Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Hubungan Sejarah antara Budaya Buddha dan Islam sebelum Kekaisaran Mongolia

Alexander Berzin, 1996
diperbaiki sedikit, Januari 2003, Desember 2006

Bagian III: Penyebaran Islam di antara dan oleh Bangsa Turki (840 – 1206 M)

18 Kaum Ghaznawiyyah dan Seljuk

Pawai Tempur Ghaznawiyyah di Gandhara dan India Barat Daya

Setelah Mahmud dari Ghazni dipukul mundur ke utara pada tahun 1008 dalam serangannya ke Kekaisaran Karakhaniyyah, ia membuat melibatkan kaum Turki Seljuk di Sogdiana sebelah selatan dan Khwarazm untuk mempertahankan kerajaannya dari pembalasan Karakhaniyyah. Orang-orang Seljuk merupakan suku-bangsa Turki yang diperbudak, yang telah digunakan sebagai pasukan pertahanan oleh kaum Samaniyyah dan pindah agama ke Islam pada tahun 990an. Setelah mengamankan tanah airnya, Mahmud kini mengalihkan perhatiannya kembali ke anakbenua India.

Beberapa dasawarsa sebelumnya, pada 969, kaum Fatimiyyah (910 – 1171) telah menaklukkan Mesir dan menjadikannya pusat dari kekaisaran mereka yang berkembang pesat. Mereka berusaha untuk menyatukan seantero dunia Muslim di bawah panji aliran Isma’ili sebagai persiapan bagi kedatangan ratu adil Islam, perang kehancuran, dan akhir dunia, yang diramalkan akan terjadi pada awal abad ke-12. Daerah kekuasaan mereka terbentang dari Afrika sebelah utara ke Iran sebelah barat dan, sebagai kekuatan laut utama, mereka mengirim utusan dan wakil jauh sampai ke negeri seberang untuk memperluas pengaruh dan keyakinan mereka. Mereka merupakan pesaing utama bagi kaum Abbasiyyah Sunni dalam hal kepemimpinan dunia Islam.

Sisa-sisa kekuasaan Muslim di Sindh setelah penaklukan Ummaiyyah sangatlah lemah. Para adipati Sunni tunduk setia pada kalifah Abbasiyyah, padahal pada kenyataannya berbagi kekuasaan dengan para penguasa Hindu. Islam saling-berdampingan secara damai dengan agama Buddha, Hindu, dan Jain. Akan tetapi, utusan-utusan Isma’ili mendapati adanya sekelompok umat di antara kaum Sunni dan Hindu di sana yang merasa tidak puas dengan status quo. Pada 959, penguasa Multan, Sindh sebelah utara, pindah agama jadi Syiah Isma’ili dan, pada 968, Multan menyatakan diri sebagai negara bawahan Fatimiyyah Isma’ili, merdeka dari Abbasiyyah. Pada titik ini, Abbasiyyah, berikut negara-negara bawahan Ghaznawiyyah mereka, dikelilingi ke timur dan barat oleh para pesaing Fatimiyyah mereka. Mereka takut serbuan dua-barisan-tempur akan segera terjadi. Untuk menyerang Ghaznawiyyah, orang-orang Multan Isma’ili pasti harus melintas melewati wilayah kekuasaan musuh-musuh Ghaznawiyyah, para Sahi Hindu.

Walaupun ayahnya lebih menyukai Islam aliran Syiah, Mahmud dari Ghazni memeluk Sunni, keyakinan yang banyak dianut bukan hanya oleh kaum Abbasiyyah, tapi juga Karakhaniyyah dan Samaniyyah. Mahmud dikenal karena sikap tidak tepa-seliranya terhadap aliran-aliran Islam yang lain. Setelah naik tahta pada 998 dan menyatukan kekuatannya di Afghanistan, ia menyerang kaum Sahi Hindu di Gandhara dan Oddiyana pada 1001 dan mengalahkan musuh ayahnya, Jayapala, yang juga ia anggap sebagai ancaman terpendam. Walaupun Oddiyana masih merupakan pusat tantra Buddha, dengan Raja Indrabhuti dan Padmasambhava dijunjung di sana sebelum masa kuasa Sahi Hindu, tidak banyak wihara Buddha yang tumbuh di tempat tersebut. Di sisi lain, kuil-kuil Hindunya bergelimang kekayaan. Akibatnya, Mahmud menjarah dan menghancurkan kuil-kuil itu.

Penerus Jayapala, Anandapala (memerintah tahun 1001 – 1011), kini membentuk persekutuan dengan Multan. Tapi, pada 1005, Mahmud mengalahkan pasukan gabungan mereka dan mencaplok Multan. Hal ini kemudian melenyapkan ancaman kaum Isma’ili Fatimiyyah terhadap dunia Abbasiyyah Sunni dari timur. Mahmud menyebut para serdadunya “ghazi”, para ksatria iman, dan mengistilahkan pawai tempurnya sebagai “jihad” untuk membela ketaatan Sunni ortodoks melawan bidah Syiah Isma’ili. Walaupun semangat keagamaan mungkin menjadi bagian dari alasannya pendorongnya, sebagian besar alasan lain yang lebih kuat adalah kehendaknya untuk memapankan diri sebagai pembela kaum Abbasiyyah sebagai pemimpin dunia Islam. Peran seperti itu akan mengabsahkan kekuasaannya sendiri sebagai bawahan Abbasiyyah dan rampasan yang ia jarah akan menjadi bantuan suntikan dana untuk pawai-pawai tepur anti-Fatimiyyah yang dilancarkan Abbasiyyah di manapun. Contohnya, kuil surya Hindu kuno Suraj Mandir, di Multan, terkenal sebagai kuil terkaya di anakbenua India. Harta-karunnya hanya meningkatkan dahaga Mahmud akan kekayaan, lebih jauh ke Timur.

Setelah Mahmud gagal dalam pawai tempurnya melawan Karakhaniyyah, ia kembali ke anakbenua India dan, pada 1008, mengalahkan pasukan sekutu Anandapala dan para penguasa Rajput di wilayah yang dikenal kini sebagai Punjab India dan Himachal Pradesh. Ia menyita sejumlah besar harta Sahi Hindu di Nagarkot (Kangra sekarang), dan, selama bertahun-tahun setelahnya, menjarah dan menghancurkan kuil-kuil Hindu dan wihara-wihara Buddha di wilayah itu, di antaranya ialah wihara-wihara di Mathura, yang terletak di selatan Delhi sekarang.

Pada 1010, Mahmud menggilas sebuah pemberontakan di Multan dan, entah pada tahun 1015 atau 1021 (tergantung pada sumber yang diterima), ia mengejar penguasa Sahi Hindu berikutnya, Trilochanapala (memerintah tahun 1011 – 1021), yang sedang menyusun kembali pasukan-pasukannya di benteng Lohara di kaki-bukit sebelah barat yang mengarah ke Kashmir. Akan tetapi, Mahmud tidak pernah mampu merebut benteng tersebut, atau menyerang Kashmir. Tidak jelas seberapa kuat peran pendiri Wangsa Lohara Pertama Kashmir (1003 – 1101), Samgrama Raja (memerintah tahun 1003 – 1028), bermain dalam kekalahan Mahmud. Menurut catatan-catatan Buddha tradisional, penguasa Ghaznawiyyah tersebut dihentikan oleh mantra-mantra Buddha yang dilafalkan oleh Prajnarakshita, seorang murid dari Naropa.

Karena kerusakan berat yang ditimbulkan oleh pasukan-pasukan Mahmud terhadap wihara-wihara Buddha di Punjab India dan Himachal Pradesh, banyak pengungsi Buddha mencari suaka di tempat lain. Namun, karena serdadu-serdadu Ghaznawiyyah menyerang ke arah Kashmir, sebagian besar pengungsi merasa tidak aman jika melarikan diri ke sana. Alih-alih, sejumlah besar pengungsi membanjir menyeberangi pengunungan Himalaya lewat Kangra ke Ngari di Tibet sebelah barat, sampai-sampai pada tahun 1020an rajanya menitahkan diberlakukannya hukum yang melarang orang asing tinggal di negara tersebut selama lebih dari tiga tahun.

Ringkasnya, jihad Ghaznawiyyah di anakbenua India sedianya diarahkan untuk melawan kaum Isma’i li, bukan Buddha, Hindu, atau Jain. Akan tetapi, setelah Mahmud mencapai tujuan keagamaan dan politiknya, kemenangan tersebut merangsangnya untuk memperluas daerah kekuasaan dan khususnya memperoleh jarahan dari kuil-kuil Hindu dan wihara-wihara Buddha yang kaya. Seperti halnya pawai militer Ummaiyyah tiga tahun sebelumnya, pasukan-pasukan Turki menghancurkan kuil-kuil dan wihara-wihara, setelah terlebih dahulu menjarah habis, sebagai bagian dari penaklukan awal wilayah-wilayah tersebut, tapi tidak kemudian mewajibkan Islam sebagai agama yang harus dipeluk oleh seluruh masyarakat taklukan mereka. Mahmud bersifat pragmatis dan menggunakan serdadu-serdadu bahkan seorang panglima Hindu yang tidak berpindah agama untuk melawan kaum Muslim Syiah yang menentangnya di Buyid Iran. Sasaran utamanya tetaplah kaum Syiah dan Isma’ili.

Sikap-Sikap Ghaznawiyyah terhadap Agama Buddha di luar India

Al-Biruni, sejarawan Persia yang menyertai penyerangan Mahmud ke anakbenua India, bicara hal-hal baik tentang agama Buddha dan menulis bahwa masyarakat India menyebut Buddha sebagai seorang “Nabi”. Mungkin hal ini menunjukkan keakrabannya dengan istilah Persia Tengah burxan, yang bermakna ‘nabi’, yang digunakan untuk “Buddha” di dalam naskah-naskah Buddha Sogdiana dan Uighur, dan di dalam naskah-naskah ajaran Mani untuk semua nabi. Akan tetapi, hal tersebut boleh jadi juga menunjukkan bahwa umat Buddha diterima sebagai “orang-orang Kitab” dan, bersama kaum Hindu dan Jain, menerima status dhimmi insan yang dilindungi setelah penyerbuan awal.

Bukti lebih lanjut untuk mendukung kesimpulan kedua ini adalah bahwa kaum Ghaznawiyyah tidak memusuhi ajaran Buddha saat dahulu menguasai Sogdiana, Baktria, atau Kabul. Pada 982, lukisan-lukisan dinding bercorak Buddha masih bisa dilihat di Wihara Nava dan sosok-sosok Buddha mahabesar yang dipahat di tebing-tebing Bamiyan di Afghanistan pusat masih utuh ada. Al-Biruni melaporkan ada banyak wihara Buddha yang masih berfungsi di perbatasan-perbatasan sebelah selatan Sogdiana pada peralihan milenium tersebut.

Layaknya kaum Samaniyyah sebelum mereka, kaum Ghaznawiyyah menggalakkan budaya Persia. Kesusasteraan Persia dan Arab, dari abad ke-12 sampai ke-20, berlimpah rujukan tentang keindahan tugu-tugu Buddha, yang menandakan bahwa wihara dan mesjid berjalan berdampingan dalam damai. Sebagai contoh, Asadi Tusi menggambarkan kemegahan Wihara Subahar di Kabul dalam karya yang ditulisnya pada 1048, Nama Garshasp. Syair Persia sering menggunakan perumpamaan tersebut untuk melukiskan istana-istana, yang sama indahnya dengan “Nawbahar” (Wihara Nava).

Gambar-gambar Buddha, khususnya Maitreya (sang Buddha Masa Depan), dilukiskan di Wihara Nava dan Bamiyan dengan cakra bulan di belakang kepala mereka. Hal ini kemudian menjadi sebuah ungkapan kiasan untuk melukiskan keindahan murni: seseorang yang memiliki “wajah serupa rembulan dari seorang Buddha”. Maka, pada syair-syair Persia abad ke-11, seperti Varge dan Golshah oleh Ayyuqi, kata dalam bahasa Pahlavi untuk bot, yang diturunkan dari istilah lebih awal dalam bahasa Sogdiana purt, digunakan dengan pemaknaan yang baik untuk “Buddha”, bukan dengan makna kedua “berhala”, yang bersifat menghina. Kata ini menyiratkan keindahan nirkelamin yang sempurnya, dan diterapkan dengan setera pada pria ataupun wanita.

Tidak jelas apakah kata dalam bahasa Arab al-budd berasal dari kata Persia atau diciptakan secara langsung pada masa penaklukan Sindh oleh Ummaiyyah. Aslinya, kaum Ummaiyyah menggunakan istilah itu untuk mengacu pada gambar-gambar bercorak Buddha dan Hindu, dan juga kuil-kuil tempat gambar tersebut berada. Adakalanya, mereka menggunakannya pula untuk kuil non-Muslim manapun, termasuk kuil-kuil Zarathustra, Kristen, dan Yahudi. Akan tetapi kemudian, istilah tersebut jadi punya dua makna, yang baik dan buruk, yaitu “Buddha” dan “berhala”.

Semua rujukan ini menandakan bahwa baik wihara-wihara dan gambar-gambar Buddha keduanya ada di wilayah-wilayah kebudayaan Iran ini setidaknya sampai pada kurun Mongol awal di abad ke-13. Atau, sedikitnya, kita bisa simpulkan bahwa warisan ajaran Buddha tetap bertahan dengan kuat selama berabad-abad di antara umat Buddha yang berpindah agama menjadi Islam. Kalau kaum Ghaznawiyyah bertepa-selira terhadap agama Buddha di tanah-tanah non-India mereka dan bahkan melindungi karya-karya sastrawi yang meninggikan seninya, maka tampaknya kebijakan jangka-panjang mereka atas anakbenua India ini bukanlah kebijakan pemualafan dengan kekerasan. Seperti kaum Ummaiyyah, sikap penaklukan Ghaznawiyyah tidak sama dengan sikap mereka saat memerintah.

Senjakala Kaum Ghaznawiyyah dan Bangkitnya Kaum Seljuk

Terlepas dari keberhasilan-keberhasilan tempur mereka atas anakbenua India, kaum Ghaznawiyyah tidak mampu membuat kaum Seljuk berada di bawah kendali mereka, dan pada 1040 Seljuk berontak. Kaum Seljuk merebut Khwarazm, Sogdiana, dan Baktria dari kaum Ghaznawiyyah dan, pada 1055, mereka menaklukkan Baghdad, tahta para kalifah Abbasiyyah.

[Lihat Peta Dua Puluh Delapan: Kekaisaran Seljuk, Paruh Kedua Abad Ke-11.]

Kaum Seljuk merupakan penganut Sunni dan mereka sama antinya dengan penganut aliran Syiah dan Isma’ili seperti kaum Ghaznawiyyah. Mereka gemas untuk merebut pengaruh dan kendali para kalifah atas kaum Syiah Buyid di Iran. Pada 1062, mereka akhirnya menaklukkan Kerajaan Buyid dan, tahun berikutnya, menyerukan berdirinya kekaisaran mereka sendiri. Kekuasaan Kekaisaran Seljuk terus berlangsung sampai akhirnya mereka menyerah pada kaum Mongol pada 1243.

Setelah mengalami kekalahan dari kaum Seljuk, kaum Ghaznawiyyah mundur ke arah timur dari Pegunungan Khush Hindu, yang berbatasan dengan Ghazna, Kabul, dan Punjab. Mereka mempertahankan kekuatan tempur yang terdiri dari berbagai suku-suku gunung Turki Muslim di alam mereka, dan bersandar pada cukai yang mereka kumpulkan dari orang-orang non-Muslim kaya dari anakbenua India untuk membiayai negara mereka. Kebijakan mereka terhadap Kashmir dengan jelas mencontohkan sikap mereka terhadap agama-agama lain.

Keadaan Politik dan Keagamaan di Kashmir

Dari tahun 1028 sampai akhir dari Wangsa Lohara Pertama pada 1101, kemakmuran ekonomi Kashmir merosot perlahan-lahan. Alhasil, wihara-wihara Buddha hanya menerima dukungan keuangan yang tipis. Lebih jauh lagi, karena jalan masuk mudah ke perguruan-perguruan tinggi kewiharaan Buddha di bagian tengah India sebelah utara diputus oleh wilayah kekuasaan Ghaznawiyyah, mutu patokan-patokan wihara-wihara Kashmir lambat-laun merosot. Raja terakhir dari dinasti ini, Harsha (memerintah tahun 1089 – 1101), melembagakan sebuah penganiayaan keagamaan lagi; kali ini, merata-tanahkan kuil-kuil Hindu dan wihara-wihara Buddha.

Selama Dinasti Lohara Kedua (1101 – 1171), khususnya pada masa pemerintahan Raja Jayasimha (memerintah tahun 1128 – 1149), kedua agama ini sekali lagi pulih dengan dukungan kerajaan. Akan tetapi, keadaan ekonomi kerajaan tersebut secara keseluruhan terpuruk lebih dalam, terus berlanjut sampai peralihan kekuasaan pada para penguasa Hindu juga (1171 – 1320). Kendati wihara-wihara jadi miskin, kegiatan keagamaan Buddha tumbuh-mekar setidaknya sampai abad ke-14, dengan para guru dan penerjemah secara berkala mengunjungi Tibet. Tetapi, terlepas dari kelemahan Kashmir selama lebih dari tiga abad, baik kaum Ghaznawiyyah maupun para penerus Muslim mereka di India mencoba menaklukkannya sampai tahun 1337. Ini merupakan pratanda lanjut bahwa para penguasa Islam lebih tertarik untuk memperoleh kekayaan daripada memualafkan umat dari wihara-wihara Buddha. Kalau para penganut Buddha ini miskin, mereka akan membiarkannya saja.

Perluasan Kekuasaan dan Kebijakan Keagamaan Seljuk

Sementara itu, kaum Seljuk memperluas kekaisaran mereka ke arah barat, menaklukkan Byzantium pada 1071. Sultan Seljuk, Malikshah (memerintah tahun 1072 – 1092), memberlakukan kemaharajaannya pada kaum Karakhaniyyah di Ferghana, Turkistan Barat sebelah utara, Kashgar, dan Khotan. Di bawah pengaruh menterinya, Nizamulmulk, kaum Seljuk membangun sekolah-sekolah keagamaan (madrasah) di Baghdad dan di seluruh Asia Tengah. Walaupun madrasah-madrasah pertama sekali muncul pada abad ke-9 di Iran sebelah timur laut, yang membaktikan kinerjanya murni untuk kajian teologi, madrasah-madrasah baru ini diarahkan untuk mencetak pejabat-pejabat pemerintahan untuk Seljuk yang dididik dengan baik dalam Islam. Pendekatan kaum Seljuk terhadap agama sangatlah pragmatis.

Setelah membuka Anatolia sebagai pemukiman Turki, kaum Seljuk beranjak untuk merebut Palestina juga. Di tahun 1096, warga Byzantium mengajukan permohonan pada Paus Urbanus II untuk menyatakan Perang Salib Pertama untuk menyatukan kembali Kekaisaran-Kekaisaran Romawi Barat dan Timur dan merebut kembali Tanah-Tanah Suci dari tangan orang-orang “kafir”. Akan tetapi, kaum Seljuk tidak anti terhadap penganut ajaran Kristus. Mereka, misalnya, tidak melenyapkan agama Kristen Nestoria dari Asia Tengah.

Secara khusus tidak pula mereka anti terhadap penganut Buddha. Kalau memang iya, mereka pasti telah memimpin atau menyokong bawahan-bawahan Karakhaniyyah mereka dalam perang suci melawan kaum Tangut, Uighur Qocho, dan Tibet Ngari, yang kesemuanya merupakan penganut Buddha taat dan yang kekuatan tempurnya lemah. Sebaliknya, selama masa pemerintahan mereka di Baghdad, kaum Seljuk mengizinkan al-Shahrastani (1076 – 1153) untuk menerbitkan karyanya, Kitab al-Milal wa Nihal – sebuah naskah filsafati yang ditulis dalam bahasa Arab, dan mengandung sebuah catatan mengenai ajaran-ajaran Buddha dan, seperti al-Biruni, menyebut Buddha sebagai seorang nabi.

Nizari – Ordo Para Asasin (Pembunuh)

Citra teramat buruk yang dimiliki orang-orang Kristen Eropa dan Byzantium terhadap kaum Seljuk dan Islam secara umum sebagian dikarenakan oleh anggapan keliru mereka bahwa seluruh Islam sama dengan para penganut aliran Isma’ili cabang Nizari, yang dikenal di kalangan tentara salib sebagai “ Ordo Para Asasin (Pembunuh)”. Di mulai kira-kira pada tahun 1090, kaum Nizari memimpin sebuah revolusi teroris di seluruh Iran, Irak, dan Suriah, dengan para pemuda yang mabuk hasish dikirim untuk membunuh para pemimpin militer dan politik. Mereka hendak mempersiapkan dunia bagi pemimpin mereka, Nizar, untuk menjadi, bukan hanya kalifah dan imam, tapi juga Mahdi, nabi terakhir yang akan memimpin dunia Islam dalam perang seribu-tahun melawan kuasa-kuasa jahat.

Selama dasawarsa-dasawarsa setelahnya, kaum Seljuk dan kaum Fatimiyyah melancarkan perang suci melawan kaum Nizari, membantai mereka dalam jumlah yang besar. Gerakan Nizari lambat-laun kehilangan dukungan dari khalayak. Perang-perang suci ini juga telah memberi pengaruh binasa bagi kaum Seljuk dan, pada 1118, Kekaisaran Seljuk terpecah ke dalam beberapa bagian yang berdaulat.

Sementara itu, kekuatan kaum Ghaznawiyyah terus melemah. Mereka kekurangan sumber daya manusia bahkan untuk memerintah kerajaan mereka yang memudar. Kekuatan kaum Karakhaniyyah juga merosot. Akibatnya, kaum Ghaznawiyyah dan Karakhaniyyah terpaksa menjadi negara-negara pembayar upeti di bawah kendali provinsi Seljuk yang berdaulat di Sogdiana dan Iran sebelah timur laut.