Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Para Guru > Kisah Hidup Atisha

Kisah Hidup Atisha

Geshe Ngawang Dhargyey
terjemahan lisan oleh Sharpa Tulku
dipersiapkan dan disunting oleh Alexander Berzin
diperbaiki sedikit oleh Alexander Berzin, November 2003
Versi asli dicukil dari
Anthology of Well-Spoken Advice, vol 1.
Dharamsala, India: Library of Tibetan Works & Archives 1982.
Pesan naskah aslinya langsung dari Snow Lion Publications.

Masa Kecil dan Penyerahan Hidup Kepangeranan

Di bagian timur India, di tanah Jahor, di kota Bangala, di Istana Panji Emas, hiduplah Raja Kalyana yang Baik Hati dan Ratu Prabhawati yang Berseri. Istana kerajaan itu dimahkotai dengan tiga belas atap emas yang memuncaki satu sama lain dan megah dihiasi dengan 25.000 panji-panji emas. Istana itu dikelilingi oleh taman, kolam, dan kebun indah yang tak terhitung jumlahnya. Kerajaan itu sendiri sama kaya-rayanya dengan kerajaan-kerajaan kuno Cina yang mewah.

Pasangan raja-ratu itu memiliki tiga putra, Padmagarbha, Chandragarbha, dan Shrigarbha. Pangeran kedua inilah yang tumbuh menjadi guru panutan kita, Atisha (982-1054 M).

Ketika Atisha berumur delapan belas bulan, orangtuanya mengadakan pertemuan umum pertamanya di puri setempat, Kamalapuri. Tanpa diperintah, Atisha melakukan sembah-sujud pada benda-benda mulia di dalam kuil dan dengan tanpa diminta ia berkata, “Karena welas asih dari orangtuaku, aku telah beroleh hidup yang berharga sebagai manusia yang kaya akan kesempatan untuk menyaksikan kalian semua, tokoh-tokoh luar biasa. Aku akan selalu mencari arahan (perlindungan) hidup dari kalian semua.” Saat diperkenalkan pada rakyatnya di luar, ia berdoa supaya dapat menyadari daya penuh yang ia miliki agar dapat memenuhi setiap kebutuhan mereka. Ia juga berdoa untuk mampu mengenakan jubah pencari rohani yang menyangkal hidup keluarga, tak pernah pongah, dan selalu memiliki perhatian welas asih dan kepedulian penuh kasih sayang bagi sesama. Hal ini sangat luar biasa untuk dilakukan seorang bocah yang masih begitu belia.

Saat Atisha tumbuh besar, keinginannya untuk menjadi biksu fakir membuncah lebih hebat daripada sebelumnya, tapi orangtuanya punya harapan yang berbeda. Dari ketiga putra mereka, Atisha adalah yang paling cemerlang, dan pertanda-pertanda baik yang hadir di saat kelahirannya membuat mereka percaya bahwa Atisha seharusnya menjadi pewaris tahta raja. Oleh karena itu, ketika bocah itu berumur sebelas tahun, usia lazim untuk menikah pada masa itu, kedua orangtuanya membuat persiapan-persiapan teliti bagi pernikahannya.

Menjelang hari pernikahan, sosok Buddha (yidam) Tara menampakkan diri dalam mimpi Atisha. Ia memberitahukan bahwa selama 500 kehidupan berturut-turut Atisha telah menjadi biksu fakir dan karenanya tak memiliki ketertarikan pada kenikmatan fana dunia ini. Ia menjelaskan bahwa seorang awam yang terperangkap dalam kenikmatan-kenikmatan itu akan mudah diselamatkan, seperti menarik seekor kambing yang terjebak dalam pasir isap. Tapi, sebagai pengeran, Atisha akal sulit untuk ditarik seperti halnya menarik gajah dari perangkap pasir. Atisha tidak memberitahukan mimpi ini pada siapa pun, tapi dengan lain alasan ia dengan cerdik berkelit dari pernikahannya.

Atisha merasa betul-betul yakin bahwa ia harus menemukan seorang guru rohani, tapi berkata pada orangtuanya bahwa ia hendak pergi berburu, ia pun meninggalkan istana dengan ditemani 130 prajurit berkuda. Pertama-tama, di hutan ia bertemu Jetari yang kudus, seorang lelaki berkasta brahmana yang hidup sebagai seorang petapa Buddha. Dari Jetari, Atisha secara resmi menerima sebuah arahan aman dalam kehidupan dan mengambil sumpah bodhisattwa. Lelaki kudus ini kemudian mengirim Atisha ke wihara perguruan tinggi Nalanda yang sunyi dan ke guru rohani Bodhibhadra.

Atisha segera berangkat bersama seluruh prajurit berkudanya dan di sana, dari Bodhibhadra, ia kembali menerima sumpah dan ajaran bodhisattwa. Ia kemudian diarahkan ke Vidyakokila yang agung untuk perintah lebih lanjut dan kemudian ke Avadhutipa yang ternama. Guru yang terakhir ini menasihati Atisha untuk pulang, berlaku hormat pada setiap orang, tapi juga untuk coba melihat semua kekecewaan dari hidup penuh kemewahan itu, kemudian kembali lagi untuk melapor.

Kedua orangtua Atisha bersuka melihatnya dan berpikir akhirnya ia akan menetap, mengambil seorang istri, dan mempersiapkan kepemimpinannya di masa mendatang. Akan tetapi, Atisha memberitahu mereka bahwa ia sebenarnya pergi mencari guru rohani untuk mendapatkan arahan. Ia mengakui bahwa yang ia inginkan adalah menjalani hidup perenungan yang tenang dan ia pulang untuk memohon izin supaya dapat meninggalkan tugas-tugas kepangeranannya.

Terhenyak oleh kata-kata Atisha, orangtuanya mencoba untuk menghalangi kepergiannya. Mereka berkata bahwa ia boleh memadukan dua kehidupan itu dan menawarkan padanya pembangunan biara-biara sunyi di dekat istana dan mengizinkannya belajar, memberi makan orang miskin, dan seterusnya. Mereka memohon agar ia tak kembali ke hutan. Tapi, Atisha memberitahu mereka bahwa ia tak punya sekelumit pun minat terhadap kehidupan istana. “Bagiku,” ia berkata, “istana emas ini tak ada bedanya dari penjara. Putri yang ayah dan ibu tawarkan tak ada bedanya dari putri roh jahat, makanan manis di sini tak ada bedanya dari daging anjing busuk, dan pakaian satin dan perhiasan ini tak ada bedanya dari kain rombeng di tumpukan sampah. Sejak hari ini, aku teguh untuk hidup di hutan dan belajar dari kaki guru Avadhutipa. Yang kuminta hanyalah sedikit susu, madu, dan gula aren dan aku akan beranjak pergi.”

Tak ada yang bisa diperbuat kedua orangtua Atisha selain menyetujui permintaannya. Demikianlah, Atisha kembali ke hutan dengan bekal-bekal yang dimintanya dan serombongan besar dayang kerajaan yang membuatnya malu. Orangtua Atisha rupanya bersikeras supaya rombongan ini ikut serta. Avadhutipa lalu mengirim pangeran muda ini ke guru Rahulagupta, di Gunung Hitam, untuk memasuki latihan tantra. Atisha tiba dengan seluruh prajurit berkudanya dan memberitahu guru vajra ini betapa ia telah belajar dari banyak guru, tapi masih belum mampu mengibaskan keterikatannya pada kehidupan istana. Rahulagupta menawarinya pemberdayaan yang pertama, yaitu latihan Hevajra, sosok Buddha yang akan menjadi tempatnya untuk mengikatkan pikiran. Rahulagupta kemudian mengirim Atisha kembali ke istana dengan delapan pengikutnya, empat laki-laki dan empat perempuan, berpakaian compang-camping dengan hiasan tulang khas mahasiddha, sosok-sosok luar biasa dengan pencapaian nyata.

Selama tiga bulan, Atisha tinggal di lingkungan istana dengan kawan-kawan barunya yang aneh ini, berperilaku dalam sikap yang sepenuhnya tak biasa dan kurang ajar. Pada akhirnya, orangtua Atisha terpaksa menghapus semua harapan atas putra berharga mereka. Mengira Atisha telah gila, mereka memberikan izin penuh baginya untuk pergi bersama kawan-kawannya yang berperawakan menjijikkan itu dan menghilang untuk selamanya.

Pelajaran-Pelajaran di India dan Pulau Emas

Atisha dengan segera kembali ke gurunya, Avadhutipa, dan kini, dari usia 21 sampai 25 tahun, ia mempelajari secara mendalam pandangan jalan tengah Madhayamaka terhadap kenyataan. Selama rentang waktu ini, ia juga belajar dengan banyak guru mahapandai lainnya dan menjadi sungguh berpengalaman dalam semua sistem latihan tantra. Malah, ia menjadi agak congkak dengan pengetahuan luasnya itu dan merasa dirinya pandai tentang aturan-aturan tersembunyi untuk melindungi cita ini dan bahwa ia telah menguasai seluruh naskahnya. Tapi kemudian, ia menerima penglihatan murni dari dakini, seorang perawan samawi yang gerakan-gerakannya tak dirintangi kebodohan, yang memegang banyak jilid aliran abadi dari sistem tantra seperti itu. Ia berkata pada Atisha, “Di tanahmu, hanya ada sedikit naskah semacam itu, tapi di tanah kami ada begitu banyak.” Setelah itu, kecongkakan Atisha mengempis.

Satu hari, ia memutuskan untuk pergi dan mengabdikan seluruh tenaganya pada latihan-latihan tantra untuk mewujudkan daya paling penuh dalam hidupnya. Guru vajranya, Rahulagupta, kemudian muncul dalam sebuah mimpi dan menasihatinya supaya tidak berbuat demikian dan meninggalkan semua orang, namun supaya menjadi seorang biksu fakir. Ia seharusnya lanjut dalam sikap ini dengan latihan yang ajeg dan mencapai pencerahan sempurna saat waktunya tiba. Karenanya, di usia 29 tahun, Atisha menerima dari tetua Shilarakshita jubah pencari rohani yang telah meninggalkan kehidupan keluarga dan diberi nama Dipamkara Jnana, “Ia yang Kesadaran Mendalamnya Bertindak sebagai Pelita.”

Selama 12 pertama setelah mengenakan jubah itu, Atisha belajar di wihara perguruan tinggi Odantapuri dengan Dharmarakshita yang agung, penulis naskah lojong (latihan cita) yang terkenal untuk pembersihan sikap-sikap kita, Cakra Senjata-Senjata Tajam. Mereka memusatkan perhatian pada semua aturan Hinayana atau cita-bersahaja untuk diambil sebagai wahana menuju pembebasan, tapi Atisha selalu tak merasa puas. Ia mendamba cara tercepat untuk mewujudkan daya terpenuhnya.

Guru vajranya, Rahulagupta, berkata pada Atisha, “Tak peduli seberapa banyak penglihatan murni yang kamu terima, kamu harus berlatih untuk menumbuhkan kasih peduli, nuraga welas asih, dan tujuan bodhicita yang dipersembahkan khusus untuk membawa manfaat bagi sesama dan untuk mencapai pencerahan.” Rahulagupta menasihati Atisha untuk berjanji sepenuh hati dalam dirinya pada sosok Buddha Avalokiteshvara, untuk mengikat erat citanya dengan dirinya dan bergiat untuk jadi tercerahkan supaya ia bisa melakukan yang terbaik untuk membebaskan setiap orang dari samsara, keadaan yang terus terjadi tanpa terkendali. Hanya dengan pencapaian ini Atisha mampu mewujudkan daya terpenuh yang dimilikinya.

Di Vajrasana, Tempat Duduk Vajra, di Bodh Gaya sekarang, ketika sedang mengelilingi tugu peninggalan stupa besar untuk menghormati Buddha, Atisha mendengar dua patung saling berbisik di sudut di balik stupa itu. Yang satu bertanya pada yang lain, “Jika kamu ingin meraih pencerahan secepat mungkin, dalam apa seharusnya kamu berlatih?” “Hati bodhicita yang penuh mengabdi” adalah balasannya. Dan sembari mengelilingi pucuk tugu tersebut, sebuah patung Buddha, Guru Agung Pelampau Segala, berbicara padanya, “O biksu fakir, jika kamu ingin mewujudkan daya terpenuhmu dengan cepat, berlatihlah dalam cinta, welas asih, dan bodhicita.”

Kala itu, guru paling tenar yang mengampu ajaran lengkap tentang cara menumbuhkan bodhicita adalah Dharmakirti (Dharmapala) Guru Mahamulia dari Suwarnadwipa, Pulau Emas. Oleh karenanya, dengan sekelompok 125 biksu terdidik, Atisha berangkat dengan kapal dagang ke Pulau Emas, Sumatera sekarang. Di masa itu, perjalanan laut yang panjang bukanlah sebuah urusan gampang dan mereka dengan susah-payah melewati badai, serangan paus, dan hilang arah. Butuh tiga belas bulan yang berat untuk menyelesaikan perjalanan, tapi Atisha tak sedikit pun gentar melewatinya.

Saat mereka akhirnya berlabuh, Atisha tidak serta-merta pergi menemui guru ternama itu; alih-alih, ia tinggal selama dua minggu penuh bersama sekelompok pengikut Dharmakirti. Ia terus mengorek pengetahuan dari mereka tentang guru mereka itu dan bersikeras mengetahui kisah hidup lengkapnya. Hal ini menunjukkan pada kita pentingnya untuk mempelajari secara menyeluruh seorang guru rohani dan memeriksa kemampuannya sebelum belajar darinya.

Sementara itu, Guru Mahamulia dari Pulau Emas ini telah mendengar kedatangan sarjana terdidik dari India dan rekan-rekan fakirnya dalam perjalanan rohani mereka. Ia mengumpulkan masyarakat biksunya sendiri untuk mempersiapkan sambutan dan ketika Atisha tiba, mereka bersama-sama menyelenggarakan banyak upacara yang berguna untuk masa depan. Ia juga menghadiahi Atisha sebuah patung Buddha dan meramalkan bahwa suatu hari Atisha akan menjinakkan cita orang-orang di Tanah Salju sebelah utara.

Atisha menetap di Pulau Emas selama dua belas tahun, penuh gelora berlatih dengan gurunya ini. Pertama-tama, ia mempelajari Kerawang Perwujudan (Skt. Abhisamaya-alamkara) perintah-perintah panduan dari Maitreya yang Jaya untuk memahami makna Sutra Kesadaran yang Jauh Menjangkau dan Membedakan dari Yang Mahatahu (Skt. Prajnaparamita Sutra). Lambat laun ia lalu menerima ajaran penuh tentang perilaku luas dari silsilah Maitreya dan Asanga, juga ajaran-ajaran dari silsilah khusus tentang menukar sikap mementingkan diri sendiri dengan sikap peduli terhadap sesama, yang bodhisattwa Shantidewa, seorang putra rohani dari Yang Jaya, terima dari yang dimuliakan dan tiada bercela Manjushri sendiri. Setelah Atisha memperoleh perwujudan penuh dari tujuan bodhicita lewat cara-cara ini, ia kembali ke India di usianya yang ke-45 tahun dan berdiam di sana, menghabiskan sebagian besar waktunya di wihara perguruan tinggi Vikramashila yang sunyi.

Secara keseluruhan, Atisha telah belajar dari 157 guru agung, tapi ia memiliki rasa hormat yang istimewa terhadap guru luar biasanya dari Pulau Emas dan aturan-aturan yang ia berikan; sampai-sampai air mata menggenangi pelupuk matanya manakala ia menyebut atau mendengar nama gurunya itu. Ketika kemudian ditanya oleh para pengikutnya di Tibet tentang apakah penampakan rasa ini berarti ia lebih menyukai salah satu guru di antara guru yang lain, Atisha membalas, “Aku tidak membeda-bedakan guru rohaniku. Tapi oleh karena kebaikan guruku yang mahamulia dari Pulau Emas ini, aku telah beroleh kedamaian cita dan hati penuh pengabdian pada tujuan bodhicita.”

Mengundang Atisha ke Tibet

Setelah Atisha kembali ke India, ia melindungi dan menjunjung Dharma Suci yang Jaya dengan tiga kali mengalahkan orang-orang picik non-Buddha dalam perdebatan resmi. Di dalam ajaran Buddha, ia membangun banyak lembaga pembelajaran ke mana pun ia berpergian, dan kapan saja ia melihat tanda praktik-praktik yang merosot atau keliru, ia akan segera memperbaikinya. Ketenarannya menyebar ke seluruh India. Karena welas asih dan wawasannya, ia dipuja sebagai permata mahkota guru-guru terpelajar. Akan tetapi, anugerah paling luar biasa darinya ia berikan pada masyarakat di Tibet, Tanah Salju.

Walau Buddha Dharma pernah dibawa ke Tibet beberapa abad sebelumnya, utamanya lewat usaha Guru Rinpoche Padmasambhava dan beberapa lainnya, kemekaran awal ini menderita kelayuan yang hebat karena tekanan Raja Langdarma (863-906 M). Tinggal sedikit saja pelaku ajaran yang tersisa dan setelahnya banyak pokok yang tidak lagi dipahami dengan tepat. Banyak orang merasa bahwa praktik-praktik disiplin-diri etis dan tantra itu saling terpisah dan bahwa pencerahan dapat dicapai lewat kemabukan dan beragam pelecehan seksual. Yang lain percaya bahwa, begitu juga, ajaran Hinayana dan Mahayana pun saling bertolak-belakang, yang satu berujung pada pembebasan dan yang lain bermuara pada pencerahan.

Sedih karena keadaan yang merosot ini, Raja Tibet Yeshey-wo berkeinginan besar mengundang guru terpelajar dari salah satu pusat wihara agung di India untuk datang ke Tibet dan menjernihkan kekeruhan ini. Karena tidak mengenal Atisha secara khusus, ia mengirim 21 pemuda untuk mempelajari bahasa Sanskerta dan mencari guru yang cocok. Semua kecuali dua mati karena suhu panas. Tak mampu mengundang siapa pun, tapi telah belajar bahasa Sanskerta, para penerjemah baru Rinchen-zangpo (958 – 1050 M) dan Legshay kembali kepada raja dan mewartakan padanya tentang Atisha.

Segera setelah mendengar nama Atisha, raja memutuskan bahwa Atisha inilah orang yang dibutuhkan. Tanpa membuang waktu, ia mengirim rombongan kedua yang berjumlah sembilan orang, dikepalai oleh Gyatsonseng, dengan banyak emas untuk mengundang guru ini. Tapi delapan dari mereka juga mati dan, karena tak mampu membawa Atisha, Gyatsonseng tinggal di India. Saat kabar tentang kegagalan kedua ini sampai ke telinga Yeshey-wo, ia memutuskan untuk memimpin sendiri perjalanan untuk mengumpulkan emas untuk rombongan yang lain. Namun dalam tugas kali ini, ia ditangkap di perbatasan Nepal oleh Raja Garlog (Qarluq) saingannya, yang berusaha mencegah penyebaran ajaran Buddha lebih jauh lagi di Tibet.

Keponakan Raja Yeshey-wo, Jangchub-wo, diberitahu untuk membatalkan perjalanan ke India atau menggalang sejumlah emas yang setara dengan ukuran pamannya untuk menjamin pembebasan sandera. Keponakan raja itu berkeliling kerajaan, tapi hanya mampu mengumpulkan emas yang setara dengan badan, kaki, dan tangan Raja. Ia tidak mampu menggalang emas tambahan untuk menebus kepala pamannya itu. Saat Garlog si penguasa menginginkan tebusan penuh, keponakan itu memohon izin untuk bertemu dengan pamannya.

Ia dibawa ke ruang penjara yang gelap, yang direbat dengan terali besi. Di sana ia menjelaskan keadaannya pada pamannya, yang dibelenggu dan amat rapuh, dan berkata bahwa ia akan terus mencari emas yang tersisa. “Jangan berhenti berharap,” ujarnya pada pamannya, “karena aku akan memenuhi tebusannya. Aku bisa saja menyatakan perang dengan raja Garlog, tapi akan banyak orang yang terbunuh. Membeli kebebasanmu tampaknya jalan terbaik.”

“Keponakanku tersayang,” Raja yang renta itu membalas, “aku tak pernah menyangka kau begitu penuh dengan welas asih dan kebijaksanaan. Aku senang bahwa kau memahami betapa jahatnya kekerasan, tapi sekarang kau harus melupakanku. Alih-alih, gunakan semua emas yang telah kau kumpulkan untuk mengundang guru agung Atisha ke Tibet. Tak terhitung jumlah kematianku di kehidupan sebelumnya, tapi aku yakin aku belum pernah mengorbankan diriku untuk Dharma dari Yang Jaya. Kini aku dengan senang hati melakukannya. Siapa pun yang kau kirim ke India, tolong minta dia untuk mengatakan pada Atisha bahwa aku telah memberikan nyawaku untuk kesejahteraan rakyatku dan Dharma supaya ia bisa dibawa ke Tibet. Walau aku belum punya keberuntungan untuk bertemu dengannya di kehidupan ini, aku sungguh-sungguh berharap bahwa aku bisa di masa depan.” Keponakan raja itu patuh pada perintah pamannya dan kemudian beranjak pergi, hampir-hampir tak kuasa dirudung oleh dukacita.

Jangchub-wo lalu menjadi Raja Tibet. Ia memutuskan bahwa orang terbaik yang bisa ia kirim pada perjalanan ketiga ini adalah Nagtso si penerjemah, yang pernah ke India beberapa kali. Raja baru itu mengundangnya ke istana dan, setelah bersikeras meminta penerjemah itu duduk di tahta kerajaan, memohon padanya. “Pamanku menyerahkan nyawanya supaya Atisha dapat diundang ke Tibet. Jika keinginan ini tidak terpenuhi, orang-orang kacau di tanah ini pasti akan jatuh ke dalam kelahiran kembali yang mengerikan. Aku memohon padamu untuk menyelamatkan manusia-manusia yang malang ini.” Raja muda itu kemudian terjatuh dan tersedu. Nagtso tak punya pilihan lain kecuali menerima dan memberanikan diri menentang kesukaran-kesukaran perjalanan ke India lagi ini.

Penerjemah itu berangkat dengan 700 keping emas dan enam rekan. Raja mengantar mereka selama beberapa hari dan, sebelum beranjak pergi, ia mengingatkan Nagtso untuk memberitahu Atisha, “Ini adalah emas terakhir di Tibet dan pamanku adalah laki-laki hebat Tibet yang terakhir. Jika ia punya rasa welas asih bagi sesama, ia pasti datang. Jika orang-orang Tibet yang biadab ini saja menaruh perhatian pada Dharma dan ia tidak, ajaran Buddha memanglah telah melemah dan tak ada lagi harapan!” Raja kemudian kembali ke istananya.

Dalam perjalanan ke India, rombongan utusan itu bertemu dengan seorang bocah laki-laki yang menanyakan tujuan perjalanan mereka. Saat diberitahu, bocah itu merasa sangat senang dan berkata, “Kalian akan berhasil dalam perjalanan ini jika kalian selalu melafalkan doa ini, ‘Kepada Avalokiteshvara aku bersujud, dari Avalokiteshvara pula kuambil arah yang aman. Aku mohon Dharma yang Jaya tumbuh mekar di Tibet.” Saat ditanya tentang siapa dirinya, bocah itu berkata bahwa mereka akan mengetahuinya ketika saatnya tiba.

Akhirnya, rombongan itu sampai di wihara perguruan tinggi Vikramashila yang sunyi di satu malam yang sudah larut dan mereka berkemah di pintu gerbangnya. Di ruangan di atas, tinggallah Gyatsonseng, orang Tibet yang telah memimpin perjalanan kedua dari Raja Yeshey-wo. Saat ia mendengar suara-suara yang berbicara dalam bahasa pribuminya, ia melihat ke bawah dengan rasa terkejut luar wihara dan, melihat bahwa rombongan itu berkemah di bawah, ia bertanya mengapa mereka datang. Orang-orang Tibet itu dengan girang melontarkan cerita mereka, dan bahkan terang-terangan membuka bahwa tujuan dari perjalanan mereka sebenarnya untuk membawa Atisha ke Tibet. Gyatsonseng memperingatkan mereka untuk tidak mengungkap tujuan-tujuan mereka segamblang itu. Ia menasihati mereka untuk meninggalkan emas mereka pada bocah laki-laki yang berjaga di gerbang dan untuk datang menemuinya di pagi hari. Para utusan lalu melakukannya dan bocah laki-laki itu meminta mereka untuk beristirahat dan untuk menaruh percaya padanya.

Pagi buta di hari berikutnya, bocah itu membangunkan mereka dan bertanya tentang alasan mereka datang. Saat mereka memberitahu semuanya, bocah laki-laki itu membentak, “Kalian orang Tibet terlalu banyak cakap! Kalian harus menyimpan hal ini diam-diam. Kalau tidak, akan ada banyak gangguan. Hal penting tak boleh dilakukan tergesa-gesa, tapi selalu dengan perlahan, teliti, dan diam-diam.” Bocah itu lalu mengembalikan keping emas mereka dan membimbing mereka masuk ke lahan wihara yang luar biasa besar itu.

Rombongan itu bertemu dengan seorang lelaki tua yang menyapa mereka dan bertanya dari mana asal mereka dan mengapa mereka datang ke tempat itu. Lagi-lagi, mereka tak berusaha menyembunyikan apa pun dan pria tua itu memarahi mereka, “Jika kalian terus ceroboh seperti ini, kalian tidak akan pernah meraih tujuan kalian. Beritahukan tugas kalian hanya pada Atisha.” Ia kemudian menawarkan diri untuk mengantar mereka ke ruangan Gyatsonseng. Walaupun ia berjalan perlahan dengan bantuan tongkat rotan, tak seorang pun yang bisa mengimbangi jalannya, karena ia juga, seperti dua bocah laki-laki sebelumnya, merupakan perwujudan dari Avalokiteshvara, yang sedang mengawasi perjalanan mereka.

Kini, para utusan dari Tibet itu memutuskan sebuah rencana tindakan. Gyatsonseng meminta mereka untuk berkata bahwa mereka datang untuk belajar bahasa Sanskerta. “Kepala Wihara utama kami, tetua Ratnakara, adalah atasan Atisha dan begitu menghormatinya. Jika ia mendengar tujuan kalian yang sebenarnya, ia akan pastikan kalian tak bakal pernah bertemu Atisha.”

Pagi berikutnya, mereka melapor pada Kepala Wihara dan mempersembahkan separuh dari keping emas mereka. Mereka berkata bahwa di masa lalu banyak dari rakyat mereka yang datang ke India untuk mengundang datang ke Tibet guru-guru terpelajar seperti Atisha. Akan tetapi, mereka sendiri datang untuk belajar dan menjadi terpelajar. Tetua yang dihormati itu sungguh merasa lega dan berkata, “Silahkan kalian lakukan. Jangan salah paham. Bukan karena aku tidak berwelas asih terhadap Tibet, tapi Atisha adalah salah satu guru kami yang mahapandai, khususnya dalam hal bodhicita. Jika ia tidak tinggal di India, tak ada harapan bagi ajaran-ajaran Buddha untuk lestari di tanah kelahirannya sendiri.” Kepala Wihara itu, akan tetapi, masih menaruh curiga pada orang-orang asing ini dan mencegah mereka bertemu Atisha.

Orang-orang Tibet itu, yang merasa yakin siasat mereka berhasil, mulai menghadiri pelajaran sambil menanti kesempatan mereka. Setelah beberapa bulan, sebuah upacara kewiharaan penting digelar. Karena setiap orang diminta untuk datang, para utusan Tibet itu berharap bahwa mereka pada akhirnya dapat sepintas melihat Atisha. Selagi mereka menonton dan menunggu, banyak guru agung masuk ke dalam tempat upacara. Beberapa orang, seperti Naropa yang ternama, datang dengan dikelilingi rombongan pendamping yang ramai. Yang lain diiringi oleh para pembantu yang membawa bunga dan dupa. Akhirnya, Atisha tiba. Ia mengenakan jubah tua yang compang-camping, dengan kunci-kunci ruang doa dan gudang terselip di pinggangnya. Para utusan Tibet itu kecewa berat dengan penampilan Atisha yang tak mengesankan dan bertanya pada Gyatsonseng apa mereka bisa mengundang salah satu dari guru yang lebih menawan saja sebagai gantinya. Gyatsonseng berkata pada mereka, “Tidak, Atisha punya ikatan erat yang sangat khusus dengan Tibet dan, meski berpenampilan begitu, merupakan orang yang harus kalian bawa pulang.”

Akhirnya, sebuah pertemua rahasia diatur. Nagtso mempersembahkan keping-keping emas yang ditumpuk tinggi di atas piring sesaji mandala bundar dan memberitahu Atisha sejarah tentang bagaimana Dharma suci telah merosot di Tibet. Setelah menautkan cerita itu dengan kisah pengorbanan Raja Yeshey-wo dan mengulangi kata-kata raja dan keponakannya itu, Nagtso memohon supaya Atisha datang.

Atisha berkata bahwa mereka sangat baik hati dan bahwa ia tak ragu sama sekali bahwa kedua raja Tibet tersebut sesungguhnya adalah bodhisattwa. Ia sadar betul dengan masalah-masalah yang terjadi dan dengan tulus menghormati Raja untuk pengorbanannya, tapi mereka juga harus mencoba memahami bahwa ia semakin renta dan bahwa ia punya banyak tanggung jawab sebagai penjaga gudang wihara. Ia berharap bisa datang. Lalu, ia mengembalikan emas mereka untuk keperluan perjalanan pulang. “Sementara itu,” katanya pada mereka, “aku harus meminta saran dari yidam pribadiku.”

Malam itu, Tara menampakkan diri pada Atisha dalam sebuah penglihatan murni dan berkata padanya bahwa perjalanannya akan menjadi sebuah keberhasilan yang lengkap. Ia akan membawa limpahan manfaat bagi orang-orang Tibet dan menemukan di antara mereka satu pengikut yang secara khusus punya ikatan erat dengannya. Ini akan menjadi upasaka, seorang laki-laki dengan sumpah-sumpah awam, dan ia akan menyebarkan Dharma bahkan lebih luas lagi. “Tapi,” kata Tara padanya, “jika kamu tinggal di India, kamu akan hidup sampai umur 92, sementara jika kamu pergi ke Tibet, rentang hidupmu hanya sampai 72 tahun.” Atisha kini merasa yakin untuk pergi bersama para utusan dari Tibet itu dan bahwa kehilangan dua puluh tahun usianya adalah sebuah pengorbanan yang pantas jikalau ia sungguh mampu membawa manfaat bagi orang lain. Ia tinggal mencari cara cerdik agar bisa mendapat izin pergi dari kepala wiharanya yang cerdas.

Pertama-tama, ia meminta izin untuk berziarah ke timur, selatan, dan barat Vikramashila. Ini diizinkan dan Atisha mengunjungi sejumlah tempat suci. Lalu, ia meminta izin untuk melakukan perjalanan serupa ke utara, tapi Tetua itu, mengendus niat tersembunyi Atisha, menolaknya.

Para utusan dari Tibet itu betul-betul putus-asa dan memutuskan bahwa memberitahu Kepala Biara tentang hal yang sebenarnya adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Tetua wihara itu berpura-pura marah, dan para utusan dari Tibet itu jatuh berlutut dan memohon ampunan. “Alasanku menolak memberi Atisha pada kalian masih sama dengan yang dulu,” Kepala Wihara membuka suara, “tapi karena Tibet membutuhkannya begitu hebatnya, aku bersedia membiarkannya untuk menetap di tanah kalian selama tiga tahun. Akan tetapi, kalian harus berjanji untuk mengembalikannya ke India setelah itu.” Diliputi sukacita, para utusan dari Tibet itu pun mengucapkan janji mereka.

Membentuk Ulang dan Menghidupkan Kembali Dharma di Tibet

Demikian, di usianya ke-53 tahun, Atisha melakukan perjalanan panjang ke Tanah Salju. Di jalan, penerjemah Gyatsonseng jatuh sakit dan meninggal. Dalam duka, Atisha menyatakan, “Kini lidahku telah tercabut!” Kemudian Nagtso dengan rendah hati membungkuk di hadapannya dan berkata, “Janganlah khawatir. Walau sekarang tidak sempurna, bahasa Sanskerta saya pasti akan berkembang. Juga masih ada orang lain yang mungkin dapat melayani Anda.”

Di Nepal, mereka bertemu penerjemah hebat yang mencelikkan-mata, Marpa (1012-1099 M), yang sedang dalam perjalanannya ke India untuk yang ketiga kalinya. Atisha mengundangnya untuk menjadi penerjemahnya, tapi Marpa menolak dengan berkata, “Guruku ingin aku mengunjungi India tiga kali. Kini, aku harus melakukan perjalanan terakhir ini.” Mereka juga bertemu Rinchen-zangpo, penerjemah yang sudah lanjut usia, tapi ia juga tidak mampu menolong, “Seperti yang bisa Anda lihat dari uban di kepala saya,” katanya, “saya ini sudah sangat tua. Saya telah bekerja sepanjang hidup saya tanpa pernah punya kesempatan untuk melakukan latihan batin secara mendalam.” Karena itu, Atisha terus beranjak, terpaksa mengandalkan keterampilan Nagtso yang terbatas.

Setelah dua tahun perjalanan, rombongan itu akhirnya tiba di Tibet Atas (Tibet bagian barat) di kota Ngari, ibukota kerajaan Yeshey-wo. Tuan rumah dan para biksu menggelar arak-arakan besar dan mengundang Atisha untuk tinggal di biara sunyi terdekat. Guru dari India ini bersukacita melihat kegairahan terhadap ajaran-ajaran Yang Jaya ini dan sungguh terkejut mengetahui jumlah orang yang telah mengenakan jubah pencari rohani. Banyak orang terpelajar datang dari seluruh wilayah Tibet. Ia sungguh terkesan dengan kedalaman pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai sutra dan tantra Buddha yang Suci sampai-sampai ia berpikir mengapa mereka harus bersusah-payah mengundangnya ketika sudah ada begitu banyak guru di situ. Akan tetapi, saat ia bertanya balik tentang bagaimana dua perangkat aturan-aturan pencegahan itu membentuk satu kesatuan utuh, mereka tidak mampu menjawab. Atisha kini tahu tujuan dari tugasnya.

Suatu hari, Raja Jangchub-wo meminta sebuah pengajaran bagi masyarakat Tibet. “Kami tidak menginginkan pengajaran tentang aturan-aturan yang begitu luas dan mendalam sehingga kami takkan mampu menganutnya,” katanya. “Yang kami butuhkan adalah sesuatu yang akan menjinakkan cita kami dan memampukan kami menghadapi perilaku harian kami yang selalu menuruti dorongan hati (karma) dan akibat-akibatnya. Tolong ajarkan kami aturan-aturan yang Anda sendiri ambil.”

Atisha begitu terpikat oleh kesederhanaan dan ketulusan permintaan Raja, sehingga di tahun-tahun berikutnya ia menyebutnya sebagai “pengikutku yang sempurna”. Kalau saja ia diminta untuk mengajar tentang pemberdayaan lebih maju menuju sistem-sistem kedewaan tantra atau untuk latihan-latihan yang dapat mendatangkan kekuatan khusus, ia akan jauh lebih kecewa. Karena itu, Atisha menghabiskan tiga tahun di Ngari, memberikan wacana-wacana yang kemudian dikumpulkan ke dalam Pelita bagi Jalan menuju Pencerahan (Skt. Bodhipathapradipa), sebuah purwarupa bagi seluruh naskah selanjutnya mengenai pokok ajaran ini.

Pokok-pokok yang selalu ia tekankan dalam percakapannya dengan orang-orang menghasilkan nama panggilan baginya, “Guru Mahamulia Arah yang Aman (Lama Perlindungan) dan “Guru Mahamulia Perilaku Menurut Dorongan Hati dan Akibat-Akibatnya (Lama Sebab dan Akibat)”. Ia sangat bahagia dengan hal ini dan berkata, “Bahkan mendengar nama-nama itu saja mungkin sudah membuktikan manfaatnya.”

Selama masa ini, Atisha tetap menanti ketua pengikutnya di masa depan, orang awam Tibet yang dinubuatkan oleh Tara yang dimuliakan dan tiada bercela, tapi orang ini belum muncul juga. Suatu hari, Atisha diundang ke rumah seorang teman untuk makan siang dan, sebab ia adalah seorang vegetarian yang ketat, ia diberi sajian kue jelai panggang khas daerah itu (tsampa). Ketika ia beranjak pergi, ia meminta beberapa potong tambahan dan mentega. Di saat itu juga, Dromtonpa yang dihormati (1004-1064 M), orang awam upasaka yang ditunggu-tunggu, tiba di rumah Atisha. Ia bertanya pada para pembantu, “Di mana guru Mahayanaku yang mahamulia itu?” Mereka membalas, “Atisha sedang bersantap siang dengan temannya. Jika Anda menunggu di sini, sebentar ia akan kembali.”

Dromtonpa tidak bisa menunggu. Alih-alih, ia berlari cepat menuju rumah teman itu. Atisha dan Dromtonpa bertemu di salah satu jalan. Walau mereka belum pernah saling bertemu sebelumnya, mereka langsung dapat saling mengenali oleh karena ikatan mereka yang erat di kehidupan sebelumnya. Dromtonpa melakukan sembah-sujud dan Atisha, sambil menawarinya kue jelai, berkata, “Ini makan siangmu. Kau pasti sangat lapar.” Orang awam itu menyantap kue tersebut dan menggunakan mentega untuk membuat persembahan pelita-mentega bagi guru rohani yang baru ditemukannya itu. Sejak saat itu, ia mempersembahkan pelita semacam itu setiap malam tanpa gagal.

Setelah Atisha berada di Ngari selama tiga tahun, ia berangkat bersama penerjemah Nagtso untuk kembali ke India. Namun, perang yang berkecamuk di perbatasan Nepal menghalangi perjalanan mereka. Nagtso menjadi teramat sangat cemas karena kini tampaknya mustahil baginya untuk menepati janjinya pada Kepala Wihara Vikramashila. Atisha segera menenangkan ketakutannya dengan berkata, “Tak ada gunanya mengkhawatirkan keadaan yang berada di luar kendali kita.”

Merasa sungguh lega, Nagtso menulis sepucuk surat untuk Kepala Biara, menjelaskan bagaimana niat baik mereka terpaksa pupus. Sebagai ganti ketakhadirannya, Atisha mengirimkan sebuah salinan Pelita bagi Jalan menuju Pencerahan. Ia juga meminta izin untuk tetap tinggal di Tibet sampai akhir hayatnya. Mereka kemudian kembali ke Ngari.

Di masa sekarang, penerbitan sebuah buku cenderung menjadi kesepakatan niaga sederhana saja. Akan tetapi, pada masa Atisha, sebelum sebuah naskah dapat dicetak, naskah tersebut harus melewati sebuah ujian ketat dari sebuah panitia yang terdiri dari para sarjana, dan sidang ujian ini dipimpin oleh raja yang memimpin di daerah itu. Jika terdapat kekurangan apa pun dalam karya tersebut, karya itu akan diikatkan pada ekor anjing dan diseret dalam debu. Sementara penulisnya, alih-alih memetik pujian dan ketenaran, akan menderita karena kehilangan nama baiknya dengan memalukan.

Naskah Atisha juga harus melewati pengamatan yang sama, dan panitia penguji dengan suara bulat menyetujui nilainya yang luar biasa. Raja yang memimpin sidang bahkan tergerak untuk menyebut bahwa karya tersebut tidak hanya akan membawa guna bagi orang-orang Tibet yang abai, tapi juga bagi orang-orang India yang bercita-tajam. Saat Kepala Wihara Vikramashila membaca naskah itu, ia menulis surat untuk Nagtso, si penerjemah, “Saya sudah tidak berkeberatan jika Atisha menetap di Tibet. Yang ia tulis telah membawa manfaat bagi kita semua. Saya hanya meminta supaya ia sekarang menulis dan mengirimkan pada kami tafsirnya sendiri tentang naskah itu.” Inilah sebab ditulisnya tafsir Atisha sendiri tentang pokok-pokok sukar dalam naskah penting ini.

Segera, Dromtonpa mengundang Atisha untuk pergi lebih jauh ke utara ke Tibet Pusat dan mengunjungi Lhasa. Dalam perjalanan, mereka berhenti di Samyay, wihara pertama yang dibangun di Tibet. Atisha sangat terkesan dengan kumpulan buku berbahasa Sanskerta dan Tibet yang dimiliki perpustakaan wihara itu dan berkata ia tidak berpikir bahwa begitu banyak naskah ajaran Buddha dalam bahasa Sanskerta yang ada bahkan di India sekalipun pada masa itu.

Secara keseluruhan, Atisha menghabiskan 17 tahun di Tanah Salju; tiga di Ngari, sembilan di Nyetang dekat Lhasa, dan lima di berbagai tempat lainnya sampai kematiannya pada tahun 1054 M di usia 72 tahun, persis seperti yang dinubuatkan oleh Tara. Jenazah Atisha dibalsem dan diabadikan di Nyetang dan, dua tahun setelah itu (1056 M), Dromtonpa, orang awam yang dihormati, membangun Wihara Radreng, pusat terpenting dari aliran Kadam yang meneruskan silsilah gurunya.

Nagtso si penerjemah mengingat bahwa tak sekali pun selama bertahun-tahun mereka bersama Atisha mengatakan atau melakukan sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Dengan mengajarkan jalan terpadu tentang sutra dan tantra, guru agung dari India itu telah menyelesaikan tugas besar membentuk ulang dan menghidupkan kembali penyebaran Dharma lengkap dari Yang Jaya di Tibet. Pada kenyataannya, karena kebaikannyalah aturan-aturan suci ini bertahan dalam bentuk aslinya sampai sekarang.

[Lihat juga naskah Atisha Rangkaian Batu Permata Bodhisattwa.]