Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Ilmu Pengetahuan Samawi Tibet

Alexander Berzin
Dharamsala, India, 1986

2 Sejarah dan Kalender Tibet

Sejarah

Bahan-bahan samawi Cina sampai di Tibet lebih dulu dibanding bahan yang berasal dari India.Hal ini terjadi pada pertengahan abad ke-7, pada masa Kaisar Songtsen-gampo, pendiri Kekaisaran Tibet yang agung.Di antara para istrinya,ada putri yang berasal dari Cina dan Nepal, dan yang dari Cina ini membawa serta berbagai naskah samawi dan ilmu pengobatan Cina.Dalam beberapa tahun, kerajaan Tibet mulai menggunakan tatapenamaan dua belas hewan untuk tahun, walau belum lagi menerapkan tata kitaran enam puluh tahun.Tata ini secara kasat digunakan di Tibet selama dua abad berikutnya.

Setelah kurun-waktu kemerosotan budaya pada abad ke-9, gelombang baru pengaruh samawi Cina datang dari wilayah Khotan, Turkistan Timur, yang dimulai pada abad ke-10. Guru Tibet, Dharmakara, menggabungkannya dengan apa yang ia dan orang lain ingat dari bahan-bahan kurun-waktu lama, yang telah tergerus keabsahannya. Ia merumuskan sebuah tata pasti yang baru untuk penghitungan unsur, yang kini mencakup kematian, pernikahan, rintangan, dan penghitungan nujum dan fengshui (geomansi). Pada abad ke-11, orang Tibet secara baku menggunakan tata kitaran enam puluh tahun unsur-hewan.

Kalender Tibet terkini juga memberikan angka tahun kerajaan.Angka ini adalah hitungan tahun yang telah berlalu sejak Nyatri Tsenpo diangkat menjadi raja pertama Tibet, pada 127 SM.

Bahan-bahan samawi dari pihak India sampai di Tibet dengan pengenalan Tantra Kalacakra.Berbagai penerjemah dan guru mengalihbahasakan naskah-naskah Kalacakra dasar dari bahasa Sanskerta dan meneruskannya ke Tibet beberapa kali di antara abad ke-11 dan ke-13. Naskah-naskah terjemahan ini menonjol pada aliran Sakya dan Kagyu di masa awal, dengan berbagai tinjauan lanjutan tertulis dan unsur-unsur dari para guru Cina dan India yang dipadu dan dikerjakan ulang untuk memperoleh aliran samawi Tibet yang khas.

Kalacakra dan tata-tata India sama-sama menggunakan kitaran Jupiter enam puluh tahun untuk menghitung tahun dan menyebut kitaran itu sebagai rabjung atau kitaran “menonjol”, diambil dari nama tahun pertama dalam enam puluh tahun.

Tahun pertama dari kitaran enam puluh tahun “menonjol” yang pertama dari kalender Tibet, yang dianggap sebagai tanggal resmi pengenalan Kalacakra di Tibet, adalah bilangan tahun prakira yang terkenal yang ditemukan di dalam kepustakaan Kalacakra “api-angkasa-samudera” setelah permulaan kurun-waktu Muslim pada 624 Masehi, walau sebetulnya kurun-waktu tersebut dimulai pada 622.

Kalacakra dan tata Hindu sama-sama menunjukkan angka lewat nama, mengacu pada pencacahan bilangan yang lazim terdapat dalam kepustakaan pan-India, dan mendaftar angka-angka tersebut dalam urutan satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya. Terdapat tiga api; angkasa kosong seperti nol; dan terdapat empat samudera. Oleh karena itu, “api-angkasa-samudera” adalah 403 tahun setelah tahun 604, yaitu tahun 1027 Masehi.

Ketika kitaran enam puluh tahun “menonjol” Kalacakra dihubungkan dengan kitaran enam puluh tahun unsur dan hewan Cina, tahun 1027 tidak sesuai dengan permulaan kitaran Cina. Kitaran Cina selalu dimulai dengan tahun kayu-laki-laki-tikus, dan ini dulunya merupakan tahun keempat dari sebuah kitaran, api-perempuan-kelinci.Inilah mengapa kitaran enam puluh tahun Tibet dimulai dengan tahun api-perempuan-kelinci dan pendaftaran rangkaian dua belas hewannya dimulai dengan kelinci dan bukan dengan tikus.Maka dari itu, karena terdapat selisih tiga tahun, kitaran ketujuh belas Tibet sekarang dimulai pada 1987, sementara kitaran kedua puluh tujuh Cina sekarang dimulai pada 1984.

Walaupun awal dari kitaran enam puluh tahun “menonjol” pertama adalah 1027, barulah pada paruh kedua abad ke-13 kalender Kalacakra menjadi aturan di Tibet. Akan tetapi, orang-orang masih biasa menggunakan penamaan unsur-hewan untuk mengacu pada tahun – seperti yang masih banyak dilakukan sekarang – alih-alih menggunakan nama tahun-tahun tersebut dalam kitaran “menonjol”. Meski demikian, penghitungan matematis untuk kalender berasal dari tata Kalacakra.

Salah satu dari para guru dan pengarang kajian samawi Sakya terkemuka di masa-masa awal adalah Chogyel Pagpa, yang hidup di paruh kedua abad ke-13.Ia adalah pengajar bagi penguasa Cina dari Mongol, Khubilai (Kublai) Khan, dan, bersama pamannya Sakya Pandita, merupakan guru rohani yang tercatat sebagai pembawa agama Buddha Tibet ke Mongolia. Sebab ia adalah guru ajaran Kalacakra yang mashyur, tak diragukan lagi Chogyel Pagpa membawa tata samawi Tibet yang lengkap pula. Lebih lanjut, boleh jadi bahwa kalender Kalacakra menjadi kalender resmi bagi Tibet pertama-tama oleh karenaperan pamannya, dan kemudian lewat perannya setelah diangkat sebagai pemimpin sekuler Tibet oleh para Khan Mongol – yang, dimulai dengan Khubilai, merupakan kaisar Dinasti Yuan Cina.

Chingis Khan, kakek dari Khubilai Khan, pada awal abad ke-13, telah mengadopsi hitungan tahun dua belas hewan dari orang Uighur dan menjadikannya tata baku untuk digunakan di kekaisarannya. Menurut satu catatan, Chingis Khan adalah orang yang memperkenalkan istilah “bulan Mongolia” yang sesuai dengan dan merupakan penamaan pengganti bagi tata bulan Cina, pada masa penaklukannya terhadap kerajaan Tangut pada tahun 1207 di wilayah Gansu bagian timur dan Mongolia Dalam sekarang.

Saat para penerus Chingis memperkenalkan kalender Tibet pada Kekaisaran Mongol pada pertengahan abad yang sama, mereka membuat bulan Mongolia sepadan dengan bulan Kalacakra, dan bukan dengan bulan Cina, yang memang agak berbeda. Akan tetapi, mereka tetap menggunakan bulan Mongolia pertama sebagai awal tahun, untuk menjaga tetap lekat pada adat istiadat Cina, walau bulan tersebut dua bulan lebih awal dibanding bulan pertama Kalacakra.Hal ini dialihsuaikan di Tibet pula, agar terdapat keseragaman yang nisbi mengenai permulaan tahun di seantero Kekaisaran Mongol.Walau demikian, tahun baru Cina dan Tibet tidak selalu berbarengan.Hal ini karena masing-masing tata kalender ini memiliki rumusan matematisnya sendiri untuk menambahkan bulan kabisat dan untuk menentukan permulaan dan lama dari masing-masing bulan. Di Tibet, bulan Mongolia dapat pula disebut sebagai bulan Tibet, dan bahkan kini kedua penamaan ini digunakan secara bergantian.

Silsilah Ilmu Pengetahuan Samawi Tibet

Pada saat ini, ada dua kelompok silsilah besar dari ilmu pengetahuan samawi Tibet, Tsurpu dan Pugpa.Silsilah Tsurpu berasal dari tinjauan-tinjauan terhadap Kalacakra yang dibuat oleh Karmapa Ketiga dari Wihara Tsurpu, Rangjung-dorjey, pada awal abad ke-14.Garis silsilah ini, yang secara khusus ditemukan dalam aliran Karma Kagyu, menggunakan tata penghitungan ikhtisar untuk menentukan letak matahari dan bulan dan tata ajaran penuh untuk planet-planet.

Turunan dari tata Tsurpu adalah tata penghitungan Chatuhpitha-Kalacakra.Drugchen Pemakarpo memulainya pada akhir abad ke-16. Karena aliran Drugpa Kagyu dan Bhutan mengikuti tata ini, kadang orang menganggapnya sebagai penghitungan Bhutan.Penghitungan ini menggabungkan bahan dari Kalacakra dan Chatuhpitha atau Tantra Empat Kursi.Perbedaan utama antara penghitungan ini dan tata Tsurpu adalah bahwa penghitungan ini menganggap hari kerja/pekancandra terhitung sebagai tanggal yang terlewati dan bukan tanggal yang kini.Misalnya, jika hari Rabu dihitung sebagai yang kesembilan dalam bulan pada tata Tsurpu, yang kesembilan itu dianggap sebagai hari yang terlewati dalam tata Bhutan, dan yang kesepuluh dianggap sebagai hari Rabu. Aliran Drigung Kagyu, sebaliknya, mengikuti tata yang menggabungkan aliran Tsurpu dan Pugpa.

Tata atau silsilah Pugpa dimulai pada abad ke-15 oleh tiga guru; ketiganya menggunakan “gyatso” sebagai bagian dari nama mereka: Pugpa Lhundrub-gyatso, Kaydrub Norzang-gyatso, dan Tsangchung Chodrag-gyatso. Berdasar pada aliran Buton, guru Sakya dari abad ke-14, seorang pemberi tinjauan hebat atas Tantra Kalacakra, silsilah ini menekankan tata ajaran penuh penghitungan matematis yang dibangun-ulang.Pada naskah pertengahan abad ke-17, Desi Sangyay-gyatso, dalam Airlaut Putih, mengubah ajaran dengan menyajikan tata ajaran penuh dan tata ikhtisar secara bersamaan. Dengan menggunakan tata ajaran penuh ia merincikan kalender dan rejang dan juga untuk memasukkan data dari tata ikhtisar ke dalam rejang tersebut untuk digunakan dalam penghitungan gerhana. Aliran Gelug, Sakya, Nyigma, dan Shangpa Kagyu mengikuti silsilah Pugpa, sebagaimana orang-orang Mongol Kalmyk dari Rusia. Dengan demikian, tata samawi ini merupakan yang tata yang paling luas penyebarannya.

Gaya-Cina yang luas, atau penghitungan kuning, berkembang baik dalam tata Pugpa maupun Tsurpu. Ketika Dalai Lama Kelima pergi ke Cina pada 1652 atas undangan Kaisar Manchu Pertama dari Dinasti Qing, di istana kerajaan di Beijing ia melihat catatan dan berkas yang dibuat sesuai dengan kalender dan tata perbintangan Cina tradisional. Takjub, ia meminta penerjemahnya, Mergen Kacupha, untuk membuat catatan atas hal tersebut. Sekembalinya ke Tibet, Mergen Kachupa mengumpulkan tiga belas jilid pustaka tentang penghitungan gaya-Cina yang luas ini.Naskah-naskah ini tersembunyi di istana Potala Dalai Lama dan belum pernah digunakan.Tata kuning ini tidak pernah disebutkan dalam naskah Desi Sangyay-gyatso, yang merupakan menteri Dalai Lama Kelima, tersebut di atas.Akan tetapi, Mergen Kachupa dianggap sebagai perintis aliran ilmu perbintangan dan kalender ini.

Abad ke-18 merupakan saksi terperbaruinya minat orang Tibet dan Cina untuk perihal kalender dan ilmu perbintangan.Hal ini secara khusus bertumbuh-kembang di bawah dukungan Kaisar Cina dari Manchu, Qianlong.Dari silsilah Tsurpu, Karmapa Keduabelas dan, nantinya, Tai Situ Kedelapanbelas, mengunjungi istana kerajaan Manchu dan memesan lebih banyak terjemahan lagi.Dalam silsilah Pugpa, minat tinggi ada di antara para guru Gelug dari Amdo, provinsi Tibet sebelah timur laut, khususnya di Kolese Ilmu Perbintangan Wihara Labrang Tashikyil.Mereka juga menerjemahkan banyak karya.Mongolia Dalam mengikuti silsilah mereka.

Di perguruan Pugpa di Tibet Tengah, sebuah corak ringkas dari tata kuning muncul dalam sebuah naskah oleh Chendzo Sung-rab pada awal abad ke-19.Berdasarkan pada catatan-catatan dari Gen Lodro-gyatso, Profesor Tragton pada tahun 1980an telah mengumpulkan tata yang kini digunakan di Lembaga Ilmu Pengobatan dan Samawi Tibet Dharamsala.Lembaga Ilmu Pengobatan dan Samawi Tibet Lhasa menggunakan tata yang kini dikumpulkan oleh Tseten Zhabdrung dan Mugey-samten.

Tata kuning menggunakan penghitungan kalender Kalacakra dasar dan dengan demikian rangka-kerjanya berbeda sepenuhnya dari kalender Cina klasik yang sebenarnya. Akan tetapi, caratata tersebut menambahkan bulan-ganda sangatlah mirip, meski tak selalu sepadan, dengan yang digunakan dalam tata Cina. Tidak seperti tata Tibet dan India lainnya, yang kesemuanya menggandakan dan meniadakan tanggal-tanggal bulan candra, kalender dari penghitungan gaya-Cina yang luas, seperti kalender Cina, tidak memiliki fitur ini.Tiap bulan memiliki dua puluh sembilan atau tiga puluh hari, yang dinomori secara bergantian dan ditentukan menurut beberapa aliran penghitungan.Tanggal untuk awal tiap bulan, meskipun sering, tidak selalu bertepatan dengan tanggal di kalender Cina atau di tata Pugpa atau Tsurpu.

Terdapat sejumlah perbedaan antara silsilah Pugpa dari Mongolia Dalam dan Tibet Tengah, misalnya dalam hal sikap menambahkan bulan-ganda.Kalender Mongolia Dalam dirancang menurut tata kuning, padahal data dari tata ini hanya termasuk dalam rejang Pugpa Tibet Tengah.Penggunaan utama dari penghitungan kuning adalah untuk membuat prakiraan “sapi-bumi” untuk pola cuaca dan keadaan umum untuk tahun tersebut.

Orang Mongol Khalkha dari Mongolia dan juga Buryat dan Tuvinia dari Siberia mengikuti satu ragam dari aliran Pugpa yang dikenal sebagai Geden Baru atau silsilah Positif Baru.Hal ini dimulai pada 1786 oleh Sumpa Kenpo Yeshey-peljor, seorang guru ilmu perbintangan dan pengobatan berdarah Mongour Mongol, dari Amdo.Tata ini mendasarkan dirinya pada tinjauan-tinjauan yang dikerjakan Kaydrub Jey atas Kalacakra pada abad ke-15. Sebagian besar penghitungannya mengikuti aturan-aturan yang sama dengan yang ada dalam tata Pugpa, dan kitaran enam puluh tahun dihitung dengan cara yang sama juga. Akan tetapi, meski kitaran “menonjol” enam puluh tahun dimulai dengan tahun api-perempuan-kelinci, titik mula bagi penghitungan kurun waktu enam puluh tahun dianggap sebagai tahun api-laki-laki-kuda, tahun keempat puluh dari kitaran tersebut.Ini karena Buddha Shakyamuni lahir di tahun seperti itu. Karena perbedaan ini, kalender Mongolia punya cara kerja yang khas.

Tata ilmu perbintangan Bon disebut “penghitungan murni dari tiga kajian”. Walau para Bonpo menganggap tata Bon sebagai yang paling kuno, hadir lebih dulu dari tata Buddha lain mana pun, pembakuan tata tersebut dalam bentuk naskah dilakukan oleh Kyongtrul Jigmey-namkay-dorjey (1880an-1953). Tata ini memiliki penghitungan murni luar, dalam, rahasia, dan lebih rahasia. Penghitungan luar dan dalam sehubungan dengan aliran Pugpa, dengan sedikit perbedaan kecil dan cara pendekatan yang beda tipis untuk beberapa penghitungan. Penghitungan rahasia dan lebih rahasia memiliki penghitungan yang lebih persis dibanding penghitungan luar dan dalam. Kalender Bon sama betul dengan kalender Pugpa.

Perbedaan antara tata-tata Tibet ini tampak paling jelas dalam cara kalender candra berhubungan dengan kalender surya. Untuk menyadari hal ini, kita harus membahas kalender Tibet itu sendiri, yang utamanya berasal dari Tantra Kalacakra.

Efemeris, Kalender, dan Rejang Tibet

Tata ilmu angkasa dan ilmu perbintangan Tibet amatlah rumit. Butuh lima tahun untuk mempelajari dan menguasainya di Bagian Samawi Lembaga Samawi dan Pengobatan Tibet di Dharamsala, India. Para siswa belajar untuk menghitung semuanya dengan tangan dalam sikap yang diteruskan secara turun-temurun, pada sebuah papan kayu yang dilumuri dengan jelaga, yang di atasnya orang menulis dengan menggunakan kalam.Tidak terdapat satu pun efemeris yang lengkap dikumpulkan, yang dapat digunakan untuk mencari angka-angka.Salah satu dari segi-segi utama dari pelatihan ini adalah matematika yang terdapat dalam semua penghitungan.

Tata Kalacakra, layaknya tata-tata pada aliran Hindu, menyediakan rumusan untuk menentukan “lima planet dan lima fitur kalender inklusif”. Kelima planet tersebut adalah Merkuri, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Letak kelimanya, sebagaimana juga letak matahari, bulan, dan titik-simpul, dihitung untuk efemeris Tibet menurut sebuah model matematis, seperti halnya yang terjadi pada tata Yunani kuno. Oleh karenanya, hal tersebut tidak seperti ilmu angkasa Cina, yang menentukan letak dan pergerakan benda-benda langit sebagian besar berdasarkan pada pengamatan. Matematika Cina, ketika terkadang diterapkan, utamanya bersifat aljabariah.

Orang Yunani kuno utamanya menggunakan ilmu ukur bumi (geometri), yaitu proporsi geometris yang berbeda-beda, untuk menentukan dan memerikan pergerakan planet-planet.Tata-tata Hindu mengembangkan fungsi sinus, dan karenanya menerapkan metode-metode trigonometris, bukan cuma metode geometris. Di sisi lain, penghitungan dalam tata Tibet tidak melibatkan proporsi geometris maupun fungsi trigonometris, tapi murni bersifat aritmatis.

Pembuatan kalender dan rejang memerlukan lima fitur kalender inklusif, yaitu: hari pekan candra, tanggal bulan candra, rasi bulan, kurun-waktu gabungan, dan kurun-waktu tindakan. Dua yang pertama terlibat dalam mekanisme yang digunakan untuk menyelaraskan kalender candra dan surya.

Baik tata Tibet maupun Hindu menyajikan tiga jenis hari. Hari zodiak merupakan waktu yang dibutuhkan matahari untuk bergerak sejauh satu dari 360 derajat zodiak. Di sisi lain, hari surya berlangsung dari fajar ke fajar. Hari-hari tanggal candra, yang berhubungan dengan fase-fase bulan, merupakan kurun-waktu yang diperlukan bulan untuk bergerak sejauh sepertigapuluh jarak antara letak bulan baru dalam masing-masing tanda berturut-turut dalam zodiak. Titik mula dari hari-hari tanggal candra dihitung dengan proses matematis yang mirip dengan yang digunakan untuk menentukan letak matahari dan planet. Titik mula tersebut dihitung dalam sebuah kitaran tujuh hari pekan candra yang nama-namanya merupakan nama-nama hari dalam sepekan, yang, seperti dicatat di atas, juga merupakan nama-nama dari ketujuh planet tersebut. Untuk mempertautkan kalender candra dengan kalender surya, hari pekan candra ini harus dicocokkan dengan hari surya; dan ini rumit.

Pertama-tama, bulan baru yang tepat tidak terjadi persis pada waktu hari yang sama tiap bulannya. Maka itu, bulan dapat mulai bergerak menjelajahi salah satu dari jarak sempit sepertigapuluh kitarannya itu pada saat kapanpun di hari surya. Kurun-waktu yang dibutuhkan untuk bergerak menjelajahi sepertigapuluh jarak kitarannya itu disebut sebagai hari pekan. Oleh karena itu, hari pekan dapat dimulai pada saat-saat yang berbeda selama hari surya.

Lebih jauh lagi, bulan membutuhkan jumlah waktu yang berbeda untuk mencakupi jarak-jarak sepertigapuluh yang sempit ini, karena kecepatannya beragam sesuai dengan letaknya sendiri dan dengan letak surya dalam zodiak. Alhasil, jumlah hari pekan candra yang lewat antara fajar dari dua hari surya berturut-turut itu pun beragam, karena lama dari sebuah hari pekan candra beragam pula.

Tanggal-tanggal dari bulan candra, yang membentuk fitur kalender inklusif kedua, diberi angka satu sampai tiga puluh dan berlangsung dari fajar ke fajar seperti dalam hari-hari surya. Masalahnya adalah bagaimana menentukan tanggal mana yang akan ditujukan pada masing-masing hari dalam sepekan tersebut. Jalan keluarnya tidak begitu lapang, karena hari-hari pekan candra – yang merupakan penentu dari hari-hari dalam sepekan karena hari-hari tersebut dinamai Minggu, Senin, dan seterusnya – dimulai pada dan berlangsung selama rentang waktu yang berbeda-beda pula.

Aturannya adalah bahwa hari pekan diputuskan oleh hari pekan candra mana yang terjadi pada saat fajar di tanggal candra.Misalnya, sebuah hari pekan candra, seperti Senin, dapat dimulai pada sore tanggal kedua dari sebuah bulan dan berakhir pada sore tanggal ketiga. Karena pada fajar tanggal ketiga, yang di sini secara baku dianggap bermula pada pukul 5 pagi, hari pekan candra masihlah hari Senin, dan tanggal ketiga akan dianggap hari Senin.

Sebuah hari dalam sepekan tidak boleh diulang atau dilewatkan.Tepat setelah Minggu, Senin pasti mengikuti, bukan hari Minggu kedua atau malah Selasa. Akan tetapi, kadang kala fajar dari dua tanggal berurutan terjadi dalam hari pekan candra yang sama. Misalnya, hari pekan candra Senin dapat mulai lima menit sebelum fajar tanggal ketiga, dan hari berikutnya, Selasa, dapat mulai lima menit setelah fajar hari keempat. Ini akan membuat tanggal ketiga dan keempat tetap jadi hari Senin! Tidak boleh ada dua hari Senin berturut-turut.Satu dari tanggal ini harus dihilangkan.Inilah mengapa dalam kalender Tibet tanggal-tanggal tertentu dalam sebuah bulan dilewatkan.

Di sisi lain, terkadang awal dari dua hari pekan candra terjadi sebelum fajar dari tanggal berikutnya. Sebagai contoh, jika hari pekan candra Senin dimulai lima menit sebelum fajar tanggal ketiga dan berakhir lima menit sebelum fajar tanggal keempat, maka, dengan diterapkannya aturan pertama, tanggal ketiga haruslah hari Minggu dan tanggal keempat haruslah Selasa, dan jadinya tidak ada hari Senin. Karena tidak mungkin hari Minggu dilanjutkan ke hari Selasa tanpa terlebih dahulu melewati Senin, salah satu dari tanggal-tanggal ini harus digandakan agar salah satu darinya menjadi Senin. Inilah mengapa kadang kala terdapat dua tanggal delapan atau dua tanggal dua puluh lima dalam sebuah bulan di kalender Tibet.

Untuk membuat kalender candra lebih jauh sesuai dengan kalender surya, bulan ketiga belas terkadang harus ditambahkan dalam satu tahun, dalam bentuk sebuah bulan ganda tambahan atau bulan kabisat. Aturan yang menentukan tanggal-tanggal mana yang digandakan atau dihilangkan, dan kapan sebuah bulan tambahan harus ditambahkan, berbeda-beda dalam berbagai silsilah samawi Tibet. Inilah perbedaan utamanya. Berbagai kalender Hindu juga menggandakan dan menghilangkan tanggal, kalender Hindu serta kalender Cina klasik memiliki bulan-bulan tergandakan. Aturan yang diikuti tidaklah sama seperti aturan dalam tata Tibet manapun.

Fitur kalender inklusif ketiga adalah rasi bulan. Hal ini tidak mengacu pada letak bulan sesungguhnya pada fajar dari sebuah tanggal candra, seperti terhitung dengan teknik limaplanet, namun lebih kepada rasi terkait beruntunnya. Untuk tanggal candra khusus manapun, hal ini merupakan letak rasi yang dimiliki bulan pada permulaan hari pekan candra yang terjadi pada saat fajar dari tanggal tersebut, yang atas dasar itu hari pekan tertentu ditujukan bagi tanggal tersebut.

Fitur keempat dan kelima adalah kurun waktu gabungan dan tindakan.Ada dua puluh tujuh kurun waktu gabungan.Masing-masing merupakan kurun waktu yang selama itu pergerakan tergabung dari matahari dan bulan setara dengan seperduapuluhtujuh dari sebuah zodiak lengkap.Kemudian, untuk waktu yang manapun, kita memperoleh kurun waktu gabungan dengan menambahkan letak terkoreksi matahari terhadap letak rasi terkait beruntun dari bulan.Oleh karena itu, tiap kurun waktu dimulai pada waktu yang berbeda-beda. Tiap kurun waktu ini memiliki nama dan tafsirannya masing-masing; dan beberapa bersifat kurang menguntungkan dibanding yang lainnya.

Terakhir, terdapat sebelas kurun waktu tindakan, yang diperoleh dengan membagi tiga puluh tanggal candra dengan sikap yang agak tidak simetris.Rinciannya tidak perlu disajikan di sini.Kesebelas kurun waktu tindakan ini memiliki namanya masing-masing dan, demikian pula, beberapa darinya bersifat kurang menguntungkan untuk kegiatan tertentu dibanding yang lainnya.

Tanggal-Tanggal Khusus dalam Kalender Tibet

Kalender dan rejang Tibet memainkan peranan besar dalam kehidupan di Tibet.Salah satu penggunaan terpentingnya adalah untuk mengatur tanggal-tanggal pelaksanaan berbagai upacara persembahan Buddha, atau tsog.Hari kesepuluh dari fase membesar dan memudarnya, atau dengan kata lain tanggal kesepuluh dan kedua puluh lima dari tiap bulan candra, merupakan hari penyelenggaraan upacara persembahan untuk sosok-Buddha Chakrasamvara, kadang dikenal sebagai Heruka, dan Vajrayogini, juga sebagai Guru Rinpoche Padmasambhava, pendiri aliran Nyingma. Di luar semua tanggal kesepuluh ini, tanggal kedua puluh lima dari bulan kesebelas dalam kalender Tibet merupakan hari terpenting bagi Chakrasamvara. Di lain pihak, tanggal kesepuluh dari bulan kedua belas dalam kalender Tibet merupakan yang terpenting bagi Vajrayogini. Tanggal kedelapan dari tiap bulan dalam kalender Tibet merupakan hari khusus untuk membuat persembahan bagi Tara.Hal ini hanya dilakukan selama fase membesarnya bulan.

Jika misalnya sebuah bulan dalam kalender Tibet memiliki dua tanggal sepuluh, upacara persembahan dibuat dari tanggal sepuluh yang pertama.Jika tanggal sepuluh dihilangkan selama bulan tersebut, upacara dilaksanakan pada tanggal sembilan. Aturan ini berlaku bagi semua laku agamawi yang akan diselenggarakan pada tanggal yang dianggap membawa keberuntungan dalam kalender Tibet.

Dalam tiap silsilah Buddha Tibet dan dalam tiap wihara dari tiap aliran, jadwal diselenggarakannya berbagai upacara sepanjang tahun ditentukan dengan berdasar pada kalender Tibet.Undur-diri musim panas biasanya dilakukan dari tanggal enam belas pada bulan keenam sampai tanggal tiga belas pada bulan ketujuh.Hal ini dikenal sebagai undur-diri musim panas awal.Wihara Ketantraan Gyuto dan Gyumay di Lhasa mengikuti undur-diri musim panas akhir dari tanggal enam belas bulan ketujuh sampai tanggal tiga belas bulan kedelapan. Lebih lagi, dalam aliran Gelug, tanggal kedua puluh sembilan dari tiap bulan candra merupakan hari khusus bagi sosok-Buddha Vajrabhairava, yang juga dikenal sebagai Yamantaka, sosok-Buddha yang secara khusus diandalkan untuk memperoleh perlindungan dari halangan dan rintangan. Karena itu, undur-diri meditasi untuk latihan mendalam dianggap dimulai paling baik pada tanggal ini, untuk bulan apapun.

Hari besar agama Buddha, Waisak, dirayakan tidak hanya untuk memperingati wafat (parinirvana) Buddha Shakyamuni, tapi juga hari lahir dan pencerahannya. Waisak, kadang disebut juga Vesak atau Wosak, berakar pada kata padanannya bahasa Pali, digunakan di negara-negara Theravada, untuk sebuah nama bulan Sanskerta Vaishaka, yang merupakan bulan Kalacakra kedua dan bulan keempat Tibet. Hari besar ini dirayakan pada hari bulan purnama, yaitu pada tanggal lima belas, dalam bulan itu. Karena berbeda dari kalender Tibet, dan diturunkan dari salah satu dari tata kalender Hindu India, dalam kalender Theravada Waisak terhitung satu bulan lebih awal dibanding penghitungan dalam bagan Tibet.

Ada dua peristiwa lagi dalam hidup Buddha Shakyamuni yang dirayakan. Setelah Buddha memperlihatkan pencerahannya di bawah pohon bodhi di Bodh Gaya, orang pertama yang diajarnya adalah ibunya, yang telah meninggal saat ia masih kanak-kanak dan dilahirkan kembali di Surga Tiga Puluh Tiga Dewa atau, menurut beberapa sumber, di Surga Tushita. Buddha berjalan ke sana untuk mengajarnya. Hari besar Turun dari Alam Surgawi, yang dirayakan pada tanggal keempat dari bulan keenam Tibet, ditujukan untuk memperingati kembalinya Buddha ke dunia ini.Buddha kemudian beranjak ke Sarnath dan di Taman Rusa mengajar murid-murid pertamanya.Hari besar Mengalirkan Putaran Ajaran, yang diperingati pada tanggal dua puluh dua di bulan kesembilan, merayakan hal ini.

Masing-masing silsilah Tibet juga memiliki hari khususnya sendiri. Misalnya, dalam aliran Gelug, hari besar Persembahan Kelima Ganden, yang dirayakan pada tanggal dua puluh lima di bulan kesepuluh, ditujukan untuk memperingati wafatnya Tsongkhapa. Monlam, Perayaan Sembahyang Besar di Lhasa, berlangsung dari tanggal tiga sampai dua puluh empat di bulan pertama Tibet.Pada hari terakhirnya, ada kebiasaan upacara Melempar Kue Ritual yang dilakukanoleh WaskitaNegara Nechung; dan upacara itu merupakan lambang penghapusan segala haling-rintang di tahun yang baru. Ini diteruskan di hari berikutnya, tanggal dua puluh lima bulan pertama, dengan Perayaan Mengundang Maitreya; dan dalam acara ini sebuah citra Maitreya, Buddha berikutnya, diarak berkeliling Lhasa dalam sebuah kereta hias.

Ada juga tanggal-tanggal khusus untuk mencari keterangan dari para waskita Contohnya, pemerintah Tibet secara turun-temurun mengadakan temu dengar-pendapat dengan WaskitaNegara Nechung pada tanggal sepuluh bulan pertama. Di Tibet, para Kepala Wihara di Wihara Drepung secara berkala bertatap-muka dengan WaskitaNechung pada tanggal dua di tiap bulannya.

Kalender Tibet secara beraturan menandai tiga jenis tanggal yang naas.“Hari buruk” ditandai dengan huruf Tibet zha, dan berlangsung dari fajar ke fajar.“Hari hitam” ditandai dengan nya, dan hanya mencakup siang hari saja.Keduanya terjadi pada tanggal-tanggal yang sudah tetap tiap tahunnya, masing-masing setiap bulan Kalacakra. Jenis tanggal naas yang ketiga, ditandai dengan ya, berlangsung siang dan malam – dikenal dengan nama “Hari Yen Kuong”, nama dewa Cina. Biasanya ada tiga belas hari Yen Kuong dalam setahun dan terjadi pada tanggal-tanggal yang sudah pasti, dalam bulan gaya-Cina luas dari tata penghitungan kuning. Lebih jauh lagi, dari tata penghitungan unsur yang berasal dari Cina, tiap tahun mengandung dua bulan “hitam” atau naas, dan kadang-kadang terdapat satu tahun “hitam”.

Jenis tanggal lain yang dalam kalender Tibet ditandai dengan huruf, kali ini sa, dimaksudkan untuk upacara dwiwulanan bagi para biksu dan biksuni untuk pemurnian dan pemulihan sumpah mereka – disebut upacara sojong. Tiap tahunnya, upacara dwiwulanan pertama diselenggarakan lima belas hari surya setelah tahun baru. Bulan-bulan dalam kalender Tibet dimulai dengan kurun waktu membesarnya bulan.Sojong kedua tiap bulannya, pada akhir kurun waktu memudarnya bulan, diselenggarakan empat belas tanggal candra terhitung setelah upacara sebelumnya.Jika terdapat tanggal ganda, kedua tanggal tersebut dianggap satu dalam penghitungannya.Jika terdapat tanggal yang dihilangkan, sebuah tanggal tambahan harus dihitung untuk membuatnya jadi empat belas. Sojong pertama tiap bulannya, pada akhir kurun waktu membesarnya bulan, diselenggarakan pas lima belas hari surya setelah upacara sebelumnya, tanpa mempermasalahkan adanya tanggal-tanggal yang digandakan atau dihilangkan.

Patut dicatat bahwa, pada umumnya, paruh pertama yang merupakan kurun waktu membesarnya bulan dianggap lebih mujur dibanding kurun waktu memudarnya bulan. Oleh karena itu, sebagian besar orang Tibet akan memulai laku perbuatan positif dan membangun mereka selama paruh pertama dari bulan candra, agar hasilnya meningkat dan melebar seperti bulan yang membesar.

Tanggal-Tanggal Mujur dan Naas

Selain itu, tanggal-tanggal tertentu dianggap mujur dan naas untuk melakukan berbagai kegiatan. Misalnya, tanggal sepuluh, sembilan belas, dan dua puluh sembilan dari sebuah bulan candra dianggap mujur untuk memulai perjalanan, sementara tanggal dua, delapan, empat belas, dua puluh, dan dua puluh enam, dikenal juga dengan nama tanggal “penyaring air”, dianggap naas untuk perjalanan. Inilah mengapa jika ada orang Tibet yang tidak dapat memulai perjalanannya pada tanggal mujur, mereka sering kali mengambil sekoper kecil barang dan memindahkannya ke rumah lain di lingkungannya pada tanggal mujur ini, untuk melambangkan dimulainya perjalanan pada hari itu. Akan tetapi, jika seseorang mati pada tanggal sembilan, sembilan belas, dua puluh sembilan atau ketika bulan sedang berada pada rasi kesembilan, atau pada hari Minggu, dan khususnya pada tanggal ketika ketiga hal itu terjadi bersamaan, hal ini dianggap sebagai kenaasan bagi orang yang ditinggalkan mendiang.

Tanggal paling naas dalam setahun adalah “hari sembilan pertanda buruk”.Hari ini dimulai pada tanggal enam bulan sebelas di siang hari, dan berlangsung sampai siang hari di tanggal tujuh. Selama kurun waktu ini, sebagian besar masyarakat Tibet tidak mencoba melakukan praktik agamawi khusus atau perbuatan positif lainnya; alih-alih mereka pergi plesir, bersantai, dan bermain. Sejarah dari adat-istiadat ini: pada masa Buddha masih hidup, ada seseorang yang mencoba menyelesaikan banyak perbuatan positif pada hari itu, namun sembilan hal buruk justru menimpanya. Buddha menasehati bahwa pada tanggal ini tiap tahunnya di masa depan, lebih baik kita tidak mencoba menjalankan terlalu banyak perbuatan baik.

Akan tetapi, kurun-waktu dua puluh empat jam berikutnya, dari siang di tanggal tujuh bulan sebelas hingga siang di tanggal delapan, merupakan “hari sepuluh pertanda baik”. Pada hari ni, di masa Buddha masih hidup, sepuluh hal menakjubkan terjadi pada orang yang sama saat ia terus mencoba melakukan hal-hal yang bersifat membangun. Kurun-waktu ini kemudian dianggap sangat menguntungkan untuk melakukan hal-hal positif namun, pada umumnya, orang Tibet juga menggunakan hari ini untuk pesiar dan bermain.

Dua kurun-waktu lain dalam setahun ditunjukkan di dalam rejang dan patut diberi perhatian. Kurun-waktu yang pertama disebut “fajar bintang Rishi”. Ini dihitung dari sebuah jenis titik tertentu dalam bulan kedelapan belas dan berlangsung selama tujuh hari. Selama kurun-waktu ini, cahaya dari bintang “Rishi” menyinari permata yang terdapat pada mahkota sebuah patung tertentu yang menakjubkan, yang kemudian menyebabkan madu mengalir dari dalamnya. Hal ini menyebabkan mata air panas menjadi sangat berdaya-guna dan karenanya ketujuh hari ini disebut sebagai hari mandi, ketika orang Tibet pergi ke mata air panas untuk perawatan dan penyembuhan.

Kurun-waktu yang kedua disebut “hari babi racun”. Ini juga berlangsung selama tujuh hari dan dihitung dari jenis titik lainnya dalam bulan kelima belas. Selama tujuh hari ini, karena dampak hujan yang telah tercemar, air berubah menjadi racun. Tanaman obat apapun yang dipetik pada ketujuh hari ini akan beracun. Demikian pula, mata air panas pun menjadi sangat merugikan, dan semua orang menghindarinya.

Walaupun, dari tata penghitungan unsur yang berasal dari Cina, terdapat banyak kurun-waktu rintangan dalam masa hidup kita, yang paling utama menjadi perhatian seluruh masyarakat Tibet adalah “tahun usiapenuh rintangan”. Yang dimaksud dengan tahun ini adalah tahun ketika tanda-hewan kelahiran kita berulang. Oleh karenanya, jika kita lahir di tahun tikus, maka tiap tahun tikus berikutnya akan menjadi tahun rintangan bagi kita. Hal ini terjadi setiap dua belas tahun. Menurut cara penghitungan umur di Tibet, seperti dibahas sebelumnya, usia pertama kita merupakan “tahun usia penuh rintangan” kita yang pertama pula, dan di tahun usia penuh rintangan yang kedua kita berusia tiga belas tahun, dan begitu seterusnya.

Penggunaan Ilmu Perbintangan yang Lazim di antara Masyarakat Tibet

Ilmu perbintangan sejam, pemeriksaan keberuntungan setiap jam dalam satu hari, merupakan fitur ilmu perbintangan utama yang diperoleh dari rejang Tibet. Fitur ini pun memainkan sebuah peran penting dalam kehidupan di Tibet. Dua fitur kalender inklusif pertama terlibat di dalamnya, hari pekan candra dan rasi bulan.

Masing-masing dari dua puluh delapan rasi candra dan masing-masing dari tujuh hari pekan candra dan benda-benda langit dipertautkan dengan salah satu dari empat unsur. Keempat unsur ini adalah empat dari lima unsur-unsur India, yaitu tanah, air, api, dan angin. Unsur dari rasi terkait beruntun bulan untuk sebuah tanggal khusus dibandingkan dengan unsur dari hari pekan candra yang terjadi. Masing-masing dari sepuluh gabungan unsur yang mungkin tersebut memiliki tafsirannya sendiri-sendiri, dan berdasarkan pada tafsiran itu kita dapat memutuskan apakah sebuah tindakan tertentu baik adanya dilaksanakan pada saat itu atau tidak.

Ini adalah tata sepuluh penjodohan yang lebih rendah. Misalnya, jika kita sedang melaksanakan upacara persembahan api pada akhir dari sebuah undur-diri meditasi, akan sangat menguntungkan jika kita memilih satu jam selama kurun waktu api ganda, yang akan menambah besarnya api, dibanding kurun waktu api-air yang justru memadamkan nyalanya.

Di antara orang-orang Tibet, para pakar ilmu perbintangan ditemui sebagian besar untuk mencari keterangan tentang nujum bagi bayi yang baru lahir, dan tentang pernikahan atau kematian. Segi-segi dari tata penghitungan putih dan hitam dipadukan dalam menyusun nujumnya. Para orang tua menaruh minat khusus pada prakiraan tentang rentang hidup anak-anak mereka. Jika rentang hidupnya pendek dan terdapat banyak rintangan, berbagai upacara agamawi yang dianjurkan dalam nujum akan dilaksanakan dan patung-patung dan lukisan-lukisan akan dipesan.

Sebelum pernikahan, keserasian pasangan diperiksa, seperti disebut sebelumnya, dengan membandingkan berbagai unsur-kerikil dan trigram mereka.Sabtu adalah hari pekan yang berhubungan dengan kemakmuran.Oleh karena itu, dalam penghitungan pernikahan Sabtu dianggap sebagai hari terbaik dalam sepekan bagi mempelai wanita untuk tiba dan pindah ke rumah keluarga calon suaminya. Keluarga pasangan tersebut akan memberikan perkiraan minggu dilaksanakannya pernikahan kepada ahli ilmu perbintangan. Hari paling mujur dari pekan dan masa dalam kurun waktu ini akan dipilih menurut tata sepuluh penjodohan kecil. Jika ternyata Sabtu merupakan hari mujur, pernikahan bagusnya diadakan pada hari itu juga.Jika hari Sabtu dianggap naas, maka tanggal hari mujur terdekat berikutnya pun dipilih, walau mempelai wanita tetap dianjurkan untuk memasuki rumah suami barunya pada hari Sabtu sebelum pernikahan.

Hampir setiap orang Tibet akan berkonsultasi dengan seorang ahli ilmu perbintangan ketika ada yang meninggal. Berdasarkan waktu kematian terjadi, penghitungan dibuat dari tata unsur yang berasal dari Cina untuk menentukan waktu dan ke arah mana jenazah dipindahkan dari tempat ia disemayamkan untuk kemudian dibawa ke tempat penguburan atau pembakaran. Waktu pembakaran atau pemakaman jenazah itu sendiri tidaklah dihitung, dan hari mujur dan naas yang ditentukan dengan sepuluh penjodohan rendah tidak dilibatkan dalam proses ini. Jenis-jenis upacara yang akan dilaksanakan untuk mendiang juga ditentukan, khususnya apabila roh-roh jahat terlibat dalam kematiannya.

Masyarakat Tibet pada umumnya juga meminta nasehat seorang ahli ilmu perbintangan untuk mencari hari mujur saat hendak pindah rumah, membuka toko baru, dan memulai usaha. Di Tibet, yang belakangan ini berkenaan dengan hari dan waktu untuk memulai kafilah, sementara di India paling sering berkenaan dengan kapan orang baiknya beranjak pergi dari rumah untuk menjual baju hangat dan pakaian siap-pakai di jalanan berbagai kota-kota India yang jauh letaknya. Hal ini merupakan alat pencari nafkah paling umum di antara orang-orang Tibet yang hidup di pengasingan.

Acara-acara lain dimana hari mujur selalu dipilih adalah ketika seorang Lama Penjelma naik tahta, saat ia kemudian membuat persembahan resmi untuk wiharanya untuk memulai masa belajarnya, ketika sebuah keluarga mengirimkan anak mereka untuk memasuki wihara atau wihara biksuni, dan ketika seorang Geshe baru, setelah merampungkan pendidikan agamawi dan lulus dari ujian, memperbuat persembahan resmi untuk wiharanya. Juga, sudah merupakan adat-istiadat Tibet untuk melakukan upacara cukur-rambut pertama untuk para bayi kira-kira setahun setelah kelahirannya. Hal ini harus dilakukan pada sebuah hari mujur, kalau tidak bayi tersebut dipercaya akan terkena bisul atau luka.

Para tabib Tibet mencari keterangan dalam ilmu perbintangan pengobatan ketika hendak menentukan hari-hari terbaik dalam sepekan untuk perawatan pengobatan khusus bagi seorang pasien, seperti moxabustion atau totok jarum emas. Hari daya-hidup dan semangat-hidup dari si pasien, yang ditentukan dari tanda-binatang kelahiran mereka, akan dipilih dan hari-hari penuh kemalangan dihindari.

Ketika puja panjang hidup ditawarkan pada seorang Lama, upacara persembahan dilakukan di awal pagi dari hari daya-hidup atau semangat hidupnya.Yang Mulia Dalai Lama Ke-14 lahir pada tahun tanah-babi. Karena hari semangat-hidupnya adalah Rabu, banyak Lama yang akan memulai mengajarkan sebuah wacana pada hari yang sama dengan hari semangat-hidupnya tersebut untuk alasan kemujuran. Saat upacara keagamaan hendak dilaksanakan untuk menolong seseorang yang sedang sakit, hari daya-hidup atau semangat-hidup akan selalu jadi pilihan.

Satu hal lebih lanjut yang selalu menjadi alasan orang Tibet mencari keterangan dari para ahli ilmu perbintangan adalah apakah usaha mereka akan berhasil pada tahun ini. Ahli ilmu perbintangan akan melaksanakan sebuah ramalan menurut satu rencana yang ditemukan dalam tata, “bangkit dari suara”. Pertanyaan tersebut harus dikumpulkan dan diserahkan secara resmi, dan sebuah penghitungan dibuat dari jumlah kata-kata dalam pertanyaan itu dan jumlah orang di ruangan tempat dan ketika pertanyaan tersebut dilontarkan.

Pendekatan Buddha terhadap Ilmu Perbintangan

Terdapat begitu banyak peubah yang dapat mempengaruhi penafsiran kurun-waktu tertentu manapun, baik secara umum maupun untuk pribadi, sehingga hampir tiap waktu kekeliruan dapat saja terjadi.Tidak semua penyebab memiliki tingkat kepentingan yang setara. Hanya peubah-peubah tertentu saja yang ditelaah untuk suatu keadaan atau keadaan lainnya, dan beberapa peubah justru akan mengesampingkan peubah yang lain. Oleh karena itu, jika sebuah perjalanan dapat dimulai pada tanggal sembilan, sembilan belas, atau dua puluh sembilan, atau pemberdayaan Kalacakra dapat diberikan pada hari bulan purnama, tidaklah begitu penting apabila keadaan-keadaan lain mungkin tidak menguntungkan.

Tujuan dari tata ini bukanlah untuk melumpuhkan orang dengan takhyul.Akan tetapi, tata ini menyediakan bagi rakyat sesuatu hal yang mirip seperti ramalan cuaca. Jika kita kurang-lebih tahu bahwa sebuah tanggal tertentu mungkin tidak menguntungkan, kita bisa mengambil langkah-langkah pencegahan seperti melaksanakan upacara, berkelakuan baik dan hati-hati, dan seterusnya, sebagai cara untuk mengatasi dan menghindari masalah. Hal ini mirip seperti membawa payung ketika kita dengar hujan akan turun.

Ajaran Buddha tidak melihat ilmu perbintangan dalam kerangka pengaruh-pengaruh yang datang dari benda-benda langit sebagai kesatuan yang ada secara mandiri dan sungguh tak terkait dengan arus kesadaran tiap insan manusia, namun lebih sebagai sebuah cerminan dari hasil-hasil perilaku impulsif atau karma kita di masa lampau.Nujum, sesungguhnya, hampir seperti sebuah peta yang dapat kita pakai untuk mampu membaca segi-segi karma kita.Salah satu hasil menyeluruh dari tindakan-tindakan impulsif di kehidupan lampau kita akan menjadi cerminan dari keadaan-keadaan karma dalam tatarajah ilmu angkasa dan perbintangan yang melingkupi kelahiran kita. Oleh karena itu, informasi samawi dapat memberikan petunjuk tentang hal-hal yang, terkecuali jika kita mengambil langkah pencegahan untuk mengubah keadaan, mungkin akan terjadi karena tindakan-tindakan impulsif kita di masa lampau. Maka itu, kita malah terbantu untuk tahu cara menangani keadaan sulit. Dengan demikian, sebuah rejang menunjukkan hal-hal yang terbangun dan yang akan dialami oleh sejumlah besar insan manusia bersama-sama.

Pandangan Buddha terhadap dunia tidak pernah mengandung nilai keberserahan mutlak.Keadaan kini terjadi oleh karena sebab dan syarat. Jika kita dapat dengan jitu membaca keadaan tersebut, kita dapat bertindak dalam cara tertentu supaya mampu menciptakan sebab dan syarat yang berbeda untuk memperbaikinya bahkan di kehidupan yang sekarang, demi kebaikan diri kita maupun orang lain. Ini tidak berarti bahwa kita melakukannya dengan membuat sesaji atau kurban bagi bermacam dewa benda langit untuk menyanjung mereka dan menghindari petakanya, tapi lebih dengan cara mengubah sikap dan perilaku kita sendiri.

Pada tataran khalayak, ketika kadang-kadang kita dianjurkan untuk memesan patung atau lukisan sosok-Buddha tertentu untuk memperpanjang rentang-hidup kita, mungkin ini kelihatannya seperti ingin memperoleh berkat dari sosok-Buddha tersebut.Ini sebuah salah-kaprah yang berdasar pada ketidaktahuan.Sikap yang terbangkitkan dalam pelaksanaan usaha tersebutlah yang paling punya dampak. Kalau kita melaksanakannya atas dasar sikap takut atau mementingkan diri sendiri, dampaknya akan kecil sekali. Untuk memperpanjang umur dan meningkatkan kesehatan dan keadaan ragawi kita, latihan meditasi khusus jauh lebih berdaya-guna, terutama jika dikerjakan atas niat membawa manfaat bagi sesama.