Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Kajian Sejarah, Budaya, dan Perbandingan > Buddha dan Islam > Keadaan-Keadaan Agama Buddha dan Islam di Cina, 1996

Keadaan-Keadaan Agama Buddha dan Islam di Cina, 1996

Alexander Berzin
November 1996

Keadaan Umum Agama di Cina

Keadaan yang memburuk telah merudung agama di Republik Rakyat Cina selama dua tahun terakhir sejak 1994. Pada umumnya, terdapat lebih banyak pembatasan dari sebelumnya. Kegiatan-kegiatan dan kuliah-kuliah keagamaan dengan ketat dibatasi di dalam kuil, mesjid, gereja, dan sekolah-sekolah agama saja dan pelarangan kuliah-kuliah terbuka maupun tertutup di tempat lain diberlakukan dengan tegas. Hanya qigong , sejenis gerak badan dan penanganan tenaga dengan gaya seni beladiri, yang diizinkan untuk menyelenggarakan pengajaran umum. Qigong menjadi begitu tersohor, tanda bahwa ada rasa rindu luar biasa terhadap kebudayaan kuno dan kerohanian.

Agama Buddha Tibet

Agama Buddha menghadapi kesukaran terbesar dibanding semua agama lain. Di dalam agama Buddha itu sendiri, aliran Buddha Tibet, terutama yang dipraktikkan di Daerah Otonomi Tibet, lah yang mengalami kesulitan terparah. Jumlah biksu dan biksuni di wihara-wihara Tibet dibatasi dengan ketat, diciutkan sampai ke jumlah yang diperbolehkan secara resmi dan semua anggota wihara selebihnya – yang besar jumlahnya dua tahun yang lalu – telah dikeluarkan. Hal ini diberlakukan dengan sikap yang lebih lunak di Amdo (Qinghai) daripada di Daerah Otonomi Tibet. Dua perguruan Buddha resmi untuk aliran Tibet – di Beijing dan Labrang (Gansu) – yang tersisa dari lima keseluruhan yang didirikan oleh mendiang Panchen Lama (1938 – 1989) terpaksa harus meningkatkan pokok kinerja mereka pada pengajaran doktrin komunis.

Para kepala dan pemimpin wihara-wihara besar Tibet ada di Perguruan Buddha Tibet di Beijing pada musim panas 1996, dipanggil untuk belajar secara mendalam selama tiga bulan perihal indoktrinasi politik. Mereka diwajibkan untuk secara terbuka menyatakan memilih ikut Dalai Lama atau komunisme, “pemisahan” atau “menjunjung kesatuan tanah air jaya”. Di Tibet, para biksu dan biksuni tidak hanya harus melakukan hal yang sama, tapi juga dipaksa menginjak gambar Dalai Lama yang dikumpulkan oleh polisi dan tentara.

Agama Buddha Cina Han

Umat Buddha Cina Han tidak menghadapi penindasan separah yang dialami umat Tibet. Kegiatan mereka juga terbatas hanya pada kuil-kuil yang dibuka untuk ibadah. Dari 600 kuil dan wihara Cina Han di Beijing, hanya tiga yang masuk pada kelompok ini, ditambah satu kuil Tibet/Mongol. Sisanya adalah museum. Pada hari festival tahunan Guanyin (Avalokiteshvara) tahun ini, lebih dari dua ribu orang mengunjungi kuil Buddha utama di Beijing, Guangqi Si, tempat Persatuan Umat Buddha Cina berkedudukan. Akan tetapi, biasanya sekitar seratus orang datang pada beberapa hari khusus dalam kalender keagamaan di setiap bulan candra untuk membuat sesembahan dupa, dan pada hari-hari lain pengunjungnya bisa dihitung jari. Jumlah biksu pada kuil/wihara ini dibatas tiga puluh saja. Walaupun mereka melaksanakan upacara dua kali sehari selama satu jam, di waktu sisanya mereka bekerja sebagai penjaga. Tidak ada pelajaran karena tidak ada guru. Para biksu mencoba belajar sendiri. Sebelum guru mereka meninggal pada 1988, mereka belajar dan latihan meditasi bersama. Kini, mereka telah menghentikan latihan yang biasa mereka lakukan dan hanya beberapa saja yang lanjut berlatih di kamar masing-masing. Ada satu guru meditasi yang sudah tua yang kadang-kadang mengunjungi mereka, tapi ia juga harus melayani sekitar dua puluh kuil/wihara serupa di sekeliling Cina.

Sekitar delapan biksu Cina tiap tahun diizinkan untuk belajar ke luar negeri, sebagian besar di Sri Lanka. Di sana bentuk ajaran Buddha-nya berbeda sama sekali dengan aliran Cina. Walaupun ada minat besar terhadap ajaran Buddha di antara rakyat Cina Han, pemerintah tidak mengizinkan diadakannya pengajaran agama Buddha di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi. Pemerintah juga tidak mengizinkan dibangunnya kuil-kuil Cina baru dan perbaikan kuil-kuil yang lama sengaja diperlambat. Alasan resmi yang dikeluarkan pemerintah atas tindakan ini adalah bahwa terlalu banyak uang digelapkan oleh orang-orang yang mengumpulkan dana untuk pembangunan kuil-kuil tersebut.

Sekolah negeri Buddha Cina di Beijing terletak di kuil/wihara Fayun Si. Ini adalah satu dari lima perguruan serupa yang diatur pemerintah sebagai tempat melatih para biksu aliran Cina Han. Empat yang lain ada di Shanghai, Nanjing, Jiuhua di Anhui, dan Mingnan di Fujian. Agama Buddha Han terkuat di Shanghai dan khususnya Fujian, yang merupakan wilayah paling giat. Terdapat delapan puluh biksu di perguruan tersebut di Beijing yang menjalani pendidikan empat-tahun. Empat perguruan yang lain memiliki jumlah yang serupa dan ada pula beberapa sekolah pelatihan yang lebih kecil di kota-kota lain. Hampir seluruh pelatihan dimaksudkan untuk indoktrinasi politik.

Masyarakat Awam Buddha Beijing memiliki dua guru Cina Han yang usianya sudah kepala tujuh, yang mengikuti dan utamanya mengajarkan aliran Tibet. Persatuan tersebut memiliki sekitar 1200 anggota. Mereka hanya memiliki prasarana yang kecil dan sudah usang dan walaupun mereka telah mengumpulkan cukup banyak sumbangan untuk membangun gedung yang layak di atas tanah mereka, pemerintah tidak akan memberi.

Pemerintah Cina telah membangun sebuah kuil di Lumbini, Nepal, tempat lahir sang Buddha. Tahun ini, untuk pertama kalinya, pemerintah mengizinkan umat Buddha Cina untuk melakukan ziarah di Nepal dan India untuk pembukaan kuil ini. Jumlahnya dibatasi delapan puluh dan hanya bagi biksu saja. Dari delapan puluh ini, sepuluh di antaranya berasal dari aliran Tibet-Mongolia dan yang lain dari wihara-wihara Cina Han. Sepuluh bisku dari aliran Tibet-Mongolia dilarang untuk melanjutkan ziarah ke India, karena pemerintah waswas mereka akan berhubungan dengan Yang Mulia Dalai Lama. Ongkosnya $3000 untuk dua minggu – jauh di atas jangkauan sebagian besar orang.

Islam

Keadaan Islam sepenuhnya berbeda. Walaupun penduduk Muslim di Cina, termasuk orang Uighur dan Hui, kira-kira berjumlah dua puluh juta, mereka memiliki sembilan perguruan besar, yang masing-masing menampung lebih dari seratus siswa. Di Beijing bukan cuma ada satu dari sembilan Perguruan Islam Cina ini saja, tapi terdapat pula markas Persatuan Islam Cina. Berbeda mencolok dengan prasarana bagi umat Buddha, gedung yang sama-sama ditempati oleh perguruan dan persatuan Islam di Beijing ini luas dan dilengkapi dengan baik. Dibangun pada pertengahan 1950an, gedung tersebut baru-baru ini dipugar. Pembangunan dan pemugarannya sebagian dibiayai oleh negara. Perguruan di Yinchuan, ibukota Daerah Otonomi Ningxia milik rakyat Hui, merupakan yang terbesar. Didanai oleh Arab Saudi, gedungnya megah. Beda dengan umat Buddha, lebih dari lima puluh siswa Muslim Cina belajar ke luar negeri tiap tahunnya. Mereka dikirim ke Mesir, Arab Saudi, Pakistan, Libya, dan Malaysia.

Ada 42.000 mesjid di Cina dan, tidak seperti kuil-kuil Buddha, semuanya terbuka untuk ibadah dan tak satu pun yang jadi museum belaka. Tiap mesjid memiliki imam yang menyelenggarakan pelajaran agama Islam bagi orang awam. Jumlah umat Muslim terdidik yang selamat dari Revolusi Kebudayaan lebih banyak dari umat Buddha. Tahun ini, 6000 Muslim Cina berangkat naik haji ke Mekah, dan pemberangkatan ini telah diizinkan sejak berakhirnya Revolusi Kebudayaan. Ongkosnya $2500 selama empat puluh hari.

Pemerintah Cina telah mencap Dalai Lama sebagai musuh masyarakat nomor satu, karena mereka melihat bahwa Dalai Lama ada dibelakang semua gerakan “pemisahan”. Memburuknya keadaan bagi agama Buddha Tibet harus dipahami dalam kerangka memburuknya dukungan terhadap Yang Mulia. Selain itu, pemegang tampuk kekuasaan secara umum takut terhadap agama Buddha. Orang-orang Muslim tidak giat menjala umat baru di Cina, jadi mereka bukan merupakan ancaman bagi orang Cina Han, yang berjumlah sembilan puluh dua persen dari keseluruhan penduduk. Akan tetapi, karena sebagian besar orang Han, sampai pada tataran tertentu, berkaitan dengan agama Buddha, maka agama tersebut tampak bagai ancaman langsung terhadap komunisme dan usaha negara untuk memenangkan kepatuhan dan kesetiaan utama rakyat.