Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Buddha di Dunia Masa Kini > Membedakan Dharma dari Budaya Asia

Membedakan Dharma dari Budaya Asia

Alexander Berzin
Berlin, Jerman, Juli 2010

Pentingnya Lingkung Budaya

Malam ini saya diminta untuk berbicara tentang membedakan Dharma Buddha, ajaran-ajaran Buddha, dari budaya Asia atau budaya Tibet. Ini adalah pertanyaan yang sangat penting untuk diajukan, terutama jika kita berupaya untuk bermanfaat bagi orang lain. Sebagai contoh, kita sendiri mungkin terpesona dengan budaya Tibet atau budaya Asia secara umum dan menyukainya; tapi jika kita ingin membantu orang lain dan mengajarkan kepada mereka tentang ajaran-ajaran Buddha, akankah itu membantu bagi mereka? Saya pikir itulah sebenarnya pertanyaannya, bukan? Dan demikian halnya kita mungkin suka atau tidak suka unsur-unsur budaya Tibet, akan ada orang lain yang kita coba bantu mungkin suka atau tidak suka. Jadi kita harus luwes dalam kerangka bekerja dengan orang lain, membantu orang lain. Apakah kita menganjurkan mereka untuk menyalakan lampu mentega dan membentangkan bendera doa, hal semacam ini, atau apakah itu hanya akan menyebabkan mereka berpaling dari ajaran Buddha, hilang semangat? Ada dua pertimbangan di sini: tujuan dan keuntungan kita sendiri dan tujuan dan kepentingan orang lain.

Nah, di sini kita harus mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar. Dapatkah Anda memiliki ajaran-ajaran Buddha tanpa lingkung budaya? Dengan kata lain, dapatkah ajaran-ajaran ini ada dengan sendirinya tanpa suatu lingkung, yang serupa dengan pertanyaan dapatkah sesuatu berada di luar lingkung? Atau jika kita ingin menggunakan pengistilahan yang kita temukan dalam ajaran-ajaran sunyata; dapatkah kita menetapkan sesuatu sebagai ajaran Buddha hanya dari sisinya sendiri atau apakah itu ditetapkan secara bergantung pada suatu lingkung? Dan tentu saja, dari uraian tentang sunyata yang kita dapati dalam ajaran Buddha, kita tidak bisa menetapkan sebuah ajaran Buddha di luar lingkung.

Jadi, itu sesuai dengan asas umum yang kita ketahui bahwa Buddha mengajar dengan cara-cara yang terampil. Ia mengajar berbagai macam kaum, berbagai macam siswa, murid, dalam kerangka apa yang mereka bisa pahami. Dan itulah yang Buddha lakukan dalam kerangka orang lain. Ia mengajar orang lain dalam kerangka kepentingan orang lain. Dengan kata lain, dengan memikirkan orang lain, Buddha mengajar. Jika Anda memikirkan orang lain, orang lain hidup di dalam masyarakat dengan budaya, dengan gagasan-gagasan dasar, bukan? Jika kita melihat hanya dalam kerangka Buddha sejarawi, maka Buddha mengajar khalayak India. Jika kita berpikir dalam kerangka Mahayana yang lebih luas bahwa Buddha mengajar alam semesta yang tak terhitung dan makhluk yang tak terhitung dan segala macam budaya yang berbeda-beda, namun tetap saja dalam tiap-tiap bidang Buddha, dalam tiap-tiap alam semesta itu ada budaya.

Lingkung India yang Mendasar

Mari kita melihat ajaran yang telah dituliskan dan tersedia untuk kita dan kita menemukan tema-tema umum yang didapati dalam semua – “semua” adalah kata yang sangat luas – tapi hampir dalam semua tata filsafat India dan pemikiran India. Maka, karma, kelahiran kembali, seluruh gagasan kelahiran kembali yang berulang adalah karena pengaruh kebodohan atau ketidaksadaran tentang kenyataan; dan di bawah pengaruh karma yang dibangun atas dasar ketidaksadaran atau kebodohan itu; dan jalan mendengarkan ajaran-ajaran dari guru rohani, berpikir tentang mereka, bermeditasi pada mereka agar memperoleh kebebasan dari kebodohan dan kelahiran kembali samsarawi ini. Dengan kata lain kebebasan berasal dari memahami kenyataan dan memurnikan karma – yang umumnya kita temukan dalam begitu banyak tata India yang berbeda-beda. Dan ajaran-ajaran mengenai kasih dan welas asih, itu dimiliki bersama dengan tata-tata India lainnya. Semua cara untuk mencapai daya pemusatan, itu dimiliki bersama. Bahkan ajaran tentang cara mencapai shamatha dan vipashyana, yang kadang-kadang kita pikir hanya ada dalam ajaran Buddha, tapi tidak. Anda menemukan itu dalam tata-tata lain juga. Shamatha sebagai tataran cita yang tenang dan tenteram; vipashyana sebagai tataran cita yang sangat istimewa – ini kita temukan dalam tata-tata India lainnya.

Dan untuk komunitas wiharanya, Buddha mencontoh komunitas Jain yang sudah ada di sana, sehingga memiliki pertemuan biksu dua-bulanan dan segenap wawasan tentang perlindungan dan sebagainya, yang juga muncul dalam aliran Jain; yang datang sebelum ajaran Buddha. Dan tentu saja membuat persembahan-persembahan dan semua hal itu dengan semua makhluk yang berbeda dari alam yang berbeda – makhluk-makhluk neraka dan hantu-hantu dan dewa-dewi dan semua itu – itu pasti Anda temukan di semua tata India. Dan Gunung Meru dan benua-benua, semua itu juga ada dalam tata-tata India lainnya. Jadi jika kita menghilangkan semua itu, mengatakan bahwa kita dapat melakukannya tanpa lingkung budaya India, apa yang akan tersisa untuk kita miliki? Pertanyaan yang sangat menarik; kita akan kembali ke pertanyaan itu.

Ketika kita melihat bagaimana ajaran Buddha menyebar dari India, dan ajaran Buddha jelas diajarkan dalam lingkung budaya India, ketika kita melihat bagaimana ajaran ini menyebar ke budaya-budaya Asia lainnya, kita menemukan semua unsur yang telah kita sebutkan tadi, sila dst, semua hal ini dipertahankan. Kaum Tibet menjaga mereka, kaum Cina menjaga mereka, kaum Jepang menjaga mereka, dan Asia Tenggara menjaga mereka. Mereka melakukannya di tiap-tiap Negara itu, menambahkan sedikit pada unsur-unsur dasar yang membantu menjadikan ajaran-ajaran Buddha sedikit lebih nyaman dalam budaya mereka.

Unsur-Unsur Khas Budaya yang Dangkal Lawan Unsur-Unsur India yang Mendasar

Maka hal-hal ini ditambahkan, seperti yang saya sebutkan sebelumnya tentang bendera-bendera doa Tibet, yang pada dasarnya berasal dari aliran sebelumnya di Tibet, Bon, kita bisa berpendapat bahwa ini tidak begitu penting untuk kita ikuti dalam ajaran Buddha Barat, yang disebut “ajaran Buddha Barat.” Jadi kita memiliki unsur-unsur dangkal. Saya pikir kita perlu membedakan unsur dangkal tentang bagaimana ajaran Buddha disajikan dalam sebuah budaya dengan unsur-unsur India yang lebih mendasar dan kemudian adakah sesuatu, bahkan jika Anda menghilangkan unsur-unsur India, yang mencirikannya sebagai ajaran Buddha?

Saya pikir ada tiga tingkat di sini. Kaum Tibet – karena sebagian besar dari kita menerima ajaran-ajaran Buddha melalui perantara kaum Tibet – tidak mampu mengikuti sebagian adat India karena yang mereka miliki di Tibet tidak sama dengan yang mereka miliki di India. Di sini saya berpikir dalam kerangka persembahan. Bisa dipahami? Kaum Tibet tidak memiliki aneka bunga, misalnya, sehingga digunakanlah benda kering yang berasal dari pohon. Mereka menyebut itu bunga. Jika Anda pernah melihatnya, itu sejenis benih putih seperti kertas. Nah, apakah kita harus menggunakan itu? Tidak, jelas tidak. Kaum Tibet suka lampu mentega; di India mungkin mereka juga pernah memiliki lampu mentega, saya tidak tahu. Apakah kita harus melakukan itu? Mungkin tidak. Bisakah kita mempersembahkan bola lampu dan menyalakan aliran listriknya? Mengapa tidak? Itu cahaya. Kaum Tibet di India melakukannya, sebagian dari mereka, dan mereka juga mempersembahkan bunga-bunga plastik di India karena itu lebih awet. Kaum Tibet sangat praktis.

Dan lukisan-lukisan itu, thangka, ya, Anda memiliki jenis sosok-sosok itu pada lukisan-lukisan dinding di India, tetapi brokat Cina di sekelilingnya, yang jelas kaum Tibet ambil dari Cina, apakah kita perlu itu? Tidak, itu hal yang dangkal, bukan? Memasukkannya ke dalam bingkai. Dan bagaimana dengan musik? Kaum Tibet memiliki alat-alat musik yang berbeda dari India. Mereka menggubah iringan musik mereka sendiri. Jadi kita bisa mengatakan, apakah kita harus memainkan alat musik Tibet atau bisakah kita memainkan trombon atau terompet atau saksofon untuk persembahan? Apakah itu dapat diterima? Itu pertanyaan yang menarik, bukan? Tapi dalam teorinya, mengapa tidak? Apa intinya? Inti dari persembahan-persembahan ini adalah untuk membuat persembahan, untuk bermurah hati, untuk mengembangkan kemurahan hati. Para Buddha, dari sisi mereka, tidak peduli apakah mereka mendengar sitar atau terompet Tibet atau saksofon. Apa bedanya bagi mereka? Tentu saja tidak ada. Yang penting adalah itu terhormat dan tidak terdengar seperti lagu populer yang konyol.

Apa hal-hal lain yang terlintas di benak kita tentang perubahan dari budaya ke budaya itu? Bagaimana dengan jubah biksu? Kaum Tibet tentu setidaknya memiliki warna yang berbeda, bentuk yang berbeda dengan jubah yang dikenakan di Asia Tenggara. Kaum Cina memiliki jubah yang berbeda, sedangkan kaum Mongolia memiliki jubah yang berbeda, tapi mereka semua memiliki jubah. Itulah intinya. Kita bisa bertanya tentang sumpah-sumpah biksu dan dan sumpah-sumpah biksuni. Itu menjadi pertanyaan yang menarik, bukan? Mereka dijaga di berbagai negara tempat ajaran Buddha menyebar dalam berbagai versi sumpah yang berkembang di India, dan kalimat-kalimat yang berbeda dari sumpah itu menyebar ke berbagai negara, namun demikian, mereka tetap dipelihara. Apakah kaum Tibet, misalnya, mengikuti semua sumpah itu? Nah, Anda harus mengatakan bahwa beberapa sumpah tampaknya tidak sesuai. Kaum Tibet tidak pergi bertelanjang kaki di desa dengan mangkuk sedekah, dan semua sumpah mengenai bagaimana Anda meminta, dan menjaga pandangan Anda ke bawah, dan seterusnya – kaum Tibet bahkan melakukan itu jika mereka memiliki sumpah itu, bukan?

Jadi, tentu saja itu menjadi pertanyaan yang sangat sulit dan rawan: jika Anda memiliki sumpah, apakah itu berarti Anda harus berkeliling dan minta sedekah? Kaum Tibet mendapatkan makanan mereka di wihara-wihara di Tibet dari persembahan. Mereka tidak pergi untuk mengumpulkan persembahan-persembahan itu; warga setempat membawa persembahan itu kepada mereka. Apakah itu tetap dalam aturan-aturan Vinaya? Itu sulit untuk dijawab. Orang Cina, mereka mengatakan, tidak ada minta sedekah. Para biksu dan biksuni harus menghasilkan makanan mereka sendiri, mereka harus menjadi petani. Ada beberapa penyesuaian di sana.

Jadi jika kita melihat lembaga kewiharaannya, apakah minta sedekah adalah sesuatu yang semata-mata bersifat budaya? Tidak; jelas seluruh susunan lembaga kewiharaan adalah salah satunya itu harus disokong oleh masyarakat. Lalu, bagaimana Anda menyesuaikan itu pada masyarakat Barat ketika Anda masih memiliki sumpah tentang minta sedekah? Pertanyaan-pertanyaan sangat sulit dijawab. Haruskah kita mengirim semua biksu dan biksuni di sini di Jerman ke U-Bahn [kereta bawah tanah] untuk minta sedekah dengan mangkuk kecil atau menjual buku majalah kecil, seperti para penjual di sini untuk mendapatkan makanan setiap hari. Itu akan sedikit aneh, bukan? Tapi, itu adalah minta sedekah. Baiklah, jika masyarakat tidak meyokong komunitas wihara, bagaimana komunitas wihara bertahan? Ini merupakan pertanyaan yang sulit di Barat.

Lalu, apakah memiliki adat kewiharaan hanyalah budaya? Ya, Anda memiliki adat kewiharaan dalam kekristenan Barat kita, misalnya. Ada adat memberikan sumbangan yang akan menyokong mereka; tetapi sebagian wihara di Barat membuat anggur, misalnya. Ya, itu tidak akan mungkin dalam lingkung Buddha. Apakah kita menyesuaikan? Pertanyaan – apa yang Anda dapat sesuaikan? Seberapa banyak Anda dapat menyesuaikan?

Hal-hal lain yang ditambahkan ke dalam ajaran Buddha, contoh yang sangat baik adalah dalam ajaran Buddha Cina mereka menambahkan ketaatan anak kepada orang tua sebagai salah satu hal positif, yang berarti bahwa anak-anak harus merawat orang tua mereka. Itu amat sangat ditekankan; dan mereka bahkan memiliki persembahan kepada para leluhur. Sehingga, dari sudut pandang Buddha, itu sangat aneh karena, di sini, orang tua yang telah meninggal dunia sudah menerima kelahiran kembali. Dan kaum Tibet dan Cina memiliki adat-istiadat untuk memiliki lebih dari satu istri dan kaum Tibet, sebagian dari mereka memiliki lebih dari satu suami. Bagaimana hal itu cocok dengan ajaran-ajaran tentang kegiatan seksual yang tidak pantas? Jadi, mereka menambahkan hal-hal tertentu. Apakah kemudian kita perlu mengambilnya ke dalam budaya kita? Tidak.

Lalu, bagaimana dengan bahasa? Banyak lama Tibet menekankan bahwa kita harus melakukan laku kita dalam bahasa Tibet. Dalam sebuah ceramah belum lama ini yang diberikan oleh Dzongsar Khyentse Rinpoche di Berlin, ia mengangkat pertanyaan yang sangat menarik mengenai pokok itu. Ia berkata, jika orang Tibet harus mengucapkan semua doa dan laku mereka dalam bahasa Jerman, ditulis dalam huruf Tibet, tapi kata-kata Jerman, tanpa memahami apapun tentang apa yang mereka ucapkan, ia bertanya-tanya berapa banyak orang Tibet yang akan benar-benar melakukan itu. Itu adalah pertanyaan yang sangat menarik, bukan? Jadi, jelas, meskipun sebagian lama menekankan untuk menjalankan laku kita dalam bahasa Tibet, kita sebenarnya bisa mempertanyakan apakah itu membantu atau tidak. Kaum Tibet tidak menjalankan laku mereka dalam bahasa Sanskerta, bukan? Dan mereka juga tidak menggambarkan mantra-mantra dalam abjad Sanskerta. Mereka menggunakan abjad Tibet, dan mereka bahkan tidak melafalkan mantra-mantra itu seperti jika itu dilafalkan dalam bahasa Sanskerta. Vajra dalam bahasa Sanskerta, mereka lafalkan benza. Ketika itu menyebar dari Tibet ke Mongolia, kaum Mongolia melafalkannya ochir. Jadi mana yang benar? Dan ketika ia menyebar ke Cina, Anda bahkan tidak akan mengenali kata-katanya. Dan kemudian pelafalan Jepang dari huruf-huruf Cina menjadi semakin jauh. Ini semua adalah pertanyaan penting.

Salah satu alasan yang diberikan oleh seorang lama besar Tibet untuk bersikeras agar orang menjalankan laku-laku mereka dalam bahasa Tibet adalah ia memiliki murid-murid dari seluruh dunia dan ia mengatakan bahwa jika semua orang mendaras laku mereka, seperti puja Chenrezig, dalam bahasa Tibet, mereka semua bisa mengerjakan laku bersama-sama. Jika semua orang melakukannya dalam bahasa mereka sendiri-sendiri, mereka tidak akan bisa menjalankan laku bersama-sama. Itu salah satu alasan; tapi kemudian dengan demikian semua orang Tibet harus melakukan semuanya dalam bahasa Sanskerta, dan kaum Cina, dan kaum Asia Tenggara, semua orang harus melakukannya dalam bahasa Sanskerta, tapi mereka tidak melakukannya.

Saya harus memperbaiki perkataan saya karena kaum Asia Tenggara mengikuti ajaran Buddha Theravada. Mereka semua mendaras sutra-sutra dan sebagainya dalam bahasa Pali, dan itu pun baru belakangan ini, dan dalam sekitar – jangan mengutip saya dalam hal ini – seratus atau seratus lima puluh tahun terakhir sutra-sutra Pali ini diterjemahkan ke dalam bahasa setempat: Thailand atau Burma atau Sri Lanka. Jadi ini sedikit mirip dengan yang Luther akhirnya katakan bahwa Anda dapat menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman, tidak hanya dalam bahasa Latin. Namun Gereja Katolik: untuk waktu yang sangat lama, semua orang melakukan semuanya dalam bahasa Latin, tapi itu membuat suatu persatuan, bukan? Bahkan jika Anda tidak memahami artinya. Ada pendapat yang mendukung dan menentang.

Ada banyak hal, ketika Anda mulai berpikir tentang hal ini, yang orang bisa pertanyakan apakah semua itu hanya bersifat budaya. Bagaimana dengan cara orang duduk dalam meditasi? Kaum India duduk bersila. Kaum Tibet mengikuti itu. Umat Buddha Jepang duduk bersimpuh. Kaum Thailand duduk dengan kedua kaki menyamping ke salah satu sisi. Jadi bolehkah kita duduk di kursi? Ya, mungkin untuk laku-laku tertentu dalam tantra yang melibatkan bekerja dengan tata-tata tenaga halus, mungkin tidak. Tapi untuk laku biasa, mengapa tidak? Bahkan cara sujud-sembah dilakukan berlainan di tiap-tiap negara Asia. Jadi, saya pikir, orang harus berpikir ke asasnya dalam hal ini, dan asas di balik itu adalah menunjukkan rasa hormat, misalnya untuk sujud-sembah dan duduk dalam posisi yang nyaman atau posisi yang wajar, tidak hanya dalam cara lama, dengan tata-tertib untuk bermeditasi.

Dalam contoh-contoh yang saya berikan tersebut ada asas-asas tertentu yang diikuti dalam cara budaya yang berbeda di negara-negara yang berbeda. Jadi, kita bisa memiliki cara budaya kita sendiri. Para biksu memakai jubah khusus. Apakah jubahnya harus sama persis seperti di Tibet atau seperti di Cina? Ya, mungkin tidak. Tapi jubah itu harus istimewa, harus berbeda dengan pakaian orang biasa dan semua orang harus memakai yang sama sehingga Anda tidak peduli dengan seberapa bagus penampilan Anda. Dan apa asas di balik minta sedekah? Asas di balik itu adalah Anda tidak terlibat dalam perdagangan, dalam berusaha untuk mencari uang, berusaha untuk mendapatkan keuntungan, dan sebagainya. Jadi Anda hidup dari apa yang orang lain berikan pada Anda dan apapun yang diberikan Anda terima. Anda puas dengan itu. Adakah cara lain untuk dapat mewujudkan hal itu dalam masyarakat kita?

Apakah kita memerlukan semua hiasan rumit untuk sanggar Buddha seperti yang dilakukan dalam gaya Tibet dengan altar Tibet dan tirai-tirai pada langit-langit dan warna-warna khusus dan hal-hal seperti itu. Apakah kita benar-benar memerlukannya? Apakah itu bersifat budaya? Dan saya akan mengatakan ya, itu bersifat budaya; kita pasti tidak menemukan itu di kuil Buddha di Jepang. Tapi sebagian orang menyukainya, jadi jika mereka menyukai itu, mengapa tidak? Sebagian orang mungkin tidak menyukainya, dan menganggap itu sangat aneh. Jadi, saya pikir mungkin cukup mengenai tingkat dangkal; hiasan-hiasan Buddha, dekorasi dan bendera-bendera doa, jenis musik yang Anda persembahkan, dan semua itu.

Jadi mari kita beranjak ke tingkat kedua. Meskipun ada satu hal yang saya harus tambahkan dalam hal itu, bagaimana dengan persembahan-persembahan kepada roh, dan Anda juga mendapati hal itu di India. Anda memiliki sederetan – ini sangat sulit diterjemahkan – gandharva dan yaksha dan rakshasa. Mereka menyebutnya “setan” dan “roh pemangsa” dan hal-hal seperti itu dan kita membuat persembahan kepada mereka, “Lindungi kami, jangan ganggu kami,” seperti itu. Kaum Tibet benar-benar tidak mengarang-ngarang hal itu. Anda menemukan itu di India tapi kaum Tibet menambahkan jauh lebih banyak hal, dan kemudian kaum Mongolia menjaga semua yang dimiliki kaum Tibet dan menambahkan lebih banyak hal. Apakah kita memerlukan itu? Tidak. Ini menjadi sangat menarik, bukan, karena Anda mendapati yaksha dan rakshasa dan semua hal itu dalam pemikiran Indian umum, itu tidak hanya dalam ajaran Buddha.

Sekarang Anda dapat mengatakan ketika Anda datang ke Barat haruskah kita membuat persembahan kepada bangsa elf dan goblin dan segala macam makhluk dari buku Tolkien itu – bangsa hobbit dan hal-hal semacam itu karena itu adalah bagian dari budaya kita juga? Para penyihir jahat dan hal-hal seperti itu. Bagaimana jika kita melakukan itu? Akankah itu menjaga asas yang sama seperti yang ada dalam ajaran Buddha? Saya tidak ingin memberikan jawaban di sini, saya mengajukan pertanyaan. Bahkan, ada sebagian penerjemah di Barat yang menerjemahkan dakini sebagai malaikat dan peri; maka haruskah kita juga memiliki malaikat dan peri dalam ajaran Buddha kita? Jadi kita harus berpikir, apakah ada makna yang lebih dalam dari semua ini?

Apakah kita di sini berbicara tentang kekuatan berbahaya? Saya pikir di Barat kita lebih nyaman dengan kata kekuatan daripada roh. Ini menjadi pertanyaan sulit, karena dengan demikian Anda mulai berbicara tentang “kejahatan.” Adakah kejahatan di dunia ini dan kita harus memerangi kejahatan, dan kemudian itu masuk ke pertanyaan tentang setan dan hal-hal semacam itu. Jadi, apakah kita benar-benar ingin ajaran Buddha menuju ke situ? Akankah itu cocok dengan masyarakat kita, dengan budaya kita? Dan itu adalah pertanyaan sulit. Kebanyakan dari kita mungkin akan merasa lebih nyaman untuk tidak memiliki itu. Jika ajaran Buddha masuk ke Eropa abad pertengahan, mungkin ajaran ini akan memiliki hal-hal ini untuk mengusir setan, bukankah begitu?

Tapi apakah cara-cara terampil itu? Satu hal lain yang sangat bersifat Tibet yang mungkin kita bisa masukkan ke dalam kelompok unsur budaya dangkal yang jika Anda suka, baik, jika Anda tidak suka, Anda dapat melakukannya tanpa itu, yaitu torma – kerucut yang terbuat dari tepung barley dicampur mentega dan semua hiasannya. Maksud saya guru saya sendiri, Serkong Rinpoche, biasa mengatakan bahwa Anda bisa menggantinya dengan sekotak kue. Anda tidak perlu memiliki semua persembahan torma yang rumit itu.

Dapatkah Kita Melakukan tanpa Unsur-Unsur India Umum?

Mari kita beralih ke unsur-unsur India umum seperti karma, kelahiran kembali, kebebasan, pencerahan, dsb. Dapatkah kita menjalankan ajaran Buddha tanpa itu? Saya pikir itu akan terlalu berlebihan. Apa yang akan tersisa? Meditasi adalah sesuatu yang kita temukan dalam budaya India. Lalu apakah kita membuangnya hanya karena itu adalah budaya India? Rupa di mana kita mungkin melakukan meditasi sedikit berbeda dalam hal katakanlah, sikap badan, tapi cara itu sendiri adalah sesuatu yang jelas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jalan Buddha.

Kita melihat batas yang telah ditetapkan – kita mendapati ini dalam ajaran-ajaran Tibet – batas antara apa yang Dharma dan apa yang bukan; dan apa yang Dharma atau bukan adalah jika Anda bertujuan untuk – Anda menemukan ini dalam lam-rim – kehidupan masa depan dan seterusnya, bermanfaat bagi kehidupan masa depan dan seterusnya. Jika hanya untuk masa kehidupan ini saja, itu bukan Dharma. Ini sangat jelas di dalam ajaran-ajaran. Kemudian Anda memiliki tiga tingkat tujuan, tentang dorongan: untuk memperbaiki kelahiran kembali di masa depan, untuk mendapatkan kebebasan dari kelahiran kembali, dan untuk memperoleh pencerahan sehingga Anda bisa membantu semua orang untuk bebas dari kelahiran kembali.

Ada kelahiran kembali – bisakah Anda melakukan tanpa itu dalam ajaran Buddha? Saya berpendapat tidak bisa. Tapi, memperbaiki kehidupan masa depan – dan kelahiran kembali – Anda juga menemukan itu dalam rupa agama Kristen yang telah diubah; agama-agama Barat, masuk surga, masuk neraka; itu adalah kelahiran kembali, bukan? Dan dalam tata-tata India kita memiliki kelahiran kembali yang tak berawal, kitaran dan sebagainya; Anda memiliki kebebasan dari itu. Jadi sekadar bertujuan untuk memperbaiki kehidupan masa depan atau untuk mendapatkan kebebasan saja tidak menjadikan itu ajaran Buddha. Hanya memperbaiki kelahiran kembali masa depan bukanlah sebuah tujuan akhir dalam ajaran Buddha, tapi hanya untuk membantu kita untuk mampu terus menapaki jalan Buddha, untuk memiliki unsur-unsur sebab yang paling membantu guna terus menapaki jalan Buddha. Jadi, tak apa, unsur itu menjadikannya sesuatu yang bisa dimasukkan dalam ajaran Buddha, secara nyaman.

Yang Buddha katakan adalah untuk mendapatkan kebebasan, meskipun dalam aliran-aliran India lainnya mereka berbicara tentang kebebasan, “Kebebasanmu bukanlah kebebasan sejati. Kamu belum benar-benar terbebaskan,” Buddha berkata demikian karena pemahaman tentang kenyataan yang Anda miliki tidak benar, itu bukan pemahaman terdalam. Maka, jika Anda benar-benar ingin memperoleh kebebasan, inilah caranya. Jelas, yang lain mengatakan hal yang sama tentang ajaran Buddha: kepercayaan merekalah yang benar. Tapi, Buddha berpendapat dengan mantik. Guru-guru Buddha India kelak berpendapat dengan mantik dan secara sangat meyakinkan.

Dan seluruh persoalan tetang kelahiran kembali ini menjadi sangat penting dalam kerangka membuat ajaran-ajaran tentang karma menjadi masuk akal, karena hasil dari perilaku kita tidak perlu matang di masa kehidupan ini. Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak matang. Ini tentu saja menjadi pokok yang sangat sulit, bukan? “Mengapa saya harus mengikuti budi pekerti Buddha? Aku bisa menipu dan sebagainya dan tidak menghiraukannya.” Jadi kita harus mampu memahami kelahiran kembali untuk benar-benar berurusan dengan karma; dan untuk memahami itu, kita benar-benar harus memahami semua asas sebab dan akibat.

Saya membuat perbedaan antara Dharma Sejati dan Dharma-Sari, seperti Coca Cola dan Coca Cola lite (Coca-Cola lite adalah bentuk “lemah” atau “ringan” dari the real thing Coca-Cola). Dan bentuk ringan Dharma adalah bentuk tanpa kelahiran kembali, hanya semacam bersikap baik dan bermanfaat dan, Anda tahu, semua ajaran Buddha dalam kerangka perasaan-perasaan yang gelisah dan cara-cara untuk mengatasinya dan seterusnya, bahwa Anda dapat memiliki semua itu tanpa kelahiran kembali, tanpa kebebasan, tanpa semua itu. Tapi, itu bukan ajaran Buddha sejati. Jadi pertanyaannya menjadi: jika kita mengecilkan ajaran Buddha ke rupa kejiwaan lain, apakah itu tetap ajaran Buddha? Tapi, sekali lagi, seperti yang saya katakan, jika Anda menyebutnya Dharma-Sari, dan jika itu yang Anda inginkan, maka itu tidak apa-apa. Tapi jangan merancukannya dengan ajaran Dharma yang sebenarnya, Dharma Sejati dengan kelahiran kembali dan kebebasan dan pencerahan dan karma yang semuanya bagian dari budaya India. Tapi, tata-tertib yang bersila menjadi sedikit sulit dalam Dharma-Sari karena lagi-lagi orang mungkin tidak melihat hasilnya atau mengalami hasil dari perilaku merusak seseorang: penjahat yang lolos dan tidak pernah tertangkap, misalnya.

Dan pertanyaan yang sangat menarik muncul. Bisakah kita menggantikan upaya untuk memperbaiki kehidupan masa depan kita, dengan berpikir melampaui masa kehidupan ini dalam kerangka pengaruh perilaku kita pada generasi masa depan? Apakah boleh menambahkan itu ke dalam ajaran Buddha sebagai pengganti kehidupan masa depan? Itu akan lebih nyaman bagi cara berpikir kita, setidaknya cara berpikir duniawi Barat. Yah, saya rasa memikirkan pengaruh perilaku kita pada generasi mendatang tidaklah bertentangan dengan apapun dalam ajaran Buddha. Bahkan, itu sangat baik dalam kerangka pertimbangan, seperti kaum Cina menambahkan bakti kepada orang tua sebagai bagian dari ajaran Buddha. Tidak ada yang salah, tidak ada yang bertentangan dengan asas-asas Buddha dalam hal itu. Tapi bisakah itu menggantikan kelahiran kembali atau hanya menjadi sesuatu yang ditambahkan?

Ajaran Buddha selalu menekankan bahwa akibat dari perilaku kita, satu-satunya hal yang pasti adalah apa yang kita akan alami sebagai akibat dari itu. Tidak pasti apa yang orang lain akan alami. Anda bisa saja menraktir seseorang makanan yang lezat dan kemudian ia tersedak dan mati. Jadi, akan seperti apa hasil tidakan kita terhadap orang lain tidaklah pasti. Jadi, saya pikir kita tetap harus menghormati asas umum dalam ajaran Buddha ini bahwa orang melihat akibat dari perilakunya pada dirinya sendiri, pada kesinambungan arus-cita batin, atau kesinambungan batin.

Jadi berbagai unsur dalam ajaran Buddha tersebut, yang diajarkan kepada khalayak India – tapi semua itu tampaknya sudah mendunia, dalam kerangka kelahiran kembali, kebebasan, dst – tidak terbatas pada lingkung India, tapi itu muncul di lingkung India. Tetapi menghilangkan itu akan mengubah ajaran Buddha menjadi Dharma-Sari dan kita akan mendapatkan beberapa masalah dalam kerangka pemahaman tentang sebab dan akibat. Dan apa sebenarnya tujuan ajaran Buddha, apa tujuan jalan-rintis ini? Untuk sekadar memperbaiki segala sesuatu dalam masa kehidupan ini? Itu adalah tujuan dari Dharma-Sari. Atau sedikit lebih baik untuk memperbaiki dunia untuk generasi masa depan – persoalan-persoalan lingkungan, pemanasan global dll? Jadi, kita harus benar-benar jelas tentang apa tujuan kita dan apa yang sebenarnya Buddha tetapkan sebagai tujuan-tujuannya terlepas dari lingkung budaya – bukan tujuannya, tetapi tujuan bagi semua makhluk.

Ciri-Ciri Khas yang Unik dan Tak Tergantikan dari Ajaran Buddha

Sekarang, kita bisa bertanya adakah ciri-ciri Dharma Buddha yang perlu ada, terlepas dari budaya, terlepas dari pertimbangan-pertimbangan ini – yang saya maksud sebagai tingkat ketiga dari hal yang sedikit lebih mendalam, ciri-ciri khas ajaran Buddha itu sendiri yang tidak dimiliki oleh aliran-aliran lain. Dan kita memiliki apa yang disebut “empat cap tanda sah” atau “segel Dharma.” Istilah lengkap untuk itu adalah “pokok-pokok penyegelan yang akan memungkinkan kita untuk menandai pandangan tertentu, pandangan filsafat, bahwa itu berdasar pada ajaran Sang Buddha, kata-kata Sang Buddha, perkataan yang mencerahkan dari Sang Buddha.” Yang menjamin adalah bahwa sesuatu berasal dari perkataan sesungguhnya dari Sang Buddha, apa yang ia ajarkan? Dan ada empat pokok yang dinyatakan.

Jadi, bukan kasih dan welas asih yang membuatnya khas Buddha; bukan meditasi yang membuatnya khas Buddha; bukan komunitas wihara yang membuatnya khas Buddha, atau budi pekerti – jangan mencelakai orang lain – itu tidak khas Buddha. Itu semua bermuara pada pandangan tentang kenyataan yang membuatnya khas Buddha. Tapi itu tidak berarti kita bisa menghilangkan semua hal lain dan hanya memiliki pandangan ini. Jadi kita memiliki pokok-pokok pertama ini.

Yang pertama, semua kejadian yang disyaratkan atau kejadian yang dipengaruhi tidaklah tetap atau tidak mandek. Ini berarti segala sesuatu yang dipengaruhi oleh sebab dan keadaan – ini muncul dari sebab dan keadaan – akan berubah secara terus-menerus. Dan sebagian dari mereka akan berakhir, sebagian besar dari mereka akan berakhir. Ada sedikit yang akan berlangsung selamanya; tapi, tidak mandek di sini berarti ini berubah dari waktu ke waktu ke waktu. Sekarang mengajarkan ketaktetapan tidaklah khas Buddha, maksud saya adalah kebanyakan orang tidak menyadari hal ini. Mereka ingin berpikir bahwa hal-hal adalah tetap; hal-hal itu akan bertahan selamanya dan tidak akan berubah. Tapi, yang lebih mendasar adalah “aku,” aku berubah dari waktu ke waktu. Aku dipengaruhi oleh sebab dan keadaan dan aku berubah dari waktu ke waktu ke waktu.

Dalam pemikiran Hindu – “aku,” aku tetap – itu tidak memengaruhi aku. Aku tidak terpengaruh oleh apapun – cara berpikir seperti itu; tubuhku yang terpengaruh, tapi aku tidak. Aku mungkin mengalami bermacam-macam hal, tapi, “aku,” aku tidak berubah oleh itu. Pengetahuan, tapi “aku,” aku tidak berubah oleh itu. Jadi, segala hal tentang semua kejadian yang disyaratkan atau dipengaruhi ini berubah dari waktu ke waktu. Mereka tidak tetap dan tidak mandek, yang berlaku juga untuk “aku.” Selama sesuatu muncul dan dipengaruhi oleh sebab dan keadaan, itu akan berubah dan sebagian besar akan berakhir. Saya tidak ingin masuk pada pembahasan filsafati yang sangat dalam mengenai semua pokok tersebut. Ini sudah siang dan sangat gerah dan mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi, pokok ini, semua kejadian yang disyaratkan adalah tidak mandek, maka kita harus membedakan – ada beberapa hal tak mandek atau hal berubah yang menyusut, secara perlahan-lahan, dan berakhir; dan ada hal-hal lain yang tidak menyusut.

Dan sekarang kita berbicara tentang “aku,” apakah ini menyusut, seperti tubuh? Apakah ini memburuk dan hancur atau apakah “aku” ini terus berlanjut? Jika “aku” dipengaruhi oleh sebab dan keadaan, pada akhir kehidupan, dan demikian juga cita, dalam kerangka mengetahui – kemampuan Anda untuk mengingat mungkin memburuk tetapi kemampuan untuk mengetahui tidak memburuk – jadi, kalau itu tidak memburuk pada waktu kematian, itu masih dipengaruhi oleh sesuatu, maka itu akan berubah menjadi kejadian lain. Jadi, kita bisa masuk sangat dalam pada pokok ini.

Pokok kedua adalah semua gejala yang tercemar dapat mengundang masalah, semua duka. “Tercemar” berarti mereka muncul secara bergantung pada perasaan-perasaan yang gelisah dan karma, yang membawa kita kembali pada kelahiran kembali, bukan? Jadi, untuk menjelaskan pokok itu secara rinci adalah dua belas tautan kemunculan yang bergantung, bahwa semua pengalaman kita, segala sesuatu yang terjadi, muncul utamanya karena kebodohan kita, ketidaksadaran kita tentang kenyataan yang memunculkan perasaan-perasaan yang gelisah, memupuk karma dan seterusnya dan menghasilkan berbagai tingkat kebahagiaan, jadi kepedihan dan kebahagiaan. Tapi yang sebenarnya dihasilkannya adalah dasar berkelanjutan untuk itu, kelahiran kembali yang berulang tak terkendali. Dan semua itu menjadi masalah. Ini khas Buddha, seluruh cara-kerja samsara, cara-kerja kelahiran kembali, dan itu semua dapat mendatangkan masalah, semua duka.

Dan kemudian pokok ketiga adalah semua gejala adalah tiada memiliki “aku” yang mustahil atau atau sukma yang mustahil, atman – ini adalah kata India – tapi seseorang yang mustahil, seseorang yang tidak mungkin ada. Jadi di sini kita mendapatkan semua ajaran Buddha mengenai sunyata, baik kita berbicara tentang itu sekadar dalam kerangka kekosongan diri atau orang maupun kehampaan tentang semua gejala. Ada berbagai tingkat dalam memahami ini yang Buddha ajarkan, tapi pada dasarnya ajaran-ajaran tentang sunyata sangat mendasar bagi pandangan Buddha. Sunyata berarti tidak adanya cara-cara mengada yang mustahil. Hal-hal tampak mengada dengan cara tertentu, tetapi itu tidak sesuai, tidak mengacu, pada apapun yang nyata. Ini mustahil.

Tata-tata India lainnya – kita menemukan ini dalam tata Hindu – mereka mengatakan bahwa segala sesuatu adalah maya, dan Anda harus melihat bahwa itu adalah maya dan mencapai kenyataan, bahwa kita semua Satu, diri setara dengan Brahman, hal semacam ini, tapi Buddha mengatakan bahwa semua itu mustahil. Penafsiran-penafsiran lain tentang apa maya itu adalah mustahil. Ia memberikan apa yang dianggap sebagai pandangan yang benar dan apa yang ditunjukkan oleh mantik dan oleh pengalaman adalah pandangan yang benar.

Dan pokok keempat adalah nirwana, mengacu pada bebas dari samsara, adalah sebuah penenangan dan sesuatu yang membangun. Ini adalah penenangan – ini pada dasarnya berbicara tentang kebenaran mulia yang ketiga, bahwa ini benar-benar menghentikan sepenuhnya semua sebab duka – perasaan-perasaan yang gelisah, ketidaksadaran, karma, dst dan duka itu sendiri, kelahiran kembali, kelahiran kembali yang berulang tak terkendali. Dan ini adalah sesuatu yang membangun; ini membawa kebahagiaan. Ini menyiratkan bahwa kebebasan adalah mungkin dan menyatukannya dengan pokok-pokok yang ada sebelumnya, apa yang akan membawa kebebasan dan bebas dari apa?

Jadi, kita bisa melihat empat kebenaran mulia, cara lain untuk menyusun apa yang dikatakan dalam empat segel Dharma, atau cap tanda sah Dharma. Jadi meskipun kita dapat berpikir dalam kerangka empat pokok itu dalam kerangka hanya masa kehidupan ini saja – segala sesuatu yang dipengaruhi oleh sebab dan keadaan berubah dan apapun yang muncul dari kebingungan akan mendatangkan masalah pada Anda, dan tidak ada “aku” yang padu; dan akan luar biasa jika aku bisa bebas dari semua masalahku – hal semacam ini. Tapi, apakah itu benar-benar ajaran Buddha? Itu, saya pikir, adalah versi Dharma-Sari. Itu tidak benar-benar mendalam dalam kerangka sebab dan akibat dan apa yang sebenarnya kita ingin singkirkan.

Ada masalah dengan sekadar menempatkan semua ini hanya ke dalam lingkung masa kehidupan ini saja – ini adalah persoalan sebab dan akibat, karena kemudian Anda harus memiliki cita dan “aku” yang, pada kejadian pertama yang muncul tidak membentuk sebab atau membentuk sebab yang tidak sesuai seperti wujud ragawi orang tua kita dan itu berubah, berubah, dan berubah, tapi kemudian kejadian terakhir itu tidak memiliki akibat apapun pada hal lain. Jadi Anda memiliki masalah besar dengan sebab dan akibat, dalam kerangka cita, kesinambungan batin dan “aku,” tanpa menempatkan kelahiran kembali yang tak berawal dan cita yang tak berawal dan tak berakhir, “aku” yang tak berawal dan tak berakhir, bukan “aku” yang mustahil ini, melainkan “aku” yang sebenarnya ada dan berfungsi.

Ringkasan

Inilah yang dapat kita ringkas. Ajaran Buddha memiliki ciri-ciri khas, empat kebenaran mulia, empat pokok penyegelan ini, berlindung pada Buddha, Dharma, Sangha, saya belum membahasnya, tapi itu juga, cara hal itu diartikan dalam ajaran Buddha adalah khas Buddha. Kita memiliki ciri-ciri yang telah ditetapkan. Apakah keberadaan ajaran Buddha ditetapkan oleh kekuatan ciri-ciri ini saja tanpa bergantung pada hal lain? Tidak, Anda tidak bisa mengatakan demikian? Itu mustahil – sudut pandang ajaran-ajaran sunyata. Ini harus berada dalam suatu lingkung. Jadi, ada lingkung umum yang kebetulan adalah lingkung India – karena itulah khalayak yang Buddha ajar – tapi itu sepertinya berlaku umum. Jadi ini harus dalam lingkung laku-laku kasih dan welas asih dan daya pemusatan dan meditasi dan hal-hal lain yang secara harfiah lebih mudah untuk dicerna seperti karma, kelahiran kembali dsb. Itu akan menjadi lingkung.

Tapi kemudian ada tingkat lain yang lebih dangkal, yang mungkin memiliki asas umum di baliknya, tapi rupa ini berbeda di tiap-tiap budaya. Jadi, membuat persembahan, menunjukkan rasa hormat, hal-hal semacam ini, bisa dilakukan dalam berbagai rupa; dan bagaimana komunitas wihara menyokong dirinya sendiri, sehingga, bisa dilakukan dalam cara yang berbeda-beda. Apa jenis jubah yang mereka kenakan yang akan membedakan mereka dari orang awam dan tidak memunculkan kemelekatan – itu akan bergantung pada budaya; dan tentu saja bahasa akan bergantung pada budaya.

Dan hal-hal seperti Gunung Meru dan empat benua dan sebagainya – dan berbagai macam makhluk yang menghuni alam semesta – Yang Mulia Dalai Lama sendiri mengatakan bahwa kita tidak memerlukan Gunung Meru dan penjelasan abhidharma mengenai alam semesta. Ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan, dengan pengalaman; jadi ketika Anda mempersembahkan alam semesta, ini bisa dalam rupa tata surya atau planet bumi atau apapun. Intinya adalah Anda mempersembahkan segalanya, Anda mempersembahkan alam semesta dan Anda berpikir tentang semua makhluk tidak hanya manusia, dengan sebagian yang memiliki lebih banyak duka, dengan sebagian yang memiliki lebih sedikit duka.

Dan dalam teori pencerapan Buddha, bagaimana cita bekerja dst, tidak pernah disebutkan tentang otak, namun, itu dapat dimasukkan; tidak ada pertentangan. Jadi ketika kita mengajukan pertanyaan yang lebih besar ini, “Bisakah kita membedakan Buddha Dharma dari lingkung Asianya?” kita melihat bahwa ini sebenarnya merupakan pertanyaan yang sangat berseluk-beluk dan kita perlu menguraikannya dalam tingkat-tingkat tentang apa yang mendasar, apa yang umum, apa yang muncul dari budaya seperti India, dan apa yang dangkal dan dapat diubah menurut budaya tetapi tetap mengikuti asas. Itu harus dihormati.

Baik, terima kasih, ada pertanyaan? Ya.

Pertanyaan tentang Berbagai Macam Rupa Kehidupan

Pertanyaan: Dalam lingkung apa Anda memandang preta (arwah kelaparan), alam dewa dan sebagainya?

Alex: Cara saya memandang hal itu adalah melihat cita dan rasa. Cita adalah untuk dapat mengalami hal-hal dan memiliki sesuatu seperti hologram-hologram batin yang muncul dan sebagian mengalami atau mengetahui mereka. Dan salah satu unsur batin yang selalu ada adalah tingkat kebahagiaan atau ketidakbahagiaan; itu tidak sama dengan kenikmatan atau rasa sakit, tapi itu adalah bahagia atau tidak bahagia secara batin atau ragawi. Dan, jika kita menggunakan istilah Buddha, di alam hasrat itu juga akan ada kenikmatan, rasa sakit, sensasi ragawi. Nah, ketika kita berbicara tentang kebahagiaan dan ketidakbahagiaan, atau kenikmatan dan rasa sakit, ada rentang yang luas dari duka yang paling mengerikan sampai ke kenikmatan dan kebahagiaan paling hebat, seperti halnya dalam kerangka rentang pandangan, rentang bunyi suara dan sebagainya – rentang yang luas. Nah, dengan pemandangan dan bunyi, bagian rentang mana yang dapat kita lihat yang bergantung pada perangkat keras tubuh yang kita miliki. Elang bisa melihat jauh lebih baik daripada mata manusia. Anjing memiliki penciuman yang jauh lebih baik daripada manusia, anjing memiliki pendengaran yang lebih baik daripada manusia. Jadi, adalah mungkin dengan rentang-rentang tersebut, dengan jenis tubuh yang berbeda, Anda akan menyadari takaran spektrum yang berbeda, takaran yang lebih besar.

Jika itu kejadiannya dengan pandangan dan suara dan bau dan sebagainya, lalu mengapa itu tidak terjadi dengan kenikmatan dan rasa sakit dan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan? Jika itu adalah tubuh manusia, ketika rasa sakit itu terlalu banyak, terlalu kuat, kita jatuh pingsan. Jika kenikmatan itu terlalu kuat, kita terdorong untuk menghancurkannya, sebenarnya – jika Anda berpikir tentang gatal, gatal sebenarnya adalah kenikmatan yang kuat, ini tidak menyakitkan, tetapi jika gatal menjadi terlalu kuat maka secara naluriah kita harus menggaruk untuk menghentikannya. Namun, cita kita mampu mengalami jauh lebih banyak daripada apa yang dibatasi oleh tubuh kita, tubuh manusia. Jadi, dengan pertimbangan itu, mungkin ada rupa-rupa kehidupan lain, selain manusia, yang dapat mengalami seluruh bentang penderitaan dan kenikmatan. Sehingga, tentu ada kesinambungan batin kita sendiri maupun orang lain yang bisa mengalami seluruh rentang. Ada dua cara untuk memandang hal itu dan ajaran Buddha memandangnya dalam kedua cara itu.

Jadi, saya pikir ini masuk ke kelompok kedua dari pembagian pembahasan kita. Dengan kata lain, saya pikir ini tidak berkaitan dengan seperti apa makhluk-makhluk neraka dan jenis siksaan apa yang mereka alami, dan seberapa besar hantu, dan berapa lama mereka hidup, dan hal-hal seperti itu. Itu muncul dari budaya India; dan tiap-tiap tata India berbicara tentang mereka dan memberikan ukuran dan gambaran berbeda dst. Itu saya pikir tidak begitu penting. Tapi, yang penting adalah asas di balik itu, yaitu bahwa cita bisa mengalami jauh lebih banyak penderitaan dan jauh lebih banyak kenikmatan. Sehingga kita ingin menghindari kedua hal tersebut supaya memiliki jumlah yang tepat yang akan memungkinkan kita untuk mengamalkan laku jalan Dharma; dan untuk melakukannya secara bersungguh-sungguh, bahwa kita bisa berada dalam suatu keadaan setelah masa kehidupan ini di mana wilayah [dari rentang] yang kita alami tidaklah mendukung [untuk laku Dharma] – wilayah rentang kenikmatan atau rasa sakit atau kebahagiaan atau ketidakbahagiaan. Itulah asasnya. Rupa dari itu tidaklah begitu penting.

Pertanyaan tentang Kehendak Bebas dan Pilihan

Pertanyaan: Seberapa besar kebebasan yang masih ada dalam keberadaan yang disyaratkan ini? Karena kadang-kadang saya pikir dengan semua keberadaan yang disyaratkan ini tidak banyak kebebasan untuk mengambil keputusan.

Alex: Kita selalu punya pilihan, tapi apa yang kita pilih mestinya karena suatu alasan. Jadi pilihan yang kita buat tidak berdasar pada tanpa alasan sama sekali. Namun, pilihan-pilihan yang kita miliki terbatas; kita tidak bisa sembarang memilih. Jika Anda pergi ke sebuah restoran, katakanlah restoran Turki, Anda hanya bisa memilih apa yang ada di menu. Anda tidak bisa memilih makanan Cina atau makanan Italia. Jadi ada sejumlah pilihan terbatas yang Anda miliki; tapi apa yang Anda pilih, itu terserah Anda. Tapi apa pun yang Anda pilih akan berdasar pada alasan – Anda seorang vegetarian atau Anda makan daging atau Anda tidak suka ini, Anda tidak suka itu. Ada alasan atas apa yang Anda pilih – “Aku baru saja makan ini kemarin, jadi aku tidak ingin makan ini lagi” – selalu ada alasan atas apa yang Anda pilih. Tapi, Anda punya pilihan.

Pertanyaan: Jelas bahwa ada sebab-sebab untuk membuat pilihan tertentu, tapi apakah seseorang mutlak perlu membuat pilihan itu?

Alex: Itu sulit untuk dijawab karena dari sudut pandang seorang Buddha, seorang Buddha yang mahatahu akan mengetahui segalanya, jadi ia mengetahui sebab dan akibat. Jadi, sedikit banyak, seorang Buddha tahu apa yang Anda akan pilih; tapi apa yang Anda akan pilih belum terjadi. Jadi, ia tahu itu belum terjadi. Sekarang pertanyaannya adalah “Bagaimana kita mengalami itu?” Kita mengalami hal itu sebagai sebuah pilihan. Apakah itu benar-benar pilihan, maka kita harus menguraikan apa arti “memilih.” Apa artinya memilih? Ini berarti membedakan satu hal dari hal lainnya, memilah apa yang akan lebih bermanfaat atau lebih menyenangkan dibanding hal lain. Jadi semua unsur pengubah itu yang ada.

Jadi dari sisi kita, saya berpikir bahwa semua yang kita dapat bicarakan adalah dalam kerangka bagaimana kita mengalami hal-hal dalam hidup, dan kita mengalaminya dalam kerangka menggunakan daya pembeda kita untuk membuat pilihan. Tapi, Anda lihat ini masuk ke dalam pertanyaan filsafati sulit yang amat sangat mendalam dalam kerangka sesuatu yang belum terjadi. Ini bukan berarti bahwa semua pilihan kita dan apa pun yang kita akan lakukan sedang terjadi atau sudah terjadi dan Buddha melihat semua itu. Ada hal-hal yang belum terjadi. Tahun depan belum terjadi, besok belum terjadi. Apakah kita tahu akan ada hari esok? Ya. Apakah sudah ditakdirkan bahwa akan ada hari esok? Nah, itu adalah cara yang aneh untuk memandang hal itu. Bukankah begitu? Tapi saya tahu akan ada hari esok. Jadi, kita harus masuk lebih dalam dan lebih dalam secara filsafati. Ini tentu saja tidak berarti bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan dan kita hanya menjalani suatu naskah yang orang lain tulis dan putuskan apa yang akan terjadi.

Pertanyaan tentang Berkat

Satu pertanyaan terakhir.

Pertanyaan: Baik, itu mungkin kita kembali ke pokok mengenai adat, dan apa artinya berkat, atau apakah berkat itu? Apakah itu hal janggelan atau itu sejenis tenaga yang berasal dari suatu tempat atau dari diri kita?

Alex: Baiklah. Jadi pertanyaannya adalah tentang berkat, apakah itu bersifat budaya atau ada apa dengan berkat? Jadi, ini adalah pokok yang sangat bagus untuk Anda angkat karena banyak kesalahpahaman tentang ajaran Buddha disebabkan oleh jenis istilah yang digunakan untuk menerjemahkan istilah teknis Buddha, sehingga banyak istilah, atau sebagian dari istilahnya yang dipilih secara adat di Barat memiliki makna-makna Kristen yang kuat, seperti misalnya kata “berkat.”

Peserta: Mungkin karena itu mengenai hal-hal janggelan di Bhutan,di sana terdapat banyak hal yang sangat suci dari Drubpa Kunlay dan ini dan itu, dan semua orang menjadi seperti ...

Alex: Benar, Anda mengatakan bahwa di Bhutan semua orang memperoleh hal-hal suci dari Drubpa Kunlay dan dari berbagai macam guru yang menyentuh kepala Anda dan Anda memperoleh berkat. Saya dapat mengatakan Anda memiliki itu, tapi menerjemahkan itu sebagai “berkat” adalah memasukkan wawasan Kristen. Istilah yang digunakan dalam bahasa Tibet dapat diterjemahkan secara berbeda dan cara saya menerjemahkan itu adalah “ilham,” sesuatu yang mengilhami Anda, yang meningkatkan kerohanian Anda.

Lalu pertanyaannya adalah dari mana datangnya ilham ini? Apakah ini ada hanya dengan kekuatan suatu benda? Apakah ini ada hanya dengan kekuatan cita orang itu – seperti jika Anda membawa gigi anjing, Anda tahu cerita tentang gigi anjing ini, bahwa seseorang seharusnya mengembalikan pusaka Buddha. Mereka lupa sehingga mereka membawa gigi anjing dan ini mengilhami semua orang. Di mana letak ilhamnya, dari sisi benda itu, dari sisi cita, dari sisi orang yang membawanya, dari sisi cerita baik yang Anda kisahkan itu? Dan Anda harus mengatakan, ini muncul secara bergantung pada semua hal ini.

Namun, kenyataannya adalah bahwa orang terilhami. Anda mendapatkan ilham dari pelangi, lalu apakah ada hal yang istimewa tentang itu, apakah ada suatu getaran di dalamnya? Itu pertanyaan yang sulit. Dan Anda akan mengatakan, dari sudut pandang Buddha, bahwa misalnya, jika seseorang memiliki daya pemusatan yang hebat dan pengalaman yang hebat, yang menghasilkan pemusatan pada semua hal dan seterusnya, itu memengaruhi benda-benda di sekitarnya. Itu memengaruhi lingkungannya, seperti di bawah pohon bodhi di Bodhagaya. Mereka memiliki upacara-upacara di mana semua biksu berkumpul selama sebulan penuh. Mereka mendaras Om mani padme hum dan mereka punya pil-pil kecil yang ada di sana dan mereka meniupnya dan mendapat getaran dari Om mani padme hum dan orang-orang menerimanya dan menjadi sangat terilhami. Jadi Anda bisa mengatakan, ya, ada semacam getaran tenaga – terdengar sedikit Zaman Baru (New Age) tapi, tidak mengherankan bahwa getaran dan tenaga dapat memengaruhi lingkungan di sekeliling tenaga suatu benda.

Tapi, tentu saja, Anda dapat memberikan benda-benda itu, pil-pil kecil itu kepada seseorang yang tidak punya rasa hormat, tidak punya apa-apa, itu tidak akan berpengaruh apapun. Jadi ilham juga tergantung pada cita orang tersebut. Contohnya adalah bahkan jika seorang lama tertinggi di dunia meniup benang perlindungan dan mengikatkannya pada leher babi yang hendak disembelih, itu tidak akan mencegah babi itu disembelih. Jadi, hal-hal muncul secara bergantung pada amat banyak unsur.

Baik, mari kita akhiri di sini – tidak dengan pemberkatan – tapi kita akan akhiri di sini dengan ...

Peserta: Mengapa tidak? Ini adalah ilham.

Alex: Ilham – dengan persembahan. Persembahan; kita berpikir apapun kekuatan positif, apapun tenaga yang telah dibangun – ini berkaitan dengan tenaga pada kesinambungan batin kita – semoga ini masuk semakin dalam dan semakin dalam dan tumbuh semakin kuat dan semakin kuat dan bertindak sebagai sebab, bukan hanya untuk kita melainkan untuk semua orang agar mencapai tataran tercerahkan seorang Buddha demi kebaikan kita semua.