Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Buddha di Dunia Masa Kini > Kesesuaian Ajaran Buddha dalam Dunia Modern > Sesi Satu: Empat Kebenaran Mulia

Kesesuaian Ajaran Buddha dalam Dunia Modern

Alexander Berzin
Kiev, Ukraina, September 2011

Sesi Satu: Empat Kebenaran Mulia

Apakah ajaran Buddha sesuai dalam dunia modern ini? Pertama-tama, cukup menarik untuk berpikir tentang mengapa kita berbicara tentang kesesuaian ajaran Buddha dalam kehidupan modern dibandingkan dengan kesesuaiannya pada kehidupan secara umum. Apakah ada hal yang istimewa tentang kehidupan modern ini? Tentu saja sekarang ada telepon seluler dan teknologi lainnya – gejala-gejala tersebut berbeda dalam kehidupan modern, dibandingkan dengan babak-babak sejarah sebelumnya. Lima belas tahun yang lalu tidak ada telepon genggam – tapi keadaan manusia secara umum selalu sama sepanjang waktu. Orang-orang selalu beradu pendapat satu sama lain. Orang-orang tidak bahagia dan kecewa. Tak seorangpun mendapatkan hubungan dekat dengan orang lain secara mudah. Kehidupan setiap orang, dalam berbagai sisi, penuh dengan kekhawatiran; baik khawatir tentang kesulitan-kesulitan ekonomi zaman ini, maupun khawatir ribuan tahun yang lalu tentang musim kemarau yang menyebabkan gagal panen. Ajaran Buddha memiliki sesuatu untuk ditawarkan dan sesuai di semua zaman, bukan hanya zaman kita ini saja.

Sains Buddha, Filsafat Buddha, dan Keagamaan Buddha

Yang Mulia Dalai Lama membuat pembedaan antara sains Buddha, filsafat Buddha, dan keagamaan Buddha. Beliau mengatakan bahwa sains Buddha dan filsafat Buddha memiliki sangat banyak hal untuk ditawarkan kepada semua orang. Kita tidak perlu memandang, atau tertarik pada, keagamaan Buddha untuk bisa mengambil manfaat dari ajaran dan wawasan yang tersedia dalam sains dan filsafat Buddha.

Sains Buddha berkaitan dengan kejiwaan; ini adalah uraian yang sangat mendalam tentang bagaimana cita bekerja, bagaimana perasaan-perasaan bekerja, dan bagaimana pencerapan bekerja. Ia juga memiliki sangat banyak hal untuk ditawarkan dalam wilayah mantik, dan wawasan-wawasan dalam kosmologi. Filsafat Buddha berkaitan dengan kenyataan – bagaimana kita memahami kenyataan dan bagaimana kita menyusun-ulang khayalan dan pembayangan kita tentang kenyataan. Ini adalah hal-hal yang bisa berguna bagi semua orang, tanpa harus menerima unsur-unsur yang lebih agamawidari ajaran Buddha seperti kelahiran kembali, kebebasan dan pencerahan. Selain itu, meditasi adalah kegiatan yang dapat berguna bagi semua orang, sebagai cara melatih cita dan membantu mengembangkan lebih banyak sikap yang bermanfaat bagi kehidupan.

Kesesuaian Kejiwaan Buddha dan Filsafat Buddha

Tujuan utama dari kejiwaan Buddha dan filsafat Buddha (maupun unsur-unsur agamawi ajaran Buddha) adalah untuk menyingkirkan duka dan ketidakbahagiaan. Kita semua memiliki banyak sekali duka batin dan masalah-masalah kejiwaan karena kesulitan-kesulitan perasaan. Kita memiliki banyak masalah karena bersikap tidak makul dan kehilangan pijakan pada kenyataan. Pada hal-hal itulah ajaran Buddha dapat membantu kita mengatasinya.

Ajaran Buddha sebagai agama, tentu saja, berbicara tentang mengatasi masalah-masalah di masa-masa kehidupan yang akan datang, memperoleh pembebasan dari kelahiran kembali, dan menjadi seorang Buddha yang tercerahkan. Tetapi jika kita melihat dalam kerangka kejiwaan dan filsafatnya saja, mereka juga dapat membantu kita mengurangi duka dan masalah-masalah kita dalam masa kehidupan ini.

Pranata utama dari ajaran-ajaran Buddha adalah apa yang Sang Buddha sebut dengan Empat Kebenaran Mulia. "Mulia" adalah istilah yang mengacu pada makhluk-makhluk yang telah melihat kenyataan. Empat Kebenaran Mulia adalah fakta-fakta sejati tentang kehidupan yang bagi mereka yang telah melihat kenyataan akan memahaminya sebagai kebenaran atau mengetahuinya sebagai kebenaran.

Duka Sejati: Ketidakbahagiaan, Kebahagiaan, dan Perilaku Kompulsif

Kebenaran sejati pertama adalah duka. Apa itu duka sejati? Apa masalah-masalah yang kita semua hadapi?

Masalah pertama adalah ketidakbahagiaan. Ada banyak tingkatan dari ketidakbahagiaan; bahkan ketika kita berada dalam keadaan yang menyenangkan, di tengah teman-teman yang menyenangkan, makan makanan yang lezat, tetap saja kita bisa tidak bahagia. Di sisi lain, meskipun kita dalam kepedihan, kita masih bisa bahagia tanpa mengeluh, dan tanpa menjadi buncah dan sibuk dengan diri kita sendiri; kita tetap bisa tenteram, menerima keadaan kita dan berusaha untuk tidak meresahkan keluarga kita. Ketidakbahagiaan adalah jenis pertama dari masalah utama yang kita semua hadapi.

Jenis masalah kedua ini sedikit tidak biasa, sehingga kebanyakan orang tidak akan melihat ini sebagai masalah; jenis duka kedua adalah kebahagiaan biasa kita. Apa masalahnya dengan kebahagiaan biasa kita? Masalahnya adalah ia tidak bertahan, ia tidak pernah memuaskan, kita tidak pernah merasa cukup, dan ia berubah. Kita bahagia untuk sementara, lalu tiba-tiba suasana hati kita berubah dan kita tidak bahagia lagi – kita tiba-tiba tidak bahagia. Jika kebahagiaan biasa kita benar-benar kebahagiaan tertinggi yang sejati, maka semakin kita memiliki sesuatu yang membuat kita bahagia, kita akan semakin bahagia. Pikirkan es krim – secara teori, semakin banyak es krim yang kita makan pada satu waktu, kita semestinya menjadi semakin bahagia. Namun setelah titik tertentu kita merasa tidak bahagia memakan es krim itu, dan jika kita terus memakannya, kita akan sakit. Kebahagiaan biasa yang kita perjuangkan ini juga meragukan.

Persoalan kebahagiaan adalah pokok yang sangat menarik. Saya sering berpikir: Seberapa banyak makanan kesukaan yang perlu saya makan agar bisa menikmatinya? Apakah sesuap kecil saja akan cukup? Apakah saya akan bisa berkata bahwa saya menikmatinya dan saya tidak membutuhkannya lagi? Nyatanya, yang saya dapati tidak seperti itu. Kita ingin makan lagi dan lagi dan lagi. Bahkan kenikmatan tidaklah memuaskan.

Jenis ketiga dari keadaan meragukan ini adalah keberadaan kompulsif kita. Kompulsif berarti kita tidak memiliki kendali atas cita kita atau perilaku kita. Misalnya, secara kompulsif menyanyikan lagu yang konyol dalam benak kita – kita tidak bisa menghentikannya. Atau secara kompulsif memiliki pikiran-pikiran yang sangat negatif, secara kompulsif khawatir, secara kompulsif berbicara sepanjang waktu, dan secara kompulsif bertindak dalam cara-cara negatif. Sebenarnya, seluruh unsur perilaku kompulsif inilah yang disebut karma dalam ajaran Buddha; karma memaksa kita, tanpa kendali, ke dalam perilaku yang berulang-ulang. Dan bahkan jika itu kompulsif yang disebut “perilaku yang baik,” seperti berusaha untuk selalu sempurna sepanjang waktu, kita tidak pernah puas – perilaku kompulsif untuk menjadi sempurna ini sebenarnya amat sangat menekan; ini sama sekali tidak menyenangkan.

Jadi baik itu bersifat merusak atau membangun, perilaku kompulsif sama sekali tidak menyenangkan. Ia sangat meragukan, terutama ketika kita secara kompulsif bertindak, berbicara dan berpikir dengan kemarahan, keserakahan, kemelekatan atau kecemburuan. Sebagian orang dikuasai oleh pikiran-pikiran cemburu tentang pasangan mereka – mereka sangat ketakutan dan curiga. Inilah contoh yang sangat tidak menyenangkan dari perilaku kompulsif. Akan menyenangkan jika kita bisa mengatasi unsur kompulsif dari berpikir, berbicara dan bertindak ini.

Mencari Sebab Sejati Duka ke dalam Cita Kita

Ajaran Buddha mengatakan bahwa kita perlu mencari sebab-sebab masalah itu di dalam diri kita sendiri. Mudah untuk menyalahkan unsur-unsur luar atas masalah kita; sebagai contoh, saya marah karena ekonomi, atau karena cuaca, atau politik. Pada kenyataannya, semua itu semata-mata adalah keadaan luar bagi munculnya kebiasaan-kebiasaan tertentu – kebiasaan-kebiasaan dalam diri kita sendiri, seperti kebiasaan mengeluh. Kita yakin bahwa masalah itu berasal dari luar, tapi sebenarnya masalahnya adalah keluhan kita yang kompulsif. Sebenarnya, tidak jadi soal apa yang terjadi di luar; kejadian-kejadian luar hanyalah keadaan yang kita keluhkan.

Jadi salah satu pokok utama dalam ajaran Buddha adalah bagaimana kita menjalani hidup pada dasarnya bergantung pada kita. Hidup akan pasang dan surut, dan kita bisa menjalaninya dalam cara yang sangat gelisah, atau kita bisa menjalaninya dalam kedamaian cita. Ini semua sebenarnya bergantung pada kita. Sehingga yang kita perlu lakukan adalah memeriksa ke dalam diri kita sendiri: Apa masalah yang kumiliki? Apa yang menyebabkan masalahku? Apa yang menyebabkan ketidakbahagiaanku? Apa di balik jenis kebahagiaan biasaku, di balik perilaku kompulsifku? Apa saja sebab-sebabnya?

Ajaran Buddha mengatakan bahwa kita perlu masuk lebih dalam dan lebih dalam dan lebih dalam supaya dapat menemukan sebab sejati dari masalah-masalah kita. Kita bisa berkata, misalnya, "Masalahku adalah mudah marah;" tapi kemudian kita perlu bertanya: Mengapa aku mudah marah? Kita menemukan bahwa sebab sejati dari masalah kita adalah kebingungan: kebingungan tentang bagaimana aku ada, kebingungan tentang bagaimana orang lain ada, bagaimana segala sesuatu di dunia ini ada, dan kebingungan tentang segala sesuatu yang terjadi padaku. Bukannya melihat kenyataan dari semua hal ini, yang kita lakukan adalah mencitrakan segala macam angan-angan pada kenyataan.

Mencitrakan Cara-Cara Berpikir yang Mustahil

Kita mencitrakan cara-cara mengada yang mustahil ke dalam kenyataan. Misalnya, mengenai diri kita sendiri, kita memiliki pikiran: "Aku harus selalu mendapatkan keinginanku. Semua orang harus menyukaiku. Semua orang harus memperhatikan aku. Apa yang kukatakan dan apa yang kupikirkan adalah penting." Anda dapat melihat contoh-contoh dari ini dalam gejala-gejala penulisan blog, perpesanan teks, dan jejaring sosial. Dengan teknologi-teknologi baru ini, angan-angannya adalah: yang kukatakan adalah penting. Seluruh alam semesta harus mendengar apa yang kukatakan. Aku baru saja makan pagi, dan pasti semua orang ingin tahu apa yang kumakan. Dan jika tidak cukup banyak orang meng-klik "Aku suka" sebagai tanggapan terhadap apa yang saya santap pagi ini, aku benar-benar buncah, sepanjang hari.

Citra keliru lainnya adalah gagasan bahwa aku harus selalu memegang kendali. Kita masuk ke dalam suatu keadaan dan merasa bahwa kita harus mengendalikan segala sesuatunya. Kita berpikir: "Aku memahami segala sesuatu dan aku akan membuat segala sesuatu berjalan seperti yang kuinginkan. Aku akan membuat semua orang di kantorku melakukan hal-hal persis seperti yang kuinginkan. Aku akan membuat semua orang di keluargaku melakukan semua yang kuinginkan." Ini tidak masuk akal. Ini mustahil – kita semua tahu itu – tapi ini didasarkan citra bahwa: Caraku melakukan segala sesuatu adalah cara yang tepat. Cara orang lain adalah salah dan tidak sebaik caraku.

Atau, kepada seseorang, kita mencitrakan pikiran "Kamu harus mencintaiku,” atau "Orang ini istimewa." Kita yakin bahwa tidak peduli orang lain mungkin mencintai saya, misalnya orang tua saya atau anjing saya, tapi orang tertentu ini harus mencintai saya, dan jika tidak, saya menjadi sangat buncah. Saya selalu teringat pola pikir ini ketika saya berpikir tentang kawanan besar penguin di Antartika. Di sana ada puluhan ribu penguin, dan mereka semua terlihat mirip bagi kita, tapi dari sudut pandang penguin jantan, penguin betina tertentu muncul dan menonjol di antara puluhan ribu penguin itu, ia menjadi terpikat pada satu betina itu saja: "Itulah betina yang benar-benar istimewa, dan aku ingin betina itu mencintaiku." Itu adalah angan-angan, citra, bahwa satu penguin atau satu manusia ini lebih penting daripada yang lainnya, ia begitu istimewa, dan yang lain tidak penting.

Sehingga kita membesar-besarkan diri kita (aku istimewa), atau kita membesar-besarkan seseorang (kamu istimewa). Atau kita membesar-besarkan sesuatu yang terjadi pada kita. Sebagai contoh, mungkin anak saya mengalami kesulitan di sekolah; saya merasa seolah-olah sayalah satu-satunya orang di alam semesta yang memiliki masalah ini. Atau saya mengalami nyeri punggung, atau saya merasa tertekan – seolah-olah tak ada orang lain yang memiliki masalah ini, sayalah satu-satunya, dan itu adalah hal paling mengerikan di dunia. Atau kita berpikir: "Tak seorangpun bisa memahami aku. Semua orang lain mudah dipahami, tapi aku istimewa."

Kita membesar-besarkan semua hal ini, yang disebut citra. Kita mencitrakan pada mereka sesuatu yang mustahil, dan kita meyakini itu. Lalu kita merasa tidak aman, yaitu yang membuktikan bahwa kita mencitrakan, bahwa citra ini tidak secara teguh didasarkan kenyataan. Kita merasa tidak aman, dan kemudian kita memiliki berbagai siasat perasaan untuk berusaha membuat "aku" yang sangat penting ini aman. Sebagai contoh, aku yang harus selalu menguasainya – ketika kita tidak mendapatkan keinginan kita, apa yang kita lakukan? Kita marah, kita membanting sesuatu: bukan ini keadaan yang kuinginkan. Atau jika sesuatunya berjalan seperti yang kita inginkan, kita menjadi sangat melekat pada keadaan itu, berpikir bahwa jika aku bisa menjadikan segala sesuatu di sekitarku seperti yang kuinginkan, maka itu akan membuatku merasa aman. Atau kita menjadi sangat serakah dan melekat: jika orang lain mendapatkan yang mereka inginkan sedangkan aku tidak, aku sangat cemburu pada apa yang mereka dapatkan dan aku menginginkan itu untuk diriku sendiri. Kemudian kita bertindak secara kompulsif atas dasar perasaan-perasaan yang gelisah itu. Kita membentak seseorang dengan kemarahan, atau secara kompulsif memikirkan hal-hal mengerikan tentang kecemburuan atau keserakahan.

Semua ini disebut sebagai sebab sejati dari masalah-masalah kita. Kita tidak bahagia, dan apa yang kita lakukan? Kita mengeluh: Malangnya diriku, aku tidak bahagia. Dan jika kita bahagia, kita tidak pernah cukup. Kita melekat pada kebahagiaan kita, dan kita tidak pernah puas – kita selalu ingin lebih. Jika Anda mengamati diri Anda sendiri, apakah Anda mendapati bahwa kadang-kadang Anda seperti anjing? Ketika anjing memakan makanannya, ia selalu memandang sekelilingnya untuk memastikan tidak ada anjing lain datang dan merebut makanannya. Jadi, seperti anjing, manusia merasa: aku mendapatkan kebahagiaanku. Aku mendapatkan segala sesuatunya berjalan seperti yang kuinginkan. Tapi mungkin orang lain akan merebutnya dariku. Kita tidak aman.

Semakin banyak kita menguraikan dan melihat ke dalam diri kita sendiri, sungguh menakjubkan apa yang kita temukan. Kita mendapatkan pemikiran-pemikiran seperti: "Aku bahagia tapi mungkin aku bisa lebih bahagia. Aku tidak bahagia, dan itu akan berlangsung selamanya. Malangnya diriku. Aku tidak akan pernah bisa keluar dari kesedihan ini." Kita menemukan bahwa cita kita terus-menerus berputar dalam kebingungan tentang bagaimana kita ada.

Cara lain untuk berpikir adalah, misalnya, jika aku memiliki sesuatu, aku bisa saja puas dengan itu. Sebagai contoh, saya punya arloji. Arloji saya berfungsi, dan jika ini rusak saya bisa memperbaikinya. Saya bisa memilih untuk puas dengan apa yang saya miliki, tetapi sebaliknya mungkin saya melihat arloji orang lain dan berpikir: "Ooh, mereka punya arloji yang lebih bagus daripada milikku." Kemudian masalahnya bermula. "Oh, arloji ini tidak sebagus arlojinya. Mengapa aku hanya punya arloji bermutu rendah ini? Bagaimana aku bisa mendapatkan arloji yang lebih bagus? Jika orang-orang melihatku memakai arloji murahan ini, apa yang akan mereka pikirkan tentang diriku?"

Itu adalah rasa batin yang sangat umum – kekhawatiran tentang apa yang orang lain akan pikirkan. Begitu banyak masalah berkaitan dengan kekhawatiran tentang citra diri, bagaimana orang lain melihat kita. Dalam kasus saya, saya mungkin berpikir bahwa guru-guru terbaik semestinya punya arloji yang bagus. Tapi cara berpikir lainnya adalah: Aku punya arloji murah, lalu kenapa? Inilah wawasan yang kita perlu miliki: Lalu kenapa? Apakah penting arloji macam apa yang saya miliki? Arloji saya menunjukkan waktu kepada saya, dan itulah yang penting bagi saya.

Selain itu kita mungkin memiliki pikiran-pikiran pada sisi keekstreman lain: alih-alih berpikir bahwa saya harus punya arloji yang bagus, saya bisa berpikir bahwa saya seharusnya menjadi guru ajaran Buddha, sehingga saya harus rendah hati. Saya tidak semestinya memiliki benda-benda mahal, karena kemudian orang akan berpikir saya melakukan ini untuk uang. Maka saya akan sangat bangga dengan fakta bahwa saya punya arloji murah, dan saya ingin benar-benar memperlihatkannya kepada semua orang; saya ingin memamerkan: "Lihat betapa murahnya arloji saya. Saya begitu rendah hati. Aku begitu Buddha." Dan tentu saja ini adalah tataran cita yang sangat mengganggu.

Itulah duka. Itulah yang dibicarakan ajaran Buddha – bagaimana cara menyingkirkan kebingungan, pola-pola berpikir khawatir. Semua duka ini berdasar pada sikap kita, terutama sikap kita tentang diri kita sendiri.

Penghentian Sejati

Kebenaran Mulia ketiga yang Buddha lihat adalah bahwa sebenarnya mungkin bagi kita untuk menyingkirkan semua masalah ini. Mungkin bagi kita untuk mencapai penghentian sejati sehingga mereka tidak berulang lagi. Ini bukan hanya persoalan pergi tidur dan tidak mengalami masalah-masalah itu ketika saya tidur, karena ketika saya bangun masalah saya kembali lagi. Kita tidak menginginkan pemecahan sementara jenis itu.

Mengapa kita mengatakan bahwa adalah mungkin bagi kita untuk menyingkirkan masalah selamanya? Apakah itu hanya isapan jempol belaka? Apakah pada kenyataannya itu adalah sesuatu yang bisa benar-benar terjadi? Yang dikatakan ajaran Buddha adalah kita dapat menyingkirkan semua masalah ini selamanya, karena sifat dasar cita kita adalah murni.Maka kemudian kita perlu memahami arti dari itu. Ketika kita berbicara tentang cita dalam ajaran Buddha, kita tidak berbicara tentang suatu mesin yang berada di dalam kepala kita yang melakukan kegiatan berpikir. Kita berbicara tentang semua kegiatan batin. Kegiatan batin kita berlangsung terus dan terus dan terus. Dan kegiatan batin meliputi perasaan dan pencerapan, tidak hanya berpikir. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa kegiatan batin dasar sebaiknya tidak bercampur dengan kebingungan. Ia tidak semestinya bercampur dengan perasaan-perasaan yang gelisah, seperti kemarahan dan sebagainya – yang bukan merupakan bagian dari sifat dasarnya.

Ini mungkin tampak seolah-olah kita selalu marah atau selalu bingung. Banyak orang memiliki pengalaman mendengar sebuah lagu yang tanpa henti terngiang-ngiang di kepala mereka. Seolah-olah lagu itu tidak akan berhenti. Pada saat bangun di pagi hari, lagu itu mulai lagi. Ini konyol, tapi juga kompulsif. Namun, lagu itu bukan bagian dari sifat dasar sebenarnya dari kegiatan batin seseorang. Jika iya, lagu itu pasti akan ada di sana sejak orang itu dilahirkan, sampai saat ini. Tetapi kegiatan batin tidak mengada dalam cara yang mustahil ini; tidak benar bahwa cita saya selalu mendengar lagu konyol ini di dalamnya. Itu mustahil. Saya bisa melawan lagu dalam kepala saya ini. Sebagai contoh, saya bisa melawannya dengan menghitung napas. Itu adalah cara yang sangat mudah untuk setidaknya menghentikannya sementara. Mulailah menghitung napas sampai sebelas secara berulang-ulang. Jika Anda benar-benar fokus dan memusatkan cita, lagu itu berhenti. Itu berarti lagu ini bukanlah bagian yang hakiki dari kegiatan batin.

Melawan Perasaan-Perasaan yang Gelisah dengan Mengubah Sikap Kita

Sama halnya dengan perasaan-perasaan yang gelisah. Kita bisa menantang mereka dengan kekuatan-kekuatan pelawan. Kita bisa mengubah sikap kita. Dengan perubahan sikap, seluruh pengalaman kita akan berubah. Misalnya saya sedang berusaha menyelesaikan sebuah pekerjaan di kantor, dan saya bisa melihat itu sebagai hal yang sangat sulit – begitu mengerikan sehingga saya tidak akan pernah mampu menyelesaikannya. Lalu saya benar-benar menderita. Di sisi lain, saya bisa mengubah sikap saya dan melihatnya sebagai tantangan. Saya bisa berpikir: "Ini adalah tantangan yang sebenarnya. Ini adalah petualangan yang coba kuungkap. Mari melihat apakah aku bisa melakukannya" – saya bisa menganggap tugas itu seperti memecahkan sebuah teka-teki. Bayangkan bagaimana kita menghadapi sebuah permainan komputer. Anda bisa melihat permainan itu terlalu sulit, berpikir bahwa Anda tidak pernah bisa memainkan permainan itu. Atau Anda bisa melihatnya sebagai hal yang menyenangkan; Anda bisa menganggapnya sebagai suatu petualangan – aku akan mencoba mengungkapnya, aku akan mencoba menguasai permainan ini. Maka bahkan jika itu sulit, itu juga menyenangkan. Jadi semuanya bergantung pada mengubah sikap kita.

Dalam kerangka kebingungan tentang bagaimana saya ada, dan bagaimana Anda ada, dan bagaimana segala sesuatu di sekitar saya ada, ada daya perlawanan yang tepat untuk itu. Bukannya tidak tahu bagaimana sesuatu ada, saya tahu bagaimana sesuatu ada. Bukannya mengetahui secara keliru, saya tahu secara tepat.

Cara yang Benar dalam Memahami Kenyataan

Mengetahui secara tepat bagaimana sesuatu ada adalah Kebenaran Mulia yang keempat. Ini biasanya disebut Jalan yang Benar, dan ini berarti cara yang benar dalam memahami. Cara pemahaman yang benar akan melawan cara pemahaman yang keliru. Setelah kita yakin bahwa seperti inilah bagaimana sesuatu ada, kita menyadari bahwa cara lain yang kita pikirkan tentang bagaimana sesuatu itu ada adalah mustahil, tidak masuk akal. Kemudian dengan keyakinan itu, kita memelihara pemahaman yang benar itu.

Sebagai contoh, orang mungkin berpikir: "Akulah pusat alam semesta. Akulah yang paling penting dan aku harus selalu mendapatkan yang kuinginkan." Pikiran itu dilawan oleh: "Siapakah aku sebenarnya? Aku tidak istimewa. Semua orang adalah sama. Mengapa aku harus menjadi satu-satunya yang mendapatkan yang kuinginkan?" Itu sangat masuk akal – pemikiran bahwa: "Aku tidak istimewa. Aku sama seperti semua orang." Bagaimana kita tahu bahwa ini benar? Ya, kalau aku adalah pusat alam semesta, jika aku memang satu-satunya orang yang harus mendapatkan yang kuinginkan, orang lain harus setuju dengan azas itu. Lalu mengapa mereka tidak setuju? Apakah itu karena mereka bodoh? Dan bagaimana dengan orang-orang yang hidup dan mati sebelum aku dilahirkan – apakah mereka juga harus berpikir bahwa akulah satu-satunya orang yang paling penting? Dan mengapa hanya aku seorang yang harus mendapatkan yang kuinginkan, sedangkan mereka tidak?

Kita menguraikan. Sangat penting untuk berpikir: Apakah caraku mencitrakan dan berurusan dengan dunia masuk akal? Dan jika itu tidak masuk akal, mengapa aku bertindak secara kompulsif seolah-olah itu benar – bertindak seolah-olah aku harus selalu mendapatkan yang kuinginkan, bahwa aku selalu memegang kendali atas apa yang terjadi di sekitarku. Itu hanya membenturkan kepala ke dinding. Jadi ketika saya mendapati diri saya mulai bertindak seperti itu, saya akan berusaha menyadarinya. Dan segera setelah saya menyadari hal itu, maka saya dapat berkata pada diri saya sendiri, "Ini konyol," dan kemudian menghentikannya, tidak melakukannya. Ketika perilaku kita kompulsif, itu karena kita tidak menyadari apa yang terjadi.

Tentu saja tidak mudah untuk menghentikan berpikir dengan cara tertentu. Tetapi seperti contoh lagu yang terus-menerus terngiang di kepala kita, kita bisa melawan perilaku batin negatif, atau setidaknya menghentikan itu untuk sementara, dengan menghitung napas kita. Kita juga dapat menggunakan napas dengan kekhawatiran yang kompulsif, pikiran-pikiran yang kompulsif, dan perasaan-perasaan seperti kekecewaan dan buncah. Bahkan jika saya tidak dapat mengurai dan memahami secara sangat mendalam sebab sejati dari masalah saya, setidaknya saya tidak membiarkan pikiran negatif saya berlanjut; alih-alih saya bisa menghitung napas. Dengan kata lain, saya bisa menenangkan diri. Saya bisa beristirahat sejenak dari desakan kekhawatiran ini, tekanan berpikir: Mengapa keadaan ini tidak menjadi seperti yang kuinginkan? Setelah rihat batin, kita sedikit lebih tenang dan kemudian kita bisa bertanya pada diri kita sendiri: "Mengapa aku mengharapkan segala sesuatu berjalan seperti yang kuinginkan? Apakah aku Tuhan?”

Contoh bagus lainnya tentang berpikir secara tidak mantik adalah keyakinan bahwa setiap orang harus menyukai saya. Lawan dari itu adalah: Bahkan dalam masa kehidupan Sang Buddha, tidak semua orang menyukai Sang Buddha, jadi mengapa aku berharap setiap orang menyukaiku? Itu membantu kita untuk sedikit lebih makul. Ada beberapa fakta yang sangat mendasar tentang kehidupan, salah satunya adalah bahwa Anda tidak dapat menyenangkan semua orang. Mungkin kita ingin menyenangkan semua orang, tapi sayangnya ini tidak mungkin. Apakah kita menyenangkan mereka atau tidak, itu terserah mereka – itu tergantung pada sikap mereka, yang tidak bisa saya kendalikan. Itu adalah wawasan yang sangat ampuh: Apakah orang-orang menerima saya atau tidak adalah hasil dari berbagai sebab dan berbagai keadaan. Tanggapan mereka kepada saya tidak semata-mata bergantung pada tindakan saya. Kita perlu berusaha sebaik mungkin, tentu saja, tapi kita jangan mengharapkan yang tidak mungkin. Kita berniat untuk berbuat baik, kitaberusaha untuk berkelakuan baik, tapi tidak ada yang sempurna. Buddha sempurna, tapi saya bukan seorang Buddha.

Pemahaman yang benar dan jalan yang benar berarti menyusun kembali dan mencoba melawan kebingungan kita dengan kejelasan pemahaman; pemahaman tentang bagaimana saya ada, bagaimana Anda ada, bagaimana semua orang dan segala sesuatu ada.

Cara Menanggapi Kemacetan Lalu Lintas

Mari kita ambil contoh dari kehidupan modern. Barangkali saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, yang menyebabkan saya terlambat untuk sebuah janji, dan saya mengalami keadaan itu dengan ketidakbahagiaan. Saya secara kompulsif memikirkan pikiran-pikiran negatif yang penuh dengan ketidaksabaran dan kemarahan. Ini adalah keadaan di mana Anda tidak perlu meyakini kelahiran kembali untuk menata pikiran-pikiran Anda. Wawasan-wawasan dasar sains dan filsafat Buddha bisa membantu kita dalam keadaan ini. Saya bisa menguraikan situasi ini: Apa yang terjadi? Aku terlambat, dan aku tidak bahagia. Kita bisa mengatakan: "Lalu kenapa, aku tidak bahagia" dan cukup sampai di situ. Akan tetapi bukannya menerima kenyataan bahwa saya tidak bahagia, saya fokus pada ketidakbahagiaan itu, dan saya terlena dengan itu; saya membayangkan bahwa ketidakbahagiaan itu akan berlangsung selamanya. Gambaran yang digunakan dalam ajaran Buddha adalah saya bagaikan orang yang haus, sangat mengharapkan air seolah-olah saya sekarat karena kehausan. Ketidakbahagiaan yang saya alami ini bagaikan merasa sangat haus dan merasa bahwa saya harus mendapatkan air! Dalam keadaan lalu lintas yang macet itu, saya berpikir: "Aku harus keluar dari keadaan ini, dan aku tidak sabar untuk bisa bebas dari ketidakbahagiaan dan kekecewaan ini." Itu mirip dengan orang haus yang berpikir: "Aku tidak sabar untuk bisa mendapatkan seteguk air."

Sangat menarik bahwa gambaran orang yang haus ini juga diterapkan ketika kita merasa bahagia. Kita tidak ingin kebahagiaan kita berakhir dan kita mencengkeramnya dengan erat. Bayangkan seperti apa ketika Anda sangat haus dan Anda meminum tegukan pertama air itu. Seperti apa sikap itu? Kita begitu haus sehingga kita tidak ingin sekadar seteguk air; kita ingin lebih dan lebih, kita ingin minum dan minum dan minum. Ini adalah persoalan yang sangat menarik untuk diuraikan pada diri kita sendiri. Apakah aku haus akan kebahagiaan? Kita semua ingin bahagia; tak seorangpun ingin tidak bahagia. Ini adalah asas umum yang diterima dalam ajaran Buddha, dan tidak ada yang salah dengan itu. Tapi apakah sikap saya dalam memperoleh kebahagiaan seperti seseorang yang sekarat karena kehausan? Apakah saya haus akan kebahagiaan? Dan ketika saya mendapatkan sedikit kebahagiaan, apakah saya merasa tertekan? Apakah saya berpikir: "Jangan melepaskannya! Aku tidak boleh kehilangan rasa bahagia ini!" Dan jika saya kehilangan kebahagiaan itu, apakah saya berpikir: "Oh, aku tidak tahan! Aku harus menemukan kebahagiaan lagi!" Kemungkinan ketiga ini adalah kenetralan: Aku tidak haus sekarang, tapi aku khawatir nanti aku akan haus, jadi aku membawa botol air kemana-mana, karena aku khawatir dengan kemungkinan merasa haus nantinya. Bahkan ketika kita tidak bahagia dan tidak tak bahagia, tetap saja kita takut bahwa kita akan sangat tidak bahagia nantinya.

Berhadapan dengan Ketidakbahagiaan Kita Sendiri

Terjebak dalam kepadatan lalu lintas dan merasa kecewa mirip dengan bertumpu pada ketidakbahagiaan. Saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, dan bagai orang yang haus, saya secara cemas berpikir: "Aku harus keluar dari keadaan ini. Aku harus keluar dari tataran cita yang tidak bahagia ini." Saya dirasuki oleh ketidakbahagiaan itu, dan saya berpikir ini akan berlangsung selamanya.

Jadi dalam keadaan sulit terjebak dalam lalu lintas yang lambat dan merasa kecewa, hal pertama yang saya pusatkan adalah betapa tidak bahagianya saya: "Malangnya diriku, aku akan terlambat. Malangnya diriku, aku tidak tahan terjebak dalam kemacetan lalu lintas ini. Aku harus mendapatkan yang kuinginkan. Aku tidak tahan bahwa aku tidak memegang kendali atas keadaan ini. Aku ingin memegang kendali, berkendara secepat mungkin." Hal kedua yang saya pusatkan adalah kemacetan lalu lintas itu sendiri, seolah-olah itu akan berlangsung selamanya: "Kemacetan lalu lintas ini tidak akan berakhir. Aku akan terjebak di sini sepanjang hari." Ketika saya tidak memegang kendali, saya tidak bisa terima.

Yang terjadi di sini adalah sepenuhnya dirasuki citra – citra tentang ketidakbahagiaan yang saya rasakan, citra tentang kepadatan lalu lintas itu, dan citra tentang aku. Yang perlu kita lakukan adalah menyusun kembali tiga citra ini, dan untuk itu kita menggunakan asas-asas umum dalam filsafat Buddha, yang amat sangat berguna. Ajaran-ajaran Buddha mengatakan bahwa kebahagiaan dan ketidakbahagiaan datang silih berganti. Suasana hati kita tak henti-hentinya naik dan turun. Jika kita tahu dan menerima bahwa setiap keadaan berubah, kita kemudian bisa berpikir: "Sekarang aku tidak bahagia. Ini bukan apa-apa. Ini tidak akan berlangsung selamanya."

Baik saya merasa bahagia maupun tidak bahagia timbul karena sebab dan keadaan. Seorang guru besar Buddha dari India, Shantidewa, memberi kita sepenggal nasihat yang sangat berguna: Jika ada situasi yang bisa Anda ubah, mengapa khawatir? Ubahlah. Dan jika ada keadaan yang tidak bisa Anda ubah, mengapa khawatir? Khawatir tidak akan membantu.

Jadi, dengan menggunakan asas ini, saya dapat berpikir: "Aku tidak bisa memacu kendaraanku menembus kemacetan lalu lintas ini. Aku terjebak di sini. Aku tidak bisa mengubahnya, jadi aku hanya perlu menerima kenyataan ini." Menerima kenyataan adalah sesuatu yang sangat sulit bagi kebanyakan dari kita. Adakah sesuatu yang bisa kita lakukan dengan keadaan itu? Jika saya punya telepon seluler, saya bisa menelepon orang yang hendak saya temui, dan mengatakan, "Maaf, aku terjebak lalu lintas. Aku akan terlambat." Apakah mereka kecewa atau tidak kecewa adalah masalah mereka. Meskipun terdengar sedikit kasar, faktanya itu memang benar. Kenyataannya adalah saya terjebak, saya akan terlambat, dan saya tidak memiliki kendali atas bagaimana orang lain menanggapi.

Dalam keadaan ini Anda perlu berhati-hati pada rasa bersalah – merasa buruk bahwa saya melewatkan janji, merasa seolah-olah saya mengecewakan teman saya, orang yang tengah menunggu saya. Itulah rasa bersalah. Ada cara berpikir yang salah di sini, yaitu pikiran bahwa saya seharusnya mampu mencegah hal ini terjadi; adalah salahku bahwa lalu lintas di jalan ini sangat padat. Jelas ini konyol – bagaimana bisa kemacetan lalu lintas adalah salah saya? Memang benar saya bisa berangkat lebih awal sebelumnya, tapi tetap saja bisa terjadi kecelakaan di jalan; saya bisa saja terlambat meskipun seandainya saya berangkat lebih awal. Tidak semuanya berada dalam kendali saya, dan tidak semua hal yang terjadi di alam semesta adalah salah saya. Jadi alih-alih, saya bisa berpikir: "Aku tidak senang aku terlambat, tapi ini bukan salahku, dan aku akan melakukan yang terbaik untuk tiba secepatnya, tergantung pada lalu lintas." Saya dapat menyusun kembali ketidakbahagiaan yang saya rasakan karena terjebak dalam lalu lintas; Saya bisa mendengarkan musik; Saya bisa menikmati diri saya sendiri sementara saya di sana. Jika saya terjebak, saya bisa melakukan yang terbaik dari keadaan itu.

Berpikir tentang Kemacetan Lalu Lintas

Selanjutnya kita perlu menyusun kembali pemahaman tentang kemacetan lalu lintas itu. Cara saya memandang kemacetan lalu lintas ini adalah berpikir bahwa ini mengerikan; ini adalah keadaan terburuk di dunia. Tentu saja kita berpikir ini akan berlangsung selamanya; kita berpikir bahwa kita tidak akan pernah melewati kemacetan ini dan tiba di tempat tujuan. Jadi kita dapat menguraikan keadaan itu: Kemacetan ini timbul dari banyak sebab. Apa pun yang timbul dari sebab bergantung pada sebab dan keadaan, dan dengan demikian itu akan berubah – itu tidak bertahan. Ketika berbagai keadaan bergantung itu berubah, keadaan itu sendiri akan berubah.

Misalnya saja ada kecelakaan di jalan. Itu adalah salah satu keadaan yang menyebabkan kemacetan lalu lintas. Pada akhirnya, kecelakaan itu akan dibersihkan dari jalan, orang yang terluka akan dibawa ke rumah sakit, mobil ambulans akan pergi, dan lalu lintas akan mulai bergerak lagi. Keadaan macet itu (mobil-mobil yang ringsek, kendaraan-kendaraan polisi dan ambulans) akan pergi. Dengan perubahan keadaan yang menyebabkan kemacetan lalu lintas, kemacetan lalu lintas itu sendiri akan berubah – masalah lalu lintas itu akan berakhir. Jadi, dengan menggunakan penguraian ini kita dapat melihat bahwa kemacetan lalu lintas bukan lagi hal yang sangat mengerikan. Amat sangat penting untuk melihat segala sesuatu dalam lingkung yang lebih luas pada semua sebab dan keadaan yang memengaruhinya, bukan melihatnya seolah-olah ia mengada dengan sendirinya – seolah-olah "kemacetan lalu lintas" membentuk dirinya sendiri dan semata-mata berada di sana tanpa terkait dengan suatu sebab atau keadaan.

Memperluas Pandangan Kita untuk Mencakup Hal-Hal Lain

Jadi dengan menggunakan filsafat Buddha, kita bisa memiliki sikap yang lebih makul tentang kemacetan lalu lintas itu. Dan kemudian kita bisa menyusun kembali sikap kita terhadap diri kita sendiri dalam kemacetan ini. Kita bisa melihat bahwa kita dirasuki pikiran "malangnya diriku" dan "aku tidak bisa tiba di tempat tujuanku tepat waktu." Tapi jika kita melihat kenyataannya, kita dapat mengerti bahwa aku bukan satu-satunya yang terjebak dalam kemacetan ini. Ada orang-orang di dalam mobil-mobil di sekitar saya, dan semua orang itu juga ingin segera tiba di tempat tujuan mereka. Saya bukan satu-satunya. Saya bisa memandangi orang-orang di mobil-mobil lain di sekitar saya – kanan, kiri, depan dan belakang – dan jika saya melihat bahwa mereka sangat buncah dan marah, itu dapat membantu saya mengembangkan welas asih, yaitu keinginan agar mereka bebas dari perasaan dalam masa sulit semacam ini, dan keinginan agar mereka tidak terjebak dalam kemacetan lalu lintas ini.

Ketika saya hanya memikirkan diri saya sendiri, rentang pikiran ini amat sangat sempit. Ketika pikiran saya hanya berpusat pada saya, cita saya sangat sempit. Saya menggenggam erat-erat pikiran "malangnya diriku." Segala sesuatu di dalam diri saya, semua tenaga saya terikat erat. Sedangkan jika saya berpikir dalam kerangka yang lebih luas tentang semua orang di sekitar saya, yang juga terjebak dalam kemacetan itu, maka segenap tenaga cita saya jauh lebih luas, dan karena rentang berpikir saya luas dan membentang, cita saya jauh lebih santai. Karena bagian duka dari ketidakbahagiaan saya berpegang pada itu dengan begitu erat, dengan cara pandang yang sempit tentang diri saya, jika saya bisa memperluas pikiran saya, itu merupakan cara yang manjur untuk mengatasi ketidakbahagiaan yang saya rasakan. Segenap tataran cita saya menjadi lebih nyaman, lebih santai; saya tidak menderita begitu banyak. Itu tidak mengubah fakta bahwa saya akan terlambat untuk memenuhi janji saya – tidak ada yang bisa saya lakukan tentang itu, tapi saya dapat melakukan sesuatu pada sikap saya tentang terjebak dalam kemacetan lalu lintas.

Kesimpulan: Menggunakan Ajaran Buddha untuk Mengurai dan Mengubah Pikiran Kita

Demikianlah kesesuaian ajaran Buddha tidak hanya dalam kehidupan modern, tapi dalam semua kehidupan. Kita mencoba memberi perhatian pada perasaan-perasaan kita, sikap-sikap kita, dan citra-citra yang kita buat, yang merupakan dasar bagi sikap-sikap itu. Kita menguraikan sifat-sifat kompulsif pada pikiran, wicara, dan tindakan kita. Sifat-sifat kompulsif itu ditimbulkan oleh citra-citra yang kita buat, dan kita mencoba menerapkan cara-cara penyusunan-ulang untuk melihat secara lebih jelas kenyataan dari apa yang terjadi. Dengan cara ini, sains dan filsafat Buddha sesuai bagi kehidupan sehari-hari untuk mengurangi duka yang kita sebabkan sendiri. Saat kita mengalami pasang dan surut dari bahagia kemudian menjadi tidak bahagia dalam kehidupan sehari-hari, kita berusaha untuk tidak seperti orang yang haus. Ketika kita bahagia kita menikmatinya selagi masih memilikinya, karena itu tidak akan bertahan. Tapi kita jangan menjadikan itu hal besar – nikmatilah apa adanya. Dan jika kita tidak bahagia, kita ingat bahwa setiap orang adakalanya tidak bahagia – ini sangat wajar. Kita hanya perlu melanjutkan segala hal yang kita perlu lakukan, dan dengan cara ini kita menjalani kehidupan tanpa membesar-besarkan segala sesuatu yang terjadi. Dengan kata lain, kita menahan diri agar tidak membesar-besarkan keadaan dengan citra kita sendiri. Dengan cara ini, hidup menjadi penuh suka cita, karena ketika kita tidak sepenuhnya disibukkan dengan "aku" dan apa yang kuinginkan, maka kita dapat melihat suka cita pada hal-hal kecil dalam kehidupan kita sehari-hari.