Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Pengantar Ajaran Buddha > Membawa Ajaran Buddha Membumi > Sesi Dua: Haluan Aman (Perlindungan)

Membawa Ajaran Buddha Membumi

Alexander Berzin
Munchen, Jerman, Juni 1996
[salinan dengan sedikit disunting]

Sesi Dua: Haluan Aman (Perlindungan)

Meruntuhkan Dinding-Dinding Kita terhadap Pembelajaran

Seperti kita bahas kemarin, yang kita coba lakukan adalah merasa terbuka untuk menjadi bantuan bagi orang lain – berhubungan dengan orang lain secara langsung, dengan dinding-dinding runtuh. Dinding-dinding kita perlu runtuh tidak hanya terhadap orang-orang, tapi juga terhadap pembelajaran sesuatu. Ini adalah jenis cara yang sama. Dinding-dinding itu harus runtuh agar kita terbuka dan mampu menerapkan sesuatu pada diri kita pribadi, bukan mendirikan dinding atau suatu benteng yang berasal dari kecendekiaan kita. Dengan kata lain, kita mungkin mendirikan dinding untuk melindungi “aku” yang tampak padu dalam diri kita, dan kita berpikir, “Aku hanya akan mendengarkan hal-hal sebagai latihan dalam kecendekiaan, supaya aku mengetahui sesuatu yang sulit dipahami atau menarik. Karena jika aku harus mengusik sesuatu di dalam diriku, itu sedikit terlalu mengancam, jadi aku akan mendirikan dinding-dinding ini.” Kita juga perlu meruntuhkan dinding-dinding semacam ini.

Kita berusaha terbuka dengan cara ini untuk belajar dan membuat suatu peralihan-diri, sehingga kita bisa menjadi bantuan bagi orang-orang yang terhadap mereka kita terbuka pada tingkat perorangan. Seperti yang kita bahas kemarin, kita bisa mengembangkan jenis rasa-hati ini dengan lebih dulu memandang orang-orang di sekitar kita, baik orang-orang di dalam ruangan ini maupun gambar-gambar para Buddha di tembok, dan kemudian, setelah meruntuhkan dinding-dinding kita, merasakan dorongan untuk terbuka menuju sebuah peralihan, pada tingkat yang lebih dalam, pada diri kita dan hubungan kita dengan orang lain.

Mari kita lakukan ini sejenak. Dan mohon lakukan ini dengan niat untuk penuh perhatian dan memusatkan pikiran, bukan hanya duduk dan cita kita kemana-mana.

[Jeda]

Menggunakan “Laku” Buddha sebagai Dinding

Ketika kita mendekati ajaran Buddha, pada dasarnya apa yang kita upayakan adalah suatu tingkat peralihan-diri. Peralihan-diri adalah sesuatu yang bisa menakutkan. Kemarin kita telah membicarakan sedikit tentang rasa takut. Guna menghindari keharusan untuk berubah, kita mendirikan dinding-dinding kita. Kemudian, dengan dinding-dinding berdiri, kita mendekati ajaran Buddha sebagai semacam hiburan, sejenis olahraga atau hobi. Kita memandang laku Buddha sebagai sesuatu yang tidak berkaitan dengan kehidupan kita.

Sangat menarik ketika kita bertanya kepada orang-orang yang sudah cukup lama terlibat dengan ajaran Buddha, “Apa laku Anda?” sangat sering mereka berkata bahwa laku mereka adalah melakukan semacam upacara tiap hari, yang diperoleh dari pembayatan tantra mereka. Mereka harus mendaras sesuatu tiap hari dan itulah laku mereka. Mungkin mereka bahkan memandang hal itu dalam cara Kristen: “Aku harus mengucapkan doa-doaku tiap hari.” Dan faktanya banyak orang menyebut naskah-naskah upacara ini “doa-doa” mereka. Karena akhir pekan ini kita menggunakan perumpamaan menggambar sebuah lukisan, kita bisa menambahkan di sini beberapa goresan kuas ke sisi lukisan yang berurusan dengan pengartian “semestinya” – “Aku semestinya mengucapkan doa-doaku, karena aku ingin menjadi orang baik, karena aku telah berjanji untuk melakukannya....” Lalu kita terlibat dengan gagasan tentang Tuhan dan guru.

Kini kita mulai membubuhkan goresan-goresan kecil pada banyak bagian dari lukisan ini. Meskipun kita tidak melakukan jenis upacara tantra seperti itu, barangkali kita membuat sembah-sujud atau laku lain dalam cara yang sama. Seperti yang pernah saya katakan, sangat mudah melakukan laku-laku itu sebagai olahraga; sesuatu yang terpisah dari kenyataan batin kita. Dengan kata lain, kita melakukan “laku” kita sebagai tugas – “sesuatu yang semestinya kulakukan karena aku berkata akan melakukannya” – maupun sebagai suatu olahraga yang tidak benar-benar berkaitan dengan kehidupan kita – “dan itulah lakuku!”

Itu adalah kesalahan besar dalam mendekati ajaran Buddha. Banyak orang terlibat dengan ajaran Buddha selama bertahun-tahun pada tingkatan itu namun, karena pandangan keliru tersebut, mereka hanya mendapat sedikit manfaat. Di situ bisa saja ada suatu manfaat; tentu, saya tidak menyangkal hal itu. Tapi itu tidak sebesar yang semestinya bisa didapatkan. Ketika kita atau orang lain – biasanya orang lain – berkata, “Lakuku adalah welas asih, kehampaan, ketidaktetapan, dan seterusnya,” sebagian orang memiliki tanggapan yang sedikit aneh. Jika kita melakukan upacara-upacara sebagai laku kita dan seseorang mengatakan itu pada kita, kita mungkin berpikir bahwa orang ini merasa dirinya hebat dan sangat bangga, dan, sedikit banyak, meremehkan kita dan mengecam kita karena melakukan laku-laku upacara. Sedikit banyak, kita melihat itu hampir sebagai sesuatu yang mengancam.

Lagi-lagi, ini kembali pada salah-pengartian tentang AKU yang padu yang ada di dalam dinding-dinding itu, mendaras segala macam rumusan upacara itu, hampir sebagai cara untuk membuat dinding-dinding itu lebih kuat. Kita melakukan itu sehingga, dengan berada di dalam dinding-dinding itu, kita tidak perlu menghadapi diri kita dan hidup kita. Kita sangat-sangat sibuk dengan upacara-upacara sehingga kita tidak benar-benar berhadapan dengan orang lain atau diri kita sendiri. Anda tahu bagaimana sebagian orang menyalakan radio atau musik pada menit pertama mereka bangun tidur di pagi hari dan terus memainkannya sepanjang hari, atau bahkan menyalakan televisi sepanjang hari di rumahnya. Kini banyak orang berjalan sepanjang hari dengan earphone dan Walkman membunyikan musik ke telinga mereka. Meskipun ini tidak disadari, akibatnya adalah mereka tidak pernah benar-benar berpikir atau menyendiri dengan diri mereka sendiri. Berurusan dengan kesendirian memang adalah cara yang aneh, tapi bagaimanapun sebagai orang dengan gaya hidup Barat kita tahu apa artinya itu. Akibatnya, kebiasaan-kebiasaan semacam itu menjauhkan kita dari pandangan yang bersungguh-sungguh pada cita kita dan kehidupan kita.

Cukup mudah untuk mengikuti jenis pola seperti itu dengan laku Buddha. Kita melakukan sebuah upacara atau kita mengucapkan sebuah mantra sepanjang hari, yang sama seperti memutar musik sepanjang hari. Itu tidak benar-benar menyentuh bagian terdalam dari kita. Dengan kata lain, kita menggunakan laku itu sebagai dinding lain; itu adalah lapisan lain dari sebuah dinding besar di sekeliling kita. Bahkan jika kita menjadi sangat mahir dalam laku kita – anggaplah kita membayangkan segala macam hal sepanjang hari dalam kerangka mandala-mandala dan dewa-dewi dan hal-hal seperti itu – cukup mudah untuk menggunakan itu sebagai dinding lain sehingga kita tidak benar-benar berhubungan dengan kehidupan. Saya pikir sangat penting agar susunan dasar dari laku kita bukanlah suatu hal tambahan di luar kehidupan kita yang kita lakukan selama satu jam atau seberapapun lamanya kita melakukannya tiap hari. Kehidupan kita harus menjadi laku kita.

Kebenaran Mulia yang Pertama – Duka-Duka Sejati

Supaya menjadikan kehidupan kita laku kita, kita perlu kembali ke susunan dasar dari ajaran-ajaran Buddha, yaitu Empat Kebenaran Mulia, Empat Fakta Kehidupan. Penting untuk mengikuti mereka dengan sangat bersungguh-sungguh. Yang pertama dari empat kebenaran itu, seperti kita rumuskan tadi malam, adalah “hidup itu sulit.” Anda bisa berkata, “Segala sesuatu adalah duka,” tapi itu adalah cara pengucapan yang sangat tidak nyaman. Jauh lebih cocok mengatakan, “Hidup itu sulit.”

Intinya, kita perlu menghadapi fakta itu dan menerima bahwa hidup itu sulit. Kadang-kadang, kita berada dalam tataran penyangkalan tentang itu. Atau, dengan mendirikan dinding-dinding kita, kita hanya berkata dengan kata-kata teoritis, “Ya, semua penderitaan ini ada,” tapi kita tidak benar-benar menerapkan fakta itu pada diri kita sendiri dan melihatnya sebagai kebenaran dalam kehidupan kita sendiri. Kita terlalu sibuk berusaha menemukan kebahagiaan. Nanti atau besok, kita akan membahas seluruh persoalan kebahagiaan ini dan apakah kita pantas berbahagia sebagai pelaku Buddha. Itu adalah pokok yang sangat rawan bagi para pelaku Barat dan sangat sulit untuk diselesaikan. Tapi, sekarang mari kita menundanya dulu.

Banyak orang, terutama kaum perempuan, tapi tidak hanya terbatas pada perempuan, mendapati diri mereka berada dalam keadaan-keadaan sulit dalam hidup, misalnya harus mengurus anak-anak, harus mengurus rumah tangga, selain mungkin harus bekerja. Kadang-kadang mereka mendapati banyak kesulitan dengan suami mereka atau laki-laki dalam hidup mereka, karena entah laki-laki itu tidak membantu atau tidak menghargai sulitnya keadaan mereka. Seringkali, laki-laki itu mendapati kesulitan untuk berurusan dengan keadaan si perempuan, karena cara khas kaum lelaki dalam menanggapi adalah berkata, “Katakan padaku, apa masalahnya?” dan kemudian ia ingin memperbaikinya seolah-olah itu adalah pipa yang patah. Bukan itu yang sebenarnya dicari perempuan dalam keadaan ini. Seringkali yang ia cari hanyalah sebuah pemahaman tentang kesulitan itu dan untuk diberi belas kasihan, bukan dalam arti “Oh, kasihan,” melainkan belas kasihan dalam arti suatu dukungan perasaan dan pengertian. Inilah laku sejati tentang kemurahan hati, paramita pertama dari sikap yang menjangkau-jauh.

Pokok lain yang cukup sesuai di sini adalah dari guru India Shantidewa, yang berkata, dan saya menyederhanakan ucapannya, “Kamu tidak bisa benar-benar bergantung pada makhluk biasa atas apapun, karena mereka kekanak-kanakan dan belum matang dan selalu mengecewakanmu.” Terima kasih Shantidewa. Ini sesuai untuk keadaan-keadaan di banyak rumah tangga, karena si suami seringkali tidak bisa benar-benar menyediakan jenis dukungan yang diinginkan istrinya. Ini sesuai dengan pembahasan kita di sini tentang Kebenaran Mulia yang Pertama, karena keadaan seorang perempuan mengurus rumah dan anak-anak hanyalah satu contoh dari “hidup itu sulit.” Hidup juga sulit bagi kaum lelaki, merasakan tanggung jawab untuk mewujudkan segala sesuatu dalam kerangka menyediakan jaminan keuangan bagi rumah tangga dan melindungi semua orang dan semua hal. Itu juga sulit.

Ketika kita bicara tentang Kebenaran Mulia yang Pertama ini, bagaimana kita bisa membicarakannya sehingga kita tidak dalam tataran penyangkalan dan sehingga ini benar-benar tampak sesuai bagi kita? Saya pikir yang kita butuhkan adalah memuaskan dorongan untuk mendapatkan suatu dukungan perasaan dan pengertian bagi fakta bahwa hidup kita sulit dan bahwa hidup secara umum adalah sulit.

Berpaling pada Tiga Permata untuk Mendapat Dukungan

Pertanyaannya adalah, kepada siapa kita berpaling untuk dukungan dan pengertian simpatik itu? Jika kita bergantung pada makhluk biasa, mereka memiliki masalah-masalah mereka sendiri dan sulit untuk mendapatkan dukungan dari mereka. Ini membawa kita pada pokok tentang perlindungan. Saya sebenarnya tidak suka “perlindungan” sebagai sebuah istilah karena saya pikir itu terlalu pasif. Saya selalu berpikir tentang itu sebagai cara yang lebih aktif untuk menempatkan haluan yang aman dan positif dalam hidup kita. Jika kita ingin berpaling pada sesuatu yang benar-benar bisa memberi kita dukungan simpatik, lalu sebagai pengikut Buddha, dalam lingkung perlindungan, kita akan berpaling pada Tiga Permata – para Buddha, ajaran-ajaran mereka dan pencapaian-pencapaian mereka – yaitu Dharma – dan komunitas Sangha.

Di Barat, kita mulai menggunakan kata sangha ini dalam cara non-Buddha sepenuhnya, untuk menjadi sepadan dengan jemaat gereja. Kita menggunakannya untuk menunjuk orang-orang yang pergi ke sanggar Buddha. Itu bukan makna aslinya. Namun, meskipun anggota-anggota lain komunitas Buddha kita bukanlah sasaran perlindungan, tetap saja kita bisa mendapatkan penemanan dan pengakuan dari mereka dalam lingkung hidup ini sulit – hidupKU sulit, bukan hanya hidup secara umum yang sulit.

Juga, Kebenaran Mulia yang Kedua, Ketiga dan Keempat tampak seperti cara khas maskulin dalam memecahkan sesuatu: “Kita akan menemukan sebabnya dan memperbaiki masalahnya,” seperti memperbaiki pipa yang patah. Tapi, kita perlu melakukan itu dalam lingkung pendekatan yang lebih feminin ini, yaitu pengakuan dan dukungan bahwa hidup itu sulit. Hidup memang sulit. Entah kita laki-laki atau perempuan, kita memerlukan perpaduan keduanya. Kita tidak boleh berpikir bahwa jenis kelamin menentukan sudut pandang khusus.

Bagaimana kita mendapatkan dukungan itu? Berlindung pada anggota-anggota lain komunitas Buddha kita, pada satu tingkat cukup baik. Tapi seringkali kita mendapati bahwa orang-orang dalam komunitas kita tidak dewasa sehingga kita cenderung bersikap menilai; kita cenderung tertutup terhadap yang lain. Pada banyak komunitas Buddha Barat, orang-orang memiliki dinding-dinding yang sangat kuat karena mereka pikir mereka perlu menyajikan gambaran untuk terlihat sangat suci dan maju dalam hal kerohanian. Jadi, seringkali, kita bersama-sama menghadiri sebuah kuliah atau melakukan suatu upacara bersama atau bermeditasi bersama dan kemudian semua orang pergi dan kita berpikir bahwa itulah artinya menjalani laku secara berkelompok – sekadar duduk bersama atau mendaras mantra bersama, sama seperti berpikir bahwa itulah artinya menjalani laku secara perorangan. Faktanya, pemusatan sebenarnya untuk menjalankan laku dalam kelompok Buddha adalah untuk saling berteman, membantu satu sama lain, bersikap pengertian, dan terbuka dan mengasihi. Jika kita berpusat pada itu dalam laku kelompok, maka, faktanya, kita bisa mendapatkan suatu dukungan perasaan dari tiap orang dalam menghadapi fakta bahwa hidup itu sulit dan bahwa kita semua mengupayakan diri kita sendiri dalam batasan-batasan kebenaran itu. Tapi tetap saja, kita adalah makhluk biasa dan kadang-kadang sangat sulit untuk benar-benar memberikan tingkatan dukungan itu kepada orang lain.

Jika kita menilik ke Perlindungan Sangha sesungguhnya, itu mengacu pada makhluk-makhluk arya, mereka yang telah memiliki pengetahuan nirsekat tentang kehampaan. Itu sangat berbeda, bukan? Meskipun orang-orang seperti itu belum terbebas dari duka, tapi tetap saja mereka akan berada pada perjalanan ego yang jauh lebih lemah, sehingga mereka bisa lebih mudah memberikan suatu dukungan kepada kita. Tapi tidak banyak arya di sekitar kita, bukan?

Lalu barangkali kita bisa berpaling ke Perlindungan Buddha untuk memberikan dukungan semacam ini. Kita merasa, “Buddha mengerti aku; Buddha mengerti kesulitan-kesulitanku dalam hidup” Itu memberikan kenyamanan tertentu, pasti. Ini adalah persamaan dari kegunaan dalam agama Kristen yang dimainkan oleh pernyataan, “Yesus mengasihiku.” Jika Yesus mengasihiku, aku tidak mungkin seburuk ini. Semakin kita benar-benar yakin bahwa Yesus mengasihi kita, kita semakin memiliki jenis penguatan akan nilai-nilai kita sebagai manusia, yang kemudian memberi kita kekuatan untuk menghadapi hidup kita. Entah mengapa, ini tidak cukup hanya dengan fakta bahwa anjingku mengasihiku!

Kita bisa memindahkan jenis sikap Kristen ini kepada Buddha, “Buddha mengasihiku, Buddha mengerti aku.” Itu memberi kita suatu kenyamanan dan dukungan. Sekarang kita bisa melukis goresan lainnya pada bagian guru rohani dari gambar yang kita lukis di sini – lagi-lagi seorang guru rohani yang baik, bukan sembarang orang. Saya ingat betul guru utama saya, Serkong Rinpoche. Salah satu mutu unggulnya adalah ia menanggapi semua orang dengan sungguh-sungguh. Tak peduli betapa konyol permintaan orang itu baginya – seperti seorang hippi yang sangat aneh menepi dari jalan dan berkata, “Ajari aku Enam Yoga Naropa” – tak peduli betapa aneh orang ini, ia menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Ia berkata, “Oh itu bagus! Kau benar-benar tertarik pada ajaran yang mengagumkan ini dan jika kau benar-benar ingin mempelajarinya, kau harus memulai dengan menyiapkan dari dalam dirimu.” Kemudian ia akan mengajarkan pada mereka sesuatu yang sesuai untuk tingkatan mereka. Itu berhasil baik dengan orang itu, karena jika sang guru menanggapi mereka dengan sungguh-sungguh, mereka bisa mulai menanggapi diri mereka sediri dengan sungguh-sungguh.

Kita bisa melihat bahwa “guruku mengerti aku dan mengasihiku” akan bekerja dalam cara yang sejajar dengan “Buddha mengerti dan mengasihiku.” Tapi kita tidak selalu memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan seorang guru – sama kasusnya dengan Buddha. Selain itu, kadang-kadang guru yang dengannya kita berhubungan tidaklah mumpuni seperti yang diharapkan. Namun, kita memandang mereka karena sepertinya hampir sedikit terlalu teoritis dan jauh untuk berkata, “Buddha mengerti aku” atau “Buddha mengasihiku.”

Jadi kita harus berpaling pada tingkat perlindungan lainnya. Kita bisa berhaluan aman tidak hanya pada Buddha, Dharma dan Sangha sebagai suatu ilham yang menyebabkan kita menapaki rintis rohani; kita juga bisa berlindung dan berhaluan aman pada tahap hasil yang akan kita capai sendiri dari mengikuti rintis itu. Itu berarti pada akhirnya kita harus memperoleh kenyamanan dan pengertian ini dari diri kita sendiri, karena kita semua memiliki daya-daya dan kemampuan-kemampuan penuh, dalam lingkung sifat-dasar Buddha, untuk mencapai tataran pembebasan dan pencerahan Buddha, Dharma dan Sangha. Kita juga memiliki semua daya itu untuk memberi pengertian dan dukungan bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Saya pikir itulah pokok yang sebenarnya sangat penting. Saya mendapati itu sangat penting dalam perkembangan saya sendiri.

Shantidewa berkata – dan ibu saya juga mengatakannya, “Jika kamu ingin melakukan yang benar, lakukanlah sendiri. Jika kamu meminta orang lain untuk melakukannya, mereka tidak akan melakukan itu seperti cara yang kamu inginkan untuk menyelesaikannya.” Hal yang sama berlaku dalam kerangka mendapatkan pengertian ini, pengakuan dan kenyamanan yang kita butuhkan untuk mendukung diri kita sendiri dalam menghadapi fakta bahwa hidup itu sulit. Yang akan menjadi paling bisa diandalkan adalah memberi dukungan itu kepada diri kita sendiri melalui pengertian terhadap diri kita sendiri, penerimaan kita terhadap keadaan hidup kita, dan kebaikan kita terhadap diri kita sendiri dalam kerangka keadaan-keadaan itu – dan tidak bersikap menghakimi sepanjang penerapan cara ini.

Bersikap Tidak-Menghakimi terhadap Diri Kita Sendiri

Jika kita bersikap menghakimi, kita hanya menambahkan goresan lain ke gambar dari “Aku semestinya melakukan ini dan aku tidak semestinya melakukan itu dan aku ingin menjadi orang baik, aku tidak ingin menjadi orang jahat.” Jika kita memiliki sikap itu, sebenarnya kita memandang diri kita sendiri dan berkata, “Hidupku sulit. Itu karena aku ‘jahat.’ Ada sesuatu yang salah denganku.” Jika kita memandang hidup kita secara menghakimi; “Aku ingin menjadi orang baik, aku tidak ingin menjadi orang jahat,” maka kita menghakimi diri kita sendiri dalam kerangka hidup kita: “Hidupku sulit. Aku pasti melakukan sesuatu yang salah. Aku jahat.” Alih-alih memberi diri kita suatu dukungan parasaan, kita berakhir dengan mengutuk diri kita sendiri dan menudingkan jari kita secara menghakimi. Itu tidak memberi kita dukungan apapun; itu hanya membuat kita merasa lebih buruk.

Namun, mendapat belas kasihan dari diri kita sendiri bukan berarti memperlakukan diri kita sendiri seperti bayi dan kemudian tidak melakukan apapun terhadap keadaan kita. Jelas, ketika seorang perempuan menginginkan belas kasihan dan pengertian dari suaminya, bukan itu yang ia inginkan. Akan menyenangkan apabila si suami mau mencuci piring! Demikian juga, kita mungkin ingin seseorang menepuk kepala kita seperti anjing, tapi kita juga ingin bantuan yang ikhlas. Hal yang sama berlaku dalam berlindung pada diri kita sendiri. Di satu sisi, kita perlu bersikap pengertian dan hangat terhadap diri kita sendiri, tapi kita juga perlu memperbaiki pipa yang patah dan melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang lebih dalam.

Semua hal ini cukup berseluk-beluk. Ini adalah persoalan yang cukup rawan. Saya memikirkan contoh tentang orang-orang yang tidak memiliki masa kecil yang menyenangkan atau orang tua yang sangat pengertian. Orang-orang seperti itu seringkali mencari pengganti orang tua, entah itu ibu atau ayah. Mereka terlibat dalam suatu hubungan dan kemudian mencerminkan ibunya atau ayahnya kepada orang itu secara bawah sadar dan menuntut orang itu memberi mereka jenis pengertian yang tidak mereka miliki sewaktu kecil.

Bagaimana kita memperlakukan seseorang yang memiliki jenis masalah ini? Ini adalah hubungan-hubungan yang cukup neurotik. Kita bisa berkata, “Cobalah untuk melihat pola bawah sadar dari apa yang kamu lakukan dan sadarilah betapa bodohnya kamu dan seberapa besar kamu menyebabkan masalah bagi dirimu sendiri dan hentikan itu!” Ini seperti apabila seekor anjing mengotori lantai, sebagian orang menempelkan hidung anjing mereka ke lantai itu dan berkata, “Lihat kekacauan yang kamu buat! Hentikan!” Tapi itu tidak akan berhasil dengan begitu mudah. Mungkin cara itu akan berhasil dengan anjing, tapi itu tidak akan berhasil dengan diri kita sendiri, karena itu semata-mata menguatkan rasa bahwa aku orang jahat dan itu membangkitkan rasa bersalah dan mendamba, “Aku ingin menjadi anak baik.” Semua sikap menghakimi ini berkutat di seputar gagasan tentang AKU yang padu.

Mengakui Wewenang Kita

Jika kita menilik cara-cara kejiwaan yang sedikit lebih mutakhir, yang sangat berguna adalah mengakui orang ini bahwa ia berwenang untuk memiliki orang tua yang penuh kasih dan pengertian. Semua orang berwenang untuk itu dan, sungguh perlakuan yang keras bahwa mereka tidak mendapatkan itu. Ahli kejiwaan mengakui itu, sehingga orang-orang itu pun juga bisa mengakui dan menerimanya. Padanannya adalah mengakui dalam diri kita sendiri bahwa hidup itu sulit dan, khususnya, hidup kita sulit dan kita berhak untuk bahagia. Kita berwenang untuk menjadi seorang Buddha, karena kita memiliki sifat-dasar Buddha.

Dengan dasar pengakuan itu, yang biasanya kita dapati adalah kebutuhan untuk memiliki orang tua yang baik di masa lalu itu berubah. Ini ditebus dengan ia sendiri menjadi orang tua yang baik bagi orang lain. Saya mendapati dari pengalaman saya sendiri bahwa ini benar-benar berhasil. Dengan mengakui bahwa hidup kita sulit dan dengan memberi diri kita sendiri suatu dukungan perasaan dengan sarana pengakuan itu, maka yang sebenarnya akan menjadi hal paling menyembuhkan dalam keseluruhan cara berhadapan dengan kesulitan-kesulitan dalam hidup kita adalah memberi pengakuan dan pengertian itu kepada orang lain. Semakin banyak kita memberikan itu kepada orang lain secara tulus, kita semakin mampu menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidup kita sendiri dan, bahkan, kita mendapati bahwa kesulitan-kesulitan itu menjadi semakin ringan. Ini sangat berbeda dari pekerja sosial kompulsif baik hati yang selalu keluar rumah dan berusaha melakukan banyak hal untuk orang lain, tapi tidak pernah menghadapi hidup mereka sendiri. Biasanya kehidupan pribadi mereka sendiri kacau. Pada akhirnya, semua ini berujung pada bagaimana kita memberi perlindungan kepada diri kita sendiri.

Mari kita sejenak mengakui kesulitan dalam hidup kita kepada diri kita masing-masing – dan tidak bersikap menghakiminya. Cobalah untuk mengakuinya saja. Untuk mengakui itu jelas artinya adalah menghadapinya. Tidak dengan dinding-dinding berdiri. Tidak dengan sembarang laku dengan berkata, “Inilah ajaran Buddha-ku.” Ini juga berarti melakukannya sedemikian rupa sehingga kita tidak menyesali diri kita sendiri. Seperti ketika kita melihat seorang ibu dengan tanggungan terlalu berat yang tidak ingin suaminya pergi, “Oh, kasihan kamu, ck ck ck,” dan merasa iba padanya, kita pun tidak ingin melakukan itu pada diri kita sendiri.

Jenis pengakuan yang kita bicarakan di sini adalah sesuatu yang sangat halus. Ini lebih seperti “berada di sana” – jika kita bisa membayangkan cara pengartian yang aneh ini – hanya “berada di sana” dengan diri kita sendiri. Jika kita sakit parah, kita tidak ingin orang datang dan berkata, “Oh, kasihan” dan menyokong kita seperti itu. Yang benar-benar membantu adalah seseorang tidak takut dengan penyakit Anda dan yang memiliki kemampuan untuk duduk di sana dan mungkin memegang tangan Anda dan menemani kita. Meskipun pengartian tentang itu sepenuhnya bertentangan dengan pemahaman tentang kehampaan, pada tingkat perasaan, yang perlu kita lakukan adalah memegang tangan kita sendiri, tanpa rasa takut dan tanpa rasa bahwa kita harus membuat pertunjukan yang dramatis akan belas kasihan atau rasa welas-diri kita. Mari kita mencobanya.

[jeda]

Memberi Makan Roh Jahat

Kita mungkin mendapati sedikit sulit melakukan laku ini secara niskala seperti yang baru saja kita lakukan, sehingga kita bisa menjalankan laku ini dengan cara “memberi makan roh jahat.” Kita bisa memandang masalah-masalah lain yang kita miliki sebagai roh jahat di dalam diri kita. Kita lalu bisa mencoba menangkap suatu rasa seperti apa roh jahat ini dan mutu-mutunya – roh jahat yang menginginkan suatu belas kasihan, misalnya: “Hidupku sangat sulit. Aku punya begitu banyak tanggung jawab. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan. Aku tidak punya cukup waktu, aku tidak punya cukup tenaga, aku tidak punya cukup dukungan...”

Pertama-tama, kita bertanya pada diri kita sendiri seperti apa rupa roh jahat itu? Ketika kita punya gambaran tentang roh jahat itu, kita keluarkan roh jahat itu dari dalam diri kita dan menyuruhnya duduk di bantalan di hadapan kita. Lalu kita bertanya pada roh jahat itu, “Apa yang kamu inginkan?” Kita bisa berpindah duduk di bantalan itu dan menjawab pertanyaan atau hanya melakukannya dalam angan-angan kita: “Aku ingin pengertian. Aku ingin dukungan. Aku ingin pengakuan tentang kesulitan-kesulitan yang kumiliki dalam hidup.” Kemudian dari kedudukan kita, kita membayangkan memberi makan roh jahat itu. Kita memberi dukungan, kita memberi pengertian, kita memberi pengakuan yang tidak menghakimi kepada roh jahat itu – apapun yang ia inginkan.

Dengan melakukan itu, kita mendapati bahwa ini adalah cara yang jauh lebih manjur untuk memberi dukungan pada diri kita sendiri daripada hanya duduk dan berusaha melakukannya secara niskala. Memberi makan roh jahat juga sangat berguna dalam arti bahwa ini mulai melatih kita untuk memberikan pengertian itu kepada orang lain juga. Perlahan-lahan, kita bisa mulai mengerti bahwa dengan memberi pengertian dan penyembuhan kepada orang lain, dengan menjadi orang tua yang baik bagi orang lain, juga merupakan cara penyembuhan bagi kita sendiri. Ini bertindak dengan cara yang sama. Seperti memberi pengertian kepada roh jahat itu adalah menyembuhkan diri kita sendiri, memberi dukungan kepada orang lain juga menyembuhkan diri kita sendiri.

Mari sejenak kita memberi pengertian dan pengakuan kepada roh jahat itu – bahwa hidup ini juga berat bagi roh jahat itu dan itulah yang memangsaku di dalam. Lakukan cara ini, mulailah dari awal, dari melihat kebutuhan itu dalam diri kita, dan kemudian mengeluarkannya dan memberinya makan. Berilah roh jahat di dalam diri kita apa yang ia butuhkan dan ia inginkan.

[jeda]

Sekarang tengoklah sebagian orang dalam hidup Anda dan beri mereka pengertian dan penerimaan serupa tentang kesulitan dalam hidup. Entah mereka sakit atau tua atau punya terlalu banyak pekerjaan, apapun itu, akuilah itu, terimalah itu, dan beri mereka dukungan. Ini termasuk orang-orang yang memiliki kesulitan-kesulitan perasaan – seseorang yang selalu marah atau seseorang yang selalu bertindak buruk dengan orang lain. Akuilah bahwa hidup mereka juga sulit. Beri makan orang itu, seperti kita memberi makan roh jahat itu. Bayangkan kita memiliki persediaan tak terbatas akan apa yang diinginkan orang itu, seperti kita memiliki persediaan tak terbatas akan apa yang diinginkan roh jahat itu.

Hanya dengan membiarkan persediaan pengertian dan penerimaan tak terbatas ini melewati kita dan berpindah kepada orang itu, kita bisa menjadi dermawan secara tidak gelisah. Jika kita gelisah dengan itu, kita merasa, “Oh, aku harus melakukan sesuatu terhadap keadaan sulit ini, tapi aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk itu. Aku tak berdaya; aku tak punya harapan. Betapa mengerikan keadaan ini...” dan kemudian kita sangat gelisah oleh segala sesuatu. Sebaliknya, kita membiarkan kedermawanan mengalir begitu saja melalui kita seperti arus air segar yang tak habis-habis.

Itulah sedikit dari yang dilambangkan ketika kita membayangkan sari-sari dewata itu mengalir kepada kita dari pada Buddha dalam pembayangan-pembayangan itu. Ini jenis hal yang sama, tapi pada tingkat yang lebih sederhana. Kita bisa melepaskan arus ini sebanyak yang kita perlukan. Tak masalah arus itu mengering; ia akan terus mengalir dengan cara yang sangat menyegarkan dan menggugah semangat kepada orang lain. Ia tidak bersusah payah; ia mengalir begitu saja. Bagaimana kita bisa membuatnya mengalir? Runtuhkan dinding-dinding kita! Tidak ada yang perlu ditakutkan dan tidak ada yang dirugikan.