Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Janji dan Tanggung Jawab dalam Buddha > Janji dan Tanggung Jawab > Sumpah Tambahan Bodhisattwa

Sumpah Tambahan Bodhisattwa

Alexander Berzin
Agustus 1997

Pendahuluan

Sumpah-sumpah tambahan bodhisattwa mencegah empat puluh enam tindakan tercela (nyes-byas). Tindakan-tindakan tercela ini dibagi ke dalam tujuh kelompok yang masing-masing merusak latihan kita dalam enam sikap yang menjangkau-jauh (pha-rol-tu phyin-pa, Skt. paramita, kesempurnaan-kesempurnaan) dan mengganggu kita dalam memberi manfaat bagi orang lain.

Enam sikap yang menjangkau-jauh itu adalah

  1. kemurahan hati
  2. tertib-diri yang berbudi pekerti
  3. tenggang rasa (kesabaran)
  4. kegigihan yang riang (semangat yang positif)
  5. keteguhan batin (daya pemusatan)
  6. kesadaran pembeda (kebijaksanaan)

Meskipun tindakan-tindakan tercela itu bertentangan dan menghambat kemajuan kita menuju pencerahan, melakukannya, meskipun dengan empat unsur pengikat (kun-dkris bzhi) lengkap, tidak berarti menggugurkan sumpah Bodhisattwa kita. Namun, semakin tidak lengkap unsur-unsur itu, semakin sedikit kerusakan yang kita timbulkan bagi perkembangan rohani kita di jalan bodhisattwa. Jika kita melakukan salah satu tindakan tercela ini, kita harus mengakui kesalahan kita dan menerapkan kekuatan lawan, seperti dalam kasus sumpah-akar bodhisattwa.

[Untuk lebih rinci tentang empat unsur pengikat dan kekuatan lawan, lihat: Sumpah-Akar Bodhisattwa.]

Ada banyak rincian untuk memelajari empat puluh enam tindakan cela ini, dengan banyak pengecualian ketika tidak ada kesalahan dalam melakukannya. Namun, secara umum rusaknya perkembangan sikap-sikap yang menjangkau jauh dan rusaknya manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain tergantung pada dorongan di balik tindakan-tindakan tercela kita. Jika dorongan itu adalah tataran cita yang gelisah, seperti kemelekatan, kemarahan, kedengkian, atau keangkuhan, kerusakannya jauh lebih besar daripada jika tataran cita kita tidak kacau, meskipun tataran ini merusak, seperti ketidakpedulian, kemalasan, atau kelalaian. Dengan ketidakpedulian, kita tidak memiliki cukup keyakinan atau rasa hormat dalam melaksanakan latihan. Dengan kemalasan, kita mengabaikan laku kita karena kita merasa lebih senang dan lebih mudah untuk tidak melakukan apa-apa. Ketika kita kurang memiliki kewaspadaan, kita sepenuhnya lupa pada akad-bulat kita untuk membantu orang lain. Bagi banyak dari empat puluh enam tindakan itu, kita tidak bersalah jika kita punya niat untuk pada akhirnya menyingkirkan mereka dari perilaku kita, tapi sikap dan perasaan gelisah kita masih terlalu kuat untuk melatih pengendalian-diri yang cukup.

Penyajian di sini sesuai dengan yang diberikan oleh guru Gelug abad kelima belas Tsongkhapa dalam Penjelasan tentang Tertib-Diri yang Berbudi Pekerti Bodhisattwa: Jalan Utama menuju Pencerahan (Byang-chub sems-dpa'i tshul-khrims-kyi rnam-bshad byang-chub gzhung-lam).

Tujuh Tindakan Tercela yang Merusak Latihan Kemurahan Hati yang Menjangkau-Jauh

Kemurahan hati (sbyin-pa, Skt. dana) diartikan sebagai sikap rela memberi. Ini meliputi kerelaan untuk memberi benda-benda lahiriah, perlindungan dari keadaan-keadaan menakutkan, dan ajaran-ajaran.

Dari tujuh tindakan tercela yang berdampak negatif pada perkembangan kemurahan hati kita, dua membahayakan kerelaan kita untuk memberi orang lain benda-benda lahiriah, dua membahayakan kerelaan kita untuk memberi orang lain perlindungan dari keadaan-keadaan menakutkan, dua meliputi tidak menyediakan unsur-sebab bagi orang lain untuk menumbuhkan dan mengamalkan kemurahan hati, dan satu merusak perkembangan kemurahan hati kita dalam menyampaikan ajaran-ajaran.

Dua Tindakan Tercela yang Merusak Perkembangan Kerelaan Kita untuk Memberikan Benda-Benda Lahiriah kepada Orang Lain

(1) Tidak membuat persembahan kepada Tiga Permata melalui tiga gerbang; tubuh, wicara dan cita

Karena berada dalam suasana hati yang buruk, seperti kesal pada sesuatu, atau karena kemalasan, ketidakpedulian, atau kita semata-mata lalai, tidak membuat persembahan kepada para Buddha, Dharma, dan Sangha, tiga kali tiap siang dan tiga kali tiap malam, setidaknya sujud-sembah dengan tubuh kita, kata-kata pujian dengan wicara kita, dan mengingat mutu-mutu baik mereka dengan cita dan hati kita. Jika kita tidak bisa setidaknya bersikap cukup murah hati untuk mempersembahkan hal-hal ini dengan gembira tiap siang dan malam kepada Tiga Permata Perlindungan, bagaimana kita akan menyempurnakan kerelaan kita untuk memberikan segalanya kepada semua orang?

(2) Menuruti Cita Kita yang Berhasrat

Karena hasrat yang sangat besar, kemelekatan, atau tidak adanya kepuasan, menuruti lima jenis sasaran indrawi yang didambakan – pandangan, suara, wewangian, rasa, atau sentuhan. Misalnya, karena kemelekatan pada kelezatan, kita mengunggis kue di lemari es meskipun kita tidak lapar. Ini merusak pertarungan kita melawan kekikiran. Kita segera mendapati diri kita menimbun kue, dan bahkan menyembunyikannya di belakang rak, sehingga kita tidak perlu berbagi dengan orang lain. Jika kita sepenuhnya berniat untuk mengatasi kebiasaan buruk ini tetapi belum bisa mengendalikannya karena kemelekatan kita pada makanan begitu kuat, kita tidak salah mengambil sepotong kue. Namun, kita berusaha untuk meningkatkan pengendalian-diri dengan mengambil potongan yang lebih kecil dan tidak terlalu sering.

Dua Tindakan Tercela yang Merugikan Perkembangan Kerelaan Kita untuk Memberi Orang Lain Perlindungan dari Keadaan-Keadaan Menakutkan

(3) Tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua

Sasaran dari tindakan ini meliputi orang tua kita, guru, orang-orang yang memiliki mutu-mutu unggul dan, secara umum, orang-orang yang berkedudukan lebih tinggi atau yang semata-mata lebih tua dari kita. Ketika kita tidak memberi mereka tempat duduk kita di dalam bus, menjemput mereka di bandara, membantu membawakan tas mereka, dan sebagainya, karena keangkuhan, kemarahan, kedengkian, kemalasan, ketidakpedulian, atau kelalaian, kita meninggalkan mereka dalam keadaan-keadaan menakutkan dan mengkhawatirkan yang sulit diatasi.

(4) Tidak menjawab orang yang bertanya kepada kita

Karena keangkuhan, kemarahan, kedengkian, kemalasan, ketidakpedulian, atau kelalaian, tidak menjawab dengan senang hati pertanyaan-pertanyaan tulus orang lain. Dengan mengabaikan mereka, kita meninggalkan mereka dalam dilema – serta dalam keadaan menakutkan dan tidak aman.

Sebagai gambaran dari jenis rinci yang ada dalam ulasan Tsongkhapa tentang sumpah-sumpah ini, mari kita melihat pengecualian-pengecualian ketika kita tidak salah untuk tetap diam atau menunda tanggapan kita. Dalam kerangka diri kita sendiri sebagai dasar tindakan ini, kita perlu tidak menjawab jika kita terlalu sakit atau orang yang bertanya itu sengaja membangunkan kita di tengah malam. Kecuali ada keadaan darurat, kita tidak salah berkata pada orang itu untuk menunggu sampai kita merasa lebih baik atau sampai pagi.

Ada pengecualian-pengecualian menurut keadaan, misalnya ketika seseorang menyela kita dengan sebuah pertanyaan saat kita tengah mengajar, memberi kuliah, melakukan upacara, mengucapkan kata-kata yang menghibur orang lain, menerima pelajaran, atau mendengarkan ceramah. Kita katakan kepada mereka secara sopan untuk menyimpan pertanyaan mereka sampai nanti.

Keadaan-keadaan tertentu, sesuai kebutuhan, mengharuskan kita diam atau menunda jawabannya. Sebagai contoh, jika kita hendak menanggapi secara mendalam pertanyaan tentang neraka pada saat kuliah umum di Barat tentang ajaran Buddha, kita mungkin menyebabkan banyak orang keluar, menyebabkan kendala bagi keterlibatan mereka dengan Dharma. Diam lebih baik jika dalam menjawab pertanyaan seseorang, misalnya pertanyaan menyelidik seorang fanatik tentang latar belakang kesukuan kita, kita akan menyebabkan orang itu tidak menyukai kita dan karenanya menjadi tidak mau menerima bantuan kita. Diam juga lebih baik jika itu akan menyebabkan orang lain berhenti bertindak merusak dan membawa mereka ke pola perilaku yang lebih membangun – misalnya, ketika seseorang yang secara kejiwaan bergantung pada kita meminta kita untuk menjawab setiap pertanyaan dalam kehidupannya dan kita ingin mengajarkannya untuk membuat keputusan dan memikirkan hal-hal untuk dirinya sendiri.

Selain itu, jika kita berada pada sebuah undur-diri meditasi dengan peraturan untuk diam dan seseorang bertanya pada kita, kita tidak perlu berbicara. Akhirnya, yang terbaik adalah menyediakan sesi pertanyaan dan jawaban pada akhir sebuah perkuliahan jika, dengan melanjutkan ketika khalayak sudah lelah dan waktu sudah sangat malam, kita akan menimbulkan kebencian dan kemarahan terhadap kita.

Dua Tindakan Tercela Tidak Menyediakan Unsur-Sebab bagi Orang Lain untuk Mengolah dan Mengamalkan Kemurahan Hati

(5) Tidak bersedia hadir ketika diundang sebagai tamu

Jika kita menolak untuk berkunjung atau memenuhi undangan makan karena keangkuhan, kemarahan, kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian, kita menghilangkan kesempatan orang lain untuk membangun kekuatan positif (bsod-nams Skt. punya, daya positif, pahala) dengan menawarkan keramahtamahan. Kecuali ada alasan yang tepat untuk menolak, kita harus menerima tanpa peduli betapa sederhana rumah itu.

(6) Tidak menerima hadiah berupa benda lahiriah

Untuk alasan yang sama seperti pada kasus sebelumnya.

Satu Tindakan Tercela yang Merusak Perkembangan Kemurahan Hati dalam Memberikan Ajaran

(7) Tidak memberi Dharma kepada mereka yang ingin belajar

Di sini dorongan untuk menolak mengajarkan ajaran Buddha, meminjamkan buku-buku Dharma kita kepada orang lain, berbagi catatan, dan seterusnya, adalah kemarahan, kedengkian, kecemburuan bahwa orang lain nantinya akan lebih pandai dari kita, kemalasan, atau ketidakpedulian. Dalam kasus sumpah-akar kedua bodhisattwa, kita menolak karena kemelekatan dan kekikiran.

Sembilan Tindakan Tercela yang Merusak Latihan Sila yang Menjangkau-Jauh

Sila (tshul-khrims, Skt. shila) adalah sikap menahan diri dari tindakan-tindakan negatif. Ini juga meliputi tata tertib untuk memasuki tindakan-tindakan positif dan untuk membantu orang lain.

Dari sembilan tindakan tercela yang menghambat perkembangan kita dalam sila, empat menyangkut keadaan-keadaan di mana pertimbangan utama kita adalah orang lain, tiga menyangkut keadaan diri kita sendiri, dan dua menyangkut diri kita sendiri dan orang lain.

Empat Tindakan Tercela yang Menyangkut Keadaan-Keadaan di mana Pertimbangan Utama Kita adalah Orang Lain

(1) Mengabaikan orang-orang yang bersila buruk

Jika, karena kemarahan, kedengkian, kemalasan, ketidakpedulian, atau kelalaian, kita mengabaikan, menelantarkan, atau merendahkan orang-orang yang telah melanggar sumpah atau bahkan melakukan kejahatan keji, kita melemahkan sila kita untuk memasuki tindakan positif dan untuk membantu orang lain. Orang-orang tersebut membutuhkan kepedulian dan perhatian khusus dari kita karena mereka telah membangun sebab-sebab duka dan ketidakbahagiaan masa kini dan masa depan. Tanpa merasa paling benar atau kemarahan susila, kita mencoba membantu mereka, misalnya dengan mengajarkan meditasi kepada para narapidana yang berminat.

(2) Tidak menegakkan latihan susila demi iman orang lain

Buddha melarang banyak tindakan yang, meskipun pada dasarnya tidak merusak, merugikan kemajuan rohani kita – misalnya, orang awam dan biksu minum alkohol, atau biksu berbagi kamar dengan anggota lawan jenis. Menahan diri dari perilaku seperti itu sama-sama dilatih oleh para pelaku Hinayana dan Bodhisattwa. Jika, sebagai bodhisattwa pemula, kita mengabaikan larangan-larangan tersebut karena kurang memiliki rasa hormat atau keyakinan dalam ajaran-ajaran budi pekerti Buddha, atau karena kemalasan untuk berlatih pengendalian-diri, kita menyebabkan orang lain yang melihat perilaku kita kehilangan iman dan kekaguman pada umat Buddha dan ajaran Buddha. Oleh karena itu, dengan memperhatikan kesan tabiat kita bagi orang lain, kita menahan diri, misalnya, dari menggunakan obat-obatan terlarang.

(3) Bersikap picik ketika menyangkut kesejahteraan orang lain

Buddha memberikan banyak aturan kecil kepada para biksu untuk melatih perilaku mereka, misalnya selalu menyanding tiga setel jubah di tempat kita tidur. Namun, kadang-kadang kebutuhan orang lain mengesampingkan pentingnya mengikuti latihan kecil ini, misalnya jika seseorang jatuh sakit dan kita harus tinggal semalaman untuk merawat orang itu. Jika, karena kemarahan atau kedengkian terhadap orang itu, atau semata-mata karena malas untuk terjaga sepanjang malam, kita menolak dengan alasan bahwa kita tidak membawa tiga setel jubah, maka kita melakukan tindakan tercela. Menjadi seorang fanatik kaku terhadap aturan-aturan akan menghambat perkembangan sila kita yang seimbang.

(4) Tidak melakukan tindakan merusak ketika kasih dan welas asih membutuhkannya

Kadang-kadang, muncul beberapa keadaan ekstrem tertentu di mana kesejahteraan orang lain benar-benar terancam dan tidak ada pilihan lain untuk mencegah malapetaka selain melakukan salah satu dari tujuh tindakan ragawi dan wicarawi yang merusak. Tujuh tindakan ini adalah mengambil nyawa, mengambil sesuatu yang tidak diberikan kepada kita, menuruti perilaku perkelaminan yang tidak pantas, berbohong, berbicara secara memecah belah, menggunakan bahasa yang kasar dan kejam, atau mengobrol tak tentu arah. Jika pada waktu itu kita melakukan tindakan tersebut tanpa perasaan yang gelisah, seperti kemarahan, hasrat, atau keluguan tentang sebab dan akibat, tetapi semata-mata didorong oleh keinginan untuk mencegah duka orang lain – sepenuhnya rela menerima akibat-akibat negatif apapun yang mungkin menimpa kita, bahkan kepedihan terburuk sekalipun – kita tidak merusak sila yang menjangkau-jauh. Bahkan, kita membangun banyak sekali kekuatan positif yang melancarkan kita di jalan rohani.

Menolak untuk melakukan tindakan-tindakan merusak ini ketika kebutuhan menuntut adalah salah, namun, hanya jika kita telah mengambil dan menjaga sumpah bodhisattwa. Keengganan untuk menukar kebahagiaan kita demi kesejahteraan orang lain menghambat kesempurnaan sila kita untuk selalu membantu orang lain. Tidak salah jika kita hanya memiliki welas asih yang dangkal dan tidak menjaga sumpah bodhisattwa atau melatih tabiat yang digariskan oleh sumpah-sumpah itu. Kita menyadari bahwa karena welas asih kita lemah dan goyah, duka yang kita akan alami dari tindakan merusak itu mungkin dengan mudah menyebabkan kita menyesali tabiat bodhisattwa. Kita bahkan mungkin meninggalkan jalan dalam berupaya membantu orang lain. Seperti perintah bahwa bodhisattwa pada tahap-tahap perkembangan lebih rendah hanya merusak diri mereka sendiri dan kemampuan mereka untuk membantu orang lain jika mereka berusaha menjalankan laku bodhisattwa pada tahap-tahap yang lebih tinggi – s eperti memberikan tubuh mereka pada harimau betina yang lapar – lebih baik kita tetap berhati-hati dan menahan diri.

Karena mungkin ada kebingungan tentang unsur-sebab apa yang memerlukan tindakan bodhisattwa tersebut, mari kita lihat contoh-contoh yang diambil dari kepustakaan ulasan. Harap diingat bahwa ini adalah tindakan-tindakan terakhir ketika semua cara gagal mengurangi atau mencegah duka orang lain. Sebagai bodhisattwa pemula, kita bersedia mengambil nyawa orang yang hendak melakukan pembunuhan massal. Kita tidak ragu-ragu menyita obat-obatan yang ditujukan untuk upaya bantuan di negara korban perang yang dijual melalui pasar gelap, atau mengambil dana amal dari pengelola yang menghambur-hamburkan atau salah mengurusnya. Kita rela, jika laki-laki, untuk berhubungan kelamin dengan istri orang lain – atau dengan wanita lajang yang orang tuanya melarangnya, atau dengan pasangan lain yang tidak sepantasnya – ketika wanita itu memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan bodhicita tetapi kewalahan dengan hasrat untuk berhubungan kelamin dengan kita dan yang, jika ia mati tanpa berhubungan kelamin dengan kita, akan membawa dendam itu sebagai naluri di kehidupan masa depan. Akibatnya, ia akan sangat memusuhi kaum bodhisattwa dan jalan bodhisattwa.

Kerelaan bodhisattwa untuk memasuki tindakan perkelaminan yang tidak pantas ketika semua cara lain gagal untuk membantu mencegah seseorang mengembangkan sikap yang sangat negatif terhadap jalan rohani kedermawanan memunculkan titik penting bagi pasangan-pasangan yang sudah menikah di jalan bodhisattwa untuk berpikir. Kadang-kadang suatu pasangan menjadi terlibat dalam Dharma dan salah satu dari mereka, misalnya si istri, berharap untuk melajang, menghentikan hubungan perkelaminan dengan suaminya ketika si suami tidak berpikiran sama. Si suami masih memiliki kemelekatan pada urusan perkelaminan dan menganggap keputusan si istri sebagai penolakan pribadi. Kadang-kadang kefanatikan dan kurangnya kepekaan si istri mendorong suaminya untuk menyalahkan Dharma atas kekecewaan dan ketidakbahagiaannya. Ia meninggalkan perkawinan dan meninggalkan ajaran Buddha dengan kebencian yang dalam. Jika tidak ada cara lain untuk mencegah sikap bermusuhannya pada jalan rohani dan si istri menjaga sumpah bodhisattwa, si istri akan mampu menilai welas asihnya untuk menentukan apakah itu cukup kuat untuk merelakan dirinya agar sesekali berhubungan kelamin dengan suaminya tanpa merusak kemampuannya untuk membantu orang lain. Ini sangat sesuai dalam kerangka sumpah-sumpah tantra mengenai perilaku suci.

Sebagai bodhisattwa pemula, kita rela berbohong ketika itu menyelamatkan hidup orang lain atau mencegah orang lain disiksa dan dicederai. Kita tidak ragu-ragu untuk berbicara secara memecah belah untuk memisahkan anak-anak kita dari kumpulan teman yang buruk – atau murid dari guru yang menyesatkan – yang memasukkan pengaruh-pengaruh negatif terhadap mereka dan mendorong sikap dan perilaku berbahaya. Kita tidak menahan diri dari penggunaan bahasa kasar untuk menyadarkan anak-anak kita dari kebiasaan-kebiasaan negatif, misalnya tidak mengerjakan pekerjaan rumah mereka, ketika mereka tidak mendengarkan nasihat. Dan ketika orang lain, yang tertarik pada ajaran Buddha, benar-benar kecanduan pada omong kosong, minum-minum, berpesta, bernyanyi, berdansa, atau menceritakan lelucon-lelucon jorok atau cerita kekerasan, kita rela bergabung jika penolakan akan membuat orang-orang ini merasa bahwa kaum bodhisattwa, dan umat Buddha pada umumnya, tidak pernah bersenang-senang dan bahwa jalan rohani bukan untuk mereka.

Tiga Tindakan Tercela mengenai Keadaan Kita Sendiri

(5) Mencari nafkah melalui mata pencaharian yang salah

Mata pencaharian tersebut adalah melalui cara-cara yang tidak jujur atau licik, terutama pada lima jenis utama: (a) kepura-puraan atau kemunafikan, (b) sanjungan atau menggunakan kata-kata halus untuk menipu orang lain, (c) mengancam, memeras, atau memanfaatkan kesalahan orang, (d) menuntut suap atau meminta denda untuk pelanggaran yang tidak nyata, dan (e) memberi suap untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar sebagai imbalannya. Kita menggunakan cara-cara tersebut karena tidak memiliki rasa martabat susila atau kehati-hatian.

(6) Kegirangan dan melakukan suatu kegiatan sembrono

Karena tidak puas, resah, bosan, atau hiperaktif, dan berhasrat pada suatu kesenangan, kita melakukan suatu hiburan yang sembrono – seperti berkeliaran di pusat perbelanjaan, membolak-balik saluran televisi, memainkan permainan komputer dan sebagainya. Kita menjadi benar-benar terlena dan tak terkendali. Jika kita terlibat dalam kegiatan-kegiatan semacam itu dengan orang lain untuk menenangkan kemarahan mereka atau mengentaskan kemurungan mereka, untuk membantu mereka jika mereka mencandu hal-hal seperti itu, untuk mendapatkan kepercayaan mereka jika kita curiga bahwa mereka memusuhi kita, atau untuk mempererat pertemanan lama, kita tidak merusak latihan budi pekerti untuk menertibkan diri kita untuk bertindak secara positif dan untuk menolong orang lain. Namun, jika kita berpaling pada kegiatan-kegiatan ini dengan merasa tak ada yang lebih baik untuk dilakukan, kita menipu diri kita sendiri. Selalu ada hal yang lebih baik untuk kita lakukan. Namun, kadang-kadang kita perlu beristirahat untuk memperbarui semangat dan tenaga kita ketika kita lelah atau muram. Tidak ada yang salah dengan itu, selama kita menetapkan batas-batas yang wajar.

(7) Bermaksud untuk semata-mata mengembara dalam samsara

Banyak sutra menjelaskan bahwa para bodhisattva lebih memilih untuk tinggal dalam samsara daripada mencapai kebebasan. Adalah kesalahan menerima ini secara harfiah dengan mengartikan bahwa kita tidak bekerja untuk mengatasi perasaan dan sikap yang gelisah dan mencapai kebebasan, tapi hanya menjaga khayalan kita dan mengupayakannya untuk membantu orang lain. Ini berbeda dengan sumpah-akar bodhisattwa kedelapan belas yaitu menghentikan bodhicita, yang dengan itu kita sepenuhnya bertekad untuk berhenti mengupayakan kebebasan dan pencerahan. Di sini, kita hanya menganggap bahwa membebaskan diri kita dari perasaan-perasaan yang gelisah adalah tidak penting dan tidak perlu, yang benar-benar melemahkan sila kita. Meskipun pada jalan bodhisattwa, terutama ketika itu memerlukan tantra anutarayoga, kita mengubah dan menggunakan tenaga dari hasrat untuk meningkatkan kemajuan rohani kita, ini tidak berarti kita memberikan kekuasaan bebas bagi hasrat-hasrat kita dan tidak berupaya membebaskan diri dari mereka.

Dua Tindakan Tercela Menyangkut Diri Kita dan Orang Lain

(8) Tidak membersihkan diri dari perilaku yang menyebabkan nama baik kita jatuh

Misalnya kita suka makan daging. Jika kita berada di antara pengikut Buddha vegetarian dan kita bersikeras makan bistik, kita mengundang kecaman dan rasa tidak hormat mereka dari mereka. Mereka tidak akan mengindahkan kata-kata kita tentang Dharma dan akan menyebarkan cerita tentang kita, dan membuat orang lain tidak menerima bantuan kita. Sebagai bodhisattwa pemula, jika kita tidak membebaskan diri dari perilaku seperti itu, ini adalah kesalahan besar.

(9) Tidak memperbaiki orang-orang yang bertindak dengan perasaan dan sikap yang gelisah

Jika kita berada dalam kedudukan berkuasa di kantor, sekolah, wihara, atau rumah tangga dan, karena kemelekatan pada anggota-anggota tertentu atau keinginan untuk disukai, kita gagal memarahi atau menghukum mereka yang memiliki perasaan dan sikap yang gelisah yang bertindak secara mengganggu, kita merusak tata tertib dan budi pekerti seluruh kelompok.

Empat Tindakan Tercela yang Merusak Latihan dalam Tenggang Rasa yang Sabar dan Menjangkau-Jauh

Tenggang rasa yang sabar (bzod-pa, Skt. kshanti) adalah kesediaan untuk berurusan, tanpa kemarahan, dengan orang-orang yang melakukan kejahatan, dengan kesukaran-kesukaran yang ada dalam menjalankan laku Dharma, dan dengan duka kita sendiri.

(1) Meninggalkan empat latihan positif

Latihan-latihan ini adalah tidak membalas ketika (a) dicaci-maki atau dikecam secara lisan, (b) menjadi sasaran kemarahan orang lain, (c) dipukul, atau (d) dihina. Karena melatih diri kita untuk tidak membalas empat keadaan tersebut berperan sebagai sebab bagi kesabaran kita untuk tumbuh, jika kita mengesampingkan ini maka kita merusak perkembangan sifat positif ini dari diri kita.

(2) Mengabaikan orang-orang yang marah dengan kami

Jika orang lain terganggu dengan kita dan menyimpan dendam, jika kita tidak melakukan apa-apa untuk itu dan tidak berusaha untuk meredakan kemarahan mereka, karena kesombongan, kedengkian, kecemburuan, kemalasan, ketidakpedulian, atau tidak merawat, kita menghambat kesempurnaan kesabaran kita karena kita membiarkan lawan dari kesabaran, yaitu kemarahan, untuk terus berlanjut. Untuk menghindari kesalahan ini, kita meminta maaf karena kita telah menyakiti perasaan maupun melakukan kesalahan atau tidak.

(3) Menolak permintaan maaf orang lain

Kehancuran akar bodhisattwa ketiga adalah tidak mendengarkan permintaan maaf orang lain ketika mereka memohon ampunan ketika kita marah kepada mereka. Di sini, kita tidak menerima permintaan maaf mereka setelah kejadiannya, ketika kita menyimpan dendam.

(4) Memikirkan kemarahan

Ketika kita marah dalam keadaan apapun, kita bertindak secara bertentangan dengan perkembangan tenggang rasa yang sabar jika kita memikirkannya, menyimpan dendam, tanpa menerapkan kekuatan pelawan untuk menentangnya. Jika kita menerapkan kekuatan ini, misalnya bermeditasi pada kasih terhadap sasaran-sasaran keusilan kita, tetapi tidak berhasil, kita tidak salah. Karena kita setidaknya mencoba, kita tidak melemahkan pertumbuhan kesabaran kita.

Tiga Tindakan Tercela yang Merusak Latihan dalam Kegigihan yang Riang dan Menjangkau-Jauh

Kegigihan yang riang (brtson-grus, Skt. virya, semangat positif) adalah bersuka-ria dalam melakukan hal-hal yang membangun.

(1) Mengumpulkan pengikut karena mendambakan pemujaan dan rasa hormat

Ketika kita mengumpulkan teman, pengagum atau murid, atau memutuskan untuk menikah atau hidup dengan seseorang, jika dorongan kita adalah keinginan agar orang lain menghormati kita, memberi kita kasih dan sayang, melimpahi kita dengan hadiah, melayani kita, memijit punggung kita, dan mengerjakan tugas-tugas sehari-hari kita, kita kehilangan semangat untuk melakukan sesuatu yang positif, misalnya membantu orang lain. Kita sangat tertarik pada cara bertindak rendahan, yaitu meminta pada orang lain apa yang harus dilakukan untuk kita.

(2) Tidak melakukan apa-apa, karena kemalasan, dst.

Jika kita menyerah pada kemalasan, ketidakpedulian, apati, suasana hati tidak ingin melakukan apapun, atau tidak tertarik pada apapun, atau kecanduan tidur berlama-lama, berbaring di tempat tidur sepanjang hari, tidur siang, atau bermalas-malasan tanpa melakukan apa-apa, kita menjadi mencandunya dan kehilangan semua semangat untuk menolong orang lain. Tentu saja, kita beristirahat jika kita sakit atau lelah, tapi memanjakan diri kita dengan bersikap lembek adalah sebuah kesalahan besar.

(3) Menghabiskan waktu dengan kisah-kisah, karena kemelekatan

Hambatan ketiga yang menghalangi pertumbuhan semangat untuk membantu orang lain adalah membuang waktu dengan kebiasaan yang tidak penting. Ini meliputi kebiasaan-kebiasaan bercerita, mendengarkan, membaca, menonton televisi atau film, atau berselancar di Internet mencari cerita-cerita tentang perkelaminan, kekerasan, selebriti, tipu daya politik, dan sebagainya.

Tiga Tindakan Tercela yang Merusak Latihan Keteguhan Batin yang Menjangkau Jauh

Keteguhan batin (bsam-gtan, Skt. dhyana, daya pemusatan) adalah tataran cita yang tidak kehilangan keseimbangan atau pemusatan karena perasaan-perasaan yang gelisah, keterombang-ambingan cita, atau kemajalan batin.

(1) Tidak mencari cara untuk memperoleh daya pemusatan terserap

Jika, karena kesombongan, kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian, kita tidak menghadiri pelajaran-pelajaran tentang cara memapankan cita kita dalam daya pemusatan terserap (ting-nge-'dzin, Skt. samadhi) ketika seorang guru mengajarkannya, bagaimana bisa kita mengolah atau meningkatkan keteguhan cita kita? Jika kita sakit, beranggapan bahwa petunjuk-petunjuk itu salah, atau telah mencapai daya pemusatan yang sempurna, kita tidak perlu datang.

(2) Tidak menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi keteguhan batin

Ketika berlatih meditasi untuk mencapai daya pemusatan terserap, kita menghadapi lima hambatan utama. Jika kita menyerah dan tidak berusaha menyingkirkan mereka, kita menghancurkan perkembangan keteguhan batin kita. Jika kita berusaha untuk menyingkirkan mereka, tapi belum berhasil, kita tidak bersalah. Lima hambatan itu adalah (a) niat untuk mengejar lima jenis sasaran indrawi yang berhasrat, (b) pikiran-pikiran dengki, (c) cita-kabur dan mengantuk, (d) keterombang-ambingan cita dan penyesalan, dan (e) kebimbangan atau keragu-raguan.

(3) Menganggap rasa sukacita dari memperoleh keteguhan batin sebagai keuntungan utamanya

Biasanya, kita menambatkan banyak sekali tenaga kita pada kegelisahan, kekhawatiran, kebimbangan, pikiran-pikiran mendamba atau sakit hati, dan sebagainya, atau memberatkan mereka dengan kemajalan dan kantuk. Saat kita memusatkan cita dan meresapi cita kita lebih dalam, kita melepaskan tenaga ini dalam jumlah yang lebih besar. Kita mengalami ini sebagai rasa sukacita ragawi dan batin. Semakin kuat sukacita ini, semakin jauh ia menyeret kita ke dalam keserapan. Dengan alasan ini, dalam tantra anutarayoga, kita menghasilkan dan menggunakan tataran-tataran sukacita batin yang jauh lebih kuat dibandingkan mereka yang memperoleh semata-mata dari daya pemusatan yang sempurna, agar mencapai kegiatan batin yang paling jernih dan menyerapnya ke dalam pemahaman tentang kehampaan. Jika kita menjadi melekat pada rasa sukacita yang kita peroleh pada suatu tahap pengembangan keteguhan batin, baik itu berbarengan dengan laku tantra atau tidak, dan kita beranggapan bahwa menikmati kesenangan yang kita peroleh dari sukacita itu sebagai tujuan utama dari laku kita, kita benar-benar menghambat perkembangan keteguhan cita yang menjangkau-jauh.

Delapan Tindakan Cela yang Merusak Latihan Kesadaran Pembeda yang Menjangkau-Jauh

Kesadaran pembeda (shes-rab, Skt. prajna, kebijaksanaan) adalah unsur batin yang secara tegas memilah antara apa yang benar dan yang salah, pantas dan tidak pantas, berguna dan merugikan, dan seterusnya.

(1) Meninggalkan wahana shravaka (pendengar)

Keruntuhan akar bodhisattwa keenam adalah menyatakan bahwa ajaran-ajaran tertulis tentang wahana shravaka bukanlah kata-kata Buddha, sedangkan yang keempat belas adalah mengatakan bahwa petunjuk-petunjuk di dalamnya tidak manjur untuk menyingkirkan kemelekatan dan sebagainya. Yang ketiga belas adalah berkata pada para bodhisattwa yang memegang sumpah-sumpah awam atau pratimoksha (kebebasan pribadi) wihara – bagian dari ajaran-ajaran tentang wahana shravaka – b ahwa mereka, sebagai bodhisattwa, tidak perlu menjaga sumpah-sumpah itu. Supaya keruntuhan akar ini sempurna, bodhisattwa yang mendengar kata-kata kita harus benar-benar meninggalkan sumpah-sumpah pratimoksha mereka. Di sini, tindakan tercela ini semata-mata berpikir atau berkata pada orang lain bahwa bodhisattwa tidak perlu mendengarkan ajaran-ajaran dari wahana shravaka – khususnya mengenai aturan-aturan tata tertib sumpah pratimoksha – atau menegakkan atau melatih sumpah-sumpah itu. Sebenarnya tak seorangpun perlu meninggalkan sumpahnya.

Dalam memelajari dan menjaga aturan-aturan tata tertib yang telah disumpahkan, kita meningkatkan kemampuan kita untuk membedakan antara jenis perilaku mana yang perlu dipakai atau ditinggalkan. Dengan menyangkal perlunya melatih diri dengan sumpah-sumpah pratimoksha, kita melemahkan pengembangan kesadaran pembeda kita. Kita juga membedakan secara keliru bahwa ajaran-ajaran shravaka penting hanya bagi shravaka, dan tidak berguna bagi bodhisattwa.

(2) Mengerahkan upaya menjaga sumpah sambil menggunakan cara kita sendiri

Jika kita mengerahkan semua upaya untuk memelajari dan menegakkan semata-mata sumpah pratimoksha kita, dan abai dalam memelajari dan melatih ajaran-ajaran luas bodhisattwa mengenai welas asih dan kebijaksanaan, kita juga melemahkan kesadaran pembeda kita. Ketika kita mengerahkan upaya pada ajaran-ajaran wahana shravaka, kita pun sekaligus mengupayakan sumpah-sumpah bodhisattwa.

(3) Mengerahkan upaya dalam memelajari naskah-naskah non-Buddha ketika itu tidak perlu dilakukan

Menurut ulasan-ulasan, naskah-naskah non-Buddha merujuk pada karya-karya tentang mantik dan tata bahasa. Kita tentu juga bisa menyertakan buku-buku untuk memelajari bahasa asing atau pokok apapun dari kurikulum pendidikan modern, seperti matematika, sains, ilmu kejiwaan, atau filsafat. Kesalahannya di sini adalah mengerahkan semua upaya untuk memelajari pelajaran-pelajaran ini dan mengabaikan kajian dan laku Mahayana sehingga akhirnya kita lupa tentang mereka. Jika kita sangat cerdas, mampu memelajari sesuatu dengan cepat, memiliki pemahaman yang kuat dan teguh tentang ajaran-ajaran Mahayana berdasarkan mantik dan akal, dan mampu menyimpan ajaran-ajaran itu dalam ingatan kita untuk waktu yang lama, kita tidak salah memelajari naskah-naskah non-Buddha jika setiap hari kita juga memelihara kajian dan laku Mahayana.

Murid-murid ajaran Buddha non-Tibet yang ingin belajar bahasa Tibet sebaiknya mengingat pedoman ini. Jika mereka mampu menguasai bahasa dengan cepat dan mudah, sudah memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Buddha, dan cukup waktu untuk belajar bahasa dan Dharma, mereka mendapatkan banyak manfaat dari belajar bahasa Tibet. Mereka bisa menggunakan ini sebagai alat untuk pengkajian lebih mendalam. Namun, jika mereka mendapati bahasa ini sulit, hanya memiliki ketersediaan waktu dan tenaga yang terbatas dan belum memiliki pemahaman yang baik tentang ajaran Buddha atau laku meditasi harian yang teguh, mereka merusak dan menghambat perkembangan rohani mereka dengan belajar bahasa Tibet. Di sini penting bagi kita untuk memilah prioritas kita.

(4) Meskipun mampu mengerahkan upaya untuk menguasainya, kita menjadi keranjingan

Jika kita memiliki kemampuan untuk memelajari bahan non-Buddha, seperti bahasa Tibet, dengan semua ketentuan seperti di atas, jika kita menjadi keranjingan bahan pelajaran, kita mungkin menghentikan laku rohani kita dan memusatkan sepenuhnya pada pokok yang kurang penting ini. Menguasai bahasa Tibet atau matematika tidak memberi kita kebebasan dari sikap dan perasaan yang gelisah, maupun masalah dan duka yang mereka timbulkan. Ini tidak memberikan kita kemampuan untuk membantu orang lain sepenuh mungkin. Hanya menyempurnakan bodhicita dan sikap yang menjangkau-jauh, terutama kesadaran pembeda tentang kehampaan, dapat membawa kita pada tujuan ini. Oleh karena itu, untuk menjaga agar tidak keranjingan pada pokok-pokok non-Buddha – yang pasti berguna untuk dipelajari, tapi bukan hal utama untuk dititikberatkan – kita memelajarinya secara waras, mempertahankan cara pandang yang tepat. Dengan cara ini, kita membedakan secara tepat apa yang penting dan menjaga diri kita agar tidak hanyut dengan hal-hal yang kurang penting.

(5) Meninggalkan wahana Mahayana

Runtuhnya akar bodhisattwa keenam adalah menyatakan bahwa naskah-naskah Mahayana bukanlah kata-kata Buddha. Di sini, kita menerima bahwa, pada umumnya, mereka asli, tetapi kita mengecam unsur-unsur tertentu, khususnya naskah-naskah mengenai perbuatan-perbuatan Bodhisattwa yang sangat luas dan ajaran-ajaran tentang kehampaan yang sangat mendalam. Yang pertama meluputi hikayat-hikayat tentang para Buddha yang melipatgandakan diri mereka menjadi rupa-rupa yang tak terhitung sekaligus membantu makhluk-makhluk di berbagai belahan dunia, sedangkan yang terakhir meliputi kumpulan-kumpulan bait pendek dan bernas yang luar biasa sulit untuk dipahami. Kita memperburuk kesadaran pembeda kita dengan menyangkal mereka melalui salah satu dari empat cara berikut ini, (a) isi mereka rendahan – mereka berbicara omong kosong belaka, (b) cara pengungkapan mereka rendahan – mereka adalah tulisan buruk yang tidak masuk akal, (c) penulis mereka rendahan – m ereka bukan kata-kata seorang Buddha yang tercerahkan, atau (d) penggunaan mereka rendahan – mereka tidak bermanfaat bagi siapapun. Dengan pembedaan yang keliru seperti ini, dalam cara berpikir tertutup dan tergesa-gesa, kita merusak kemampuan kita untuk membedakan sesuatu secara tepat.

Ketika berhadapan dengan ajaran atau naskah yang kita tidak mengerti, kita tetap berpikiran terbuka. Kita berpikir bahwa meskipun kita tidak bisa menghargai atau memahami mereka sekarang, para Buddha dan Bodhisattwa yang berkesadaran tinggi itu memahami kata-kata mereka dan, melalui perwujudan makna mereka, memberi manfaat kepada orang lain dalam cara-cara yang mahaluas. Dengan cara ini, kita mengembangkan tekad yang teguh (mos-pa) untuk berusaha menggenggam mereka di masa depan. Tidak salah jika kita kurang memiliki tekad yang teguh ini, selama kita tidak meremehkan dan merendahkan ajaran-ajaran itu. Setidaknya kita memelihara keseimbangan batin, mengakui bahwa kita tidak memahami mereka.

(6) Memuji diri kita sendiri dan/atau meremehkan orang lain

Keruntuhan akar bodhisattwa pertama adalah melakukan ini dengan didorong oleh hasrat untuk mendapat keuntungan atau kecemburuan. Di sini dorongannya adalah kesombongan, kecongkakan, keangkuhan, atau kemarahan. Dorongan-dorongan seperti ini muncul ketika kita keliru membedakan diri kita sebagai orang yang lebih baik dibandingkan orang lain.

(7) Tidak bertindak demi Dharma

Keruntuhan akar bodhisattwa kedua adalah tidak memberikan Dharma karena kemelekatan dan kekikiran. Di sini, kesalahannya adalah tidak mengajarkan, tidak melakukan adat Buddha, tidak menghadiri upacara Buddha, atau tidak mendengarkan ceramah karena kesombongan, kemarahan, kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian. Dengan dorongan seperti itu, kita tidak memilah secara tepat apa yang bermanfaat. Namun, tidak salah jika kita tidak melakukannya karena merasa bahwa kita bukan guru atau karena kita sakit, atau karena kita menduga ajaran-ajaran yang kita akan dengar atau sampaikan itu akan salah, atau kita tahu bahwa khalayak telah mendengarnya berulang kali dan sudah mengetahuinya, atau kita telah menerimanya secara lengkap dan memahami dan menguasai sepenuhnya sehingga kita tidak perlu mendengarkan lebih lanjut, atau kita sudah memusatkan dan menyerap ajaran-ajaran itu sehingga tidak perlu diingatkan lagi tentang itu, atau ajaran-ajaran itu sulit kita mengerti dan kita hanya akan menjadi bingung mendengarnya. Selanjutnya, jika guru kita akan tidak senang jika kita pergi – misalnya jika ia menyuruh kita melakukan hal lain – kita jangan pergi.

(8) Mencemooh guru berdasarkan bahasa

Kita melemahkan kemampuan kita untuk membedakan secara tepat ketika kita menghakimi guru rohani atas dasar bahasa mereka. Kita mengejek dan menolak mereka yang berbicara dengan logat yang kental, membuat banyak kesalahan tata bahasa, meskipun yang mereka jelaskan benar, dan mengikuti guru-guru yang berbicara secara anggun, tetapi sepenuhnya omong kosong.

Dua Belas Tindakan Tercela yang Bertentangan dengan Upaya untuk Bermanfaat bagi Orang Lain

(1) Tidak membantu orang-orang yang membutuhkan

Karena kemarahan, kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian, tidak memberi bantuan kepada salah satu dari delapan jenis orang yang memerlukan bantuan: (a) dalam membuat keputusan tentang sesuatu yang positif, misalnya pada suatu rapat, (b) dalam perjalanan, (c) dalam memelajari bahasa asing yang kita kuasai, (d) dalam melaksanakan suatu tugas yang tidak mengandung kesalahan moral, (e) dalam menjaga rumah, candi, atau harta mereka, (f) dalam menghentikan perkelahian atau pertengkaran, (g) dalam merayakan sesuatu, misalnya pernikahan, atau (h) dalam melakukan kegiatan amal. Namun, menolak untuk melakukannya tidaklah merusak upaya kita untuk membantu orang lain jika kita sakit, sudah menjanjikan bantuan di tempat lain, mengirim orang lain yang mampu melakukan tugas itu, terlibat dalam suatu tugas positif yang lebih mendesak, atau tidak memiliki kecakapan untuk membantu. Kita juga tidak melakukan kesalahan jika tugas itu merugikan orang lain, bertentangan dengan Dharma atau tidak masuk akal, atau jika orang-orang yang meminta bantuan kita mampu menemukan bantuan di tempat lain atau memiliki orang yang bisa diandalkan untuk membantu mereka.

(2) Abai untuk melayani orang sakit

Karena kemarahan, kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian.

(3) Tidak meringankan duka

Juga karena alasan-alasan yang sama. Tujuh jenis orang yang ditimpa kesulitan yang memerlukan perhatian khusus: (a) orang tunanetra (b) orang tunarungu, (c) orang cacat dan diamputasi, (d) pelancong yang kelelahan, (e) mereka yang menderita karena salah satu dari lima rintangan yang menghambat keteguhan batin, (f) orang-orang yang memiliki niat buruk dan prasangka kuat, serta (g) mereka yang jatuh dari kedudukan tinggi.

(4) Tidak mengajar orang-orang yang sembrono sesuai dengan karakter mereka

Orang-orang sembrono (bag-med) mengacu pada mereka yang tidak peduli dengan hukum-hukum sebab dan akibat perilaku dan, oleh karenanya, perilaku mereka akan mendatangkan ketidakbahagiaan dan masalah dalam kehidupan masa kini dan masa depan. Kita tidak bisa membantu orang-orang seperti itu jika kita marah dan mencela dengan pembenaran-diri. Untuk merangkul mereka, kita harus terampil dan mengubah pendekatan kita agar sesuai dengan keadaan mereka. Misalnya, jika tetangga kita sangat gemar berburu, kita jangan menasihatinya dengan kemarahan sehingga ia akan murka. Orang itu mungkin tidak akan mau berhubungan dengan kita lagi. Sebaliknya, kita mengakrabi tetangga kita dengan mengatakan padanya alangkah baik hati dirinya apabila membuat jamuan makan daging binatang buruan bagi keluarga dan teman-temannya. Setelah ia terbuka dengan saran kita, kita perlahan-lahan menganjurkan cara-cara yang lebih baik untuk bersantai dan membuat orang lain bahagia tanpa mengambil nyawa.

(5) Tidak membalas-budi untuk bantuan yang telah diterima

Tidak ingin membantu orang lain sebagai balas-budi untuk bantuan yang telah mereka berikan pada kita, atau tidak mengingat atau bahkan berpikir untuk membalasnya. Namun, tidak salah jika seraya berusaha untuk membantu sebagai balas-budi, misalnya ketika mereka memperbaiki mobil mereka, kita tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan, atau terlalu lemah. Apalagi, jika orang-orang yang telah membantu kita tidak mengharapkan balasan, kita tidak perlu memaksa mereka untuk menerima bantuan kita.

(6) Tidak meringankan kenestapaan batin orang lain

Karena kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian, jika kita gagal menghibur mereka yang kehilangan orang tercinta, uang, atau benda-benda berharga, kita melakukan kesalahan. Orang-orang yang buncah atau murung memerlukan welas asih, simpati, dan pengertian yang tulus dari kita, tapi tentu bukan belas kasihan.

(7) Tidak memberi kepada mereka yang membutuhkan derma

Karena kemarahan, kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian. Jika karena kekikiran, ini adalah kehancuran akar.

(8) Tidak memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitar kita

Adalah kesalahan besar mengabaikan, karena kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian, lingkaran kerabat, teman, rekan kerja, karyawan, murid, dan seterusnya, terutama ketika terlibat dalam kerja sosial membantu orang lain. Kita perlu menyediakan kebutuhan-kebutuhan ragawi mereka dan menjaga kesejahteraan rohani mereka. Bagaimana bisa kita berpura-pura membantu semua makhluk berindra jika kita mengabaikan kebutuhan orang-orang terdekat kita?

(9) Tidak menerima pilihan-pilihan orang lain

Selama apa yang orang lain inginkan untuk kita lakukan atau apa yang mereka inginkan itu tidak berbahaya bagi mereka atau orang lain, kita salah jika tidak setuju. Setiap orang melakukan hal-hal secara berbeda atau memiliki selera pribadi. Jika kita tidak menghormati ini, karena kedengkian, kemalasan, atau ketidakpedulian, kita memulai pertengkaran kecil tentang hal-hal seperti memilih tempat makan, atau kita tidak peka terhadap pilihan mereka dan membangkitkan ketidaknyamanan atau kebencian mereka ketika memesan menu.

(10) Tidak memuji bakat atau mutu baik orang lain

Jika kita lalai memuji orang lain ketika mereka melakukan sesuatu dengan baik atau sependapat dengan pujian orang lain kepada mereka, karena kemarahan, kedengkian, ketidakpedulian, atau kemalasan, kita melemahkan perhatian dan semangat kita supaya mereka terus berkembang. Jika orang lain malu untuk dipuji, baik sendirian maupun di depan umum, atau akan menjadi bangga atau sia-sia jika memuji di depan mereka, kita menahan kata-kata kita.

(11) Tidak memberlakukan hukuman sesuai dengan keadaan

Untuk membantu orang lain, penting untuk menertibkan mereka jika mereka bertindak secara tidak patuh. Jika kita gagal melakukannya, karena masalah-masalah perasaan tentang itu, atau kemalasan, ketidakpedulian, atau tak acuh, kita merusak kemampuan kita untuk menjadi pembimbing yang baik.

(12) Tidak menggunakan hal-hal semacam itu sebagai kekuatan luar-ragawi atau kemampuan untuk mengucapkan jampi-jampi

Beberapa keadaan tertentu memerlukan cara-cara khusus untuk membantu orang lain, seperti menggunakan kekuatan-kekuatan luar-ragawi (rdzu-'phrul). Jika kita memiliki cara-cara ini, tapi tidak menggunakannya padahal ini akan tepat dan manjur, kita merusak kemampuan kita untuk bisa membantu. Kita mencoba untuk menggunakan segala macam bakat, kemampuan, dan pencapaian kita untuk bermanfaat bagi orang lain.