Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Kajian Sejarah, Budaya, dan Perbandingan > Buddha dan Islam > Pandangan Buddha terhadap Islam

Pandangan Buddha terhadap Islam

Alexander Berzin
November 2006
Islam and Inter-faith Relations:
The Gerald Weisfeld Lectures 2006
,
Aslinya diterbitkan dengan banyak catatan kaki dalam
ed. Lloyd Ridgeon dan Perry Schmidt-Leukel.
London: SCM Press, 2007, hlm. 225-51

Pendahuluan

Dengan semakin berkembangnya kepedulian terhadap masalah-masalah globalisasi dan pemanasan global, nilai penting dari apa yang disebut Yang Mulia Dalai Lama Keempat belas “tanggung jawab universal” menjadi semakin nyata. Pembangunan berkelanjutan, dan bahkan ketahanan hidup, bergantung pada bangsa, budaya, agama, dan pribadi yang memikul tanggung jawab bersama untuk berusaha memecahkan masalah-masalah universal itu. Salah satu landasan terpenting bagi kerjasama semacam ini adalah pemahaman bersama. Melalui pendidikan tentang budaya lain, semoga kita bisa menghindari pengaruh merusak dari kemungkinan apa pun akibat “benturan peradaban”.

Dua contoh peradaban adalah dunia Buddha dan Islam. Sepanjang sejarah, dua peradaban ini telah berhubungan dalam sifat yang membangun maupun yang bermasalah. Ketika keduanya berbenturan, doktrin agama bisa digunakan untuk mengerahkan pasukan. Namun, uraian yang lebih mendalam menunjukkan bahwa dorongan di balik konflik-konflik itu berpusat pada persoalan ekonomi, politik, dan strategi militer.

Di masa kini, hanya ada sangat sedikit wilayah di dunia tempat kelompok tradisional Buddha dan Islam hidup bersama. Di beberapa wilayah tempat keduanya membaur―seperti Tibet, Ladakh, dan Thailand selatan―hubungannya sangat dipengaruhi oleh tindakan dari kelompok budaya dan bangsa lain, sehingga, kita tidak bisa memisahkan persoalan Buddha-Muslim dari latar yang lebih luas. Di wilayah lain, seperti Malaysia dan Indonesia, umat Buddha terdiri dari warga keturunan Cina yang menjadi pendatang, dan hubungan mereka dengan warga asli yang Muslim ditentukan terutama oleh unsur-unsur ekonomi. Singkatnya, perbedaan doktrin agama tampaknya memainkan peran kecil dalam hubungan Buddha-Islam masa kini.

Kemudian, apa tujuan mendorong dialog antara Buddha dan Islam? Perbedaan-perbedaan doktrin antara dua agama ini akan selalu ada dan, tentu saja, ini perlu diketahui dan diakui sehingga tidak menimbulkan tindakan yang bermusuhan. Namun, dengan menemukan dan menegaskan nilai-nilai dasar kemanusiaan bersama―seperti fakta bahwa tiap orang ingin bahagia dan tidak menderita, serta bahwa kita semua saling terhubung―anggota dari semua komunitas, tidak hanya komunitas Buddha dan Muslim, bisa mengerahkan sumberdaya mereka dan memusatkan usaha mereka untuk mencoba memecahkan persoalan-persoalan mendesak dari kepedulian global.

Di sini, kita perlu mengkaji secara singkat sejarah hubungan Buddha-Muslim selama satu milenium pertama setelah Nabi Muhammad, dengan berpusat pada tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh tradisi Buddha Indo-Tibet mengenai Islam, dan pokok-pokok yang disebutnya sebagai hal yang selaras atau bermasalah. Pokok yang bermasalah menandakan beberapa persoalan yang membutuhkan tenggang rasa bersama untuk menghindari penolakan kerjasama. Pokok-pokok yang sama, di sisi lain, menandakan adanya dasar positif yang bisa diperkuat untuk membangun rasa saling hormat dan koordinasi usaha. Tulisan ini tidak mencakup catatan tentang hubungan antara dua agama itu selama masa Ilkhanate di Iran ketika, antara 1256 dan 1295 Masehi, penguasa Mongol di sana menganut dan menyebarkan Buddha Tibet sebelum perpindahan mereka ke Islam. Yang juga tidak disebutkan adalah uraian tentang tanggapan Buddha Uighur terhadap perkembangan Islam di wilayah mereka di Turkistan Timur (Xianjiang, Cina saat ini) antara abad ke-11 dan 14.

[Untuk pembahasan lebih lanjut, lihat Hubungan Sejarah antara Budaya Buddha dan Islam sebelum Kekaisaran Mongol.]

Tinjauan Sejarah tentang Hubungan antara Dunia Buddha dan Islam

Buddha Shakyamuni hidup di India tengah utara dari 566 hingga 485 SM, sementara Nabi Muhammad hidup di Arab dari 570 sampai 632 Masehi. Dengan demikian, untuk sebagian besar tahun awal di India ini, naskah Buddha tidak memuat rujukan mengenai Islam ataupun ajarannya. Namun, bahkan setelah kehidupan Nabi Muhammad, sumber-sumber Buddha hanya memberikan acuan yang tidak memadai mengenai keyakinan mendasar dalam Islam. Hubungan apa pun yang terjadi di antara dua penganut itu didasarkan pada pengetahuan yang sangat sedikit tentang keyakinan pihak yang lain.

Penganut Buddha di bawah Kepemimpinan Ummaiyyah dan Abbasiyyah

Selama abad-abad awal setelah kehidupan Sang Buddha, ajaran Buddha menyebar dari anak-benua India ke Afghanistan, Iran timur, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Tajikistan masa kini. Komunitas wihara maupun awam Buddha tumbuh subur di sana. Dimulai tiga dekade setelah kehidupan Nabi Muhammad, ketika wilayah-wilayah itu berada di bawah kepemimpinan Arab Islam yakni Khilafah Ummaiyyah dan lalu Abbasiyyah, penganut Buddha di sana menerima status dhimmi. Ini berarti bahwa, sebagai nonMuslim, mereka diperbolehkan mengikuti agama mereka, tapi orang awam di antara mereka diwajibkan membayar pajak tambahan sebagai penduduk. Penindasan terhadap mereka tidak banyak dan tidak berlangsung lama, serta mereka diizinkan membangun kembali wihara mereka yang telah dirusak. Bagaimanapun, komunitas Buddha yang hidup dengan status dhimmi tampaknya tidak tertarik menulis tentang Islam.

Banyak penganut Buddha di wilayah-wilayah tersebut berpindah agama ke Islam selama masa itu. Alasan perpindahan ini berbeda-beda untuk masing-masing wilayah dan orang. Namun, tampaknya unsur utamanya adalah insentif ekonomi dan politik, daripada perpindahan agama karena keyakinan agama atau ancaman pedang. Tampaknya tidak ada catatan tertulis apa pun mengenai alasan orang-orang itu pindah agama, baik yang bersifat doktrin maupun alasan lainnya.

Cendekiawan Buddha di Baghdad

Hubungan pertama yang bermakna antara cendekiawan Buddha dan Islam terjadi di pertengahan abad ke-8, selama masa Abbasiyyah. Ketika itu, Khalifah al-Mansur membangun di Baghdad sebuah Rumah Pengetahuan (Ar. Bayt al-Hikmat) untuk pengkajian dan penerjemahan naskah dari budaya Yunani dan India, terutama yang bertopik ilmiah. Sebagai bagian dari program ini, anak laki-lakinya, Khalifah al-Mahdi mengundang cendekiawan-cendekiawan Buddha dari India dan dari Wihara Nava yang besar di Balkh, Afghanistan.

Sulit untuk mengatakan bahwa biksu-biksu Buddha di Baghdad sungguh secara resmi berhubungan dengan Rumah Pengetahuan. Namun, tampaknya mereka melakukan banyak pembicaraan pada masa itu dengan cendekiawan Islam. Bukti untuk ini datang dari Buku tentang Agama-Agama dan Kepercayaan-Kepercayaan (Ar. Kitab al-Milal wa al-Nihal), sebuah risalah mengenai bida’ah Islam. Di dalamnya, ahli Teologi Isma’ili pada abad ke-12, al-Shahrastani, memberikan catatan singkat tentang gambaran yang dimiliki cendekiawan Islam pada saat itu terhadap ajaran Buddha. Mengingat ketertarikan utama mereka adalah pemikiran Yunani, kajian mereka terhadap ajaran Buddha tidak mendalam.

Sementara itu, cendekiawan Buddha di Baghdad tampaknya tidak begitu tertarik dengan doktrin Islam. Meskipun biksu-biksu di universitas wihara Buddha pada masa itu, di wilayah yang sekarang Afghanistan dan anak-benua India, memperdebatkan dengan penuh semangat pernyataan dari berbagai sistem keyakinan India nonBuddha, tidak ada bukti tentang terjadinya perdebatan dengan cendekiawan Muslim. Tidak ada penyebutan sama sekali tentang keyakinan Islam dalam risalah filosofis Buddha Sanskerta, baik sebelum maupun sesudahnya.

Penghancuran Wihara-Wihara Buddha di Anak-Benua India

Banyak wihara Buddha dihancurkan dalam berbagai serangan terhadap anak-benua India, pertama oleh pasukan Ummaiyyah di paruh pertama abad ke-8, lalu oleh beragam pasukan negara Turki Islam di bawah kepemimpinan Abbasiyyah sejak awal abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-13. Wihara-wihara itu tidak pulih kembali dari serangan tersebut dan, meskipun banyak penganut Buddha di wilayah itu lalu pindah menjadi Muslim, sebagian besar terserap ke dalam populasi Hindu secara umum.

Serangan dari Turki itu tampaknya lebih didorong oleh pertimbangan militer, politik, dan ekonomi, daripada semangat keagamaan. Bagaimanapun, kita tidak bisa mengabaikan gambaran-gambaran, yang ditemukan dalam catatan sejarah Muslim, Buddha, dan Barat, mengenai kekejaman dan fanatisme keagamaan yang terjadi selama gerakan itu. Tanpa mempertimbangkan alasan penghancuran itu, naskah Buddha pada masa itu tidak mengungkapkan informasi lebih banyak tentang pandangan Buddha terhadap ajaran Islam.

Muslim di Tibet di bawah Dalai Lama Kelima

Diakibatkan oleh bencana kelaparan di tanah mereka pada pertengahan abad ke-17, sekelompok imigran Muslim Kashmir menetap di Lhasa, Tibet, selama kepemimpinan politik Dalai Lama Kelima. Sebagai bagian dari kebijakan tenggang rasa keagamaannya, Dalai Lama Kelima memberi kaum Muslim hak istimewa. Ia memberi mereka tanah untuk sebuah masjid dan sebuah pemakaman, mengizinkan mereka memilih dewan yang terdiri dari lima anggota untuk mengawasi perkara internal mereka, memperbolehkan mereka menyelesaikan perselisihan mereka sendiri secara mandiri menurut hukum Syariah, dan membebaskan mereka dari pajak. Meskipun hak-hak istimewa ini menandakan penghormatan penganut Buddha terhadap otonomi komunitas Muslim di Tibet, semua itu tidak menandakan terjadinya dialog lintas iman pada masa itu.

Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa ditarik dari tinjauan ini adalah, meskipun dunia Buddha Indo-Tibet memiliki hubungan yang damai sekaligus bermasalah dengan dunia Islam dalam banyak peristiwa selama satu milineum setelah Nabi Muhammad, hampir tidak ada ketertarikan penganut Buddha untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam.

Naskah Kalachakra/Kalacakra sebagai Sumber untuk Pandangan Klasik Buddha terhadap Islam

Satu-satunya tempat yang menampilkan rujukan Buddha terhadap doktrin Islam selama masa ini adalah naskah Kalachakra/Kalacakra Sanskerta. Kalachakra/Kalacakra, yang berarti lingkaran waktu, adalah sebuah sistem latihan tantra Buddha Mahayana untuk mencapai pencerahan supaya bisa sebaik mungkin memberikan manfaat bagi semua makhluk. Sistem ini menggambarkan tiga lingkaran waktu yang paralel: luar, dalam, dan lain. Lingkaran luar mengacu pada gerakan planet, pola astrologi, dan lingkaran sejarah, termasuk serangan berkala dari pasukan-pasukan asing. Ketika bicara tentang serangan ini, naskah-naskah dasar mewartakan dirinya kepada khalayak Hindu. Lingkaran dalam mengacu pada irama biologis dan psikologis. Lingkaran lain adalah latihan meditasi berulang yang bertujuan mengatasi keadaan di bawah kendali lingkaran luar dan dalam.

Acuan-acuan terhadap Islam dalam naskah Kalachakra/Kalacakra kemungkinan besar muncul sebagian di dalam wihara Buddha di wilayah Afghanistan masa kini dan sebagian lain di tempat asal tantra, Oddiyana (Pakistan barat laut), selama abad ke-10. Saat itu, dua wilayah tersebut berada di bawah kepemimpinan Shahi Hindu. Di akhir abad ke-10, naskah ini mencapai anak-benua India, tempat, di Kashmir, naskah ini mungkin bercampur dengan pengalaman akan serangan Ghaznavid (1001 hingga 1025 Masehi). Tidak lama kemudian, naskah ini diteruskan ke Tibet, tapi naskah ini selalu tetap menjadi bagian kecil dari tradisi Buddha Indo-Tibet. Dengan demikian, seseorang harus memiliki sudut pandang yang tepat berkenaan dengan pengetahuan penganut Buddha secara umum terhadap pemikiran Islam. Pada umumnya, penganut Buddha masih tidak memiliki pengetahuan mengenai ajaran-ajaran Islam.

Syiah Isma’ili dari Multan sebagai Bentuk Utama dari Islam yang Diacu dalam Naskah Kalachakra/Kalacakra

Untuk menghindari kesalahpahaman tentang pandangan Buddha terhadap Islam di masa lalu, penting bagi kita untuk mengenal bentuk Islam yang digambarkan oleh naskah Kalachakra/Kalacakra. Naskah-naskah ini tidak mengacu kepada Islam sebagai suatu keseluruhan dan tentu tidak kepada Islam sebagaimana dipahami dan dipraktikkan dalam beragam bentuk masa kini. Naskah-naskah itu berbicara, secara lebih khusus, tentang orang asing yang di masa mendatang akan melakukan serangan terhadap kerajaan di Shambhala – wilayah pegunungan tempat ajaran-ajaran Kalachakra/Kalacakra tumbuh subur. Berdasarkan gambaran tentang keyakinan pada penyerbu masa depan ini, mereka tampaknya merupakan pengikut tradisi timur awal Syiah Isma’ili.

Bukti utama yang mendukung perkiraan ini berasal dari Ringkasan Megah Kalachakra/Kalacakra Tantra I.153 (Skt. Laghu-Kalachakra-tantra-raja). Ayat ini menampilkan daftar delapan nabi dari para penyerbu masa depan: “Adam, Nuh, Abraham, dan lima lainnya – Musa, Yesus, Ia yang Berpakaian Putih, Muhammad, dan Mahdi… Yang kedelapan adalah yang buta. Yang ketujuh akan menjelma datang ke kota Baghdad di tanah Mekah, (tempat) di dunia ini di mana sebuah bagian dari asura (kasta) akan tampak seperti kaum mleccha yang kuat dan tak kenal ampun.

[Lihat: Tulisan Kalachakra/Kalacakra mengenai Nabi-Nabi Penyerbu NonIndia – Uraian Lengkap.]

Daftar itu merupakan daftar standar Isma’ili tentang tujuh nabi, dengan tambahan Ia yang Berpakaian Putih. Bisa diperdebatkan bahwa Ia yang Berpakaian Putih adalah Mani, pendiri Manikheisme di abad ke-3. Namun, meskipun pemikir Isma’ili awal mungkin mendapat sebentuk pengaruh dari apa yang disebut “Manikhean Islam”, para teolog Isma’ili telah sepakat dengan sikap Islam secara umum yang mengutuk Manikheisme sebagai sesat.

Satu alasan yang mungkin bagi daftar Kalachakra/Kalacakra tentang nabi yang berjumlah delapan adalah ini supaya sama dengan delapan inkarnasi Wisnu yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, I.152. Ini ditandakan oleh acuan kepada para pengikut nabi sebagai anggota kasta asura. Dalam kosmologi Buddha, asura, sebuah jenis manusia dewa yang cemburu, adalah musuh para dewa Hindu dan selalu melancarkan perang terhadap mereka. Bila ada delapan inkarnasi dari dewa Hindu Wisnu, maka dibutuhkan enam nabi asura untuk melawan mereka.

Penjelasan lain, menurut tanggapan awal dari India terhadap ayat tersebut, Sebuah Tanggapan terhadap Pokok-Pokok Sulit Bernama “Padamani”, (Skt. Padmani-nama-panjika) adalah bahwa Ia yang Berpakaian Putih merupakan nama lain untuk Nabi Muhammad. Dalam kasus apa pun, istilah-istilah Sanskerta yang digunakan oleh naskah Kalachakra/Kalacrakra untuk mengacu para pengikut nabi-nabi itu membantu kita untuk menduga lokasi kelompok Isma’ili ini. Tampak bahwa mereka adalah Isma’ili dari Multan, terletak di Sindh utara, Pakistan masa kini, pada paruh kedua abad ke-10.

Naskah Kalachakra/ Kalacakra secara teratur menyebut para penyerbu itu sebagai kaum mleccha, nama tradisional Sanskerta yang diberikan kepada para penyerbu asing yang datang ke anak-benua India, sejak Alexander Agung, bangsa Kushan, dan Hun Hepthalite. Istilah itu mengandung arti orang-orang yang berbicara dalam bahasa nonIndia yang mustahil dipahami. Mleccha memiliki ciri khas pasukan penyerbu yang tak berbelas ampun. Istilah utama lain yang digunakan untuk para penyerbu adalah “Tayi”, pelafalan Sanskerta untuk kata Arab tayy (jamak: tayayah, tayyaye) atau bentuk Persia darinya, tazi. Tayyayah adalah suku Arab terkuat zaman pra-Muslim, Tayy’id, dan “Tazi” menjadi kata Persia untuk orang Arab. “Tazi” adalah istilah yang digunakan untuk mengacu penyerbu Arab dari Iran, misalnya, oleh penguasa Sassaniyyah terakhir, Yazdgerd III.

Kerajaan Multan berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Fatimiyyah Isma’ili, yang berpusat di Mesir. Dikelilingi oleh Kekaisaran Abbasiyyah yang mengalami perpecahan di kedua sisinya, Fatimiyyah dan kerajaan-kerajaan Multan di bawahnya punya ancaman melakukan serbuan dalam pencarian mereka akan kekuasaan atas dunia Islam. Oleh karena itu, masuk akal bahwa penyerbu asing dalam naskah Kalachakra/Kalacakra mengacu pada orang-orang Isma’ili Multan ini. Kesimpulan ini serasi dengan perkiraan bahwa naskah Kalachakra/Kalacakra berasal dari wilayah Afghanistan dan Oddiyana di bawah kekuasaan Hindu Shahi, diapit oleh wilayah Multan dan Abbasiyyah pada masa itu.

Gambaran Kalachakra/Kalacakra mengenai Keyakinan Tayi

Naskah-naskah Kalachakra/Kalacakra menyebutkan beberapa adat dan keyakinan Tayi mleccha. Sebagian besar keyakinan ini mendasarkan pada Islam secara keseluruhan. Sebagian tampak berkaitan dengan pemikiran Isma’ili pada masa itu, sementara sebagian lainnya bertentangan dengan pemikiran itu. Ketidaksesuaian ini mungkin menandakan bahwa para pengumpul naskah Kalachakra/Kalacakra memiliki informasi yang tak lengkap tentang keyakinan Isma’ili di Multan, dan karenanya mengisi catatan mereka dengan informasi yang didapat dari bentuk-bentuk lain dari Islam yang mereka temui. Selain itu, ini bisa menandakan bahwa pandangan teologis yang diungkapkan dari pemikir utama Isma’ili pada zaman itu―Abu Ya’kub al-Sijistani, seorang pendukung kuat kerajaan Fatimiyyah―belum tersebar luas di Multan. Hal ini bisa terjadi meskipun karya-karya al-Sijistani adalah doktrin Fatimiyyah resmi yang umum ditemukan di wilayah Isma’ili timur pada masa itu.

Dalam kasus apa pun, kita harus berhati-hati supaya tidak salah memahami gambaran Kalachakra/Kalacakra tentang keyakinan Tayi sebagai wakil dari pandangan terhadap seluruh Islam oleh semua pengikut Buddha di Asia sepanjang sejarah. Gambaran itu terbatas pada tempat tertentu, di waktu tertentu, dan di latar sejarah-politik tertentu. Bagaimanapun, catatan Kalachakra/ Kalacakra bersifat relevan karena, menurut pengetahuan penulis ini, semua itu adalah satu-satunya naskah Buddha klasik yang membahas keyakinan Islam. Dengan demikian, catatan itu unik sebagai sumber utama yang sungguh mengungkap sebuah pandangan klasik Buddha terhadap Islam.

Penciptaan dan Ketaatan terhadap Allah

Ringkasan Megah Kalachakra/Kalacakra Tantra, II.164cd, menyatakan: “Diciptakan oleh Sang Pencipta adalah segala sesuatu yang terbit, bergerak dan tak bergerak. Dengan menyenangkan diri-Nya, sebagai sebab pembebasan bagi para Tayi, terdapat surga. Ini sejatinya ajaran Rahman bagi manusia.” “Rahman”, kata ganti Allah, adalah kata Arab untuk “Yang mahakasih”.

Pundarika menguraikan dalam Cahaya Tak Bernoda: Sebuah Tanggapan yang Menjelaskan “Ringkasan Megah Kalachakra/Kalacaka Tantra” (Skt. Vimalaprabha-nama-laghu-Kalachakra-tantra-raja-tika) , bahwa “Sekarang, mengenai pernyataan kaum Tayi mleccha, Rahman, Sang Pencipta memberikan kebangkitan kepada tiap perwujudan yang memiliki fungsi yang berguna, baik yang bergerak maupun tak bergerak. Penyebab pembebasan bagi para Tayi, yang disebut mleccha berpakaian putih, adalah menyenangkan Rahman, dan ini jelas memberikan kelahiran kembali yang lebih tinggi (di Surga) bagi manusia. Akibat tidak menyenangkannya, muncullah (kelahiran kembali di) Neraka. Semua ini adalah ajaran Rahman, pernyataan para Tayi.” Dalam bacaan ini, acuan kepada Tayi sebagai yang berpakaian putih mungkin merujuk kepada peziarah Muslim yang mengenakan jubah putih sederhana saat mereka menunaikan ibadah Haji ke Mekah.

Menurut al-Sijistani, Allah, melalui perintah atau kata-kata-Nya, menciptakan “kecerdasan” universal. “Kecerdasan” universal adalah makhluk pertama yang abadi, tak bergerak, tak berubah, dan sempurna. Ini sebuah universal yang sama yang meliputi segala sesuatu dan menyerupai sebuah “cita” universal, tapi dalam bentuk makhluk. “Kecerdasan” universal menghasilkan sebuah “roh” universal, yang juga abadi, tapi tidak sempurna dan selalu bergerak. Di dalam “roh” universal, dunia alam ragawi muncul. “Roh” universal memiliki dua kepribadian bertolak-belakang: gerakan dan diam. Di dalam kenyataan ragawi, gerakan menciptakan wujud dan diam menciptakan zat. Zat selalu tak bergerak dan statis, tapi wujud-wujudnya terus bergerak dan berubah.

Dengan demikian, mungkin dengan acuan kepada penjelasan al-Sijistani tentang penciptaan ketika Ringkasan Megah Kalachakra/Kalacakra Tantra mencatat: “Diciptakan oleh Sang Pencipta adalah segala sesuatu yang terbit, bergerak dan tak bergerak.” Meskipun konsep tentang “kecerdasan” universal dan “roh” universal bersifat umum dalam pemikiran Isma’ili, konsep ini tidak muncul dalam bentuk Islam lainnya.

Bagaimanapun, al-Sijistani tidak menyatakan bahwa menyenangkan Allah – dalam arti umum Islam yang menaati hukum Syariah atau, dalam arti umum Shite dan lalu Isma’ili, yang mengakui bahwa imam tak mungkin berbuat salah – sebagai penyebab “kelahiran kembali lebih tinggi di Surga”. Penjelasannya tentang penyebab masuk Surga cukup berbeda.

Bagi al-Sijistani, “roh” universal membangkitkan sukma pribadi dan tertentu yang turun ke dalam dunia ragawi yang memiliki zat dan wujud. Di dalam tiap makhluk hidup pribadi tertentu, roh pribadi menggunakan sebagian pribadi dari “kecerdasan” universal, yang oleh karenanya bersifat sebagian dan terbatas. Penyebab masuk surga adalah kemampuan menilai dari roh pribadi yang membuatnya menjauh dari kesenangan dunia ragawi dan beralih kepada cakupan murni “kecerdasan” universal. Dalam melakukan ini, roh pribadi mempelajari perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan, serta antara baik dan buruk.

Sunat, Puasa Ramadhan, dan Halal

Pundarika, dalam Layanan Mendalam yang Agung (Skt. Shriparamartha-seva), menjelaskan: “Menurut yang lain, penyebab kelahiran kembali yang lebih tinggi (di Surga) adalah memotong kulit ujung zakarnya dan makan di akhir siang dan awal malam. Ini adalah apa yang dilakukan oleh para Tayi. Mereka tidak menikmati daging ternak yang telah mati (kematian alami) akibat karma sendiri. Alih-alih, mereka memakan ternak yang telah dijagal. Bila tidak demikian, manusia tidak akan berlanjut ke kelahiran kembali yang lebih tinggi (di Surga).

Pundarika memperkuat bagian kedua dari kalimat ini dalam Cahaya Tak Bernoda: “Dengan pisau daging, mereka memotong leher ternak sambil mengucapkan mantra Tuhan kaum mleccha, Bismillah, lalu memakan daging ternak itu yang telah disembelih dengan mantra Tuhan mereka. Mereka tidak makan daging dari ternak yang telah mati (kematian alami) akibat karma sendiri. Bismillah berarti “dalam nama Allah”.

Bacaan-bacaan itu menyiratkan adat-adat Islam secara umum yang meliputi sunat, makan hanya setelah matahari terbenam selama puasa Ramadhan, dan menaati perintah tentang hukum halal mengenai makanan.

Etika, Doa, dan Perintah Melawan Patung-Patung Tuhan

Dalam Intisari Tantra Lebih Lanjut mengenai Kalachakra/Kalacakra Tantra yang Agung (Skt. Shri-Kalachakra-tantrottaratantra-hrdaya), dinyatakan, “Dalam menjalankan ajaran-ajaran dari mereka yang para perempuannya mengenakan jilbab … kelompok-kelompok pengendara kuda Tayi menghancurkan segala macam patung Tuhan dalam pertempuran, tanpa satu pengecualian pun. Mereka memiliki satu kasta, tidak mencuri, dan bicara kebenaran. Mereka tetap bersih, menghindari istri orang lain, mengikuti praktik tapa brata tertentu, dan tetap setia kepada istri mereka. Setelah (pertama) membersihkan diri mereka sendiri, lalu, di waktu yang diinginkan oleh pribadi masing-masing saat di tengah malam dan tengah siang, waktu setelah matahari terbenam, dan saat matahari terbit di atas pegunungan, orang Tayi bukan Buddha (Skt. tirthika) melakukan ibadah lima kali (setiap hari), bersujud di permukaan tanah menghadap tanah suci mereka dan mencari keselamatan tunggal dalam ‘Tuhan Mereka yang Bersama Tama’ dalam alam surgawi di atas bumi.” Tama adalah salah satu bagian dari tiga unsur alam semesta (Skt. triguna) menurut sistem filosofi Samkhya India. Menurut Ringkasan Megah Kalachakra Tantra, I.153, Nabi Musa, Yesus, Mani, Muhammad, dan Mahdi adalah “Mereka yang Bersama Tama”.

Di sini, naskah Kalachakra/Kalacakra juga menjelaskan keyakinan-keyakinan yang diikuti semua Muslim: tidak membuat patung “penyembahan”, menghormati kesamaan derajat semua manusia dalam Islam, mempertahankan ketaatan etika, dan berdoa lima kali sehari.

Pokok-Pokok Bermasalah yang Disebutkan dalam Naskah Kalachakra/Kalacraka

Naskah kalachakra/Kalacakra menunjukkan dua hal bermasalah dari ajaran Tayi yang bisa menghambat keselarasan agama. Bagaimanapun, penting bahwa naskah itu tidak menyiratkan bahwa hal-hal tersebut bakal menjadi penyebab serbuan pasukan Tayi di masa mendatang. Serbuan adalah peristiwa berulang dalam pandangan Kalachakra/Kalacakra tentang lingkaran waktu dan, menurut Ringkasan megah Kalachakra/Kalacakra Tantra, II.48-50, dipahami sebagai cerminan dan wakil dari serbuan berulang terhadap cita setiap orang oleh sikap dan perasaan yang gelisah. Selain itu, tak satu pun dari pokok bermasalah itu hanya ada dalam pemikiran Isma’ili dari Multan, tanpa menyebutkan Islam secara umum. Semua itu adalah hal-hal yang juga dimiliki oleh agama-agama lain.

Penyembelihan Korban Hewan

Hal pertama yang dianggap naskah Kalachakra/Kalacakra bermasalah adalah hal yang juga ditemukan di antara penganut Hindu pada masa itu. Masalah itu berkenaan dengan penyembelihan ternak atas nama Tuhan Tayi, Bismillah. Oleh karena itu, Pundarika, dalam Cahya Tak Bernoda, secara salah mengartikan cara penyembelihan yang halal sebagai pertanda pengorbanan kepada Tuhan yang serupa dengan upacara Weda. Ditujukan kepada khalayak Hindu, Pundarika berkata, “Kamu akan menilai bahwa ajaran (Tayi) adalah sahih, karena kata-kata dalam kitab Weda, “Korbankanlah ternak.”

Ajaran Buddha sangat melarang pengorbanan hewan. Menurut Buddha, makhluk mengalami kelahiran kembali berulang dalam bentuk kehidupan apa pun yang memiliki cita, termasuk manusia dan hewan. Dengan begitu, hewan apa pun yang dikorbankan seseorang bisa jadi merupakan ibunya dalam kehidupan sebelumnya. Meskipun naskah Kalachakra/Kalacakra salah memahami cara halal dalam penyembelihan sebagai pengorbanan dan tidak membuat acuan apa pun terhadap upacara pengorbanan kambing oleh peziarah dalam ibadah haji, penyembelihan korban pernah dan masih menjadi wilayah bermasalah antara Buddha dan Islam.

Bagaimanapun, kesulitan doktrin Buddha terkait penyembelihan korban tidak terbatas pada praktik tersebut dalam Islam. Ini juga berlaku pada bentuk-bentuk tertentu dalam Hindu. Masalah ini meluas bahkan pada bentuk tertentu dalam Buddha yang bercampur dengan adat lokal. Sebagai contoh, dalam upacara Kalachakra/Kalacakra yang dipimpin Dalai Lama di Bodh Gaya, India pada Januari 1975, Dalai Lama menekankan kepada penganut Buddha yang datang dari wilayah Himalaya pinggiran supaya mereka menghentikan pengorbanan hewan.

Di masa modern, penganut Buddha tampaknya tidak lagi menghubungkan cara halal dalam penyembelihan dengan pengorbanan. Pada era Tibet sebelum komunis, misalnya, tidak hanya Muslim setempat diizinkan menyembelih hewan dalam cara yang halal, tapi juga banyak kaum nomad Tibet membawa ternak mereka kepada tukang jagal Muslim untuk disembelih lalu dijual sebagai daging. Bahkan, sebagian besar orang Tibet merasa bahwa hidangan daging yang terbaik disajikan di rumah makan Muslim dan mereka tidak ragu untuk berdagang dengan umat Muslim.

Kehidupan Setelah Kematian

Dalam naskah Kalachakra/Kalacakra, wilayah bermasalah kedua di antara kedua sistem keyakinan ini terkait dengan sifat dari kehidupan setelah kematian. Ringkasan Megah Kalachakra/Kalacakra Tantra, II.174, menyatakan, “Melalui kehidupan setelah kematian (yang abadi), seseorang mengalami (hasil dari) tindakan karma yang telah ia lakukan di dunia ini. Bila demikian, penipisan karma manusia dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya tidak akan terjadi. Dengan begitu, tidak akan ada jalan keluar dari samsara dan jalan masuk menuju pembebasan, bahkan dalam kerangka keberadaan yang tak bisa diukur. Pemikiran ini muncul di antara kaum Tayi, meskipun diabaikan oleh kelompok-kelompok lain.

Pundarika mengurai dalam Cahaya Tak Bernoda: “Pernyataan para Tayi mleecha adalah bahwa manusia yang mati mengalami kebahagiaan atau duka dalam kelahiran yang lebih tinggi (di Surga) atau di Neraka bersama raganya, melalui keputusan Rahman.”

Penggalan bacaan itu mengacu pada keyakinan Islam umum terhadap Hari Penghakiman, ketika semua manusia akan bangkit dari mati dalam raga mereka dan dihakimi oleh Allah. Berdasarkan perilaku mereka, mereka masuk ke dalam kebahagiaan abadi di Surga atau duka abadi di Neraka, dengan masih mempertahankan raga mereka. Namun, keyakinan Isma’ili, sebagaimana dirumuskan oleh al-Sijistani, menolak kebangkitan kembali raga manusia. Menurut al-Sijistani, kebahagiaan Surga dan duka Neraka dialami murni secara jiwa oleh sukma pribadi, tanpa unsur raga apa pun.

Ajaran Buddha, di sisi lain, dengan ajaran Karma-nya, menyatakan kelahiran kembali yang berulang (Skt. samsara) akibat kekuatan tindakan karma seseorang yang didorong oleh perilaku dan perasaan yang gelisah. Tindakan merusak, yang didorong oleh kemarahan, keserakahan, kemelekatan, atau keluguan tentang sebab dan akibat yang berhubungan dengan perilaku, menghasilkan kelahiran kembali di suatu neraka, atau sebagai hantu, atau sebagai seekor hewan. Keluguan bisa terjadi akibat kurangnya pengetahuan atau pemahaman yang tidak tepat. Tindakan membangun, tapi yang masih terhubung dengan sikap lugu terhadap kenyataan, menghasilkan kelahiran kembali sebagai manusia, sebagai asura (anti-Tuhan), atau di dalam sebuah surga. Tiap jenis kelahiran kembali ini bisa dialami oleh siapa pun―termasuk kelahiran kembali di sebuah surga atau neraka―dan memiliki jenis raga yang sesuai pada alam itu. Seseorang tidak bisa lahir kembali di sebuah surga atau neraka dengan raga manusia.

Selain itu, ajaran Buddha menyatakan bahwa akibat karma dari perbuatan karma apa pun berbuah kebahagiaan atau duka selama masa waktu yang terbatas. Setelah akibat karma selesai berbuah, karma itu hilang. Seseorang lalu meninggal dari kelahiran kembali yang bersifat surgawi atau neraka dan lahir kembali dalam alam kelahiran kembali yang lain. Dari sudut pandang Buddha, kelahiran kembali di suatu surga atau neraka tidak akan abadi. Namun, pengulangan kelahiran kembali seseorang akan berlangsung abadi, satu setelah yang lain, kecuali ia menghilangkan penyebab sejati dari semua kelahiran kembali itu. Di samping itu, bahkan kebahagiaan dalam kelahiran kembali surgawi adalah suatu bentuk duka, karena ini tak pernah memuaskan dan pasti akan berakhir.

Sehingga, ajaran Buddha menyatakan, jika seseorang membersihkan dirinya dari semua perilaku dan perasaaan yang gelisah, ia berhenti melakukan tindakan karma yang berujung pada kelahiran kembali yang terus berulang, baik itu di suatu surga, neraka, di bumi ini, atau di tempat lain. Dengan demikian, seseorang menghilangkan kelanjutan karma yang telah terkumpul. Maka, dengan dasar perbuatan membangun yang dilakukan tanpa keluguan terhadap kenyataan, seseorang meraih keadaan nirwana yang abadi, damai, dan menggembirakan, bebas dari kelahiran kembali yang berulang. Tidak ada Hari Penghakiman dan tidak ada hakim. Kelahiran kembali yang terus terjadi bukanlah sebuah hukuman, dan pencapaian nirwana bukanlah suatu anugerah. Hubungan antara sebab dan akibat perilaku bekerja sepenuhnya dalam cara mekanis, tanpa keterlibatan ilahi.

Seperti kasus terkait pengorbanan hewan, wilayah bermasalah tentang sifat kehidupan setelah kematian dan keabadian Surga atau Neraka tidak terbatas pada perbedaan pernyataan antara Buddha dan Islam. Ini adalah persoalan penganut Buddha dan Hindu di satu sisi dengan orang Kristen dan Muslim di sisi lain.

Pertempuran dengan Orang Tayi Mleecha Menurut Naskah Kalachakra/Kalacakra

Ringkasan Megah Kalachakra Tantra, I.158-166, menggambarkan serangan terhadap Shambhala oleh kaum Tayi mleecha, 1800 tahun setelah berdirinya agama mereka, dan kekalahan mereka dalam pertempuran itu oleh pasukan Shambhala. Namun, di bab selanjutnya, (II 48-50ab), naskah ini menjelaskan kesetaraan batin untuk pertempuran itu dengan kerangka cara meditasi. Ayat-ayat ini menyimpulkan (II.50cd): “Pertempuran dengan penguasa dari mleecha jelas berada di dalam raga makhluk yang berwujud. Di sini lain, bagian lahir (tingkat pertempuran) sesungguhnya bentuk maya. (Oleh karena itu,) pertempuran dengan mleecha di dalam kasus Mekah itu adalah (sesungguhnya) bukan pertempuran.

Pengamat Tibet pada abad ke-15, Kaydrubjey, dalam karyanya berjudul Menyinari Sifat Kenyataan, Penjelasan Luas tentang “Cahaya Tak Bernoda”, Tanggapan Hebat terhadap “Kalachakra/Kalacakra Tantra yang Agung”, mengurai: “Penjelasan di bab kedua ini adalah makna pasti dari gambaran, di bab pertama, tentang pertempuran yang menggambarkan hal itu. Ini harus diterapkan pada latihan yoga yang muncul dari menusuk titik-titik penting raga seseorang .. . Ketika naskah mengatakan bahwa (tingkat lahir) ini adalah bentuk maya, ini berarti pertempuran di bab pertama memuat, sebagaimana maksudnya, apa yang digambarkan di bab kedua. Dan, kecuali untuk menunjukkan bagaimana pertempuran terjadi, yang merupakan maya, maksudnya adalah supaya (orang-orang) tidak bertindak dalam cara yang menyebabkan kerugian besar melalui perang melawan mleecha dan membunuh mereka.

Dengan begitu, meskipun di permukaan tampaknya naskah Kalachakra/Kalacakra meramalkan perang besar antara umat Buddha dan Muslim, naskah dan tanggapan terhadapnya menjelaskan bahwa pertempuran itu harus dipahami semata sebagai lambang dari pertempuran batin melawan kekuatan dari keadaan cita seseorang yang gelisah dan merusak.

Pokok-Pokok Bersama, tapi Memiliki Penafsiran Berbeda dalam Kedua Sistem

Ajaran Buddha menyatakan bahwa Buddha, yang cakap dalam cara dan berkeinginan memberikan manfaat bagi semua orang, mengajar dalam banyak beragam jalan untuk menyesuaikan dengan kepribadian yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, Buddha memberikan ajaran yang sejajar dengan pernyataan-pernyataan tertentu dari sistem keyakinan lain. Meskipun ajaran Buddha dan sistem-sistem keyakinan lain itu memiliki pemahaman berlainan terhadap pokok-pokok dalam ajaran tersebut, kesamaan yang ada bisa membangun suatu dasar bagi keselarasan agama, pemahaman, dan kerjasama yang damai. Naskah Kalachakra/Kalacakra memperlihatkan prinsip ini.

Musafir Tibet pada abad ke-19, Mipam, dalam Pencahayaan Surya Vajra, Menjelaskan Makna Kata-Kata dalam “Kalachakra/Kalacakra Tantra yang Agung”, Tafsiran tentang Bab (Lima), Kesadaran Mendalam, menjelaskan: “Orang-orang mleecha memegang dua (pokok filsafat). Mereka meyakini perwujudan lahir memiliki sifat kumpulan atom, dan mereka meyakini keberadaan diri seseorang yang mengalami kelahiran sementara atau yang memiliki unsur yang mengalami kelahiran dalam samsara. Tujuannya adalah mencapai kebahagiaan para dewa. Di samping ini, mereka tidak menyatakan jenis lain dari nirwana.”

Sifat Atom

Mipam tidak memberikan suatu naskah tertentu yang di dalamnya Buddha berbicara tentang zat yang tersusun atas atom. Namun, dengan mengikuti ulasannya tentang pandangan para penyerbu dengan sebuah cara yang progresif tentang empat aliran filsafat Buddha India, Mipam menyiratkan bahwa pernyataan Tayi sesuai dengan ajaran Buddha. Ia menjelaskan, aliran Vaibhashika dan Sautrantika dalam Buddha Hinayana menyatakan bahwa atom tak bisa terbelah dan tak bisa terbagi, sementara aliran Chittamatra dan Madhyamaka dalam Buddha Mahayana menyatakan bahwa atom bisa terbelah tanpa henti.

Hal serupa, di antara pandangan-pandangan filsafat yang telah berkembang di dalam Islam sebelum pertengahan abad ke-10, penulis-penulis tertentu menyatakan bahwa atom tidak bisa terbelah. Mereka meliputi al-Hakam dan al-Nazzam, di dalam aliran Shi’ite Mu’tazili, dan teolog Sunni al-Ash’ari. Sebagian besar teolog Islam lain pada masa itu, dan masa sesudahnya, menyatakan bahwa atom secara tak terbatas bisa terbelah. Namun, al-Sijistani tampaknya tidak menjelaskan tentang kemampuan atom untuk bisa terbagi.

Bagaimanapun, penganut Buddha dan Muslim secara pokok menggunakan alasan-alasan yang berbeda untuk menolak pandangan bahwa atom tidak bisa terbelah. Penganut Buddha berpendapat bahwa tidak masuk akal bagi atom tidak memiliki setidaknya bagian atau sisi yang mengendalikan; bila tidak demikian, mustahil bagi dua atom untuk menyatu. Supaya dua atom bisa menyatu, mereka harus menyatu pada satu sisi saja, yang berarti mereka bisa terbagi, setidaknya secara mental, ke dalam bagian-bagian yang mengendalikan. Argumentasi utama Islam adalah jika atom tidak bisa terbelah, ini menyiratkan adanya batas bagi kekuatan Allah. Karena Allah Mahakuasa, Ia pasti bisa membelah atom tanpa batas.

Sifat Orang atau Sukma

Mipam melanjutkan, “Mengetahui kepribadian dan pemikiran mereka, Buddha mengajarkan sutra yang bisa mereka (orang Tayi) terima. Sebagai contoh, dalam Sutra Mengemban Tanggung jawab, Buddha berkata bahwa orang-orang yang mengemban tanggung jawab (untuk tindakan mereka) sungguh ada, tapi tanpa menyatakan bahwa sukma seseorang bersifat tetap atau tidak tetap. Pokok-pokok ini benar menurut pernyataan mereka (Tayi). Makna yang dimaksud Buddha adalah orang berada sebagai kelanjutan dari diri yang memikul tanggung jawab akan karma, tapi semata dikenakan pada suatu kesinambungan dan, sesuai sifatnya, tidak tetap sekaligus bukan tidak-tetap.

Pandangan Buddha

Ajaran Buddha menyatakan, ada jumlah orang dan kesinambungan jiwa yang bersifat pasti tapi tak terhitung. Orang pribadi adalah sesuatu yang dikenakan pada kesinambungan jiwa pribadi, mirip suatu kebiasaaan yang bisa dikenakan pada suatu kesinambungan bentuk perilaku serupa yang diulang.

Kelanjutan tiap orang pribadi, seperti kelanjutan dari kesinambungan tiap kesadaran pribadi, bersifat abadi, tapi tidak diam. Kelanjutan ini bersifat abadi, dalam arti tidak memiliki awal dan akhir. Namun, semua itu tidak diam dalam arti berubah dari waktu ke waktu. Dalam setiap waktu, tiap orang melakukan sesuatu yang berbeda, misalnya memahami suatu benda yang berbeda.

Saat berada di bawah pengaruh keluguan, tiap orang melakukan tindakan karma dan memikul tanggung jawab untuk tindakan itu. Warisan karma dari tindakan ini berbuah pada pengalaman orang tersebut akan kebahagiaan atau duka samsara melalui kelanjutan kelahiran kembali. Ketika seseorang mampu mempertahankan kesadaran yang tepat akan kenyataan secara berlanjut, ia menjadi terbebaskan dari mengalami buah warisan karma itu. Dengan cara ini, kelanjutan dari keberadaan samsara orang tersebut berhenti selamanya dan ia mencapai kebebasan, nirwana. Namun, kelanjutan yang terus berubah dari orang pribadi itu dan dari kesinambungan kesadaran yang dikenai orang pribadi itu terus abadi, bahkan setelah pencapaian nirwana.

Secara singkat, menurut Buddha Mahayana, cabang Buddha yang memuat Kalachakra/Kalacakra, seorang pribadi tidak bersifat tetap dalam arti menjadi diam; ia bukan juga bersifat tidak-tetap dalam arti sementara. Selain itu, keberadaan samsara dari orang pribadi tidaklah tetap dalam arti menjadi abadi; bukan juga keberadaan nirwana dari orang pribadi bersifat tidak-tetap dalam arti sementara.

Pandangan Isma’ili terhadap al-Sijistani

Al-Sijistasi juga menyatakan bahwa orang―dalam kasus ini, sukma―memikul tanggung jawab untuk tindakan mereka dan bukan bersifat tetap maupun tidak-tetap. Namun, dasar metafisika bagi pernyataannya sangat berbeda dengan pandangan Buddha. “Sukma” universal tidak bersifat tetap dalam arti diam, tapi lebih bahwa ia berada dalam gerakan dan aliran yang terus-menerus. Namun, ia juga bukannya tidak-tetap dalam arti bersifat sementara, tapi lebih bersifat abadi.

Menurut al-Sijistani, semua sukma pribadi manusia adalah bagian dari “sukma” universal yang sama. Ketika sukma pribadi meninggalkan sebuah raga manusia, keberadaan raganya yang sementara menjadi berakhir. Ia kembali pada “sukma” universal yang sama dan tidak menjalani kelahiran kembali ragawi lebih lanjut sebelum Hari Penghakiman. Namun, sukma pribadi yang keluar dari raga tetap mempertahankan kepribadiannya. Pada saat kebangkitan dan penghakiman, sukma pribadi itu mencapai kenikmatan jiwa berupa Surga abadi bila ia telah mencapai pengetahuan berakal akan kebenaran, melalui hubungannya dengan kecerdasan pribadi saat mewujud. Bila sukma pribadi tetap terperangkap dalam nafsu tubuh saat mewujud dan tidak meraih pengetahuan berakal akan kebenaran, ia mengalami penyiksaan jiwa yang abadi di Neraka.

Dengan demikian, sukma pribadi tidak bersifat tetap, dalam arti ia tidak abadi dalam keadaan wujudnya. Meski demikian, ia juga bukan tidak-tetap, dalam arti bahwa setelah kebangkitan dan penghakiman, ia berlanjut untuk selamanya, memikul tanggung jawab untuk tindakan-tindakannya saat mewujud.

Sifat Pencipta

Ajaran Buddha tidak menyatakan adanya suatu pencipta semesta yang mahakuasa yang mengarahkan apa yang terjadi di dalamnya. Ia juga tidak menyatakan adanya awal atau akhir yang mutlak dari semesta atau makhluk pribadi. Namun, naskah Kalachakra/Kalacakra sering berbicara tentang cita pribadi yang bercahaya jernih dan abadi di dalam tiap makhluk. Dengan kekuatan dari akibat karma, yang telah dikumpulkan tiap makhluk dari perilaku sebelumnya, tingkat cita paling dalam ini menciptakan semua tampilan mengenai keberadaan samsara maupun nirwana yang dialami makhluk ini secara pribadi dan subjektif. Karena tingkat cita cahaya jernih memiliki semua kemampuan yang memungkinkan tiap makhluk untuk menjadi Buddha yang tercerahkan, naskah Kalachakra/Kalacakra mengacunya sebagai Adibuddha, Buddha pertama atau utama. Ini “pertama” dalam arti menjadi sumber ke-Buddha-an yang pertama atau paling dalam.

Supaya sesuai dengan sila pertama dari Pancasila yang merupakan dasar filsafat negara Indonesia – y akni, kepercayaan pada satu dan hanya Tuhan – penganut Buddha di Indonesia menyatakan bahwa Adibuddha setara dengan Tuhan dalam ajaran Buddha. Meskipun Adibuddha bukanlah pencipta mahakuasa atau hakim dalam arti seperti Allah; namun tiap tingkat cita pribadi yang bercahaya jernih memiliki sifat-sifat tertentu dari Allah sebagaimana dinyatakan al-Sijistani. Untuk mengetahui Allah ataupun Adibuddha, seseorang perlu meniadakan semua sifat dari itu, lalu meniadakan peniadaan itu juga. Keduanya di atas kata-kata dan pengertian. Dalam kasus al-Sijistani, proses ini menyatakan sifat lintas-fana yang mutlak dari Allah; sedangkan di Kalachakra/Kalacakra proses ini menyatakan bahwa cita bercahaya jernih itu hampa segala tingkat cita yang memikirkan keberadaan atau nirkeberadaan. Selain itu, tidak seperti pandangan Islam secara umum bahwa Allah tak mungkin bisa memiliki penampilan, Adibuddha bisa disepakati diwakili oleh wujud Buddha Kalachakra/Kalacakra empat wajah dan dua puluh empat lengan.

[Lihat: Dialog Islam-Buddha.]

Ringkasan

Secara singkat, jika seseorang tidak melihat secara mendalam pada penjelasan metafisika tentang naskah Kalachakra/Kalacakra Buddha dan teolog Isma’ili al-Sijistan, dua sistem ini sepakat bahwa seseorang atau sukma bukanlah tetap atau tidak-tetap, tapi memikul tanggung jawab etika akan tindakannya. Kedua sistem itu juga menekankan peran penting perilaku dan pengetahuan beretika dalam mencapai kebahagiaan kekal – baik kebahagiaan di nirwana maupun di Surga abadi. Pokok-pokok persetujuan ini menandakan jenis pendekatan yang bisa digunakan pada masa kini untuk mendorong kerjasama dan keselerasan Buddha-Islam.

Hubungan Buddha-Islam Masa Kini

Sekarang, terdapat tujuh wilayah utama tempat umat Buddha dan Muslim hidup bersama, atau hidup berdekatan, dan berhubungan satu sama lain. Tempat ini meliputi Tibet, Ladakh, Thailand selatan, Malaysia, Indonesia, Burma/Myanmar, dan Bangladesh. Di tiap tempat itu, hubungan antara dua kelompok tersebut sangat dipengaruhi oleh unsur ekonomi dan politik, alih-alih oleh keyakinan agama mereka.

Tibet

Hubungan antara penduduk Buddha Tibet asli dan masyarakat pendatang Muslim Kasmir yang sudah tinggal ratusan tahun di sini telah berkembang menjadi selaras, yang berawal dari buah kebijakan Dalai Lama Kelima. Saat ini, anggota masyarakat Muslim diterima sepenuhnya sebagai orang Tibet oleh kelompok Tibet lainnya, baik di dalam mapun di luar Tibet, dan mereka ikut memiliki peran penting dalam masyarakat Tibet di pengasingan di India.

Di sisi lain, terdapat masalah-masalah penting dalam hubungan antara umat Buddha Tibet dan Muslim Hui Cina. Dua kelompok ini telah hidup berdampingan selama berabad-abad di wilayah masa kuno Tibet timur laut, Amdo, yang saat ini terbagi antara provinsi Qinghai dan Gansu di Republik Rakyat Cina (RRC). Meskipun, pada beberapa masa, panglima-panglima perang Hui mempertahankan kendali yang ketat atas bagian-bagian di wilayah ini, umat Buddha dan Muslim yang hidup di sana berhasil menjalankan modus vivendi (kesepakatan untuk hidup berdampingan). Namun, selama beberapa dekade terakhir, pemerintahan RRC telah mempromosikan Tibet sebagai tanah dengan banyak kesempatan ekonomi. Akibatnya, pedagang-pedagang Hui dalam jumlah banyak pindah menuju wilayah-wilayah masa kunoTibet, tak hanya di Amdo, tapi juga di Tibet Tengah (Wilayah Otonomi Tibet). Penduduk Tibet setempat melihat pendatang in sebagai pesaing asing dan karenanya muncul banyak kebencian.

[Lihat: Ringkasan Sejarah Muslim Hui Cina. Lihat juga: Hubungan Muslim Hui dengan Orang Tibet dan Uighur, 1996.]

Kelompok Buddha dan Muslim yang sama-sama hidup di wilayah tradisional Tibet di dalam RRC menghadapi batasan-batasan gawat dalam menjalankan ibadah agama mereka. Terutama di Tibet Tengah, masyarakat awam hampir tak memiliki akses terhadap pendidikan agama. Oleh karenanya, perseteruan yang muncul di antara dua kelompok itu tidak didasarkan pada perbedaan agama. Masalahnya bukanlah pendatang baru itu Muslim, tapi karena mereka orang Cina dan mengancam kesejahteraan ekonomi penduduk asli. Dialog dan kerjasama agama sangat sulit dilakukan dalam keadaan sekarang, yakni ketika pemerintah RRC mendorong dan memanfaatkan keberagaman budaya untuk mempertahankan kendali.

[Lihat: Keadaan Agama Buddha dan Islam di Cina, 1996.]

Ladakh

Ladakh, dengan penduduk Buddha Tibet-nya, saat ini merupakan bagian dari Kashmir dan Jammu, dua Provinsi India. Perhatian para tetangga Muslim Ladakh di bagian Kashmir berpusat terutama pada konflik politik Hindu-Muslim yang terkait pada apakah bergabung dengan Pakistan, tetap bersama India, atau menjadi negara merdeka. Selain itu, jalur perdagangan masa kuno antara Kashmir dan Tibet, melalui Ladakh, ditutup karena kekuasaan Komunis Cina atas Tibet. Dengan demikian, pedagang Muslim Kashmir tidak lagi memiliki hubungan dengan masyarakat Buddha di Tibet, atau bahkan dengan masyarakat Muslim yang berkembang di sana.

Konflik antara umat Buddha dan Muslim di Ladakh didorong terutama oleh persaingan dalam mendapatkan bantuan pembangunan. Dengan tradisi Buddha tidak lagi tampak hidup di Tibet, wisatawan Barat beralih memadati Ladakh untuk menyaksikan Buddha Tibet dipraktikkan dalam latar tradisional. Program-program pembangunan, yang didukung oleh lembaga-lembaga India dan internasional, berkembang mengikuti kebangkitan kunjungan wisatawan. Dengan keadaan yang sangat tak stabil di Kashmir, perhatian yang diberikan kepada program pembangunan di sana pun semakin sedikit. Akibatnya, banyak Muslim Kashmir iri terhadap program bantuan yang mengalir ke Ladakh. Orang-orang tampaknya tidak merasa bahwa dialog lintas-iman antara umat Buddha dan Muslim bisa memainkan peran penting dalam menemukan penyelesaian bagi masalah ini.

Thailand Selatan

Sebagian besar Thailand Selatan dihuni oleh penduduk Muslim, yang lebih memiliki kesamaan dengan Muslim di Malaysia daripada penduduk Buddha di wilayah Thailand lainnya. Konflik-konflik di sana membuat umat Muslim menginginkan otonomi politik yang lebih besar. Persoalan-persoalan agama tampaknya tidak relevan.

Burma/Myanmar

Satu pertiga dari penduduk di negara bagian Rakhine Utara di Arakan, Burma/Myanmar adalah Muslim, dengan sisanya merupakan umat Buddha. Dua kelompok ini berasal dari suku berbeda dengan bahasa yang berbeda. Antara 1991 dan 1992, 250.000 orang dari Muslim ini, dikenal sebagai Rohingya, mengungsi ke Bangladesh. Namun, mereka melarikan diri karena diskriminasi dan tekanan dari pemerintah. Pemerintah militer di sana, yang secara resmi mendukung dan menghubungkan diri mereka dengan ajaran Buddha, menganggap penduduk Muslim sebagai penduduk asing. Akibatnya, pemerintah ini menolak kewarganegaraan mereka, membatasi pergerakan mereka, serta membatasi kesempatan pendidikan dan pekerjaan mereka. Pada 1995, United Nations High Commission for Refugees membantu kepulangan sukarela dari 94% pengungsi Muslim ini. Mereka masih menerima bantuan kemanusiaan dan secara perlahan sebagian dari mereka mendapatkan kartu tanda pengenal dari pemerintah. Namun, kerusuhan antiMuslim yang dilakukan oleh umat Buddha masih terjadi. Umat Muslim menuduh bahwa para pelaku kerusuhan itu diawali dan didukung oleh pemerintah. Sebagian besar ketegangan antara dua kelompok agama dan suku itu berakar dari perlakuan istimewa yang diterima penduduk nonBuddha di bawah kekuasaan penjajah Inggris. Perlakuan istimewa yang diberikan pemerintah militer saat ini terhadap umat Buddha mungkin bisa dilihat sebagai balasan terhadap hal itu. Tanpa perubahan kebijakan pemerintah, tampaknya sulit bahwa penyelesaian ketegangan umat Buddha-Muslim di Burma/Myanmar bisa dilakukan melalui dialog agama saja.

Bangladesh

Satu persen dari penduduk negara ini adalah penganut Buddha, sedangkan sebagian besar adalah umat Muslim. Pemeluk Buddha hidup terutama di Distrik Chittagong dan Wilayah Bukit Chittagong. Pada 1988, sebuah perubahan terhadap Undang-Undang Dasar Bangladesh disahkan, yang menyatakan adanya “ cara hidup Islam” untuk negara tersebut. Sejak itu, ketegangan antara kelompok agama dan sekuler di dalam pemerintah meningkat. Hal ini makin memburuk sejak 2011 seiring digelarnya “Perang Melawan Teror”. Serbuan Amerika terhadap Afghanistan dan Irak memberikan bahan bakar bagi gerakan radikal Islam Bangladesh dan ini mengarah pada meningkatnya penindasan terhadap minoritas non-Muslim, termasuk umat Buddha.

Malaysia dan Indonesia

Malaysia dan Indonesia memiliki penduduk asli yang sebagian besar merupakan umat Muslim, dengan di sana-sini terdapat minoritas masyarakat Buddha, yang sebagian besar terdiri dari keturunan Cina dan sebagian keturunan Asia Tenggara. Kelompok Muslim dan Buddha diatur ketat di dalam tradisi agama masing-masing. Bahkan, di Malaysia, hukum secara keras melarang suku Melayu untuk pindah agama dari Islam ke Buddha, atau bahkan menghadiri upacara atau pengajaran Buddha. Bagaimanapun, konflik utama antara dua kelompok ini di tiap negara tersebut tampaknya berasal dari persaingan ekonomi.

Kesimpulan

Mendorong dan mengembangkan hubungan yang baik dan dialog antara umat Buddha dan Muslim di Tibet, Ladakh, Thailand Selatan, Burma/Myanmar, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia adalah penting dan tentu sangat bermanfaat. Hal ini bisa menyelesaikan atau meredakan ketegangan antara dua kelompok agama, meskipun kemampuannya untuk menyelesaikan sebab ekonomi dan politik sebagai sumber konflik masih terbatas. Perhatian utama dalam pengembangan saling pemahaman antara umat Buddha dan Muslim terletak pada usaha para pemimpin kedua agama itu, di luar latar keadaan di mana umat Buddha dan Muslim hidup saling berdampingan masa kini.

Posisi Yang Mulia Dalai Lama Terkait Islam dan Keselarasan Lintas Iman

Selama bertahun-tahun, Yang Mulia Dalai Lama Keempat Belas telah sering bertemu dengan pemimpin agama Islam dalam acara lintas iman di banyak tempat di dunia. Pesan Dalai Lama jelas. Seusai Konferensi Pers yang diadakan Dalai Lama di Foreign Correspondents’ Press Club di New Delhi, India pada 8 Oktober 2006, Agence France-Presse melaporkan, “Dalai Lama telah memperingatkan bahaya dari penggambaran Islam sebagai agama kekerasan, sambil menyatakan bahwa Muslim telah dipersalahkan secara kejam oleh Barat sejak serangan 11 September. Terus mendorong tenggang rasa agama, pemimpin Buddha paling berpengaruh di dunia ini berkata pada hari Minggu bahwa pembicaraan tentang “benturan perdaban antara dunia Barat dan Muslim adalah salah dan berbahaya”. Serangan teroris Muslim telah mengganggu pandangan orang-orang terhadap Islam, membuat mereka percaya bahwa Islam adalah keyakinan para ekstremis, bukan agama yang didasarkan pada welas asih .. . Semua agama memiliki ekstremis dan “salah jika kita menyamaratakan (Muslim). Mereka (teroris) tidak mewakili keseluruhan sistem Islam.” … Dalai Lama berkata, ia telah menetapkan dirinya dalam peran pembela Islam karena ia ingin membentuk-ulang pandangan orang-orang terhadap Islam.”

Dalai Lama mengulang tema ini dalam konferensi “Risiko Globalisasi: Apakah Agama Menawarkan Solusi atau Justru Bagian dari Masalah?” yang didukung oleh Forum 2000, di Praha, Republik Ceko, pada 10 Oktober 2006. Di sana, ia berkata, “Di masa lalu, seperti hari ini, terdapat perpecahan atas nama agama dan untuk mengatasinya kita harus melakukan dialog terus-menerus antar berbagai agama… . Bila Anda sungguh percaya agama Anda berasal dari Tuhan, Anda pun harus percaya bahwa agama lain juga ciptaan Tuhan.”

Di sini, Dalai Lama menggemakan kata-kata Dr. Sayyid M. Syeed, Sekretaris Jenderal Islamic Society of North America. Dalam pertemuan lintas iman bertajuk “Pertemuan Hati yang Menerangi Welas Asih”, di San Fransisco, California pada 15 April 2006, yang dihadiri oleh Dalai Lama, Dr. Syeed berkata, “Al-Quran berkata kepada Muslim bahwa kemanusiaan hanya akan terdiri dari orang-orang dengan satu keyakinan bila itu yang dikehendaki oleh Allah.”

Peran Masa Kini Upacara Kalachakra/Kalacakra sebagai Alat Keselarasan Umat Buddha-Muslim

Sebuah hal yang patut dicatat dari perkembangan dialog umat Buddha-Muslim adalah peran upacara Kalachakra/Kalacakra sebagai alat bagi dialog ini. Sebagai contoh, Pangeran Sadruddin Aga Khan, sebagai tamu kehormatan, menghadiri upacara Kalachakra/Kalacakra yang dipimpin oleh Dalai Lama di Rikon, Swiss pada Juli 1985. Mendiang pangeran itu adalah paman dari Yang Mulia Pangeran Karim Aga Khan IV, pemimpin rohani masa kini cabang Nizari dari Isma’ili Syiah. Tujuh tahun kemudian, Dr. Tirmiziou Diallo, pemimpin Sufi bersilsilah di Guinea, Afrika Barat, menghadiri upacara Kalachakra/Kalacakra yang dipimpin oleh Dalai Lama di Graz, Austria pada Oktober 2002.

Di samping itu, selama upacara Kalachakra/Kalacakra yang dipimpin Dalai Lama pada Januari 2003 di Bodh Gaya, India, tempat tersuci dalam dunia Buddha, Dalai Lama mengunjungi masjid setempat yang terletak di dekat stupa utama. Kunjungan ini dicatat dalam laporan resmi Departemen Informasi dan Urusan Internasional Pemerintah Tibet Tengah Dharamsala, India sebagai berikut, “Di sana Yang Mulia diterima oleh Maulana Mohammad Shaheeruddin, Imam masjid sekaligus Pemimpin sekolah agama yang menempel pada masjid itu. Berbicara kepada para guru dan murid di sana, Yang Mulia berkata bahwa meskipun kita mengikuti agama yang berbeda, pada dasarnya kita semua manusia yang sama. Semua tradisi keagamaan mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang baik. Jadi, tugas kita untuk bekerja menuju tujuan itu.”

Tanggung jawab Universal sebagai Dasar Kerjasama Umat Buddha-Muslim

Dalai Lama sering menekankan bahwa kerjasama lintas iman, baik antara umat Buddha dan Muslim atau di antara semua agama di dunia, perlu didasarkan pada kebenaran universal yang bisa diterima oleh kerangka keagamaan masing-masing kelompok. Kebenaran universal itu adalah bahwa setiap orang ingin bahagia dan tak seorang pun ingin menderita, dan bahwa seisi dunia ini saling terhubung dan saling bergantung. Kemudian, mengenai naskah Kalachakra/Kalacakra terkait kesamaan ajaran Buddha-islam bahwa setiap orang memikul tanggung jawab etika akan tindakan mereka, dua agama ini memiliki penjelasan filosofis yang berbeda. Buddha menjelaskan dua pokok itu dalam kerangka akal sehat, sementara Islam menjelaskannya dalam kerangka kesamaan di antara semua ciptaan Allah. Meski demikian, kita menemukan kesamaan suara di dua agama ini yang mendukung kebijakaan mengenai tanggung jawab universal.

Guru Buddha India di abad ke-8, Shantidewa, menulis dalam Melibatkan Diri dalam Perilaku Bodhisattwa (Skt. Bodhisattvacāryāvatāra), VIII 91, “Meskipun memiliki banyak unsur, dengan pembagian ada tangan dan sebagainya, tubuh perlu dirawat sebagai sebuah keseluruhan; demikian juga, di samping segala perbedaan di antara semua makhluk pengembara, terkait dengan kebahagiaan dan duka, mereka semua sama dengan diri saya yang mengharapkan bahagia, dan karenanya kita membentuk suatu keseluruhan.”

Hal serupa, sebuah hadist dari Nu'man bin Basyir mencatat sabda Nabi Muhammad, “Perumpamaan orang-orang mukmin yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi, adalah bagaikan satu tubuh. Apabila sebagian anggota tubuh itu sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit karena tidak bisa tidur dan demam.”

Melalui ajaran-ajaran semacam itu dan usaha berkelanjutan bukan hanya dari para pemimpin rohani Buddha dan Islam, tapi juga dukungan dari anggota dua komunitas agama, harapan bagi keselarasan agama antara umat Buddha dan Muslim serta, secara umum, di antara semua agama di dunia, tampak cerah.