Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Pengantar Ajaran Buddha > Pokok-Pokok Utama Mengenai Meditasi > Babak Satu: Fitur-Fitur Utama Meditasi

Pokok-Pokok Utama Mengenai Meditasi

Alexander Berzin
Kiev, Ukraina, September 2011

Babak Satu: Fitur-Fitur Utama Meditasi

Meditasi merupakan sesuatu yang dijumpai di banyak aliran, bukan hanya dalam agama Buddha; namun, sementara ada banyak segi meditasi yang dijumpai di semua aliran India, di sini kita akan membatasi pembahasan kita pada cara meditasi yang disajikan dalam agama Buddha.

Apa Itu Meditasi?

Kata meditasi (sgom, Skt. bhavana) bermakna "membiasakan diri". Padanan meditasi dalam bahasa Tibet bermakna membina kebiasaan yang bermanfaat. Kata dalam bahasa Sanskerta-nya lebih condong ke makna 'membuat sesuatu itu benar-benar terjadi'. Ada jenis tertentu tataran cita atau sikap yang bermanfaat, dan kita mau membuatnya terjadi, dengan kata lain, benar-benar membuat tataran cita tersebut berjalan di dalam cara pikir dan cara hidup kita. Tergantung pada aliran yang menggunakannya, arahan-arahan meditasi akan merincikan apa-apa saja kebiasaan bermanfaat itu, dan apa alasan dan tujuan dari pewujudannya. Akan tetapi, di dalam semua aliran India jalan menuju meditasi itu ada tiga lapis: pertama, mendengar atau menyimak, lalu berpikir, dan kemudian benar-benar bermeditasi.

Menyimak Ajaran-Ajaran

Misalkan kita mau membangun kebiasaan bermanfaat berwelas asih. Untuk mengembangkan welas asih, atau meningkatkan rasa welas asih yang sudah ada, pertama-tama kita perlu menyimak beberapa ajaran mengenai pokok tersebut. Di India kuno, tidak ada ajaran yang dituliskan. Semua ajaran diteruskan secara lisan. Karena itu, seseorang yang belajar meditasi haruslah pertama-tama mendengar ajaran-ajaran itu. Ini mengapa langkah pertama dikenal sebagai "menyimak".

Dewasa ini, tentu saja, kita dapat membaca tentang beragam ajaran – kita tidak perlu mendengar terlebih dahulu dari orang yang menjabarkannya langsung pada kita – tapi asas di balik hal ini sebetulnya cukup beralasan. Dahulu kala, segala sesuatu harus dihafal dan si pendengar perlu yakin bahwa yang dilafalkan seseorang itu benar-benar tepat. Orang yang melafalkan ajaran tersebut dari hafalannya mungkin tidak mengingatnya secara tepat benar. Beberapa kesalahan dapat terjadi dan ini akan jadi masalah besar.

Kesadaran Pembeda

Ketika menyimak ajaran, kita perlu mengembangkan apa yang disebut dengan "kesadaran pembeda yang muncul karena menyimak" (thos-byung shes-rab). Istilah dalam bahasa Tibet sherab (shes-rab, Skt. prajna) kerap diterjemahkan sebagai kebijaksanaan, namun penggunaan kata kebijaksanaan itu terlalu samar; maknanya tidak persis pasti. Kalau sekelompok orang mendengar kata kebijaksanaan, tiap orang akan memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang maknanya, dan karena itu istilah kebijaksanaan tak menolong kita untuk sungguh-sungguh memahami istilah sherab dengan tepat-jitu. Itu mengapa saya lebih suka menerjemahkan sherab sebagai kesadaran pembeda.

Kesadaran pembeda itu berdasar pada sebuah anasir batin pendahulu, yang saya terjemahkan "bersifat mencirikan" ('du-shes; Skt. samjna). Kebanyakan orang menerjemahkan istilah ini sebagai pengenalan, namun pengenalan juga bukan padanan jitu. Kata mengenal itu berarti bahwa Anda telah tahu tentang hal itu terlebih dahulu, dan kemudian Anda mengenalinya lagi; ini yang membuat istilah tersebut tidak tepat benar. Mencirikan berarti merincikan sesuatu sebagai "ini" dengan cara membedakannya dari segala hal lain yang "bukan ini". Kita mampu mencirikan "ini" berbeda dari "bukan ini", atau "ini" berbeda dari "itu", karena segala sesuatu itu rinci, anasir ciri tersendiri atau tanda-tanda penentu yang kita ketahui saat kita menyadari sesuatu. Contoh sederhananya: bayi dapat mencirikan mana "lapar" mana "tidak lapar". Bayi tak membutuhkan kata-kata untuk dua sensasi ragawi yang berbeda ini dan mereka tidak betul-betul perlu memahami gagasan mengenai "lapar" dan "tidak lapar" dengan amat mendalam. Akan tetapi, mereka mampu mencirikan perbedaan di antara keduanya karena masing-masing dari kedua hal itu memiliki anasir ciri penentu yang khas, yaitu suatu sensasi ragawi yang jenisnya rinci/khusus.

Kesadaran pembeda menambahkan suatu anasir kepastian pada pencirian itu: " Sudah pasti ini dan bukan itu." Kepastian inilah yang kita perlukan saat kita menyimak atau membaca ajaran-ajaran. Kita perlu keyakinan untuk tahu: "Inilah ajaran yang sebenarnya; bukan ajaran palsu." Sukar sekali sebetulnya untuk mengetahui "inilah ajaran yang sebenarnya" karena kitab-kitab itu sendiri tidak mudah dipahami. Biasanya, kita perlu sebuah buku atau guru yang menjelaskannya. Tapi, bagaimana Anda bisa tahu bahwa seorang guru itu merupakan guru yang andal dan asli? Orang bisa saja mengajar tentang agama Buddha, atau mengajar tentang kasih dan welas asih, dan boleh jadi mereka memberikan keterangan yang bertentangan dengan yang sebetulnya dikatakan dalam ajaran Buddha. Kita perlu yakin betul, dengan menggunakan kesadaran pembeda, bahwa ajaran yang kita dengar atau baca sungguh betul tersajikan sebagaimana mestinya; kita perlu yakin bahwa ajaran itu asli.

Ada anasir-anasir tertentu yang perlu hadir supaya suatu ajaran itu sahih sebagai ajaran Buddha. Pengarang atau orang yang menanamkannya mestilah orang yang dapat kita pastikan, lewat penyelidikan, sebagai seorang guru yang benar-benar mumpuni. Untuk memastikan ini, kita perlu bertanya pada orang lain, contohnya: "Apakah orang ini berguru pada guru yang sahih dan seperti apa hubungan mereka berdua?" Apakah guru orang ini berasal dari silsilah guru yang sahih di masa lampau? Inilah pertanyaan-pertanyaan penting untuk diselidiki. Kita jangan asal ambil buku dan, hanya karena penulisnya tenar, berpikir bahwa itu sumber yang andal. Asas yang sama berlaku saat kita mendengarkan ceramah seseorang.

Menggunakan Daya Pembeda untuk Menentukan Lingkung dari Ajaran-Ajaran

Lebih jauh lagi, setiap ajaran Buddha itu punya lingkungnya, pemikiran filsafati yang menjadi akar dari ajaran tersebut. Penting bagi kita untuk tahu apa lingkung bagi suatu ajaran tertentu. Alasannya ialah karena berbagai tata Buddha memiliki penjelasan yang berbeda-beda untuk istilah yang sama, contohnya "karma". Lebih lagi, ajaran-ajaran tentang karma di dalam suatu tata yang khusus ini saling sesuai dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan tata tersebut tentang bahasan-bahasan terkait lainnya di dalam Dharma, contohnya dalil pengetahuan. Jadi kita perlu yakin dari tata apa ajaran-ajaran itu berasal, supaya kita dapat menyesuaikannya dengan ajaran-ajaran lain yang telah kita dengar.

Mengetahui lingkung penggungaan kata-kata itu penting bahkan dalam percakapan biasa sekalipun. Contohnya, Anda dengar kata bon. Bon ini nama aliran pra-Buddha di Tibet. Tapi dalam bahasa Prancis, bon artinya 'bagus'. Jadi kalau Anda tidak menyadari lingkung bahasanya, Anda akan bingung saat mendengar kata bon. Apa orang ini bicara tentang bon dalam bahasa Prancis atau lingkung bahasa Tibetnya? Mengandalkan bunyi kata itu saja, tanpa tahu dalam bahasa apa ia diucapkan, bisa jadi menyesatkan.

Tahu akan lingkung ini bahkan lebih penting lagi nilainya ketika kita menghadapi istilah-istilah ajaran Buddha. Misalnya, Anda sedang belajar tentang kehampaan (kekosongan), yang dijelaskan dengan cara yang ini di satu pemikiran Buddha India dan dengan cara yang itu di pemikiran yang lain. Bahkan di dalam satu pemikiran filsafat Buddha India saja kehampaan itu ditafsirkan dengan amat berbeda-beda oleh tiap-tiap aliran Buddha Tibet yang beragam itu.

Fakta bahwa ada begitu banyak penjelasan untuk bahasan yang sama itu merupakan salah satu segi paling membingungkan bagi orang Barat ketika mempelajari ajaran Buddha. Cukup membingungkan bahwa di zaman modern ini, khususnya dengan adanya Internet, kita punya jalan masuk untuk menjenguk berbagai aliran Asia untuk ajaran Buddha. Tapi bahkan di dalam satu aliran Buddha di suatu negara saja – contohnya, Tibet – terdapat banyak ragam dan penafsiran yang berbeda.

Biar saya terangkan. Misalkan kita sedang mempelajari suatu penjelasan terperinci tentang karma dari seorang guru. Supaya tidak bingung tentang apa yang sedang kita pelajari, kita perlu menyendirikan penjelasan tersebut dari penjelasan lain yang ada di semua tata kecuali tata yang digunakan si guru untuk menjelaskannya. Contohnya, kita perlu tahu bahwa kita sedang belajar tentang penafsiran Buddha, bukan Hindu. Dari antara penjelasan-penjelasan Buddha, kita sedang mempelajari yang berasal dari aliran-aliran India berbahasa Sanskerta, bukan yang berasal dari aliran Theravada berbahasa Pali. Dari antara aliran-aliran India berbahasa Sanskerta itu kita sedang belajar sudut pandang Vaibhashika, bukan sudut pandang Chittamatra. Lebih lanjut lagi, kita sedang belajar tentang penjelasan Gelug dari penyajian Vaibhashika dan bukan penjelasan Kagyu. Kita perlu tahu lingkung pastinya, karena penjelasan tentang karma yang berbeda-beda itu cukup beragam tergantung pada lingkung filsafatinya. Jika kita mencoba mencocokkan penjelasan Gelug tentang suatu bahasan Dharma ke tata Kagyu, kita bakal bingung sekali. Dan kalau kita mencoba mencampur semua penjelasan itu ke dalam satu adonan yang sama, kita bakal lebih bingung lagi.

Salah seorang guru saya pernah menunjukkan sesuatu yang amat menggugah wawasan tentang orang-orang Barat. Ia berkata: "Kalian orang-orang Barat selalu mencoba membandingkan dua hal, yang tak satupun di antaranya kalian pahami dengan baik. Ujung-ujungnya, kalian malah jadi lebih bingung saja." Pelajaran yang perlu kita petik dari hal ini ialah bahwa boleh saja membandingkan berbagai tata, asalkan kita telah lebih dulu memahami dengan amat baik satu jenis tata. Begitu Anda mengetahui satu tata dengan baik, maka Anda dapat melihat tata yang lain dan memahami apa saja perbedaannya. Tapi lakukan itu setelah paham, bukan sebelum.

Jadi jika kita ingin meditasi tentang karma, atau kehampaan, atau tentang bahasan lain dalam ajaran Buddha, kita perlu mengembangkan kesadaran pembeda yang didapat dari mendengar. Ini berarti mengetahui dengan tepat-jitu dan dengan yakin bahwa:

· Inilah kata-kata yang diucapkan, bukan kata-kata yang lain;

· Orang yang mengucapkannya adalah sumber keterangan yang tepat sehubungan dengan bahasan ini, dan bukan orang yang tidak dapat dipercaya;

· Inilah tata filsafati yang menjadi asal penjelasan tersebut, bukan tata yang lain.

Begitu kita memiliki kesadaran pembeda yang muncul atau didapat dari mendengar ini, kita siap pindah ke langkah berikutnya.

Memikirkan Hal yang Telah Kita Dengar

Langkah berikutnya ialah memperoleh kesadaran pembeda yang muncul dari berpikir (bsam-byung shes-rab). Apa arti "berpikir" (bsam-pa)? Berpikir di sini berarti mencoba memahami makna sesuatu. Tapi kemudian, apa artinya "memahami" sesuatu? Makna dari istilah Tibet (rtogs-pa, menangkap) biasanya diterjemahkan "memahami" adalah: 'mengetahui sesuatu dengan tepat dan pasti'.

Kebetulan, banyak dari kata-kata Sanskerta dan Tibet yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan batin dan cita itu memiliki makna-makna yang agak berbeda dalam bahasa aslinya, dibanding dengan kata-kata yang kita pakai dalam bahasa-bahasa Barat. Ini mengapa akan sangat berguna kalau kita mempelajari bahasa-bahasa Asia aslinya dan mempelajari makna-makna dari kata-kata tersebut dalam lingkung bahasa Asia. Ini berarti bukan sekadar membaca terjemahan kamusnya saja, tapi betul-betul menyelami bahasa itu, mempelajari makna-makna, dan seterusnya. Jika Anda lakukan itu, maka Anda akan memperoleh alat telaah yang sangat berdaya untuk memahami ajaran-ajaran Buddha.

Memahami Kata-Kata yang Diucapkan

Kata memahami ini dapat juga digunakan dalam kaitannya dengan mendengarkan ajaran. Maksudnya, kata tersebut akan muncul dalam kalimat-kalimat seperti: "Saya paham bahwa Anda mengatakan kata-kata itu." Kalau penekanan dalam kalimat itu ada pada kata Anda, maka itu menyiratkan bahwa kita tidak ragu bahwa Anda betul-betul mengatakan kata-kata itu. Kita tidak berpikir bahwa Anda tidak mengatakannya atau bahwa orang lain yang mengatakannya. Kita mendengar Anda mengatakannya dan kita sepenuhnya yakin bahwa tak ada yang salah dengan pendengaran kita.

Jika penekanannya ada pada kata-kata itu, maka "Saya paham bahwa Anda mengatakan kata-kata itu" dapat bermakna lain: "Saya paham kata per kata yang Anda utarakan. Saya mungkin tidak sepenuhnya menangkap makna di balik kata dan frasa tersebut – itu ada caranya sendiri; tapi saya dengan benar memahami bahwa Anda mengatakan kata ini dan frasa ini dan kalimat ini." Kita perlu yakin bahwa kita mendengar dengan tepat kata-kata yang diucapkan. Kita bisa bandingkan dengan orang lain supaya yakin bahwa mereka mendengar kata-kata yang sama dengan yang kita dengar. Kalau ada rekamannya, kita bisa dengarkan rekaman itu. Kalau suara si pembicara dan rekamannya jernih, kita yakin bahwa kita mendengar kata-kata itu dengan tepat. Kalau tidak begitu jernih, kita bisa minta bantuan orang lain, mencari tahu apa yang mereka dengarkan, dan membandingkannya dengan yang kita dengarkan. Ini penting betul ketika kita mengandalkan rekaman yang berisi ajaran. Jadi, dengan kesadaran pembeda yang muncul dari mendengar, kita menentukan bahwa kita telah memahami apa kata-kata yang diucapkan, secara tepat dan pasti.

Memahami Makna Kata-Kata

Sekarang, berpikir – langkah kedua dalam tiga langkah memperoleh pemahaman – berarti memahami makna kata-kata, yang tentunya secara mutlak perlu. Kalau kita hendak membina sesuatu sebagai kebiasaan yang bermanfaat, kita perlu tahu makna kata-kata itu, bukan sekadar kata-katanya saja. Contohnya, ada orang yang mendaraskan ayat-ayat berbahasa Tibet dan tak tahu sama sekali apa maknanya. Bagaimana Anda bisa membina sesuatu sebagai kebiasaan yang bermanfaat kalau Anda bahkan tak mengetahui apa makna kata-katanya?

Anda akan dapati bahwa banyak guru Buddha Tibet menganjurkan kita mendaraskan doa-doa dan beragam laku dalam bahasa Tibet. Tentu saja ada manfaat dari ikut serta dalam sebuah upacara yang usianya sudah berabad-abad: Anda merasa bahwa Anda punya tempat di dalam aliran itu, dan nyaman rasanya mengetahui bahwa orang-orang dari berbagai negara dan latar bahasa melantunkan dan mendaraskan hal yang sama. Tapi mendaraskan ayat atau doa dalam bahasa Tibet tidak menolong Anda membina sebuah kebiasaan bermanfaat yang dimaksudkan kata-kata itu, kecuali kalau kita memahami maknanya. Jadi kita perlu memahami maknanya, dan makna tersebut harus tepat dan pasti. Artinya, kita menggunakan kesadaran pembeda untuk memisahkan makna sesuatu itu dari yang bukan makna sesuatu itu. Kita melakukan hal ini melalui sebuah jalan penguraian dan penalaran mantik, untuk sampai pada suatu pemahaman pasti atas makna sebetulnya dari kata-kata itu.

Pokok tentang memperoleh pemahaman yang pasti itu memunculkan suatu bahasan yang amat sulit: bagaimana kita benar-benar yakin pasti atas suatu hal? Untuk yakin pasti atas suatu hal yang tidak jelas dan tak dapat diketahui lewat indera kita, kita perlu mengandalkan mantik. Tapi ada orang yang, ketika disajikan dengan suatu alasan yang masuk akal, masih tidak percaya pada apa yang dibuktikan oleh garis penalaran tersebut. Dalam beberapa perkara, mereka tidak mau percaya pada kesimpulannya, meski kesimpulan itu masuk akal. Kalau kita seperti itu, ini dapat menyebabkan munculnya banyak halangan dalam jalan kita mempelajari Dharma.

Tapi, anggaplah kita menerima kesimpulan-kesimpulan mantik. Lalu, mari gunakan ketaktetapan sebagai contoh cara penguraian dan penalarannya. Yang ingin kita buktikan, dan kemudian pahami, adalah bahwa segala sesuatu yang diciptakan dan dihasilkan bergantung pada sebab dan keadaan itu pada akhirnya akan menemui titik akhir. Entah itu kita bicara tentang komputer, mobil, raga kita, atau hubungan pribadi, semua hal itu dihasilkan dengan bergantung pada sebab dan keadaan. Dan karena sebab serta keadaan itu tidak diperbarui setiap kali, hal yang dihasilkan dari keduanya dan yang bergantung padanya ujung-ujungnya akan hancur juga.

Contohnya saja sesuatu yang Anda beli dan yang pada akhirnya rusak atau mati; misal: mobil baru yang Anda beli yang kemudian rusak, bunga atau buah yang tumbuh akhirnya mati. Tak ada pengecualian dalam aturan itu. Tak ada contoh hal yang dihasilkan atau dibuat yang tak pernah rusak atau yang bertahan selamanya. Jika ia diciptakan – artinya ia tidak ada sebelumnya – maka ia akan rusak. Mengapa? Suatu hal baru dapat muncul hanya dengan bergantung pada sebab dan keadaan. Tapi lepas kemunculan itu terjadi, sebab dan keadaan yang menyokong kemunculan awalnya tadi telah berubah. Keduanya berubah karena kemunculan keduanya pun tergantung pada anasir-anasir sebab-akibat lain. Karena itu, keduanya tidak lagi ada untuk menyokong berlanjutnya kemunculan hal tersebut dalam setiap masa sesudahnya. Dengan kata lain, ketika sebab dan keadaan yang memunculkan suatu hal itu tidak ada lagi, maka apapun yang terjadi atas dasar ketergantungannya pada anasir-anasir penyokong itu akan pecah berantakan. Berantakan karena hilangnya anasir-anasir yang menyokong kelanjutan keberadaannya pada tataran yang sama seperti ketika ia muncul pertama kali. Tatarannya akan berubah karena dipengaruhi oleh sebab dan keadaan lain.

Contoh lainnya hubungan pribadi. Sebuah hubungan dengan seseorang itu muncul secara bergantung pada banyak sebab dan keadaan. Misalnya, saya berusia sekian, orang yang satunya berusia sekian, ini terjadi pada hidup saya, itu yang terjadi pada hidup orang tersebut, ini yang terjadi di masyarakat. Semua anasir ini menyokong pertemuan dan berkembangnya hubungan kami berdua. Tapi keadaan-keadaan tersebut tidak langgeng; selalu berubah. Kami tambah tua, berbagai hal terjadi pada hidup kami. Bahkan sekalipun kami tinggal bersama untuk waktu yang amat lama, salah seorang dari kami akan mati mendahului yang lain. Karena ketergantungannya pada sebab dan keadaan, hubungan antara kami berdua akan selalu berubah dan tak dapat bertahan selamanya. Terlepas dari kesimpulan yang kita capai lewat mantik ini, kita tak mau menerima faktanya.

Contohn lain, kita beli komputer, dan kita anggap komputer itu akan bertahan selamanya dan tak pernah rusak, tapi tetap saja rusak. Mengapa rusak? Komputer rusak karena komputer dibuat. Apapun hal yang terjadi pada saat komputer itu rusak – itu hanyalah syarat bagi akhir keberadaannya. Sebab yang sebenarnya mengapa komputer itu rusak adalah karena komputer itu dibuat. Itu seperti: "Apa sebab kematian orang ini? Sebab kematiannya adalah kelahirannya." Ada gurauan seperti ini: "Kau tahu arti kehidupan? Penyakit menular seksual dengan tingkat kematian 100%." Malangnya, hal itu benar pula!

Meskipun kita menggunakan mantik ketika kita memikirkan suatu pokok, seperti mencoba memahami ketaktetapan, sering kali ada saja penentangan. Kadangkala kita tak mau percaya pada keterangan yang disajikan. Kita tak mau menerima bahwa ketaktetapan adalah sebuah fakta kehidupan. Itu mengapa kita perlu mengulang mantik itu lagi dan lagi, untuk betul-betul berupaya dengan pokok tersebut secara mendalam.

Lewat jalan pemikiran, kemudian kita mencapai sebuah "pemahaman" – yaitu "kesadaran pembeda" yang muncul dari berpikir. Kita memahami dengan tepat makna dari kata-kata, dan kita tahu pasti tentang hal itu. Dengan kata lain, kita telah melewati mantik dan menyaringnya dari yang bukan maknanya. "Ketaktetapan tidak berarti bahwa mungkin komputerku akan rusak. Ketaktetapan berarti komputer itu pasti akan rusak nantinya." Jadi, entah itu kita sudah yakin betul akan kebenaran bahwa "setiap hal yang diciptakan akan rusak" atau belum, setidaknya kita memahami dengan tepat apa arti "ketaktetapan".

Yakin Bahwa Ajaran yang Telah Kita Dengarkan Itu Benar dan Bermanfaat

Berikutnya, kita perlu yakin, tidak hanya pada makna kata-kata yang telah kita dengarkan, tapi juga yakin bahwa makna kata-kata tersebut benar adanya. Pada contoh ketaktetapan tadi: kita mungkin paham makna istilah tersebut, tapi apa kita yakin bahwa hal itu benar atau tidak? Apakah kita betul-betul yakin? Kalau kita ulet dalam memikirkan perihal ketaktetapan, dan kita tentu saja tak mendapati adanya pengecualian dalam aturan itu, maka kita akan sungguh-sungguh yakin bahwa ketaktetapan merupakan sebuah hukum yang mendasar sifatnya. Jalan pemikirannya mungkin seperti ini: "Aku pasti akan mati. Setiap orang yang pernah lahir telah mati. Tidak pernah ada contoh seseorang yang pernah lahir dan tidak mati. Karena itu, adakah alasan untuk yakin bahwa aku takkan mati? Tidak, tidak ada." Jika kita yakin bahwa pada suatu titik kita akan mati, maka kita akan mencoba membuat hidup ini sebermakna mungkin. Sering sekali seperti itu, ketika seseorang sudah mengalami lolos dari maut, ia sadar, "Hei, aku masih hidup, dan aku ingin membuat sisa waktuku ini seberarti mungkin." Tapi kita tak perlu menunggu harus lolos dari maut dulu supaya yakin tentang ketakabadian kita dan membentuk keyakinan untuk memanfaatkan sisa waktu hidup kita.

Jadi, lewat berpikir, pertama-tama kita memahami makna dengan benar dan tepat. Kemudian, kita yakin bahwa itu benar. Dan ketiga, kita perlu yakin bahwa akan bermanfaat bagiku jika aku menyerap ini dan membuatnya jadi bagian dari caraku menjalani hidup.

Semua itu – memahami makna, yakin bahwa itu benar, dan yakin bahwa itu berguna – merupakan bagian dari pengembangan kesadaran pembeda yang muncul dari berpikir tadi. Proses yang amat penting dan butuh waktu yang cukup lama. Kita perlu duduk tenang dan dengan amat mendalam memikirkan ajaran-ajaran apa saja yang telah kita dengar atau baca. Tanpa itu, jika kita mencoba bermeditasi tentang ketaktetapan, misalnya, ujung-ujungnya kita hanya sekadar duduk dan tak tahu-menahu harus berbuat apa. Kita kemudian linglung – biasanya disebut "melongo" – dan menganggap itu meditasi. Itu sama sekali bukan meditasi. Jadi, apa itu meditasi?

Tiga Jenis Meditasi

Persis seperti lewat mendengarkan ajaran dan memikirkannya kita mengembangkan jenis-jenis kesadaran pembeda yang berhubungan dengan kedua hal ini, meditasi juga mendatangkan "kesadaran pembeda yang muncul dari meditasi" (sgom-byung shes-rab). Dengan kesadaran ini kita mampu membangkitkan, dengan pemusatan penuh, tataran cita yang bermanfaat yang mau kita kembangkan, dan kita dapat membedakannya secara pasti dan tepat dari tataran cita lainnya. Untuk memperoleh kesadaran pembeda ini, kita membiasakan diri kita dengan tataran cita yang diidamkan ini lewat berulang kali membangkitkannya. Ada banyak jenis meditasi yang dapat kita gunakan untuk melakukan hal ini, namun saya akan sebutkan tiga saja yang paling umum.

Memusatkan Perhatian pada sebuah Sasaran

Jenis meditasi yang pertama mensyaratkan pemusatan perhatian pada sebuah sasaran. Kita dapat memusatkan perhatian pada sasaran apa saja dan yang sedang coba kita kembangkan adalah pemusatan perhatian pada sasaran tersebut. Entah itu kita memusatkan perhatian pada sensasi nafas keluar masuk, atau pada sesosok Buddha terbayang, atau pada sifat cita, tetap saja hal itu merupakan pemusatan perhatian pada sebuah sasaran. Ketiga hal tadi sebetulnya adalah sasaran yang paling kerap digunakan untuk mengembangkan pemusatan perhatian.

Satu ragam penting dari jenis meditasi ini adalah memusatkan perhatian pada sebuah sasaran, dan sembari memusatkan perhatian pada hal tersebut, cobalah untuk mencermatinya dengan sikap tertentu, misalnya menganggapnya sebagai hal yang tak tetap. Dengan pemusatan yang disertai pencermatan bahwa sasaran tersebut bersifat tak tetap, maka sasaran yang kita renungkan itu akan meresap ke dalam pikiran kita sebagai hal yang betul-betul bersifat tak tetap. Hal ini amat berguna untuk mengatasi kemelekatan kita pada sesuatu, seolah-olah sesuatu itu akan bertahan selamanya.

Contoh bagus lainnya seperti ini: Anda bersahabat atau berhubungan dengan seseorang, dan orang ini tidak menelepon atau mengunjungi Anda, dan Anda jadi kesal sekali karena hal ini. Dalam contoh ini, Anda perlu memahami dan sepenuhnya yakin pada fakta bahwa: "Aku bukanlah satu-satunya orang dalam hidup temanku ini. Ada orang lain dalam hidupnya di samping aku sendiri. Karena itu, amat tak masuk akal bagiku untuk mengharap bahwa ia akan memberikan waktunya secara mutlak untukku dan tidak akan memberikan waktunya untuk siapapun lagi." Di sini Anda sedang menentang sebuah pengarahan yang terkhayalkan dari suatu hal yang mustahil, yaitu: "Aku satu-satunya orang dalam hidup temanku ini." Dengan demikian, ketika Anda kesal karena teman Anda tak menghabiskan waktu bersama Anda, Anda mencoba untuk memusatkan perhatian pada dirinya dengan pencermatan: "Ada orang lain dan hal lain yang berlangsung dalam hidupnya di samping aku sendiri."

Jadi, ketika kita bicara tentang meditasi, kita tidak bicara tentang suatu laku sihir atau ajaib, kita tidak berkelana ke tanah khayalan. Alih-alih, meditasi memerlukan cara-cara yang amat praktis untuk menghadapi duka, kesukaran, dan permasalahan dalam hidup kita.

Maka, meditasi jenis pertama ini ialah pemusatan perhatian pada suatu sasaran dengan suatu sikap tertentu, entah itu hanya pemusatan perhatian saja atau disertai dengan semacam pemahaman dan pencermatan, seperti contoh teman kita tadi.

Membangkitkan suatu Tataran Cita

Meditasi jenis kedua adalah pembangkitan suatu tataran cita tertentu, misalnya membangkitkan kasih atau welas asih, dan tetap berpusat pada perasaan itu. Penekanannya bukanlah si sasaran yang menjadi titik tuju kasih dan welas asih ini; tapi, penekanannya di sini adalah mengembangkan sebuah perasaan atau rasa.

Membangkitkan sebuah Cita-Cita

Meditasi jenis ketiga adalah pemusatan perhatian pada suatu sasaran dengan sebuah cita-cita meraih tujuan yang berkaitan dengannya; contohnya, memusatkan perhatian pada pencerahan kita sendiri yang belum terjadi, dengan cita-cita bahwa "Aku akan memperolehnya." Inilah yang disebut dengan meditasi bodhicita. Ketika kita bermeditasi tentang bodhicita, pusat perhatian kita bukanlah pencerahan secara umum, bukan pula pencerahan sang Buddha; alih-alih, kita memusatkan perhatian kita pada pencerahan kita sendiri. Pencerahan kita belum lagi terjadi, tapi itu bisa terjadi – kita yakin bahwa itu bisa terjadi – atas dasar sifat-sifat Buddha yang kita miliki dan juga kerja keras. Jadi, pada meditasi jenis ketiga ini kita memusatkan perhatian pada suatu tujuan mendatang dengan niat kuat untuk memperolehnya.

Tiga Jenis Meditasi dalam Hidup Sehari-Hari

Tiga jenis meditasi ini, kemudian, mengembangkan kebiasaan-kebiasaan bermanfaat yang ingin kita hadirkan dalam hidup kita. Penting sekali bahwa meditasi jangan menjadi semacam kegiatan sampingan yang tak ada hubungannya dengan hidup kita. Meditasi bukan semacam pelarian; bukan permainan, bukan pula kegemaran. Meditasi merupakan suatu cara yang membantu kita mengembangkan sifat-sifat yang ingin kita bawa dalam hidup kita dan gunakan setiap harinya.

Saya akan gambarkan bagaimana kita menerapkan tiga cara ini dengan menggunakan contoh-contoh yang saya sebutkan tadi. Ketika kita melakukan meditasi jenis yang pertama, yaitu pemusatan perhatian pada suatu sasaran, kita belajar untuk menenangkan cita kita dan meningkatkan kemampuan kita untuk memusatkan perhatian. Kita belajar bukan hanya memusatkan perhatian pada pekerjaan kita, tapi juga ketika kita sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Kita ingin memusatkan perhatian pada orang tersebut dan pada hal yang dikatakannya, dan bukannya membiarkan cita kita melantur memikirkan hal lainnya. Kita ingin mendengarkan tanpa di dalam hati berceloteh sana-sini, tanpa menghakimi apa yang dikatakannya: "Oh, ini kan bodoh sekali," atau "Tutup saja mulutmu itu." Kita ingin menenangkan semua celotehan dalam hati itu. Kita juga dapat melengkapi pemusatan perhatian kita atas orang ini dan atas kata-katanya dengan pencermatan: "Kamu adalah manusia dan punya perasaan, persis seperti aku; kamu ingin diperhatikan ketika bicara, persis seperti aku." Inilah yang kita latih melalui meditasi pemusatan perhatian.

Kita dapat gunakan meditasi jenis kedua, yaitu pembangkitan suatu tataran cita, untuk meningkatkan kasih dan welas asih yang kita miliki dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita berupaya membangkitkan kasih – keinginan agar setiap orang bahagia – tidak peduli di mana kita atau dengan siapa kita. Kasih, di sini, sungguh-sungguh berarti kasih terhadap setiap makhluk: setiap orang di dalam bus, setiap orang di dalam kereta, setiap orang di jalan raya, setiap orang di toko, semua serangga – setiap makhluk. Jadi itu artinya mengembangkan rasa hormat bagi setiap makhluk. Setiap makhluk itu setara dalam keinginannya untuk bahagia dan ketakinginannya untuk tak bahagia. Dan setiap makhluk itu memiliki hak yang setara atas kebahagiaan, termasuk lalat sekalipun.

Dan akhirnya, kita menggunakan meditasi untuk mengembangkan suatu cita-cita yang kita emban sepanjang hidup kita: "Aku sedang berupaya mencapai sebuah tujuan. Aku sedang mencoba mengurangi kekuranganku. Aku sedang berupaya mengembangkan sifat-sifat baik, dan aku sedang berupaya menuju pembebasan dan pencerahan." Cita-cita itu melekat dalam seluruh hidup kita, tidak hanya pada waktu singkat saat kita duduk di atas bantal.

Meditasi Pencermatan dan Meditasi Pemantapan

Ada cara lain untuk mengelompokkan gaya-gaya meditasi, yaitu dengan memisahkan semua meditasi ke dalam dua kelompok besar. Yang satu biasanya disebut "meditasi penelaahan" (dpyad-sgom), tapi saya lebih suka menyebutnya "meditasi pencermatan". Dan kelompok yang satunya adalah "meditasi pemantapan" ('jog-sgom).

Meditasi Pencermatan

Contoh "pencermatan" dapat berupa bahwa kita telah melakoni langkah kedua dari jalan meditasi tiga bagian, langkah berpikir, dan kita telah membina suatu tataran cita tertentu. Misalnya, kita membina rasa kasih dan welas asih untuk semua. Kita mulai dengan keseimbangan cita terhadap setiap makhluk. Kemudian kita mengenali setiap makhluk, pada suatu titik waktu di kehidupan-kehidupan yang lampau, pernah menjadi ibuku dan telah memberiku limpahan kebaikan hati – sekalipun itu hanyalah kebaikan hati untuk tidak melakukan aborsi dan tetap melahirkanku. Lalu kita mengembangkan rasa menghargai yang luar biasa terhadap kebaikan ini. Kita sungguh-sungguh berterima kasih, dan lumrah saja bahwa hal itu mendorong kita untuk suka menolong sesama, membalas kebaikan mereka. Ini berkembang ke dalam hal yang disebut sebagai kasih yang menghangatkan hati (bahasa Tibet: yid-'ong byams-pa); saat kita memikirkannya, kita mengembangkan suatu rasa kasih sayang amat hangat di dalam hati kita. Berikutnya, kasih: keinginan agar yang lain bahagia, dan agar mereka memiliki sebab-sebab bagi kebahagiaan. Dari situ, welas asih pun berkembanglah: semoga mereka terbebas dari duka dan sebab-sebabnya.

Jadi Anda telah melalui jalan berpikir supaya sungguh-sungguh memahami apa makna kasih, dan memahami bahwa kasih merupakan sikap yang sesuai dan rasa kita terhadap setiap makhluk, dan lebih jauh lagi Anda menjadi percaya: "Ini akan menjadi hal yang amat bermanfaat untuk kukembangkan dalam caraku berhubungan dengan setiap makhluk." Setelah jalan berpikir, Anda menggunakan meditasi untuk menyatukan rasa ini, membuatnya menjadi kebiasaan yang bermanfaat, membiasakan diri Anda dengannya sehingga ia muncul secara alami saja. Awal-awalnya mungkin Anda harus memaksanya; mungkin terasa palsu, tapi tak apa. Persis seperti belajar memainkan sebuah alat musik. Pada awalnya dipaksa; tidak alami; tapi dengan latihan yang cukup, musik muncul dengan sendirinya. Memunculkan kasih dan welas asih itu pun lewat jalan yang sama. Seperti Anda berlatih bermain piano, Anda berlatih kasih dalam suatu masa meditasi supaya Anda benar-benar dapat memiliki kasih setiap waktu, dalam hidup Anda sehari-hari.

Jadi, pertama-tama Anda menggunakan seutas garis penalaran dan Anda mengembangkan kasih dan welas asih. Begitu Anda sudah terbina sampai ke tataran cita ini, "cermat" itu artinya memusatkan perhatian pada sasaran dan melihatnya, memahaminya secara demikian itu, memandangnya secara demikian itu. Inilah yang kerap disebut "meditasi penelaahan", tapi yang saya gambarkan ini bukanlah tahap penelaahannya; tetap pada hasil dari telaah tersebut. Telaah tidak digunakan untuk memperoleh pemahaman, karena pemahaman diperoleh di dalam jalan berpikir. Alih-alih, Anda melewati telaah itu supaya mampu membina tataran cita itu lagi dengan lebih mudah.

Meditasi Pemantapan

Berbeda dengan meditasi pencermatan, dalam meditasi pemantapan kita membiarkan gagasan tersebut meresap jauh ke dalam hati dan cita kita. Yang Mulia Dalai Lama menjelaskan perbedaan antara meditasi pencermatan dan meditasi pemantapan dengan baik sekali. Ia menjelaskannya dalam kerangka tenaga kegiatan batin Anda. Ini merupakan cara yang sangat pelik, sangat halus dalam membedakan keduanya. Pada meditasi pencermatan, tenaganya bergerak keluar; cara kita memusatkan tenaganya bergerak keluar mencermati sesuatu dan segala rinciannya. Pada meditasi pemantapan, tenaganya bergerak masuk, sehingga gagasannya jadi lebih dan lebih terpusat. Tenaganya tidak terpencar, tapi terpusat.

Rumit sekali untuk mampu mengenali perbedaan antara mencermati seseorang dengan kasih – tenaganya seperti memancar keluar ke segala rinciannya – dan memantapkan kasih tersebut – tenaganya lebih terpusatkan. Ini merupakan salah satu manfaat yang muncul dari penenangan cita. Jika Anda berhasil, setidaknya sampai derajat tertentu, dalam menenangkan semua suara bising yang ribut di dalam benak Anda (ocehan, celotehan, dan musik MP3 Anda yang terus-menerus berbunyi), maka Anda bisa mulai menjadi peka terhadap tenaga Anda, dan Anda dapat tahu seperti apa tenaga batin Anda, apakah rusuh atau tenteram.

Cara mencari tahu apakah Anda berada di bawah pengaruh perasaan gelisah seperti marah, takut, cemas, serakah, pongah atau tidak adalah dengan melihat bahwa tenaga Anda tidak tenteram. Saat Anda berbicara dengan seseorang, jika Anda bisa merasakan bahwa tenaga Anda sedikit gusar, itu petunjuk bagus yang menandakan bahwa ada perasaan gelisah yang terlibat di sana. Anda mungkin mencoba membuat orang itu terkesan, atau mencoba meyakinkan mereka akan suatu hal, atau ada sikap menyerang dalam percakapan – yang manapun itu, ia menandakan bahwa ada rasa gelisah yang mengusik cita Anda. Begitu Anda mampu mengenali bahwa ada yang salah, Anda kemudian berkesempatan untuk menyetel kembali jalan pikir Anda, dan mengganti perasaan yang ada di balik hubungan Anda dengan lawan bicara, menukarnya dengan perasaan-perasaan yang lebih sehat. Khususnya saat berbincang dengan seseorang, di situlah Anda benar-benar perlu mampu mengenali perasaan-perasaan gelisah.

Seiring waktu, dan dengan latihan, lambat-laun kita menjadi cukup peka untuk mampu membedakan tenaga keluar dari "meditasi pencermatan kasih" dan tenaga pemusatan dari "meditasi pemantapan akan kasih".

Nasihat Tsongkhapa tentang Pengembangan Tataran Cita yang Bermanfaat

Tsongkhapa, guru Tibet yang luar biasa, menjelaskan dengan sangat baik apa yang betul-betul perlu kita ketahui untuk seluruh jenis meditasi ini; dengan kata lain, cara mengembangkan tataran cita yang bermanfaat sebagai landasan untuk meditasi.

Ketahui Apa Pusat Perhatian Kita

Pertama-tama, kita perlu mengetahui apa yang menjadi pusat perhatian kita. Ambil contoh: welas asih. Dalam memusatkan perhatian pada welas asih, kita memusatkan perhatian pada penderitaan orang lain. Ini agak berbeda dengan bodhicita. Dalam bodhicita kita memusatkan perhatian kita pada pencerahan kita sendiri yang belum lagi terjadi. Sebagian orang berpikir dirinya melakukan meditasi bodhicita padahal sebenarnya mereka hanya melakukan meditasi welas asih; bodhicita dan welas asih itu tidak sama.

Ketahui Semua Seginya

Setelah kita menentukan sasaran pasti pemusatan perhatian kita, dalam hal ini, welas asih bagi penderitaan sesama, berikutnya kita perlu mengetahui segala segi dari sasaran itu. Jadi, kita jelajahi beragam-macam segi atau jenis penderitaan yang dialami setiap orang: ketakbahagiaan, kebahagiaan yang biasa kita rasakan, keadaan berada di bawah desakan karma, penderitaan dari kelahiran kembali yang berulang tanpa terkendali. Kita tidak begitu saja memusatkan perhatian pada jenis penderitaan segelintir makhluk saja, seperti ketakbahagiaan dan kesukaran dari orang-orang yang kehilangan pekerjaannya. Dalam perkara welas asih yang luar biasa, kita memusatkan perhatian pada semua segi penderitaan yang dialami secara universal oleh setiap makhluk, termasuk binatang.

Ketahui Bagaimana Cita Anda Menautkan Diri Dengannya

Berikutnya kita perlu tahu bagaimana cita kita menautkan diri dengan sasaran tersebut. Pada contoh welas asih, cara cita memusatkan perhatian pada penderitaan adalah dengan keinginan agar setiap yang lain itu terlepas darinya, bahwa penderitaan itu akan lenyap. Jadi sekali lagi, pemikiran ini amat berbeda dengan bodhicita. Pada bodhicita, kita memusatkan perhatian kita pada pencerahan kita yang belum lagi terjadi, dan cara kita menautkan diri dengannya, kegiatan batin kita sehubungan dengannya, adalah dengan niat: "Aku akan memperoleh pencerahan." Ini berbeda sekali dengan cara kita menautkan diri dengan welas asih. Welas asih bukanlah sikap menanggapi penderitaan seperti "Oh, betapa mengerikan!" Welas asih dilakukan dengan keinginan: "Semoga penderitaan mereka tiada."

Ketahui Apa yang Akan Membantu Pengembangannya

Lalu, kita perlu tahu apa yang akan membantu kita dalam mengembangkan tataran cita ini. Dalam contoh kita tadi, welas asih itu didukung dengan memiliki niat atau rasa yang sama terhadap penderitaan kita sendiri. Itu yang biasanya disebut "penyerahan" – penyerahan itu memusatkan perhatian pada penderitaan kita sendiri, dan membuat tekad-bulat untuk bebas dari penderitaan dan bebas dari sebab-sebab penderitaan. Ingin bebas dari sebab-sebab penderitaan itu berarti bersedia untuk meninggalkan perilaku yang menyebabkan diri ini jadi sengsara, seperti sifat gampang marah, misalnya. Kalau kita betul-betul bisa mengembangkan tekad-bulat untuk diri kita sendiri supaya bebas dari penderitaan, maka itu akan mendukung kita untuk mampu mengarahkan sikap itu, keinginan itu, kepada yang lain dengan tingkat kesaratan yang sama seperti yang akan kita pusatkan pada diri kita sendiri.

Ketahui Apa yang Akan Merugikan bagi Pengembangannya

Kita juga perlu tahu apa yang akan menghambat pengembangan tataran cita ini. Hal yang akan menghambat pengembangan welas asih adalah sikap meremehkan orang lain dan meremehkan penderitaan mereka. Untuk itu kita perlu berpikir, "Setiap makhluk ingin bahagia. Tak ada yang ingin tak bahagia. Tak ada yang berbeda dalam hal hasratnya untuk bebas dari duka. Kita semua sama. Dan setiap makhluk memiliki rasa, sama seperti diriku. Setiap makhluk yang menderita itu terluka seperti penderitaanku melukaiku juga. Mereka ingin bebas dari penderitaan mereka, sama seperti aku ingin bebas dari penderitaanku pula." Jadi kita mengembangkan kepekaan terhadap yang lain, menghormati yang lain. Jika kita tidak memiliki kepekaan dan rasa hormat itu, kita akan terhambat dalam pengembangan welas asih yang tulus.

Ketahui Penerapannya

Tsongkhapa melanjutkan dengan mengatakan bahwa begitu kita mengembangkan tataran cita ini, apa yang akan kita perbuat dengannya? Dengan kata lain, apa penerapannya? Aku mengembangkan welas asih, terus apa? Welas asih akan membantu dalam hubunganku dengan orang lain; welas asih akan membantuku berupaya jadi manfaat bagi mereka; dan welas asih akan benar-benar mendorongku dan mendesakku untuk mencapai tujuan utamaku, pencerahan, sehingga aku sungguh-sungguh mampu menolong yang lain. Aku paham bahwa yang mencegahku untuk mampu menolong mereka sekarang ini adalah keterbatasan diriku sendiri, dan karena itu aku ingin sekali mengatasi keterbatasanku.

Ketahui Apa yang Akan Dihilangkannya

Hal berikutnya yang perlu kita ketahui ialah: Apa yang akan dihilangkan atau dilenyapkan oleh tataran cita ini? Welas asih akan menghilangkan rasa beku-hati yang membuat kita mengabaikan yang lain. Welas asih akan menolongku melenyapkan sikap malas menolong yang lain, dan itu akan menolongku mengatasi sikap malas berupaya untuk diriku sendiri. Dengan menghilangkan rasa beku-hati ini, aku bisa menolong yang lain lebih lagi.

Jika kita tahu semua unsur untuk mengembangkan dan memeditasikan welas asih ini, maka kita bisa yakin sekali bahwa kita sedang melakukan meditasi ini dengan benar; kita tahu pasti apa yang sedang kita lakukan dan mengapa kita melakukannya. Kita telah bersiap dengan benar untuknya. Kalau tidak, itu ibarat lompat ke air dalam di kolam berenang padahal kita tak tahu cara berenang. Kalau kita cuma berkata, "Nah, duduk saja dan mulailah bermeditasi," dan kita tak tahu apa yang kita lakukan, besar sekali kemungkinan upaya kita itu tidak berbuah hasil yang manis.