Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Sumbangan Warisan Lisan dan Tertulis Tibet bagi Pemahaman Global: Kemajuan dan Harapan (Versi Ringkas)

Alexander Berzin
New Delhi, India, Desember 2009

[Lihat juga: Versi Lengkap.]

Pengantar

Hari ini, kita berkumpul di sini pada pertemuan ini untuk membahas sumbangan kebudayaan Tibet bagi pemahaman global – kemajuan dan harapan. Kebudayaan Tibet, tentu saja, merupakan tema yang luas, meliputi banyak segi: aliran-aliran rohani Buddha dan Bon, pengobatan, penyusunan penanggalan, ilmu perbintangan, seni, ilmu bangunan, musik, tari, bahasa, dan kesusastraan. Namun, tak satu pun dari segi-segi tersebut berdiri secara terpisah; tapi, sebaliknya, masing-masing berkembang dalam percakapan dengan banyak peradaban lain. Tibet adalah persimpangan tempat gagasan-gagasan Zhang-zung, India, Cina, Yunani, Persia, Khotan, dan Turki bertemu. Bangsa Tibet tidak mengangkat secara besar-besaran unsur dari aliran-aliran tersebut, baik secara tersendiri maupun gabungan. Sebaliknya, bangsa Tibet secara kritis menerima semua hal luar dan mengembangkan sistem mereka sendiri yang unik dengan mengolah kembali dan memadukan aneka ragam gagasan dengan cara-cara asli mereka sendiri.

Selain itu, kebudayaan Tibet, yang telah muncul secara bergantung pada banyak peradaban lain, tidak menetap sebagai kesatuan yang statis, terpisah dari interaksi tanpa henti dengan bangsa-bangsa lain yang tinggal di dekatnya. Sebaliknya, bahasa dan kebudayaan Tibet menyebar dan berinteraksi dengan banyak peradaban lain, memberi sumbangan penting bagi pemahaman global sepanjang masa itu. Sebelum kita memeriksa gejala lintas-budaya ini dalam zaman kita saat ini, mari kita lebih dulu meninjau sejarahnya.

Tinjauan Sejarah

Selama berabad-abad, kebudayaan Tibet menyebar ke utara sepanjang Jalur Sutra hingga negara-negara kota Lembah Sungai Tarim dan Koridor Gansu, dan kemudian sampai Mongolia, Dzungaria di Turkistan Timur, bagian timur wilayah yang kini Kazakhstan dan Kirgizstan, Cina bagian utara, Manchuria, dan wilayah-wilayah Buryat, Kalmyk, dan Tuvan di Rusia. Ke Selatan, kebudayaan Tibet menyebar ke semua negara Himalaya dan lebih jauh, dari bagian utara wilayah yang kini Pakistan hingga bagian utara wilayah yang kini Birma. Sebagai hasilnya, bahasa dan kebudayaan Tibet yang beraneka-segi itu memainkan peran pemersatu di Asia Tengah dan wilayah-wilayah Himalaya mirip dengan peran kebudayaan Roma dan Latin di Eropa abad pertengahan.

Sebagai contoh, sejak pertengahan abad ke-7 Masehi hingga masa pemerintahan Raja Langdarma pada pertengahan abad ke-9 Masehi, Kekaisaran Tibet berkuasa, dengan beragam jangkauan, seluruh wilayah dari Jalur Sutra di Lembah Sungai Tarim hingga ke daerah-daerah setelah Himalaya. Meskipun kawasan yang sangat luas ini adalah tanah air dari banyak suku bangsa, kebudayaan, dan bahasa yang beraneka ragam dan dilewati oleh para pedagang dari negeri-negeri yang bahkan lebih jauh, bahasa dan kebudayaan Tibet berperan sebagai perantara untuk memudahkan pemahaman internasional.

Selain itu, setelah pecahnya Kekaisaran Tibet dengan pembunuhan Raja Langdarma, ketika beberapa negara penyangga bermunculan di sepanjang Jalur Sutra, bahasa Tibet dan kebudayaan Buddha terus memainkan peran pemersatu di kawasan-kawasan itu selama beberapa abad. Sebagai contoh, hingga kira-kira awal abad ke-10 M, bahasa Tibet digunakan untuk tujuan diplomatik dan perniagaan di Koridor Gansu dan di sepanjang Jalur Sutra sampai Khotan, karena ini satu-satunya bahasa umum dari berbagai masyarakat di sana. Selain itu, kaum cendekiawan di wilayah-wilayah itu menerjemahkan naskah-naskah Buddha dari bahasa Tibet ke berbagai bahasa setempat, khususnya bahasa Uighur dan Tangut. Kaum Tangut bahkan menggunakan aksara abjadiah Tibet untuk mencatat tata tulis bersifat gambar mereka yang sangat berseluk-beluk, sebagai pertolongan untuk membantu para pembicara Tangut belajar membaca bahasa mereka sendiri. Beberapa naskah Buddha Cina juga ditulis dalam huruf-huruf Tibet untuk memudahkan penghafalan.

Kebudayaan Tibet dan ajaran Buddha mulai menyebar ke beberapa wilayah Mongol sejak pertengahan abad ke-13 M. Sesudah itu, bermacam-macam cabang suku Mongol menyebarkan mereka lebih jauh. Suku Dzungar membawa mereka ke Kirgisztan dan Kazakhstan timur, suku Kalmyk Mongol ke kawasan Volga di Rusia, dan suku Mongol tengah ke wilayah Buryat Mongol dan Turki Tiva di Siberia.

Baru pada awal abad ke-14 M, kaum cendekiawan mulai menerjemahkan naskah-naskah Buddha dari bahasa Tibet ke bahasa Mongolia. Dalam empat abad, kaum cendekiawan Mongolia telah menyelesaikan penerjemahan seluruh Kangyur dan Tengyur. Demikian pula, sejumlah besar naskah Buddha juga diterjemahkan dari bahasa Tibet ke bahasa Oirat, bahasa kuno kaum Mongol Barat, termasuk kaum Dzungaria dan kemudian Kalmyk. Namun, meskipun penerjemahan-penerjemahan kitab ke bahasa Mongol dan Oirat ini, banyak cendekiawan Mongol terus menulis naskah dan ulasan mereka dalam bahasa Tibet. Suatu ketika, beberapa adu-pendapat kewiharaan juga dilangsungkan dalam bahasa Mongol, tapi kaum Mongol segera mendapati bahwa akan lebih mudah untuk melanjutkannya dalam bahasa Tibet.

Berawal dengan Khublai Khan pada pertengahan abad ke-13 M, kaum Mongol membawa kebudayaan Tibet dan ajaran Buddha ke Cina utara. Sejak masa ini, hingga runtuhnya Wangsa Manchu Qing pada awal abad ke-20 M, bentuk Tibet dari ajaran Buddha adalah agama resmi Cina bagi hampir semua kaisarnya.

Ringkasnya, karena banyak bagian di wilayah luas tempat kebudayaan Tibet menyebar selama zaman pra-modern, terutama di berbagai wilayah Mongol dan Himalaya, orang-orang di sana secara turun-temurun memandang ke Tibet untuk kepemimpinan cendekia dan rohani. Bagi sebagian besar mereka, bahasa Tibet tetap merupakan bahasa pembelajaran dan laku Buddha. Dengan demikian, kebudayaan dan bahasa Tibet secara turun-temurun telah bermanfaat sebagai alat untuk membawa pemahaman global ke wilayah yang sangat luas ini.

Zaman Modern: Perkembangan-Perkembangan Umum

Sejak pertengahan abad ke-20 M, banyak unsur kebudayaan Tibet telah menyebar ke negeri-negeri yang lebih jauh, sehingga saat ini, pada awal abad ke-21 M, kita bisa dengan aman mengatakan bahwa kebudayaan Tibet memiliki jangkauan yang benar-benar global. Ini adalah perkembangan yang luar biasa cepat, yang niscaya dipacu oleh kedatangan komunitas Tibet dalam pengasingan di India dan Nepal. Misalnya, ketika kali pertama saya mulai mempelajari bahasa Tibet di Universitas Harvard pada 1967, hampir tidak tersedia bahan apapun mengenai ajaran Buddha Tibet. Satu-satunya buku tata-bahasa Tibet yang tersedia, ditulis oleh misionaris Kristen Jaeschke pada pertengahan abad ke-19 M, menguraikan bahasa Tibet dalam kerangka tata-bahasa Latin.

Kini, lebih dari empat puluh tahun kemudian, keadaan itu sepenuhnya berbeda. Sejumlah besar ajaran lisan dan naskah Buddha Tibet dan, pada jumlah yang lebih kecil, dari aliran Bon, kini tersedia yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa Barat dan Asia modern. Guru-guru rohani Tibet telah mendirikan banyak sekali pusat agama Buddha dan Bon di seluruh dunia, dengan murid yang jumlahnya terus bertambah belajar dan berlatih di sana. Meskipun ketersediaan terjemahan, murid-murid di sejumlah besar pusat keagamaan itu mengucap doa-doa mereka dan berlatih naskah-naskah dalam bahasa Tibet, yang mereka baca dalam versi alihbahasa dengan tata bunyi bahasa mereka masing-masing. Seperti yang terjadi di kawasan-kawasan Himalaya dan Asia Tengah pra-modern, dan seperti yang berlanjut di banyak wilayah di sana saat ini, ini membantu membangun himpunan-himpunan pelaku agama Buddha dan Bon internasional, disatukan oleh kenyataan bahwa mereka semua menjalankan laku-laku rohani yang sama dalam bahasa yang sama, bahasa Tibet.

Para pelaku dan cendekiawan yang ingin mengejar pembelajaran mereka secara lebih mendalam itu telah belajar bahasa Tibet melalui deretan panjang buku pelajaran dan bahan audio. Begitu menguasai bahasa itu, banyak dari mereka mengubah semakin banyak ajaran Bon dan Buddha ke dalam bahasa asli mereka masing-masing. Mengikuti contoh dari berbagai kelompok bangsa Mongol, Tuvan, dan Himalaya, sejumlah murid yang terus bertambah dari negeri-negeri lain di seluruh dunia belajar di wihara-wihara biksu dan biksuni Tibet, di Tibet, dan/atau melakukan undur-diri meditasi tiga tahun yang giat. Banyak dari mereka berlanjut menjadi guru rohani, menyebarkan pembelajaran dan kebudayaan Tibet lebih jauh.

Unsur-unsur kebudayaan Tibet lainnya juga menjadi semakin dikenal di seluruh penjuru dunia. Pada zaman-zaman pra-modern, ilmu pengobatan, seni, ilmu bangunan wihara, musik dan tarian suci, ilmu perbintangan, dan pembuatan penanggalan Tibet meluas di seluruh kawasan tempat ajaran Bon dan Buddha Tibet itu menyebar. Saat ini, sejumlah dokter Tibet secara berkala mengunjungi negeri-negeri asing dan beberapa balai pengobatan Tibet dibuka di luar Tibet dan anak-benua India. Lebih lanjut, dokter-dokter Barat mengadakan penelitian di beberapa universitas dan rumah sakit mengenai kemanjuran berbagai macam pengobatan Tibet untuk penanganan penyakit-penyakit tertentu.

Seni dan ilmu bangunan Tibet juga menjadi semakin dikenal-baik secara global. Museum-museum di seluruh dunia memajang koleksi karya seni dan patung Tibet, dan sejumlah pusat Dharma luar negeri yang terus bertambah dan komunitas-komunitas imigran dan pengungsi Tibet membangun kuil-kuil gaya-Tibet di wilayah mereka masing-masing. Wihara-wihara Tibet di India mengirim para biksu ke luar negeri untuk membangun mandala-mandala pasir, dan kelompok-kelompok biksu dan biksuni untuk menyuguhkan pertunjukan nyanyian dan tarian suci. Rekaman audio dan video dari pertunjukan-pertunjukan tersebut tersedia secara memadai. Rombongan-rombongan seni pertunjukan Tibet telah melakukan banyak pertunjukan keliling dunia, dan jejaring Majelis Tibet telah merebak di segenap penjuru planet ini untuk melestarikan dan mengangkat semua aneka-unsur kebudayaan Tibet. Melalui banyak cara ini, kini kebudayaan Tibet menjadi terkenal di banyak belahan dunia.

Kebudayaan Tibet memperkaya komunitas global dalam banyak cara yang lebih jauh. Untuk meningkatkan pemahaman dan untuk bertukar cara-cara rohani, guru-guru Tibet telah mengadakan percakapan-percakapan dengan para pemimpin rohani dari sebagian besar agama dunia. Mereka telah mengambil bagian secara menonjol dalam tugas-tugas antarkepercayaan. Para guru Tibet juga telah membagikan simpanan besar pengetahuan dan pengalaman mereka kepada para ilmuwan, ahli kejiwaan, ahli filsafat, dan tokoh politik dan bisnis. M Yang cukup menarik adalah hubungan antara tataran batin, meditasi, dan kesehatan, dan antara etika, lingkungan hidup, dan pembangunan berkelanjutan. Contoh yang paling menonjol dari keikutsertaan ini adalah Yang Mulia Dalai Lama dalam upaya-upayanya yang tak kenal lelah untuk mengangkat nilai-nilai kemanusiaan utama, etika-etika duniawi, dan keselarasan agama.

Pelestarian Warisan Lisan dan Tertulis Tibet dalam Rupa-Rupa Turun-Temurunnya

Sumbangan-sumbangan yang berkelanjutan oleh kebudayaan Tibet bagi pemahaman global bergantung pada pelestarian berbagai unsurnya dalam dua segi. Yang pertama adalah pelestarian unsur-unsur itu dalam rupa-rupa turun-temurunnya; dan yang kedua adalah evolusi beberapa unsur itu ketika mereka berinteraksi dan berselaras dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Pokok kedua ini menggaungkan proses di mana Tibet melestarikan kebudayaan Buddha dari India dan Nepal. Saya akan membatasi pembicaraan saya pada warisan lisan dan tertulis Tibet.

Kemajuan hebat telah dibuat dalam pelestarian tata cara lisan dan tertulis Tibet dalam bahasa asli mereka. Sejauh ini, hanya sebagian kecil dari simpanan besar pengetahuan dan pengalaman Tibet telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan Asia modern. Penting bahwa pekerjaan ini paripurna. Yang sudah diterjemahkan sejauh ini telah menyingkap kepada dunia wawasan-wawasan tak ternilai ke dalam pembentukan cita dan alam semesta. Pada gilirannya, ini merangsang para ilmuwan untuk menyelidiki pokok-pokok yang tak pernah mereka tinjau sebelumnya, seperti peran welas asih, kewaspadaan, dan pemusatan dalam meningkatkan kesehatan ragawi dan perasaan. Kemungkinan-kemungkinan dalam bagian yang belum diterjemahkan untuk sumbangan lebih lanjut pada cara-cara untuk memelihara kedamaian batin dan keselarasan sosial sangatlah besar.

Meskipun kemajuan-kemajuan dalam teknologi tersedia, penyelesaian tugas penerjemahan ini akan, secara makul, memerlukan beberapa abad lagi. Oleh karena itu, warisan lisan dan tertulis Tibet perlu dilestarikan dalam bahasa aslinya untuk persiapan bagi pekerjaan generasi-generasi masa depan. Bahkan ketika bagian-bagian itu telah diubah ke dalam bahasa-bahasa lain, terjemahan-terjemahannya bisa disunting dan diperhalus lebih lanjut. Lagipula, bahan bahasa asli menyediakan lahan yang subur untuk penelitian berkelanjutan.

Banyak tata cara Buddha Sanskerta hilang bersama penyerbuan-penyerbuan di India abad ke-12 dan ke-13 Masehi. Tibet hanya mampu melestarikan sebagian dari warisan yang kaya ini. Abad ke-20 telah menemui kerugian yang sebanding pada tata cara Tibet akibat perbuatan berlebihan komunis di Uni Soviet, Mongolia, dan Republik Rakyat Cina. Oleh karena itu, sangat penting bahwa apa yang tersisa dari tata cara lisan dan tertulis Tibet dapat ditemukan dan dilestarikan sesegera dan setepatguna mungkin, demi kemanfaatan dan kekayaan dunia, baik masa kini maupun masa depan.

Adalah di luar lingkup pembicaraan ini untuk mendaftar semua yang telah dilakukan dalam bidang pelestarian tata cara Tibet ini. Proyek-proyek ini meliputi perekaman digital ajaran-ajaran dan sejarah lisan Buddha dan Bon, pemikrofilman dan penerbitan naskah-naskah Tibet, juga mendigitalkan dan membuat mereka tersedia di Internet, dan pengembangan Unicode Tibet, mesin-mesin pencari, dan kamus-kamus online.

Pelestarian Warisan Lisan dan Tertulis Tibet dalam Penerjemahan

Sejumlah organisasi dan perorangan yang terlibat dalam menerjemahkan ajaran-ajaran lisan dan tertulis Tibet ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan Asia modern terlalu banyak untuk disebutkan. Di sini terdapat hampir sepuluh ribu judul dalam bentuk cetak. Dengan pesatnya pertambahan buku tentang ajaran Buddha dan Bon Tibet ini, kesadaran dan pemahaman global tentang berbagai tata cara rohani Tibet terus-menerus bertumbuh.

Satu perkembangan penting dalam pelestarian warisan lisan dan tertulis Tibet dalam penerjemahan muncul baru-baru ini. Pada September 2008, Light of Berotsana menyelenggarakan Konferensi Penerjemah di Boulder Colorado, Amerika Serikat. Lebih dari seratus penerjemah Tibet tua dan muda bertemu untuk membahas cara-cara agar mereka bisa bekerja sama untuk memajukan penyebaran ajaran aliran-aliran Buddha.

Pertemuan pertama ini diikuti, pada Maret 2009, dengan Translating the Words of the Buddha: Konferensi Penerjemahan Yayasan Khyentse, yang diselenggarakan di Lembaga Taman Rusa di Bir, India. Kali ini, lima puluh penerjemah Tibet senior, bersama dengan para lama senior masing-masing dari empat aliran Buddha Tibet, bertemu untuk mendirikan The Buddhist Literary Heritage Project. Para peserta itu merumuskan Harapan 100 Tahun, yakni ‘menerjemahkan dan membuat warisan kesusastraan Buddha mudah didapat secara universal.” Ini mengacu pada menerjemahkan seluruh Kangyur dan Tengyur, beserta dengan ulasan-ulasan berbahasa Tibetnya. Ketika isi lengkap dari kepustakaan kitabiah Buddha ini tersedia dalam bahasa-bahasa utama dunia, tambahannya untuk bank pengetahuan dunia dan andilnya untuk pemahaman global akan terjamin.

Evolusi Warisan Lisan dan Tertulis Tibet dalam Penerjemahan: Arsip Berzin

Latar Belakang

Banyak cendekiawan dan pelaku non-Tibet dari berbagai negara di seluruh dunia kini mengajar ajaran Bon dan Buddha Tibet. Seperti mitra-mitra Tibet mereka, banyak dari mereka menerbitkan kuliah dan tulisan mereka dalam rupa cetak dan digital online. Mereka juga menyediakan ajaran-ajaran mereka dalam bentuk audio, video, dan DVD, seringkali juga online. Meskipun beberapa dari guru-guru itu menyajikan bahan Buddha dan Bon dalam gaya-gaya tradisional, beberapa menjadi inovatif dengannya dan menyesuaikannya dengan zaman dan masyarakat mereka. Saya ingin menggunakan sisa pidato saya untuk menguraikan pekerjaan yang saya lakukan tentang ihwal ini dengan situs web Arsip Berzin saya, www.berzinarchives.com.

Saya pertama kali pergi ke India di bawah program Fullbright dan memulai pembelajaran-pembelajaran saya dengan komunitas pengungsi Tibet di sana pada 1969. Ini serangkai dengan penelitian untuk desertasi gelar doktor saya di Universitas Harvard, bersamaan dari Departemen Bahasa-Bahasa Timur Jauh dan Kajian-Kajian Sanskerta dan India. Setelah menerima Ph.D pada 1972, saya kembali untuk melanjutkan hidup menetap di India, yang saya lakukan, secara keseluruhan, selama dua puluh sembilan tahun. Di sana, saya memiliki nasib baik untuk belajar dengan beberapa guru terhebat dari keempat aliran Buddha Tibet, khususnya Yang Mulia Dalai Lama, Tsenzhab Serkong Rinpoche, dan Geshe Ngawang Dhargyey. Saya bertindak sebagai penerjemah untuk beberapa lama, khususnya untuk Tsenzhab Serkong Rinpoche, dan menerjemahkan banyak naskah dari bahasa Tibet dan Sanskerta ke dalam bahasa Inggris. Saya kembali hidup di Barat pada akhir 1998, tepatnya di Berlin, Jerman, dengan kumpulan harta karun ajaran-ajaran. Saya memiliki hampir 30.000 halaman naskah yang tidak diterbitkan. Setelah menerbitkan banyak buku dan mempertimbangkan peredaran dan penjualan mereka yang terbatas, saya memutuskan bahwa Internet adalah media untuk membuat pekerjaan-pekerjaan saya paling mudah diperoleh secara luas.

Dengan pikiran tersebut, saya memulai situs web Arsip Berzin ini pada November 2001, dengan kebijakan ketat bahwa semua bahan di dalamnya bisa tersedia untuk dibaca, didengar, dan diunduh secara bebas biaya, dan bahwa situs web ini bisa sepenuhnya tanpa iklan. Pola pikir saya adalah menggunakan media Internet untuk melestarikan ajaran guru-guru Tibet saya dalam bentuk terjemahan, juga untuk menyajikan penjelasan saya sendiri tentang ajaran-ajaran ini yang berkembang dari pembelajaran saya dengan mereka. Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Yang Mulia Dalai Lama dan penjelmaan Ling Rinpoche dan Tsenzhab Serkong Rinpoche saat ini. Situs web ini memuat salinan-salinan kuliah oleh tiga guru utama saya, baik yang saya terjemahkan maupun yang saya jadikan pertimbangan, juga terjemahan-terjemahan sumber-sumber yang tertulis, artikel-artikel, dan buku-buku yang saya tulis dan berkas-berkas audio perkuliahan yang saya berikan. Kini, setelah delapan tahun berjalan, situs ini memiliki hingga tujuh puluh relawan dan pegawai upahan dan telah secara online menerbitkan 640 artikel tertulis dan 460 berkas audio dalam bahasa Inggris. Ini mewakili sekitar 30% dari bahan dalam Asip Berzin yang belum diterbitkan. Pada tahun terakhir ini, 2009, hampir 0,6 juta orang mengunjungi situs web ini, dan pada bulan-bulan terakhir ini, hingga 2000 orang telah memasuki situs ini tiap harinya.

Isi dan Artikel

Isi situs web ini menjangkau bentangan luas tentang pokok-pokok yang berhubungan dengan warisan kebudayaan Tibet. Mereka membentang dari pengantar tentang ajaran Buddha hingga tantra, dan mencakup teori ajaran dan laku Buddha dari keempat aliran Buddha, dengan bab-bab khusus tentang Kalacakra, dzogchen, dan mahamudra. Situs ini juga memuat penyajian-penyajian tentang pengobatan dan ilmu perbintangan Tibet, unsur-unsur tertentu tentang sejarah Bon, juga Buddha, Tibet, dan Asia Tengah. Salah satu dari artikel-artikel uniknya adalah satu bab panjang tentang hubungan sejarah antara agama Buddha dan Islam.

Agar ajaran-ajaran dari warisan Tibet ini memiliki dampak maksimal bagi pemahaman global, mereka tidak hanya perlu disebarkan secara luas dan bisa didapat secara mudah; mereka perlu disajikan sedemikian rupa sehingga bisa dipahami secara mudah oleh pola pemikiran modern. Teknologi informasi menyediakan deretan panjang peralatan yang memungkinkan hal ini dan kami berusaha untuk menggabungkan peralatan-peralatan itu dalam situs web Arsip Berzin.

Sebagai contoh, tim teknis kami merancang artikel-artikel tertulisnya sedemikian rupa sehingga menjadikan mereka lebih mudah diakses oleh penyandang tunanetra dan kami sedang dalam pengerjaan menyediakan salinan-salinan bahan audio agar mudah diakses oleh penyandang tunarungu. Kami juga telah menyiniarkan kuliah-kuliah mingguan dari rangkaian perkuliahan saya yang terus berkelanjutan

Agar menjadikan bahan dalam situs web ini semakin mudah digunakan untuk tujuan-tujuan pendidikan, kami menata pokok-pokok pada tiap-tiap babnya dalam tingkat-tingkat kesukaran yang bertahap. Kami juga menawarkan kajian-kajian perbandingan yang menunjukkan bagaimana tema-tema tertentu diperlakukan dalam tiap-tiap dari empat aliran Buddha Tibet dan Bon atau dalam Mahayana dan Theravada. Selain itu, untuk memudahkan pembelajaran, kami memasukkan istilah-istilah Tibet dan seringkali Sanskerta yang sepadan dengan istilah-istilah teknis Buddha di situs web ini. Selain itu, kami menyediakan daftar istilah yang panjang tentang istilah-istilah itu, dengan arti lengkap, mesin pencari internal yang cermat, dengan tiap-tiap artikel, daftar artikel-artikel lain di situs ini dengan isi serupa.

Bagian-Bagian Berbahasa Non-Inggris

Dari memberikan kuliah di berbagai perguruan tinggi dan pusat Buddha di lebih dari tujuh puluh negara, saya belajar bahwa tidak semua orang bisa membaca Inggris. Meskipun bisa, banyak orang lebih memahami dan merasa lebih nyaman jika ajaran-ajaran Buddha diterjemahkan ke dalam bahasa mereka sendiri. Oleh karena itu, saya juga memutuskan untuk menerjemahkan karya-karya di situs web saya ke dalam sebanyak mungkin bahasa utama modern dunia dan tersedia dalam bagian-bagian bahasa tersendiri dari situs ini. Saat ini, terdapat enam bagian bahasa online. Selain Inggris, kami memiliki divisi Jerman, Rusia, Spanyol, Portugis, dan Polandia yang berisi terjemahan artikel-artikel Inggris yang terus bertambah dan bentuk dwibahasa dari berkas-berkas audio Ingris. Sebagai contoh, bagian bahasa Jerman memiliki hingga 360 artikel dan bagian bahasa Rusia 200. Selain itu, kami secara giat menyiapkan bagian bahasa Perancis dan Cina dan kami telah memulai penerjemahan ke dalam bahasa Hindi dan Tamil.

Proyek Situs Web Agama Buddha dan Islam Arsip Berzin

Yang Mulia Dalai Lama menekankan bahwa salah satu kunci utama untuk pemahaman global dan keselarasan adalah pendidikan. Saat ini, salah satu kebutuhan paling mendesak untuk pendekatan ini adalah berhubungan dengan dunia Islam. Oleh karena itu, dengan ilham dan sokongan Yang Mulia Dalai Lama, kami menjalankan Proyek Situs Web Agama Buddha dan Islam Arsip Berzin. Tujuannya adalah untuk menyediakan keterangan yang luas tentang kebudayaan, sejarah, dan agama Tibet kepada dunia Islam, dalam bahasa-bahasa mereka sendiri, dengan menjauhi isyarat-isyarat penyebaran agama. Memberikan keterangan melalui sebuah situs web anekabahasa dalam bahasa-bahasa utama umat Islam tidak hanya menunjukkan rasa hormat kepada penduduk Muslim yang sangat besar, tapi juga sebuah langkah dalam proses yang sangat diperlukan untuk lebih secara dekat memadukan dunia Islam ke dalam komunitas global.

Proyek ini mencakup bagian agama Buddha dan Islam dalam situs web ini, ditambah salinan-salinan tentang ceramah-ceramah umum oleh Yang Mulia Dalai Lama mengenai keselarasan agama dan budi pekerti duniawi, juga artikel-artikel tentang sejarah, pengobatan, dan ilmu perbintangan Tibet, dan tentang asas-asas dasar ajaran Buddha. Proyek ini memiliki dua tahap. Tahap pertama adalah penerjemahan ke dalam bahasa Arab dan Urdu. Pengerjaan pada kedua bahasa itu tengah berjalan secara baik dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan seperti Universitas Islam Jamia Millia di Delhi, Akademi Iqbal Pakistan di Lahore, dan Lembaga Riset Islam di Islamabad. Tahap kedua akan berpusat pada bahasa Persia, Turki, dan Indonesia.

Penyaduran Ajaran-Ajaran Buddha: “Dharma-Sari” lawan “Dharma Sejati”

Situs web Arsip Berzin bukan satu-satunya dari banyak proyek di dunia yang membantu melestarikan warisan lisan dan tertulis Tibet. Situs ini bukan satu-satunya dari banyak proyek yang membuat warisan yang kaya ini menjadi lebih mudah didapat melalui penggunaan cara-cara pengajaran dan teknologi modern. Situs ini juga merupakan salah satu pintu gerbang untuk menyajikan penyaduran dan penerapan warisan yang dapat memajukan perkembangan perorangan dan, hasilnya, keselarasan global.

Namun, sebuah pembedaan penting harus dilakukan ketika merancang dan menyajikan saduran-saduran modern pada warisan Tibet, dan secara khusus saduran-saduran modern pada ajaran Buddha Tibet. Untuk menggambarkan pembedaan ini, saya menciptakan istilah “Dharma-sari” dan “Dharma Sejati,” mengambil contoh dari “ Coca-Cola lite” dan “ the real-thing Coca-Cola” (Coca-Cola lite merupakan bentuk ‘lemah’ atau ‘ringan’ dari produk Coca-Cola asli/biasa. Istilah Dharma-Sari dikiaskan dari Nutrisari, sebuah merek produk minuman serbuk rasa jeruk, yang dapat dianggap sebagai bentuk ‘ringan’ dari jeruk peras yang asli – penerj). “Dharma-sari” adalah penyajian unsur-unsur ajaran Buddha sebagai cara untuk meningkatkan mutu kehidupan ini saja. “Dharma sejati” menyajikan ajaran-ajaran ini sebagai cara untuk meningkatkan mutu kehidupan-kehidupan masa mendatang, untuk memperoleh pembebasan dari kelahiran kembali yang terulang tak terkendali dalam kerangka samsara dan, lebih jauh, untuk mencapai keadaan tercerahkan seorang Buddha agar memberi manfaat sebanyak mungkin kepada semuanya. Di sini penting agar dua bentuk Dharma itu tidak dirancukan satu sama lain; jika sebaliknya, ajaran Buddha akan menyempit menjadi semata-mata bentuk lain dari terapi-jiwa (psikoterapi), yang tentu saja bukan. Ajaran Buddha jauh melebihi itu.

Tidak masalah orang menjalankan “Dharma-sari” sebagai rupa terapi untuk memberi mereka manfaat dalam masa kehidupan ini. Kenyataannya, penyaduran-penyaduran warisan Tibet tentang ajaran Buddha macam ini sangat bermanfaat. Namun, ketika memberikan “Dharma-sari,” seseorang harus paham bahwa apabila menjalankannya hanya untuk meningkatkan masa kehidupan ini, ini bukan “Dharma sejati.” Bagaimanapun, jika menjalankannya sebagai langkah awal untuk memasuki latihan “Dharma sejati,” “ Dharma-sari” dapat dengan mudah digabungkan ke dalam pranata lam-rim, tingkat bertahap jalan batin. Ini akan berperan sebagai tahap latihan sebelum mengembangkan dorongan tingkat awal, yakni berupaya untuk mendapat manfaat di masa kehidupan-kehidupan mendatang.

Pada situs web Arsip Berzin, saya berusaha membuat pembedaan antara “Dharma-sari” dan “Dharma sejati” ini jelas. Situs web ini berisi saduran-saduran modern ajaran Buddha yang saya kembangkan. Ini ditarik dari ajaran-ajaran Buddha dan cara-cara meditasi turun-temurun untuk menghadapi masalah-masalah seperti kekurangpekaan, kepekaan berlebih, ketidakamanan, perasaan bersalah, harga diri rendah, keterasingan, dan seterusnya. Naskah-naskah Buddha India dan Tibet kuno tidak secara gamblang membahas pokok-pokok ini. Ini karena bahasa Tibet dan Sanskerta kekurangan istilah yang sepadan untuk gejala-gejala tersebut. Meskipun begitu, ajaran-ajaran Buddha memuat cara-cara untuk memperoleh pembebasan penuh dari semua rupa penderitaan, termasuk gejala-gejala itu. Namun, cara-cara “sejati” itu juga dapat digunakan dalam cara “Dharma-sari” untuk membantu mengurangi masalah-masalah itu dalam masa kehidupan ini.

Ini adalah pendekatan yang saya gunakan dalam program-program pelatihan utama yang saya rancang dan sajikan di situs web saya, “Mengembangkan Kepekaan yang Seimbang” dan “Latihan-Latihan untuk Memadukan Kehidupan Seseorang.” Namun, melalui pelatihan-pelatihan ini, saya menekankan bahwa orang-orang dapat memahaminya sebagai terapi “Dharma-sari” untuk pengembangan-diri dalam masa kehidupan ini maupun sebagai bagian dari pelatihan”Dharma sejati.” Dengan program dan artikel seperti ini, situs web Arsip Berzin telah menjadi pelopor dalam menggunakan perkembangan teknologi informasi terkini untuk mengantarkan warisan Tibet kepada dunia.

Ucapan Penutup

Singkatnya, seperti yang sudah kita bicarakan, warisan lisan dan tulisan Tibet secara sejarah memainkan peran besar dalam menumbuhkan pemahaman global di kawasan Asia Tengah dan Himalaya. Saat ini, banyak orang dan organisasi terlibat dalam pelestarian warisan itu dan mereka telah membuat kemajuan yang luar biasa. Namun, pelestarian bukan berarti semata-mata membuat warisan ini tersedia dalam rupa aslinya, sebagai pameran museum atau koleksi perpustakaan, atau tersedia secara universal di Internet. Seperti aliran-aliran Tibet yang telah berkembang selama berabad-abad, proses evolusi dan pertumbuhan ini juga harus berlanjut. Ini penting tidak hanya demi keberlangsungan warisan yang kaya ini sebagai tata cara yang hidup, tapi juga demi kemampuannya untuk terus memberi sumbangan pada pemahaman global.

Dalam dunia yang dicirikan oleh pertukaran informasi dan globalisasi yang meningkat, warisan Tibet memiliki sesuatu yang besar untuk diberikan. Setiap kebudayaan memiliki ciri-ciri yang unik dan menarik secara antropologi yang memperkaya “keanekaragaman-hayati manusia” di planet ini. Namun, warisan Tibet lebih dari itu. Tradisi Buddha dan Bon menyebarkan banyak wawasan dan cara yang memperkaya bank pengetahuan dunia dan, melalui interaksi yang meningkat dengan warisan peradaban-peradaban lain, merangsang pertumbuhan dalam bidang-bidang yang mencakup sains, pengobatan, dan ilmu jiwa. Melalui bimbingan, ilham, dan upaya-upaya tak kenal lelah dari Yang Mulia Dalai Lama, warisan Tibet telah menciptakan sumbangan-sumbangan penting bagi pemahaman global. Melalui semua upaya kami yang terpadu, harapan untuk sumbangan-sumbangan lebih lanjut tampak cerah. Terima kasih.