Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Perang Suci dalam Agama Buddha dan Islam:
Mitos Shambhala
(Versi Lengkap)

Alexander Berzin
November 2001, diperbaiki Desember 2006

[Lihat juga Versi Lengkap.]

Ringkasan

Orang-orang, seringkali, saat menggagas pola pikir Islam mengenai jihad atau perang suci, menghubungkannya dengan arti negatif upaya menganggap benar tindakan perusakan berlatar-dendam atas nama Tuhan untuk membuat orang lain pindah agama secara paksa. Mereka mungkin menyadari bahwa agama Kristen memiliki hal yang mirip yaitu perang untuk merebut Tanah Suci pada abad ke-11 hingga 13, tapi biasanya tidak melihat agama Buddha memiliki hal yang serupa. Bagaimanapun, mereka mengatakan, Buddha adalah agama damai dan tidak memiliki istilah perang suci.

Namun, tinjauan yang teliti terhadap naskah-naskah Buddha, terutama kepustakaan Tantra Kalacakra, mengungkapkan tingkat lahir maupun batin dari suatu pertempuran bisa disebut sebagai “perang suci”. Kajian yang berimbang tentang Islam mengungkapkan hal yang sama. Dalam kedua agama itu, para pemimpin bisa memperalat tingkat lahir dari perang suci untuk pencapaian politik, ekonomi, atau pribadi, dengan menggunakannya untuk menggerakkan pasukan menuju pertempuran. Contoh sejarah mengenai Islam telah banyak diketahui; tapi seseorang tidak boleh terkesima oleh agama Buddha dan menganggapnya kebal terhadap kenyataan itu. Bagaimanapun, di kedua agama ini, penekanan utamanya adalah pada pertempuran batin melawan kebodohan dan sikap merusak dalam diri seseorang.

Perincian

Perumpamaan Militer dalam Agama Buddha

Shakyamuni Buddha lahir di dalam kasta satria India dan sering menggunakan perumpamaan militer untuk menggambarkan perjalanan batin. Ia adalah Sang Jaya, yang mengalahkan kekuatan jahat (mara) berupa ketidaksadaran, pandangan yang sesat, perasaan yang gelisah, dan perilaku karma yang mendesak.

Shantidewa, seorang guru Buddha dari India dari abad ke-8, sering menggunakan perumpamaan perang dalam MemasukiPerilaku Bodhisattwa: musuh sejati yang perlu ditaklukkan adalah perasaan dan sikap gelisahyang bersembunyi di dalam cita. Orang Tibet menerjemahkan istilah Sanskerta arhat, makhluk yang terbebaskan, sebagai penghancur musuh, seseorang yang telah menghancurkan musuh batin. Dari contoh ini, tampak bahwa dalam agama Buddha, panggilan akan “perang suci” adalah murni persoalan batin. Namun, Tantra Kalacakra mengungkapkan tambahan berupa tingkat lahiriah.

Legenda Shambhala

Menurut kisah turun-temurun, Buddha mengajarkan Tantra Kalacakra di Andhra, India Selatan pada 880 S.M. kepada Raja Shambhala, Suchandra, dan pengawalnya yang datang berkunjung. Raja Suchandra membawa ajaran itu kembali ke negerinya di utara, tempat ajaran-ajaran itu kemudian berkembang. Shambhala adalah sebuah wilayahmanusia, bukan sebuah tanah sucimurni Buddha, tempat semua keadaan mendukung untuk laku Kalacakra. Meskipun mungkin ada sebuah tempat nyata di bumi yang bisa mewakilikinya, Yang Mulia Dalai Lama Keempat belas menjelaskan bahwa Shambhala sepenuhnya ada sebagai sebuah wilayah batin. Meskipun naskah kuno menggambarkan adanya perjalanan ragawi di sana, satu-satunya jalan untuk mencapainya adalah melalui laku meditasi Kalacakra secara tekun.

Tujuh generasi raja setelah Suchandra, pada 176 S.M., Raja Manjushri Yashas mengumpulkan para pemimpin agama Shambhala, terutama orang-orang bijak brahmana, dan memberi mereka ramalan dan peringatan. Delapan ratus tahun lagi, yakni 624 Masehi, sebuah agama nonIndia akan muncul di Mekah. Karena tiadanya persatuan di antara kaum brahmana dan kurangnya kepatuhan terhadap kitab Weda, banyak orang akan menerima agama ini, jauh di masa depan, ketika para pemimpinnya mengancam melakukan serbuan. Untuk mencegah bahaya ini, Manjushri Yashas mempersatukan warga Shambhala ke dalam satu “kasta vajra” dengan memberi mereka pemberdayaan Kalacakra. Dengan tindakan ini, sang raja menjadi Kalki―Pemimpin Kasta―Pertama. Ia lalu menyusun Ringkasan Tantra Kalacakra, versi Tantra Kalacakra yang bertahan hingga saat ini.

Penyerbu NonIndia

Mengingat Islam berdiri pada 622 S.M., dua tahun sebelum ramalan Kalacakra, sebagian besar cendekiawan menganggap bahwa agama nonIndia itu adalah Islam. Gambaran di Kalacakra tentang agama itu sebagai agama yang mewajibkan penyembelihan ternak sambil mengucapkan nama Tuhan, sunat, perempuan berjilbab, dan berdoa menghadap tanah suci lima kali sehari memperkuat kesimpulan mereka.

Istilah Sanskerta untuk nonIndia di sini adalah mleccha (Tib. lalo), artinya seseorang yang berbicara dalam bahasa nonSanskerta yang tak bisa dimengerti. Umat Hindu dan Buddha menggunakan istilah itu untuk semua penyerbu asing yang menyerang India Utara, sejak orang Makedonia dan Yunani pada masa Aleksander Agung. Istilah Sanskerta lain yang umum digunakan adalah tayi, yang berasal dari istilah Persia untuk orang Arab, yang digunakan misalnya untuk mengacu penyerbu Arab yang menyerang Iran pada pertengahan abad ke-7 Masehi.

Sang Kalki Pertama lalu menjelaskan agama nonIndia di masa depan itu memiliki garis keturunan dari delapan guru agung: Adam, Nuh, Abraham, Musa, Yesus, Mani, Muhammad, dan Mahdi. Muhammad akan datang ke Baghdad di tanah Mekah. Uraian ini membantu mengenali para penyerbu di antara masyarakat Islam.

  • NabiMuhammad hidup antara 570 dan 632 Masehi di Arab. Namun, Baghdad baru dibangun pada 762 Masehi sebagai ibukota Khilafah Abbasiyyah Arab (750-1258 Masehi).
  • Mani adalah orang Persia di abad ketiga yang mendirikan sebuah agama campuran, Manikheisme, yang seperti agama Iran sebelumnya yaitu agama Zarathustra, menekankan pada perjuangan antara kekuatan yang baik dan jahat. Di dalam Islam, Mani mungkin telah diterima sebagai seorang nabi – m eski tidak jelas apakah ia memang demikian – oleh ManikheismeIslam yang sesat yang ada di antara beberapa pejabat di mahkamah Abbasiyyah awal. Khalifah-khalifah Abbasiyyah dengan kejam menindas para pengikutnya.
  • Para cendekiawan Buddha dari wilayah yang saat ini Afghanistan dan anak-benua India bekerja di Baghdad selama paruh kedua abad ke-8 Masehi, menerjemahkan naskah-naskah Sanskerta ke dalam bahasa Arab.
  • Mahdi akan menjadi pemimpin masa depan (iman), sebagai keturunan NabiMuhammad, yang akan memimpin para umat menuju Yerusalem, mengembalikan hukum dan aturan sesuai Quran, dan menyatukan pengikut Islam dalam satu negara politik sebelum tiba kiamat yang mengakhiri dunia. Ia adalah Ratu Adil di dalam Islam. Konsep mengenai Mahdi terkenal hanya selama masa Abbasiyyah awal, dengan tiga pernyataan bagi gelar itu: seorang khalifah, seorang pesaing di Mekah, dan seorang syahid, yang ditentang oleh para pemberontak anti-Abbasiyyah. Namun, konsep lengkap tentang Mahdi sebagai seorang ratu adil baru muncul pada akhir abad ke-9 Masehi.
  • Daftar nabi yang dibuat kaum Syiah Isma’ili sama dengan daftar yang ada di Kalacakra, hanya tidak ada Mani. Isma’ili adalah satu-satunya aliran Islam yang menyatakan Mahdi sebagai nabi.
  • Syiah Isma’ili adalah aliran resmi Islam di Multan (saat ini bagian utara Sindh, Pakistan) selama paruh kedua abad ke-10. Multan adalah sekutu Kekaisaran Fatimiyyah Isma’ili yang berpusat di Mesir dan menantang Abbasiyyah untuk meraih kendali atas dunia Islam.

Berdasarkan bukti ini, kita bisa memiliki dugaan bahwa gambaran Kalacakra tentang penyerbu nonIndia didasarkan pada orang Ismaili dari Multan pada akhir abad ke-10 Masehi, yang bercampur dengan beberapa unsur Muslim Manikheisme di akhir abad ke-8. Penyusun gambaran ini kemungkinan besar adalah guru-guru Buddha yang hidup di bawah kekuasaan Shahi Hindu di Afganistan timur dan Oddiyana (Lembah Swat, yang masa kini merupakan Pakistan barat laut). Wihara-wihara Buddha di wilayah Kabul, Afghanistan, seperti Subahar, memiliki pola bangunan yang mirip dengan pola-pola mandala Kalacakra. Oddiyana adalah salah satu wilayah utama tempat tantra Buddha berkembang. Selain itu, Oddiyana memiliki hubungan dekat dengan Kashmir, tempat tantra Buddha dan HinduSiwa berkembang subur. Jalur ziarah Buddha utama menghubungkan dua wilayah itu. Oleh karena itu, kita harus melihat hubungan umat Buddha-Muslim di Afghanistan timur, Oddiyana, dan Kashmir selama masa Abbasiyyah untuk memahami ajaran-ajarannya tentang sejarah dan perang suci.

[Untuk perincian lebih lanjut, lihat: Tulisan Kalacakra mengenai Nabi-Nabi Penyerbu NonIndia: Perincian Lengkap.]

Ramalan tentang Perang Kiamat

Sang Kalki Pertama itu lebih jauh meramalkan bahwa pengikut agama nonIndia tersebut suatu saat akan menguasai India. Dari ibukota mereka di Delhi, raja mereka, Krinmati, akan berupaya menaklukkan Shambhala pada 2424 Masehi.Tafsiran terhadap ramalan ini menyatakan bahwa Krinmati akan diakui sebagai Mahdi sang ratu adil. Kalki Keduapuluh lima, Raudrachakrin, akan menyerbu India dan mengalahkan orang nonIndia itu dalam sebuah perang besar. Kemenangannya akan menandai berakhirnya kaliyuga―”masa perselisihan”, yakni masa ketika laku Dharma memburuk. Selanjutnya, akan muncul sebuah masa emas yang baru ketika ajaran-ajaran Buddha berkembang, terutama Kalacakra.

Gagasan tentang sebuah perang antara kekuatan yang baik dan jahat, yang berakhir dengan pertempuran kiamat yang dipimpin oleh ratu adil, muncul pertama kali dalam agama Zarathustra, yang dibentuk pada abad ke-6 S.M., beberapa dasawarsa sebelum Buddha lahir. Gagasan ini masuk ke dalam agama Yahudi antara abad kedua S.M. dan abad kedua Masehi. Kemudian, gagasan ini memasuki ajaran Kristen awal dan Manikheisme, lalu ke dalam Islam.

Variasi dari topik kiamat ini juga muncul dalam agama Hindu, dalam Purana Wisnu, pada abad ke-4 Masehi. Naskah ini menyatakan bahwa di akhir kaliyuga, Wisnu akan muncul dalam penjelmaan terakhirnya sebagaiKalki, lahir di Desa Shambhala sebagai anak laki-laki Wisnu Yashasyang brahmana. Ia akan mengalahkan orang-orang nonIndia pada masa itu yang mengikuti jalan merusak dan akan membangkitkan kembali cita orang-orang. Selanjutnya, untuk menyesuaikan dengan konsep India tentang putaran waktu, sebuah abad keemasan baru akan mengikuti, alih-alih penghakiman terakhir dan akhir dunia seperti yang dinyatakan versi-versi nonIndia tentang topik itu. Sulit untuk menentukan apakah catatan Purana Wisnu berasal dari pengaruh asing dan disesuaikan ke dalam pola pikir India, atau ia muncul secara mandiri.

Untuk mempertahankan cara mengajar Buddha yang cakap berkenaan dengan istilah dan konsep yang mudah diterima khalayaknya, Tantra Kalacakra juga menggunakan nama-nama dan gambar-gambar dari Purana Wisnu. Bagaimanapun juga, khalayaknya terutama adalah kaum brahmana yang terdidik. Nama-nama yang disebutkan tidak hanya Shambhala, Kalki, kaliyuga, dan variasi dari Wisnu Yashas, Manjushri Yashas, tapi juga istilah mleccha yang sama untuk orang nonIndia yang berperilaku merusak. Namun, dalam versi Kalacakra, perang suci memiliki makna simbolis.

Makna Simbolis dari Perang Suci

Dalam Ringkasan Tantra Kalacakra, Manjushri Yashas menjelaskan bahwa pertempuran melawan orang nonIndia dari Mekah bukanlah perang sesungguhnya, karena perang sejati itu terjadi di dalam raga. Pengamat Gelug pada abad ke-15, Kaydrubjey, mengulas bahwa kata-kata Manjushri Yashas tidak mendukung usaha nyata untuk membunuh pengikut agama nonIndia. Tujuan Kalki Pertama menggambarkan perincian perang itu adalah memberikan perumpamaan bagi pertempuran batin berupa kesadaran sukacita mendalam tentang kehampaan melawan ketidaksadaran dan perilaku yang merusak.

Manjushri Yashas secara jelas menguraikan simbol-simbol yang tersembunyi. Raudrachakrin melambangkan ”vajra-cita”, yakni cita bercahaya jenih paling halus. Shambhala melambangkan keadaan sukacita agung tempat “vajra-cita” berdiam. Menjadi seorang Kalki berarti bahwa cita-vajra telah memiliki tingkat kesadaran mendalam yang sempurna, yakni kehampaan dan sukacita yang muncul secara bersamaan. Dua jenderal Raudrachakrin, Rudra dan Hanuman, mewakili dua jenis kesadaran mendalam, yakni pratyekabuddha dan shravaka. Dua belas dewa Hindu yang membantu memenangkan perang melambangkan penghentian dua belas tautan kemunculan yang bertalian dan dua belas giliran harian napas karma. Tautan dan giliran itu menggambarkan cara kerja samsara yang terus-menerus berlangsung. Empat pembagian pasukan Raudrachakrin melambangkan tingkat-tingkat termurni empat sikap yang tak bisa diukur dari cinta, welas asih, sukacita, dan kesetaraan.

Kekuatan-kekuatan nonIndia yang dikalahkan oleh Raudrachakrin dan pasukannya melambangkan cita dari kekuatan karma negatif. Kuda yang ditungganggi Mahdi melambangkan ketidaksadaran akan perilaku sebab dan akibat serta akan kehampaan. Pembagian pasukan menjadi empat melambangkan kebencian, kedengkian, dendam dan prasangka buruk, yang merupakan lawan dari pasukan militer Shambhala.Kemenangan Raudrachakrin melambangkan pencapaian jalan menuju pembebasan dan pencerahan.

Cara Pembelajaran Buddha

Meskipun ada pernyataan bahwa tidak ada seruan untuk melakukan perang suci yang nyata, pesan tersirat di sini bahwa Islam adalah agama yang kejam, yang memiliki kebencian, kedengkian, dan perilaku merusak, bisa mudah digunakan sebagai bukti pendukung bahwa agama Buddha itu anti-Islam. Meskipun sebagian umat Buddha di masa lalu mungkin sungguh memiliki prasangka ini dan sebagian umat Buddha masa kini juga memegang pandangan picik, seseorang bisa menarik suatu kesimpulan berbeda berdasarkan salah satu cara pembelajaran Buddha Mahayana.

Sebagai contoh, naskah-naskah Mahayana memaparkan pandangan-pandangan tertentu yang menilai Buddha Hinayana sebagai aliran mementingkan diri sendiri yang mengupayakan pembebasan diri sendiri saja tanpa ingin membantu orang lain. Bagaimanapun juga, tujuan resmi pelaku Hinayana adalah pembebasan diri, bukan pencerahan demi manfaat setiap orang. Meskipun gambaran tentang Hinayana seperti itu mengarah pada prasangka, kajian pendidikan yang berimbang dari aliran-aliran Hinayana, seperti Theravada, mengungkap peran besar dari meditasi mengenai cinta dan welas asih. Seseorang mungkin menyimpulkan bahwa Mahayana semata tidak peduli terhadap ajaran Hinayana. Atau, seseorang mungkin menganggap bahwa di sini Mahayana menggunakan cara dalam penalaran Buddha berupamengambil pandangan sampai ke kesimpulan yang paling absurd untuk membantu orang-orang menghindari pikiran ekstrem. Tujuan dari cara prasangika ini adalah mengingatkan pelaku supaya menghindari mementingkan diri sendiri secara ekstrem.

Hal yang sama berlaku untuk pemaparan Mahayana tentang enam aliran Hindu kuno dan filsafat Jain. Itu juga berlaku untuk pemaparan tiap aliran Buddha Tibet mengenai pandangan aliran lainnya dan pandangan aliran Bon Tibet pribumi. Tak satu pun dari pemaparan ini memberikan gambaran yang tepat. Masing-masing membesar-besarkan dan mengubah sifat yang lain dalam rangka menggambarkan pokok-pokok tertentu. Hal yang sama juga terjadi dalam pernyataan-pernyataan Kalacakara tentang kekejaman Islam dan ancaman yang dimilikinya.Meskipun para guru Buddha mungkin berpendapat bahwa cara prasangika di sini yang menggunakan Islam untuk menggambarkan sebuah bahaya batin adalah cara yang cakap, seseorang juga bisa berpendapat bahwa cara ini tidak bersifat diplomatis, terutama di zaman modern.

Bagaimanapun, penggunaan Islam untuk menggambarkan ancaman pasukan-pasukan yang merusak bisa dipahami jika ini dilihat dalam latar masa awal Abbasiyyah di wilayah Kabul, Afghanistan timur.

[Sebagai latar belakang untuk uraian ini, lihat: Ringkasan Sejarah Agama Buddha dan Islam di Afghanistan. Lihat juga: Hubungan Sejarah antara Budaya Buddha dan Islam sebelum Kekaisaran Mongolia, Bagian 2, Bab 10.]

Hubungan Buddha-Islam selama Masa Abbasiyyah

Di awal masa ini, Abbasiyyah menguasai Baktria(Afghanistan utara), tempat mereka mengizinkan umat Buddha, Hindu, dan Zarathustra setempat memeluk agama mereka jika mereka membayar pajak penduduk. Namun, banyak di antara mereka secara sukarela menerima Islam, terutama para pemilik tanah dan masyarakat kota tingkat atas yang berpendidikan. Budaya Islam yang tinggi lebih sesuai daripada budaya mereka sendiri dan mereka bisaterbebaskan dari kewajiban membayar pajak yang tinggi. Orang Shahi Turki, yang bersekutu dengan orang Tibet, menguasai Kabul, tempat agama Buddha dan Hindu tumbuh subur. Penguasa yang beragama Buddha dan pemimpin rohani Buddha mungkin mudah untuk khawatir bahwa hal serupa, yakni perpindahan agama karena alasan kenyamanan, akan terjadi di sana.

Orang Shahi Turki menguasai wilayah itu hingga 870 Masehi, dengan kehilangan kendali atasnya hanya di antara tahun 815 dan 819. Selama empat tahun itu, Khalifah Abbasiyyah al-Mamun menyerbu Kabul dan memaksa shah yang berkuasa menyerah kepadanya dan memeluk Islam. Sebagai lambang penyerahan dirinya, Shah di Kabul itu mempersembahkan kepada Sang Khalifah, sebagai hadiah, sebuah patung emas Buddha dari Wihara Subahar. Sebagai tanda kejayaan Islam, Khalifah al-Mamun mengirimkan patung sangat besar itu, dengan singgasana perak dan mahkota berliannya, ke Mekah dan memajangnya di Kabah selama dua tahun. Dengan melakukan ini, Sang Khalifah menunjukkan kekuasaannya dalam memimpin keseluruhan dunia Islam setelah mengalahkan saudara laki-lakinya dalam sebuah perang saudara.Bagaimanapun, ia tidak memaksa seluruh umat Buddha di Kabul untuk pindah agama, ataupun memusnahkan wihara-wihara. Ia bahkan tidak menghancurkan, karena dianggap sebagai berhala, patung Buddha yang ia terima dari Shah dari Kabul, tapi mengirimkannya ke Mekah sebagai barang rampasan. Setelah pasukan Abbasiyyah undur diri karena memerangi gerakan otonomi di banyak bagian lain dari kekaisaran, wihara-wihara Buddha dengan cepat berdiri kembali.

Masa berikutnya saat wilayah Kabul berada di bawah kekuasaan Islam juga berlangsung singkat, antara 870 dan 879 Masehi. Wilayah ini ditaklukkan oleh para penguasa Saffariyyah yang memperjuangkan sebuah negara militer yang otonom, yang dikenal dengan kekejamannya dan penghancurannya terhadap budaya setempat. Para penakluk ini mengirimkan kembali banyak “berhala” Buddha ke Sang Khalifah Abbasiyyah sebagai hadiah perang. Ketika penerus Shahi Turki, yakni Shahi Hindu, mengambil kembali wilayah ini, agama Buddha dan wihara-wihara sekali lagi memperoleh kejayaannya.

Kaum Ghaznawiyyah Turki menaklukkan Afghanistan Turki dari Shahi Hindu pada 976 Masehi, tapi tidak menghancurkan wihara-wihara Buddha di sana. Sebagai negara bawahan Abbasiyyah, kaum Ghaznawiyyah juga pengikut yang kaku dari Islam Sunni. Meskipun mereka memberikan ruang bagi agama Buddha dan Hindu di Afghanistan timur, penguasa keduanya, Mahmud dari Ghazni, melancarkan serangan terhadap musuh Abbasiyyah, negara Isma’ili Multan. Mahmud menaklukkan Multan pada 1008 Masehi, mengusir orang Shahi Hindu dari Gandhara dan Oddiyana di dalam prosesnya. Orang Shahi Hindu telah bersekutu dengan Multan. Setiap kali Mahmud menaklukkan, ia merampas harta kekayaan dari candi Hindu dan wihara Buddha, serta membangun kekuasaan.

Setelah kemenangan di Multan ini, dan tentu saja didorong oleh keserakahan akan lebih banyak tanah dan kekayaan, Mahmud menyerbu lebih jauh ke arah timur. Ia menaklukkan wilayah yang saat ini Punjab, India, yang saat itu dikenal sebagai “Delhi”. Namun, ketika pasukan Ghaznawiyyah bergerak ke arah utara dari Delhi ke kaki bukit Kashmir, mengejar pelarian orang Shahi Hindu pada 1015 atau 1021, bergantung pada sumber yang kita pakai, mereka mengalami kekalahan, diduga akibat mantra-mantra. Ini adalah serangan pertama ke Kashmir oleh pasukan Muslim. Penggambaran Kalacakra tentang serbuan dan penaklukan di masa depan yang dilakukan pasukan nonIndia di Delhi, oleh karena itu, kemungkinan besar adalah campuran dari ancaman orang Multan terhadap Abbasiyyah dan Ghaznawiyyah dan ancaman orang Ghaznawiyyah terhadap Kashmir.

Hubungan antara Ramalan dan Sejarah

Ramalan-ramalan Kalki Pertama jelas cocok dengan waktu-waktu di atas, tapi ramalan itu mengubah peristiwa-peristiwa yang ada untuk menyampaikan ajaran-ajarannya. Namun, kita perlu mengingat pernyataan dari seorang pengamat dari Sakya, Buton, pada abad ke-13 tentang pemaparan Kalacakra mengenai sejarah, “Mengulas secara teliti peristiwa-peristiwa di masa lalu itu sia-sia.” Bagaimanapun, Kaydrubjey menjelaskan bahwa perang yang telah diramalkan antara Shambhala dan pasukan-pasukan nonIndia bukanlah semata sebuah perumpamaan tanpa acuan terhadap kenyataan sejarah di masa depan. Bila seperti itu, maka ketika Tantra Kalacakra menerapkan perbandingan dalam untuk planet-planet dan bintang-bintang, kesimpulan yang absurd akan berbunyi bahwa raga surgawi hanya ada sebagai perumpamaan dan tidak memiliki acuan luar.

Bagaimanapun, Kaydrubjey juga memperingatkan supaya tidak mengambil secara harfiah ramalan tambahan Kalacakra bahwa agama nonIndia akhirnya akan menyebar ke seluruh duabelas benua dan ajaran Raudrachakrin akan mengatasinya di sana juga. Ramalan ini tidak mengacu pada orang-orang nonIndia yang digambarkan sebelumnya, atau keyakinan maupun laku keagamaan mereka. Nama mleccha di sini semata mengacu pada kekuatan dan keyakinan bukan Dharma yang bertentangan dengan ajaran Buddha.

Oleh karena itu, ramalannya adalah bahwa kekuatan-kekuatan merusak yang bertentangan dengan laku batin―dan tidak secara khusus pada pasukan Muslim saja―akan menyerang di masa depan, dan “perang suci” luar melawan mereka perlu dilakukan. Pesan yang tersirat adalah, jika cara-cara damai gagal dan seseorang harus melakukan perang suci, perjuangan itu harus selalu berdasarkan pada asas-asas Buddha akan welas asih dan kesadaran mendalam akan kenyataan. Ini benar meskipun pada kenyataan panduan ini sangat sulit diikuti ketika melatih tentara yang bukan bodhisattwa. Bagaimanapun, bila perang suci itu didorong oleh asas-asas yang dimiliki orang nonIndia berupa kebencian, kedengkian, dendam, dan prasangka buruk, generasi di masa mendatang tidak akan melihat perbedaan antara jalan yang ditempuh nenek moyang mereka dan orang-orang nonIndia. Akibatnya, mereka akan secara mudah menerapkan jalan nonIndia.

Konsep Islam tentang Jihad

Apakah salah satu jalan penyerbu itu sesuai dengan pola pikir Islam tentang jihad? Bila demikian, apakah Kalacakra menggambarkan jihad secara tepat, atau Kalacakra menggunakan serbuan orang nonIndia ke Shambhala semata untuk melambangkan sebuah ekstrem yang perlu dihindari? Untuk mencegah kesalahpahaman lintas-agama, kita perlu menyelidiki pertanyaan-pertanyaan ini.

Kata Arab jihad berarti sebuah perjuangan yang seseorang perlu menanggung duka dan kesulitan, seperti rasa lapar dan dahaga selama Ramadha, bulan suci puasa. Mereka yang melibatkan diri dalam perjuangan ini adalah mujahidin. Seseorang diingatkan akan ajaran Buddha mengenai kesabaran bagi bodhisattwa untuk menanggung segala kesulitan dalam mengikuti jalan pencerahan.

Menurut aliran Sunni Islam, ada lima jenis jihad:

  1. Jihad militer, sebuah usaha mempertahankan diri melawan penyerang yang berusaha merusak Islam. Ini bukanlah serangan ke luar yang berupaya mengubah orang lain pindah agama menjadi Muslim melalui paksaan.
  2. Jihad melalui berbagai sumber daya yang melibatkan pemberian dukungan keuangan dan benda-benda kepada orang yang miskin dan membutuhkan.
  3. Jihad melalui pekerjaan, yang berarti secara jujur bekerja untuk menyokong diri sendiri dan keluarganya.
  4. Jihad melalui belajar, yakni untuk memperoleh pengetahuan.
  5. Jihad melawan diri sendiri, yakni perjuangan batin untuk mengatasi keinginan dan pikiran yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Aliran Syiah menekankan jenis jihad yang pertama, menganggap serangan terhadap negara Islam sama dengan serangan terhadap keyakinan Islam. Banyak orang Syiah juga menerima jenis yang kelima, jihad yang bersifat batin.

Kesamaan antara Ajaran Buddhadan Islam

Pemaparan Kalacakra tentang perang Shambhala yang bersifat mitos dan pemaparan Islam tentang jihad menunjukkan kesamaan yang layak diperhatikan. Perang suci dalam Buddha maupun Islam adalah taktik bertahan untuk menghentikan serangan pasukan musuh dari luar, dan bukan merupakan usaha menyerang ke luar untuk membuat orang pindah agama. Keduanya memiliki tingkat makna batin, yakni pertempuran melawan pemikiran negatif dan perasaan yang merusak. Keduanya perlu dilakukan berdasarkan asas etika, bukan prasangka dan kebencian. Sehingga, dalam memaparkan serbuan pasukan nonIndia ke Shambhala yang sepenuhnya negatif, kepustakaan Kalacakra sesungguhnya menghadirkan secara keliru konsep jihad dalam cara prasangika dengan membawanya ke pemikiran ekstrem untuk menggambarkan sebuah pandangan yang perlu dihindari.

Selain itu, sebagaimana banyak pemimpin yang telah menyelewengkan dan memanfaatkan konsep jihad demi kekuasaaan dan pencapaian, hal sama juga berlaku untuk Shambhala dan ulasannya tentang perang melawan pasukan asing. Agvan Dorjiev, mendiang guru-asisten Dalai Lama Ketigabelas yang berasal dari Buryat Mongol, menyatakan di akhir abad ke-19 bahwa Rusia adalah Shambhala dan Kaisar Rusia adalah seorang Kalki. Dalam cara ini, ia berupaya meyakinkan Dalai Lama Ketigabelas untuk bergabung dengan Rusia melawan orang Inggris “mleccha” dalam perjuangan menguasai Asia Tengah.

Orang Mongol secara turun-temurun telah menganggap Raja Suchandra dari Shambhala dan Jenghis Khan sebagai penjelmaan Vajrapani. Oleh karena itu, berperang demi Shambhala adalah berperang demi keagungan Jenghis Khan dan Mongolia. Sehingga, Sukhe Batur – pemimpin Revolusi Komunis Mongolia 1921 yang melawan kekuasaan kejam kaum Rusia Putih dan Baron von Ungern-Sternberg yang didukung Jepang – m engilhami pasukannya dengan tulisan Kalacakra tentang perang itu untuk mengakhiri kaliyuga. Ia menjanjikan mereka kelahiran kembali sebagai pejuang-pejuang Raja Shambhala, meskipun tidak ada landasan untuk ini di dalam perpustakaanKalacakra. Selama pendudukan Jepang di Mongolia pada 1930-an, para panglima Jepang, kemudian, berusaha mendapatkan kesetiaan dan dukungan militer Mongolia melalui propaganda bahwa Jepang adalah Shambhala.

Kesimpulan

Sebagaimana para pengecam ajaran Buddha bisa berpusat pada penyalahgunaan tingkat luar dari pertempuran batin Kalacakra dan mengabaikan tingkat dalam, dan ini tidak adil bagi ajaran Buddha secara keseluruhan; hal sama juga berlaku bagi pengecam anti-Muslim yang membicarakan jihad. Nasihat di dalam tantra Buddha mengenai guru rohani mungkin bisa berguna di sini. Hampir setiap guru rohani memiliki campuran antara sifat-sifat baik dan kekurangan-kekurangan. Meskipun seorang murid tidak boleh mengingkari sifat negatif seorang guru, terlalu memikirkan sifat-sifat itu hanya akan menyebabkan kemarahan dan depresi. Bila, alih-alih, seorang murid berpusat pada sifat-sifat positif gurunya, ia akan memperoleh ilham dalam mengikuti jalur rohani.

Hal sama bisa dikatakan mengenai ajaran Buddha dan Islam tentang perang suci. Kedua agama ini telah menyaksikan penyalahgunaan seruan untuk perang suci di tingkat luar ketika ada kekuatan merusak yang mengancam laku agama. Tanpa mengingkari ataupun membela penyalahgunaan itu, seseorang bisa memperoleh ilham dengan memusatkan perhatian pada manfaat dari perang suci di tingkat dalam di dalam keyakinan Buddha dan Islam.