Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Pengantar Ajaran Buddha > Ikhtisar Empat Kebenaran Mulia

Ikhtisar Empat Kebenaran Mulia

Alexander Berzin
Bukares, Rumania, Juni 2009

Malam ini saya diminta untuk memulai rangkaian ceramah ini dengan membahas tentang Empat Kebenaran Mulia. Ini cara memulai yang pas karena seperti itulah cara Buddha mengawalinya ketika ia mulai mengajar. Terdapat banyak tata ajaran, ajaran rohani, entah itu kita sebut agama atau filsafat, ada banyak tata, dan Buddha tentu sadar akan banyaknya tata yang ada pada masa hidupnya dan kini kita bahkan punya lebih banyak tata lagi. Dengan begitu ketika kita mendekati ajaran Buddha, saya pikir cukup penting untuk mencoba mengenali apa yang khas darinya. Ajaran Buddha, tentu saja, mencakup banyak ajaran yang sama-sama dimiliki oleh tata yang lain: jadilah orang baik hati, lemah-lembut, penyayang, jangan lukai siapapun. Ini kita dapati pada hampir setiap agama, bukan? Ada di setiap filsafat. Jadi tentu saja ajaran Buddha mengajarkan itu juga. Namun kita tidak perlu sampai beralih ke ajaran-ajaran Buddha untuk tahu tentang itu, walau ajaran Buddha cukup kaya akan cara untuk mampu mengembangkan kebaikan hati dan cinta dan welas asih dan kita dapat memetik manfaat dari cara-cara tersebut entah kita menerima atau tidak hal-hal lain dalam ajaran Buddha itu sendiri.

Tapi, jika kita bertanya, "Apa yang secara khusus khas ajaran Buddha?" maka kita perlu melihat Empat Kebenaran Mulia. Dan bahkan di dalam pembahasan Empat Kebenaran Mulia, kita akan mendapati banyak hal yang sama-sama dimiliki oleh tata-tata lainnya.

Nah, saat kita lihat ungkapan "Kebenaran Mulia", harus saya katakan bahwa itu terjemahan yang agak aneh karena sebetulnya maksud ungkapan tersebut ialah bahwa ada empat fakta yang dilihat benar oleh mereka yang telah melihat kenyataan secara nirsekat. Jadi ini berarti bahwa meskipun ini merupakan fakta yang benar, sebagian besar orang tidak benar-benar memahaminya. Mereka bahkan tak sadar akan adanya empat hal tersebut. Jadi kata "Mulia" di situ, seperti saya katakan tadi, bukanlah padanan yang paling jitu karena terdengar seperti keningratan abad pertengahan. Sebetulnya itu mengacu pada mereka yang telah berkesadaran tinggi.

Fakta sebenarnya yang pertama biasanya disebut "duka". Buddha berkata bahwa hidup kita diisi oleh duka dan bahkan yang mungkin kita anggap sebagai kebahagiaan biasa kita, itu juga dilumuri banyak masalah. Kalau kita perhatikan kata tersebut – Anda tahu saya ini penerjemah jadi saya suka memperhatikan kata-kata – kalau Anda perhatikan kata "duka" tersebut berasal dari kata Sanskerta duhka. Kha itu sebuah ruang dan duh itu imbuhan. Ada juga kata sukha yang berarti kebahagiaan dan dukha yang berarti ketakbahagiaan; jadi duh sebagai sebuah awalan berarti 'tak memuaskan', 'tidak baik', 'tidak menyenangkan'. Saya tak ingin menggunakan kata yang cenderung menghakimi seperti "buruk", tapi memang ke situ arahnya. Jadi, kata itu menyiratkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan ruang ini, dan "ruang tersebut" maksudnya keseluruhan ruang batin kita, ruang hidup kita. Sungguh sebuah keadaan yang tak menyenangkan.

Nah, apa yang tak menyenangkan dari hal itu? Pertama-tama, kita menderita: didera rasa sakit, ketakbahagiaan, kesedihan. Dan ini merupakan hal yang kita semua pahami dan setiap orang ingin menghindarinya, binatang sekalipun. Jadi tak ada yang khas pada ajaran Buddha yang mengatakan bahwa rasa sakit dan ketakbahagiaan merupakan keadaan tak memuaskan, akan baik sekali bila kita keluar dari keadaan itu. Jenis duka yang kedua disebut penderitaan perubahan dan itu maksudnya tentang kebahagiaan biasa yang sehari-hari kita rasakan. Apa masalahnya? Masalahnya ialah bahwa kebahagiaan itu tidak langgeng. Ia berubah. Jika yang kita anggap kebahagiaan biasa itu sebagai kebahagiaan yang sebenarnya, maka semakin sering kita mengalaminya, semakin bahagia pula kita. Jadi, jika kita bahagia karena makan cokelat, maka semakin banyak cokelat yang kita makan selama berjam-jam, semakin bahagialah kita; dan pada kenyataannya tidak demikian. Dan sekalipun orang tercinta yang membelai tangan kita, kalau ia melakukannya selama berjam-jam, tangan kita mulai terasa sakit. Jadi, kebahagiaan itu berubah. Dan tentu saja, kita tak pernah merasa cukup dengan kebahagiaan kita yang biasa; kita tak pernah puas. Kita selalu ingin lebih banyak cokelat, mungkin tidak harus segera, tapi setelah beberapa saat.

Menarik sekali kalau Anda pikirkan, "Seberapa banyak makanan kesukaan yang harus Anda makan supaya Anda menikmatinya?" Segigit, secuil cicipan saja sudah cukup, bukan? Tapi kita mau lebih dan lebih dan lebih banyak lagi. Nah, keinginan mengatasi masalah sejenis ini, kebahagiaan duniawi kita yang lumrah biasa, bukan ajaran Buddha saja yang menjadikannya sebagai tujuan. Bukan ajaran Buddha saja yang bertujuan mengatasi kebahagiaan lumrah biasa yang kita miliki dan menemukan kebahagiaan abadi yang lintas-fana. Ada banyak sekali agama yang mengajarkan, "Lampauilah kenikmatan-kenikmatan duniawi; capailah surga dengan sukacita abadi." Jadi, bukan secara khusus di lingkup ajaran Buddha saja, kan?

Nah, sekarang ada duka jenis ketiga dan ini yang secara khusus berada di lingkup ajaran Buddha dan yang satu ini disebut "penderitaan serba-merembes" atau "masalah serba-merembes". Ia merembesi segala sesuatu yang kita alami; dan ini maksudnya kelahiran kembali kita yang berulang tanpa terkendali, yang merupakan dasar dari naik-turunnya hidup kita sehari-hari. Dengan kata lain, terlahir kembali, lagi dan lagi, dengan jenis kehidupan yang kita miliki, dengan jenis cita dan raga dan seterusnya yang kita punya, merupakan dasar bagi dua masalah yang pertama. Tentunya, itu masuk dalam pokok bahasan kelahiran kembali, yang akan kita bahas besok, jadi saya tidak ingin masuk terlalu rinci tentang hal itu.

Nah, ada banyak tata filsafat India lainnya yang mengajarkan tentang kelahiran kembali, jadi yang diajarkan Buddha bukanlah hal baru. Namun ia menggambarkannya dan memahami alur-kerjanya jauh lebih mendalam dan dengan cara yang berbeda dari filsafat dan agama lain pada masa itu. Dan Buddha memberikan penjelasan yang amat purna tentang alur-kerja kelahiran kembali, betapa cita dan raga kita mengalami naik-turun, ketakbahagiaan, dan kebahagiaan biasa.

Hal ini membawa kita pada kebenaran kedua, Kebenaran Mulia yang kedua. Tapi, seperti tadi saya katakan, saya tidak akan masuk ke penjelasan lengkap tentang alur-kerja kelahiran kembali, tapi apa penyebabnya? Jika kita lihat sebab sebenarnya, kita akan mampu mulai memahami apa yang dibicarakan Buddha. Jadi kita tidak mesti membahas kelahiran kembali malam ini, tapi kita coba memahami apa yang Buddha jelaskan hanya dengan cara penalaran sederhana. Kita bicara tentang duka dan kebahagiaan biasa – ini semua berasal dari suatu sebab, dan Buddha bicara tentang "sebab-sebab sebenarnya". Kita mungkin berpikir bahwa semua itu kita alami sebagai hadiah dan hukuman dan segala macam hal sejenisnya, tapi Buddha bicara tentang apa sebab sebenarnya, dan ia bicara tentang perilaku merusak dan perilaku membangun.

Nah, apa maksudnya perilaku merusak ini? Apa artinya sekadar menimbulkan celaka? Ya, sebetulnya, saat kitab bicara tentang menimbulkan celaka, kita bisa bicara tentang mencelakai orang lain atau mencelakai diri kita sendiri. Jadi, amat sulit untuk menilai apakah perilaku kita betul-betul mencelakai orang lain atau tidak. Kita bisa saja melimpahi seseorang dengan uang dan, alhasil, mereka dibunuh oleh orang lain dalam sebuah perampokan. Kita tidak sungguh-sungguh tahu apa nantinya yang jadi akibat dari perbuatan kita untuk orang lain. Kita ingin menolong mereka, itu tujuan kita, tapi tak ada jaminan. Namun yang pasti ialah bahwa jenis perilaku tertentu itu akan membawa celaka pada diri kita sendiri. Nah, inilah yang dimaksud Buddha sebagai perilaku merusak. Ia bersifat merusak-diri.

Dan sifat tersebut mengacu pada tindakan, perkataan, atau pikiran yang diperbuat atas pengaruh perasaan-perasaan gelisah. Perasaan-perasaan gelisah – sifatnya menggelisahkan. Jadi perasaan-perasaan tersebut membuat kita kehilangan kedamaian cita dan kendali-diri. Wujudnya dapat berupa amarah, keserakahan, dan kemelekatan, iri, kepongahan, keluguan, dan plin-plan (ketakmampuan untuk mengambil keputusan mantap). Ada sederet panjang daftarnya dan ketika pikiran kita sepenuhnya terjebak pada semua hal ini dan kita bicara di bawah pengaruhnya atau bertindak di bawah pengaruhnya, ketakbahagiaanlah yang terjadi pada diri kita. Mungkin tidak langsung, tapi dalam jangka panjang, karena ada terbina kecenderungan untuk terus seperti itu. Dan, di sisi lain, arti dari perilaku membangun adalah perilaku yang tidak berada di bawah pengaruh perasaan-perasaan gelisah ini dan, malah, perilaku yang bahkan didorong oleh perasaan-perasaan seperti kasih dan welas asih atau kesabaran.

Yang jelas, ketika kita bertindak secara membangun, hal itu akan berbuah kebahagiaan. Paham? Cita kita lebih santai, lebih tenang. Kita sedikit lebih mampu untuk mengendalikan diri, dan kita tidak mengutarakan hal-hal bodoh atau bertindak konyol. Dan mungkin tidak langsung juga, tapi dalam jangka panjang, jenis kebahagiaan yang dibawa oleh perilaku membangun pada diri kita ini merupakan sesuatu yang telah melandasinya, pada dasarnya dalam wujud keluguan tentang cara kita mengada, tentang cara yang lain mengada, tentang kenyataan pada umumnya.

Nah, kebahagiaan biasa dan ketakbahagiaan kita, kedua hal itu bukanlah hadiah atau hukuman oleh sesosok hakim, seperti sosok lain di luar kita. Keduanya timbul hampir seperti hukum fisika. Dan apa dasarnya? Dasarnya ialah kebingungan kita. Kita bingung, contohnya, tentang aku; bahwa aku harus seperti yang kumau. Paham? Kita pikir, "Aku adalah orang terpenting; aku harus seperti yang kumau dan aku harus mendapat tempat terdepan di antrian di swalayan; aku harus yang pertama," dan lain sebagainya. Dan karena itu kita marah pada orang yang ada di depan kita; kita dorong atau desak dia. Kita tamak akan, seperti yang Anda tahu, tempat pertama. Paham? Kita tak sabar karena ada orang yang terlalu lama dan cita kita diisi dengan segala macam pikiran tak menyenangkan tak membahagiakan tentang orang itu, bukan? Dan sekalipun kita bertindak secara membangun, ada juga banyak kebingungan tentang "aku" di baliknya. Kita kerap kali bersedia menolong orang lain karena kita ingin mereka menyukai kita. Kita ingin mereka mengasihi kita atau setidaknya berterima kasih pada kita; atau kita mungkin menolong mereka karena itu membuat kita merasa dibutuhkan. Banyak orangtua seperti itu terhadap anak-anak mereka dan, meski menolong orang itu memang bisa membuat kita merasa bahagia, ada sesuatu yang tidak begitu membuat nyaman di baliknya. Dan begitulah, kebahagiaan yang mungkin kita alami – mungkin tidak secara langsung, tapi dalam jangka panjang – jenis kebahagiaan seperti itu tak pernah langgeng. Ia berubah menjadi sesuatu yang tak memuaskan. Ini berlangsung terus dan terus di sepanjang hidup kita sekarang dan, seperti dalam pandangan ajaran Buddha, hidup kita di masa mendatang pula.

Dan jika kita mengamatinya sedikit lebih dalam, kita bingung dengan segala sesuatu. Paham? Kita begitu mengasihi seseorang, kita sepenuhnya melebih-lebihkan sifat baik mereka. Atau kita tidak menyukai seseorang begitu hebatnya, kita sepenuhnya melebih-lebihkan sifat buruk mereka. Kita tidak melihat ada satu kebaikan pun dalam diri mereka. Dan semakin kita menyelidikinya, semakin banyak kebingungan yang kita dapati melandasi setiap waktu, setiap pengalaman kita. Dan kini, lebih jauh lagi, lebih dalam lagi, dasar dari hal ini ialah bahwa ada batasan-batasan. Kita memiliki banyak batasan lantaran bercita dan beraga seperti yang kita miliki ini. Jika Anda pikir-pikir, saat kita menutup mata, tampak seolah seisi dunia ini tidak ada dan hanya ada aku; dan ada suara yang gemerisik di kepala kita dan seolah-olah itulah "aku", di dalam apa? Di dalam kepalaku? Di dalam diriku? Aku di dalam aku – itu janggal sekali. Dan kita mengenalinya karena dia itulah yang selalu mengeluh: "Aku harus di depan; aku harus begini." Dia itulah yang selalu khawatir. Dan entah bagaimana tampak seolah-olah "aku" itu, suara di dalam kepala kita itu, istimewa dan ada tersendiri dari setiap orang lain, karena ketika aku menutup mataku, tak ada apa-apa. Hanya ada "aku".

Jadi ini amat membingungkan karena jelas-jelas kita tidak mengada secara tersendiri dari setiap orang lain; dan sungguh tak ada yang istimewa tentang siapapun. Kita semua orang. Saya pernah punya pandangan seperti ini: ada seratus ribu penguin di Antartika, semua mereka berdiri di atas dataran salju itu. Nah, apa yang membuat yang satu lebih istimewa dari yang lain? Mereka semua sama. Begitu juga kita. Mungkin bagi penguin-penguin itu, semua manusia tampak serupa. Baiklah, jadi, di atas dasar pikiran, "Oh aku begitu istimewa dan aku mandiri dari setiap orang lainnya," kemudian aku harus seperti yang kumau dan aku marah kalau tidak begitu.

Karena itu pada dasarnya piranti keras cita kita ini, raga kita dsb. merupakan wadah yang baik untuk tumbuhnya kebingungan ini. Saya melihat – ya, memang agak janggal bila diungkapkan seperti ini, seolah-olah ada seorang "aku" di dalam sini – tapi saya melihat keluar lewat lubang-lubang di depan kepala ini. Saya tak bisa melihat apa di belakang. Saya hanya bisa melihat yang sekarang. Saya tak bisa melihat apa yang terjadi sebelumnya. Saya tak bisa melihat apa yang terjadi setelahnya; amat terbatas. Paham? Saya semakin tua. Saya tak bisa mendengar dengan baik, jadi Anda bilang sesuatu, telinga saya tak menangkapnya dengan tepat. Saya pikir Anda mengatakan hal lain dan kemudian saya jadi marah karena itu. Konyol, kan?

Jadi, permasalahan yang serba-merembes ini membuat kita terus-menerus mengalami kelahiran kembali lagi dan lagi dengan jenis raga, jenis cita ini yang hanya akan mengekalkan kebingungan ini. Dan atas dasar kebingungan itu, kita bakal bertindak secara merusak atau bertindak dengan cara-cara membangun yang biasanya, dan hal tersebut berbuah ketakbahagiaan dan duka dan kebahagiaan biasa yang pasti berubah.

Dan sebetulnya, jika kita lihat lebih dalam lagi – tapi ini rumit, jadi saya tidak akan ke arah situ – kebingungan itu sendirilah yang menggerakkan kelahiran kembali yang berulang tak terkendali ini. Paham? Karena kita ingin lebih dan lebih dan lebih lagi. Itulah perkara yang sebenarnya dari permasalahan yang sebenarnya dan duka yang sebenarnya. Kebingungan ini; kebingungan itu... saya menggunakan istilah itu sebagai kata yang umum saja. Istilah yang lebih khusus sebetulnya adalah "ketaksadaran". Ketaksadaran, yang biasanya diterjemahkan jadi "kebodohan". Saya tidak suka kata "kebodohan", karena kata ini menyiratkan bahwa kita bodoh. Bukan begitu masalahnya, bukan karena kita bodoh. Bukan itu arti sebenarnya, tapi "ketaksadaran" berarti bahwa kita tidak tahu cara kita mengada atau cara segala sesuatu mengada, maka – dalam pengertian itu – kita tidak waspada "Aku tak tahu menahu" atau "Aku keliru mengetahuinya, terbalik"; seperti misalnya, aku berpikir bahwa akulah satu-satunya orang di dunia ini, akulah yang terpenting dan itulah persisnya kebalikan dari kenyataan. Kenyataannya adalah kita semua di sini bersama. Kita bersinggungan satu sama lain; dan bukan karena aku bodoh, tapi karena raga dan cita ini rasanya seperti itu. Aku menutup mataku dan ada suara di dalam kepalaku, jadi – bagaimana mengatakannya – lumrah saja kalau kita tak waspada, kalau kita bingung.

Dan inilah mengapa kita katakan bawa inilah yang disebut dengan "Kebenaran yang Mulia". Mereka yang melihat kenyataan melihatnya dengan cara berbeda dari cara setiap orang lain yang melihatnya, karena kita semua berpikir bahwa kebingungan kita ini dan dugaan-dugaan ini mengacu pada kenyataan. Kita yakin ia benar. Kita tak pernah memikirkannya betul-betul, tapi rasanya seperti itu. "Hoi, aku ini yang terpenting. Harus seperti yang kumau. Yang lain harus menyayangiku," atau kebalikannya, "Yang lain seharusnya membenciku, karena aku tak ada baiknya." Maksud saya, itu ya sama saja, hanya sisi lain dari uang logam yang sama. Baik, jadi itulah Sebab yang Sebenarnya.

Nah, Kebenaran Mulia yang Ketiga adalah... saya menyebutnya "penghentian yang sebenarnya". Biasanya diterjemahkan jadi "gencatan yang sebenarnya", tapi itu kata yang sukar dan tak perlu; artinya ya penghentian. Dan arti dari hal ini ialah bahwa mungkin bagi kita untuk mengenyahkan kebingungan ini, menghentikannya, agar ia tak pernah berulang lagi. Dan jika kita mengenyahkan kebingungan ini, sebab yang sebenarnya ini, maka kita akan mengenyahkan pula permasalahan yang sebenarnya: naik dan turun dan kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali yang menjadi dasarnya. Maka, kita akan memperoleh yang disebut "pembebasan". Kalau Anda akrab dengan kata-kata Sanskerta-nya, kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali itu samsara dalam Sanskerta, dan pembebasan itu nirwana. Baik.

Nah, tata-tata India lain pada masa hidup Buddha juga bicara tentang pembebasan dari samsara. Itu hal yang umum di India. Tapi yang dilihat Buddha adalah bahwa tata-tata lain ini tidak cukup mendalam dalam mengenali sebab yang sebenarnya. Dan sekalipun kita mungkin terlepas dari masalah berulang tanpa terkendali ini – Anda bisa saja terlahir di sejenis alam mendalam yang, selama lelaksawarsa, di situ cita Anda kosong – tapi bagaimanapun juga itu pasti ada akhirnya. Jadi Anda tak betul-betul memperoleh pembebasan dengan tata-tata yang lain ini.

Nah, penghentian yang sebenarnya. Amat penting untuk memahami dan percaya bahwa mungkin untuk mengenyahkan kebingungan ini, agar ia tak pernah berulang lagi. Kalau tidak, buat apa Anda mencoba mengenyahkannya? Kalau tidak, Anda mungkin akan diam dan menerima saja keadaan sulit ini dan mencoba menjalaninya, seperti wujud tujuan akhir dari rata-rata terapi jiwa. "Belajarlah menjalaninya; atau minum pil ini saja."

Jadi untuk memahaminya, kita perlu melihat Kebenaran Mulia yang Keempat. Kebenaran Mulia yang Keempat membantu kita memahami yang Ketiga. Kebenaran Mulia yang Keempat adalah... biasanya diterjemahkan jadi "jalan yang sebenarnya", tapi jalan itu bukan... kita tidak sedang bicara tentang sesuatu yang bisa Anda jalan di atasnya. Bukan begitu maksudnya. Maksud sebenarnya ialah suatu tataran cita yang, jika kita kembangkan, menjadi sebuah jalan menuju pembebasan. Jadi saya menyebutnya "cita jalan-rintis", tapi sukar sekali diterjemahkan kedalam sebagian besar bahasa lain. Pokoknya ialah untuk tidak memahaminya sebagai sebuah jalan (layaknya jalan raya); tapi sebagai sebuah tataran cita. Baik.

Nah, kita bayangkan yang sampah benar-benar. Jadi, kalau pembayangan itu ada tingkatannya, yang kita bayangkan ini adalah tingkat yang isinya sampah semua; di tataran paling berlebihannya ada pembayangan paranoia: setiap orang menentangku. atau skizofrenia. Atau, bisa agak halus: "Ini kue cokelat paling menakjubkan yang pernah kulihat. Kalau kumakan, aku akan sangat bahagia. Itu yang benar-benar kuinginkan." Paham? Saya mengalaminya pada penerbangan ke sini. Saya singgah di Vienna; Vienna – strudel apelnya pasti yang terbaik di dunia. Saya pesan sepotong kue strudel apel itu. Ternyata bukan yang terbaik di dunia. Jadi, pembayangan, sampah; tidak mengacu pada kenyataan. Kue strudel apel itu ada. Strudel itu bukan pembayangan di cita saya, tapi caranya mengada – sebagai hal paling mempesona dan bahwa saya akan benar-benar bahagia kalau memakannya – itulah yang terbayangkan oleh cita saya.

Sama juga, saya ada, Anda ada. Ajaran Buddha tidak berkata bahwa kita tak ada. Yang kita bayangkan adalah cara mengada yang tidak mengacu pada kenyataan sama sekali. Paham? Bahwa segala sesuatu itu mengada secara mandiri tersendiri – itulah cara mengada yang mustahil. Paham? Segala sesuatu timbul dari sebab dan keadaan. Segalanya berubah setiap waktu, tapi kita tak melihat itu; kita hanya melihat apa yang ada di depan mata. "Temanku harusnya datang; temanku tadi tak datang," bagaimana itu tampak pada saya? "Dasar kau jahat, selalu mengecewakanku; kau tak menyayangiku lagi." Kita marah. Kita pikir hidup mereka itu ada tersendiri, terpisah dari kemungkinan adanya macet, adanya kerja lembur di kantor, adanya... bisa apa saja. Tapi ini timbul dari sebab dan keadaan, jadi tidak mungkin saja kalau dari mereka sendiri, tersendiri dari segala hal lain, mereka itu orang jahat. Tapi cita kita membayangkan hal itu. Kita gandeng erat bayangan itu, tak mau kita lepaskan. Itu membuat amarah, perasaan gelisah, dan kemudian pas kita bertemu orang itu di lain waktu, perilaku merusaklah yang muncul. Kita membentaknya, kita bahkan tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Kita hardik, "Ohhh," di sepanjang peristiwa itu kita merasa sengasara dan tak bahagia, kan?

Jadi, seperti itu pulalah contoh-contoh lainnya. Aku ada, tapi entah bagaimana tampak bagiku bahwa caraku mengada, terpisah sendiri dari setiap orang lainnya dan istimewa dan seterusnya – itu semua pembayangan semata. Sampah saja. Tidak mengacu pada suatu apapun yang nyata. Ketiadaan sesuatu hal yang nyata yang diacunya itu, ketiadaan itulah yang kita sebut kehampaan dalam ajaran Buddha. Kata dalam bahasa Sanskerta untuk itu sepadan dengan nol; bukan berarti ada kotak dan kotak itu kosong, itu konyol. Itu berarti "tiada": tidak mengacu pada sesuatu hal yang nyata. Tak ada, nol, tiada hal nyata yang diacunya. Anda tahu, kita bisa bayangkan bahwa orang ini, pasanganku ini, adalah pangeran atau putri sempurna di atas pelana kuda putih, orang sempurna seperti dalam dongeng. Itu tak mungkin. Tak ada satu orangpun yang mengada seperti itu, tapi kita selalu saja mencarinya. Paham? Kita selalu saja mencari pangeran atau putri itu dan kita membayangkannya ada pada seseorang dan kemudian ternyata orang itu tidak seperti itu, lalu kita kecewa dan mencari yang lain lagi. Paham? Itu cara mengada yang mustahil. Dan apa yang diacunya? Nol, tiada; itulah kehampaan, ketiadaan.

Jadi, jalan cita yang sebenarnya, pemahaman yang sebenarnya merupakan pemahaman bahwa ini sampah. Tak ada yang nyata yang diacunya. Nah, kalau Anda lihat sebab yang sebenarnya, sebab yang sebenarnya dari duka adalah percaya bahwa hal itu memang mengacu pada suatu hal yang nyata. Jalan yang sebenarnya adalah bahwa hal itu tak mengacu pada suatu hal yang nyata. Keduanya saling terpisah satu sama lain. Saya ulangi. Kebingungan itu adalah berpikir bahwa hal ini memang mengacu pada sesuatu yang nyata. Pemahaman yang benar adalah bahwa hal seperti itu tak ada. Ia tidak mengacu pada suatu hal apapun. Jadi, bila dipranatakan secara sederhana, ada dan tak ada, atau bahkan lebih tegas lagi, ada dan tak ada hal seperti itu. Keduanya ini saling terpisah satu sama lain. Ya atau tidak; Anda tak bisa ya sekaligus tidak.

Baik, sekarang, kita lihat, sekarang Anda yang telaah. Yang mana yang lebih kuat, "ya" atau "tidak"? Kalau saya telaah dengan mantik, tentu yang "tidak". "Ya" tampak tak sejalan dengan mantik. Apakah setiap orang berhenti mengada saat saya tutup mata? Tidak, tentu tidak. Apakah benar bahwa saya harus dapatkan mau saya, bahwa saya yang terpenting di dunia ini? Tidak, ini konyol namanya. Jadi, semakin kita selidiki, termasuk secara ilmiah, adakah si "aku" kecil yang bicara di dalam kepala saya? Di mana? Jika Anda telaah otak kita ini, di mana terletak proses pembuatan keputusan? Apa yang terjadi? Tak ada hal padat yang dapat ditemukan di sana seperti si "aku" tadi. Tentu, saya bergiat, saya mengerjakan segala sesuatu, saya bicara. Kita tak menyangkal itu, tapi yang kita sangkal ialah sesuatu yang cuma khayalan siang bolong, bahwa ada semacam sosok yang bersarang di kepalaku, "aku" "aku" "aku" itu dan "Harus dengan caraku". Jadi, sisi yang menyatakan bahwa tak ada hal semacam itu didukung oleh mantik, ia didukung oleh nalar, oleh penyelidikan; sementara sisi yang berkata kebingungan ini mengacu pada suatu hal yang nyata tidak didukung oleh apapun juga.

Lebih lagi, apa akibat dari pikiran bahwa aku ada dengan cara yang mustahil ini? Aku membuat diriku sengsara, tak bahagia. Apa akibat dari berpikir sebaliknya, bahwa tak ada hal semacam itu? Aku membebaskan diriku dari semua permasalahan ini. Di atas itu, ketika aku memusatkan perhatian pada "tak ada hal semacam itu, ini cuma sampah saja", aku tak bisa sekaligus berpikir bahwa hal ini mengacu pada suatu hal yang nyata. Jadi, pemahaman yang benar ini menggantikan yang salah. Jadi, kalau kita tetap memusatkan perhatian pada pemahaman yang benar setiap waktu, maka kebingungan itu, kesalahpahaman itu, takkan pernah muncul lagi.

Maka kemudian Buddha menggunakan ajaran-ajaran yang tidak dimiliki oleh ajaran Buddha semata. Anda mendapatinya ada pada tata India lainnya, tentang cara mendapatkan pemusatan perhatian yang sempurna, hal-hal semacam ini, dan lewat cara-cara, lewat apa yang disebut "meditasi", untuk mengakrabkan diri kita dengan pemahaman yang benar ini. Kemudian kita dapat mencapai penghentian yang sebenarnya dari sebab duka yang sebenarnya, dan itu berarti pula penghentian yang sebenarnya dari duka itu sendiri.

Dan hal yang akan menguatkan cita kita untuk mampu tetap bersama semua ini dan memutus habis kebiasaan merusak ini adalah dorongan. Dorongan memberi kita kekuatan cita untuk melakukan semua kerja keras yang dibutuhkan. Nah, di titik itulah masuknya kasih, welas asih, dan hal-hal ini. Karena kita semua saling terhubung, maka tentu, persis seperti saya ingin bahagia, semua orang lain pun demikian adanya. Dan kita semua setara dan kita semua saling terhubung. Dan jika saya sungguh ingin mampu menolong yang lain, maka saya harus mengenyahkan kebingungan ini. Jadi, inilah penyajian dasar dari Empat Kebenaran Mulia. Dan jika kita sungguh ingin memahami sedikit lebih dalam lagi tentang apa yang baru kita bicarakan ini, maka kita perlu belajar sedikit lebih banyak lagi tentang karma dan kelahiran kembali dan itu akan kita lakukan besok.

Nah, ada pertanyaan? Ya.

Peserta: [tak terdengar]

Alex: Biar saya ulangi. Kalau saya tidak keliru memahaminya, yang Anda tanyakan adalah, "Karena kita tidak tahu pasti akibat-akibat dari tindakan kita terhadap orang lain, apakah tak bertanggung jawab namanya jika kita bertindak karena kita tak tahu apa yang akan terjadi?" Ibu itu tadi berkata kalau kita bicara dalam kerangka tanggung jawab, itu berarti bahwa kita tahu terlebih dahulu apa yang akan terjadi maka saya akan bertanggung jawab untuk itu; atau sebaliknya, kita tak tahu maka jadi tak bertanggung jawab namanya, seperti dalam peristiwa orang yang menjual senjata pada siapa saja yang punya uang untuk membelinya, jadi kita tak tahu apa orang yang akan dilakukan dengan sejata itu, jadi kita tak bertanggung jawab dalam hal menjual senjata pada siapa saja yang punya uang untuk membelinya? Saya pikir kita perlu menggunakan akal sehat di sini.

Saya bisa berikan contoh tandingan untuk tindakan menjual senjata pada seseorang. Bagaimana dengan membiayai pendidikan seseorang? Misalnya, di banyak negara, saya tak tahu di Rumania ini bagaimana, tapi di banyak negara kuliah itu mahal, jadi katakanlah saya menanggung biaya pendidikan seseorang, memberinya dana yang dibutuhkan untuk kuliah. Saya tidak tahu apa yang akan orang itu lakukan saat kuliah nanti di perguruan tinggi. Dia bisa saja menggunakannya untuk main-main, tipu sana-sini, dan berbuat sesuatu yang amat merusak atau dia bisa saja melakukan hal yang amat membangun. Saya tak tahu. Jadi, saya pikir kita menggunakan akal sehat bahwa Anda tahu bahwa menolong seseorang untuk memperoleh pendidikan itu mungkin akan berguna bagi orang itu.

Saya tak tahu, menjual senjata pada seseorang... mungkin orang itu akan menggunakannya untuk mempertahankan dirinya kalau ada serangan dari orang barbar atau sejenisnya, tapi kemungkinannya itu jauh lebih berbahaya. Jadi, Anda gunakan akal sehat di sini dan niat Anda baik. Tapi, dalam hal tanggung jawab, saya pikir hal yang sungguh harus kita hindari adalah gejala rasa bersalah dan kepongahan ini. Saya bertanggung jawab atas dorongan saya dan adakah perasaan gelisah menyelimutinya: apakah dorongan itu baik, apakah dorongan itu negatif. Atas hal inilah saya bertanggung jawab dan atas ini pula saya akan mengalami ganjarannya, tapi bukan saya yang pegang kendali. Itu tak mungkin; saya yang pegang kendali atas apa yang terjadi itulah cara mengada yang mustahil. Saya bisa saja menolong seseorang tapi orang itu gagal mutlak. Saya tidak bersalah untuk hal itu. Dorongan saya baik; saya menolongnya. Dia gagal karena berbagai macam alasan dari sisi dia sendiri, dari unsur-sebab lain dan seterusnya; dan jika dia berhasil itupun oleh karena banyak anasir lain, bukan saya saja. Jadi, kita ikut serta dalam alur-kerja sebab-akibat di sini. Kita yang buat keadaan dan seterusnya, tapi inilah yang tak mungkin: bahwa satu hal, satu sebab, menghasilkan satu akibat. Itu tak mungkin. Akibat itu muncul dari sejumlah besar sebab dan keadaan, bukan satu saja. Paham? Dan coba saja pikir tentang keberhasilan dan kegagalan. Tentu saja keduanya terkait dengan ekonomi; terkait dengan masyarakat; terkait dengan sejuta hal, bukan hanya bahwa saya menolong orang ini supaya dia bisa kuliah. Jadi, inilah yang saya pikir jadi contoh tentang cara pikir dan telaah yang sesuai dengan ajaran Buddha yang akan membantu kita keluar dari masalah ini dan menghindari masalah rasa bersalah yang merupakan suatu tataran pikiran yang amat sangat tak membahagiakan.

Ya?

Peserta: [tak terdengar]

Alex: Biar saya ulangi untuk kepentingan rekamannya. Penanya tadi berkata kalau kita memahami bahwa cara berpikir bahwa aku istimewa, aku mengada secara mandiri terpisah dari setiap orang lain dsb. tidak mengacu pada suatu hal yang nyata, tidakkah itu akan menghilangkan kemampuan saya untuk berlaku secara mendasar sebagai orang perorangan dan mengerjakan segala hal yang perlu aku kerjakan? Baik, sisi lain dari pikiran "aku ada secara mandiri" – kita singkirkan hal itu dengan memahami bahwa tak ada yang mengada secara mandiri – jadi sisi lain dari "aku tidak mengada secara mendiri" adalah "aku mengada secara tergantung." Dengan begitu, pemahaman yang kita bicarakan dalam ajaran Buddha ini tidak menidakkan adanya "aku". Tentu saja ada "aku" dan ada "kamu", tapi kita harus memiliki pemahaman yang lebih makul.

Jadi, apa itu kenyataan. Kesejahteraan saya sepenuhnya saling-terhubung dengan kesejahteraan setiap orang lain. Coba lihat pemanasan global, pencemaran; itu bukan saja masalah saya atau masalah Anda, itu masalah setiap orang. Jadi, tentu dari hari ke hari kita perlu menjaga ada cukup makanan untuk keluarga kita dsb. tapi untuk melakukannya kita perlu bergantung pada setiap orang lainnya. Siapa yang tanam makanan kita? Siapa yang buat jalan? Siapa yang buat toko? Setiap hal datang dari kerja orang lain. Jadi pemahaman ini membuat kita jadi lebih makul dan malah jadi lebih mampu berbuat karena kita bertimbang rasa dengan setiap orang lain, bukan mementingkan diri sendiri saja.

Peserta: Ada satu dalil yang menyatakan bahwa kita saling-terhubung lewat seutas dawai atau sejenisnya... [tak terdengar]

Alex: Baik, ada satu dalil yang mengakui bahwa kita saling terhubung dengan setiap orang, tapi terhubung lewat semacam dawai yang tak dapat kita lihat. Maka, pertanyaannya: "Bagaimana saya memahami bahwa kita saling terhubung?"

Baik, jadi, orang tentu bisa melihat semesta ini sebagai medan tenaga yang berkelanjutan. Kita bicara ilmu pengetahuan, fisika, tak ada lubang-lubang... sebenarnya ada lubang-lubang hitam, tapi kita sisihkan dulu itu. Nah, pertama-tama, ajaran Buddha tidak berkata bahwa kita semua ini satu, bahwa kita semua merupakan bagian dari sup semesta yang akbar ini. Paham? Karena kemudian hal itu mempersukar orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri-sendiri. Paham? "Kita semua satu jadi saya bisa melakukan apapun yang saya mau padamu karena kita semua satu."

Jadi fakta bahwa kita semua memiliki semacam medan tenaga yang sama, kita ikut serta di dalamnya, itu merupakan satu cara melihat hal tersebut pada tingkat ragawinya. Namun ajaran Buddha melihat lebih dalam hal hubungan sebab-akibatnya, sebab dan keadaan. Saya akan pakai contoh pemanasan global; penambahan karbon dioksida dan gas-gas lainnya ke udara akibat ulah orang-orang dari seluruh dunia, hal itu mempengaruhi saya tentunya; dan perbuatan saya akan hal itu pun akan mempengaruhi orang lain. Tapi, kita tak harus membatasi pemahaman kita atas hubungan sebab-akibat hanya secara ragawi saja. Maksud saya, ada uraian yang amat rumit tentang sebab dan akibat dan bagaimana sebab dan akibat terhubung dan bertalian satu sama lain. Apakah seperti sebatang tongkat di antara dua bola dan satu bola jadi sebab dan bola yang lain jadi akibat? Dalam ajaran Buddha, jawabannya "tidak". Jadi kesalinghubungan kita dengan setiap orang tidak hanya dipahami di atas tataran ragawi atau tenaga saja, tapi juga di atas tataran sebab-akibat, karena bagaimanapun yang kita alami sekarang adalah akibat dari perbuatan setiap orang di masa lalu, jauh ke awal adanya kehidupan di planet ini.

Peserta: [tak terdengar]

Alex: Baik, biar saya ulangi. Tampaknya ada dua bagian dari yang Anda katakan. Yang pertama ialah bahwa Anda membaca sebuah buku berjudul, Menggugah Buddha di Dalam Diri; tampaknya buku itu menyiratkan bahwa meditasi Buddha berkisar kuat pada pemeriksaan di dalam diri, menengok apa yang ada di dalam diri kita, bukan di luar.

Ah, tentu saja banyak dari laku Buddha merupakan upaya mengurai kebingungan di dalam diri kita sendiri, mengurai perasaan gelisah, dari mana datangnya perasaan itu, di mana letaknya kebingungan itu. Tentu memang demikian; tapi begitu kita memahami diri kita dan kita memahami betapa aku menciptakan permasalahanku sendiri dari kebingunganku, maka kita dapat mengerti betapa orang lain menciptakan permasalahan mereka sendiri karena kebingungan mereka. Maka jika mereka berlaku secara celaka, jika mereka marah padaku, ini membuat kita mampu mengatasi kecenderungan untuk berpikir, "Oh, dia ini orang jahat." Kita paham mereka orang-orang yang bingung dan karena itu mereka adalah sasaran bagi welas asih.

Dan, saya belum membaca buku itu, tapi "Buddha di dalam diri" biasanya mengacu pada apa yang kita sebut dengan "sifat-Buddha". Dan sifat-Buddha ini mengacu pada fakta bahwa kita semua memiliki anasir-anasir di dalam diri kita, sebagai bagian dari sifat cita, yang memampukan kita untuk menjadi seorang Buddha. Bukan sekadar daya; daya untuk menjadi Buddha itu merupakan bagian daripadanya. Daya merupakan bagian darinya, kita memang memiliki daya tersebut. Maksud saya, hati ini punya kemampuan untuk mengasihi setiap orang secara setara. Kita punya daya tersebut, tapi juga lebih dalam lagi, ia mengacu pada fakta-fakta. Fakta bahwa cita ini tidak di dalam dirinya sendiri ternoda oleh kebingungan.

Nah, pertanyaan kedua Anda tentang Tuhan. Baik, ada banyak hal yang bisa dikatakan tentang hal itu. Ada segala macam tuhan, tuhan-tuhan Yunani, tuhan-tuhan Hindu, dan Tuhan Barat, dsb. Apakah ajaran Buddha percaya bahwa ada makhluk-makhluk semacam itu? Ya. Tapi ajaran Buddha percaya bahwa ada banyak jenis wujud kehidupan, bukan hanya yang bisa kita lihat. Tapi saya yakin bukan itu yang Anda tanyakan. Nah, jika kita lihat Tuhan seperti dipahami dalam "agama-agama Abraham", seperti agama Yudea, Kristen, dan Islam, maka yang ditolak oleh agama Buddha adalah "pencipta". Semua sifat Tuhan yang lainnya akan diterima oleh agama Buddha dalam satu atau lain bentuk. Adakah tatanan di dalam semesta ini? Ya. Adakah kasih di dalam semesta ini? Ya. Adakah makhluk-makhluk lebih tinggi yang berwelas asih pada kesejahteraan semesta ini? Ya; mungkin tidak disebut "Tuhan", tapi ya ada. Apakah hal ini melampaui kata-kata, melampaui gagasan-gagasan, melampaui nama-nama? Ya. Tapi dengan semua itu, semua sifat ini, dan kemudian ditambah juga gagasan bahwa inilah pencipta yang ada secara terpisah dari semua ciptaannya? Itu tak masuk akal.

Ajaran Buddha lebih mengarah ke ketunamulaan, tak ada permulaan. Paham? Big-bang, itu cuma satu semesta saja, yang ini, tempat kita kebetulan hidup di dalamnya, tapi ada banyak big-bang yang lain dan tidak ada permulaan yang mutlak. Paham? Dengan kata lain, kalau segala sesuatu berlaku menurut sebab dan akibat, bagaimana mungkin ada sesuatu sebelum itu? Bagaimana mungkin ia bermula dari ketiadaan? Ia tak bisa bermula dari ketiadaan. Maksud saya, jika Anda terlibat dalam sebuah hubungan sebab-akibat, Anda tidak terpisah daripadanya. Dan, rancangan cerdas, dengan kata lain, ada tatanan di semesta ini maka pasti ada seseorang yang telah merencanakannya, mengapa? Tak ada keperluan nalariahnya. Hanya karena ada tatanan di dalam semesta ini maka pasti ada seseorang yang telah memikirkannya? Ada tatanan di semesta ini karena segala sesuatu berjalan, berlaku. Kalau tidak berjalan dan berlaku, tidak akan ada tatanan di semesta ini. Jadi, mengapa butuh sesuatu dari luar sana untuk merencanakannya dan memutuskan apa jadinya? Maka ajaran Buddha pada dasarnya mengatakan bahwa ciri khusus tersebut, penciptaan itu, tidak ada. Nah, entah itu Anda mau menggunakan kata "Tuhan", entah itu Anda menginginkannya untuk semua sifat yang lainnya, tak jadi masalah.

Peserta: [tak terdengar]

Alex: Biar saya rangkum pertanyaan Anda untuk kepentingan rekamannya. Anda bilang Anda sedang mengalami sebuah kemelut, diliputi kekhawatiran; orang-orang di sekitar Anda khawatir. Anda tanggung sendiri kekhawatiran itu dan cara Anda menghadapinya adalah menenangkan diri dalam meditasi, dan ketika sudah tenang, Anda kembali dan tenaga Anda telah pulih kembali. "Menurut saya bagaimana?"

Ada banyak, banyak cara yang digunakan dalam ajaran Buddha. Yang tampaknya Anda gambarkan itu seperti cara sementara untuk menanganinya; sementara waktu, hal itu membantu menenangkan dan kemudian tenaga Anda pulih untuk menghadapinya kembali, tapi permasalahannya tidak hilang. Ada laku-laku ajaran Buddha dalam mana Anda membayangkan diri mengangkat duka dan permasalahan dari pundak orang lain dan menggantinya dengan kasih. Anda biasanya dengar sebutannya dalam bahasa Tibet: tonglen. Itu laku yang dengan tingkat yang amat lanjut. Nah, Anda bisa saja berpura-pura melakukannya, tapi sungguh-sungguh melakukannya itu lain cerita; sungguh-sungguh melakukannya itu berarti aku angkat dan tanggung sendiri dukamu.

Nah, jika masalah orang lain itu adalah bahwa ia bodoh dan aku tanggung sendiri kebodohan setiap orang itu, apa itu berarti aku duduk di sini seperti seorang dungu? Bodohkah aku? Tidak; yang kita lakukan adalah... karena Anda sebetulnya tak bisa menanggung permasalahan orang lain begitu saja. Maksud saya kalau bisa, Buddha pasti telah melakukan hal itu dan tak seorangpun yang masih akan didera masalah atau duka. Yang kita kembangkan adalah semangat untuk menghadapi permasalahan orang lain seolah itu permasalahan kita sendiri. Jadi kita hadapi masalah itu; gunakan contoh "masalah apapun sesungguhnya merupakan masalah yang sama di mana-mana". Tak seorangpun punya masalah yang begitu istimewa, yang seakan terjadi hanya pada diri mereka saja; maksud saya jenis seperti... misalnya mereka bermasalah dengan hubungan mereka; setiap orang punya masalah dalam hubungan-hubungan mereka. Mereka punya masalah dengan anak-anak mereka. Mereka punya masalah dengan pekerjaan mereka; setiap orang sama saja. Rinciannya tak jadi perkara di sini; masalah ekonomi – setiap orang ada di perahu yang sama. Baik, jadi kita hadapi masalah itu. Itu berarti bahwa aku kini akan menghadapi masalah ini.

Anda bilang contohnya adalah kemelut ekonomi yang dialami dunia sekarang ini. Nah, sekalipun semua uang yang ada di setiap pemerintahan yang ada di dunia ini milik Anda, Anda tak dapat menyelesaikan masalahnya pada tataran ragawi seperti itu saja. Jadi, cobalah untuk menyelesaikan masalah itu di atas beberapa tataran. Ada tataran batin, tataran perasaan; jadi di satu tataran Anda hadapi rasa sakit perasaan karena kehilangan pekerjaan dan menghadapi kesukaran ekonomi. Itu satu tataran; menghadapi "Aku kehilangan pekerjaanku, bagaimana anak-anakku akan kunafkahi?"; dan tataran lainnya ialah "Pertama-tama, tabiat seperti apa yang menciptakan masalah ini? Apakah keserakahan atau semacamnya?"

Baik, jadi kita hadapi masalah itu. Anda biarkan ia melarut, melarut dalam artian bahwa Anda tahu hal itu bukanlah sesuatu hal serupa raksasa mengerikan. Paham? Jadi, bongkarlah. Dan di lain pihak, Anda lihat bagaimana hal itu muncul, mengapa muncul, dan coba pikirkan bila keserakahan itu tidak ada dan bayangkan bahwa ini terjadi pada setiap orang. Sederhananya, keserakahan menyebabkan masalah ini terjadi; jadi Anda bongkar masalah padunya. "Oh, mengerikan" dan masalah itu menerkam Anda dan Anda tak sanggup menghadapinya. Jadi ketika Anda bisa melihat bahwa ia muncul dari keserakahan, maka jalan keluar untuk mencegah hal tersebut terjadi di masa mendatang adalah bahwa orang-orang lebih perhatian terhadap lingkungan, tidak membeli hal-hal di luar kebutuhan, tidak serakah dan ingin lebih, lebih, dan lebih banyak uang lagi.

Dalam bayangan kita, kita menjadikan masalah ini suatu hal yang padu; masalah yang mengerikan ini. Karena itu Anda jadi tertekan. Tiada yang mengada seperti itu. Ia muncul karena ada sebab dan keadaan; jadi kalau kita mengubah keadaannya, berubah pulalah ia. Dan kemudian kita hadapi pengharapan orang lain, standar hidup yang lebih renda, dsb. Bagaimana Anda sungguh-sungguh menghadapi hal ini? Orang-orang menggabungkan sumber-daya mereka bersama-sama. Jadi, maksud saya, Anda berpikir dalam kerangka hal yang menjadi cara rasa terbaik bagi orang-orang untuk menghadapinya. Seperti itu.

Omong-omong, sekarang sudah semakin larut, jadi mari kita akhiri di sini dan kita akhir dengan sebuah "persembahan". Kita pikirkan apapun pemahaman, apapun tenaga positif yang telah muncul dari hal ini, semoga ia masuk lebih dan lebih dalam dan berlaku sebagai sebuah sebab untuk menggapai... semoga kita semua menggapai tataran seorang Buddha sehingga kita dapat menjadi pertolongan terbaik bagi setiap orang.