangun. Hasil dari sebuah tindakan positif membangun adalah bahwa Anda terlahir kembali sebagai manusia atau dewa. Hasil yang bertautan dengan sebabnya dalam pengalaman Anda adalah bahwa, setelah terlahir kembali sebagai manusia, Anda sendiri akan menjalani hidup panjang dan memiliki kesehatan yang terjaga, jauh dari sakit-penyakit. Karena setiap orang ingin memiliki umur panjang dan tidak ingin sakit, dan tak ada orang yang mau mati muda dan kena penyakit, menjauhkan diri dari tindakan membunuh adalah hal yang akan mendatangkan segala keinginan itu. Hasil yang bertautan dengan sebabnya dalam perilaku kita adalah, bahkan sedari kecil, Anda akan merasa ngeri terhadap tindakan membunuh. Anda tidak akan pernah membunuh, dan Anda bahkan akan menampik pikiran untuk makan daging. Hasil-hasil menyeluruhnya adalah bahwa pada wilayah tempat Anda lahir, makanannya berlimpah dan bergizi dan obat-obatannya punya daya-sembuh dan manjur. Kalau dengan hanya menghindarkan diri dari tindakan membunuh saja sudah berbuah seperangkat dampak positif seperti ini, maka jika Anda betul-betul berjanji bahwa Anda tidak akan pernah membunuh lagi, hal itu akan membawa dampak secara berkelanjutan, bahkan ketika Anda tidur sekalipun. Hal itu akan menjadi tindakan membangun selamanya.

Buddha Shakyamuni memiliki banyak murid yang luar biasa – pendengar ajaran-ajaran yang luar biasa, para shravaka – dan tiap dari mereka punya keistimewaan. Beberapa memiliki keistimewaan kuasa-kuasa ajaib, yang lain kebijaksanaan, dan seterusnya. Yang memiliki keistimewaan luar biasa, mampu menjinakkan cita orang-orang di daerah terpencil yang belum beradab, adalah makhluk arya berkesadaran tinggi, Katyayana (Ka-tya’I bu). Suatu kali, ketika Katyayana keluar untuk meminta sedekah, ia pergi ke rumah seorang tukang jagal hewan. Ia menjelaskan semua kekurangan dan kerugian yang disebabkan oleh menyembelih hewan dan si tukang jagal itu berkata padanya, "Aku tak bisa berjanji berhenti menyembelih hewan di siang hari, tapi aku akan berjanji untuk tidak membunuh seekor binatangpun di malam hari." Dan ia menepatinya.

Beberapa waktu berlalu, ada seorang makhluk berkesadaran tinggi lainya yang disebut Sangharakshita (dGe-‘dun ‘tsho). Pada masa itu, ada banyak orang yang biasa pergi melayari samudera untuk mencoba mencari harta karun. Mereka tak punya kapal-kapal besar seperti yang kita miliki sekarang. Mereka hanya menggunakan perahu layar. Sudah jadi adat mereka untuk mengundang seorang rohaniawan untuk menjadi pendeta di kapal itu, maka mereka mengundang makhluk berkesadaran tinggi, Sangharakshita. Mereka tersesat, dan terdampar di sebuah tanah asing yang jauh. Sangharakshita turun dari kapal dan mendatangi sebuah rumah yang sangat indah. Pada malam hari, segalanya indah. Ada banyak minuman dan makanan, dan segalanya sangat nyaman. Pemilik rumah itu berkata, “Mohon untuk tidak menginap di sini sampai matahari terbit di pagi hari.” Ia menjelaskan bahwa selama siang hari, segera setelah matahari terbit, binatang-binatang akan datang. Mereka semua menyerangnya. Ada yang mengigitnya, ada yang menendangnya, dan ada yang menyeruduknya dengan tanduk mereka. Pokoknya mengerikan. Tapi di malam hari, segalanya menjadi damai dan tenang segera setelah matahari terbenam. “Maka silakan pergi dari sini ketika matahari terbit, tapi kembalilah lagi segera setelah gelap."

Kemudian hari, Sangharakshita kembali dan menemui Buddha Shakyamuni dan menjelaskan apa yang telah ia lihat. Buddha menjelaskan bahwa orang di dalam rumah itu merupakan kelahiran kembali dari tukang jagal hewan yang telah mengambil sumpah untuk tidak membunuh di malam hari, tapi terus membunuh selama siang hari. Karena tidak membunuh di malam hari, segalanya menyenangkan hati di malam hari. Tapi karena ia terus membunuh hewan selama siang hari, hewan-hewan selalu menyerangnya.

Dalam hal apa yang Anda bunuh, ada perbedaan pada jenis daya negatif yang terbina menurut ukuran makhluk tersebut. Jauh lebih buruk membunuh seorang manusia dibanding seekor serangga. Jika Anda membunuh seorang arhat, seseorang yang merupakan makhluk yang sepenuhnya terbebaskan, atau membunuh ibu atau ayah Anda sendiri, ini yang dikenal dengan kejahatan keji, dan merupakan jenis membunuh paling gawat yang bisa Anda lakukan. Misalnya, Anda mungkin membunuh seekor kutu kecil. Walaupun itu merupakan sebuah tindakan tak berkebajikan yang kecil, kalau Anda membunuhnya sekarang dan Anda tidak mengakui bahwa apa yang telah Anda lakukan itu salah dan tidak mencoba memurnikan diri Anda, daya negatifnya terbina, dan keesokan harinya, Anda sudah seolah membunuh dua kutu. Kalau Anda membiarkannya sehari lagi, daya negatifnya sudah sama seakan Anda telah membunuh empat. Ini terus meningkat seperti itu, menjadi dua kali lipat lebih banyak tiap harinya. Jika Anda membiarkan hal ini selama setahun, daya negatif membunuh seekor kutu kecil sudah jadi besar sekali.

Akibat dari meremukkan seekor serangga dengan jari-jari Anda adalah terlahir kembali dalam alam yang muram, sebuah neraka yang di dalamnya Anda memiliki sebuah tubuh yang sangat besar, dan Anda digencet di antara dua buah gunung besar. Ini merupakan sesuatu yang Anda lihat pula terjadi di alam manusia. Ada orang yang jatuh dari batu atau tebing dan menghantam batu-batuan di bawah, atau orang yang rumahnya runtuh menimpa mereka. Demikian pula, ini merupakan hasil dari jenis tindakan meremukkan makhluk yang serupa di kehidupan-kehidupan mereka yang sebelumnya. Jika Anda mempertimbangkan semua hal-hal mengerikan yang terjadi, semua kerugian dan kekurangan yang berasal dari tindakan membunuh, dan Anda berjanji untuk tidak pernah mencabut nyawa makhluk hidup apapun lagi, itu sangatlah bermanfaat. Ketika Anda berjalan dan Anda melihat bahwa ada banyak serangga di tanah, Anda harus mencoba untuk tidak menginjak mereka. Jika, ketika Anda berjalan, Anda kebetulan menginjak serangga-serangga kecil yang tak Anda sadari ada di situ, itu berarti tidak disengaja. Oleh karena itu, hal tersebut bukanlah jenis tindakan negatif yang serupa.

Penting sekali untuk melihat kerugian-kerugian yang datang dari tindakan membunuh, dan untuk berjanji untuk tidak membunuh lagi. Dengan membuat janji semacam itu Anda akan mampu hidup panjang umur, dan memiliki kesehatan yang bagus dan terbebas dari sakit-penyakit. Jika Anda sedang menjalani laku sebagai seorang bodhisattwa, sebagai makhluk pengabdi, Anda memiliki cita dan haluan yang amat sangat lebar dan luas. Kita dapat melihat contoh-contoh kehidupan-kehidupan masa lalu Buddha ketika ia sendiri merupakan seorang bodhisattwa.

Suatu kali, ada lima ratus penumpang di sebuah perahu, yang membawa pulang selimpah harta-karun berupa permata dan berbagai benda-benda berharga lainnya. Di antara mereka ada seorang penjahat yang bernama Minag Dungdung (Mi-nag gDung-gdung). Buddha pada saat itu seorang pendayung yang sangat kuat. Ia melihat bahwa Minag akan membunuh empat ratus sembilan puluh sembilan penumpang lain, mencuri harta mereka dan menyita kapal tersebut. Buddha merasakan welas asih yang begitu luar biasa pada nasib semua korban ini kelak. Bukan hanya itu, tindakan tersebut akan buruk sekali akibatnya bagi si penjahat itu sendiri, sebagai hasil membunuh empat ratus sembilan puluh sembilan orang, ia akan membina daya negatif yang begitu parah, ia akan terlahir kembali dalam keadaan yang sukar dipercaya buruknya. Sebagai seorang bodhisattwa pengabdi, Buddha melihat bahwa satu-satunya cara untuk menolong adalah dengan membunuh sendiri Minag Dungdung. Ia menyadari bahwa jika ia melakukannya, empat ratus sembilan puluh sembilan orang akan selamat dan ia akan mencegah Minag membina daya negatif yang amat buruk. Ia berpikir, “Kalau aku bunuh penjahat ini, maka aku akan membina daya negatif karena harus membunuh satu orang, tapi itu tidak apa-apa. Tidak masalah kalau aku akan mengalami penderitaan dan ganjaran yang sangat buruk akibat ini. Itu impas dengan teringankannya semua penderitaan orang lain yang terlibat.” Dengan pikiran yang amat berani ini, ia membunuh Minag Dungdung. Jika Anda merupakan seorang bodhisattwa, maka dalam keadaan-keadaan semacam itu membunuh merupakan panggilan. Tapi jika Anda sendiri tidak berada pada tingkat itu, maka membunuh itu sama sekali tidak pantas.

Anda dapat membunuh sendiri seseorang, atau meminta orang lain melakukan pembunuhan itu bagi Anda, yang juga membina daya yang sangat negatif untuk Anda. Malah, jauh lebih parah. Hal itu menciptakan jumlah daya negatif dua kali lipatnya karena Anda bukan hanya membina daya negatif dari menyebabkan seseorang lain membunuh, tapi orang tersebut juga membina daya negatif dengan benar-benar melaksanakan tindakan itu untuk Anda. Jika Anda terjun ke medan perang sebagai bagian dari pasukan beranggotakan lima ratus prajurit, dan Anda memiliki perasaan kuat dalam cita Anda bahwa kita akan terjun dan membantai musuh, maka walau Anda sendiri tidak membunuh siapapun, Anda membina daya negatif seakan Anda sendiri yang membunuh seberapa banyak orang pun yang dibunuh oleh pasukan Anda. Bahkan jika satu orang dalam kelompok lima ratus prajurit itu membunuh seribu orang, Anda akan membina daya negatif dari membunuh seribu orang sendiri.

Ketika Anda berada dalam sebuah kelompok prajurit, ada yang disebut dengan “disumpah pantang-berkekang”. Dengan kata lain, orang membuat keputusan yang sangat pasti untuk tidak menahan diri dari seluruh pembunuhan, untuk menghajar saja dan menghancurkan sepenuhnya apapun yang menghalangi jalan. Hal itu membina daya negatif yang bahkan lebih hebat lagi. Jika seseorang mengambil ikrar atau sumpah semacam itu, mereka terus membina daya negatif bahkan saat tidur. Di sisi lain, sekalipun ‘prajurit' itu nama belakang Anda, kalau Anda sama sekali tak berpikir untuk membunuh siapapun, maka itu tidak ada salahnya. Jadi meskipun Anda seorang prajurit, jika Anda menyadari bahwa membunuh itu buruk sekali, Anda tidak memiliki niat untuk membunuh, dan berjanji untuk tidak membunuh, tak ada hal yang salah sama sekali di sana. Jika ada yang akan membunuh sejumlah besar orang, dan tak ada cara lain untuk menghentikannya kecuali dengan membunuhnya, maka melakukan hal itu dengan dorongan murni, seperti contoh dalam kehidupan masa lalu Buddha, merupakan tindakan positif, walau membina daya negatif dari membunuh.

Inilah beberapa hal yang masuk dalam sikap menahan diri dari tindakan membunuh. Jika Anda berjanji untuk tidak membunuh, itu akan sangat positif. Kadangkala, ada banyak serangga menyebalkan seperti nyamuk, yang mungkin membuat Anda sakit malaria, dsb. Ada obat semprot dan cairan kimia yang dapat Anda gunakan untuk membunuh nyamuk-nyamuk itu. Ketika Anda menggunakan cairan kimia ketika tak ada serangga di rumah untuk mencegahnya masuk, tidak ada kesalahan yang dilakukan di situ. Tapi jika Anda melakukannya selagi rumah dikerubungi serangga, maka ada kesalahan tindakan membunuh di sana. Ada banyak pokok laku dalam hal cara menahan diri dari tindakan membunuh.

Tidak Mencuri

Pokok kedua, tidak menjadi pencuri, tidak mencuri. Benda yang dicakup di sini, landasannya, haruslah sebuah benda yang merupakan milik orang lain. Dorongannya bisa jadi hasrat atau amarah. Seperti yang kita gambarkan sebelumnya, Anda bisa mencuri dari seseorang karena Anda memiliki hasrat besar akan sebuah benda, atau karena Anda marah pada seseorang itu. Tindakan pencurian menjadi bulat-penuh ketika Anda bersikap seperti merasa bahwa apa yang telah saya ambil kini menjadi milik saya. Akibat dari tindakan ini adalah kelahiran kembali sebagai makhluk neraka atau hantu kelaparan. Bahkan ketika Anda terlahir kembali sebagai manusia, Anda bisa terlahir kembali sebagai seseorang yang betul-betul miskin, dan yang tidak memiliki apa-apa. Atau ketika Anda memperoleh sesuatu, sesuatu itu selalu dicuri dari Anda. Inilah ganjaran yang berkaitan dengan sebabnya dalam hal apa yang Anda alami. Mengenai akibat yang berkaitan dengan sebabnya dalam hal perilaku naluriah: ada anak-anak yang secara naluriah suka mencuri sekalipun mereka terlahir dalam sebuah keluarga yang kaya. Akibat menyeluruhnya ialah terlahir kembali dalam sebuah wilayah yang sangat miskin atau negara tempat semua penduduknya tak punya apa-apa. Di lain pihak, hasil dari selalu menahan diri dari tindakan mencuri adalah terlahir kembali sebagai seseorang yang sangat kaya di negara yang sangat kaya pula.

Pada titik ini, saya bisa beri sebuah contoh dari kehidupan Geshe Pen Kungyel (‘ Phen rKun-rgyal) yang agung, penyamun besar dari Penpo. Pernah Anda dengar cerita tentang hidupnya? Siapa yang sudah pernah dengar? Dari siapa Anda mendengarnya? Izinkan saya menjelaskannya lagi untuk mereka yang belum pernah mendengar cerita tersebut. Saya tuturkan cerita-cerita ini karena sangat berguna bagi cita Anda. Cerita-cerita ini menjelaskan pokok besar dan bukan hanya dongeng atau cerita karang-karangan.

Pen Kungyel artinya “raja penyamun dari Penpo.” Ia seorang pencuri yang terkenal jahat. Ia tinggal di sebuah rumah dengan empat puluh hektar lahan yang ia gunakan untuk berladang. Ia juga berburu dan membunuh binatang dan ikan dan mencuri. Suatu kali, di sebuah jalan tembus di gunung tinggi antara rumahnya dan Lhasa, ia bertemu seorang pelancong yang sedang menaiki kuda. Pelancong ini, karena tak tahu dengan siapa ia bicara, bertanya, “Penyamun Pen Kungyel itu tidak sedang berada di dekat sini, kan?” Ketika Pen menjawab, “Aku Pen Kungyel,” pelancong tersebut bergidik ketakutan sampai ia terjatuh dari kudanya dan terguling meluncur ke bawah gunung. Pen begitu kesal karena hanya dengan mendengar namanya saja sudah cukup untuk membuat seseorang terguling jatuh dari gunung sehingga ia memutuskan bahwa ia tidak akan pernah merampok lagi.

Setelah itu, ia menjalani laku Dharma. Ia mencoba untuk menahan diri dari sepuluh tindakan merusak, dan untuk selalu melakukan sepuluh tindakan membangun. Setiap kali ia melakukan sesuatu yang membangun, ia akan menggambar sebuah garis putih di atas sepotong batu. Jika ia melakukan sesuatu yang negatif dan merusak, ia akan menggambar sebuah garis hitam. Pada awalnya, ia hanya berhasil menerakan sedikit sekali garis putih dan banyak sekali yang hitam. Lambat-laun, ia berhasil mengurangi garis hitam dan menambah garis yang putih. Di malam hari, kalau ia membuat lebih banyak garis hitam, ia akan menaruh tangan kanannya di atas tangan kiri dan berkata, “Kau raja penyamun dari Penpo! Kau orang jahat! Di masa lalu kau pencuri yang jahat dan sekarang kau terus saja menjadi orang yang nista!” Ia akan memarahi dirinya dengan amat sangat. Kalau di akhir hari ia berhasil membuat lebih banyak garis putih, ia akan menaruh tangan kirinya di atas tangan kanan, menjabatnya dan menyelamati dirinya sendiri. Ia akan memanggil dirinya sendiri dengan nama Dharma-nya, Tsultrim Gyalwa ("Ia yang berjaya dengan tertib-diri berbudi pekerti”) dan berkata, “ Kini engkau sungguh menjadi orang yang positif,” dan ia akan menyelamati dirinya sendiri.

Lama kelamaan ia menjadi lumayan terkenal sebagai seorang pelaku Dharma yang luar biasa. Suatu kali, seorang pelindung mengundangnya ke rumahnya untuk sebuah jamuan makan. Ketika si pelindung ini pergi ke luar, karena ia memiliki naluri mencuri yang sangat kuat, ia menaruh tangannya di sebuah keranjang tempat pelindungnya itu menyimpan teh dan mulai menguras isi keranjang itu. Ia menangkap dirinya sendiri, mencengkeram tangannya dengan tangan yang satunya dan berteriak, “Wahai, ibu, mari cepat ke sini, aku telah menangkap seorang pencuri!”

Lain waktu, ia diundang bersama banyak pelaku Dharma lain ke rumah seseorang dan mereka semua dihidangi susu masam kental. Ia duduk di belakang dan memperhatikan saat si pelindung menuangkan sebagian besar dari susu masam kental itu ke orang-orang di depan. Ia mulai khawatir dan kesal kalau-kalau tidak akan ada lagi yang tersisa saat gilirannya tiba. Ia duduk di situ dengan pikiran-pikiran negatif, memperhatikan susu masam kental itu dituang. Pada saat orang tersebut sampai di dekatnya, ia menyadari cita macam apa yang muncul di benaknya, jadi ia membalik mangkuknya dan berkata, "Tidak, terima kasih. Melihat yang lain diberikan susu masam tadi, saya jadi kenyang."

Di lain waktu, seorang pelindungnya akan datang dan mengunjungi rumahnya. Ia bangun awal sekali pagi itu, membersihkan ruangannya dengan sangat baik dan menyusun sebuah mezbah yang indah dengan bunga-bunga dan semua jenis dupa. Kemudian ia duduk dan dengan jujur menelaah dorongan dalam dirinya yang membuatnya melakukan apa yang baru saja ia kerjakan. Ia menyadari bahwa ia telah melalui begitu banyak kesulitan untuk mengatur sebuah mezbah yang indah hanya karena pelindungnya akan datang dan ia ingin membuatnya terkesan. Ia keluar dan mengambil segenggam abu, kembali ke dalam dan melemparkan abu itu ke segala benda di ruangan itu. Ia berkata, “Sebelumnya, saat aku masih jadi seorang pencuri dan bekerja keras, mulutku sering tak mampu cukup makan. Kini setelah menjadi seorang pelaku Dharma, begitu banyak orang datang dan membuat persembahan padaku sampai-sampai mulutku ini tak sanggup menerimanya."

Jika Anda pikirkan tentang semua pokok yang digambarkan oleh kehidupan Geshe Pen Kungyel, semua itu memberi banyak masukan untuk dipikirkan dan banyak petunjuk menuju jalan untuk betul-betul menjalani laku. Anda tak bisa langsung berhenti jadi orang negatif dan berhenti bertindak begitu merusak. Anda harus mendekatinya secara bertahap.

Jika Anda menjalani laku semampu Anda, Anda menjadi orang yang lebih positif dan membangun. Maka, pada saat kematian Anda tiba, Anda takkan lagi mengalami permasalahan, ketakbahagiaan, dan penderitaan apapun. Setiap orang harus mati. Anda bukan satu-satunya orang yang menghadapi keadaan ini. Jika Anda mati setelah bekerja keras seumur hidup untuk menjadi orang yang lebih baik, makan Anda akan merasa, “Aku tak menyesal sama sekali dengan hidup yang aku jalani. Aku melakukan yang terbaik dan bekerja sekeras mungkin untuk menjadi positif." Maka Anda dapat meninggal tanpa merasa nista. Itu akan jadi bagus sekali.

Tidak Berperilaku Seksual yang Tak Pantas

Kita telah membahas dua tindakan tubuh merusak yang pertama. Jenis tindakan ragawi merusak yang ketiga adalah perilaku seksual yang tak pantas. Contohnya, seorang pria yang telah menikah melakukan hubungan kelamin dengan wanita yang bukan istrinya. Sebagai akibatnya, ketika Anda terlahir sebagai manusia lagi, istri Anda akan tidak setia dan melakukan banyak perselingkuhan di belakang Anda. Lebih jauh lagi, ketika Anda melihat serangga yang terlahir di jamban atau di tempat-tempat yang sangat jorok dengan banyak sampah, seperti lalat dan belatung, biasanya itu adalah akibat dari perilaku seksual yang tak pantas.

Makhluk berkesadaran tinggi yang luar biasa, Katyayana, suatu kali bertemu dengan seseorang yang selalu terlibat dalam perilaku seksual yang tak pantas dan banyak berselingkuh. Ia berjanji bahwa ia tidak akan berbuat apapun seperti hal itu di siang hari, tapi ia tak bisa menahan diri atau berhenti menikmati perilaku semacam itu di malam hari. Jadi ia bersumpah untuk berhenti di siang hari saja. Kemudian, makhluk berkesadaran tinggi, Sangharakshita, berjumpa dengan sebuah rumahtangga dengan seseorang yang sangat bahagia di siang hari, tapi di malam harinya keadaan berubah menjadi mengerikan dan tak tertahankan. Masalah parah menerpa orang tersebut. Sangharakshita bertanya pada Buddha tentang hal ini dan Buddha menjelaskan bahwa itulah akibat dari janji si orang ini yang berhenti menikmati perilaku seksual yang tak pantas di siang hari, tapi tidak pada malam hari.

Tidak Berdusta

Beralih ke wicara: Jika Anda bohong dan mengatakan hal yang tak benar maka ini pun akan membina daya negatif. Berdusta itu, misalnya, mengatakan bahwa sesuatu yang merupakan perkaranya bukanlah perkaranya, bahwa sesuatu yang bukan perkaranya ialah perkaranya, atau mengatakan bahwa seseorang tak memiliki sesuatu padahal mereka memilikinya, dan sebaliknya. Akibat dari berdusta adalah menjadi seperti orang-orang yang kita lihat dalam masahidup ini yang selalu dibohongi orang – mereka selalu ditipu dan diperdaya. Sebagai akibat dari tindakan menahan diri dari dusta, Anda terlahir kembali di sebuah negara dimana semua orang jujur dan Anda tidak pernah dicurangi oleh siapapun. Tak seorang pun bohong pada Anda.

Pada saat Buddha hidup, ada satu orang yang bernama Kyewo-sudey (sKye-bo bsu-bde). Sebagai akibat tak pernah berdusta, setiap kali ia tertawa sebuah permata jatuh dari mulutnya. Semua orang biasanya menceritakan lelucon untuk membuatnya tertawa, tapi ia jarang sekali tertawa. Suatu hari, seorang biksu yang dengan angkuh mengenakan jubah kuning biksu dan memegang tongkat biksu pergi ke istana raja wilayah itu. Raja tersebut memandunya untuk berkeliling, melihat-lihat istana. Ada banyak sekali kepingan emas yang terserak di mana-mana, kadang dalam tumpukan yang besar. Biksu tersebut menaruh madu lengket pada ujung tongkat biksunya. Sembari ia berkeliling, ia akan menetakkan tongkatnya di atas keping-keping emas itu dan emas itu akan lengket ke ujung bawah tongkatnya. Ketika ia pergi keluar dari istana, sehelai bulu kecil, seperti bulu burung, tersangkut di jubah biksunya. Biksu itu pikir bulu itu merusak penampilannya, jadi ia mencabut bulu itu dari jubahnya dan mengibaskannya. Kyewo-sudey melihat biksu angkuh ini berjalan keluar dari istana dengan keping-keping emas menempel pada ujung bawah tongkat biksunya, tapi mencabut sehelai kecil bulu putih dari jubahnya dan mengibaskannya karena ia mengkhawatirkan penampilannya, dan ia tertawa. Hanya peristiwa-peristiwa semacam inilah yang akan membuat Sudey terbahak-bahak.

Ratu daerah ini akhlak seksualnya buruk sekali. Ia masuk ke ruangan di dalam istana tempat pelayan yang merawat kuda-kuda kerajaan tinggal. Suatu hari, ia berbuat sesuatu yang tidak disukai pelayan itu dan pelayan itu menampar wajah si ratu itu. Tapi ratu tersebut tak menghiraukannya. Pada kesempatan lain, raja mencabut cincin dari jarinya dan dengan bercanda melemparkannya ke ratunya. Cincin itu pelan mengenai si ratu dan ia mulai menangis. Sudey melihat ini dan tertawa terbahak-bahak. Jika Anda menahan diri dari dusta, mungkin Anda bisa mengalami akibat semacam ini juga; setiap kali Anda tertawa, sebuah permata jatuh dari mulut Anda. Akibat-akibat jenis-jenis inilah yang akan muncul.

Tidak Menggunakan Bahasa Hasutan

Akibat dari penggunaan bahasa hasutan itu seperti yang Anda lihat di beberapa keluarga. Para anggota keluarga itu selalu bertengkar dan adu-mulut satu sama lain, orangtua dan anak-anak tidak akur sama sekali. Ini semua adalah akibat dari tindakan menggunakan bahasa hasutan dan mengatakan hal-hal yang membuat orang jadi jauh satu sama lain. Demikian pula, jika Anda berada di sebuah wilayah dimana segalanya tampak sukar dan sulit, dimana bentangan wilayahnya tak berimbang dan rentang tanahnya sangat sulit, ini juga akibat dari bahasa hasutan. Sebagai akibat dari tindakan menahan diri dari penggunaan bahasa hasutan, Anda terlahir kembali di tempat yang sangat datar, berimbang, dan indah, dan Anda sendiri memiliki hubungan yang sangat selaras dengan setiap orang lain.