Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Pengantar Ajaran Buddha > Pokok-Pokok Utama Mengenai Meditasi > Babak Dua: Pendahuluan Menuju Meditasi

Pokok-Pokok Utama Mengenai Meditasi

Alexander Berzin
Kiev, Ukraina, September 2011

Babak Dua: Pendahuluan Menuju Meditasi

Lingkungan yang Menunjang Meditasi

Untuk benar-benar masuk ke dalam meditasi, kita membutuhkan keadaan-keadaan yang menunjang kelancarannya. Ada banyak daftar anasir yang akan menunjang meditasi, namun kesemua ini biasanya dibahas atau disajikan dalam lingkung meditasi yang dilakukan dalam sebuah undur-diri, padahal sebagian besar dari kita melakukan meditasi di rumah.

Di rumah sekalipun, hal yang akan sangat berguna bagi meditasi kita adalah tiadanya gangguan. Lingkungannya mesti setenang mungkin. Banyak dari kita yang tinggal di pinggir jalan raya yang ramai, dan karenanya bermeditasi di pagi buta atau larut malam, saat lalu-lintas lengang, jadi lebih baik. Selain itu, sebaiknya pula tidak ada musik atau televisi di ruang sebelah lingkungan meditasi kita. Hal-hal semacam ini cukup penting. Jika lingkungan yang tenang tidak memungkinkan, maka coba gunakan sumbat telinga. Sumbat telinga mungkin tidak sepenuhnya menghalau masuknya suara bising, tapi tentu akan membuat suara bising itu sedikit reda.

Banyak dari kita yang tidak mampu memiliki ruang meditasi tersendiri. Anda dapat gunakan ruang apapun yang tersedia. Meditasi di atas tempat tidur, jika harus, tidak jadi masalah. Sebagian besar orang Tibet di India bermeditasi di atas tempat tidur mereka.

Anasir lain yang cukup penting adalah ruangan yang bersih dan rapi. Kalau lingkungannya bersih dan rapi, itu dapat mempengaruhi cita supaya bersih dan rapi pula. Kalau ruangannya urakan, berantakan, atau kotor, cita kita cenderung kacau juga. Karena itu, salah satu pendahuluan yang selalu menjadi syarat sebelum meditasi adalah membersihkan ruang meditasi, dan membuat semacam sesaji, sekalipun hanya secangkir air putih saja. Kita mau menunjukkan rasa hormat atas apa yang sedang kita lakukan, dan jika kita berpikir untuk mengundang hadirnya para Buddha dan bodhisatwa, maka kita mesti mengundang mereka ke sebuah ruang yang bersih, bukan yang berantakan atau kotor. Bahkan pada tataran kejiwaan yang biasa sekalipun, penting sekali untuk memiliki rasa hormat pada apa yang sedang kita lakukan, dan memperlakukannya sebagai suatu hal yang istimewa. "Istimewa" bukan berarti menciptakan sebuah lingkungan yang wah, seperti latar ruang untuk film Hollywood dengan dupa dan lilin, tapi cukup sederhana, biasa, rapi, bersih, dan penuh rasa hormat saja.

Sikap Tubuh

Di seluruh budaya Asia yang beragam, sikap tubuh yang digunakan orang untuk meditasi itu bermacam-macam. Sikap tubuh meditasi di India/Tibet, Cina/Jepang, dan Thailand semuanya berbeda. Mereka duduk dengan sikap tubuh yang berbeda, jadi kita tidak bisa bilang bahwa satu jenis sikap tubuh itu adalah satu-satunya yang benar. Orang India dan Tibet duduk dengan kaki bersila. Seringnya, orang Jepang, dan sebagian orang Cina, duduk bersimpuh. Orang Thailand duduk dengan kaki mereka ditekuk ke samping. Untuk laku tantra, yang di dalamnya kita berupaya dengan tenaga-tenaga raga, dibutuhkan sikap tubuh padmasana (rdo-rje skyil-krung), tapi sebagian besar dari kita tidak berada di tingkat laku tersebut. Jika Anda bercita-cita untuk mampu melakukan jenis laku tersebut, amat dianjurkan supaya Anda, mulai dari sejak awal sekali, duduk dalam sikap padmasana, karena sukar sekali untuk mulai menggunakan sikap padmasana di waktu lanjut dalam hidup kita. Untuk orang-orang Barat, jika Anda dapat duduk dengan sikap tubuh yang manapun dari sikap tubuh yang dilakukan dalam adat Asia ini, itu bagus sekali; jika tidak, duduk di kursi pun boleh. Pokok terpenting ialah bahwa punggung Anda tegak lurus.

Mengarahkan Pandangan

Mengenai mata, beberapa meditasi dilakukan dengan mata tertutup, beberapa dengan mata terbuka, beberapa dengan mata melihat ke bawah, beberapa dengan mata menengadah; tergantung pada meditasinya sendiri. Umumnya, orang Tibet tidak bermeditasi dengan mata tertutup. Selain karena akan lebih mudah tertidur ketika mata tertutup, sikap itu juga cenderung akan memunculkan rintangan batin – Anda merasa bahwa untuk bermeditasi, Anda harus menutup mata. Jika Anda merasa bahwa Anda harus menutup mata untuk bermeditasi, akan jadi lebih sulit untuk menyatukan hal yang Anda kembangkan dalam meditasi ke dalam kehidupan nyata. Contohnya, jika saya sedang berbicara dengan seseorang, dan untuk membangkitkan rasa kasih saya harus menutup mata – jadinya aneh. Maka, dalam adat Tibet, untuk sebagian besar meditasi, kita menjaga mata setengah terbuka, dengan bidikan longgar, menatap ke bawah lantai.

Alas Duduk

Jika Anda duduk bersila, penting untuk memilih alas duduk/bantal yang cocok. Ada orang yang bisa duduk nyaman di lantai, dan kaki mereka tidak kebas. Yang Mulia Dalai Lama, misalnya, duduk seperti itu saat ia mengajar. Tapi untuk kebanyakan kita, jika kita duduk tanpa bantal, kaki kita lebih cepat terasa kebas. Jadi Anda bisa mencoba duduk dengan bantal sebagai alas, supaya paha lebih tinggi dari lutut. Anda perlu memilih jenis bantal yang terbaik untuk Anda: tebal atau tipis, keras atau empuk, dan seterusnya. Tiap orang berbeda-beda. Pokok yang terpenting ialah bahwa Anda merasa nyaman, dan bantal Anda mencegah kaki Anda kebas, karena hal itu akan terasa amat tidak menyenangkan.

Banyak pusat-pusat ajaran Buddha yang menggunakan bantal zafu tebal yang bundar atau persegi, tapi bantal zafu Zen tersebut dimaksudkan untuk sikap duduk bersimpuh gaya Jepang. Bantal zafu tebal tidak cocok untuk duduk bersila karena terlalu tinggi. Mungkin sebagian orang bisa duduk bersila dengan nyaman di atas bantal zafu ini. Tapi untuk sebagian besar orang, bantal tersebut terlalu tinggi dan terlalu keras. Jika pusat ajaran Anda hanya menyediakan bantal zafu tebal, dan Anda duduk dengan sikap bersila, Anda mungkin perlu membawa bantal Anda sendiri.

Memilih Waktu Bermeditasi

Bagi sebagian besar orang, meditasi paling baik dilakukan sebagai kegiatan pertama di pagi hari atau terakhir di malam hari, sehingga gangguan kegiatan harian akan lebih sedikit. Sebagian besar orang merasa lebih terjaga di pagi hari, dan yang lain di malam hari – yang biasa disebut "manusia pagi" dan "kelelawar malam". Anda mengenal diri dan gaya hidup Anda lebih baik dari orang lain, sehingga Anda bisa menentukan mana waktu yang terbaik. Yang sangat tidak dianjurkan adalah bermeditasi ketika mengantuk. Kalau Anda mengantuk di malam hari, tapi Anda mencoba bermeditasi sebelum tidur, Anda bisa tertidur di tengah meditasi, dan itu jadi tak berguna sama sekali. Dan sebaliknya di pagi buta: jika Anda masih setengah bangun, meditasi Anda akan jadi tidak sangkil sama sekali. Jadi silakan Anda nilai sendiri mana yang terbaik. Tidak masalah jika Anda minum kopi atau teh terlebih dahulu sebelum meditasi di pagi hari, meskipun orang Tibet sendiri tidak melakukan kebiasaan itu.

Guru saya, Serkong Rinpoche, adalah salah satu guru bagi Yang Mulia Dalai Lama. Ia menggambarkan bagaimana mereka bermeditasi di wihara-wihara perguruan tantra di Tibet tempatnya berlatih. Semua biksu duduk di aula meditasi, dan mereka akan tidur di sana, duduk di tempat mereka, seperti menyandarkan kepala mereka di pangkuan teman sebelahnya. (Orang Tibet tidak risih dengan sentuhan badan.) Lonceng berdentang membangunkan mereka pagi-pagi sekali, dan mereka diminta untuk duduk tegak dan memulai meditasi mereka, pendarasan mereka, dan seterusnya. Kecuali Anda seorang dokter yang terbiasa dibangunkan di tengah malam dan langsung bangkit dan mengerjakan operasi bedah, atau sejenisnya, akan sangat sukar sekali untuk mulai bermeditasi langsung setelah bangun dari tidur.

Berapa Lama Kita Bermeditasi

Jika Anda baru saja memulai laku meditasi, juga penting bagi Anda untuk melakukannya dengan singkat tapi kerap. Sebagai pemula, mencoba duduk dan bermeditasi selama berjam-jam bisa jadi amat menyiksa. Di beberapa tempat mereka memang melakukannya, tapi secara umum orang Tibet tidak menganjurkannya karena jika meditasi dianggap siksaan, Anda tidak akan mau melakukannya! Anda akan menanti-nanti kapan meditasi itu selesai. Jadi untuk awalan, bermeditasilah selama sekitar lima menit – itu saja sudah cukup. Di wihara-wihara Theravada, mereka mengganti meditasi duduk dengan meditasi berjalan, jadi mereka tidak melakukan kegiatan yang sama untuk waktu yang lama.

Perumpamaan yang digunakan orang Tibet itu seperti ini: kalau seorang teman sedang berkunjung, dan ia tinggal terlalu lama, Anda jadi tak sabar menanti kapan ia pergi. Dan setelah ia pergi, Anda jadi tidak penasaran untuk bertemu dengannya lagi. Tapi jika teman tadi pergi justru ketika Anda ingin lanjut menghabiskan waktu bersamanya, maka Anda akan senang sekali untuk segera bertemu dengannya lagi di lain waktu. Demikian juga, sikap tubuh meditasi kita, tempat duduk meditasi, dan waktu meditasi kita sebaiknya menyamankan kita, sehingga kita akan menyukai laku meditasi kita.

Mengatur Niat

Sebelum bermeditasi, penting bagi Anda untuk mengatur niat Anda. Malah, mengatur niat ini merupakan sesuatu yang dianjurkan untuk dilakukan segera setelah Anda membuka mata pertama sekali di pagi hari. Segera setelah Anda bangun, selagi masih di atas tempat tidur, Anda dapat mengatur niat Anda untuk hari itu. Bisa seperti: "Hari ini aku akan mencoba untuk tidak marah. Aku akan mencoba untuk lebih bertenggang rasa. Aku akan mencoba untuk mengembangkan lebih banyak rasa positif lagi terhadap yang lain. Aku akan mencoba membuat hari ini menjadi hari yang berarti, dan tidak menyia-nyiakannya."

Ada satu koan Zen luar biasa yang amat saya sukai: "Kematian bisa datang kapanpun: Santai saja." Kalau Anda renungkan, itu pemikiran yang amat mendalam. Jika Anda tegang, jika Anda sangat gugup dan gusar karena kematian bisa datang sewaktu-waktu, Anda tidak akan mampu menyelesaikan apapun. Anda mungkin berpikir: "Belum cukup yang kulakukan. Aku masih kurang bagus lagi." Tapi jika Anda tahu bahwa maut bisa datang kapan saja, dan Anda santai menyikapinya, maka Anda akan melakukan apapun yang Anda bisa, secara berarti dan makul, tanpa cemas, gugup, atau tegang. Jadi ingatlah bahwa kematian bisa datang kapanpun, dan santai saja!

Sebelum bermeditasi, kita mengatur niat kita: "Aku akan mencoba untuk bermeditasi selama sekian menit. Aku akan mencoba memusatkan perhatian. Kalau aku merasa mulai mengantuk, aku akan gugah diriku. Kalau perhatianku melantur, aku akan coba memusatkannya kembali. Anggap hal ini dengan sungguh-sungguh, jangan hanya kata-kata di mulut saja – cobalah untuk benar-benar menjaga niat itu dalam cita Anda, dan ikutilah. Menjaga niat itu bisa jadi sulit sekali. Kalau Anda jadi punya kebiasaan buruk menggunakan waktu meditasi Anda untuk memikirkan soalan-soalan lain, sekalipun soalan itu adalah gagasan Dharma yang lain, itu bakal jadi kebiasaan yang sukar dihilangkan. Saya bicara ini berdasarkan pengalaman: hal itu merupakan kebiasaan yang sukar dihilangkan, jadi cobalah untuk mengatur, dan mengikuti, niat yang benar sebelum Anda bermeditasi.

Dorongan

Berikutnya, dorongan. Dalam lingkung Buddha Tibet, dorongan ada dua bagian. Bagian pertama ialah tujuan: Apa yang kita coba capai? Tujuan-tujuan bakunya digambarkan dalam "tingkat bertahap jalan batin" (lam-rim). Seperti yang digambarkan di dalam lam-rim, tujuan-tujuannya adalah: (a) meningkatkan kehidupan di masa depan, (b) memperoleh pembebasan penuh dari kelahiran kembali, dan (c) mencapai pencerahan sehingga dapat menolong setiap yang lain untuk memperoleh pembebasan dari kelahiran kembali.

Saat merenungkan dorongan Anda, jujur pada diri sendiri itu amat penting. Apakah Anda sungguh percaya pada kelahiran kembali? Sebagian besar dari kita tidak. Karena itu, mengatakan bahwa "Aku melakukan ini untuk memastikan bahwa aku memperoleh kelahiran kembali yang berharga sebagai manusia di kehidupanku yang mendatang", atau "Aku melakukan ini supaya bebas sepenuhnya dari kelahiran kembali", atau "Aku melakukan ini supaya tercerahkan sehingga aku dapat menolong setiap yang lain untuk bebas dari kelahiran kembali" – semua itu hanyalah kata-kata kosong belaka kalau kita tidak percaya pada kelahiran kembali. Jika kita melakukan meditasi sebagai bagian dari yang saya istilahkan dengan "Dharma-sari", itu boleh saja, tapi kita harus jujur pada diri kita. Anda tak perlu memberitahukannya pada orang lain, yang penting jujurlah pada diri sendiri tentang dorongan Anda: "Aku melakukan ini untuk memperbaiki keadaanku di masa hidupku yang sekarang ini." Boleh saja; itu jadi dorongan yang sah, selama Anda jujur tentang hal itu. Di lain pihak, penting pula untuk menaruh rasa hormat pada tujuan-tujuan jangka panjang yang asli dalam ajaran Buddha, dan tidak berpikir bahwa laku ajaran Buddha hanyalah untuk memperbaiki segala sesuatu di masa hidup yang sekarang ini.

Bagian pertama dari dorongan tersebut adalah: Apa yang kita tuju? Bagian keduanya ialah perasaan di baliknya, yang mendorong kita ke arah itu. Contohnya: "Aku mau memperoleh kelahiran kembali yang berharga sebagai manusia di kehidupan-kehidupan mendatang (tujuannya) karena betapa mengerikannya bagiku jika harus terlahir kembali sebagai seekor lalat, atau kecoa, atau kelahiran kembali yang lebih rendah (perasaannya). Aku betul-betul mau menghindari kelahiran kembali yang lebih rendah, dan aku yakin bahwa ada cara untuk menghindari hal itu." Ini bukan jenis rasa takut yang melumpuhkan, seperti "Keadaan ini sudah tak bisa diapa-apakan lagi. Aku tak berdaya," tapi justru semacam pemahaman bahwa "Aku benar-benar tak menginginkannya, dan aku tahu ada cara untuk menghindarinya." Mirip dengan rasa takut mengalami kecelakaan saat berkendara – saya akan berhati-hati, tapi saya juga tidak dilumpuhkan oleh rasa takut itu sehingga tak mau mengemudi sama sekali.

Contoh dorongan yang lain adalah "Aku jijik, bosan, dan muak betul dengan semua penderitaan yang ada duka kelahiran kembali (perasaannya) dan aku ingin lepas (tujuannya). Hakikat dari perasaan di balik penyerahan adalah "Betapa membosankannya menjadi bayi lagi, belajar segala hal dari awal lagi, harus menjalani pendidikan lagi dan mencari cara memperoleh nafkah lagi. Repot sekali kalau harus sakit dan jadi tua lagi dan lagi. Rasanya seperti nonton film jelek berulang-ulang kali. Betapa membosankan. Cukup sudah!" Dorongan untuk bodhicita, menjadi tercerahkan, adalah bahwa aku tersentuh oleh rasa welas asih: "Aku tak bisa melihat setiap orang menanggung duka yang sarat. Aku harus bisa mencapai tingkat yang memampukanku menolong orang lain mengatasi duka."

Jadi dorongan itu mencakup sebuah tujuan, dan suatu alasan perasaan tentang mengapa kita ingin mencapai tujuan tersebut. Dorongan juga meliputi apa yang akan kita perbuat begitu kita mencapai tujuan itu: "Dengan kelahiran kembali yang berharga sebagai manusia yang aku miliki, aku akan berupaya mencapai pencerahan." Ketika kita menjalankan laku dalam aliran Mahayana, tiap-tiap dari tiga tingkat dorongan tersebut berada pada lingkung upaya mencapai pencerahan sebagai tujuan puncak. Tingkat dorongan yang pertama adalah "Aku ingin memperoleh kelahiran kembali yang berharga sebagai manusia untuk melanjutkan jalan menuju pencerahan, karena akan butuh banyak masa hidup untuk meraih tujuanku ini." Tingkat dorongan yang kedua adalah "Aku ingin memperoleh pembebasan dari karma dan perasaan-perasaan gelisah, karena aku tak bisa menolong yang lain kalau aku marah pada mereka, kalau aku melekat pada mereka, atau kalau memiliki berperilaku gandrung. Aku tak bisa benar-benar menolong yang lain kalau aku merasa sombong dan pongah tentang hal itu. Jadi aku mesti memperoleh pembebasanku sendiri." Dan akhirnya, dorongan tertinggi adalah "Aku ingin memperoleh pencerahan sehingga aku memiliki pengetahuan yang lengkap tentang cara terbaik untuk menolong tiap-tiap orang."

Dorongan itu amat penting. Tsongkhapa menekankan bahwa dorongan itu merupakan sesuatu yang perlu kita miliki di sepanjang hari, bukan hanya di awal babak meditasi kita. Dan dorongan tersebut jangan hanya berupa kata-kata manis saja; kita harus sungguh-sungguh dengannya. Dan sungguh-sungguh itu artinya apa? Artinya ialah bahwa kita telah menyelami dorongan itu dengan begitu menyeluruh, lewat laku meditasi, sehingga dorongan itu merupakan perasaan alami nan asli, dan menjadi satu kesatuan dengan cara kita menjalani hidup sehari-hari.

Menenangkan Diri sebelum Meditasi

Begitu kita telah menciptakan lingkungan ragawi yang benar dan mengatur dorongan kita, kita perlu menenangkan diri. Seringnya itu dilakukan dengan semacam meditasi pernapasan, seperti menghitung napas. Selain menghitung napas, ada beragam latihan yang lebih rumit, yang dapat kita lakukan dengan napas kita.

Laku Tujuh-Dahan

Kerap dianjurkan bahwa kita membina tenaga positif pada awal meditasi, dan untuk hal itu kita gunakan apa yang dikenal sebagai "doa tujuh-dahan", atau "laku tujuh-dahan". Dalam lingkung ini, "dahan" berarti "langkah".

(1) Sujud-sembah, dengan Berlindung dan Bodhicita

Dahan pertama adalah sujud-sembah, yang berarti menunjukkan rasa hormat pada mereka yang telah mencapai pencerahan; menunjukkan rasa hormat pada pencerahan kita sendiri di masa depan, yang kita tuju dengan bodhicita; dan menunjukkan rasa hormat pada sifat-Buddha kita, yang akan memampukan kita mencapai tujuan itu.

(2) Sesaji

Langkah kedua adalah membuat sesaji, yang juga berarti menunjukkan rasa hormat.

(3) Mengakui Kekurangan

Berikutnya adalah secara terbuka mengakui kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan kita. Ini tidak berarti merasa bersalah akan kesalahan-kesalahan kita; rasa bersalah tidak cocok. Rasa bersalah itu artinya berpegang pada perbuatan yang pernah kita lakukan dan mencap tindakan itu sebagai tindakan buruk; berpegang pada diri kita sendiri dan mencap diri kita sebagai diri yang buruk karena pernah melakukan tindakan itu, dan tak mau lepas dari hal itu. Ibarat tak mau membuang sampah, dan malah tetap menyimpannya di rumah sambil berpikir: "Sampah ini gawat sekali. Baunya menyengat." Alih-alih perasaan bersalah, dahan yang ketiga adalah menyesali kesalahan-kesalahan kita: "Aku menyesali tindakan-tindakanku, dan aku akan berupaya sebaik mungkin untuk tidak mengulanginya. Aku akan berupaya sebaik mungkin untuk mengatasi kekurangan-kekuranganku."

(4) Bersukacita

Langkah keempat ialah bersukacita atas hal-hal positif yang telah kita dan yang lain lakukan, sehingga kita memiliki sikap yang lebih positif terhadap diri kita sendiri dan terhadap yang lain.

(5) Memohon Ajaran

Kemudian kita memohon para guru dan para Buddha untuk mengajar kita: "Tolong ajari saya senantiasa. Saya terbuka dan akan menerima."

(6) Memohon Para Guru untuk Tidak Berlalu

Dahan berikutnya ialah: "Jangan pergi. Jangan berlalu. Saya sungguh betul mau belajar, dan saya mohon Anda tetap bersama saya."

(7) Persembahan

Terakhir, persembahan. Persembahan itu dapat dipahami sebagai tindakan mengarahkan tenaga sedemikian rupa. Kita berpikir: "Apapun daya positif, apapun pemahaman yang telah terbina, semoga semua itu punya andil dalam upayaku mencapai niatku." Perumpamaan yang suka saya gunakan itu seperti menyimpan pekerjaan kita di sebuah komputer. Kalau kita tidak menyimpannya di sebuah map yang khusus, map "Pembebasan" atau "Pencerahan", maka setelan dasarnya adalah bahwa pekerjaan kita dengan sendirinya akan disimpan di map "Memperbaiki Samsara". Menyimpan pekerjaan kita di dalam map "Memperbaiki Samsara" itu boleh, tapi kalau itu bukan tujuan kita, kalau kita ingin pekerjaan kita masuk hitungan dalam upaya memperoleh pembebasan atau memperoleh pencerahan, maka kita mesti dengan sengaja menyimpannya di dalam map "Pencerahan". Itulah persembahannya. Dan kita sungguh-sungguh; bukan hanya sebatas ucapan saja. Kita mempersembahkan tenaga positif dengan perasaan di baliknya, dengan welas asih, dsb.

Setelah doa tujuh-dahan ini selesai, barulah kita memulai meditasi kita, dan di akhir meditasi itu, kita membuat persembahan lain.

Kesimpulan

Anda bisa lihat bahwa meditasi merupakan suatu jalan yang amat pelik, dan arahan-arahan cara melakukannya pun cukup teliti. Di sini saya baru memberikan arahan-arahan umumnya saja; masing-masing meditasi akan memiliki arahannya tersendiri. Amat sangat penting untuk mengetahui apa yang kita lakukan, bagaimana kita melakukannya, dan mengapa kita melakukannya.

Ada beberapa aliran Buddha, seperti aliran Zen, yang bilang, "Duduklah, bermeditasilah, dan Anda akan mengetahuinya sambil jalan." Walau ini mungkin bisa berhasil untuk sebagian orang, bisa juga bagi sebagian yang lain ini cukup sukar. Banyak orang mendapati bahwa pendekatan itu amat sulit. Karena itu, yang saya sajikan ini adalah meditasi yang berasal dari aliran Indo-Tibet.

Tanya-Jawab

Tanya: Ketika Anda menjelaskan jenis-jenis meditasi tadi, ada tiga jenis. Salah satunya adalah pemusatan perhatian. Dan semuanya, lebih kurang, melibatkan kegiatan batin. Pertanyaan saya: Apakah mungkin mencapai tingkat meditasi tinggi – seperti dari shamatha ke vipashyana ke tantra dan dzogchen – tanpa mengembangkan pemusatan perhatian dengan shamatha terlebih dahulu?

Alex: Saya rasa tidak bisa. Saya rasa semua arahan dan panduan meditasi yang beragam yang telah saya baca atau dengar mensyaratkan bahwa kita mesti mengembangkan pemusatan perhatian terlebih dahulu. Nah, perlu tidaknya Anda mengembangkan tingkat shamatha sepenuhnya itu soal lain. Dalam tantra, misalnya, ada cara-cara khusus untuk mampu mengembangkan shamatha dan vipashyana sekaligus. Jadi, dalam tiap tata bisa ada bermacam cara untuk mencapai shamatha dan vipashyana.

Shamatha adalah tataran cita yang diam dan mapan, jadi cita itu diam dari segala kelana dan ketumpulan batin, dan ia juga mapan, maksudnya terpusat pada suatu sasaran atau suatu cara memandang berbagai hal. Jadi, 100% seperti itu, terpusat sepenuhnya. Ditambah lagi, dalam shamatha ada perasaan bugar, yang merupakan perasaan menggembirakan (tapi tidak secara mengusik) karena secara raga dan batin mampu memusatkan perhatian pada apapun, selama yang Anda mau. Jadi, seperti tubuh Anda terlatih dengan amat sangat baik, sehingga Anda memiliki perasaan kebugaran ragawi bahwa Anda bisa melakukan hampir setiap hal, apapun itu. Sungguh keadaan yang menggembirakan.

Dan kemudian vipashyana yang pasti atau sebenarnya itu merupakan, di atas shamatha, suatu tataran cita yang tanggap secara istimewa yang mampu memandang apapun juga, dan memiliki perasaan tambahan berupa kebugaran.

Jadi, baik itu meditasi dzogchen atau meditasi tantra biasa atau apapun, pasti unsur-unsur ini tadi pasti ada.

Tanya: Dewasa ini, kerap kali ada guru yang datang ke Ukraina dan Rusia yang memberikan ajaran tentang pokok yang amat mendalam seperti tantra atau atiyoga, dan, misalnya, kursus sepuluh hari tentang vipashyana pun tersedia luas. Pertanyaan saya, pertama, apakah masuk akal untuk menghadiri ajaran-ajaran itu kalau saya belum cukup kuat mengembangkan shamatha? Dan yang kedua: Mengapa para guru itu mengajarkannya, kalau belum ada dasar shamatha yang cukup kuat pada diri para muridnya?

Alex: Pertama-tama, mencapai shamatha itu sukar sekali (walau di dalam naskah-naskah ada dikatakan bahwa jika kita kerja keras, kita dapat mencapainya dalam tiga bulan). Saat menghadiri ajaran apapun, pemusatan perhatian tetap perlu. Kalau Anda hanya datang dan tidur di sepanjang ceramah, atau pikiran Anda melantur atau terusik di sepanjang ceramah, apa gunanya. Jadi kita mesti punya setidaknya setingkat tertentu pemusatan perhatian untuk menghadiri ceramah apapun dan merasakan manfaatnya. Tidak harus shamatha yang lengkap. Malah, jika kita menunggu sampai mencapai shamatha yang lengkap, kita mungkin takkan pernah menghadiri ceramah apapun!

Orang Tibet itu orang-orang yang yakin sepenuhnya pada kehidupan di masa mendatang. Ketika para guru mengajarkan pokok-pokok yang bersifat lanjutan ini, sering kali mereka bilang bahwa mereka melakukannya untuk menanam benih bagi kehidupan mereka di masa depan; mereka tidak berharap Anda akan memahami atau melakukan keterampilan-keterampilan maju di masa hidup sekarang ini. Dan secara demikian inilah banyak orang awam Tibet (dan bahkan biksu atau biksuni) mengikuti ceramah – untuk menanam benih bagi kehidupan di masa mendatang. Jadi dari sisi Tibet, cara pikir para guru mengenai alasan mereka mengajarkan hal-hal ini berbeda sekali dibandingkan apa yang cara pikir kita, orang Barat.

Dan kemudian Anda perlu pertimbangkan dari sisi para penyelenggara di pusat-pusat Dharma pula. Kalau para penyelenggara pusat Dharma menawarkan kursus tantra atau dzogchen atau pokok bahasan yang jarang didengar, pokok bahasan tersebut akan menarik minat lebih banyak orang dibanding kalau mereka menawarkan kursus tentang perlindungan, atau pokok lain yang tampak biasa saja. Para penyelenggara pusat Dharma punya tekanan untuk membayar sewa gedung pusat Dharma itu, dan membiayai kedatangan guru yang akan mengajar, dan seterusnya. Jadi ada alasan-alasan samsara ekonomi juga. Dan lagi, ada sedikit alasan lain jika dilihat dari sisi Tibet, meskipun sebetulnya tidak begitu kuat, yaitu karena, sementara para guru tidak terlalu pilih-pilih dengan apa yang mereka ajarkan (ada juga yang begitu), mereka tetap memiliki tekanan luar biasa untuk membawa pulang uang bagi kelangsungan hidup para biksu di wihara mereka. Itu sungguh-sungguh tekanan yang amat nyata yang mereka alami, maka mereka dapat manfaat jika ada banyak khalayak yang menghadiri ajaran mereka. Kita ini, sayangnya, tidak hidup di dunia yang serba-baik.

Jadi ketika para guru ini datang, dan mereka mengajarkan pokok-pokok bahasan yang amat maju, kalau pilihannya itu hadir atau tidak, maka, dilihat dari banyak sudut, pilihan terbaik tetaplah hadir. Tapi kita jangan sampai berpurbasangka dan berpikir bahwa: "Tingkatku sudah tinggi jadi aku bisa benar-benar melakukan semua ini sekarang, di kehidupan yang ini." Dan kebalikannya juga: kita jangan lesu darah dan berpikir, "Oh, ini sudah terlampau maju, tak mungkin aku mampu melakukannya." Semakin lama seseorang berlatih (dan maksudnya di sini sampai berpuluh-puluh tahun), maka semakin ia menyadari bahwa ia mesti kembali ke awal, dan berupaya pada langkah-langkah awal-mula yang amat sangat penting ini. Tanpa langkah-langkah awal-mula, segala sesuatu di atasnya jadi tak masuk akal, tak punya isian, dan hanya kata-kata kosong melompong. Kita harus teguh berpikir: "Apa yang kuperbuat untuk siap-siap mampu lanjut melangkah di jalan kehidupan-kehidupanku yang mendatang? Seberapa bersungguh-sungguh aku terhadap persoalan itu? Dan langkah-langkah nyata apa yang kuambil untuk menuju ke arah itu?" Mencapai tingkat itu, tingkat di mana kita jadi tulus, sudah luar biasa.

Tanya: Saya punya pertanyaan tentang kelahiran kembali. Saya rasa gagasan bahwa seorang manusia dapat terlahir kembali sebagai binatang itu aneh, karena kesadaran manusia jauh lebih berkembang. Bagaimana bisa kesadaran manusia terlahir kembali sebagai seekor binatang atau serangga atau sejenisnya? Mungkin ajaran Buddha hanyalah agama untuk khalayak yang lebih luas, untuk orang banyak, dan para guru sebetulnya tidak percaya pada kelahiran kembali?

Alex: Pertama-tama, saya berani bilang bahwa para guru sungguh-sungguh percaya pada kelahiran kembali. Mereka tidak berpura-pura percaya – mereka secara mutlak mempercayainya. Yang kita bicarakan di sini itu kegiatan batin, dan anasir-anasir umum yang mencirikan kegiatan batin kita. Yang mencirikan kegiatan batin manusia adalah kecerdasan, dan kecerdasan tersebut, seperti kita ketahui, bisa dinilai dari rentang "tidak sangat cerdas" ke "sangat cerdas". Namun ada anasir-anasir lain yang merupakan bagian dari kegiatan batin, misalnya amarah, keserakahan, kemelekatan, keterusikan, dan perilaku-perilaku gandrung yang dibawa oleh anasir-anasir batin ini. Pada sebagian orang, anasir-anasir ini melingkupi kegiatan batin mereka sehingga mereka tidak menggunakan kecerdasan manusia mereka, alih-alih mereka hidup utamanya di atas dasar keserakahan, amarah, dan seterusnya. Contohnya, ada orang yang hasrat sanggamanya berlimpah-limpah dan berpesiar dari bar ke bar, bertemu orang lain, dan bercinta dengan hampir setiap orang yang ditemui – orang macam itu berperilaku layaknya seekor anjing, bukan begitu? Seekor anjing akan menaiki anjing lain manapun yang ditemuinya, kapanpun itu; anjing tidak mencoba mengendalikan dirinya. Kalau seorang manusia bertingkah seperti itu, manusia itu membina kebiasaan tabiat binatang. Karena itu tidaklah mengherankan, kalau kita pikirkan kelahiran kembali itu, bahwa tabiat nafsu orang tersebut akan menjadi setelan kegiatan batin yang menonjol yang akan dimilikinya di kehidupan mendatang, dan ia akan menjelma ke dalam suatu raga yang akan menjadi dasar yang cocok bagi kegiatan batin tersebut, yaitu, kelahiran kembali sebagai seekor binatang.

Jadi, sangat berguna bagi kita untuk memeriksa perilaku kita: "Apakah aku bertingkah seperti binatang ini atau itu? Coba pikirkan lalat. Batin yang melantur ke mana-mana itu sama dengan tabiat lalat. Seekor lalat tidak bisa tetap di satu tempat untuk beberapa saat sekalipun; ia terus-menerus bergerak dan terus-menerus terusik. Apa seperti itu cita kita, seperti cita seekor lalat? Kalau iya, apa yang kita harapkan di masa hidup berikutnya? Apa kita berharap bahwa kita akan menjadi cerdas dan memiliki pemusatan perhatian yang bagus?

Inilah beberapa pemikiran yang menolong kita untuk memahami bahwa kita bisa terlahir kembali ke dalam banyak jenis rupa kehidupan. Ada lebih banyak lagi yang bisa dikatakan tentang pokok ini, dan sayangnya waktu kita tidak cukup untuk hari ini. Tapi penting pula untuk memahami bahwa tak ada suatu ciri bawaan dalam kegiatan batin yang membuatnya menjadi kegiatan batin manusia. Tidak ada suatu apapun yang membuat kegiatan batin itu secara khusus bersifat manusia, atau yang membuatnya laki atau perempuan atau sejenisnya. Sekadar kegiatan batin saja. Karena itu jenis kelahiran kembali yang kita miliki itu bergantung pada karma, pada beragam kebiasaan yang kita bina dengan perilaku gandrung kita, dan di masa hidup mendatang kita akan memiliki raga yang cocok sebagai dasar untuk tingkah kebiasaan-kebiasaan itu.

Mari kita akhiri di sini. Karena ini ceramah ajaran Buddha, kita dapat mengakhirinya dengan sebuah persembahan. Kita pikirkan: "Apapun pemahaman, apapun daya atau tenaga positif yang telah terbina, semoga ia merasuk lebih dan lebih dalam dan berlaku sebagai sebab bagi kita untuk mampu melanjutkan langkah di jalan batin dan untuk semua kita, dan untuk setiap orang, agar mampu mencapai pencerahan demi kebaikan semua."

Terima kasih.