Arsip Berzin

Arsip Buddha dari Dr. Alexander Berzin

Beralih ke Tulisan untuk Tuna Netra dari halaman ini. Menuju navigasi utama.

Halaman Awal > Buddha di Dunia > Pengantar Ajaran Buddha > Membawa Ajaran Buddha Membumi > Sesi Lima: Membentuk Hubungan yang Sehat dengan Guru Rohani

Membawa Ajaran Buddha Membumi

Alexander Berzin
Munchen, Jerman, Juni 1996
[salinan dengan sedikit disunting]

Sesi Lima: Membentuk Hubungan yang Sehat dengan Guru Rohani

Berhadapan dengan Keadaan-Keadaan Sulit

Kita sedang membicarakan persoalan tentang apa yang semestinya kulakukan dan apa yang tidak semestinya kulakukan dan rasa takut yang berasal dari itu, dan seterusnya. Kita melihat bahwa seluruh persoalannya berkutat di seputar kesalahan pengartian tentang diri kita sendiri. Kita perlu membuat pembedaan yang jelas antara keberadaan lazim tentang diri kita dan tentang segala hal di sekitar kita, dengan keberadaan padu, yang sebenarnya sama sekali tidak ada. Ingat, ketika kita berbicara tentang kehampaan, kita berbicara tentang ketiadaan cara-cara mengada yang mustahil, yang sama sekali tidak ada.

Tapi, bagaimana sesuatu itu menjadi benar-benar ada? Dalam ajaran Buddha, kita mengatakan bahwa segala sesuatu menjadi ada dalam kerangka kemunculan mereka yang bergantung pada sangat banyak unsur – sebab-sebab, bagian-bagian, cap-cap batin dan wawasan-wawasan tentang mereka, dan seterusnya. Mari kita singgah di tingkat tentang sesuatu itu muncul dan mengada dengan bergantung pada sebab dan keadaan. Dari sudut pandang ini, kita bisa mengatakan bahwa sesuatu itu tidaklah padu – padu dalam arti muncul secara padu dari satu sebab saja – tetapi sebaliknya, segala sesuatu itu berseluk-beluk dan oleh karenanya muncul dari interaksi yang sangat berseluk-beluk.

Sebagai contoh, ketika kita menghadapi keadaan, sesuatunya tidaklah hitam dan putih: “Kamu semestinya melakukan ini dan kamu tidak semestinya melakukan itu,” dan, karena itu, hanya ada satu cara bertidak yang benar dan cara lainnya salah. Sebenarnya, keadaan sulit apapun yang kita mungkin ada di dalamnya sangatlah berseluk-beluk dan pemecahan yang kita hasilkan akan bergantung pada banyak unsur. Jadi, memutuskan apa yang akan dilakukan memerlukan sejumlah besar kepekaan dan kesadaran. Ketika kita mulai mengatasi gejala “semestinya” dan “tidak semestinya” dan gejala mengikuti hukum tanpa pandang bulu, itu tidak berarti bahwa apa yang kita putuskan atau yang kita lakukan tidaklah menjadi soal, karena itu semua ada di dalam angan-angan kita. Ini berarti bukannya bersikap kaku dalam kemampuan kita untuk memecahkan keadaan-keadaan sulit: "Inilah buku peraturannya maka biarkan aku mencari aturannya dan mengikutinya" – yang akan menjadi cara yang padu dan kaku dalam bertindak dalam kerangka "semestinya" dan "tidak semestinya" – kita menggunakan pembedaan, kebijaksanaan dan semua pengalaman kita untuk menemukan pemecahan yang tepat untuk keadaan itu. Ini memerlukan sejumlah besar keluwesan. Semakin banyak unsur yang kita ambil sebagai pertimbangan dalam usaha memecahkan suatu masalah, semakin besar peluang kita memecahkan masalah itu secara bijaksana. Ketika kita tidak mempertimbangkan banyak unsur, kita berakhir dengan pemecahan yang tidak benar-benar menyelesaikan masalah itu.

Jadi, ketika kita berkata bahwa sesuatu itu tidak hitam atau putih, itu tidak meniadakan fakta bahwa kita bisa memiliki pemecahan yang manjur maupun tidak manjur untuk suatu masalah. Ini penting untuk diingat. Juga, kita harus ingat, kita bukan Tuhan. Kita tidak bisa asal bertindak dan memecahkan setiap masalah dengan menjetikkan jari-jari kita.

Apakah ada pertanyaan tentang pokok-pokok ini, sebelum kita melanjutkan?

Membangun Kekuatan Positif untuk Memahami Kehampaan

Peserta: Apakah mungkin kita memahami sendiri kekosongan atau kehampaan pada waktu sesi meditasi dan bagaimana saya bisa mencapainya? Atau apakah ini hanya mungkin apabila kita diperkenalkan pada kehampaan oleh seorang guru?

Alex: Tsongkapa bukan orang yang bodoh. Ia bekerja sangat keras dan jelas memiliki pemahaman tentang kehampaan yang jauh lebih tepat dibanding kita. Namun, ia melihat bahwa untuk memperoleh pemahaman nirsekat yang benar tentang kehampaan, yang ia perlu lakukan adalah membangun daya yang lebih positif, yang biasanya diterjemahkan sebagai “pahala.” Pada tahap sangat akhir dalam rintis ini, ia memutuskan bahwa penting untuk melakukan tiga setengah juta sujud-sembah dan juga, saya lupa angka tepatnya, jutaan persembahan mandala. Setelah melakukan itu semua, ia mampu memahami kehampaan secara tepat dan secara nirsekat. Saya pikir, itu ajaran yang sangat penting. Baik kita duduk sendiri berusaha memahami kehampaan maupun seorang guru datang dan berkata, “Alex ini adalah kehampaan, kehampaan ini adalah Alex, izinkan aku memperkenalkan padamu,” jika kita tidak memiliki daya positif atau “pahala” itu, tidak ada yang akan terjadi.

Kita selalu mendengar tentang pentingnya membangun dua rangkaian pahala dan wawasan, atau saya lebih suka menyebut mereka “simpanan” atau “jejaring” dari “daya positif” atau “kekuatan positif” dan “kesadaran mendalam.” Saya pikir, bagaimanapun kita menyebut mereka, membangun dua rangkaian itu amat sangat penting dan sesuatu yang saya tahu sangat benar, dari pengalaman saya sendiri. Ketika kita berusaha memahami sesuatu atau menyelesaikan sesuatu, baik itu dalam meditasi maupun menulis buku atau apapun itu – memecahkan suatu masalah – kadang-kadang kita mencapai sebuah titik di mana kita mengalami suatu penghalang pikiran. Kita tidak bisa pergi lebih jauh. Kita mencapai babak kemandekan atau kita menjadi jenuh. Masalahnya adalah kini tenaga kita terlalu lemah untuk bergerak lebih jauh. Kita membutuhkan suatu tenaga positif, suatu kekuatan atau daya positif untuk bergerak lebih jauh. Itulah yang dibicarakan pahala. Persoalannya bukanlah kita butuh mendapat lebih banyak angka seperti kita butuh lebih banyak angka untuk memenangkan sebuah pertandingan. Dalam keadaan-keadaan di mana kita terhalang seperti itu, yang membantu adalah menghentikan apa yang sedang kita lakukan dan beralih mengerjakan sesuatu yang positif – misalnya, membantu orang lain.

Ini bisa dilakukan dalam berbagai cara. Cara paling sederhana, yang selalu saya gunakan ketika saya tidak bisa memahami sesuatu dan saya ingin mampu memahaminya dan menjernihkan pikiran saya dengan cepat – misalnya ketika saya sedang menulis dan saya tidak bisa memikirkan kata yang tepat atau bagaimana mengungkapkan sesuatu dengan jelas – adalah saya berhenti dan mengulang-ulang mantra Manjushri dengan pembayangan-pembayangan yang tepat. Saya mendapati itu sangat membantu. Jika kita memaksakan diri – “Aku harus paham; aku harus paham!” – tanpa melakukan sesuatu seperti mengucap mantra, maka maafkan penggambaran saya, tapi itu sedikit seperti sembelit dan menahan diri untuk buang air besar sambil duduk di kakus. Tidak akan ada hasilnya. Itu hanya menjadi sangat tidak nyaman.

Maka, yang sebenarnya penting adalah bersantai sehingga kita menjadi jauh lebih jernih, dan jenis laku mantra ini sangat manjur untuk itu. Terutama ketika saya ingin cita saya menjadi sangat tajam dan jernih lalu saya menetapkan keinginan dan niat yang sangat kuat untuk menjadi seperti itu, maka mantra itu menjadi semakin manjur. Dan itu menjadi lebih manjur apabila saya menyertai pendarasan saya dengan pembayangan-pembayangan yang membantu memusatkan cita saya menjadi tajam. Dalam keadaan itu, yang bisa kita lakukan adalah menambahkan sesuatu ke rumusan itu. Kita menambahkan kekuatan dan daya positif dari pendarasan mantra ini untuk membantu kita mengatasi penghalang pikiran. Saya mendapati ini berhasil. Ini sangat manjur dalam banyak kasus. Maka, jika kita sangat terbuka, pemecahannya akan datang, tanpa memaksakannya.

Itulah satu keadaan di mana kita membutuhkan suatu pemecahan yang segera, seperti ketika saya tidak bisa menemukan kata yang tepat dalam penerjemahan. Ada beberapa keadaan lain di mana tenaga kita menjadi sedikit tumpul. Yang saya dapati dari pengalaman saya adalah ketika saya bepergian dan mengajar, saya melihat ini sebagai jenis undur-diri bodhicita, dan itu membantu. Saya bisa melihat itu sebagai, “Ini adalah pengalihan yang buruk dari penulisan saya” dan sedikit banyak menyesali waktu yang saya habiskan di meja dan komputer saya. Atau saya bisa melihat itu sebagai hal yang sangat positif yang akan membantu saya menulis secara lebih jernih.

Saya hanya menggunakan contoh-contoh dari kehidupan saya sendiri, tapi pendekatannya bisa diterapkan pada kehidupan setiap orang – baik kita bekerja dengan keadaan di rumah, dalam keluarga, atau dalam suatu hubungan dan kita memiliki suatu penghalang. Jika kita pergi keluar dan melakukan pekerjaan sukarela yang positif di rumah sakit atau semacamnya, apapun itu yang sesuai untuk keadaan kita, itu akan membuat perbedaan besar dalam membangun daya dan kekuatan yang positif.

Pendekatan untuk membangun simpanan daya positif ini tidak hanya terbatas pada ketika kita memiliki penghalang pikiran. Sebagai contoh, penulisan saya berjalan baik sebelum saya pergi untuk rangkaian perjalanan kuliah ini. Di situ tidak ada penghalang sama sekali. Tapi, saya ingin lebih baik, dalam arti; saya ingin memiliki lebih banyak tenaga. Saya tidak berpikir bahwa Tsongkhapa menemui penghalang dan tidak bisa memahami sesuatu. Sebaliknya, saya pikir ia melihat bahwa untuk benar-benar mengalami sesuatu yang gemilang, untuk benar-benar mendapatkan pengetahuan nirsekat yang benar tentang kehampaan, ia akan memerlukan tenaga positif yang jauh lebih banyak.

Pembangunan daya positif kita tidak mengharuskan undur-diri bodhicita di mana kita pergi seperti yang saya lakukan dan meninggalkan penulisan saya ketika saya bepergian dan mengajar. Kita bisa mencampurkan dua cara itu – bermeditasi dan membantu orang lain. Itu tidak berarti kita berhenti bermeditasi pada kehampaan karena kita memiliki penghalang, tapi kita harus menambahkan lebih banyak tenaga positif. Kita bisa melakukan itu di tengah-tengah meditasi kita. Ini, saya pikir benar-benar sangat penting. Itu tidak cukup sekadar duduk dan bermeditasi. Kita juga harus aktif, benar-benar membangun lebih banyak dan lebih banyak kekuatan positif dan melakukan sesuatu untuk membantu orang lain.

Pentingnya Memiliki Guru Rohani

Itu membawa kita pada keseluruhan pokok tentang guru rohani. Apa peran guru dalam proses ini? Tentu saja, kita memiliki contoh para pratyekabuddha. Kita tidak boleh melupakan para pratyekabuddha. Teladan mereka adalah jenis rintis yang diajarkan oleh sang Buddha. Mereka di sana di atas pohon perlindungan. Pratekyabuddha adalah pelaku-pelaku yang hidup pada zaman kegelapan ketika tidak ada para Buddha dan para guru. Untuk bermeditasi dan membuat kemajuan, mereka harus bersandar sepenuhnya pada naluri mereka mengenai Dharma, yang telah mereka bangun dalam kehidupan-kehidupan terdahulu ketika mereka berjumpa dengan ajaran-ajaran para Buddha.

Pratekyabuddha sangat tabah, jika kita berpikir tentang itu. Mereka sangat layak mendapat kehormatan. Kita tidak boleh berpikir, “Oh, mereka orang-orang yang sangat mementingkan diri sendiri yang mengurung diri mereka di gua-gua.” Tapi kini, ketika ada para Buddha dan guru di sekeliling kita, pertanyaannya adalah, “Apakah kita perlu bersandar pada mereka atau tidak, dan apa artinya bersandar pada mereka?” Saya pikir pokok pembicaraan tentang guru rohani ini adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami.

[Lihat: Berhubungan dengan Guru Rohani: Membangun Hubungan yang Sehat.]

Ada banyak hal yang bisa dikatakan tentang hubungan guru-murid dari banyak sudut pandang yang berbeda dan pada kesempatan ini tidak perlu membahas semuanya. Saya pikir pada tingkat yang sangat teknis, salah satu yang sangat penting tentang guru rohani, dalam lingkung guru merupakan orang yang mumpuni secara layak dan bukan hanya semacam pelawak yang pergi berkeliling dan berkata bahwa mereka guru, adalah bahwa guru menjadikan ajaran-ajaran itu manusiawi – “nyata” adalah kata yang sedikit terlalu berat. Guru menjadikan Dharma manusiawi. Jika kita tidak memiliki guru dan jika kita hanya belajar dari buku-buku, maka gambaran atau gagasan yang kita miliki tentang arti memahami ajaran-ajaran itu dan menerjemahkan mereka ke dalam kehidupan adalah sesuatu yang berdasar sepenuhnya pada daya khayal kita. Dengan kata lain, kita tidak memiliki contoh hidup tentang arti tidak sekadar memahami ajaran-ajaran itu, tapi mengamalkan mereka ke dalam kehidupan. Melihat contoh hidup adalah sesuatu yang akan memberi kita banyak ilham untuk berusaha memahami dan menghayati ajaran-ajaran itu.

Ada dua unsur yang terlibat dalam mempelajari ajaran-ajaran itu. Satu adalah mendapatkan pemahaman teknis yang tepat tentang ajaran tertentu, seperti kehampaan. Itu satu hal, dan seorang guru bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, yang tidak bisa dilakukan oleh buku. Tapi, selain memiliki ketepatan teknis dalam pemahamannya, guru itu memberi kita contoh hidup dari terjemahan pemahaman itu ke dalam kehidupan. Itulah yang saya pikir amat sangat penting.

Kita melihat seseorang seperti Yang Mulia Dalai Lama dan kita bisa secara pasti mengatakan bahwa ia memiliki pemahaman yang berkembang sangat tinggi tentang kehampaan dan perwujudan bodhicita. Dari sudut pandang apapun, kita pasti akan setuju dengan itu. Menggunakan kartu nilai untuk coba menguji, “Apakah ia ada pada tahap bodhisattwa ini atau itu?” adalah kekanak-kanakan. Siapa peduli? Tapi kita bisa melihat dari cara ia bertindak bahwa pemahaman tentang Dharma itu tidak diterjemahkan dengan menjadi orang sembrono dengan sikap tak acuh yang tidak bisa berperan dalam hidup. Dari contoh Yang Mulia Dalai Lama, sangat jelas apa sebenarnya arti memiliki perpaduan antara kebijaksanaan dan welas asih. Ini jelas merupakan unsur yang sangat penting ketika kita berbicara tentang diperkenalkan pada Dharma atau, khususnya, pada kehampaan.

Diperkenalkan pada Dharma

Ada banyak tingkat dalam diperkenalkan pada Dharma. Satu tingkat adalah bahwa seorang guru menetapkan suatu keadaan di mana kita tergerak secara perasaan sehingga kita dikejutkan pada babak kemandekan untuk memperoleh perwujudan. Itulah jenis Zen yang dimiliki oleh sebagian guru Tibet, tapi tidak banyak. Geshe Wangyal, yang merupakan guru Mongol Kalmyk di Amerika Serikat, menggunakan cara ini dengan sangat mahir. Ia telah meninggal dunia bertahun-tahun yang lalu, tapi ia biasa menyuruh murid-muridnya membangun sesuatu seperti rumah dan candi untuknya dan untuk mereka sendiri. Suatu ketika, seorang muridnya sedang bekerja keras membangun rumah untuk Geshe-la dan tengah mengerjakan atapnya. Suatu hari, Geshe-la naik ke atap itu dan menghampirinya lalu berkata, “Apa yang kamu kerjakan?! Kamu mengerjakannya keliru! Kamu mengacaukan semuanya! Pergi dari sini!!” Dan murid itu berkata, “Apa maksud Anda aku melakukannya keliru?! Aku mengerjakan ini persis seperti yang Anda perintahkan padaku dan aku sudah mengerjakannya selama berbulan-bulan!” Geshe Wangyal segera menjawab, “A-ha! Itulah ‘aku’ yang harus disanggah.”

Guru bisa membentuk keadaan seperti itu untuk memperkenalkan kita pada kehampaan dalam arti membentuk keadaan di mana kita bisa secara perasaan melihat dan mendapatkan wawasan. Namun, untuk mampu melakukan itu dengan baik memerlukan kecakapan tinggi. Jadi ada tingkat diperkenalkan seperti itu sampai titik tertentu dalam Dharma. Buku tidak bisa melakukan itu.

Cara kedua dalam diperkenalkan pada Dharma adalah dengan diberi penjelasan yang sangat gamblang. Buku bisa melakukan itu. Penjelasan yang sangat gamblang dari seorang guru bisa dituliskan dalam buku. Tapi, betapapun gamblangnya sesuatu, jika kita memiliki penghalang pikiran, kita tidak akan mampu memahaminya. Oleh karena itu ada cara lainnya: guru membiarkan kita sendiri memecahkan teka-teki Dharma, dengan memberi kita sekeping demi sekeping, bukan hanya menyuapi kita dengan Dharma seperti bayi.

Tapi cara lain diperkenalkan pada Dharma adalah melalui contoh melihat guru yang memahaminya. Dalam kasus apapun, meskipun kita membaca tentang penjelasan yang gamblang dalam sebuah buku, seseorang harus menulis buku itu. Jadi, perlu ada guru di sini, baik kita bertemu dengan guru itu maupun tidak. Bisa dikatakan, kita benar-benar bertemu guru itu, meskipun orang itu telah lama meninggal dunia, karena kita bertemu dengan kata-kata guru itu dengan membaca bukunya. Kecuali kita adalah seorang pratyekabuddha, kita tidak harus menciptakan roda itu lagi; kita tidak perlu menemukan pemahaman ini sendiri. Pemahaman ini datang dari seseorang, seorang guru.

Seorang guru sangatlah penting dalam hal ini. Pada hakekatnya, kita memerlukan perpaduan dari semua itu dalam guru itu. Kita membutuhkan seorang guru yang bisa memberi kita keterangan yang tepat dan jelas, dan yang benar-benar merupakan contoh hidup dari apa yang kita coba pelajari dan yang bisa mengilhami kita. Selain itu kita membutuhkan guru yang bisa menciptakan keadaan-keadaan tertentu yang akan membantu kita mendapatkan wawasan-wawasan dan yang memberi kita sekeping teka-teki Dharma, dengan cara yang tepat.

Hubungan-Hubungan Perorangan yang Umum

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan mengenai hubungan guru rohani-murid, tapi satu persoalan yang selalu muncul pada kaum Barat adalah kita ingin perhatian perorangan. Kita memiliki rasa perseorangan yang sangat kuat. Semua orang berpikir, “Aku istimewa dan aku semestinya mendapat perhatian khusus.” Contoh ini, tentu saja, adalah kita pergi menemui ahli kejiwaan atau semacamnya, kita membayar, dan kita mendapat perlakuan perseorangan. Ya, itu tidak selalu tersedia dalam lingkung Buddha. Ini lucu. Kita mencari “guruKU yang akan menjadi istimewa bagiKU,” namun kita memiliki gambaran Hollywood tentang akan seperti apa hubungan itu. Kita tidak ingin hubungan itu menjadi seperti Milarepa dengan Marpa: kita tidak menginginkan guru yang akan membuat kita bekerja terlalu keras.

Saya akan memberi sebuah contoh pada Serkong Rinpoche dan saya sendiri. Saya memiliki hak istimewa yang sangat tinggi untuk dekat dengannya dan untuk melayaninya selama kira-kira sembilan tahun sebagai penerjemah, sekretaris Inggris, pengatur kunjungan luar negeri, dan sebagainya, dan sebagai murid pribadinya. Saya memiliki jenis hubungan itu dengannya sampai ia wafat pada 1983. Namun, saya harus mengatakan bahwa seluruh hubungan itu adalah “hubungan perorangan yang umum.” Ia tidak pernah menanyakan pada saya, satu pertanyaan pun, tentang kehidupan pribadi saya – tak pernah. Ia tidak pernah menanyakan pada saya tentang keluarga saya atau apapun semacamnya. Dan saya tidak pernah merasa perlu menceritakan padanya apapun tentang kehidupan pribadi saya. Tapi, bagaimanapun, kami selalu memiliki hubungan yang sangat akrab dalam kerangka berurusan dengan masa sekarang.

Jadi kami bekerja bersama, tapi dalam cara yang sangat istimewa. Itulah yang saya sebut “perorangan yang umum,” dalam arti bahwa itu tidak dengan dua ego besar yang berkata, “Mari bekerja bersama – AKU dan KAMU.” Dan itu bukan sejenis hubungan perorangan yang mari-berbagi-sikat-gigi-kita, di mana aku menceritakan padamu segalanya tentangku dan kamu menceritakan padaku segalanya tentangmu. Itu seperti memamerkan pakaian dalam kotormu kepada seseorang. Dalam pengartian itu, hubungan itu bersifat umum. Tapi itu juga bersifat perorangan dalam arti ia memahami watak dan kepribadian saya, dan kami bekerja bersama pada dasar menghormati hal itu. Saya memahami usianya dan juga kebutuhan-kebutuhan dan tuntutan-tuntutannya, sehingga dalam arti itu hubungan kami perorangan, tapi umum.

Saya pikir salah satu landasan besar bagi keberhasilan hubungan itu adalah hubungan itu adalah suatu rasa hormat tertinggi pada kedua pihak dan dengan masing-masing pihak bekerja bersama sebagai manusia dewasa yang matang. Sebagai manusia dewasa, saya tidak mendekatinya dengan cara kekanak-kanakan dalam menginginkan persetujuan atau menginginkan ia bertanggung jawab atas segala hal dalam hidup saya – mengendalikannya. Tapi itu tidak berarti saya pergi ke keekstreman lain, yang akan menjadi, “Aku ingin memegang kendali dan kamu tidak boleh mengatakan apa yang harus kulakukan.” Saya meminta sarannya tentang pilihan-pilihan sulit dalam hidup saya, tapi saya membuat keputusan sendiri meskipun saya meminta sarannya. Itu seperti, alih-alih bersikap kekanak-kanakan dan bertanya, “Apa yang semestinya kulakukan?” – yang kembali pada persoalan “semestinya” – saya akan bertanya apakah lebih bermanfaat melakukan ini atau melakukan itu.

Sebagai contoh, pada akhir lawatan dunia kedua kami bersama-sama, saya bertanya padanya, “Apakah lebih baik saya tetap tinggal di Amerika Serikat dan menghabiskan waktu lebih lama dengan keluarga saya, atau lebih baik kembali ke India dengan Anda dan menghadiri Festival Doa Monlam pertama yang diselenggarakan Yang Mulia Dalai Lama di India Selatan? Mana yang akan lebih bermanfaat?” Saya menanyakan padanya pertanyaan semacam itu jika saya tidak bisa membuat keputusan sendiri. Rinpoche menyarankan saya pergi ke Festival Doa itu, karena itu akan menjadi peristiwa bersejarah yang sangat penting, dan saya mengikuti sarannya. Tapi ia tidak memberi saya perintah, itulah yang membuat saya hormat dan berkata, “Ya!” Saya tidak meminta perintah darinya. Ia akan menyajikan keadaan itu dengan lebih jernih dan cara pandang lebih luas, sehingga saya bisa menyusun cita saya dengan kebijaksanaan saya sendiri. Dalam keadaan-keadaan lain, ketika saya memiliki gagasan sendiri tentang apa yang terbaik untuk saya lakukan, saya tetap akan bertanya padanya apakah ia meramalkan adanya masalah apabila saya melakukan itu.

Saya pikir, itu sangat penting dalam hubungan dengan seorang guru. Jika kita memiliki pengharapan bahwa hubungan itu akan menjadi sangat perorangan dan sangat pribadi, maka, sedikit banyak, kita memberi diri kita lebih banyak arti penting dibanding yang mungkin sepatutnya kita miliki. Kita memberi diri kita sendiri kepentingan-diri yang sangat besar jika kita membuat tuntutan untuk perhatian perorangan itu. Juga, jika kita membuat tuntutan itu, kita mudah terjebak melihat diri kita sebagai anak kecil dan guru kita sebagai orang tua, atau diri kita sebagai remaja dan guru kita sebagai bintang pop. Suatu khayalan roman juga bisa ada di sana.

Perumpamaan Lebah Madu dan Bunga

Bagaimana cara mendekati hubungan kita dengan guru rohani dalam cara umum yang perorangan sebenarnya tidaklah mudah. Dan pentingnya melakukan itu tidak hanya terbatas pada hubungan kita dengan guru rohani. Itu akan berguna jika pendekatan ini adalah ciri hubungan kita dengan semua orang. Shantidewa menulis bahwa yang paling membantu, dalam hubungan kita dengan orang lain, adalah menjadi seperti lebah madu yang hinggap dari bunga ke bunga dan hanya berurusan dengan sari bunga itu, tapi tidak melekat pada satu bunga saja.

Lagi-lagi, saya melihat contoh dari Serkong Rinpoche. Ia tidak memiliki teman baik. Sebaliknya, siapapun yang bersamanya pada saat itu adalah teman baiknya. Menjadi seperti itu adalah guna dari keterbukaan yang kita bicarakan pada sesi pertama: bersama dengan semua orang seolah-olah mereka adalah teman baikmu. Ketika kita bersama seseorang dengan cara itu, hati kita sepenuhnya terbuka pada orang itu. Kita sepenuhnya bersifat perorangan dengan orang itu dalam arti kita benar-benar berhubungan hati ke hati. Tapi, tidaklah perlu bagi saya untuk memperlihatkan pada Anda pakaian dalam kotor saya dan bagi Anda untuk memperlihatkan pakaian dalam kotor Anda. Tidaklah perlu memasuki segala macam perincian pribadi yang, sedikit banyak, kita ingin seseorang menepuk kepala kita untuk itu.

Jika kita memasuki semua perincian itu, kita seperti memaksakan kekacauan kita pada orang lain sehingga mereka pun menjadi terjerat di dalamnya. Kita semua punya kekacauan kecil pribadi yang harus kita hadapi dalam hidup kita, tapi itu tidak semestinya menjadi beban bagi orang lain dan hubungan kita dengan mereka. Kita bisa berhubungan dengan orang itu, bersikap sepenuhnya terbuka; dan mereka seperti teman baik kita. Kita bisa benar-benar menerima ikatan dengan hati orang itu, tapi tanpa menjadi terjerat sehingga kita bisa terbuka seperti ini kepada semua orang, seperti lebah yang hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya – secara akrab terikat dengan hati kita, tapi tidak melekat.

Itulah jenis hubungan yang juga perlu kita miliki dengan guru kita. Ketika kita bersama guru kita, ada sebuah keterbukaan yang sangat penuh dalam berkomunikasi, tapi kemudian kita keluar dari sana dan orang berikutnya masuk. Jika kita memiliki jenis sikap “AKU INGIN GURUKU!” kita menjadi sangat cemburu dan berhasrat memiliki, dan itu adalah sebuah siksaan yang mutlak: “Ada kelompok ini di sekitar guruku dan aku bukan bagian dari kelompok ini” dan...oh, sungguh menyakitkan! Tapi kita semua harus mencuci pakaian dalam kotor kita sendiri. Kita harus menghadapi kekacauan kita. Tidak perlu berharap guru kita akan menghadapinya.

Menghindari Keekstreman Meniadakan Mutu Pribadi Orang Lain

Ketika kita berhadapan atau berhubungan dengan orang lain dengan cara ini, secara perorangan yang umum ini, baik dengan guru atau teman, ada dua tingkat: tingkat terdalam dan tingkat nisbi yang lazim. Pada tingkat terdalam, semua orang sama-rata dan tak seorangpun istimewa, jadi ini mengarah pada unsur umum dari setiap hubungan. Namun, pada tingkat lazim orang-orang adalah tersendiri, sehingga ini mengarah pada unsur perorangan.

Sangat penting untuk tidak pergi ke keekstreman berhubungan dengan orang lain hanya dari tingkat terdalam. Kita harus mencoba untuk tidak lalai untuk tetap melihat orang itu sebagai perorangan. Dengan kata lain, jika saya berhubungan dengan Anda dengan cara yang terlalu umum, maka pasti saya tidak berhubungan sama sekali – meskipun hubungan itu hati-ke-hati. Kita perlu menghindari rasa, “Kamu adalah arus-cita nomor 14762 dan orang itu adalah arus-cita nomor 14763, dan aku bisa terbuka secara sama-rata dan akrab secara perasaan dengan arus-cita manapun dari nomor urut berapapun.” Itu keliru. Itu akan menempati pokok dalam Dharma tentang “semua makhluk berindra” pada keekstreman dalam meniadakan mutu pribadi semua orang. Kita perlu selalu ingat bahwa orang lain itu, dari sisi mereka, melihat diri mereka sendiri dengan cara yang sangat pribadi. Kita harus bertindak dengan itu.

Izinkan saya memberi contoh ketika ibu saya meninggal dunia tahun lalu. Pada awalnya ketika ia meninggal, saya mengucapkan doa-doa dan menjalankan berbagai laku untuknya, tapi dalam cara yang umum, melihatnya sebagai arus-cita nomor sekian-sekian. Untuk menghindari kepedihan karena kemelekatan, saya melihatnya tidak hanya sebagai ibu saya, tapi sebagai seseorang yang melanjutkan perjalanan dari banyak kehidupan terdahulu menuju kehidupan-kehidupan masa depan, sama seperti semua orang lain. Lagipula, ajaran Buddha mengajarkan bahwa semua orang pada suatu waktu pernah menjadi ibu kita. Jadi, cara saya berhubungan dengannya pada tataran peralihan itu cukup niskala.

Kemudian, setelah membahas pengalaman saya dengan seorang teman dekat, saya mengerti bahwa akan jauh lebih berguna untuk melihat keadaan itu dari sudut pandang ibu saya dalam tataran peralihan itu, bukan dari sudut pandang saya sendiri sebagai pelaku Dharma yang memiliki pemahaman tentang kehidupan masa lalu dan masa depan, jati diri nirpadu, dan seterusnya. Dari sudut pandang ibu saya dalam tataran peralihan itu, ia tetap berpegang pada jati diri lamanya sebagai Rose Berzin dan masih melihat saya sebagai anaknya.

Saya segera mengubah laku yang saya jalankan untuk berusaha membantunya dalam babak tataran peralihan itu dan saya berkata secara langsung kepadanya. Saya sedang mengajar di Chili dan hendak menuju Tahiti pada waktu itu, maka saya mengundangnya untuk datang ke tiap-tiap sesi dan menemani saya. Saya juga mengucapkan jenis doa-doa dan hal-hal yang ia suka, sehingga ia merasa nyaman. Dengan kata lain, saya mencoba merasakan rasa takut yang mungkin ia miliki dan berusaha menenangkannya dengan sesuatu yang tepat untuknya.

Sebagai contoh, ibu saya suka nyanyian mantra-mantra Buddha. Itu membuatnya merasa sangat tenang. Sehingga meskipun itu bukan hal bagi saya yang akan dapat membantu jika saya berada dalam tataran peralihan, saya mulai bernyanyi dengan cara yang saya tahu akan sangat menenangkan baginya. Dan saya merasa bahwa saya terhubung kepadanya dengan melakukan itu. Saya menyesuaikan apa yang saya lakukan agar lebih tepat untuknya. Saya mengambil pengalamannya pada tingkat nisbi tentang kenyataan hidupnya secara bersungguh-sungguh. Itulah pokoknya. Jika ibu saya mendapati nyanyian doa Kristen atau Yahudi itu menenangkan, saya akan melakukan itu. Tapi ibu saya suka mendengarkan mantra-mantra dinyanyikan secara perlahan-lahan. Seperti yang saya katakan, saya merasakan perubahan yang sangat besar ketika mulai melakukan itu.

Sebelum itu, ketika saya hanya bersikap niskala dan semacam “Semoga Ibu bahagia dan semoga kita terhubung dalam semua masa kehidupan dan semoga Ibu selalu memiliki kehidupan manusia yang mulia dan semoga aku membimbing Ibu menuju pencerahan di semua masa kehidupan” dan segala macam rumusan niskala dan pikiran-pikiran baik itu, saya tidak benar-benar terhubung dengannya sebagai seorang pribadi. Tapi dengan cara lain ini, saya mendapatinya jauh lebih manjur. Saya merasa itu benar-benar berhasil membantunya, meskipun tentu saja saya tetap menjalankan doa-doa saya yang lebih umum. Singkatnya, ketika kita berhubungan dengan seseorang dalam jenis cara perorangan yang umum, seperti yang saya gambarkan, itu tidak berarti kita meniadakan fakta berhubungan dengan orang itu sebagai seorang pribadi dan menghormati pengalaman pribadi mereka tentang siapa mereka.

Untuk menyebutnya dalam bahasa yang lebih khusus: “Aku sepenuhnya terbuka untukmu dan bersifat sangat perorangan, tapi tanpa menggenggam erat apapun – tanpa menyelisik kekacauan pribadiku dan kekacauan pribadimu. Tapi dalam lingkung umum itu, aku peka dan seterusnya terhadap pribadimu dan terhadap pandanganmu tentang dirimu sendiri, sehingga aku bisa berhubungan denganmu dalam cara yang menghubungkan.” Maka, itu akan masuk ke dalam keseluruhan pokok tentang menggunakan lima jenis kesadaran mendalam untuk berhubungan dengan orang itu, tapi mari tinggalkan itu untuk lain waktu.

Saya mengemukakan semua ini untuk banyak alasan, tapi khususnya untuk satu kesulitan besar yang kita hadapi dalam laku Buddha Mahayana ketika kita menjalankan bodhicita, welas asih, dan segala macam meditasi pada tingkat “Semoga semua makhluk berindra bahagia,” sembari berusaha berpikir secara niskala tentang semua makhluk berindra. Sangat sulit untuk mahir menerjemahkan “semua makhluk berindra” ke dalam lingkung perorangan pada orang secara langsung di depan kita – Anda atau Anda. Jika kita hanya menjalankan laku pada tingkat “semua makhluk berindra,” maka kadang-kadang kita bisa menggunakan itu sebagai permakluman untuk tidak benar-benar terlibat secara pribadi dengan seseorang.

Jadi, bisa dikatakan, jika keterlibatan pribadi berarti menggenggam erat dan semua keburukan yang menyertainya, maka kita perlu suatu cara yang membantu kita menghindarinya. Tapi, begitu kita mengatasi setidaknya tingkat kasar kemelekatan dan kemarahan dan semua hal lain itu – yang bukanlah pencapaian mudah – kita perlu memiliki keterlibatan pribadi, tapi jenis keterlibatan yang bersifat perorangan yang umum, dengan kata lain, pribadi tanpa menggenggam erat.

Semua yang telah kita bahas dalam kerangka hubungan dengan guru rohani sejauh ini tidak bergantung pada seluruh persoalan tentang apakah kita melihat guru itu sebagai seorang Buddha atau tidak. Meskipun kita tidak melihat guru itu sebagai seorang Buddha, apa yang telah saya jelaskan adalah perlu supaya memiliki jenis hubungan yang berhasil dan bermakna dengan guru itu. Tentu saja dalam lingkung melihat guru itu sebagai seorang Buddha, kita tetap perlu mendekati hubungan itu sebagai orang dewasa dan melihat guru kita sebagai orang dewasa, bukan sebagai ayah maupun sebagai bintang pop dan bukan sebagai hal aneh yang kita cenderung membayangkan mereka sebagai orang yang semestinya memiliki hubungan istimewa denganku karena aku istimewa.

Mungkin Anda punya pertanyaan?

Rasa Takut terhadap Hubungan Mendalam dengan Guru

Peserta: Saya mencoba melihat diri saya sendiri sebagai orang tak bernama dalam kelompok besar murid yang punya banyak guru. Saya lebih suka mengatakan saya punya banyak guru, daripada berada dalam hubungan orang-per-orang dengan satu guru.

Alex: Bisa jadi ada beberapa masalah di sini. Salah satu masalah itu mungkin adalah rasa takut pada akad bulat dan keakraban, yang dengan itu kita mungkin berpikir: “Aku tidak ingin benar-benar terbuka pada satu guru, karena aku akan tidak memiliki kendali.” Jelas, agar berhasil mengatasi rasa takut ini, kita memerlukan pemahaman tentang kehampaan. Tidak ada yang perlu kita takutkan dalam membuka diri kepada seorang guru. Karena ketika kita membuka diri, tidak bahwa “aku” yang tak berdaya ini akan terluka. Atau, “Aku akan diabaikan dan dikecewakan.” Juga, tidak bahwa aku membuka diri dan tidak ada apapun sehingga kemudian aku tersesat dan terjadi kekacauan. Membuka diri pada seorang guru memerlukan suatu kehalusan dalam pemahaman kita tentang bagaimana kita ada. Agar hubungan dengan guru bisa berhasil, hubungan itu harus matang, dengan rasa yang benar-benar mapan tentang “aku” yang lazim yang bisa membedakan antara apa yang berguna dan apa yang berbahaya, dan antara apa yang pantas dan apa yang tidak pantas. Sebaliknya, hubungan yang tidak matang bisa menimbulkan malapetaka.

Maju Perlahan-Lahan dalam Memantapkan Hubungan dengan Guru Rohani

Peserta: [penerjemah] Sebelum Anda berlindung dengan seorang guru, Anda perlu memeriksa guru itu secara layak, tapi ia berpikir bahwa dengan cita yang tidak jernih, bagaimana bisa ia memeriksa guru itu secara layak? Dan bagaimana bisa ia memeriksa apakah guru itu seorang Buddha atau bukan?

Alex: Ketika kita berkata bahwa agar hubungan dengan guru rohani benar-benar berjalan baik kita perlu bersikap matang, itu tidak berarti jika kita belum matang, kita jangan berpaling kepada seorang guru. Itu tidak berarti kita harus menunggu sampai kita benar-benar matang sebelum berhubungan dengan seorang guru. Jika itu kejadiannya, kita mungkin harus menunggu sangat lama. Guru yang mahir bisa membantu kita menjadi lebih matang. Guru yang tidak mahir, sebaliknya, mungkin memanfaatkan dan menyalahgunakan ketidakmatangan kita. Jadi, dalam mendekati guru yang berkemampuan, kita perlu mengakui bahwa kita tidak tahu apakah orang ini benar-benar mumpuni atau tidak. Kita perlu maju secara sangat perlahan-lahan dan berhati-hati.

Hubungan dengan guru rohani adalah sesuatu yang biasanya perlu berkembang secara perlahan-lahan, sejalan waktu, dan melalui beberapa tahap. Bahkan melihat guru itu sebagai seorang Buddha, yang tidak pernah terjadi pada tahap awal, melewati beberapa tahap dalam perkembangannya. Saya tidak ingin memasuki pokok itu secara terlalu rinci saat ini, karena akan membutuhkan cukup banyak waktu untuk menyajikannya. Tapi jenis hubungan di mana kita melihat guru kita sebagai seorang Buddha sebenarnya hanya sesuai ketika kita berada pada tahap-tahap sangat maju dari golongan laku tantra tertinggi, anuttarayoga.

Dalam tulisannya Penyajian Agung Tingkat Bertahap Jalan Buddha, Lam-rim chen-mo, Tsongkhapa menulis bahwa hubungan yang tepat dengan guru rohani adalah akar dari jalan Buddha, dan ia menjelaskan hubungan itu dalam kerangka melihat guru sebagai seorang Buddha. Tapi, kita perlu memahami lingkung di mana ia menuliskan itu dan mengapa ia mengatakan itu. Jelas, Tsongkhapa menulis dan menyajikan pokok ini kepada para biksu yang terlibat dalam laku tantra. Kita bisa menyimpulkan itu karena berlindung muncul nanti dalam penyajiannya tentang jalan. Bagaimana kita bisa memiliki hubungan dengan seorang guru, melihat guru itu sebagai seorang Buddha, jika kita belum berlindung dan kita bahkan tidak tahu apakah Buddha itu? Jelas bahwa petunjuk melihat guru sebagai seorang Buddha ini adalah untuk orang yang telah berlindung dan telah terlibat dalam tantra. Ini karena semua kutipan yang Tsongkapa gunakan untuk mendukung pandangan tentang guru sebagai seorang Buddha berasal dari tantra-tantra itu. Jadi jelas bahwa ini utamanya adalah pokok tantra. Itu kemudian memberi kita tanda bahwa bagi kita yang tidak berasal dari latar seorang biksu atau biksuni yang telah terlibat dalam laku tantra tertinggi, kita tidak bisa begitu saja memiliki hal-hal ini, seperti perlindungan. Kita harus mulai pada tahap lebih awal.

Ketika kita pada awalnya belajar dengan seorang guru, khususnya sebagai orang Barat, persoalan tentang “Apakah guru ini seorang Buddha atau bukan?” sebenarnya sama sekali tidak perlu. Kita perlu lebih dulu melihat untuk memeriksa apakah ini guru yang baik. Bisakah mereka menerangkan dengan jelas? Apa yang mereka jelaskan? Apakah yang mereka jelaskan cocok seperti dalam naskah-naskah klasik? Apakah itu cocok dengan hidupku? Itu seperti cara kita menguji guru apapun – umpamanya, sebagai contoh, jika kita akan belajar bahasa: apakah mereka mengajar kita secara tepat-guna?

Kita juga melihat apa jenis rasa umum yang kita dapat ketika kita bersama orang ini. Kita bisa memiliki kepekaan pada apa jenis hubungan yang bisa kita miliki dengan seseorang dengan rasa yang kita dapatkan ketika kita bersama mereka. Inikah orang yang mengilhami kita atau inikah orang yang hanya membiarkan kita tidak berkembang? Inikah orang yang benar-benar berhubungan dengan kita atau inikah orang yang dengannya kita tidak bisa berhubungan? Itu memungkinkan untuk dirasakan. Itu tidak memerlukan kewaskitaan atau bahkan tingkat kematangan yang sangat tinggi.

Kemudian kita mulai memeriksa sedikit lebih saksama pada hal-hal seperti budi pekerti orang ini: apakah ia orang yang berbudi pekerti? Apakah ia orang yang mudah dan sering marah atau sangat mengekang murid-muridnya dan berusaha mengendalikan hidup mereka? Lalu kita bisa bertanya pada orang lain, untuk mengetahui bagaimana guru ini bersikap dengan murid-murid lain. Inilah beberapa cara yang kita gunakan untuk memeriksa guru kita, meskipun hanya untuk memutuskan apakah kita ingin belajar dengan mereka atau tidak.

Lalu, apakah kita bersedia memasuki hubungan dengan orang ini di mana kita melihatnya sebagai seorang Buddha adalah sesuatu yang sangat berbeda dan sangat tingkat maju dan tidak benar-benar sesuai pada tingkat permulaan. Jika kita orang yang sudah berlindung dan orang yang telah melewati tahap-tahap dasar jalan Buddha dan telah terlibat dalam golongan tantra tertinggi, jika kita orang seperti itu, dan kita memiliki hubungan yang kuat ini dengan guru kita, maka kita bisa melihat guru itu sebagai seorang Buddha dalam seluruh lingkung arti itu. Lalu, jika kita kembali melalui semua tahap ke awal jalan itu lagi, seperti pada kejadian seorang biksu meninjau-ulang seluruh jalan bertahap, ketika mendengarkan Lam-rim chen-mo karya Tsongkhapa, dalam persiapan untuk menerima pembayatan tantra, maka hubungan dengan guru itu sebagai seorang Buddha akan menjadi akar keberhasilan dalam mengikuti seluruh jalan itu. Maka itu membuat perbedaan besar.

Tidak Kehilangan Kecakapan Dasar Kita

Kita perlu memahami segala sesuatu dalam lingkung yang tepat. Ini tidak mudah. Tapi, terutama pada permulaan, saya pikir penting untuk tidak kehilangan sikap dasar kita terhadap seorang guru. Nantinya, ketika kita berhubungan dengan seorang guru sebagai seorang Buddha, maka hubungan kita dengan guru ini adalah ikatan khusus dan ini memerlukan kematangan perasaan yang sangat hebat. Yang kita katakan dengan jenis ikatan ini utamanya adalah, “Anda seorang Buddha, yang berarti apapun yang Anda lakukan, aku akan melihat Anda sebagai seorang Buddha yang berusaha mengajarkanku sesuatu.” Ingat, keberadaan sesuatu tidak dibentuk dari sisi mereka sendiri, bebas dari segala hal lain. Jadi keberadaan dari jenis hubungan dengan guru ini dibentuk dalam hubungan dengan keadaan “Anda membantuku untuk bertumbuh.”

Maka, utamanya kita berkata pada guru kita, dalam benak kita, “Aku tidak peduli apa dorongan Anda dan aku tidak peduli apakah Anda sebenarnya tercerahkan secara objektif atau tidak. Sebaliknya, aku akan menggunakan peluang dalam hubungan dengan Anda ini untuk terus-menerus bertumbuh dan belajar. Jika Anda menyuruhku melakukan suatu hal bodoh, aku tidak akan membalas ucapan Anda dengan, ‘Anda bodoh’ dan marah kepada Anda. Sebaliknya, aku akan melihat itu sebagai ‘Anda menyuruhku melakukan suatu hal bodoh agar aku mengambil pelajaran untuk menggunakan pembedaan dan otakku sendiri untuk tidak melakukan itu.’” Dengan kata lain, apapun yang mereka lakukan, kita akan menghormati itu sebagai sebuah ajaran dan mencoba belajar sesuatu dari itu. Tak jadi soal apa yang ada di benak mereka.

Pasti inilah artinya ketika dikatakan bahwa kita perlu melihat semua orang sebagai Buddha. Kita melihat segala hal sebagai pelajaran. Jadi, kita bisa belajar dari seorang anak. Ketika seorang anak bertindak nakal atau konyol, kita bisa belajar untuk tidak bertindak seperti itu. Anak itu adalah guru kita. Seekor anjing bisa mengajar kita. Siapapun bisa mengajar kita. Namun, itu memerlukan tingkat kematangan perasaan yang sangat tinggi, bukan – untuk tidak marah dan tidak bersikap menghakimi? Itu adalah laku yang sangat lanjut. Itu bukan sesuatu yang kita bisa lakukan sebagai pemula.

Jelas, kita harus melakukan banyak sekali pemeriksaan tentang apakah kita bisa memasuki jenis ikatan ini dengan guru itu atau tidak untuk mampu berhubungan pada tingkat itu. Apakah guru itu mumpuni dan apakah kita mumpuni? Kita bahkan bisa memiliki hubungan seperti itu dengan guru yang dengannya kita tidak punya banyak hubungan pribadi. Ketika kita hanya mengejar ajaran-ajaran umum yang diberikan oleh seorang guru besar pada sekumpulan besar orang, kita bisa melakukan hal yang sama: “Apapun yang Anda katakan atau lakukan, aku akan belajar dari itu.” Tapi ingat, ini bukan hubungan perjurit dengan jenderal dalam ketentaraan: “Ya pak! Apa yang semestinya saya lakukan? Katakan pada saya. Beri saya perintah. Ya, Pak! Saya akan melakukannya” – sama sekali bukan seperti itu.