Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Pengantar Ajaran Buddha > Menggunakan Cara-Cara Buddha untuk Membantu Kita dalam Hidup Sehari-hari

Menggunakan Cara-Cara Buddha untuk Membantu Kita dalam Hidup Sehari-hari

Alexander Berzin
Moskow, Rusia, September 2010

Malam ini kita akan membicarakan tentang bagaimana kita menggunakan cara-cara Buddha untuk membantu kita dalam hidup sehari-hari. Ketika kita bicara tentang cara-cara Buddha atau ajaran-ajaran Buddha, kata bahasa Sanskerta yang mengacu pada hal itu adalah “Dharma”. Jika kita perhatikan apa sebenarnya makna kata itu, “Dharma” berarti “sesuatu yang menahan kita”. Dharma adalah sesuatu yang menahan kita atau menghindarkan kita dari penderitaan atau deraan masalah.

Empat Kebenaran Mulia

“Empat kebenaran mulia” adalah hal pertama yang diajarkan Buddha. Maksudnya ialah bahwa ada empat kenyataan yang, oleh siapapun juga yang memiliki tataran kesadaran tinggi dan yang mampu memahami kenyataan, akan dipahami sebagai kebenaran. Empat hal tersebut adalah:

  • Permasalahan benar yang kita semua hadapi.

  • Sebab-sebab yang benar dari permasalahan itu.

  • Seperti apa jadinya jika permasalahan itu dapat mutlak dihentikan supaya kita tidak mengalaminya lagi.

  • Cara memahami, bertindak, dan seterusnya, yang akan menghentikan segala permasalahan kita.

Ajaran Buddha bicara banyak tentang permasalahan dan cara menanganinya. Malah, seluruh ajaran Buddha diniatkan untuk menolong kita mengatasi kesukaran dalam kehidupan. Pendekatan yang dipakai sebetulnya sangat nalariah dan membumi. Dikatakan bahwa apapun bentuknya, permasalahan datang karena ada sebabnya. Jadi kita harus menelisik dengan jujur dan mendalam ke dalam diri kita untuk melihat kesukaran-kesukaran yang sedang kita hadapi itu. Bagi banyak dari kita, ini bukanlah jalan yang mudah. Malah sesungguhnya agak menyakitkan rasanya menelisik ke dalam wilayah-wilayah sukar dalam kehidupan kita itu. Banyak orang yang menyangkal. Mereka tidak bersedia mengakui bahwa mereka punya permasalahan – misalnya, hubungan yang tak sehat – tapi bagaimanapun juga mereka mengalami ketakbahagiaan. Namun kita tak bisa membiarkannya pada tataran “Aku tak bahagia” saja. Kita perlu melihat lebih dalam apa sebetulnya yang jadi masalah.

Sebab-Sebab yang Benar dari Permasalahan Kita

Kemudian kita perlu melihat untuk menemukan apa sebab-sebab dari permasalahan kita. Permasalahan tidak muncul dengan sendirinya, jatuh dari langit. Pasti ada sebabnya, dan tentu saja ada banyak tataran unsur yang terlibat dalam terbentuknya suatu keadaan yang tidak memuaskan. Misalnya, ketika ada perselisihan kepribadian dalam sebuah hubungan, boleh jadi ada juga unsur-unsur pengaruh dari ranah ekonomi – masalah tak cukup uang, dll. – masalah dengan anak-anak, atau masalah dengan saudara lainnya. Boleh jadi ada segala jenis keadaan yang ikut membentuk permasalahannya. Akan tetapi Buddha berkata bahwa kita harus masuk lebih dan lebih dan lebih dalam untuk menemukan sebab terdalam dari permasalahan kita; dan sebab terdalam dari permasalahan kita ialah kebingungan kita akan kenyataan.

Kita tak bahagia, kita merasa sakit, dan hal itu tentunya terjadi karena suatu jenis sebab. Misalnya, kita bertindak dengan sikap yang amat mengusik – penuh amarah, contohnya. Tak ada orang yang bahagia ketika marah, kan? Jadi kita perlu mengenali bahwa amarah di sini adalah sebab dari ketakbahagiaan kita dan kita dengan suatu cara harus menyingkirkan amarah itu.

Masalah yang membuat kita tidak bahagia dapat pula berupa kekhawatiran setiap saat. Kekhawatiran merupakan suatu keadaaan cita yang sangat tak mengenakkan. Tak ada orang yang bahagia ketika khawatir, bukan? Shantidewa, seorang guru Buddha India yang luar biasa, berkata bahwa jika kau berada dalam keadaan sukar dimana kau dapat melakukan sesuatu untuk mengubahnya, mengapa harus khawatir? Ubahlah saja. Kekhawatiran tidak akan ada gunanya. Dan jika tidak ada yang dapat kau lakukan untuk mengubahnya, mengapa harus khawatir? Itu juga tak ada gunanya. Jadi, kita bingung tentang ketakbergunaan kekhawatiran, dan kita jadi terus khawatir. Intinya ialah bahwa kekhawatiran itu tidak ada faedahnya.

Lalu kita juga memiliki sebuah tingkat masalah yang lain, yaitu masalah tak pernah puas. Tentu, kita mengalami masa-masa bahagia, tapi sayangnya masa-masa itu tidak berlangsung selamanya, dan kita selalu ingin lebih. Tak pernah memuaskan. Kita tidak puas dengan makan makanan kegemaran kita sekali saja, kan? Kita mau makan makanan itu lagi dan lagi. Dan jika kita makan terlalu banyak sekali waktu, kemudian kebahagiaan yang pada awalnya kita rasakan berubah jadi sakit perut. Dan kita pun sedikit bingung dengan jenis kebahagiaan ini. Alih-alih hanya menikmatinya saja apa adanya dan menyadari bahwa itu memang tidak akan abadi dan tidak akan pernah memuaskan, kita malah bergantung padanya; dan ketika kita kehilangan kebahagiaan itu, kita merasa sangat tidak bahagia.

Persis seperti saat kita bersama seorang teman baik atau orang yang kita cintai, dan kemudian mereka meninggalkan kita. Tentu saja mereka nantinya akan pergi juga, jadi kita baiknya menikmati saja waktu semasa masih bersama mereka. Ada satu perumpamaan indah yang kadang kita gunakan untuk hal ini. Ketika orang menakjubkan yang amat kita cintai datang ke dalam kehidupan kita, peristiwa itu seperti burung liar yang hinggap di jendela kita. Ketika burung liar itu hinggap di jendela kita, kita dapat menikmati indahnya kehadiran burung tersebut, namun setelah beberapa saat burung itu akan terbang lagi, tentu saja karena ia bebas. Dan jika kita bersikap lemah-lembut, mungkin burung itu akan kembali. Tapi jika kita menangkapnya dan mengurungnya dalam sangkar, burung itu akan menderita dan mungkin mati. Demikian pula, orang-orang yang datang ke dalam kehidupan kita ini sama seperti burung liar, dan hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menikmati waktu semasa mereka bersama kita. Jika kita santai dan kalem dengan hal itu, dan tidak menuntut-nuntut – “Jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak dapat hidup tanpamu,” atau yang semacam itu – mereka pasti suka untuk kembali. Kalau tidak, cengkeraman dan tuntutan kita hanya akan menghela mereka pergi.

Ketika kita bingung tentang sifat dari kebahagiaan dan kenikmatan biasa kita dalam hidup, tentu saja kita jadi mengalami masalah. Kita bahkan tidak dapat menikmati saat-saat bahagia yang kita punya, karena kita khawatir dan takut bahwa kita akan kehilangan saat-saat itu. Kita seperti seekor anjing dengan semangkuk makanan – si anjing makan makanannya, tapi juga nyalang melihat sekeliling sambil menggeram untuk memastikan tak ada yang datang dan merebut makanan itu darinya. Kadangkala kita seperti itu, kan? Kita seperti itu alih-alih menikmati saja apa yang kita punya dan menerima bahwa jika sudah selesai, ya selesai. Tapi tentu saja ini tidak sesederhana kedengarannya – mungkin bahkan tidak terdengar sederhana – tapi ini butuh latihan, supaya terbiasa dengan cara pandang baru terhadap segala hal dalam hidup.

Penghentian yang benar dari Permasalahan Kita

Buddha berkata bahwa adalah mungkin untuk menghentikan permasalahan kita selamanya, dan cara untuk melakukan hal itu adalah dengan mengenyahkan sebab-sebabnya. Ini adalah pendekatan yang sangat masuk akal, sangat nalariah. Jika Anda menghilangkan bahan bakarnya, maka tidak akan ada lagi api. Dan adalah mungkin, kata Buddha, untuk mengenyahkan permasalahan ini dengan cara yang membuatnya tidak muncul-muncul lagi.

Kita tidak ingin hanya dipuaskan oleh kebebasan sesaat dari permasalahan ini, kan? Persis seperti tidur – ketika tidur, masalah hubungan retak yang Anda alami seperti hilang. Jadi, bukan itu jalan keluarnya, karena ketika Anda bangun masalah itu masih ada. Persis seperti liburan ke suatu tempat, dan tetap saja Anda harus kembali ke rumah, dan ketika Anda kembali permasalahan masih ada. Jadi, liburan bukanlah jalan keluar terbaik, jalan keluar terdalam yang abadi.

Dan juga Buddha tidak berkata agar kita diam dan menerima saja permasalahan kita dan hidup dengan permasalahan itu, karena itu juga bukanlah jalan keluar yang bagus, kan? Karena ketika kita merasa tak berdaya – tak ada lagi yang dapat kita lakukan, kita menyerah dan mencoba saja tak mau. Sangat penting bagi kita untuk mencoba mengatasi permasalahan kita. Bahkan ketika kita tidak membuat banyak kemajuan, setidaknya kita merasa bahwa kita telah mencoba.

Cara-Cara Menghentikan Permasalahan Kita

Namun jika kita betul-betul ingin meraih penghentian sebenarnya bagi permasalahan ini, akhir yang sebenarnya bagi masalah-masalah kita, maka ada kenyataan keempat yang Buddha ajarkan, yaitu bahwa kita perlu menjalankan semacam cara dan memperoleh semacam pemahaman yang benar agar mampu mengenyahkan sebab terdalam dari permasalahan: kebingungan kita. Tapi memperoleh pemahaman yang baik saja tidak cukup jika kita tidak dapat mengingatnya setiap waktu. Maka kita perlu pula menumbuhkan pemusatan. Tapi agar pemusatan ini mampu untuk mengingat dan tetap terarah pada pemahaman tersebut, kita butuh tertib-diri. Jadi, cara-cara Buddha umum yang kita gunakan untuk mencegah permasalahan kita adalah dengan berjalan di jalur tata-tertib, pemusatan, dan pemahaman yang benar (kadang-kadang, jalur tersebut disebut “kebijaksanaan”).

Selain itu, salah satu sebab terbesar dari permasalahan kita ialah sikap mementingkan diri sendiri. Sebagian besar dari sikap ini berlandaskan pada kebingungan kita tentang kenyataan, karena entah bagaimana kita tampaknya berpikir bahwa kitalah satu-satunya yang ada di dunia ini. Bahkan ketika kita mengakui bahwa yang lain juga ada, kitalah yang jelas-jelas terpenting di semesta ini, pusat dari semesta kita. Karena salah-anggap seperti ini, kita berpikir, “Aku harus selalu mendapatkan jalanku. Aku harus selalu mendapatkan apa yang kumau,” dan jikalau kita tidak mendapatkan jalan kita, kita jadi sangat tidak bahagia.

Tapi hal itu merupakan suatu cara pandang kenyataan yang sangat keliru karena tidak ada yang istimewa tentang diriku, dalam pengertian itu. Kita semua sama dalam arti bahwa semua orang ingin bahagia, tidak ada yang ingin tidak bahagia; setiap orang ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan dan tidak ada yang ingin tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan, bagaimanapun, kita harus hidup bersama, karena kita memang hidup bersama. Jadi kita harus menambahkan rasa cinta, dan welas asih, ketenggangan bagi orang lain, dan sikap mementingkan kepentingan orang lain ke dalam cara-cara kita mengatasi atau mencegah permasalahan. Persis seperti kita yang ingin orang lain menolong kita, seperti itu pula mereka ingin kita menolong mereka.

Menangani Perasaan-perasaan yang Gelisah

Tentu saja tidak setiap orang merupakan orang kudus atau bodhisatwa, dan ini sangat benar adanya. Setiap orang mengalami kebingungan sampai pada suatu tataran tertentu. Karena mengalami kebingungan, kita bertindak di bawah pengaruh perasaan-perasaan yang gelisah. Misalnya, bila saya berpikir bahwa saya adalah pusat semesta dan saya adalah yang terpenting, maka perasaan yang menyertai pikiran itu adalah rasa tak aman, bukan begitu? Ketika Anda mengalami kebingungan, Anda merasa tak aman dan berpikir, “Aku seharusnya yang terpenting, tapi orang-orang selalu memperlakukanku seperti itu.” Jadi ada rasa tak aman di sana.

Apa siasat-siasat yang dapat kita gunakan ketika kita merasa tak aman – siasat-siasat untuk mencoba membuat diri kita merasa lebih aman? Salah satunya adalah bahwa: “Jika saja aku mendapatkan cukup hal di sekitarku, maka itu akan membuatku merasa aman. Jika saja aku mendapatkan cukup uang atau perhatian atau cinta, maka itu akan membuatku bahagia.” Tapi kemudian, seperti kita perhatikan, sifat dari kebahagiaan jenis ini adalah bahwa kita tak pernah mendapatkan cukup, kita tak pernah puas, dan kita selalu ingin lebih.

Coba pikir. Itu masuk akal. Apa betul kita ingin orang yang kita cintai hanya mengatakan “Aku mencintaimu” sekali saja? Kalau mereka mengatakannya sekali saja, dan itu cukup – mereka tidak akan harus mengatakannya lagi pada kita? Kita tak pernah merasa aman dengan itu. Kita selalu ingin mendengarnya lagi dan lagi dan lagi, kan? Dan kita tak pernah mencapai titik dimana kita berkata, “Nah, kau tak perlu memberitahuku lagi. Aku sudah tahu.” Jadi ketika kita bicara tentang keserakahan, maksudnya itu bukan sekadar keserakahan akan hal-hal bendawi dan uang. Kita juga serakah akan cinta, dan sebagian besar kita serakah akan perhatian. Kita melihat itu terjadi pada anak-anak. Jadi itu satu alur-caranya: jika saja kita mendapatkan cukup hal di sekitar kita, itu akan membuat kita merasa aman. Dan itu tak pernah berhasil.

Alur-kerja kedua adalah amarah dan penolakan: “Jika saja aku mengenyahkan hal-hal tertentu yang kurasa mengancamku, itu akan membuatku merasa aman.” Tapi kita tak pernah merasa aman; kita selalu merasa terancam; dan kita selalu was-was, kalau-kalau seseorang melakukan sesuatu yang tidak kita suka – dan kemudian kita marah dan mengusir mereka. Kadangkala hal itu sangat merugikan diri sendiri. Saya beri satu contoh tentang hubungan kita dengan seseorang, dimana kita merasa orang itu tidak memberi cukup perhatian pada kita, tidak meluangkan cukup waktu bagi kita, dan karena itu kita membentaknya. Kita marah dan menjerit, “Kau harusnya lebih memperhatikanku! Kau harusnya menghabiskan lebih banyak waktu denganku!” dan seterusnya. Lalu apa hasilnya? Biasanya mereka malah makin menjauh. Atau mereka mengalah dan tinggal bersama kita sebentar, namun Anda dapat rasakan bahwa mereka tidak merasa nyaman dengan hal itu. Bagaimana mungkin kita bisa berpikir bahwa marah pada seseorang itu dapat membuat orang tersebut jadi lebih suka pada kita? Betul-betul ngawur, bukan? Banyak dari alur-kerja yang kita gunakan dengan harapan membuat kita merasa lebih aman ini sebetulnya hanya memperparah segalanya.

Alur-kerja lain yang kita gunakan adalah dengan membangun dinding penghalang. Hal ini didasari oleh keluguan (kenaifan), berpikir bahwa jika kita tidak mengurusi masalah itu, entah bagaimana, masalah itu berarti tidak ada atau ia akan pergi dengan sendirinya. “Aku tak mau mendengarnya” – sikap semacam ini, dan Anda pun membangun dinding penghalang. Namun keluguan macam itu tentu saja tidak akan berhasil. Masalah tidak akan pergi hanya karena kita mengabaikannya dan tidak mengakuinya.

Jadi, berdasar pada perasaan-perasaan yang gelisah ini, yang terjadi ialah bahwa kita bertindak dalam segala macam cara yang merusak. Kita membentak. Kita bahkan memukul seseorang. Jika Anda merasa, “Malangnya aku, aku tak punya apa-apa,” Anda mungkin malah mencuri – Anda berpikir, entah bagaimana, hal itu akan menolong Anda. Atau, saya juga bisa beri contoh lain ketika saya hidup di India selama bertahun-tahun. India itu tanahnya bangsa serangga – berjubel-jubel serangga, setiap jenis yang dapat Anda bayangkan ada. Dan Anda tak bisa membunuh mereka semua; tak mungkin Anda menang. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan hidup bersama mereka. Jika Anda tidak suka bermacam serangga ada di kamar Anda, Anda tidur di dalam kelambu – ada jaring penghalang di sekeliling Anda dan berada di dalam kamar Anda yang terlindungi. Itusuatu jalan keluar yang damai, dibanding bersafari dan memburu semua nyamuk di kamar, dan Anda terjaga sepanjang malam karena selalu saja ada lagi nyamuk yang datang. Daun pintu selalu punya kolong, atau jendela tak tertutup dengan baik – selalu saja ada nyamuk yang bisa masuk. Tapi desakan hati akan perilaku merusak itu memaksa untuk muncul: “Aku harus mengenyahkan mereka!”

Ada berbagai macam bentuk perilaku merusak. Berbohong, memakai kata-kata kasar, berzinah, memperkosa – semua hal-hal ini termasuk di dalamnya. Dan ketika kita bertindak merusak, pada dasarnya hal itu menghasilkan ketakbahagiaan – ketakbahagiaan yang bukan hanya untuk orang lain, tapi secara khusus untuk diri kita sendiri. Jika Anda pikir, ajaran Buddha dengan sangat lantang menegaskan perihal jangan membunuh, kan? Nah, intinya di sini ialah bahwa kalau Anda sampai terbiasa membunuh hal apapun yang tidak Anda suka – nyamuk, misalnya – maka itu akan menjadi tanggapan pertama yang dengan sendirinya Anda lakukan, kan? Dan bukan hanya tentang membunuh. Kalau ada sesuatu yang tidak kita sukai, kita menghantamnya dengan cara yang amat beringas – bisa jadi lewat kata-kata, secara raga, atau secara rasa – alih-alih belajar menghadapinya dengan keadaan cita yang tenang.

Tentu kadang-kadang Anda memang harus membunuh. Misalnya, ada serangga-serangga yang memakan tanaman; bisa jadi ada serangga yang membawa penyakit, dlsb. Ajaran Buddha itu tidak harus diamalkan dengan fanatik. Namun Anda jangan pula lugu tentangnya. Cobalah lakukan tanpa amarah dan kebencian – “Aku benci nyamuk-nyamuk malaria ini!” Dan Anda jangan pula lugu tentang ganjaran-ganjaran negatif yang menjadi hasilnya. Contoh sederhana saja: Jika kita menyiramkan racun-hama ke seluruh sayuran dan buah-buahan yang kita tanam – sama saja kita makan racun itu dan terkena penyakit juga. Jadi memang ada dampak sampingan yang negatif. Intinya di sini, kembali ke titik tolak awal kita tadi, adalah bahwa cara-cara yang kita terapkan adalah tertib-diri, pemusatan, dan pemahaman yang benar yang diasupi dengan cinta dan welas asih.

Tertib-Diri Berbudi-pekerti

Bagaimana kita menerapkan cara-cara pencegahan ini untuk menghindari permasalahan dalam kehidupan? Tataran pertama, hal pertama yang kita lakukan, adalah menerapkan tertib-diri berbudi-pekerti, yang berarti menjauhkan diri dari tindakan merusak. Tindakan merusak berarti bertindak di bawah pengaruh perasaan-perasaan yang gelisah – amarah, keserakahan, kemelekatan, iri, keluguan, kepongahan, dan seterusnya. Itu berarti bahwa ketika kita merasa hendak bertindak merusak, kita dengan tegas jelas memutuskan, “Tidak, aku tidak ingin berlaku seperti itu.”

Ketika saya merasa hendak membentak Anda karena kesalahan yang Anda buat, saya tahu bahwa bentakan itu hanya akan memperkeruh keadaan. Saya mungkin harus memperbaiki atau mengurus kesalahan apapun yang Anda buat, tapi bentakan hanya akan membuatnya jadi lebih buruk, kan? Apalagi kalau saya menyumpahi dan mengutuki Anda – tentu saja itu tidak akan membuat keadaan bertambah baik. Maka, tertib-diri berbudi-pekerti ini maksudnya ialah mengetahui sesegera mungkin, bahkan sebelum Anda bertindak secara merusak, bahwa Anda akan segera gelap mata hilang kendali. Ada desakan untuk berkelakuan seperti itu dan kita mengenali dengan jernih: “Ini tidak akan membantu sama sekali,” dan kita pun menahan diri untuk tidak bertindak atas dasar desakan itu.

Nah, ini tidak berarti bahwa Anda harus menyimpan amarah dalam hati, dan amarah itu menggerogoti Anda, dan Anda hanya menahan dan menahannya sampai Anda meledak. Itu bukan caranya. Dan kalaupun kita belum mampu untuk mengatasinya, dan amarah itu terus saja merajalela di dalam diri – ya, jangan lampiaskan ke orang lain. Dan meninju dinding – yang seperti itu hanya akan melukai tangan Anda, jadi itu tindakan bodoh. Jadi, Anda akan melampiaskannya dengan cara lain, kan?

Peserta: Meninju bantal.

Alex: Meninju bantal atau mengepel semua lantai di rumah Anda – jenis “cara bijak ibu” dalam mengatasi amarah dan rasa gusar yang seperti itu, dan sesungguhnya mengerjakan tugas-tugas rumahtangga yang berat atau berlari jauh atau latihan berat di pusat kebugaran memang dapat membantu Anda memudarkan gemuruh tenaga amarah Anda.

Kewaspadaan dan Pemusatan

Jika kita semakin terbiasa dengan cara berperilaku seperti ini, dan kita menahan diri dari tindakan merusak ketika kita merasa hendak berkelakuan seperti itu, yang sedang kita gunakan di sini adalah apa yang disebut dengan “kesadaran pembeda (shes-rab)” kita. Kita membedakan antara apa yang dapat membantu dan yang dapat menjadi bahaya, dan atas dasar bahwa kita mampu tetap tenang dan bukan hanya memendam amarah. Jadi hal utama yang sedang kita tumbuhkan di sini adalah apa yang biasanya diterjemahkan sebagai “kewaspadaan (dran-pa)”, yang maksudnya “mengingat”. Gunanya seperti lem batin yang merekat pada tertib-diri – apa yang ingin aku lakukan, ingin jadi bagaimana aku dalam hidup, bagaimana aku ingin bertindak dalam hidupku – merekat pada hal tersebut dan tidak melupakannya. Itulah kewaspadaan, istilah yang sama dengan “mengingat secara giat”.

Jadi yang coba kita lakukan adalah menjadi lebih terjaga. Kata “Buddha” sebenarnya berarti “seseorang yang sepenuhnya terjaga”. Kita mencoba untuk terjaga akan perasaan-perasaan yang kita rasakan, desakan-desakan apa yang secara paksa mencuat di dalam cita kita untuk bertindak seperti ini atau seperti itu, dan kita mencoba untuk tidak menjadi budak dari hal-hal ini, tapi menyadari bahwa, dengan pemahaman, kita dapat memilih cara kita bertindak. Jika aku sedang berada dalam suasana hati yang keruh, itu bisa berubah; aku bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

Kadang-kadang jalan keluar bagi suasana hati yang keruh itu cukup sederhana. Salah satu cara paling sederhana ialah dengan “menidurkan bayi yang rewel”. Kita merasa seperti bayi yang terbangun terlalu lama dan – “Uwaaahhh” – menangis terus-menerus, dan seterusnya. Kerap kali ketika kita berada dalam suasana hati yang keruh, kita seperti itu. Jadi, berbaringlah, mengaso, tidurlah. Ketika kita bangun biasanya akan terasa jauh lebih baik.

Atau ketika Anda sedang berselisih-paham dengan seseorang, dan silang-pendapat sudah mencapai titik terpanasnya – dan, Anda sendiri tahu bahwa dalam keadaan seperti itu lawan bicara Anda tidak lagi benar-benar mendengarkan Anda dan Anda juga sudah tidak benar-benar mendengarkannya. Lebih baik percakapan diakhiri dulu – “Kita bicarakan lagi nanti saja setelah kita berdua tenang” – dan cobalah jalan-jalan sebentar, atau lakukan kegiatan semacam itu, untuk menenangkan diri.

Ini cara-cara yang sangat sederhana. Ajaran Buddha sebenarnya mengajarkan cara-cara tindakan yang jauh lebih dalam, tapi cara sederhana itu dapat dipakai sebagai awalan. Kita perlu mulai dengan menerapkan cara-cara yang benar-benar mampu kita terapkan. Tapi yang asasi adalah yang penting, dan yang asasi adalah melihat apa sebab dari masalah dan melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut. Jangan hanya menjadi korban masalah. Dalam arti, ambil kendali atas apa yang sedang terjadi dalam hidup Anda.

Nah, kalau kita mampu menumbuhkan kewaspadaan untuk merekat pada pemahaman kita tentang apa yang membantu dan apa yang berbahaya dalam perilaku kita, kita akan mampu memperhatikan apa yang sedang terjadi dan mengingat seperti apa kita mau bertindak dan kemudian memperbaikinya jika kita tidak bertindak seperti itu – jika kita mampu melakukannya pada cara kita memperlakukan tubuh kita, cara kita bicara, maka kita telah menumbuhkan kekuatan untuk mampu melakukannya pada cita kita, yang kita gunakan untuk berpikir.

Jadi ketika kita mulai mengalami rentetan pikiran khawatir ini, atau rentetan pikiran: “Malangnya aku. Tak ada yang mengasihiku,” dsb. dsb., hal-hal semacam itu, kita katakan pada diri kita, “Ayolah! Aku tak mau menjalani wisata mengasihani-diri dan kekhawatiran ini. Ini hanya membuatku tidak bahagia,” dan kita bawa kembali perhatian kita ke sesuatu yang lebih positif. Ada banyak hal positif yang dapat kita lakukan dengan tubuh kita, dengan cita kita, daripada sekadar duduk dan khawatir saja. Ada banyak hal positif yang dapat kita pikirkan daripada berpikir tentang betapa segalanya itu bisa jadi buruk, seperti ketika kita sedang dilanda kekhawatiran. Karena, seperti Anda lihat, yang sedang coba kita tumbuhkan di sini adalah pemusatan agar kita mampu membawa perhatian kita kembali ketika ia melayang-layang tak jelas tujuan.

Misalnya, ketika kita berbicara dengan seseorang dan pikiran kita mulai melayang-layang – tidak harus karena khawatir, bisa saja ke arah: “Kapan sih mereka berhenti bicara?” atau “Nanti malam aku makan apa, ya?” Bisa jadi tentang apa saja – dan kita berhenti memperhatikan lawan bicara kita itu, atau kita beranggapan dalam cita kita: “Yang baru saja mereka katakan itu bodoh,” kita membawa kembali perhatian kita dan hanya bersikukuh untuk menyimak kata-kata mereka.

Hal ini merupakan penerapan pemusatan yang sangat berguna, namun membutuhkan tertib-diri; dan kita menumbuhkan tertib-diri tersebut dalam hal, pertama-tama, perilaku raga dan kata kita. Ketika Anda mengembangkan keterampilan ini, keterampilan membawa kembali perhatian Anda dan membetulkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, maka Anda mampu menerapkannya dalam segala macam keadaan. Dan itu amat sangat membantu. Misalnya, Anda mulai jadi waspada tentang sikap tubuh Anda. Jika bahu Anda tegang dan naik karena memperhatikan, dan leher Anda tegang, dan seterusnya – jika Anda waspada dan Anda memperhatikannya, maka Anda akan menurunkan bahu dan mengendurkannya. Ini hanya soal memperhatikan, mengingat, melakukan sesuatu tentangnya. Atau ketika rasa Anda mulai bergejolak, dan hal itu sepenuhnya tidak cocok dengan keadaannya, dan Anda mulai bicara lebih dan lebih keras dan berangasan terhadap seseorang, Anda memperhatikannya dan mengubahnya saja. Anda menenangkan diri, sama saja seperti mengendurkan bahu, tapi Anda melakukannya pada suatu tataran tenaga, tataran perasaan.

Inilah rahasia cara Anda menerapkan cara-cara Dharma ini dalam kehidupan. Anda cukup mengingat saja cara-cara itu dan memiliki tertib-diri yang cukup untuk melakukannya, menerapkannya. Dan Anda melakukannya bukan karena Anda ingin jadi baik atau ingin menyenangkan hati guru Anda atau alasan-alasan seperti itu. Anda melakukannya karena Anda ingin menjauhkan diri dari permasalahan – kesukaran-kesukaran – karena Anda tahu kalau Anda tidak melakukan apa-apa untuk hal itu Anda hanya akan membuat diri Anda menderita, dan itu sama sekali tidak asyik, kan? Jadi kita perlu menerapkan tertib-diri kita pada wilayah batin, dalam hal pemusatan – bahkan, dalam hal mengatasi perasaan-perasaan kita. Mengatasi perasaan-perasaan tentunya lebih sulit, jauh lebih susah. Tapi seperti yang saya katakan, kalau rasa Anda terlalu bergejolak, Anda dapat menenangkannya.

Pemahaman yang Tepat

Begitu Anda mengembangkan sarana pemusatan itu, setidaknya sampai pada tataran tertentu, hal yang sungguh-sungguh ingin Anda jadikan sasaran pemusatan Anda adalah suatu pemahaman yang tepat tentang apa yang sedang terjadi. Kita punya segala macam kebingungan tentang kenyataan – tentang bagaimana kita ada, tentang bagaimana orang lain ada, tentang bagaimana dunia ada – dan karena kebingungan itu, kita jadi membayangkan segala macam hal yang sebetulnya tidak nyata, kan? Kita bisa membayangkan: “Aku tak berguna. Aku pecundang.” Atau kita bisa membayangkan: “Aku hal paling menakjubkan di dunia.” Kita bisa membayangkan: “Malangnya aku. Tak ada yang sayang padaku.” Namun, jika kita acu pembayangan ini pada setiap orang di dalam hidup kita, itu berarti ibuku tak pernah menyayangiku, anjing peliharaanku tak pernah sayang padaku – tak ada yang pernah sayang padaku. Hal ini hampir-hampir mustahil.

Jadi, kita membayangkan khayalan-khayalan ini dan kita yakin bahwa semua itu benar: di situlah letak bahayanya. Kita percaya bahwa kita boleh datang terlambat, atau tidak muncul di pertemuan yang dijanjikan, dan itu tidak jadi masalah: “Kau tak punya perasaan,” kan?Dan kemudian kita tidak menganggap orang lain. Tapi setiap orang punya perasaan, persis sepertiku. Tidak ada yang ingin diabaikan. Tidak ada yang suka kalau mereka ada janji temu dan yang ditunggu tidak datang atau terlambat. Tidak ada yang suka itu. Jadi yang perlu kita lakukan adalah menggunakan kemampuan pemusatan kita untuk memutus khayalan-khayalan ini dan menghentikan pembayangan kita tentang semua hal yang tidak masuk akal, misalnya, tentang perilaku ugal kita melukai perasaan orang lain, karena itulah sesungguhnya sebab terdalam dari permasalahan kita: “Akulah pusat semesta ini. Aku harus selalu mendapatkan jalanku. Aku yang paling penting.” Itu jelas-jelas sebuah pembayangan khayalan. Tak ada orang yang terpenting. Tapi karena percaya bahwa khayalan kita benar, kita jadi mementingkan diri sendiri. Jadi kalau kita ingin mengatasi sikap mementingkan diri sendiri, kita perlu membongkar khayalan itu dan berhenti membayangkannya. Bahkan ketika terasa seolah-olah akulah pusat semesta dan hanya akulah satu-satunya yang ada (karena ketika aku menutup mata terdengar suara itu dalam kepalaku, dan aku tak melihat orang lain, maka tampak seperti akulah satu-satunya yang ada), kita harus ingat bahwa ini semu dan kita harus mencoba untuk tidak mempercayainya: “Tidak seperti itu. Hanya seolah-olah seperti itu.”

Buddha berkata bahwa tetap berada pada pemahaman itu setiap saat adalah jalan yang benar untuk mencapai penghentian sebenarnya dari permasalahan kita. Jika kita memiliki pemahaman yang tepat setiap saat, kita tidak akan mengalami kebingungan apapun lagi. Dan jika kita tidak lagi mengalami kebingungan, kita terlepas dari amarah; kita terlepas dari kemelekatan, keserakahan, dsb. Dan jika kita tidak mengalami perasaan-perassan yang gelisah ini, kita tidak akan bertindak merusak. Dan jika kita tidak bertindak merusak, kita tidak akan menyebabkan bermacam-ragam permasalahan bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri. Itulah cara dasar ajaran Buddha untuk menghadapi berbagai kesukaran dalam kehidupan.

Jika kita menginginkan hubungan yang lebih bahagia, kita perlu mengenali bahwa:

  • Aku manusia. Kau manusia. Kita semua memiliki perasaan yang sama, dsb.

  • Setiap orang punya titik unggul. Setiap orang punya titik lemah. Aku punya, kau juga.

  • Tidak seorangpun merupakan Pangeran atau Putri Rupawan berkuda putih.

Pernahkah Anda membayangkan hal seperti itu? Kita selalu mencari pasangan sempurna, ia yang berkuda putih, tapi itu hanya dongeng. Itu tidak ada, namun kita membayangkannya. Karena percaya pada dongeng, kita berpikir bahwa yang ini pastilah pangeran atau putri, dan ketika orang itu tidak seperti bayangan kita kita marah padanya, dan kadang kita bahkan menolaknya. Dan kemudian kita membayangkan ke calon pasangan kita berikutnya yang kita temui sebagai pangeran atau putri. Tapi kita tak pernah menemukan pangeran atau putri itu, karena hal semacam itu tidak ada.

Jadi kalau kita ingin memiliki hubungan yang sehat, kita perlu menerima kenyataan. Kenyataannya adalah, seperti saya katakan, setiap orang punya titik unggul, setiap orang punya titik lemah, dan kita perlu belajar hidup bersama, dan bahwa tidak seorangpun yang merupakan pusat semesta. Dan kemudian ajaran-ajaran umum yang Anda dapati dalam agama atau filsafat kemanusiaan manapun, ajaran agar kita menjadi orang baik, orang peduli, orang penuh kasih, dsb., orang sabar, orang murah hati, orang pemaaf. Setiap agama dan setiap filsafat kemanusiaan mengajarkan hal yang sama, begitu pula Buddha.

Asas-asas yang sama juga berlaku dalam hubungan kita di tempat kerja. Jika Anda baik pada orang-orang yang bekerja bersama Anda di kantor (atau jika Anda pemilik usaha, Anda baik pada karyawan Anda), usaha yang dijalankan akan melaju mulus. Jika Anda bekerja di sebuah toko dan Anda baik dan bersikap menyenangkan pada para pelanggan, suasananya jadi jauh lebih menyenangkan, kan? Dan jika orang jujur dalam kesepakatan yang dibuatnya – tidak berlaku curang dan seterusnya – lagi-lagi, segalanya berjalan jauh lebih baik. Itu tidak berarti bahwa kita tidak berusaha memperoleh laba dan mencari nafkah, tapi intinya adalah tidak tamak dalam usaha kita.

Dan ketika orang lain curang pada kita – karena tidak semua orang bertindak baik seperti ini – ya, mau bagaimana? Tapi dari sudut pandang Buddha, kita tidak akan mengatakan bahwa mereka itu jahat; kita hanya akan mengatakan bahwa mereka bingung. Mereka bingung. Mereka tidak paham bahwa kelakuan demikian hanya akan mendatangkan lebih banyak permasalahan bagi mereka: tidak akan ada yang menyukai mereka. Jika begitu, mereka menjadi sasaran welas asih dan bukan sasaran kebencian. Jika kita memandang mereka sebagai sasaran welas asih dan kita bersabar terhadap mereka, kita tidak menderita secara emosional ketika mereka curang pada kita, dan kemudian untuk yang berikutnya kita mencoba untuk lebih hati-hati agar tidak dicurangi lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Banyak orang seperti itu. Itulah kenyataannya. Bayangannya adalah bahwa setiap orang itu jujur. Tidak semua orang jujur! Akan bagus kalau setiap orang jujur, tapi tidak semua orang begitu. Jadi, setidaknya kitadapat mencoba untuk jujur.

Dapatkah Umat Non-Buddha Mengikuti Cara-Cara Ini?

Nah, haruskah kita mengikuti jalan kerohanian meditasi, laku upacara keagamaan Buddha yang ketat, dan seterusnya, untuk menerapkan cara-cara ini? Tidak juga. Kita tidak harus mengikuti jalan kerohanian ketat dan baku untuk menerapkan semua hal ini. Yang Mulia Dalai Lama selalu bicara tentang budi pekerti duniawi dan nilai-nilai manusiawi – menjadi baik, lebih berhati-hati, tidak lugu, tidak membayangkan hal-hal semu, dan seterusnya. Ini adalah panduan yang dapat diikuti siapapun.

Dan ketika kita bicara tentang meditasi, kita bicara hanya tentang sebuah cara untuk mengakrabkan diri kita dengan suatu cara berpikir yang dilakukan dengan duduk diam dan mencoba berpikir dalam sikap seperti itu, dan ketika perhatian kita melayang, kita membawanya kembali pulang. Anda dapat melakukannya sembari duduk dalam meditasi dan memusatkan perhatian pada sesosok Buddha atau pada nafas Anda, tapi Anda juga bisa melakukannya ketika Anda sedang membaca buku, ketika Anda sedang memasak, ketika Anda sedang mengerjakan apapun. Ketika Anda sedang memasak, pertahankan pusat perhatian pada kegiatan memasak, dan ketika pikiran Anda melayang mengkhayalkan pikiran-pikiran gila, tarik kembali ke kegiatan memasak. Kita tidak harus menjalankan laku meditasi Buddha yang formal. Ada banyak, banyak cara yang bisa kita gunakan untuk mengakrabkan diri dengan cara-cara berpikir, cara bertindak, dsb. yang lebih berfaedah ini, tanpa harus terlibat dalam laku upacara keagamaan atau latar Buddha formal macam apapun.

Maka inilah cara kita menjalankan Dharma – alat pencegah – untuk menolong kita menghindari masalah. Apa ada pertanyaan dari kalian?

Tanya-Jawab

Sadar Akan Apa yang Sedang Terjadi di Dalam dan di Luar

Tanya:Untuk menghindari permasalahan, apakah kita harus terpusat setiap waktu?

Alex: Untuk menghindari permasalahan, apakah kita harus terpusat setiap waktu? Ya, bisa dibilang begitu. Tapi itu bukan gambaran menyeluruhnya. Kita bisa saja sangat terpusat, misalnya, ketika membentak atau memukul seseorang, jadi itu bukan gambaran menyeluruhnya. Kita juga perlu terjaga dalam pengertian bahwa kita perlu sadar akan apa yang terjadi di dalam – pikiran-pikiran kita, perasaan-perasaaan kita, dsb. – dan pada saat yang sama sadar dan awas pula akan apa yang terjadi dengan orang lain di sekitar kita. Misalnya, ada anggota keluarga Anda, atau orang yang Anda cintai, atau siapapun itu, yang baru pulang ke rumah; Anda melihat, mungkin, orang itu sangat lelah. Anda harus awas dengan keadaan itu. Bukan waktunya untuk membahas hal-hal berat dengannya – dia sedang lelah. Jadi Anda harus tetap awas, tafakur, terpusat pada apa yang sedang terjadi di sekitar Anda. Bagaimana keadaan orang lain, bukan cuma bagaimana keadaanku.

Kita tidak terpaku pada satu titik ujung, yang hanya sadar akan diri sendiri dan tidak sadar akan orang lain; atau titik ujung lainnya, yang hanya memperhatikan orang lain dan tidak memperhatikan diri sendiri. Itu juga satu titik ujung yang harus dihindari. Ada banyak orang yang mengidap gejala tak mampu berkata “tidak”, dan mereka selalu mengerjakan segalanya untuk orang lain, untuk keluarga mereka atau untuk siapa saja, dan mereka jadi betul-betul lelah dan capek sehingga mereka tumbang atau jadi marah. Penting kiranya untuk memperhatikan pula perasaan kita dan mempedulikan kebutuhan-kebutuhan kita juga. Ketika kita butuh istirahat, kita istirahat. Ketika kita harus bilang, “Tidak, maaf. Aku tak bisa melakukannya. Ini terlalu berat. Aku tak mampu,” katakan “tidak”. Baiknya, ketika kita bilang “tidak”, kita perlu memberi orang yang meminta bantuan kita beberapa pilihan, kalau bisa. Anda beri mereka saran: “Tapi mungkin orang ini bisa membantumu.”

Ringkasnya, perhatikanlah segala hal yang sedang terjadi, di dalam dan di luar, dan kemudian terapkan pemahaman yang benar dan cinta dan welas asih.

Mengatasi Amarah

Tanya: Anda tadi bicara tentang menyapu lantai sebagai cara menghadapi amarah atau perasaan-perasaan merusak lainnya, tapi Anda juga menerangkan bahwa ajaran Buddha memiliki cara-cara yang jauh lebih mendalam. Bisakah Anda setidaknya memberi petunjuk tentang cara-cara tersebut?

Alex: Pertanyaannya adalah tentang saya yang tadi bicara perihal cara-cara mengatasi amarah yang bersifat permukaan dan sementara – seperti ketika Anda memiliki amarah terpendam yang menumpuk, kerja kasar yang berat bisa membantu, misalnya mengepel semua lantai – dan saya menyiratkan bahwa ada pula cara-cara yang lebih mendalam, jadi apa saya bisa menunjukkan beberapa dari cara mengatasi amarah itu?

Baik, agak sedikit lebih dalam, satu tatarandalammenangani amarah ketika kita sedang marah terhadap seseorang adalah dengan menumbuhkan kesabaran. Nah, bagaimana kita menumbuhkan kesabaran? Ada banyak, banyak cara. Tapi ada satu cara yang disebut dengan “kesabaran serupa-sasaran”: “Kalau aku tidak memasang sasarannya, tidak akan ada yang mengenai sasaran itu.” Misalnya, saya meminta Anda melakukan sesuatu untuk saya, dan Anda melakukannya dengan keliru. Kecenderungannya bagi saya ialah marah pada Anda. Atau Anda malah tidak mengerjakannya sama sekali. Jadi salah siapa itu? Itu sebenarnya salah saya karena saya terlalu malas untuk mengerjakannya sendiri dan saya meminta Anda yang melakukannya. Jadi saya mau bagaimana? Ketika Anda meminta seseorang mengerjakan sesuatu, Anda mau bagaimana? Katakanlah Anda meminta seorang anak berumur dua tahun untuk membawakan secangkir teh panas untuk Anda dan ia menumpahkannya. Tentu saja dia menumpahkannya. Jadi, sama halnya – apa yang bisa kita harap ketika kita meminta seseorang mengerjakan sesuatu untuk kita?

Jadi saya sadar bahwa kemalasan sayalah yang menyebabkan masalahnya. Anda tidak marah pada orang yang Anda suruh tadi. Dan saya sadar bahwa ketika saya meminta Anda melakukan sesuatu untuk saya, itu karena saya terlalu malas melakukannya sendiri – entah karena terlalu malas, atau karena saya tak punya waktu, bisa apa saja. Tapi intinya ialah bahwa jika saya meminta orang lain melakukannya, saya tidak seharusnya berharap bahwa orang itu akan mengerjakannya dengan sempurna – atau dengan cara yang biasa saya gunakan, yang juga bisa jadi tidak benar pada akhirnya. Saya juga pernah berbuat kesalahan. Dan kalau saya mengerjakannya sendiri dan saya melakukan kesalahan, tidak ada alasan untuk marah pada diri saya sendiri. “Aku tidak sempurna – tidak ada yang sempurna – jadi tentu saja aku bisa berbuat salah.” Jadi Anda menerima kenyataan saja. “Aku manusia; manusia bisa berbuat salah: aku bisa berbuat salah.” Dan kalau saya bisa memperbaikinya, akan saya perbaiki. Saya tidak marah pada diri saya sendiri. Tidak ada gunanya marah pada diri sendiri. Perbaiki saja, kalau saya bisa. Kalau tidak bisa, ya sudah – tinggalkan saja dan cobalah untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

Tingkat mengatasi amarah yang jauh lebih dalam ialah memahami kenyataan diri kita sendiri. Yang sedang saya bicarakan ini adalah tingkat yang sangat sederhana, namun bahkan tingkat yang sederhana ini saja sudah membantu. “Aku bukanlah pusat semesta. Mengapa aku harus mendapatkan jalanku? Mengapa? Apa yang istimewa dariku sehingga aku harus mendapatkan jalanku sementara yang lain tidak?” Dengan pikiran-pikiran semacam itu, Anda mulai membongkar pandangan kukuh tentang “aku” ini sebagai suatu hal terpenting di dalam semesta. “Aku” yang kukuh. Kemudian tentu Anda dapat membongkar lebih dan lebih dan lebih jauh lagi. Ketika Anda memiliki pandangan “aku” yang kukuh ini dan aku selalu harus mendapatkan jalanku, maka tentu saja Anda jadi marah ketika Anda tidak mendapatkan jalan Anda, kan?

Ajaran Buddha memiliki banyak pandangan tentang bagaimana kita ada dan bagaimana setiap orang ada. Kita memang ada, tapi kita tidak ada dalam cara-cara tak mungkin yang kita bayangkan tentang keadaan kita, misalnya sebagai seorang “aku” kecil yang bertengger di kepala dan bicara dan dia inilah pengarang dari suara di kepala kita. Seolah-olah ada seorang “aku” kecil di dalam yang bicara, mengeluh: “Apa yang harus kulakukan sekarang? Oh, aku akan melakukan itu,” dan kemudian Anda seperti menggerakkan tubuh Anda, seakan-akan tubuh bagai mesin. Tapi itu sebuah khayalan. Anda tak bisa menemukan “aku” kecil apapun di dalam Anda, kan? Tapi, bagaimanapun juga, aku memang ada – aku bicara; aku mengerjakan berbagai hal. Jadi kita harus menyingkirkan rasa percaya kita pada bayangan-bayangan ini, karena tampak seperti berhubungan dengan kenyataan. Tampak seperti itu. Ada suara terdengar, jadi pasti ada seseorang yang bicara di dalam sana.

Jadi ajaran Buddha punya banyak hal untuk ditawarkan pada wilayah menyeluruh yang kita sebut sebagai “ilmu kejiwaan” (psikologi) ini.

Melatih Tubuh Kita

Tanya: Saya punya dua pertanyaan. Pertama: Mungkin Anda dapat memberitahu sedikit lebih banyak pada kami tentang melatih tubuh. Anda tadi menyebut bahwa kita perlu membuat tubuh kita santai, tapi mungkin kita juga perlu melakukan lebih banyak lagi. Dan pertanyaan kedua: Apa sumber dari segala bayangan ini? Misalnya, orang yang bicara di dalam kepala kita ini – mengapa itu bisa muncul?

Alex: Tentu ada banyak tata-cara yang dapat kita terapkan untuk kesehatan jasmani. Ada, misalnya, pengobatan khas Buddha yang dapat Anda jumpai di aliran Tibet, yang banyak berhubungan dengan penyeimbangan tenaga-tenaga dalam tubuh. Tenaga-tenaga dan kesehatan kita secara umum sangat dipengaruhi oleh pola makan dan perilaku kita – perilaku seperti Anda pergi keluar dalam cuaca dingin tanpa berpakaian hangat yang cukup, sehingga tubuh jadi sakit. Perilaku semacam itu yang kita maksud. Atau bekerja terlampau keras – perilaku semacam ini akan membuat Anda sakit.

Kita juga mencoba untuk memelihara kesadaran tentang keadaan tubuh kita. Semakin tenang Anda di dalam diri, semakin awas Anda bukan hanya pada keadaan cita tapi juga pada keadaan tenaga di tubuh Anda. Ketika Anda perhatikan bahwa tenaga Anda sangat gugup, misalnya – Anda dapat merasakannya dengan mengetahui bahwa denyut nadi Anda begitu cepat, dan seterusnya – ada hal-hal amat mendasar yang dapat Anda lakukan, bahkan dengan hanya menyesuaikan pola makan Anda saja. Misalnya, kita bisa berhenti minum kopi atau teh kental, dan Anda dapat melahap makanan yang lebih berat yang akan menekan tenaga-tenaga tersebut, seperti makanan berlemak – keju atau sejenisnya. Dan jagalah kehangatan tubuh; jangan terkena angin atau berada di tempat berangin. Dan jangan paparkan diri di bawah mesin listrik berbunyi “Bzzzzrrrr” itu. Itu hanya akan semakin mengganggu tenaganya. Coba tempatkan diri dalam keadaan tenang. Jadi seperti itu tingkat latihannya.

Aliran Tibet sendiri tidak menekankan latihan-latihan raga atau jenis latihan tubuh seperti yang ada pada, katakanlah, aliran-aliran Buddha Cina dan Jepang, dengan seni beladirinya. Tapi tentu saja berbagai jenis seni beladiri – taiji, qigong, dan lainnya – bisa sangat membantu. Semua itu juga merupakan cara-cara mengembangkan pemusatan lewat kewaspadaan akan gerakan-gerakan Anda. Latihan-latihan raga yang dilakukan orang Tibet itu jauh lebih halus, berkenaan dengan melatih tata-tata tenaga dengan cara yang berbeda, bukan dengan cara seni beladiri. Caranya agak berbeda, lebih condong ke arah yoga. Jadi seperti itu cara Anda melatih tubuh.

Sumber Suara di Kepala Kita

Untuk sumber suara di dalam kepala kita, hal ini melibatkan sifat dari cita dan itu sedikit lebih rumit. Dalam ajaran Buddha, ketika kita bicara tentang cita, kita tidak hanya bicara tentang sesuatu jenis hal. Kita bicara tentang kegiatan batin, dan kegiatan batin tersebut terlibat dengan berpikir, dengan melihat, dengan merasakan perasaan-perasaan. Itu sangat luas sekali. Yang terjadi di dalam kegiatan itu ialah bahwa ada pemunculan sejenis hologram batin. Misalnya, ketika kita melihat sesuatu, cahaya menerpa retina, memicu denyut-denyut listrik dan reaksi-reaksi kimia di benang saraf, dan sebagai hasilnya muncullah sejenis hologram batin: seperti apa tampaknya sesuatu yang kita lihat itu. Tapi itu sebenarnya hologram batin. Munculnya dari semua denyut kimia dan listrik ini.

Tapi hologram itu tidak sekedar bersifat netra (visual). Hologram batin ini dapat juga berupa bunyi, seperti kata-kata. Kita tidak mendengar seluruh kalimatnya sekali jalan – Anda mendengar potongan-potongan kecil dari kalimat itu, satu kali setiap waktu – dan kemudian lengkaplah hologram batin yang berisi kalimat penuh ini dan Anda memahami apa artinya. Demikian pula, ada hologram batin dalam bentuk perasaan-perasaan, hologram batin dalam bentuk pikiran-pikiran, dan juga hologram batin dalam bentuk tuturan – suara tadi. Hal-hal ini muncul saja. Ada laku-pengetahuan yang terlibat. Jadi seperti itulah melihat, atau berpikir atau merasa. Seperti itulah dia. Dan kegiatan batin itu terjadi tanpa adanya “aku” yang terpisah darinya, yang memperhatikannya atau mengendalikannya dan membuatnya terjadi. Itu terjadi saja. Jadi sebagian dari hologram batin itu berupa pikiran-pikiran tentang “aku” – “Suara itu aku.” Siapa yang berpikir? Aku yang berpikir. Bukan kau yang berpikir – aku yang berpikir. Tapi itu hanya sebagian dari keseluruhan proses hologram ini.

Apa sumber dari suara di dalam kepala kita ini? Itu cuma salah satu fitur dari kegiatan batin. Tidak berarti seperti itulah cara kerja semua kegiatan batin. Suara itu tidak muncul setiap waktu, dan saya ragu bahwa cacing tanah berpikir dengan suara semacam itu. Cacing tanah tentu punya otak, punya cita, melihat dan mengerjakan berbagai hal.

Sebetulnya mulai jadi sangat menarik ketika kita memikirkannya. Sebuah hologram dari bunyi sebuah suara itu merupakan suatu bentuk sambung-wicara (komunikasi), kan? Sejenis penganggitan yang mengungkapkan atau menyampaikan suatu pikiran dalam bentuk bunyi batin dari kata-kata. Pertanyaan menariknya ialah: Orang yang tuli dan bisu sejak lahir dan sama sekali tidak memahami gagasan tentang bunyi – apa mereka juga punya suara dalam kepala, ataukah mereka berpikir dengan bahasa isyarat? Itu pertanyaan yang sangat menarik. Saya belum pernah menemukan jawabannya.

Jadi, entah itu berupa suara, entah itu berupa bahasa isyarat, apapun – atau cara cacing berpikir – yang semuitu ialah bahwa ada “aku” lain di belakang suara itu, yang bicara, duduk di balik meja kendali, dan berbagai maklumat masuk dan tampil di layar dari mata kita, dan “aku” yang lain ini punya mikrofon dan ia bicara, dan kemudian ia menekan tombol yang membuat lengan dan kaki bergerak. Itu semua semu. Tapi “aku” yang duduk di balik meja kendali ini adalah sasaran dari “Oh, apa nanti kata orang tentangku?” dan “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Ia adalah acuan kekhawatiran kita, “aku” di balik meja kendali ini.

Ketika kita menyadari bahwa “aku” yang lain ini sebetulnya semu, maka tidak ada yang harus dikhawatirkan. Kita bicara, kita bertindak. Tentu itu aku: aku bicara, aku bertindak. Dan jika orang tidak menyukainya, mereka tidak menyukainya. Jadi apa? Buddha sendiri, tidak semua orang menyenanginya. Tidak semua orang menyukai sang Buddha, jadi apa yang kuharap dari diriku? Kita hanya menggunakan pemahaman, cinta, welas asih, dan kita bertindak. Dan itu saja. Dan tak usah khawatir tentang: “Apa nanti kata orang tentangku?” Memang tidak semudah seperti kedengarannya.

Mengendalikan Diri Kita Ketika Orang Lain Marah

Tanya:Ketika orang lain marah pada kita, bagaimana cara kita mengendalikan diri?

Alex: Pada dasarnya kita lihat mereka seperti anak kecil. Ketika bocah dua tahun marah pada kita ketika kita bilang: “Sudah saatnya tidur” dan dia bilang, “Aku benci ayah/ibu. Ayah/ibu jahat” dan kemudian dia rewel sekali, apa kita marah? Ya, beberapa orang memang marah; tapi anak itu baru umur dua tahun, mau bagaimana? Anda mencoba menenangkannya. Lembutlah, seperti memperlakukan anak umur dua tahun. Coba pikir: Bagaimana Anda mengatasi anak umur dua tahun yang sedang seperti itu? Biasanya ketika anak usia dua tahun sedang rewel setengah mati, jika Anda menggendong dan membuai mereka dengan kasih sayang, mereka jadi tenang, kan? Bentakan hanya akan membuat tangis mereka semakin menjadi-jadi. Jadi orang itu ya seperti itu – bayi yang besar.

Saya rasa mungkin kita bisa akhiri di sini. Terima kasih banyak.