Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > eBook > Naskah yang Tidak Diterbitkan > Hubungan Sejarah antara Budaya Buddha dan Islam sebelum Kekaisaran Mongolia > 11. Gerakan-Gerakan Politik-Keagamaan Tibet pada Akhir Abad Ke-8 M

Hubungan Sejarah antara Budaya Buddha dan Islam sebelum Kekaisaran Mongolia

Alexander Berzin, 1996
diperbaiki sedikit, Januari 2003, Desember 2006

Bagian II: Masa Awal Abbasiyyah (750 – Pertengahan Abad ke-9 M)

11. Gerakan-Gerakan Politik-Keagamaan Tibet pada Akhir Abad Ke-8 M

Hubungan-Hubungan Tibet dengan Cina

Tibet dan Cina mula-mula membentuk hubungan diplomatik pada 608 ketika ayah Kaisar Songtsen-gampo, Namri-lontsen (gNam-ri slon-mtshan), mengirim utusan Tibet pertama ke mahkamah Cina pada masa Dinasti Sui. Songtsen-gampo, pada gilirannya, mengirim utusan ke mahkamah Tang pada 634 dan menikahi putri Han Cina, Wencheng, pada 641. Empat tahun kemudian, ia meresmikan candi Tibet pertama di Wutaishan (Wu-t’ai shan, Tib. Ri-bo rtse-lnga), gunung suci umat Buddha Cina di barat daya Beijing. Sejak itu, Tibet secara berkala mengirim duta-duta selanjutnya ke mahkamah Cina, meskipun kadang-kadang terdapat peperangan antara dua kekaisaran itu.

Kaisar Mey-agtsom, seabad kemudian, tertarik pada ajaran Buddha Han Cina, niscaya karena pengaruh istri Buddha-nya yang berdarah Han Cina, Permaisuri Jincheng. Meskipun kondisi agama Buddha di Tang Cina lemah setelah pelarangan yang diberlakukan terhadapnya oleh Kaisar Xuanzhong pada 740, Mey-agtsom mengirim utusan ke sana pada 751 untuk belajar lebih banyak tentang agama ini. Ketertarikan terhadap ajaran Buddha yang diperlihatkan oleh anak laki-lakinya, yang kelak adalah kaisar Tibet Tri Songdetsen (Khri Srong-lde-btsan, 742 – 798), agaknya juga mendorongnya mengirim utusan itu. Utusan itu dipimpin oleh Ba Sangshi (sBa Sang-shi), anak laki-laki duta Tibet terdahulu ke Tang Cina.

Pada 755, menteri-menteri golongan posisi yang benci terhadap orang asing membunuh Kaisar Mey-agtsom. Golongan ini sama dengan yang enam belas tahun sebelumnya mengusir biksu-biksu Han Cina dan Khotan, yang diundang Permaisuri Jincheng, dari Tibet. Pembunuhan ini terjadi pada tahun yang sama ketika terjadinya pemberontakan An Lushan dan, seperti sebelumnya, menteri-menteri itu barangkali takut bahwa keberpihakan sang Kaisar terhadap agama Buddha dan kaum Tang Cina akan membawa kehancuran bagi Tibet. Selain itu, mungkin penggulingan Khilafah Ummaiyyah oleh kaum Abbasiyyah pada 750 dan pemberontakan An Lushan mendorong tindakan berani mereka. Seperti penyerangan terhadap agama Buddha Han Cina yang dilakukan oleh An Lushan, menteri-menteri yang benci terhadap orang asing itu memprakarsai penindasan terhadap agama Buddha di Tibet yang berlangsung selama enam tahun. Namun, sasarannya kemungkinan besar adalah golongan pendukung Tang dalam mahkamah itu.

Diundangnya Shantarakshita ke Tibet

Utusan ke Cina, yang dipimpin oleh Ba Sangshi, kembali ke Tibet pada 756 dengan membawa naskah-naskah Buddha. Ba Sangshi, untuk sementara waktu, menyembunyikan naskah-naskah tersebut karena suasana anti-Buddha pada masa itu, tapi mendorong Tri Songdetsen, yang masih kecil, ke arah ajaran Buddha.

Pada 761, Tri Songdetsen mencapai masa kedewasaan dan, saat menaiki tahtanya, secara resmi menyatakan dirinya penganut Buddha. Ia lalu mengirim utusan ke Kekaisaran Pala (750 – akhir abad ke-12 M) yang baru saja berdiri di India utara. Ia mengamanatkan kepada utusan itu, diketuai oleh Selnang (gSal-snang), untuk mengundang guru Buddha Shantarakshita, Kepala Wihara Nalanda, ke Tibet untuk kali pertamanya.

Tak lama setelah kedatangan kepala wihara India itu, wabah cacar air merebak di Tibet. Golongan yang benci terhadap orang asing dalam mahkamah itu menyalahkan biksu asing tersebut atas wabah itu dan mengusirnya dari Tibet, seperti yang pernah mereka lakukan terhadap biksu-biksu Han Cina dan Khotan di Tibet ketika wabah serupa meletus pada 739.

Tri Songdetsen tidak begitu mudah digagalkan dalam keinginannya untuk memperkuat kedudukan agama Buddha di kerajaannya. Ia adalah seorang pemimpin yang berkuasa dan ambisius. Selama pemerintahannya, Tibet menganut kebijakan yang ekspansif dan agresif. Memanfaatkan kelemahan Tang setelah pemberontakan An Lushan, ia merebut kembali banyak wilayah Tibet timur laut yang sebelumnya dikuasai Tang Cina. Ia bahkan sempat menguasai ibu kota Tang, Chang’an, pada 763, tahun setelah qaghan Uigur, Bogu, pindah keyakinan ke Manikheisme.

[ Lihat Peta Delapan Belas: Tibet pada Awal Abad Ke-9 M.]

Tri Songdetsen kemudian pindah ke Terusan Gansu, menghalangi jalan masuk Tang China ke Jalur Sutra, percabangan utara utama yang terletak di antara pos perbatasan Tang di Turfan dan di Kucha. Ini memaksa perdagangan kaum Cina untuk menghindari wilayah kekuasaan Tibet itu dengan memutar ke utara melalui wilayah-wilayah kaum Uighur di Mongolia Tengah. Kaum Tibet lalu memasuki perang segitiga berkepanjangan melawan kaum Uighur dan Tang Cina untuk berkuasa di Turfan dan Beshbaliq, tempat pemerintah Tang tidak memungut biaya apa pun. Perdagangan kaum Cina, yang dialihkan melalui Mongolia tengah, harus melewati dua kota itu untuk mencapai Jalur Sutra utara utama.

Dengan kepercayaan diri dan kekuatan yang disokong oleh kemenangan-kemenangan militernya, Tri Songdetsen sekali lagi mengutus Selnang ke India untuk mengundang kembali Shantarakshita. Kali ini, kepala wihara dari India ini mengikutsertakan Padmasambhava (Guru Rinpoche), untuk menjinakkan kekuatan-kekuatan rohani di Tibet yang menentang penegakan agama Buddha.

Pendirian Wihara Samyay

Universitas-universitas kewiharaan Buddha India terkemuka di Bihar, seperti Nalanda, perguruan-asal Shantarakshita, menikmati dukungan negara tanpa henti selama beberapa abad, meski melalui beberapa pergantian dinasti politik. Kaisar Harsha (606 – 647) dari Dinasti Gupta terdahulu menempatkan seribu biksu Nalanda di istananya dan bahkan menyentuh kaki biksu Han Cina, Xuanzang, sebagai tanda hormat.

Kekaisaran Pala menyokong agama Buddha hingga tingkatan yang jauh lebih tinggi. Kaisar pertamanya, Gopala (750 – 770), mendirikan universitas kewiharaan Buddha Odantapuri, sedangkan kaisar keduanya, Dharmapala (770 – 810), mendirikan Vikramashila dan Somapura. Meskipun Dharmapala memperluas kekaisarannya hingga perbatasan-perbatasan Gandhara di barat dan Bengal di timur, ia tidak pernah melibatkan wihara-wihara Buddha itu dalam perubahan-perubahan politik dan militer negaranya. Ia juga tidak berusaha mengatur mereka. Wihara-wihara di India utara itu menikmati kebebasan penuh untuk melanjutkan pendidikan keagamaan.

Pada 766, Tri Songdetsen, diilhami oleh contoh Kaisar India Gopala, memerintahkan Wihara Samyay dibangun seperti Odantapuri. Ini adalah wihara Buddha pertama di negerinya yang dipersembahkan untuk digunakan khusus oleh kaum Tibet. Selama masa pembangunannya, tujuh pribumi Tibet pertama dinobatkan sebagai biksu dan, saat penyempurnaannya pada 755, lebih dari tiga ratus orang Tibet memperoleh jabatan itu. Sebelumnya, hanya ada beberapa candi Buddha di Tibet dan sedikit bangunan wihara kecil yang dibangun untuk biksu-biksu asing, seperti para pengungsi Khotan dan Han China pada 720.

Meskipun biksu-biksu Tibet itu dinobatkan dengan adat India, Tri Songdetsen menerapkan kebijakan perpaduan budaya. Namun, sebagian dari alasannya untuk kebijakan ini barangkali adalah kemanfaatan politik. Ia perlu menyeimbangkan tuntutan dari tiga golongan yang bersaing di dalam mahkamahnya – p ribumi Tibet, pendukung India, dan pendukung Cina. Oleh karena itu, candi utamanya di Samyay ia bangun tiga tingkat, dengan masing-masing tingkat menurut gaya bangunan dari budaya Tibet, India utara, dan Han Cina. Ini mengingatkan pada pendiri dinastinya, Songtsen-gampo, yang mengusahakan keseimbangan serupa dengan menikahi putri-putri dari Zhang-zhung, Nepal, dan Tang Cina untuk tujuan politik.

Hubungan-Hubungan Kebudayaan dengan Cina

Meskipun Tri Songdetsen berseteru dengan Cina untuk memperoleh kekuasaan di ujung barat Jalur Sutra, ia sepertinya tidak memiliki prasangka budaya terhadap kaum Han Cina, terutama menyangkut agama Buddha. Tujuan-tujuan militernya terutama bersifat politik dan ekonomi.

Setelah pemberontakan An Lushan padam dan kekuasaan kekaisaran pulih, kaisar-kaisar Tang berikutnya tidak hanya mencabut pembatasan-pembatasan yang dijatuhkan pada agama Buddha oleh Kaisar Xuanzong, tapi juga menyokong agama ini. Namun, tidak seperti kejadian di Pala India, umat Buddha Han Cina ini, pada gilirannya, juga mendukung negara ini. Tidak jelas apakah ini berasal dari prakarsa umat Buddha itu sendiri atau dari kebijakan negara untuk memanfaatkan ketenaran agama Buddha untuk memantapkan dukungan bagi pemerintahannya. Yang terakhir ini sepertinya lebih mungkin, mengingat contoh dari pendiri Dinasti Sui yang menyatakan dirinya seorang kaisar chakravarti dan Ratu Tang Wu yang menyatakan dirinya Maitreya Buddha.

Pada 766, Kaisar Daizong (memerintah 763 – 780) mendirikan wihara baru di Wutaishan bernama “Candi Megah Keemasan yang Melindungi dari Kekuatan Jahat dan Membela Bangsanya.” Satu naskah Buddha Han Cina baru dan populer terbit, Sutra Raja Bodhisattwa yang Membela Bangsanya. Kaisar Tang itu memberlakukan kembali penindasan terhadap pengikut Manikheisme pada 768 dan 771, untuk melindungi “ kemurnian” agama Buddha dari agama itu yang dicap sebagai tiruan palsu.

Perkembangan-perkembangan ini mengikuti pola agama Buddha Cina utara selama Masa Dinasti Enam (280 – 589). Pada saat itu, para penguasa non-Han di Cina utara mengatur secara ketat wihara-wihara Buddha itu dan menyokong mereka untuk menjalankan upacara-upacara keagamaan demi keberhasilan tentara mereka. Biksu-biksu itu, yang memerlukan perlindungan kekaisaran agar dapat bertahan dalam masa-masa genting tersebut, diharuskan untuk mengakui bahwa para penguasa itu adalah Buddha, mengabdi pada pemerintah mereka, dan mempermainkan kemurnian ajaran-ajaran Buddha agar mendukung kebijakan-kebijakan paling kejam sekalipun.

Tri Songdetsen tertarik untuk belajar lebih banyak tentang perkembangan-perkembangan terbaru ini di Cina, sesuai dengan kebijakannya untuk menerapkan perpaduan budaya dari adat Tibet, India dan Cina. Sehingga, pada akhir 760-an, ia tidak hanya mengutus Ba Sangshi, tapi juga Selnang pada utusan kedua ke Tang Cina. Sekembalinya mereka, Tri Songdetsen membangun candi Buddha Nang Lhakang (Nang Lha-khang) di Dragmar (Brag-dmar). Candi itu terletak di sekitar istana kekaisaran, berdekatan dengan Wihara Samyay, yang masih dalam pembangunan. Candi itu dibangun menurut contoh Candi Megah Keemasan yang Melindungi dari Kekuatan Jahat dan Membela Bangsanya. Maksudnya adalah bahwa agama Buddha menduduki tempat kedua di negara itu, seperti di Han Cina, dan wajib melayani kepentingan-kepentingan kekuatan kekaisaran Tibet yang terus berkembang.

Penyempurnaan Wihara Samyay

Samyay selesai dibangun pada 775 dan sang Kaisar menunjuk Shantarakshita sebagai kepala wihara pertama. Namun, Padmasambhava pergi tak lama sebelum penyempurnaannya. Ia merasa kaum Tibet belum siap untuk ajaran-ajaran Buddha yang paling mendalam, terutama mengenai dzogchen (rdzogs-chen, kesempurnaan tinggi). Untuk itu, ia menyembunyikan naskah-naskah tentang ajaran itu di dalam dinding-dinding dan tiang-tiang wihara, untuk pembaruan selanjutnya ketika zaman lebih siap.

Guru-guru dari India utara dan Han Cina kemudian diundang ke Samyay untuk membantu menerjemahkan dan mengajarkan naskah-naskah Buddha. Namun, pada awalnya Samyay tidak dipersembahkan secara khusus bagi agama Buddha. Kegiatan-kegiatannya mencakup ranah kebudayaan yang lebih luas. Guru-guru adat pan-Tibet setempat juga hadir untuk menerjemahkan bahan-bahan dari bahasa Zhang-zhung ke bahasa Tibet. Dalam lingkup ini pun, Samyay mencerminkan kebijakan kaisar tentang perpaduan budaya.

Pada 779, Kaisar Tri Songdetsen menyatakan Buddha sebagai agama negara Tibet. Ia membebaskan keluarga-keluarga kaya tertentu dari pajak, tapi membebani mereka dukungan keuangan untuk masyarakat wihara yang tumbuh pesat. Dua ratus keluarga menyediakan sumber-sumber tersebut untuk sumbangan candi utama di Lhasa, dan tiga keluarga menyumbangkan persediaan makanan untuk menyokong tiap biksu.

Tri Songdetsen mungkin terilhami melakukan gerakan ini oleh contoh Raja Shivadeva II (704 – 750) dari Kekaisaran Licchavi Nepal. Pada 749, raja Nepal ini, meskipun tidak menyatakan Buddha sebagai agama negara, membebani satu desa tersendiri untuk menyokong wihara pribadinya, Wihara Shivadeva. Meskipun raja Maitraka dan Rashtrakuta dari Saurashtra memiliki kebijakan serupa untuk membantu wihara-wihara di Valabhi, sedikit kemungkinan bahwa Tri Songdetsen mengetahui contoh ini.

Perdamaian dengan Cina dan Pembentukan Majelis Keagamaan Tibet

Kaisar Tibet itu, yang masih melanjutkan perpaduan kebudayaan, meminta kaisar Tang yang baru, Dezong (memerintah 780-805), pada 781 untuk mengirim dua biksu setiap tahun dari Han Cina ke Samyay untuk mengajar kaum Tibet. Dua tahun kemudian, pada 783, Tang Cina dan Tibet, setelah beberapa dasawarsa peperangan dengan Turfan dan Beshbaliq, menandatangani sebuah perjanjian damai, membiarkan pasukan Tang menguasai dua kota di Turkistan Timur.

Shantarakshita, kepala wihara Samyay dari India itu, meninggal dunia setelah itu, juga pada 783. Sebelum meninggal, ia mengingatkan Tri Songdetsen bahwa, di masa depan, ajaran-ajaran Buddha akan merosot di Tibet karena pengaruh Han Cina. Ia menyarankan supaya Kaisar mengundang muridnya, Kamalashila, dari India untuk menyelesaikan masalah itu nantinya.

Tri Songdetsen menunjuk Selnang untuk menggantikan Shantarakshita sebagai kepala wihara Tibet pertama di Samyay. Pada tahun yang sama, 783, Kaisar mendirikan Majelis Agama yang diketuai oleh Kepala Wihara Samyay, untuk menetapkan semua persoalan agama. Ini adalah awal bentuk pemerintahan Tibet hingga akhirnya memiliki menteri-menteri dari masyarakat awam maupun kalangan biksu. Memahami perkembangannya dalam situasi politik pada masa itu dapat membantu kita memahami mengapa agama Islam tidak menyebar ke Tibet atau negara-negara bawahannya setelah menyerahnya Shah Kabul dan panglima militer Tibet kepada kaum Abbasiyyah tiga dasawarsa kemudian.

Tinjauan tentang Kebijakan Majelis Agama Tibet

Terdapat tiga golongan utama dalam mahkamah kekaisaran Tibet pada masa itu – golongan pendukung India, golongan pendukung Tang Cina, dan golongan yang benci terhadap orang asing – yang masing-masing disokong oleh suku tertentu. Selnang adalah anggota suku yang memimpin golongan pendukung India. Setelah dua kali memimpin utusan kekaisaran ke Pala India dan Tang Cina, ia tahu betapa menyenangkan keadaan agama Buddha di India dibandingkan di Cina. Di Pala India, wihara-wiharanya menerima bantuan dari negara dan menikmati kebebasan mutlak, tanpa kewajiban apapun kepada negara. Mereka juga tidak terlibat dalam urusan-urusan pihak lain. Bahkan, sejak kunjungan Selnang, kaisar-kaisar Pala mengirimkan pembayaran-pembayaran penghormatan ke mahkamah Tibet, meskipun penggambaran ini mungkin adalah bentuk yang telah diperhalus dari mengirimkan utusan-utusan perdagangan. Namun, ada harapan bahwa Negara Pala juga akan mendukung perguruan-perguruan Buddha di Tibet. Di Tang Cina, sebaliknya, wihara-wihara Buddha memperoleh dukungan negara hanya setimpal dengan pengendalian pemerintah.

Agama Buddha sering memperoleh sokongan dan pengendalian dari pemerintah gabungan di Han Cina, terutama di daerah utara. Namun, sejak pemerintah seringkali diserang dan diruntuhkan, agama ini kerap berada pada situasi tak menentu. Misalnya, Kekaisaran Toba Wei Utara (386 – 535) memiliki kantor pemerintah yang khusus mengatur wihara-wihara Buddha di kerajaannya, dengan seorang biksu kepala yang dipilih oleh kaisarnya. Kantor ini memiliki kekuatan untuk memecat biksu-biksu kotor yang mengumbar ajaran wihara dan menyalahgunakan kedudukan mereka. Seringkali kantor itu menjalankan tugas-tugas pengaturannya sesuai hukum. Namun, ketika pemerintah ada di bawah kendali menteri-menteri yang cemburu terhadap kemurahan kekaisaran terhadap agama Buddha, kantor itu dibubarkan dan penindasan-penindasan kejam terhadap umat Buddha menyusul, misalnya pada 446.

Dalam mendirikan Majelis Agama, Tri Songdetsen barangkali mengikuti gaya Han Cina, tapi ia memadukan beberapa unsur India dan Tibet di dalamnya. Sesuai contoh-contoh dari India-Nepal, negara mendukung wihara dengan membebaskan keluarga-keluarga tertentu dari pajak tapi menugaskan mereka untuk menyediakan bahan makanan bagi wihara-wihara dan biksu-biksunya. Seperti di Han Cina, wihara-wihara itu, sebagai imbal balik, akan menyelenggarakan upacara keagamaan untuk kesejahteraan negara. Ini juga sesuai dengan adat Tibet lama yakni memiliki pendeta-pendeta adat pra-Buddha asli Tibet yang mengabdi di mahkamah kekaisaran, bertugas menyelenggarakan upacara-upacara keagamaan. Seperti pada gaya Han Cina, kantor itu mengatur persoalan-persoalan intern Buddha; tetapi, seperti gaya India, kantor itu memperoleh kebebasan dari peraturan pemerintah.

Selnang, sebagai anggota suku utama pendukung India di mahkamah Tibet dan ketua pertama Majelis Agama, tentu saja memiliki ikatan yang lebih erat dengan India dan hubungan yang lebih lemah dengan Tang Cina. Lebih lanjut, ia lebih tertarik untuk menghindari penindasan agama Buddha atau pengendalian pemerintah gaya Han Cina. Namun, Tri Songdetsen baru saja tunduk pada Tang Cina di garis depan politik. Ini memperkuat pengaruh golongan pendukung Cina di mahkamah Tibet. Situasi ini sangat menguntungkan bagi golongan ini untuk mendorong Kaisar agar menjalankan kebijakan gaya Han Cina mengenai pengendalian pemerintah terhadap wihara. Ini juga menguntungkan bagi golongan pembenci orang asing di mahkamah untuk menentang hubungan kuat yang telah terjalin lama dengan Tang Cina dan memulai kembali pembersihan pengaruh asing, termasuk Agama Buddha.

Selnang dan Majelis Agamanya perlu untuk bertindak secara cepat dan tegas. Jalan keluarnya adalah memperkuat kedudukan Majelisnya sehingga tidak hanya akan menjadi mandiri, melainkan juga memiliki pengaruh kuat pada pemerintahan itu sendiri. Maka, Selnang meyakinkan Tri Songdetsen agar mengizinkan anggota-anggota Majelis Agama untuk menghadiri seluruh pertemuan kementerian dan memiliki wewenang untuk menolak menteri-menterinya. Di bawah bimbingan Kepala Wihara dari Tibet itu, Majelis Agama segera menjadi lebih berpengaruh dibanding Majelis Menteri Kekaisaran itu sendiri.

Pembersihan terhadap Golongan yang Benci Terhadap Hal Asing

Sebagai gerakan pertama, pada 784, Majelis Agama itu memulai pembersihan terhadap golongan kolot yang benci terhadap hal asing, mengirim para pemimpinnya ke pengasingan di Gilgit dan Nanzhao (Nan-chao), wilayah yang sekarang Provinsi Yunnan barat laut di Republik Rakyat Cina. Karena golongan ini telah membunuh ayah Kaisar dua puluh sembilan tahun sebelumnya dan memprakarsai enam tahun penindasan agama Buddha, mereka jelas merupakan ancaman terbesar.

Catatan sejarah Buddha Tibet abad ke-12 menggambarkan kejadian itu sebagai penindasan terhadap pendeta-pendeta Bon yang menentang agama Buddha. Meskipun kehadiran pengikut-pengikut agama Bon nantinya di Gilgit dan Nanzhao menandakan bahwa banyak dari mereka yang dikirim ke pengasingan menganut adat Tibet pra-Buddha, pembersihan itu pada dasarnya politis. Ini bukan berdasarkan perbedaan-perbedaan ajaran agama. Sebelum akhir abad ke-11 M, Bon bukan agama yang tertata dan istilah bon hanya mengacu pada golongan oposisi ini, golongan yang benci terhadap hal asing di mahkamah kekaisaran.

Guru-guru agama Buddha dan adat Tibet pribumi telah bekerja berdampingan menerjemahkan naskah mereka masing-masing di Samyay. Namun, karena keadaan politik sangat tidak menentu pada saat ini, Drenpa-namka (Dran-pa nam-mkha’), pemimpin rohani tertinggi dari suku pribumi di Samyay, menyembunyikan salinan sebagian besar naskah kunonya di dalam celah-celah dinding wiharanya. Sejarah-sejarah Bon Tibet selanjutnya, yang mendukung laporan tentang penindasan agama, mengatakan bahwa ia berpura-pura menerima agama Buddha supaya tetap di Samyay dan melindungi naskah-naskah tersebut. Namun, apapun tujuannya, jelas bahwa guru pribumi ini tetap tinggal di wihara. Setelah pembersihan itu, ia mengajar campuran antara ajaran adatnya dan agama Buddha kepada guru-guru Tibet terkemuka seperti penerjemah Vairochana.

Sejarah-sejarah keagamaan Bon Tibet dan Buddha seringkali menggambarkan kejadian-kejadian menurut rencana-rencana politik mereka sendiri. Namun, tidak ada sumber Tibet yang mengatakan bahwa Drenpa-namka maupun pelaku-pelaku adat pribumi lainnya dipaksa meninggalkan adat dan kepercayaan mereka dan pindah ke agama Buddha. Yang lebih mungkin terjadi adalah bahwa adat pribumi Tibet dan agama Buddha telah bercampur sejak paling tidak zaman Kaisar Songtsen-gampo. Kaisar Tibet pertama itu memerintahkan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan dari dua adat itu, dan Drenpa-namka hanya melanjutkan dan barangkali bahkan melestarikan cara ini. Hubungan saling memengaruhi dalam masing-masing tata agama terhadap yang lainnya tentu akan terjadi dan berkembang disebabkan oleh keberadaan guru-guru rohani dari kedua agama itu di Samyay.

Sebagian besar, jika tidak semua anggota golongan politik yang benci terhadap hal asing yang telah dibersihkan dari mahkamah kekaisaran mungkin telah menganut adat pribumi Tibet. Namun, ini tidak berarti bahwa seluruh pelaku upacara-upacara keagamaan maupun semua unsur dari sistem ini dibuang dari Tibet, seperti sejarah-sejarah agama menuntun kita untuk percaya. Pada 821, perjanjian damai kedua dengan Tang Cina diakhiri dengan upacara-upacara keagamaan lengkap dari adat pribumi, termasuk pengorbanan hewan. Pendiri-pendiri agama Bon tertata dan guru-guru Bon/Buddha eklektik pada awal abad ke-11 membuka naskah-naskah yang disembunyikan oleh Drenpa-namka. Dua fakta ini jelas menandakan bahwa Majelis Agama Tibet tidak menjalankan kebijakan pemaksaan pindah ke agama Buddha. Ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan pribumi terus diterima di Tibet tengah bahkan setelah pembersihan pada 784.

Apabila ini memang yang terjadi pada kepercayaan Tibet asli dan kaum pribumi Tibet itu sendiri, kita bisa secara aman menyimpulkan bahwa Majelis itu tidak menekan pemerintah Tibet dalam beberapa dasawarsa berikutnya untuk mendukung pemberontakan-pemberontakan di Sogdiana agar dapat menindas agama asing, yakni Islam, dan agar kaum non-Tibet pindah ke agama Buddha.

Penghalangan Golongan Pendukung Tang Cina

Setelah pembersihan pada 784, pemerintah Tibet tinggal memiliki dua golongan yang berlawanan. Beberapa menteri berasal dari suku berkuasa dari Tibet timur laut yang menyokong Tang Cina dan tempat Permaisuri Dowager Trima Lo berasal. Golongan lainnya, yang memuat Selnang, berasal dari suku lawan dari Tibet tengah yang curiga terhadap mahkamah Tang, mendorong untuk melanjutkan perang melawannya, dan mengupayakan hubungan lebih erat dengan Pala India dan Majelis Agama yang kuat.

Pada 786, perdamaian yang berlangsung tiga tahun dengan Tang Cina itu berakhir. Kaum Uighur membantu pemberontakan Jucu (783 – 784) menyerang pemerintah Tang, dan kaum Tibet pernah membantu pasukan Tang mengalahkan mereka. Mahkamah Tang berjanji untuk menyerahkan Turfan dan Beshbaliq kepada kaum Tibet sebagai imbalan atas bantuan mereka, tetapi ketika kaisar Tang mengabaikan perjanjian mereka, kaum Tibet menyerang.

Selama lima tahun berikutnya, kaum Tibet merebut Dunhuang dari Tang Cina, menyingkirkan pasukan Tang dari persaingan dengan kaum Uighur untuk mendapatkan Turfan dan Beshbaliq, dan menegaskan kembali kekuasaannya di negara-negara lembah sungai Tarim selatan, khususnya Khotan. Kaum Uighur memanfaatkan keadaan ini dan, menghalau bawahan mereka, kaum Karluk, dari Dzungaria dan beberapa wilayah di Turkistan Barat bagian utara, serta merebut Kucha dari Tang Cina. Namun, pasukan Tang terus merongrong kekuasaaan Tibet di Koridor Gansu.

Dalam keadaan hubungan Sino-Tibet seperti ini, kaisar Tibet, Tri Songdetsen, mengadakan sidang adu pendapat yang terkenal di Samyay (792 – 794), tempat wakil-wakil aliran Buddha India utara mengalahkan biksu-biksu Buddha Han Cina. Adu pendapat ini akhirnya menentukan untuk selamaya bahwa bentuk utama agama Buddha yang akan diterapkan di Tibet adalah bentuk India utara, bukan Han Cina. Adu pendapat dan hasil serupa berlangsung secara terhormat tentang tata pengobatan yang hendak diterapkan. Namun, perkembangan ini menjadi kemenangan baik untuk pandangan politik golongan anti-Tang Cina maupun untuk ajaran-ajaran filsafat dan laku pengobatan Buddha India. Majelis Agama niscaya mendukung golongan pendukung India daripada golongan pendukung Tang Cina. Selain itu, kenyataannya bahwa Selnang adalah penerjemah pada sebagian besar adu pendapat itu menunjukkan kesempatan yang ia miliki untuk memengaruhi hasilnya.

Kesimpulan tentang Kebijakan Tibet di Sogdiana

Kaisar Tri Songdetsen purna-tugas pada 797 dan meninggal dunia tahun berikutnya. Ia digantikan anak laki-lakinya, Muney-tsenpo (Mu-ne btsan-po, memerintah 797 – 800). Ia, pada gilirannya, digantikan oleh adik laki-lakinya, Tri Desongtsen (Khri lDe-srong-btsan, memerintah 800 – 8 15), juga dikenal bernama Saynaleg (Sad-na-legs). Selama masa pemerintahan Tri Desongtsen ini, Khalifah al-Ma’mun sepenuhnya membenarkan bahwa Tibet adalah bangsa kuat yang menebar ancaman, terutama ketika Tibet dan sekutu-sekutunya menantang Sogdiana dan mendukung pemberontakan. Namun, tinjauannya tentang alasan-alasan Tibet dan pernyataannya bahwa konflik itu merupakan perang suci adalah tidak benar.

Setelah membangun kembali kekuasaannya di Turkistan Timur, Tibet tentu mencari cara untuk memperluas wilayahnya ke Turkistan Barat dan oleh karena itu akan berusaha merusuhi pemerintahan musuh-musuhnya. Namun, Tibet tidak tertarik untuk mengganggu agama musuhnya. Majelis Agama para biksu itu sangat berhasrat untuk memperoleh kekuatan intern tunggal di Tibet untuk menjamin pertumbuhan agama Buddha di negeri itu. Setelah membersihkan pemerintahan mereka dari golongan-golongan yang akan melawan atau mencoba menguasainya, kegiatan-kegiatan utama golongan ini adalah menyusun kamus untuk membakukan terjemahan dari bahasa Sanskerta ke Tibet dan mengatur naskah-naskah yang hendak diterjemahkan supaya agama Buddha akan mudah dipahami dan tetap murni. Majelis Agama tidak bersangkutan dengan agama lain atau dengan penyebaran agama Buddha di dalam maupun di luar Tibet.

Selain itu, dalam mendukung pengikut-pengikut Islam Mussalemiyya dan Syiah Manikheisme asal Sogdiana dalam pemberontakan anti-Abbasiyyah mereka, Tibet sama sekali tidak menunjukkan kemurahan hatinya terhadap sekte-sekte agama mereka. Maklumat-maklumat Kaisar Tri Songdetsen mengenai pemilihan agama Buddha India sebagai andalan Tibet jelas meniadakan Manikheisme. Maklumat-maklumat itu mengulang kritik Kaisar Tang Cina Xuanzong bahwa Manikheisme adalah sebuah tiruan dangkal agama Buddha dan berdasar pada kebohongan.

Kaisar Tri Relpachen

Satu dari beberapa alasan utama kaum Abbasiyyah mampu mengalahkan pengikut Tibet, Shah Kabul, pada 851 dan melakukan serangan lebih lanjut ke Gilgit yang dikuasai Tibet pada tahun-tahun berikutnya niscaya adalah kematian Tri Desongtsen pada tahun itu. Kaisar Tibet yang baru, anak laki-laki Tri Desongtsen, Tri Relpachen (Khri Ral-pa-can, memerintah 815 – 836), menaiki takhtanya ketika masih muda dan Tibet tidak memiliki kepemimpinan yang kuat pada masa itu. Namun, tak lama setelah itu, saat Tri Relpachen dewasa, ia menjadi sangat berkuasa dan memperkuat kedudukan agama Buddha lebih jauh lagi.

Kaum Abbasiyyah mundur dari Kabul dan Gilgit pada 819, dengan berdirinya negara Tahirid. Pada 821, Tibet menandatangani perjanjian damai kedua dengan Tang Cina dan pada tahun berikutnya mencapai perjanjian serupa dengan kaum Uighur. Kaum Tibet menguasai Koridor Gansu dan Dunhuang, juga Turfan dan Beshbaliq. Dua kota terakhir ini telah beberapa kali berpindah tangan antara kaum Tibet dan Uighur dalam tiga dasawarsa sebelumnya.

Terdorong oleh kemenangan-kemenangannya, Kaisar Tri Relpachen membangun banyak candi Buddha baru untuk perayaan perdamaian itu dan memindahkan ibu kotanya dari Lembah Yarlung ke Lhasa, tempat suci utama umat Buddha di Tibet. Menurut sejarah-sejarah lugu Tibet, Tri Relphacen juga mendirikan Dewan Penerjemahan untuk menyusun kamus Sanskerta-Tibet dan membakukan istilah serta gaya terjemahan naskah-naskah Buddha. Sebenarnya, rencana-rencana ini dimulai ketika masa pemerintahan ayahnya, Tri Desongtsen. Namun, sejarah-sejarah lugu itu mengalamatkan mereka kepada dirinya untuk mendukung pengenalan tentang Songtsen-gampo, Tri Songdetsen, dan Tri Relpachen sebagai tiga penyokong utama kekaisaran terhadap agama Buddha pada masa itu dan sebagai penjelmaan sosok-sosok Buddha Avalokiteshvara, Manjushri, dan Vajrapani. Ini menggaungkan sejarah-sejarah yang menganggap tiga sosok Buddha itu sebagai Buddha pelindung bagi Tibet, Cina dan kaum Manchu, dan Mongolia, dan pendiri Gelug, Tsongkhapa (Tsong-kha-pa, 1357 – 1419), sebagai penjelmaan dari ketiganya.

Namun, seperti sosok sengit Vajrapani, Kaisar Tri Relpachen menjadi sedikit fanatik dalam semangat keagamaannya. Ia tidak hanya menambah jumlah keluarga yang ditugaskan menghidupi tiap biksu dari tiga menjadi tujuh, menaruh ketegangan yang berat pada ekonomi negara, tapi menetapkan bahwa siapapun yang menudingkan jari secara mengejek kepada biksu maka jarinya akan dipotong. Dengan agama Buddha berada dalam kedudukan sekuat itu dan perhatian kaum Abbasiyyah dialihkan ke tempat lain, perpindahan agama ke Islam oleh Shah Kabul memiliki dampak singkat terhadap penyebaran agama Islam ke Tibet atau negara-negara bawahannya di Kabul atau Gilgit.