Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Pengantar untuk "Memadukan Berbagai Segi dalam Hidup Seseorang'

Alexander Berzin
Moskow, Rusia, Oktober 2012

Sesi Dua: Pertanyaan dan Latihan

Tinjauan

Malam ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai latihan untuk memadukan berbagai segi kehidupan kita. Malam sebelumnya kita telah membahas sedikit dasar dalil program ini, dan kita telah memahami bahwa satu cara untuk menyajikan dasar dalil tersebut ada dalam kerangka dasar untuk memberi cap aku.

Sepanjang hidup kita, kita memikirkan diri kita dalam kerangka aku, kehidupanku – “Sekarang aku melakukan hal ini,” “Sekarang aku mengalami hal itu.” Dan semua orang sepakat bahwa kita telah menjalani seluruh hidup kita. Ini bukan berarti kita telah melewati tahun lalu tetapi kita menjalani seluruh rentang hidup kita. Kita telah mengalaminya, bukan? Oleh karena itu kita telah mengalami banyak hal dalam hidup kita. Kita bukanlah semacam gumpalan yang kaku nan padu yang tidak bisa dipengaruhi oleh apapun. Kita pasti dipengaruhi oleh berbagai hal yang kita alami selama hidup kita. Oleh karena itu jika kita ingin memiliki pandangan makul tentang diri kita, kita harus berpikir bahwa seluruh rentang pengalaman hidup kita dengan seluruh pengaruh yang ada telah mempengaruhi kita, dengan beragam orang dan masyarakat serta berbagai hal yang berbeda-beda. Semua itu akan menjadi dasar untuk memikirkan diri kita, memikirkan aku. Jika kita hanya melihat diri kita dalam kerangka sepotong bagian kecil dalam hidup kita, maka itu tampak amat tak nyata, bukan? Maksud saya, itu tidaklah tepat jitu. Jika berbagai kurun-waktu dalam kehidupan kita tidak dipadukan, maka hidup kita tampak nyaris seperti, kalau saya boleh gunakan istilah yang sangat longgar – sedikit gila. Jadi, gagasannya di sini adalah mencoba untuk memadukan seluruh segi kehidupan kita yang kita alami dalam pandangan yang menyeluruh.

Itulah sedikit pembahasan kita kemarin mengenai dasar dalilnya. Kita juga memahami bahwa kita menerima pengaruh buruk; kita menerima pengaruh baik. Meskipun penting untuk tidak menyangkal adanya pengaruh buruk tersebut, tidak ada manfaatnya kita terpaku padanya atau mengeluhkannya, walau sangatlah penting untuk mengakuinya. Yang jauh lebih bermanfaat itu adalah menekankan hal-hal baik yang telah kita terima, pengaruh baik dalam kehidupan kita. Sekarang, seluruh pembahasan tersebut dapat dikemukakan tanpa menyebut frasa ajaran Buddha sama sekali, dan hal ini masuk pada kelompok yang saya jelaskan kemarin, yaitu ilmu pengetahuan dan filsafat Buddha. Bahkan, jika kita sedang melakukan presentasi jenis pelatihan kepada orang lain, mungkin sebenarnya sedang mematikannya jika kita mengatakannya sebagai ajaran Buddha, sehingga penyebutan secara langsung tidak penting sama sekali.

Memperoleh Ilham dari Orang lain

Ada segi lain dari dasar dalil bagi hal ini, yaitu bahwa setiap orang memerlukan semacam ilham. Kita memiliki beragam sifat yang baik ­­ – setiap orang pasti memiliki sifat yang baik – yang mungkin secara alamiah telah kita miliki lalu diperkuat atau diajarkan oleh orang lain kepada kita. Oleh karena itu kita memerlukan ilham untuk mendorong dan mengangkat kita dalam mengembangkan sifat-sifat baik ini lebih lanjut lagi. Jadi, yang kita lakukan dalam jenis latihan ini adalah memikirkan berbagai segi dan pengaruh atas masahidup kita, lalu memberi penekanan, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, pada sifat-sifat baik dari orang lain, lingkungan, masyarakat, budaya kita, dan lain sebagainya.

Mari kita gunakan contoh ibu kita. Tak diragukan lagi terdapat sifat-sifat baik dari ibu yang kita ikuti. Dari satu sudut pandang, kita perlu menemukan dan mengetahuinya. Tetapi mungkin ada sifat baik lainnya dari ibu kita yang tidak begitu jelas mempengaruhi kita. Tetapi baik secara langsung mempengaruhi kita atau tidak, sifat-sifat baik itu bisa sangat mengilhami. Contohnya, orangtua kita, jika kita berada dalam usia yang tepat, mungkin telah melewati masa-masa yang sangat sulit. Misalnya pengalaman Perang Besar seperti Perang Dunia Kedua atau masa-masa yang sulit dalam sejarah yang harus dialami negara ini sehabis perang. Secara pribadi kita tidak mungkin mengalami kesulitan-kesulitan tersebut, namun demikian cara mereka menghadapinya sangatlah mengilhami. Hal itu dapat mengilhami kita juga untuk mampu mengatasi keadaan sulit seperti yang mereka lakukan.

Jadi, ketika kita berupaya dengan berbagai kelompok pengaruh terhadap kita ini, kita tidak hanya memikirkan sifat-sifat baik yang kita peroleh dari mereka, tetapi juga sifat-sifat yang mungkin tidak secara langsung mereka wariskan pada kita. Ini bisa menjadi sesuatu yang membantu kita untuk membangun kepercayaan diri, yang membantu kita membina sikap positif terhadap diri kita sendiri. Jika kita memiliki rasa rendah diri yang pekat, maka mengingat seluruh sifat baik yang telah kita terima dari orang lain akan mulai membuat Anda berpikir, “Mungkin aku tidak sebegitu buruknya. Jika aku sedemikian buruk, mengapa aku telah menerima seluruh sifat baik ini?”

Jika kita merasa bahwa mempunyai sifat baik dan kita terilhami untuk membuatnya tumbuh lebih dan lebih lagi, maka kita juga bisa merasa bahwa kita punya sesuatu untuk diberikan kepada orang lain, dalam hal berbagi sifat-sifat baik ini. Cara tersebut juga membangun kepercayaan diri karena menyatu dengan sifat welas asih, membantu orang lain mengatasi kelemahan dan kesulitan mereka berdasarkan rasa sukarela dalam melakukannya karena “Aku memiliki sifat-sifat baik, dan inilah sesuatu yang dapat aku bagi kepada orang lain.” Sehingga jika kita memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang lain dan dibagikan dengan orang lain, maka akan muncul perasaan, “Aku tak mungkin seburuk itu.”

Jadi, ini sedikit pemaparan lebih lanjut mengenai dasar dalilnya. Dan lagi Anda dapat melihat bahwa tidak perlu ada penyebutan istilah ajaran Buddha sama sekali. Jika kita mempunyai latar belakang Buddha dan kita penasaran akan asal serpihan kecil ini – yang sebenarnya tidak begitu kecil – sumber serpihan terakhir ini, ia berasal dari cara kita berhubungan dengan guru rohani.

Cara kita berhubungan dengan seorang guru rohani dalam segi sikap kita adalah menemukan dan menekankan sifat-sifat yang baik yang sesungguhnya dimiliki sang guru dan menganggap bahwa sifat-sifat baik itu memang yang sebenarnya; bukannya yang kita buat-buat atau angan-angankan. Kemudian berdasarkan hal itu, Anda memiliki rasa hormat yang luar biasa terhadap guru tersebut. Lalu jika kita berpikir tentang kebaikan seorang guru dalam hal menolong kita, mengajari kita, maka Anda mengembangkan rasa menghargai dan terima kasih yang kuat. Dan kita mencoba mengembangkan sifat-sifat baik yang dimiliki guru kita ini sendiri, melalui ilham yang dicontohkan olehnya.

Nah, kemudian kita tinggal mengalihkan hal tersebut pada setiap orang yang bersinggungan dengan kita. Kita mencoba melihat sifat-sifat baik mereka dan merasa yakin akan sifat-sifat tersebut – kita tidak mengangankannya – dan atas dasar itu, kita menghormati mereka. Dan kita menghargai hal-hal positif yang mereka ajarkan pada kita, yang mereka bagi pada kita, dan yang mereka berikan pada kita dengan perasaan syukur yang mendalam. Kita bayangkan bahwa kita memperoleh ilham dari mereka, seperti yang telah saya jelaskan. Kita dapat melakukannya dalam wujud cahaya kuning yang memancar dari mereka jika kita memiliki gambar mereka di hadapan kita, atau kita bisa juga membayangkannya. Cara tersebut dapat membuatnya sedikit lebih nyata, atau berupa, jika Anda mengejawantahkannya. Kemudian kita mencoba membayangkan berbagi sifat-sifat baik ini dengan orang lain.

Baiklah. Sebelum kita memulai dan mencoba latihan ini, mungkin Anda masih mempunyai beberapa pertanyaan.

Tanya-Jawab

Peserta: Mengacu kembali pada hal yang juga kita bahas kemarin, Anda menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat Buddha dapat bermanfaat dipelajari bahkan di luar lingkung ajaran Buddha. Contohnya, mantik Buddha dapat berguna dalam urusan hukum atau bagi orang-orang yang berhubungan dengan urusan-urusan pengadilan.

Kita bisa mengacu pada mantik yang lazim kita gunakan [yaitu, Mantik Barat] dengan contoh berikut. Misalnya, seseorang menemukan mayat dan memanggil polisi, memintanya untuk segera datang dan memeriksa mayat tersebut. Sang polisi bertanya, “Mengapa Anda memanggil kami? Mengapa tidak memanggil ambulans, misalnya? Orang tersebut menjawab, “Ya karena ada pisau yang menancap di punggung mayat itu.” Lalu polisi berkata, “Ya, itu masuk akal.” Lalu mereka datang dan mulai melakukan penyelidikan dan mereka berusaha menemukan calon tersangka, dan misalnya, mulai menanyai dia dan berkata, “Nah, Anda mungkin adalah pembunuhnya.” Orang tersebut menjawab balik, “Tidak. Saya punya alibi. Anda dapat memanggil orang-orang yang tengah bersama saya pada saat itu dan mereka akan memastikan bahwa saya tidak bersalah,” dan seterusnya. Lalu polisi itu berkata, “Ya, alasan tersebut juga masuk akal.”

Ini akan menjadi contoh dari mantik biasa yang kita gunakan sehari-hari. Bisakah Anda memberikan contoh mantik Buddha?

Alex: Sulit untuk langsung memberi contoh lain yang bisa saya gunakan. Contoh yang muncul di pikiran saya sayangnya sedikit rumit, yang sedang saya kerjakan hari ini di risalah yang sedang saya tulis. Karena masih segar dalam ingatan saya dan jelas hal tersebut menggunakan mantik Buddha, maka akan saya terangkan. Maksud saya, tentu saja jawaban yang diberikan mantik-Buddha tentulah: Orang tersebut sudah mati, lalu buat apa memanggil ambulans? Tidak ada guna membawanya ke rumah sakit kalau itu yang memang bisa dilakukan ambulans. Jadi, maksud saya, akal sehatnya memang seperti itu.

Saya sedang menulis sebuah risalah tentang pokok yang sangat sulit dalam ajaran Kalacakra, dan ini berkaitan dengan hologram batin yang muncul ketika kita memikirkan sesuatu atau membayangkan sesuatu atau mengingat sesuatu. Anda memiliki gambaran batin. Benar? Lantas apa yang membentuk citra batin itu? Saya telah menelaah apakah hal yang dikenal sebagai “angin-angin karma” (las-rlung) yang membentuk gambaran batin itu (yang saya sebut sebagai hologram batin tadi). Tolok ukur yang telah saya periksa di sini adalah bentuk-bentuk yang tidak terbuat dari partikel dan bentuk-bentuk yang hanya dapat diketahui oleh keinsafan batin. Jadi mantik Buddha akan mengatakan: temukan sebaran mantik antara dua kelompok tersebut.

Peserta: Sebaran dalam arti hal yang membedakan keduanya?

Alex: Bukan. Sebarannya muncul dari dalil himpunan. Ini didasarkan pada dalil himpunan. Empat kemungkinannya adalah bahwa ia merupakan kelompok yang satu dan bukan yang lain, kelompok yang lain dan bukan yang pertama tadi, kedua-duanya, atau bukan kedua-duanya. Pada dasarnya ini dalil himpunan – himpunan A dan himpunan B, dengan empat kemungkinan.

Kemudian Anda lihat dan cari adakah jenis bentuk yang tidak terbuat dari partikel-partikel dan tidak bisa... Saya tidak ingin masuk sampai sejauh itu – karena terlalu rumit bahkan untuk sekadar diterjemahkan – tetapi Anda dapat gambarannya. Kita melihat empat himpunan ini. Lalu masalahnya adalah bahwa beberapa himpunan ini adalah himpunan nol (tidak ada yang termasuk dalam kelompok ini). Salah satu dari kelompok-kelompok ini adalah sesuatu yang terbuat dari partikel yang hanya bisa diketahui oleh cita, dan tampaknya tidak ada yang cocok dengan himpunan tersebut, sehingga tidak ada jalan keluar untuk hal ini. Jadi ketika Anda berpikir, “Baiklah, jika saya mengubah tolok ukurnya, akan adakah jalan keluar? Alih-alih mengatakan bentuk yang terbuat dari partikel kasar, bagaimana dengan bentuk yang terbuat dari partikel halus atau tenaga (seperti tenaga cahaya elektromagnetis)?” Lalu Anda lihat adakah yang sesuai dengan kelompok tersebut.

Jadi, ini adalah jenis telaah mantik yang saya maksudkan untuk menelaah sebuah masalah. Maafkan saya karena tidak dapat menemukan contoh yang lebih sederhana, tetapi ini satu yang benar-benar saya gunakan hari ini. Sungguh, sungguh berguna sebagai alat telaah. Ini pada dasarnya dalil himpunan dan sebaran. Untuk Anda ingat, itu hanya salah satu segi dari mantik Buddha. Ada masih banyak lagi yang lain dalam hal silogisme: Anda nyatakan sebuah silogisme, kemudian Anda coba lihat adakah pengecualian terhadapnya. Jika terdapat pengecualian, maka Anda tidak dapat membuktikan silogisme Anda. Dan untuk menemukan adanya pengecualian, Anda gunakan dalil himpunan ini.

Maafkan kalau perhatiannya jadi teralih. Saya suka hal-hal seperti itu.

Peserta: Apa yang akan Anda sarankan kepada ahli jiwa yang sedang berupaya membantu orang, membantu kliennya, dan mencoba untuk menggunakan cara Anda? Kemarin Anda memberitahu kami tentang ilmu pengetahuan Buddha, ilmu kejiwaan Buddha, yang pada dasarnya adalah bagaimana “aku” kita ada dan bagaimana cara kerjanya, dan Anda memberi kami semacam penafsiran filsafat mengenai hal itu. Jadi jika Anda bekerja sebagai penasihat pribadi dan orang-orang datang kepada Anda, perlukah Anda memperkenalkan mereka pada dasar filsafat dan ilmiahnya – dasar Buddha, dalam hal ini – yang menjadi dasar cara Anda sebelum membantu mereka dengan menggunakan keseluruhan rangkaian peristiwa dan anasir pengaruh yang Anda sebutkan kemarin? Atau bukankah perlu kita perkenalkan mereka pada dasar itu? Dan jika kita berbicara tentang keseluruhan dasarnya, keseluruhan rentang pengalaman yang Anda sebut kemarin, apakah perlu untuk menggunakan seluruh rentang tersebut dan melaluinya satu demi satu saat membantu seorang klien, atau bisakah kita hanya memusatkan perhatian pada masalah tertentu yang sedang klien coba selesaikan?

Alex: Seperti yang saya katakan dan tekankan di awal kuliah ini, tidak perlu sama sekali kita menyebutkan istilah ajaran Buddha saat menyajikan tata ini. Bahkan, itu mungkin membuat orang jadi menutup diri. Sekarang, jika Anda sajikan dalil tersebut secara singkat, tidak terlalu rinci, sebelum Anda mulai bekerja, keuntungannya adalah bahwa itu membantu klien untuk mengembangkan sedikit keyakinan bahwa Anda tahu apa yang Anda kerjakan dan Anda punya program yang sebenarnya. Sekarang, untuk Anda ingat, saya tidak punya pengalaman pribadi. Saya bukan terapis. Tetapi kalau ada klien datang dan Anda langsung bilang, “Ya, coba ceritakan tentang kehidupan Anda,” setelah beberapa saat mereka merasa ini begitu tidak tertata dan tidak akan kemana-mana (maksudnya, lalu apa gunanya?). Jadi, jika ada gagasan yang jelas tentang siasat yang akan Anda gunakan, saya rasa itu membuat klien sedikit lebih merasa aman.

Dan juga dalam hal berurusan dengan masalah tertentu, maka itu penerapan yang lain lagi. Pada dasarnya, yang kita coba lakukan di sini adalah membongkar pandangan padu yang Anda miliki mengenai hidup Anda. Jadi salah satu segi yang saya sebutkan kemarin adalah terjebak pada satu peristiwa hidup Anda, mengenali diri dengan peristiwa tersebut dan tidak memikirkan lingkung yang lebih besar dari keseluruhan hidup Anda, seperti dalam: hubungan Anda dengan seseorang telah putus, dan Anda berpikir bahwa Anda tidak akan pernah menemukan pasangan lain dalam hidup Anda. Padahal, jika Anda berpikir dalam kerangka keseluruhan rentang hidup, kemungkinan Anda akan menemukan orang lain, dan Anda mungkin memiliki pacar lain lebih awal dalam hidup Anda. Jadi Anda menanggap segala hal di luar lingkung. Penting untuk melihat segala sesuatu dalam lingkung yang lebih besar. Tapi untuk menghadapi masalah tertentu, sekali lagi Anda dapat menggunakan cara ini untuk mencoba melihat lingkung yang lebih besar dari masalah itu:

Sebuah hubungan kandas, dan Anda mungkin berpikir “Yah, itu hanya salahku. Aku yang jahat. Aku pecundang. Malangnya aku.” Tapi Anda harus lihat bahwa segala sesuatu yang terjadi dipengaruhi oleh sejumlah besar anasir-anasir lain. Jadi ada anasir dari segala hal lain yang terjadi dalam hidup bekas pasangan kita itu, seluruh polesan kejiwaannya, dan hal-hal lain yang telah terjadi dalam masahidupku yang juga telah mempengaruhi hubungan tersebut – pekerjaanku, keluargaku, ekonomi, dan lain-lain. Jadi jika Anda melihat lingkung yang lebih besarnya, Anda tidak hanya mematok bahwa “Itu salahku dan aku penyebab satu-satunya karena aku orang jahat dan tidak baik. Aku tak layak dicintai “ – bahwa itulah alasan mengapa putus.

Jadi, inilah – sekarang saya bisa kembali ke pertanyaan Anda – penggunaan yang lebih praktis dari telaah mantik Buddha. Apa sebaran antara dua himpunan temanku tidak meneleponku dan temanku tidak mengasihiku?

  • Bisa jadi temanku meneleponku dan dia mengasihiku.
  • Atau temanku meneleponku dan dia tidak mengasihiku.
  • Atau bisa juga temanku tidak meneleponku dan tidak mengasihiku.
  • Atau temanku tidak meneleponku tapi masih mengasihiku.

Jadi, jika temanku tidak meneleponku, ada kemungkinan bahwa temanku masih mengasihiku. Jadi aku telaah mengapa temanku tidak meneleponku. Bisa jadi karena alasan lain selain karena ia tidak mengasihiku. Bisa jadi ia sedang sibuk. Bisa jadi teleponnya rusak. Bisa juga baterai ponselnya habis. Bisa jadi ada banyak alasan. Jadi tidak masuk akal untuk berkesimpulan seperti itu [bahwa temanku tidak mengasihiku]. Hanya karena temanku tidak meneleponku, itu tidak membuktikan bahwa ia tidak mengasihiku. Itu adalah garis penalaran yang tidak sahih. Itu mantik Buddha.

Peserta: Pertanyaan tentang cara itu sendiri. Kemarin Anda menjelaskan bahwa kita berupaya menelusuri setiap anasir yang mempengaruhi kita, dan kemudian kita mulai menggabungkannya dalam pasangan-pasangan. Apakah ada mantik yang memungkinkan kita menggabungkan anasir-anasir tersebut ke dalam pasangan, atau apakah itu selalu merupakan proses yang tiba-tiba?

Alex: Ya, saya tidak tahu kalau kita pakai kata mantik di sini, tapi ada model untuk itu. Ada banyak model untuk itu terlintas di pikiran. Anda mau yang dalam lingkung Buddha? Saya bisa tunjukkan model Buddhanya. Contohnya lam-rim, tingkat bertahap dari cara Anda mengembangkan diri menuju pencerahan: Ada langkah satu. Kemudian ketika Anda beranjak ke langkah kedua, Anda tidak melupakan langkah satu; Anda menggabungkan langkah satu dan dua. Dan kemudian Anda tambahkan langkah tiga ke langkah satu dan dua. Ditumpuk seperti itu, seperti mendirikan sebuah bangunan berlantai banyak. Ketika Anda sampai ke lantai dua, Anda tidak merusak lantai satu. Anda harus menjaganya tetap ada.

Model lain, yang sedikit lebih bercitra mungkin, adalah mandala. Dalam sebuah mandala yang terdapat banyak sosok di dalamnya, kita ini adalah keseluruhannya. Kita adalah semua sosok itu. Bukan berarti bahwa kita hanya sosok pusatnya; kita adalah semuanya. Dalam model itu, kita bukan hanya tata pencernaan kita; raga ini juga mencakup tata peredaran darah dan tata saraf, dan Anda adalah mereka semua.

Jadi kita mulai menggabungkan pengaruh baik yang kita terima dari kelompok-kelompok ini:

  • Keluarga kita, tempat kita tumbuh sebagai seorang anak.
  • Negara asal, budaya, dan agama ketika kita dilahirkan (mungkin telah berubah; kelompok yang lain lagi).
  • Bidang kajian utama telah kita pelajari dan olahraga yang kita mainkan saat kita tumbuh.
  • Dan semua guru yang kita punya.
  • Kemudian pasangan yang kita miliki dan anak-anak yang mungkin Anda punya.
  • Kemudian semua teman dekat yang kita punya selama hidup kita.
  • Kemudian tahap-tahap penting kehidupan kita – tempat tinggal kita, pekerjaan kita.
  • Dan Anda mungkin ingin menambahkan juga apa yang bisa kita simpulkan dari kehidupan sebelumnya. Nah, Anda bahkan tidak harus berpikir dalam kerangka kehidupan sebelumnya; cukup dalam kerangka bakat alami Anda.

Jadi ini ada delapan kelompok. Saya yakin, Anda bisa menemukan lebih banyak. Jadi Anda bisa membayangkan ini seperti mandala: Anda mewakilkan masing-masing kelompok ini dengan sebuah gambaran batin seseorang atau sesuatu yang mewakili kelompok tersebut – atau, kalau sulit membayangkannya, taruh gambar tersebut di depan Anda – dan bayangkan bahwa pengaruh baik ini, cahaya kuning ini, memancar dari mereka semua, dan malah Anda adalah semua hal itu. Jadi, inilah semua pengaruh itu. Kemudian semua sifat baik yang telah kupelajari dari mereka yang diwakili oleh mandala ini, itulah aku: “Inilah yang ingin kulanjutkan, yang kutawarkan pada dunia.”

Jadi, itu satu cara mengupayakannya kalau Anda bisa melakukannya. Bukan hal yang paling sederhana di dunia, tapi saya pikir jika Anda bisa melakukannya, itu sangat, sangat menggembirakan. Tapi mulailah perlahan-lahan, dan dengan klien Anda, cobalah untuk mengubah-suaikannya agar sepadan dengan keadaan orang tersebut.

Satu pertanyaan terakhir. Kemudian kita harus punya waktu untuk mencoba latihannya.

Peserta: Pertanyaan mengenai istilah. Kita tadi bicara tentang pengaruh positif dan negatif yang menimpa kita. Dalam menghadapi pengaruh negatif, kita harus mengakuinya tetapi tidak menekankannya, tidak terpaku terhadapnya. Jadi dari segi istilahnya, apa perbedaan antara pengakuan yang sehat atas sesuatu, kesadaran yang sehat atas sesuatu, dan memberi penekanan yang tidak semestinya untuk itu atau terpaku pada hal itu?

Alex: Perbedaannya adalah apakah kita melebih-lebihkannya atau tidak. Perhatikan, ketika kita berbicara tentang amarah atau kemelekatan:

  • Dengan amarah terhadap seseorang atau sesuatu, Anda terpaku pada segi-segi negatif, dan Anda membesar-besarkannya. Bahkan Anda mungkin menambahkan lebih banyak hal negatif yang sebetulnya tidak ada di sana, dan Anda cenderung mengabaikan segi-segi positif yang ada. “Perkataanmu itu” dan “Perbuatanmu itu” – itulah satu-satunya hal yang Anda perhatikan. Kemudian Anda membuatnya menjadi sesuatu yang benar-benar besar. Kemudian Anda menjadikan itu sebagai jati diri orang tersebut: “Memang seperti itulah mereka, orang-orang jahat mengatakan hal-hal jahat padaku,” kemudian, berpikir dalam kerangka aku yang besar dan padu, “Aku harus membela diri dari itu,” dan Anda menolaknya, baik dengan amarah atau dengan tindakan menyisihkan atau dengan semacam tanggapan negatif.
  • Hal yang sama terjadi dengan kemelekatan atau kerinduan, kebalikannya saja. Anda melebih-lebihkan sifat positif, mengabaikan yang negatif, menambahkan bahkan lebih banyak sifat positif, dan kemudian “Aku harus mendapatkannya.” Dan jika aku memilikinya, aku tak ingin melepaskannya. Dan bahkan kalau aku sudah memilikinya, aku ingin lebih lagi – ingin waktumu lebih banyak lagi.

Masalahnya di sini adalah pelebih-lebihan, jadi cobalah untuk bersikap obyektif: “Ini adalah kekurangan dari orang tersebut. Ini titik lebih dari orang itu (atau dari negara itu atau apapun itu). Semuanya memiliki kekurangan dan titik lemah serta titik lebih. Itu wajar.”

Sekarang, tentu saja Anda bisa melakukan telaah menyeluruh tentang mengapa orangtua kita memiliki kekurangan yang mereka miliki karena orangtua mereka dan seterusnya. Tentu, Anda bisa menelusurinya sejauh itu. Tapi intinya adalah untuk tidak mengenali mereka hanya dengan sifat negatif mereka. Akuilah tanpa melebih-lebihkannya. Dan jika Anda paham mengapa mereka seperti itu, boleh saja. Jika tidak, bukan itu penekanan dari jenis latihan ini (Anda dapat melakukannya dalam terapi yang lain lagi). Dan kemudian tinggalkan saja dan sekarang lihat sifat positifnya. Karena jika aku mengeluh tentang sisi negatif, apa bagusnya itu? Pastinya tidak akan membuatku bahagia. Dan kemudian secara objektif tidak melebih-lebihkan sifat positif itu, tapi menghargainya dan mencoba untuk mendapatkan lebih banyak ilham darinya. Anda tidak mendapatkan ilham dari sifat negatif. Yang Anda dapat adalah kelesuan hati.

Tapi saya tidak berpikir gagasan tentang pengampunan, bahwa aku akan mengampuni orangtuaku atas kesalahan yang mereka buat, akan berguna juga. Sebenarnya itu sikap congkak: bahwa aku berada di kedudukan yang tinggi dan hebat sehingga aku memandang rendah mereka dan mengampuni mereka. Memahami dan melepaskan sangat berbeda dengan pengampunan.

Latihan: Berpikir tentang Pengaruh Ibu Kita

Mari kita coba salah satu dari latihan ini. Titik mula yang baik adalah dengan ibu kita. Kalau Anda lebih suka memulai dengan sosok ayah Anda, boleh, dan tidak jadi masalah karena pada akhirnya Anda harus melakukan keduanya. Tapi karena kita tidak punya begitu banyak waktu untuk mencoba ini berulang-ulang – ya, kita lihat bagaimana nanti – kita gunakan saja satu contoh dari orang-orang yang membesarkan kita, keluarga tempat kita dibesarkan, siapa pun yang ada di sana.

Kita mulai dengan menenangkan diri. Ini sangat penting di awal, melepaskan pikiran atau rasa apapun yang menyertai Anda sedari awal ketika masuk ke sesi latihan ini ­ – tenangkan diri. Cara biasa untuk melakukannya adalah memusatkan perhatian pada nafas: bernafas secara wajar sempurna melalui hidung – dengan umpama hidung Anda tidak tersumbat – tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lambat; dan jika Anda memiliki pikiran berulang atau perasaan yang kuat (akan lebih sulit lagi dengan perasaan), cobalah untuk melepaskannya. Karena nafas cukup seimbang dan cukup tenang, kita jadi terbantu untuk tenang. Nafasnya teratur. Juga, nafas membantu membuat kita lebih membumi; secara ragawi demikian, sehingga itu membantu kita untuk tidak terjebak dalam pikiran atau rasa kita. Dan seperti yang saya jelaskan kemarin, jika sulit untuk melepaskannya, Anda bisa gunakan bantuan tangan Anda, yang dikepalkan kemudian dibuka, untuk melepaskan.

Saya perhatikan kebanyakan Anda menutup mata. Meskipun mungkin terasa lebih mudah untuk tenang dengan menutup mata, itu benar-benar tidak dianjurkan. Ada banyak alasan untuk itu, tapi yang utama adalah bahwa kita harus mampu untuk ayem dan tenang dalam keadaan kehidupan sehari-hari juga. Jika Anda harus menutup mata ketika melakukannya, bisa jadi penghalang besar – seperti misalnya saat Anda sedang mengendarai mobil dan perlu menenangkan diri. Jadi, paling baik melatih agar dapat melakukan berbagai hal ini dengan mata terbuka – tidak harus terbuka lebar – agar Anda mampu berlatih melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya kita hanya melihat ke bawah.

Kemudian kita berpikir bahwa “Aku adalah manusia, seperti orang lainnya. Aku ingin bahagia. Aku tidak ingin tak bahagia. Aku memiliki rasa, seperti orang lain juga. Dan jika aku berpikir sangat negatif tentang diriku, aku jadi merasa amat teruk, dan aku tidak ingin tak bahagia, jadi lebih baik aku memikirkan cara-cara yang dapat membantuku menjadi orang yang lebih bahagia.”

Kemudian kita bawa pada cita kita gambaran batin ibu kita. Gambarannya tidak harus sangat tepat jika kita tidak pandai mengejawantahkan atau mengingatnya – ini bukan latihan pengejawantahan – cukup sesuatu yang mewakilinya saja. Sebenarnya sangat menarik menelaah citra apa yang betul-betul kita gunakan untuk mewakili ibu kita. Jika perlu, kita bisa mengingat kekurangannya atau sifat negatifnya, lihat bahwa semua hal itu muncul dari sebuah sebab dan keadaan, lalu putuskan bahwa tidak ada manfaatnya bila kita berkutat pada kesalahannya. Dan tanpa menyangkalnya, tanpa melebih-lebihkannya, kesampingkan saja pertimbangan lebih lanjut apapun yang ada. Tanpa menyangkalnya, tanpa melebih-lebihkannya, cukup katakan, “Ya, seperti itulah ia adanya. Semua orang punya kekurangan. Tak ada yang istimewa. Dan kekurangan ini bukan hanya saat ia berurusan denganku tetapi secara umum juga.”

Baiklah, contohnya saja: saat saya memikirkan ibu saya, ia tidak berpendidikan tinggi. Ia harus pergi bekerja pagi sekali, sehingga tidak bisa membantu pekerjaan rumah dari sekolah saya. Itu suatu kekurangan tapi itu bukan salahnya. Ia dibesarkan selama masa kebangkrutan ekonomi, keluarganya miskin, sehingga ia harus bekerja. Jadi kesampingkan itu. Saya bisa memahaminya. Itu kesalahan tapi bukan masalah besar. Dan itulah kenyataan. Bukan masalah besar.

Kemudian kita berpikir tentang sifat-sifat baik ibu kita, yang kita peroleh darinya – atau yang seharusnya bisa kita peroleh (mungkin kita masih terlalu kecil dan memiliki masalah kita sendiri sehingga tidak bisa benar-benar menghargai sifat-sifat baik dari ibu kita itu) – dan pusatkan perhatian pada fakta-fakta ini dengan keyakinan yang teguh. Kemudian coba untuk mengenali manfaat yang Anda peroleh darinya, bahkan yang sangat sederhana seperti ia yang menyiapkan makanan kita ketika masih anak-anak. (Perhatikan, ini hal yang dapat membantu klien mengingat kalau ia tidak bisa menemukan sifat baik apapun dari ibu mereka.) Sifat-sifat baik seperti apa yang kupelajari darinya, dari yang dicontohkannya? Dan, pusatkanlah perhatian pada fakta-fakta ini dengan rasa menghargai dan rasa hormat yang mendalam.

Kemudian bayangkanlah cahaya kuning muncul dari citra ibu kita ini dan mengisi diri kita dengan cahaya kuning dan kita merasa terilhami untuk mengembangkan sifat-sifat ini lebih lanjut lagi. Kita merasa terangkat, kemudian kita bayangkan cahaya kuning itu bersinar dari diri kita dan mengilhami orang lain untuk mengembangkan sifat-sifat baik ini juga. Kemudian kita biarkan tenaga kita tenang, pusatkan lagi perhatian pada nafas, lalu akhiri dengan pikiran “Semoga ini merasuk semakin dalam, semakin kuat, rasa positif ini, sehingga dapat menjadi manfaat terbaik bagi diriku sendiri dan bagi semua orang yang kutemui.”

Baiklah, itulah latihannya.

Tanya-Jawab

Pertanyaan? Tanggapan?

Peserta: Satu pertanyaan yang sangat sederhana. Ketika saya sedang berlatih, misalnya, saya membayangkan ayah atau ibu saya dan saya berpikir bahwa saya telah mewarisi sifat terbaik yang mereka miliki, dalam beberapa detik saya mulai merasakannya. Jadi apa guna melanjutkannya selama sepuluh menit atau lebih? Mungkin lama latihan dapat ditentukan sendiri karena tiap orang berbeda-beda dalam hal apa yang mereka rasakan.

Alex: Tentu saja kecepatan setiap orang bisa berbeda-beda. Jika Anda melakukannya sendirian, tentu saja Anda melaju dengan kecepatan Anda sendiri. Namun, saat melakukannya pertama kali, seperti halnya setiap orang dalam sejarah kita, Anda mungkin akan butuh waktu lebih lama dari waktu berikutnya saat Anda meninjaunya. Jadi ini proses yang alami: bahwa akan jadi lebih dan lebih cepat lagi.

Bahayanya kalau melakukannya terlalu cepat, terutama di awal, adalah Anda kehilangan beberapa pokok yang baik – Anda hanya memilih beberapa yang mencolok saja – sehingga Anda tidak benar-benar menelaah cukup dalam. Lagipula, sebagian besar dari kita menghabiskan cukup banyak waktu dengan orangtua saat kita tumbuh, jadi ada banyak hal yang, jika Anda luangkan cukup waktu untuk memikirkan dan mengingatnya, bisa Anda hargai. Itu sangat penting khususnya jika kita memiliki hubungan yang sulit dengan salah satu orangtua kita atau seseorang dalam hidup kita. Kemudian sering kita tidak benar-benar memikirkan sifat baik mereka sama sekali. Dan jika kita dapat menemukan satu, maka itu bagus. Tetapi jika Anda mempelajari lebih banyak dan lebih dalam, Anda mungkin menemukan lebih banyak lagi.

Tentu saja tujuan akhirnya, seperti dalam mengejawantahkan mandala, adalah bahwa Anda tidak harus menyusuri keseluruhan jalan telaah ini dan sekejap mata Anda mendapatkan perasaan terpadu yang sangat positif ini dan ia muncul tanpa susah-payah, semacam jadi bagian dari cara Anda menghadapi hidup. Tapi itu butuh cukup banyak latihan.

Ada lagi?

Peserta: Jadi gagasan dasarnya adalah bahwa setelah menjalankan laku ini, jika dilakukan dengan benar, seseorang akan memiliki perasaan positif meskipun pada awalnya mereka mengalami amarah atau nyaris menangis, misalnya?

Alex: Ya. Itu pertanyaan mudah.

Peserta: Satu pertanyaan tentang sifat-sifat negatif. Kemarin saya mengerti bahwa saya telah mewarisi sifat-sifat buruk tertentu dari orangtua saya, jadi saya bisa mengakui tanggung jawab saya untuk itu. Tapi apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan terhadap sifat-sifat buruk itu selain mengakuinya, menerima tanggung jawabnya, dan melepaskannya?

Alex: Ya, ada keseluruhan jalan pemurnian – istilah Buddhanya – yang bisa kita terapkan. Nah, masalahnya di sini adalah bertindak atas dasar sifat-sifat buruk yang mungkin kita miliki (misalnya, memiliki kesabaran yang pendek):

  • Langkah pertama tentu saja mengakuinya.
  • Tapi kemudian kita merasa menyesal, yang tidak sama dengan rasa bersalah. Rasa bersalah itu seperti “Betapa buruknya” dan “Betapa buruk perbuatanku,” dan kemudian Anda tidak pernah melepaskannya. Itulah rasa bersalah. Sementara penyesalan adalah ketika “Aku berharap tidak memilikinya. Aku lebih suka tidak memilikinya.”
  • Lalu kita membuat keputusan bahwa “Aku akan mencoba untuk tidak mengulangi perbuatan ini.”
  • Kemudian kita menegaskan kembali arah positif yang kita ingin tuju di dalam hidup kita. “Aku ingin mengatasi kekurangan. Aku ingin mengembangkan lebih banyak lagi sifat-sifat positif.” Kita tidak harus melakukan ini dalam lingkung Buddha, untuk mendapatkan pembebasan dan pencerahan, cukup secara umum saja.
  • Dan kemudian untuk melawan gejolak negatif yang mungkin kita miliki, kita berlatih dengan sisa latihan yang ada, yaitu menekankan sifat-sifat positif untuk mengimbangi yang negatif. Semakin kuat, semakin sering, dan semakin dalam kebiasaan ini kita bina darinya, semakin sifat-sifat positif ini, bukan yang negatif, mampu melintas pertama sekali dalam cita kita, ketika kita berada dalam masalah.

Jadi jalan pemurnian ini, meskipun berasal dari lingkung Buddha, benar-benar tidak memerlukan lingkung Buddha untuk bisa menjadi cara yang ampuh.

Peserta: Bisakah kita menerapkan cara ini untuk menanggulangi pengalaman traumatis kita (misalnya, jika seseorang itu pernah nyata membahayakan kita, musuh bebuyutan kita)? Ataukah cara ini tidak cocok untuk masalah yang lajat dan gawat seperti itu?

Alex: Saya pikir untuk keadaan yang lajat, seperti kita mengalami pelecehan fisik atau seksual, ini bukan cara yang tepat. Kita perlu menerapkan cara penyembuhan lain untuk menangani situasi yang lebih lajat.

Secara umum, cara-cara yang disarankan dari ajaran Buddha tidak benar-benar cocok untuk orang-orang yang sungguh terganggu secara emosional. Anda harus cukup tidak gampang goyah untuk menerapkan berbagai cara tersebut, baik dalam lingkung Buddha atau di luar lingkung Buddha. Karena dalam cara ini, misalnya, Anda membawa kenangan lama; dan jika Anda sangat mudah goyah, memunculkan kenangan lama bisa jadi sangat sangat menghancurkan. Jadi kita harus berhati-hati untuk tidak berpikir bahwa “Oh, cara Buddha dapat digunakan bagi siapapun dalam keadaan apapun.” Perlahan-lahanlah. Bertahaplah. Ada banyak sekali cara.

Peserta: Apakah ada cara atau teknik yang dapat digunakan untuk orang-orang dalam keadaan seteru (misalnya, ketika ada rasa benci yang kuat dari segala sisi, seperti saat ini di Suriah, atau ketika sebuah bangsa memiliki rasa benci yang kuat terhadap bangsa yang lain)? Apakah ada cara untuk masalah seperti ini dalam ajaran Buddha?

Alex: Nah, Anda sedang berbicara tentang seluruh masyarakat. Untuk seluruh masyarakat seperti ini, jelas cukup sulit. Cara Buddha harus diterapkan secara pribadi, jadi Anda berupaya dengan orang per orang. Satu-satunya cara yang mungkin dapat Anda lakukan pada cakupan yang lebih besar adalah dalam tata pendidikan dan mencoba untuk menyajikan pandangan yang lebih seimbang dan objektif mengenai sejarah, masyarakat, dan seterusnya.

Yang Mulia Dalai Lama amat sangat menekankan bahwa akan sangat bermafaat jika kita memperkenalkan budi pekerti ke dalam pendidikan dasar bagi anak-anak. Dan budi pekerti yang dimaksu di sini adalah yang duniawi, yang menghormati semua agama tetapi tidak didasarkan pada agama apapun. Budi pekerti ini murni berdasarkan pada ilmu hayati – bahwa setiap orang menanggapi kasih sayang dengan positif. Ini anasir dasar yang ada secara hayati antara seorang ibu dan bayi yang baru lahir. Pada dasar itulah Anda mengakui bahwa setiap orang adalah manusia, semua orang ingin bahagia, semua orang senang diperlakukan dengan baik – kita semua begitu.

Jadi, Anda belajar membedakan antara si orang dan perilaku orang tersebut. Perilakunya mungkin dapat diterima, tetapi itu tidak berarti bahwa orang tersebut tidak dapat diterima. Orang itu masih manusia. Jika anak Anda nakal, maka Anda tegur perilakunya; tapi jangan berhenti mengasihi anak tersebut. Cara seperti itu bisa dilakukan kepada setiap orang lain. Apakah akan membantu atau tidak pada cakupan yang lebih besar, sulit dikatakan, tapi jelas akan membutuhkan banyak waktu.

Dua pertanyaan terakhir.

Peserta: Anda menyebutkan bahwa cara ini dapat dijalankan secara pribadi atau secara berkelompok. Apakah kerja kelompok ini menyiratkan bahwa kita memiliki hal yang sama seperti yang kita lakukan di sini, dimana setiap orang berpikir secara pribadi, secara pribadi merenungkan masalah yang sama? Atau adakah hal lain yang dapat dilakukan?

Alex: Keuntungannya bila berkelompok adalah bahwa akan ada sila tertib diri. Orang-orang dapat berbagi pengalaman jika mereka merasa berada dalam suatu jenis keadaaan dimana ketika mereka menyatakannya maka orang-orang tidak akan menertawakan mereka atau semacamnya. Sehingga itu harus jadi aturan dasarnya. Aturan dasar itu, yaitu adanya ruang terlindung, dapat dibangun oleh pemimpin kelompok, persis seperti terapis yang membuat ruang terlindung dimana klien merasa dapat membuka diri dan percaya kepada si terapis. Jadi ini sama saja, dalam hal apa keuntungan terapi pribadi dan terapi kelompok. Tolok ukurnya sama.

Peserta: Dalam berupaya dengan saat tertentu dalam hidup kita yang telah mempengaruhi kita, yang telah memberi dampak pada kita, apakah ada titik ketika kita menelusuri saat tertentu itu dan kemudian tidak lagi kembali ke sana, semacam mengatasinya, atau melupakannya? Atau apakah kita selalu harus kembali ke titik seperti pengaruh orangtua kita kepada kita, pengaruh masa kecil kita kepada kita? Apakah ada batas yang dapat kita gunakan ketika berupaya dengan saat tersebut agar tidak lagi kembali ke sana?

Alex: Jika Anda berbicara tentang suatu babak sulit dalam hidup kita, saya kira orang mesti mencapai tataran yang disebut keseimbangan batin. Keseimbangan batin berarti tataran cita yang tidak ditolak, disukai, atau diabaikan. Jadi menolak – “Aku benar-benar marah pada hal tersebut dan sakit hati, dan aku tidak akan melepaskannya” – ada unsur kemelekatan di situ karena Anda tidak mau melepaskannya sehingga Anda melulu terpaku padanya. Namun kita juga tidak ingin menuju ke titik lajat yang lain, menyangkal dan mengabaikannya (“Ini terlalu sulit untuk ditangani, jadi aku akan berpura-pura bahwa itu tidak ada”).

Jadi, jika Anda dapat benar-benar terbuka dan benar-benar santai tentang semua itu – “Inilah yang terjadi. Ini bagian dari riwayatku, seperti bagian lainnya dari riwayatku. Ini mungkin suatu masa yang sulit, tapi semua orang memiliki masa yang sulit” – Anda jadi punya keseimbangan batin ini, ketenangan ini, sehingga Anda tidak harus mengupayakannya lagi. “Ini berperan dalam hidupku. Aku mengakuinya. Dan yang sangat penting adalah perasaan negatif yang begitu lama kumiliki setelahnya. Itu juga telah berperan besar dalam hidupku, serta berpengaruh kuat pada caraku bersinggungan dengan orang lain, caraku merasakan diriku sendiri.” Jadi, keseimbangan batin itu, saya kira juga ada yang menggambarkannya sebagai penerimaan. Anda menerima “Inilah yang ada. Ini adalah kebenarannya.”

Satu pokok lebih lanjut yang muncul di dalam pikiran saya tentang berupaya dalam kelompok adalah berupaya dalam keluarga. Kalau Anda membatasi lingkup yang akan Anda periksa dalam tiap kehidupan setiap anggota keluarga hanya pada persinggungan mereka satu sama lain dan jika setiap anggota keluarga bisa mendengar hal-hal positif yang telah mereka pelajari dan peroleh dari anggota keluarga lain, saya pikir ini bisa sangat berguna. Terutama jika Anda punya anak remaja yang suka berontak dan si orangtua memiliki kesan bahwa “Oh, ia selalu mencela apapun yang kulakukan, dan ia membenciku, da ia hanya ingin pergi. Ia malu karena aku,” dan seterusnya, akan cukup – kalau Anda mampu menciptakan suasana yang akan memungkinkan ini terjadi – akan luar biasa bila anak remaja itu membuka diri dan benar-benar mengakui bahwa ada beberapa hal tentang orangtuanya yang ia suka, kagumi, dan dipelajari. Demikian juga dengan si orangtua, dalam hal apa saja yang mereka kagumi dari anak-anak mereka. Bukan hanya selalu mencela. Jadi Anda mencoba memberi mereka ruang dimana mereka dapat mempelajari, merenungkan, dan mencoba memikirkan sifat-sifat positif dari setiap anggota keluarga yang bermanfaat bagi mereka, yang mereka kagumi, yang mereka rasakan secara positif. Jelas itu akan menjadi nilai tambah ketika menghadapi kesulitan dalam keluarga.

Dengan itu, mari kita akhiri acara kita hari ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk kesempatan berbagi bersama Anda kali ini. Kalau Anda merasa ini latihan yang bermanfaat, Anda dipersilakan untuk menggunakannya. Dan seperti Yang Mulia Dalai Lama selalu katakan pada akhir ceramahnya, saat kuliahnya: Kalau Anda rasa tidak ada gunanya sama sekali, lupakan saja.

Terima kasih.